BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, PREMIS
3.2 Metode Penelitian
3.2.3 Cara Kerja dan Teknik Pengumpulan Data
1. Usulan penelitian diajukan ke Komite Etik Penelitian Kesehatan (ethical clearence)
2. Pencarian data rekam medis pasien dengan miopia dan astigmat miopia ringan- sedang dari buku log pasien yang telah dilakukan tindakan FS-LASIK dan SMILE dengan satu operator bedah dari 1 Februari 2019 hingga 28 Februari 2020 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi
3. Mengkonfirmasi ketersediaan data dari rekam medis ke mesin wavefront aberrometry kemudian dilakukan matching dari data tersebut berdasarkan usia, jenis kelamin, derajat kelainan refraksi dengan spherical equivalent (SE) ± 0.50 Dioptri, root mean square (RMS) preoperatif , dan stabilitas air mata
4. Pencatatan identitas meliputi nomor rekam medis, nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, dan alamat tempat tinggal, alasan melakukan tindakan bedah refraktif
5. Pasien dilakukan pemeriksaan oftalmologi lengkap meliputi anamnesis, tajam penglihatan dengan Snellen chart, segmen anterior dengan lampu celah biomikroskop dan segmen posterior dengan oftalmoskopi indirek
6. Skrining pemeriksaan sebelum tindakan FS-LASIK dan SMILE yang meliputi tekanan intraokular, stabilitas film air mata, topografi dan tomografi kornea, serta wavefront aberrometry yang dilakukan oleh tenaga terlatih di Pusat LASIK PMN RS Mata Cicendo.
3.2.3.1 Tindakan Bedah
1. Teknik tindakan LASIK dengan laser femtosecond (FS-LASIK) dilakukan oleh satu operator bedah, tanpa komplikasi intraopersi, dan dengan tahapan yang tercantum pada laporan operasi sebagai berikut :
- Dilakukan penetesan anestesi topikal dengan tetrakain hidroklorida 2%
- Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik pada daerah mata dan sekitarnya - Dilakukan pemasangan sterile drape
- Dipasang spekulum palpebra
- Dilakukan prosedur pembuatan flap kornea :
• Dilakukan pemasangan alat penghisap
• Dilakukan prosedur docking dengan cara mendekatkan alat femtosecond pada kornea dengan posisi yang sesuai
• Setelah sentrasi baik, laser femtosecond diaktifkan untuk ditembakkan dengan energi 160 – 165 nJ untuk membuat flap kornea dengan diameter 9,0 mm dan ketebalan 120 µm, dengan hinge pada sudut 90o di bagian superior
- Dilakukan prosedur fotoablasi dengan mesin laser excimer :
• Flap yang telah terbentuk dibalikkan dengan menggunakan spatula sehingga bagian stroma terpapar
• Dilakukan ablasi pada bagian stroma dengan mesin wavefront- guided VISX STAR S4 IR® dengan zona optik 6,0 mm dan zona ablasi 8,0 mm
• Setelah proses ablasi selesai, flap dikembalikan ke posisi semula - Dilakukan irigasi dengan cairan BSS
- Melepaskan spekulum palpebra dan sterile drape
2. Teknik tindakan SMILE, dilakukan oleh satu operator bedah yang sama dengan operator tindakan FS-LASIK, dengan tahapan yang tercantum pada laporan operasi sebagai berikut :
- Dilakukan penetesan anestesi topikal dengan tetrakain hidroklorida 2%
- Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik pada daerah mata dan sekitarnya - Dilakukan pemasangan sterile drape
- Dipasang spekulum palpebral
- Dilakukan prosedur docking dengan cara mendekatkan alat femtosecond pada kornea dengan posisi yang sesuai
- Setelah sentrasi baik, laser femtosecond diaktifkan untuk ditembakkan dengan energy 110 – 120 nJ dalam empat tahap: permukaan posterior lenticule; tepi vertical lenticule; permukaan anterior lenticule; sehingga terbentuk lenticule dengan diameter 6,0 – 6,5 mm, insisi kecil sirkumferensial dengan ukuran 2.0 – 3.0 mm pada sudut 125o
- Lentikel yang terbentuk kemudian dipisahkan dari stroma menggunakan spatula dan diekstraksi dengan forsep
- Melepaskan spekulum palpebra dan sterile drape
3.2.3.2 Penatalaksanaan Pascaoperasi
Dalam waktu sekitar 30 menit setelah dilakukan tindakan FS-LASIK dan SMILE dilakukan pemeriksaan tajam penglihatan tanpa koreksi dalam jarak 4 meter dengan menggunakan Snellen chart dan pemeriksaan lampu celah biomikroskop untuk menilai kestabilan flap dan komplikasi yang mungkin muncul.
