• Tidak ada hasil yang ditemukan

Cabang Ilmu Filsafat Pendidikan Islam

Dikalangan para Ahli filsafat pendidikan pada umumnya, seperti Broudy dikutip oleh Muhaimin menyatakan bahwa filsafat pendidikan dipandang sebagai pembahasan yang sistematis tentang masalah-masalah pendidikan pada tingkatan filosofis, yaitu menyelidiki suatu persoalan pendidikan hingga direduksi kedalam pokok persoalan metafisika, epistemologi, etika, logika, estetika maupun kombinasi dari semuanya itu.

Dalam pembahasan filsafat pendidikan, persoalan-persoalan tersebut disederhanakan kedalam tiga persoalan pokok, yaitu pandangan mengenai realita yang dipelajari oleh metafisika atau ontologi, epistemologi, aksiologi.83 Filsafat terdiri atas tiga cabang besar yaitu: ontologi, epistemologi, dan aksiologi, ketiga cabang itu sebenarnya merupakan satu kesatuan:

4. Ontologi

Ontologi berasal dari kata Yunani on (ada), dan ons berarti keberadaan. Sedangkan logos berarti pemikiran. Jadi ontologi adalah

82 Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1, 16.

83 Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam (Surabaya: PSAM, 2003), 18.

pemikiran mengenai yang ada dan keberadaannya. Kata Yunani onto berarti “yang ada secara nyata, “kenyataan yang sesungguhnya. Ontologi

adalah ilmu yang mengkaji tentang hakikat ilmu. Hakikat apa yang dikaji.

Dikemukakan pula bahwa ontologi ilmu mengkaji apa hakikat ilmu pengetahuan, apa hakikat kebenaran rasional atau kebenaran deduktif dan kenyataan empiris yang tidak terlepas dari persepsi tentang apa dan bagaimana (yang) “ada” itu. Ontologi menyelidiki hakikat dari segala

sesuatu dari alam nyata yang sangat terbatas bagi panca indera kita.

Bagaimana realita yang ada ini, adalah ,materi semata, apakah wujudnya bersifat tetap, kekal tanpa perubahan? Juga apakah realita itu juga terbentuk dari satu unsur (monisme), dua unsur (dualisme), atau banyak unsur (pluralisme). 84

Pendekatan ontologi atau metafisik menekankan pada hakikat keberadaan, dalam hal ini keberadaan pendidikan itu sendiri. Keberadaan pendidikan tidak terlepas dari keberadaan manusia. Oleh sebab itu, hakikat pendidikan berkenaan dengan hakikat manusia. Dalam pendekatan ini, keberadaan peserta didik dan pendidik tidak terlepas dari makna keberadaan manusia itu sendiri. Apakah manusia, dan apakah makna keberadaan manusia itu? Pertanyaan-pertamyaan metafisik tersebut juga merupakan pertanyaan-pertanyaan yang esensial dalam proses pendidikan.85

84 Jalaludin, Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), 163.

85 Anas Salahudin, Filsafat Pendidikan (Bandung: CV Pustaka Setia, 2011), 129.

Bidang ontologi membatasi diri pada objek apa yang dikaji oleh ilmu pengetahuan. Ontologi membatasi diri pada ruang kajian keilmuan yang dapat dipikirkan manusia secara rasional dan dapat diamati melalui panca indera manusia. Menurut Nadiroh yang dikutip oleh Jalaludin, ada beberapa pertanyaan dalam kajian ontologi adalah:

d. Apakah yang dimaksud dengan ada, keberdaan, dan eksistensi itu?

e. Bagaimana penggolongan dari ada, keberadaan, dan eksistensi itu?

f. Apa sifat dasar (nature) kenyataan atau keberadaan? 86 5. Epistemologi

Epistemologi adalah kata lain dari filsafat ilmu berasal dari bahasa latin episteme, berarti knowledge, yaitu pengetahuan dan logos, berarti theory. Jadi, epistemologi, berati “teori pengetahuan” atau teori tentang metode, cara, dan dasar dari llmu pengetahun, atau studi tentang hakikat tertinggi, kebenaran, dan batasan ilmu manusia. Dalam filsafat, epistemologi merupakan cabang filsafat yang meneliti asal, struktur, metode-metode, dan keshahihan pengetahuan.87

Lebih jauh, epistemologis dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitas) pengetahuan. Bila dalam filsafat pertanyaan pokoknya adalah “apakah ada itu?”, maka dalam epistemologis pertanyaan pokoknya adalah “apa yang dapat saya ketahui”. Selanjutnya dikemukakan oleh

86 Jalaludin, Filsafat Ilmu Pengetahuan, 165.

87 Salahudin, Filsafat Pendidikan, 31.

Nadiroh yang dikutip oleh Jalaludin, Bahwa persoalan-persoalan epistemologis adalah:

g. Apakah pengetahuan itu?

h. Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?

i. Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh?

j. Bagaimanakah validitas pengetahuan itu dapat dinilai?

k. Apa perbedaan antara pengetahuan a priori (pengetahuan pra- pengalaman) dengan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman)?

l. Apa perbedaan diantara: kepercayaan, pengetahuan, gagasan, kebenaran, kebolehjadian, dan kepastian?88

