• Tidak ada hasil yang ditemukan

Break Event Point

Dalam dokumen proposal herawati fiks - Copy (Halaman 30-40)

BAB V Penutup

2.2. Landasan Teori

2.2.1 Break Event Point

a) Pengertian Break Event Point

Break even point adalah posisi dimana perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak menderita kerugian. BEP atau titik impas sangat penting bagi manajemen untuk mengambil keputusan untuk menarik produk atau mengembangkan produk, atau untuk menutup anak perusahaan yang tidak menguntungkan. Dengan kata lain, suatu usaha dikatakan impas jika jumlah pendapatan atau revenue (penghasilan) sama dengan jumlah biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutup biaya tetap saja. (Manuho dkk 2021)

Menurut Supriyono “Break even point atau sering disebut dengan impas atau pulang pokok merupakan suatu keadaan perusahaan dimana besarnya jumlah total penghasilan sama dengan jumlah total biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan atau rugilabanya = nol”. (Murthosiyah dan Widyarti 2015)

Break even point adalah suatu keadaan dimana dalam operasi perusahaan, perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi (Penghasilan = Total Biaya). Titik impas (break even point) adalah keadaan suatu usaha yang memperoleh laba dan tidak menderita rugi. Suatu usaha dikatakan impas jika jumlah pendapatan (revenue) sama dengan jumlah biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutup biaya tetap saja. (Ferisanti 2023)

Salah satu dari kegunaan break event point yaitu untuk menegtahui jumlah hasil penjualan sama dengan biaya, atau perusahaan beroprasi dalam kondisi tidak laba dan tidak menglami kerugian, atau laba sama dengan nol.

Menurut Handoko (2015)Analisa break even point dapat digunakan manajer baik sebagai alat bantu pembuatan keputusan maupun sebagai alat pengawasan. Sebagai alat bantu pembuatan keputusan dan pengawasan, analisa break even point dapat digunakan untuk:

a.

Penentuan volume penjualan minimum yang dibutuhkan untuk menghindari kerugian

b.

Penentuan volume produksi dan penjualan minimum yang dibutuhkan untuk mencapai sasaran laba yang telah ditetapkan

c.

Penyediaan data dalam pembuatan keputusan penambahan atau pengurangan jenis produk

d.

Pembuatan keputusan menaikkan atau menrunkan harga.

Memberikan pengukuran yang obyektif untuk mengevaluasi pelaksanaan kerja organisasi atau perusahaan dan memberikan dasar untuk tindakan korektif yang akan diambil.

Biaya yang timbul dari perolehan atau untuk produk dan jasa akan mempengaruhi harga jual produk. Harga jual produk atau jasa akan berpengaruh terhadap besarnya volume penjualan produk atau jasa.

Sedangkan besarnya volume penjualan berpengaruh terhadap volume produksi peoduk dan jasa. Selanjutnya pada volume produksi akan

memepengaruhi besar kecilnya biaya produksi denga demikian vaktor-vaktor diatas saling berkaitan satu sama lain.

Analisis break event point dapat dihitung dengan menggunakan metode persamaan (equation method) dan metode margin kontribusi (contribution margin method). Persamaan tersebut sebagai berikut:

a. Metode Persamaan (equation method) adalah metode yang berdasarkan pada pendekatan laporan laba rugi. Penentuan break even atau impas dengan teknik persamaan dilakukan dengan mendasarkan pada persamaan pendapatan sama dengan biaya ditambah laba.

b. Metode margin kontribusi (contribution margin method), menurut Supriyono, dkk (2018)margin kontribusi adalah pendapatan penjualan dikurangi semua biaya variabel. Margin kontribusi menurut penjelasan tersebut menunjukan jumlah yang tersedia untuk menutup semua biaya tetap dan setelah biaya tetap tertutup maka sisanya untuk menghasilkan laba pada periode yang bersangkutan

b) Persyaratan Yang Perlu Di Lakukan Dalam Break Event Pont

Diperlukan sejumlah persyaratan agar analisis Break Event Point dari perusahaan dapat dilakukan. Dari syarat-syarat tersebut harus dipenuhi dahulu agar perusahaan dapat menentukan tingkat volume penjualan dna produksi yang akan menghasilkan pokok pulang atau tidak menghasilkan laba atau rugi.

