BAB III PEMIKIRAN YU<SUF QARAD}A<WI< TENTANG
A. Biografi Yu>suf Qarad}a>wi>
Yu>suf Qarad{a>wi> memiliki nama lengkap Yu>suf ‘abdullah al Qarad{a>wi> lahir pada tanggal 9 september 1926 di desa Saftu Turab daerah Mahallah al Kubra Provinsi al Garbiyah ‘arab Mesir. Yu>suf Qarad{a>wi> berasal dari keluarga yang taat beragama dan hidup sederhana. Ayahnya merupakan seorang petani yang warat pada saat Yu>suf Qarad{a>wi> masih berusia dua tahun, sehingga ia diasuh oleh pamannya. Pada saat berusia sepuluh tahun, ia berlajar di sekolah al Ilzamiyah di pagi hari dan pada sore harinya ia belajar al-Qur’an. Pada usia itu ia telah hafal al-Qur’an dan telah menguasai ilmu tilawah.
Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke thanta dan menyelesaikan Pendidikan di Fakultas Ushuludin Universitas al Azhar pada tahun 1952/1953 dengan menyandang predikat lulusan terbaik. Setelah itu ia belajar bahasa Arab selama dua tahun dan memperoleh ijazah Internasional dan sertifikat mengajar. Tahun 1957 ia melanjutkan karirnya di Ma’had al Buhuts wa al Dirasat al
‘Arabiyah al Aliyah. Selanjutnya al Qardawi berhasil menyelesaikan pendidikannya pada program Doktor dengan disertasi fiqh al zakah pada tahun 1972 dengan predikat cumlaude.
Pada masa kekuasaan raja Faruq tahun 1949, Yu>suf al Qard{a>wi>
pernah dipenjarakan karena terlibat dalam pergerakan Ikhwanul Muslimin, pada bulan April 1956 beliau dipenjarakan selama dua tahun. Selanjutnya pada tahun 1961 al Qard{a>wi pergi ke Qatar dan mendirikan madrasah Ma’had al Din yang kemudian berkembang menjadi Fakultas Syari’ah dan Universitas Qatar.
Selama karirnya Yu>suf al Qard{a>wi pernah memegang berbagai jabatan penting, antara lain, yakni:
a. Dekan Fakultas Syari‟ah Dan Studi Islam Di Universitas Qatar b. Direktur Kajian Sunnah Dan Sirah Di Universitas Qatar
c. Anggota Lembaga Tertinggi Dewan Fatwa Dan Pengawasan Syariah Di Persatuan Bank Islam Internasional
d. Pakar Fiqih Islam Di Organisasi Konfrensi Islam
e. Anggota/Pendiri Yayasan Kebijakan Islam Internasional f. Anggota Majelis Pengembangan Dakwah Islamiyah Di Afrika.
Disamping itu, Yu>suf al Qardawi> banyak sekali membuahkan karangan yang berkualitas antara lain: fiqh al zakah, fiqh al nisa’, madkhal lima’rifati al Islam wa muqawwimatuh, al Halal wa al Haram fi al Islam, bay’u ala murabahah li al amir bi al-syira, fawaid al bunukhiya al riba al muharram, al ‘Aql wa al ilmi fi al Quranal karim, al fiqh al Islamy bayna al ashalah wa al tajdid, fatwa
mu’asirah, al Ijtihad fi al syari'at al Islamiyah, al ijtihad al mu’ashir bayna al indibat wa al-infirat, malamih al mujtama’ al muslim allazi munsyiduhu, al sunnah masdaran li al ma’rifah wa al hadarah.1
B. Pendapat Yu>suf Qarad{a>wi> tentang penyaluran dana zakat untuk pembangunan masjid
Menurut Yu>suf Qarad{a>wi> Qur’an menggambarkan sasaran zakat yang ke tujuh dengan firmannya “di jalan Allah” sesungguhnya arti kalimat ini menurut bahasa sudah jelas. Sabil adalah thariq atau jalan.