Semua pasien diberikan tetes mata antibiotik dan steroid dengan dosis 6 kali sehari serta tetes mata air mata buatan tanpa pengawet 1 tetes setiap jam.
Pasien kontrol 1 hari, 1 minggu dan 1 bulan setelah tindakan FS-LASIK dan SMILE. Setiap pasien kontrol dilakukan pemeriksaan tajam penglihatan tanpa koreksi dan segmen anterior dengan lampu celah biomikroskop. Pasien dengan tajam penglihatan tanpa koreksi 1.0 pada 1 bulan pascaoperasi dilakukan pemeriksaan corneal epithelium wettability dan wavefront aberrometry untuk dianalisis lebih lanjut oleh peneliti.
3.2.3.3 Pemeriksaan Higher-Order Aberrations (HOAs)
Pemeriksaan HOAs dilakukan dengan iDesign® Advanced Wavescan Studio saat penapisan preoperasi bedah refraktif kornea dan saat follow up 1 bulan pascaoperasi. Alat tersebut menerapkan prinsip Hartmann-Shack yang memiliki kuantitas dan kepadatan lenslets serta cakupan 1.257 titik data untuk pupil berukuran 7 mm. Sistem ini juga melakukan beberapa pengukuran simultan
lainnya seperti topografi, autorefraktometri, pupilometri, dan keratometri yang diintegrasikan oleh wavefront aberrometry. Sistem iDesign® memindai kornea pasien untuk memberikan informasi tentang kelainan refraksi (LOAs) dan HOAs.
Topografi kornea memindai permukaan luar okular, mengukur dan menganalisis variasi kecil dalam kelengkungan dan ketinggian kornea.
Lima macam model pengukuran tersebut dilakukan secara serentak pada satu kali penekanan tombol, dan diambil sebanyak tiga kali pengukuran. Rekonstruksi data pada alat tersebut diolah menggunakan algoritma Fourier yang setara dengan analisis Zernike level ke-20. Pemeriksaan dilakukan pada suasana skotopik dengan penerangan ruangan kurang dari 3 cahaya lilin/ m2. Pemeriksaan HOAs dengan iDesign® dilakukan oleh satu tenaga terlatih di Pusat LASIK PMN RS Mata Cicendo.
Gambar 3.1 iDesign® Advanced Wavescan Studio Dikutip dari: jnjvisionpro.com 56
3.2.4 Pengolahan dan Analisis Data
Data yang sudah terkumpul diolah secara komputerisasi untuk mengubah data menjadi informasi dengan langkah sebagai berikut :
1. Editing, yaitu memeriksa kebenaran data yang diperlukan
2. Coding, yaitu mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan.
3. Data entry yaitu memasukkan data, yakni hasil pemeriksaan dan pengukuran subjek penelitian yang telah dilakukan coding, dimasukan ke dalam program komputer.
4. Cleaning, yaitu apabila semua data dari responden telah selesai dimasukkan, maka perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, dan ketidaklengkapan, kemudian dilakukan koreksi.
Analisis data untuk melihat gambaran proporsi masing-masing variabel yang akan disajikan secara deskriptif dapat diuraikan menjadi analisis deskriptif dan uji hipotesis. Data yang berskala numerik dipresentasikan dengan rerata, standar deviasi, median dan range, data kategorik akan diberikan koding dan dipresentasikan sebagai distribusi frekuensi dan persentase. Data numerik dinilai dengan uji normalitas menggunakan Shapiro-Wilk test karena data kurang dari 50.
Selanjutnya dilakukan analisis statistik sesuai tujuan penelitian dan hipotesis.
Uji kemaknaan untuk membandingkan karakteristik dua kelompok penelitian berpasangan karena adanya proses matching maka digunakan uji t berpasangan jika
data berdistribusi normal dan uji Wilcoxon jika data tidak berdistribusi normal.