Epistemologis merupakan asas mengenai cara bagaimana kebenaran pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi suatu tubuh pengetahuan yang meliputi sumber dan sarana untuk mencari ilmu pengetahuan. Epistemologi hanya mencakup satu bidang saja yang disebut epistemologi yang membicarakan cara memperoleh filsafat. Berkaitan dengan pemikiran di atas, terdapat empat jenis kebenaran yang secara umum telah dikenal oleh orang banyak, yaitu sebagai berikut.89

e. Kebenaran religius, yaitu kebenaran yang memenuhi kriteria atau dibangun berdasarkan kaidah-kaidah agamaa atau keyakinan tertentu, yang disebut juga dengan kebenaran absolut atau kebenaran mutlak yang tidak terbantahkan. Kebenaran ini bersifat religious

88 Jalaludin, Filsafat Ilmu Pengetahuan, 166-167.

89 Ibid,.

f. Kebenaran filosofis, yaitu kebenaran hasil perenungan dan pemikiran kontemplatif terhadap hakikat sesuatu, meskipun pemikiran intelektual tersebut bersifat subjektif dan relatif, tetapi konemplatif.

g. Kebenaran estetis, yaitu kebenaran yang berdasarkan penilaian indah atau buruk, serta cita-cita rasa estetis. Artinya, keindahan yang berdasarkan harmoni dalam pengertian luas yang menimbulkan rasa senang, tenang, dan nyaman.

h. Kebenaran ilmiah, yaitu kebenaran yang ditandai oleh terpenuhinya syarat-syarat ilmiah ditunjang oleh rasio dan kebenaran rasional berdasarkan teori yang menunjangnya. Kebenaran ilmia di validasi oleh bukti-bukti empiris, yaitu hasil pengukuran objektif di lapangan.

Sifat objektif berlaku umum, dapat diulang melalui eksperimentasi, cenderung amoral-sesuai dengan apa adanya, bukan apa yang seharusnya, yaitu merupakan ciri ilmu pengetahuan.90

6. Aksiologi

Secara etimologis, aksiologi berasal dari bahasa Yunani terdiri atas dua kata yaitu: aksio artinya nilai, dan logis artinya teori, jadi aksiologi berarti teori tentang nilai. Dalam Encyclopedia of Philosophy, aksio diartikan sama dengan value and valuation (nilai dan penilaian). Menarik pengertian menurut Bamel dikutip oleh Dewa Gede et, Etail, bahwa aksiologi terdiri atas tiga bagian, yaitu:91

90 Ibid, 132.

91 Dewa Gede et. al., Filsafat Ilmu Dari Pohon Sampai Karakter Keilmuan Ilmu Hukum (Malang: Madani Wisma Kalimetro, 2014), 42.

d. Moral conduct, merupakan tindakan moral, bidang yang melahirkan disiplin etika:

e. Esthetic expression, merupakan ekspresi keindahan, melahirkan disiplin Estestika; dan

f. Socio-political life, merupakan kehidupan sosial-politik, yang melahirkan Filsafat Sosial Politik. 92

Aksiologi pendidikan berkaitan dengan masalah ilmu dan pengetahuan (kognitio), maksudnya adalah memikirkan segala hakikat pengetahuan atau hakikat keberadaan segala sesuatu yang bersifat fisikal dan metafisikal, baik yang umum maupun yang khusus. Aksiologis merupakan asas dalam menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh dan disusun dalam tubuh pengetahuan yang meliputi nilai-nilai, atau parameter bagi apa yang disebut sebagai kebenaran atau kenyataan itu dalam konteks kawasan terkait dalam kehidupan.93

Aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Aksiologi berhubungan dengan penggunaan ilmu pengetahuan. Seperti dimaklumi, bahwa ilmu pengetahuan ditujukan untuk kepentingan hidup manusia. Ilmu pengetahuan membantu manusia mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh kehidupan sehari-hari. Dengan menguasai ilmu pengetahuan, manusia

92 Ibid, 42-43.

93 Suparman Syukur, Epistemologis Islam Skolastik (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2007), 205, 207, 210.

mampu mengobservasi, memprediksi, memanipulasi, dan menguasai alam.94

Memang sejatinya ilmu pengetahuan digunakan bagi sebesar-besar manfaat manusia. Manfaat bagi kehidupan manusia sebagai makhluk berperadaban yang memiliki harkat dan martabat. Penggunaans produk ilmu pengetahuan semestinya diarahkan pada upaya peningkatan peradaban, sejalan dengan nilai kemanusiaan yang berlaku. Jadi bukan sebaliknya. Manakala berhadapan dengan penggunaan ilmu pengetahuan ini pula sebenarnya masalah nilai mulai dipertanyakan. Apakah pengetahuan itu bebas nilai, atau terikat kepada nilai-nilai tertentu?95

Permasalahan ini kemudian mengacu kepada sejumlah pertanyaan.

Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu digunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral?

Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara tekni prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional?96

Memang, menurut latar belakang terbentuknya: mengapa dan untuk apa pengetahuan ada, maka jawabannya ada ditangan manusia.

Rancang bangun teoi-teori ilmiah dibangun teknologi dibuat berdasar pada teori-teori kebenaran ilmiah, semata-mata untuk pemberdayaan nilai-nilai bagi tercapainya tujuan kehidupan. tatanan nilai seperti ini pula yang sering dilupakan manusia dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan

94 Jalaludin, Filsafat Ilmu Pengetahuan,168.

95 Ibid, 169.

96 Ibid,.

teknologi. Dan aspek ini pula yang jadi obyek kajian aksiologi, yakni hubungan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan sistem nilai.97

Dokumen terkait