Menurut (Siregar 2019) syarat-syarat yang diperlukan untuk menentukan titik impas adalah sebagai berikut:

a. Bahwa prinsip variabilitas biaya dapat diterapkan dengan tepat (principle of cost variability is valid).

b. Bahwa biaya-biaya yang dikorbankan harus dapat dipisahkan menjadi dua kelompok biaya, yakni biaya tetap dan biaya variabel. Biaya-biaya yang bersifat meragukan, yaitu bersifat semi tetap atau semi variabel harus ditegaskan kelompoknya sehingga akhirya hanya ada dua kelompok biaya saja, yakni “biaya tetap” dan “biaya variabel”.

c. Bahwa yang dikelompokan sebagai biaya tetap tersebut akan tinggal konstan sepanjang kisaran periode kerja atau kapasitas produksi tertentu, artinya tidak mengalami perubahan walaupun volume produksi atau volume kegiatan berubah. Apabila dihitung per unit biaya tetap ini berarti akan semakin menurun dengan meningkatnya volume produksi.

d. Bahwa yang dikelompokan sebagai biaya variabel itu akan berubah sebanding dengan perubahan volume produksi. Dengan demikian, biaya variabel itu akan tetap sama bila dihitung per unit, berapa pun jumlah unit barang yang diproduksikan.

e. Bahwa harga jual per unit barang itu akan tetap saja tidak naik atau turun, berapa, saja jumlah unit barang yang dijual. Harga per unit tidak akan menurun walaupun volume penjualan meningkat, dan sebaliknya

volume penjualan barang tidak akan mempengaruhi harga jual atau harga pasarnya. Persyaratan ini berlaku bagi pasar barang yang bersaing sempurna dimana perusahaan secara individual tidak dapat mempengarahi harga pasar.

f. Bahwa tingkat harga umum tidak akan mengalami perubahan selama kisaran tertentu. Bahwa perusahaan yang bersangkuatan hanya memproduksi dan menjual satu jenis barang saja. Bagi perusahaan yang memproduksi dan menjual lebih dari satu jenis barang maka produk-produk itu harus dianggap satu jenis produk saja dengan perbandingan (mix) yang selalu konstan

g. Bahwa produktivitas tenaga kerja pada perusahaan yang bersangkutan akan tinggal tetap atau tidak berubah.

Bahwa dalam perusahaan yang bersangkutan harus ada sinkronisasi antara volume produksi dengan volume penjualan, artinya bahwa barang yang diproduksi mesti tejual semua pada periode yang bersangkutan (tidak ada sisa atau persediaan).

c) Dasar Asumsi Break Event Point

Analisis break event point membtuhkan asumsi dasar. Jika asumsi dasar mengalami perubahan walau sedikiit, maka hal tersebut akan

berpengaruh pada posisi titik impas, sehingga perubahan tersebut akan berpengaruh terhdap laba pada usaha.

Terdapat bebrapa asumsi dasar dalam analisi brea event point, yaitu menurut (Maruta 2018)

a) Satu-satunya faktor yang memengaruhi biaya adalah perubahan volume. 

b) Manajer menggolongkan setiap biaya (atau komponen biaya gabungan) baik sebagai biaya variabel maupun biaya tetap. 

c) Beban dan pendapatan adalah linier di seluruh cakupan volume relevannya. 

d) Tingkat persediaan tidak akan berubah.

e) Penjualan atas gabungan produk tidak akan berubah. Penjualan gabungan merupakan kombinasi produk yang membentuk total penjualan.

Sedangkan menurut (Mulyadi 2023) asumsi yang mendasari break event poin adalah sebagai berikut :

1) Variabilitas biaya dianggap akan mendekati pola perilaku yang diramalkan. Biaya tetap akan selalu konstan dalam kisar volume yang dipakai dalam perhitungan break even point, sedangkan biaya variabel berubah sebanding dengan perubahan volume penjualan. 

2) Harga jual produk dianggap tidak berubah-ubah pada berbagai tingkat kegiatan. Jika dalam usaha menaikkan volume penjualan dilakukan

penurunan harga jual atau dengan memberikan potongan harga, maka hal ini mempengaruhi hubungan biaya-volume-laba.

3) Kapasitas produksi pabrik dianggap secara relatif konstan.

Penambahan fasilitas produksi akan berakibat pada penambahan biaya tetap dan akan mempengaruhi hubungan biaya-volume-laba.

4) Harga faktor-faktor produksi dianggap tidak berubah. Jika harga bahan baku dan tarif upah menyimpang terlalu jauh dibanding data yang dipakai sebagai dasar perhitungan break even point, maka hal ini akan mempengaruhi hubungan biaya-volume-laba.