Sedangkan analisis statistik untuk data kategorik berpasangan diuji dengan uji McNemar. Kriteria kemaknaan ditentukan dengan nilai p ≤ 0,05 yang berarti bermakna secara statistik. Data yang diperoleh dicatat kemudian diolah melalui program SPSS versi 24.0 for Windows.
3.2.5 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Pusat LASIK PMN Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung pada bulan Maret 2020. Penelitian berjalan setelah mendapatkan persetujuan dari bagian Ilmu Kesehatan Mata dan Komite Etik Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.
3.3 Implikasi/ Aspek Etik Penelitian
Penelitian ini dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dari Komite Etik Penelitian Kesehatan. Pasien yang ikut dalam penelitian ini dilakukan pengukuran HOAs sebelum tindakan dan 1 bulan setelah tindakan FS-LASIK dan SMILE.
Prosedur tersebut tidak menimbulkan rasa nyeri pada pasien. Pemeriksaan dilakukan tanpa dikenakan tambahan biaya. Keuntungan yang diperoleh pasien pada penelitian ini adalah dapat mengetahui kualitas penglihatan setelah tindakan FS-LASIK dan SMILE. Kemungkinan tidak didapatkan kerugian bagi pasien dalam penelitian ini karena pemeriksaan yang dilakukan merupakan prosedur pemeriksaan rutin sebelum dan sesudah tindakan bedah refraktif laser kornea di Pusat Lasik PMN RS Mata Cicendo.
Penelitian ini berpedoman pada tiga prinsip dasar penelitian terhadap manusia dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Prinsip menghormati harkat dan martabat manusia (respect for person)
• Pasien memiliki hak untuk bertanya dan berkonsultasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan tindakan operasi
• Pilihan pelaksanaan tindakan operasi dietujui dan dilakukan secara sukarela dan sadar.
2. Prinsip bermanfaat dan tidak merugikan (beneficience and non-maleficience)
• Penelitian yang dilakukan diharapkan akan memberikan informasi pada perkembangan operasi FS-LASIK dan SMILE, khususnya untuk pertimbangan menentukan metode bedah refraktif
• Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kualitas penglihatan pasien setelah tindakan FS-LASIK dan SMILE.
3. Prinsip keadilan (justice)
Penelitian ini dilakukan pada dua kelompok. Kelompok A dilakukan tindakan FS-LASIK sedangkan kelompok B dilakukan tindakan SMILE.
Prosedur pemilihan tindakan bedah refraktif sesuai dengan keinginan dan kemampuan pasien tanpa paksaan.
Pemeriksaan pasien pada penelitian ini disupervisi oleh seorang dokter spesialis mata Unit Katarak dan Bedah Refraktif. Pencatatan hasil penelitian akan dijaga kerahasiannya.
3.4 Skema Alur Penelitian
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian mengenai perbandingan induksi higher-order aberrations (HOAs) antara tindakan LASIK dengan laser femtosecond (FS-LASIK) dan SMILE dilakukan pada total 20 subjek miopia dan astigmat miopia di Pusat LASIK Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo. Subjek penelitian diambil dari data rekam medis pasien yang menjalani tindakan tersebut dari Februari 2019 hingga Februari 2020 dari satu operator bedah, yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi hingga mencapai jumlah yang dibutuhkan sesuai hasil perhitungan jumlah sampel untuk dapat dilakukan analisis statistik. Sebanyak total 40 subjek penelitian telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Terdapat 19 subjek dari kelompok FS-LASIK, namun 1 subjek tidak terdapat data aberasi okular saat kunjungan kontrol 1 bulan pada wavefront aberrometer dan 1 subjek lain mempunyai root mean square (RMS) HOAs preoperatif sebesar 1,29 µm.
Sedangkan dari kelompok SMILE terdapat jumlah sebanyak 21 subjek dan hanya 1 subjek yang tidak terdapat data aberasi okular pada wavefront aberrometer saat kontrol 1 bulan. Setelah dilakukan proses matching, terdapat total 14 subjek dari masing-masing kelompok, namun saat kunjungan kontrol 1 bulan pada 8 subjek didapatkan keluhan mata kering dan diagnosis sindroma mata kering, sehingga akhirnya terdapat 20 subjek yang diikutkan ke dalam penelitian ini.