Sabilulah adalah kalimat yang memiliki sifat umum, dan mencangkup segala amal perbuatan ikhlas, yang dipergunakan untuk bertakarrub kepada Allah Azza Wajalla, dengan melaksanakan segala perbuatan wajib, sunah dan bermacam kebijakan lainnya. Apabila kalimat ini bersifat mutlak maka biasanya dipergunakan untuk pengertian jihad (peperangan), sehingga karena sering dipergunakan untuk itu, maka seolah-olah sabilillah hanya khusus untuk jihad.2
Menurut Yu>suf Qarad{a>wi>, Telah tepat memilih meluaskan maksud fii sabilillah untuk segala perbuatan yang menimbulkan kemaslahatan dan takarrub kepada Allah sebagaimana lebih tepatnya tidak terlalu menyempitkan arti kalimat ini hanya untuk jihad dalam
1 Ibid,.
2 Yu>suf Qarad{a>wi, Fiqh al-zakah, (Beirut: Muassasah Risalah, 1991), 635
arti bala tantara saja. Sesungguhnya jihad itu bisa dilakukan dengan tulisan dan ucapan sebagaimana bisa juga dilakukan dengan pedang dan pisau. Kadang kala jihad itu dilakukan dengan bidang pemikiran, Pendidikan, social, ekonomi, politik, sebagaimana halnya dilakukan dengan kekuatan bala tantara. Seluruh jenis jihad ini membutuhkan bantuan dan dorongan materi. Yang paling penting, terwujudnya syarat utama pada semuanya itu, yaitu hendaknya fii sabilillah itu dimaksudkan untuk membela dan menegakkan kalimat Islam di muka bumi ini. Setiap jihad yang dimaksudkan untuk menegakkan kalimat Allah, termasuk fii sabilillah, bagaimanapun keadaan dan bentuk jihad serta senjatanya.3
Mengenai penyaluran zakat ini, Yūsuf Qarad{a>wi> memperkuat pendapat jumhur ulama, dengan memperluas pengertian “jihad’’
(perjuangan) yang meliputi perjuangan bersenjata (inilah yang lebih cepat ditangkap oleh pikiran), jihad ideologi (pemikiran), jihad tarbawi (pendidikan), jihad da’wi (dakwah), jihad dini (perjuangan agama), dan lain-lainnya. Kesemuanya untuk memelihara eksistensi Islam dan menjaga serta melindungi kepribadian Islam dari serangan musuh yang hendak mencabut Islam dari akar-akarnya, dan agen-agen mereka yang berupa gerakan-gerakan Islam seperti Bahaiyah,
3 Ibid., 657
Qadianiyah, dan Bathiniyah (kebatinan), serta kaum sekuler yang terus-menerus menyerukan sekularisasi di dunia Arab dan dunia Islam. Menurut Yūsuf Qarad{a>wi> bahwa dibolehkan menggunakan zakat untuk membangun masjid di negara-negara miskin yang padat penduduknya, sehingga satu masjid dapat menampung puluhan ribu orang.4
Menurut Qarad{a>wi> para ulama yang meluaskan arti itu telah berpegang pada dalil yang jelas, yaitu makna asal dari lafaz " fii sabilillah " yang mencakup segala jenis amal perbuatan yang baik, dan segala sesuatu yang bermanfaat pada kaum Muslimin. Mereka membolehkan dengan sasaran ini untuk mendirikan mesjid, sekolah dan rumah sakit, serta rencana perbaikan dan kebajikan lainnya.5 C. Metode Ijtihad Hukum Yu>suf Qarad{a>wi
Yu>suf Qarad{a>wi merupakan seorang ahli ilmu fiqih yang telah kita ketahui dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam perkembangan teori hukum. Sebagai seorang musjtahid Yu>suf Qarad{a>wi mempunyai karakter tersendiri dan berpengaruh dalam istinbath hukumnya, yang tidak jauh berbeda dengan pandangan- pandangan imam-imam madzhab terdahulu. Yu>suf Qarad{a>wi selalu
4 Yu>suf Qarad{a>wi, Hadyu al-Islam Mu’ashirah, 165
5 Yu>suf Qarad{a>wi, Fiqh al-zakah, 635
merujuk Kembali kepada sumber-sumber hukum yang telah terjaga keasliannya. Kembali kepada sumber-sumber hukum yang asli dan juga jernih yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sahih. Selain itu Yu>suf Qarad{a>wi melepaskan diri dari madzhab-madzhab tertentu dan melemahkan madzhab yang beliau anggap tidak sesuai dengan pemikiran beliau. Sebab taklid itu akan mematikan fikiran dan kekuatan fikiran.6
Yu>suf Qarad{a>wi sangat menghormati keberadaan ijma’ yang telah pasti kebenarannya agar posisi ijma’ dalam hukum tetap dapat menjadi alat untuk menyeimbangkan dan menyingkirkan distori intelektual. Yu>suf Qarad{a>wi juga menggunakan analogi atau Qiyas yang benar.7