5) Efisiensi produk dianggap tidak berubah. Apabila terjadi penghematan biaya karena adanya penggunaan bahan pengganti yang harganya lebih rendah atau perubahan metode produksi, maka hal ini akan mempengaruhi hubungan biaya-volume-laba.

6) Perubahan jumlah sediaan awal dan akhir dianggap tidak signifikan.

7) Komposisi produk yang dijual dianggap tidak berubah. Jika perusahaan menjual lebih dari satu macam produk, maka meskipun volume penjualan sama tetapi apabila komposisinya berbeda, maka hal ini akan mempunyai pengaruh terhadap pendapatan penjualan.

d) Manfaat Analisis Break Event Point

Break event point sanagt bermanfaat bagi usaha untuk menentukan

Tingkat keuntungan. Break Event Piont sangat dibutuhkan dalam menjalankan usaha agar biaya biaya tetap dan biaya variable dapat diperhitungkan agar akan minim terjadinya kerugian dalam usaha. Berukut beberapa mamfaat dari break event point :

Menurut (Maruta 2018) BEP amatlah penting jika kita membuat sebuah usaha agar kita tidak mengalami kerugian, baik itu usaha yang bergerak di bidang jasa atau manufaktur. Berikut manfaatdari BEP:

a) Alat perencanaan untuk menghasilkan laba.

b) Memberikan informasi mengenai berbagai tingkat volume penjualan, serta hubungannya dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan yang bersangkutan.

c) Untuk mengetahui hubungan volume penjualan yang diproduksi, harga jual dan biaya-biaya yang dikeluarkan, sehingga laba rugi perusahaan akan diketahui.

d) Untuk mengetahui jumlah penjualan minimum (dalam unit produk maupun satuan uang) agar perusahaan tidak menderita rugi.

e) Mengevaluasi laba dari perusahaan secara keseluruhan.

f) Mengganti sistem laporan yang tebal dengan grafik yang mudah dibaca dan dimengerti.

g) Sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan harga jual.

h) Sebagai bahan atau dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan terhadap hal-hal berikut :

 Jumlah penjualan minimalyang harus dipertahankanagar perusahaan tidak mengalami kerugian.

 Jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh keuntungan tertentu.

 Seberapa jauhkah berkurangnya penjualan agar perusahaan tidak menderita rugi.

 Untuk mengetahui bagaimana efek perubahan harga jual, biaya dan volume penjualan terhadap keuntungan yang diperoleh Sedangkan menurut Budisantoso (2009) analisa Break Even Point mempunyai beberapa manfaat, diantaranya adalah:

a.

Sebagai dasar merencanakan kegiatan operasional dalam usaha mencapai laba tertentu.

b.

Sebagai dasar atau landasan untuk mengendalikan aktivitas yang sedang berjalan.

c.

Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan harga jual.

d.

Sebagai bahan atau dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan Manfaat analisis break even poin sangat banyak, namun secara umum adalah untuk mengetahui titik pulang pokok dari sebuah usaha dengan diketahuinya titik pulang pokok, manajemen dapat mengetahui harus memproduksi atau menjual pada jumlah berapa unit agar peruasahaan tidak mengalami kerugian.

i) Metode Penghitung Break Event Point

1. Menurut Siregar (2019) menghitung break event point dalam dasar rupiah adalah sebagai berikut

BEP = FC 1−VC

S

Keterangan : FC = Biaya tetap

VC = Biaya variabel per unit P = Harga jual per unit S = Penjulan

I = K onstanta

2. Menurut (Muzdalifah 2017) menghitung break event point atas dasar unit yaitu sebagai berukut :

BEP = TR – TC

TR – TC = 0

(Unit Price X Q) – TC = 0

(Unit Price X Q) – (VC + FC) = 0 (Unit Price X Q) – (Q X Unit VC + FC) = 0 (Unit Price X Q) – (Q X Unit VC) – FC = 0

(Unit Price X Q) – (Q X Unit VC) – FC = 0

Q= FC

(Unit priceUnit VC

Sehingga diperoleh rumus sebagai berikut :

BEP(Q)= FC PVC

Keterangan:

FC = Biaya Tetap

VC = Biaya variabel per unit P = Harga jual per unit S = Penjualan

BEP (Rp) = Jumlah untuk produk yang dihasilkan impas dalam rupiah BEP (Q) = Jumlah untuk produk yang dihasilkan impas dalam unit

Dalam dokumen proposal herawati fiks - Copy (Halaman 30-40)

Dokumen terkait