4.1 Hasil Penelitian
Hasil penelitian terdiri dari karakteristik subjek penelitian, karakteristik klinis dan hasil analisis perbandingan induksi HOAs antara FS-LASIK dan SMILE pada pasien miopia dan astigmat miopia.
4.1.1 Karakteristik Umum Subjek Penelitian
Penelitian dilakukan terhadap 20 mata dari 20 subjek yang dilakukan prosedur bedah refraktif kornea, 10 mata pada kelompok FS-LASIK serta 10 mata pada kelompok SMILE, yang telah dilakukan matching usia, derajat kelainan refraksi, ukuran pupil dalam keadaan skotopik, dan total root mean square (RMS) preoperatif. Karakteristik seluruh subjek penelitian dipaparkan pada tabel 4.1.
Median usia subjek penelitian adalah 20 tahun (rentang 18-29 tahun) pada kelompok FS-LASIK dan 19 tahun (rentang 18-30 tahun) pada kelompok SMILE.
Sebanyak 60% subjek penelitian berjenis kelamin laki-laki pada masing-masing kelompok. Sebagian besar subjek dari semua kelompok, yaitu 12 orang (60%) memiliki tujuan melakukan tindakan bedah refraktif laser kornea untuk menghilangkan ketergantungan penggunaan kacamata.
Uji normalitas menggunakan uji Shapiro-Wilk menunjukkan bahwa data usia tidak berdistribusi normal (p≤0,05) sehingga untuk membandingkan nilai pada kedua kelompok digunakan uji Mann-Whitney. Tabel 4.1 menunjukkan uji statistik pada derajat kepercayaan 95% membuktikan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna dalam hal usia pada kedua kelompok (nilai p=0,739; p>0,05).
Berdasarkan uji Exact Fisher dibuktikan bahwa secara statistik tidak terdapat
perbedaan bermakna untuk jenis kelamin dan tujuan dilakukan tindakan bedah refraktif laser kornea pada kedua kelompok.
Tabel 4.1 Karakteristik Subjek Penelitian
Karakteristik FS-LASIK
(n=10 mata)
SMILE (n=10 mata)
Nilai p Usia
Median 20 19
0,739
Jenis Kelamin Laki-laki (%) Perempuan (%)
6 (60%) 4 (40%)
6 (60%) 4 (40%)
1,000
Tujuan Tindakan
Menghilangkan ketergantungan kacamata Persyaratan pekerjaan/ pendidikan
7 (70%) 3 (30%)
5 (50%) 5 (50%)
0,650
FS-LASIK = Femtosecond Laser in situ Keratomileusis, SMILE = Small Incision Lenticule Extraction
4.1.2 Karakteristik Klinis Preoperatif Bedah Refraktif Laser Kornea
Karakteristik klinis preoperatif FS-LASIK dan SMILE meliputi spherical equivalent (SE), diameter pupil, central corneal thickness (CCT), optical zone (OZ), ketebalan flap, ablation depth, residual stromal bed (RSB), dan RMS higher- order aberrations (HOAs) yang ditunjukkan pada tabel 4.2. Rentang UCVA preoperatif pada seluruh subjek penelitian ini adalah 0,4 – 2/60.