Yu>suf Qarad{a>wi dalam melakukan istinbath hukum melalui beberapa tahap diantaranya, yang pertama beliau mengambil hukum dari Al-Qur’an dan menetapkan hukum tersebut berdasarkan ketetapan seperti yang ada dalam Al-Qur’an, apabila dalam Al-Qur’an tidak didapati maka beliau mengambil ketetapan dari Sunnah, dengan berusaha untuk mendapatkan pemahaman yang benar terhadap nash- nash yang terkandung dalam keduanya, dan apabila tidak didapati
6 Yu>suf Qarad{a>wi, Hukum Zakat, Terj. Salman Harun, dkk, 17
7 Ibid.,21
dalam sunah, beliau mencari alam ijma’, dan apabila tidak ada maka beliau mengambil dari qiyas.8
Qiyas merupakan hukum-hukum yang digunakan untuk menghadapi perubahan atau perkembangan zaman, permasalahan- permasalahan yang dapat berubah hukumnya ini berlaku dalam hal- hal yang berkaitan dengan interaksi social, hukum perundang- undangan dan lain-lain. Penyesuaian hukum dalam menghadapi perkembangan ini bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan dan mencegah adanya kerusakan, dengan berpedoman kepada hal-hal yang telah baku dan tidak terpengaruh dengan perkembangan zaman.9
Dalam menetapkan hukum menggunakan qiyas yaitu dengan cara menyamakan hukum yang tidak ada nash nya dalam Al-qur’an dan As-sunnah dengan hukum yang sudah ada nashnya hingga terdapat persamaan illat hukum dari keduanya.
8Yu>suf Qarad{a>wi>, Al-Ijtihad al-Muashir Baina al-Indhibath wal Infirath, terj. Ahmad Satori, Ijtihad Kontemporer: Kode Etik dan Berbagai Penyimpangan, Surabaya: Risalah Gusti,7.
9 Ibid,. 8
51 BAB IV
ANALISIS PEMIKIRAN YU<SUF QARAD}A<WI< TENTANG PENYALURAN DANA ZAKAT UNTUK PEMBANGUNAN
MASJID
A. Analisis Istinbath hukum pemikiran Yu>suf Qarad}a>wi> tentang penyaluran dana zakat untuk pembangunan masjid.
Istinbath hukum merupakan suatu keabsahan yang dijadikan tolak ukur bagi mujtahid dalam melakukan ijtihad hukum tertentu.
Menurut Yu>suf Qarad}a>wi> sebelum melakukan ijtihad seorang mujtahid harus mengetahui kehidupan bermasyarakat terlebih dahulu, hal tersebut dilakukan agar mujtahid tersebut mengenal kehidupan sekitar dan ijtihad yang dilakukan sesuai dengan kehidupan yang ada di masyarakat, dengan demikian maka ijtihad akan berguna dan tidak menjadi ijtihad yang kosong.
Telah kita ketahui bahwa Yu>suf Qarad}a>wi> merupakan seorang ahli ilmu fiqih dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam perkembangan teori hukum. Sebagai seorang musjtahid Yu>suf Qarad}a>wi> mempunyai karakter tersendiri dan berpengaruh dalam istinbath hukumnya, yang tidak jauh berbeda dengan pandangan- pandangan imam-imam madzhab terdahulu.
Mengenai istinbath hukum tentang penyaluran dana zakat untuk pembangunan masjid, Yu>suf Qarad}a>wi> menggunakan landasan nash-nash Al-Qur’an agar dapat memperkuat pendapatnya dan supaya pendapatnya dapat dipertanggung jawabkan.
Yu>suf Qarad}a>wi> menggunakan ayat Al-Qur’an surat At- Taubah ayat 60 yang dijadikan landasan hukum mustahik zakat:
اََّنَِّا
ُْتٰقَدَّصلا
ِْءۤاَرَقُف لِل
ِْ يِكٰسَم لاَو
َْ يِلِمٰع لاَو اَه يَلَع
ِْةَفَّلَؤُم لاَو
ْ مُُبُ وُلُ ق
ِْفَو
ِْباَقِ رلا
َْ يِمِرٰغ لاَو
ْ ِفَو
ِْل يِبَس
ِْٰ للا
ِْن باَو
ِْۗل يِبَّسلا
ْ ةَض يِرَف
َْنِ م
ِْٰ للا
ُْٰ للاَو ْۗ
ْرم يِلَع
ْرم يِكَح
Artinya : Sesungguhnya zakat hanya diperuntukkan kepada orang fakir, orang miskin, amil zakat (orang yang mengelola zakat), orang-orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), (memerdekakan) para hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang-orang yang berutang, fii sabilillah (untuk jalan Allah) dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan (yang memerlukan pertolongan), sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. (QS. Al-Taubah : 60)1
berdasarkan Ayat diatas telah dijelaskan bahwa terdapat delapan golongan asnaf yang meliputi: orang fakir, orang miskin, amil (pengurus zakat), mu’allaf (orang yang dilunakkan hatinya), hamba sahaya, gharim (orang-orang yang berhutang), Ibnu sabil (orang yang sedang dalam perjalanan), serta jihad fisabilillah.
1 Al-Qur’an, 9:60.
Dalam subbab di atas Yu>suf Qarad}a>wi> telah meluaskan makna fii sabilillah dengan tidak mengartikannya sebagai jihad dalam bentuk peperangan bersenjata saja melainkan jihad dalam segala bentuk kebaikan dalam menyampaikan ridha Allah, karena menurut Yu>suf Qarad}a>wi> mengartikan jihad hanya dalam bentuk peperangan bersejata dalam zaman sekarang ini sudah tidak relevan lagi.
Dalam memperluas makna fii sabilillah Yu>suf Qarad}a>wi>
mengemukakan pendapat bahwa penyaluran dana zakat untuk masjid termasuk dalam golongan fii sabilillah, Yu>suf Qarad}a>wi>
menyebutkan apabila hendak mendirikan dan meramaikan masjid, dan hanya terdapat satu masjid dalam daerah tersebut, atau terdapat bangunan masjid yang sudah tidak memadai sehingga membutuhkan perbaikan atau pembangunan masjid dalam keadaan tersebut maka penyaluran dana zakat untuk hal tersebut diperbolehkan, sebagaimana yang telah tercantum dalam surat at-Taubah dan dimasukkan pada golongan fii sabilillah.2
Selain Al-Qur’an Yu>suf Qarad}a>wi> berlandaskan pada hadist Abu Daud dari ziad Ibnul-Haris Ash-Shuda’i sebagai berikut:
2 Yu>suf Qarad{a>wi, Hadyu al-Islam Fatawi Mu’ashirah, 165
َْلاَقْ لًيِوَطْا ثيِدَحَْرَكَذَفُْهُت عَ ياَبَ فْ:َْمَّلَسَوِْه يَلَعَُّْللاْىَّلَصَِّْللاَْلوُسَرُْت يَ تَأْ
ُْلوُسَرُْهَلَْلاَقَ فِْةَقَدَّصلاْ نِمْ ِنِِط عَأْ:َْلاَقَ فْرلُجَرُْهَتََأَف
ىَّلَصَِّْللا ْ
ِْفِْهِ يَغْ َلَْوْ ِبَنِْم كُِبَِْض رَ يْ َلَْ َلَاَعَ تََّْللاَّْنِإْ:َْمَّلَسَوِْه يَلَعَُّْللاْ
ْ نِمَْت نُكْ نِإَفْ ءاَز جَأَْةَيِناََثَْاَهَأَّزَجَفَْوُهْاَهيِفَْمَكَحْ َّتََّحْ ِتاَقَدَّصلاْ
َْكَّقَحَْكُت يَط عَأِْءاَز جَ لْاَْك لِت
Artinya: “Aku telah menemui Rasulullah SAW lalu aku membai’atnya. Ia menyebutkan sebuah Hadits panjang. Ketika itu datang seorang laki-laki yang mengatakan: “Berilah aku sedekah” maka Rasulullah berkata kepada orang itu: Allah tidak menyukai ketentuan Nabi atau orang lain mengenai sedekah.
Selain ketentuan-Nya sendiri. Maka sedekah itu dibagikan kedalam delapan bagian. Kalau engkau termasuk ke dalam bagian itu, kuberikan hakmu”. (HR. Abu Daud)3
Dilihat dari hadist tersebut telah dijelaskan bahwa zakat hanya di peruntukkan kepada depalan golongan asnaf seperti yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an, salah satunya ialah fii sabilillah. Dalam pengartian golongan fii sabilillah terdapat perbedaan pendapat ulama diantaranya ada yang mengartikan fii sabilillah sebagai peperangan bersenjata dalam upaya mempertahankan agama Islam. selain itu, terdapat ulama yang menafsirkan fii sabilillah tidak sebatas peperangan saja namun makna fii sabilillah diperluas agar lebih relevan dengan keadaan di zaman sekarang ini.
3 Yu>suf Qarad}a>wi>, “Hukum Zakat”, 508
Selain Al-Qur’an dan Hadist Yu>suf Qarad}a>wi> juga menggunakan metode qiyas, yaitu dengan menyamakan hukum yang sudah ada nashnya dengan hukum yang belum ada nashnya namun memiliki persamaan illat dari kedua hukum tersebut.
Penggunakan metode qiyas dalam penyaluran dana zakat ini adalah dengan mengqiyaskan pemberian dana zakat untuk pembangunan masjid. Pemberian dana zakat untuk pembangunan masjid tidak tercangkup dalam nash atau ayat jihad fii sabilillah namun dalam hal tersebut termasuk kedalam golongan amalan yang bertujuan untuk mempertahankan Islam maka harus di qiyaskan.4 Jika ditinjau lebih lanjut dalam melakukan pengqiyasan harus melewati empat metode sebagai berikut:
1. Ashal
Ashal merupakan suatu peristiwan yang dasar hukumnya telah tercantum dalam nash biasanya disebut dengan tempat mengqiyaskan suatu masalah. Ashal dari permasalahan ini ialah penyaluran dana zakat yang di peruntukan untuk golongan fii sabilillah atau jihad dijalan Allah, seperti yang telah tercantum di dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 60, yang meliputi orang
4 Yusuf Qarḍawi, Fatwa-fatwa Kontemporer Jilid 1, Jakarta: Gema Insani, 1995, 378-379
fakir, orang miskin, amil (pengelola zakat), mu’allaf (orang yang dilunakkan hatinya), hamba sahaya, gharim (orang-orang yang berhutang), fii sabilillah (jalan Allah), Ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan).
2. Hukum ashal
Hukum ashal ialah suatu aturan yang telah ditetapkan dalam suatu nash. Hukum ashal dari permasalahan ini ialah golongan fii sabilillah yang termasuk ke dalam delapan golongan asnaf yang berhak mendapatkan zakat.
3. Far’u
Far’u merupakan suatu peristiwa yang belum terdapat hukum yang mengatur yang akan diqiyaskan dengan peristiwa yang sudah ada nash hukumnya. Far’u dalam permasalahan ini ialah penyaluran dana zakat untuk pembangunan masjid yang dimasukkan kedalam golongan fii sabilillah
4. Illat
Illat merupakan alasan atau sebab yang dijadikan sebuah hukum tersebut diaadakan ataupun ditiadakan. Illatnya ialah penyaluran zakat untuk pembangunan masjid diperbolehkan, karena masjid termasuk tempat untuk jihad ke jalan Allah.
Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa istinbath hukum Yu>suf Qarad}a>wi> berdasarkan pada Al-Qur’an Surat At-taubah ayat 60, Hadist Abu Daud dari Ziad Ibnul-Haris ash- Shuda’I, Qiyas. Menurut Yu>suf Qarad}a>wi>, apabila terdapat kegiatan Islami yang tidak memiliki hukum yang tercangkup dalam ruang lingkup jihad dengan nash, maka hal tersebut dapat di qiyaskan dengan peristiwa yang bermakna sama dan sudah memiliki hukum yang tercantum dalam nash. Sebab, kedua hal tersebut merupakan amalan yang mempunyai tujuan untuk membela dan mempertahankan Islam.5
B. Analisis relevansi Pemikiran Yu>suf Qarad}a>wi> tentang penyaluran dana zakat untuk pembangunan masjid di Indonesia
Menurut Yu>suf Qarad}a>wi> zakat merupakan rukun Islam yang memiliki corak sosial ekonomi. Menurutnya walaupun zakat merupakan ibadah yang sejajar dengan sholat, namun seseungguhnya zakat merupakan bagian dari sistem sosial ekonomi Islam. Zakat telah dibahas secara terperinci di dalam Al-Qur’an, seperti dalam hal penyaluran zakat yang telah tercantum surat At-Taubah ayat 60, maka
5 Yu>suf Qarad}a>wi>, fikih al zakat juz 11, 669
dianggap tidak sesuai apabila zakat salurkan kepada golongan selain yang tercantum di dalamnya.
Al-Qur’an menyebutkan bahwa orang-orang yang berhak menerima zakat atau mustahik zakat ada delapan golongan, dan salah satunya yaitu fii sabilillah (di jalan Allah). fii sabilillah merupakan kalimat yang umum, yang mencangkup segala perbuatan yang dilakukan untuk menyampaikan ridha Allah. fii sabilillah biasanya diartikan dalam bentuk jihad (peperangan).
Pada zaman modern seperti saat ini menurut Yu>suf Qarad}a>wi>
jihad tidak hanya diartikan sebagai peperangan bersenjata saja. Jihad dapat diartikan segala susuatu dalam hal menuju kebaikan, hingga mendirikan pusat kegiatan Islam untuk mendidik pemuda muslim sesuai dengan ketentuan agama Islam yang benar. Sebab sekarang ini telah banyak suatu Yayasan atau kegiatan yang menggunakan nama Islam, namun isinya sekularisme bukan agama.
Menurut Yu>suf Qarad}a>wi> penafsiran fii sabilillah sebagai penerima zakat diartikan kepada segala jenis jihad seperti dalam bidang kebudayaan dan Pendidikan pada masa sekarang ini lebih utama, namun dengan syarat bahwa jihad tersebut harus sesuai dengan
aturan Islam dan tidak boleh dicampuri oleh unsur atau faham lain selain untuk kepentingan agama Islam6
Dalam memperluas makna fii sabilillah Yu>suf Qarad}a>wi>
mengemukakan pendapat bahwa penyaluran dana zakat untuk masjid termasuk dalam golongan fii sabilillah, Yu>suf Qarad}a>wi>
menyebutkan apabila hendak mendirikan dan meramaikan masjid, dan hanya terdapat satu masjid dalam daerah tersebut, atau terdapat bangunan masjid yang sudah tidak memadai sehingga membutuhkan perbaikan atau pembangunan masjid dalam keadaan tersebut maka penyaluran dana zakat untuk hal tersebut diperbolehkan, sebagaimana yang telah tercantum dalam surat at-Taubah dan dimasukkan pada golongan fii sabilillah.7
Berdasarkan pendapat Yu>suf Qarad}a>wi> yaitu beliau menyebutkan bahwa diperbolehkan peyaluran dana zakat untuk pembangunan masjid di negara-negara miskin yang padat penduduk, sehingga satu masjid dapat menampung puluhan ribu orang, dalam hal tersebut membangun masjid dengan menggunakan dana zakat diperbolehkan di negara-negara miskin yang penduduknya serba kekurangan pangan sebagai kebutuhan dasar. Akan tetapi jika
6 Yu>suf Qarad{a>wi, Hukum Zakat, Terj. Salman Harun, dkk,, 643
7 Yu>suf Qarad{a>wi, Hadyu al-Islam Fatawi Mu’ashirah, 165
pendapat Yu>suf Qarad}a>wi> direalisasikan di Indonesia tampaknya kurang relevan dengan keadaan di Indonesia. Dimana hampir seluruh daerah yang ada di Indonesia telah terdapat bangunan masjid di dalamnya. Bahkan dipelosok desa pun hampir seluruhnya memiliki masjid walaupun dengan ukuran sederhana. Namun, apabila di Indonesia terdapat suatu wilayah yang sudah memiliki masjid dengan keadaan yang sudah memerlukan perbaikan ulang, dan di suatu daerah tersebut tidak memiliki dana selain dana zakat, maka pendapat Yu>suf Qarad}a>wi> dapat relevan dengan keadaan tersebut dan dana zakat dapat digunakan untuk perbaikan masjid.
60 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian penulis mengenai pemikiran Yu>suf Qarad}a>wi> tentang penyaluran dana zakat untuk pembangunan masjid dan relevansinya di Indonesia dapat disimpulkan bahwa:
1. Instinbath hukum Yu>suf Qarad}a>wi> mengenai penyaluran dana zakat untuk pembangunan masjid ialah dengan menggunakan qiyas, dengan berlandaskan Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 60 dan hadist Nabi SAW.
2. Pendapat Yu>suf Qarad}a>wi> tentang dana zakat yang disalurkan untuk pembangunan masjid merupakan bagian dari fii sabilillah.
Yu>suf Qarad}a>wi> memperbolehkan penyaluran dana zakat untuk pembangunan masjid di negara-negara miskin yang padat penduduk, sehingga satu masjid dapat menampung puluhan ribu orang. Adapun jika pendapat Yu>suf Qarad}a>wi> kurang relevan apabila direalisasikan di Indonesia, dimana setiap pelosok daerah yang ada di Indonesia sudah terdapat bangunan masjid walaupun sederhana, namun jika di Indonesia masih terdapat daerah yang sudah memiliki masjid dengan keadaan memerlukan perbaikan