Tabel 4.2 Karakteristik Klinis Preoperatif Bedah Refraktif Laser Kornea
Karakteristik FS-LASIK
(n=10 mata)
SMILE (n=10 mata)
Nilai p Corneal epithelium wettability 10 (100%) 10 (100%) 1,000 SE
Rerata ± Simpang Baku Rentang (min-maks)
-3,40 ± 1,491 -5,38-(-1,13)
-3,45 ± 1,349 -5,50-(-1,63)
0,938
Diameter Pupil
Median 6,0 6,50
0,853
Ketebalan Flap
Median 120,0 120,0
0,218
CCT
Rerata ± Simpang Baku Rentang (min-maks)
552,90 ± 31,473 503,0-602,0
539,40 ± 25,941 507,0-600,0
0,309
OZ
Median 6,42 6,34
0,353
Ablation Depth
Rerata ± Simpang Baku Rentang (min-maks)
46,74 ± 19,511 18,20-75,90
49,12 ± 16,736 30,40-80,60
0,773
RSB
Rerata ± Simpang Baku Rentang (min-maks)
383,60 ± 39,469 325,0-453,0
360,70 ± 31,252 306,0-399,0
0,167
RMS HOAs
Rerata ± Simpang Baku Rentang (min-maks)
0,37 ± 0,114 0,17-0,58
0,36 ± 0,156 0,20-0,57
0,897
SE = spherical equivalent, CCT = central corneal thicknes, OZ = optical zone, RSB = residual stromal bed, RMS HOAs = root mean square higher-order aberrations
Uji normalitas menggunakan uji Shapiro-Wilk menunjukkan bahwa data spherical equivalent (SE), central corneal thickness (CCT), ablation depth, residual stromal bed (RSB), dan RMS HOAs memiliki distribusi normal sehingga data numerik tersebut dilakukan uji statistik dengan uji t tidak berpasangan. Uji
tersebut membuktikan bahwa secara statistik tidak terdapat perbedaan bermakna pada nilai SE (p=0,938; p>0,05), CCT (p=0,309; p>0,05), ablation depth (p=0,773;
p>0,05), dan RSB (p=0,167; p>0,05), serta nilai RMS HOAs preoperatif (p=0,897;
p>0,05) pada kedua kelompok. Uji statistik pada kelompok data kategorik corneal epithelium wettability dilakukan dengan uji chi square dan didapatkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik (p=1,000; p>0,05).
Data OZ, diameter pupil dan ketebalan flap tidak berdistribusi normal sehingga untuk membandingkan nilai pada kedua kelompok digunakan uji Mann-Whitney.
Berdasarkan hasil uji tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna secara statistik untuk OZ (p=0,353), diameter pupil (p=0,897) dan ketebalan flap (120,0±8,165 pada FS-LASIK dan 126,0±9,661 pada SMILE;
p=0,218) pada kedua kelompok. Hal ini menyatakan bahwa karakteristik klinis cukup homogen sehingga layak untuk dibandingkan.
4.1.3 Perbandingan Higher-order Aberrations (HOAs) antara Femtosecond LASIK (FS-LASIK) dan SMILE
Tabel 4.3 memaparkan tentang besarnya perubahan HOAs setelah prosedur FS- LASIK pada simulasi pupil 6 mm.Data RMS HOAs, aberasi koma dan aberasi sferis memiliki distribusi normal sehingga dianalisis menggunakan uji t berpasangan, sedangkan data aberasi trefoil dijui dengan uji Wilcoxon karena tidak berdistribusi normal. Terdapat peningkatan yang signifikan secara statistik pada RMS HOAs (p=0,016; p<0,05), aberasi koma (p=0,019; p<0,05) dan trefoil (p=0,037; p<0,05) setelah tindakan FS-LASIK.
Walaupun terjadi peningkatan pula pada aberasi sferis setelah tindakan FS-LASIK namun tidak memberikan perubahan yang bermakna secara statistik. (p=0,391;
p>0,05).
Tabel 4.3 Higher-order Aberrations pada FS-LASIK (6mm)
Variabel FS-LASIK (n=10 mata) Nilai p
Preoperasi Pascaoperasi RMS HOAs
Rerata ± Simpang Baku Rentang (min-maks)
0,37±0,114 0,17-0,58
0,60±0,265 0,25-1,206
0,016*
Coma
Rerata ± Simpang Baku Rentang (min-maks)
0,06±0,035 0,01-0,12
0,19±0,160 0,04-0,51
0,019*
Trefoil
Median 0,05 0,10
0,037*
SA
Rerata ± Simpang Baku Rentang (min-maks)
0,01±0,041 -0,06-0,06
0,08±0,275 -0,42-0,41
0,391
RMS HOAs = root mean square higher-order aberrations, SA = spherical aberration
Perubahan HOAs setelah tindakan SMILE pada simulasi pupil 6 mm dipaparkan pada tabel 4.4. Dilakukan analisis statistik menggunakan uji t berpasangan pada data RMS HOAs dan aberasi sferis, dan uji Wilcoxon pada data aberasi koma dan trefoil, kemudian diperoleh perbedaan perubahan RMS HOAs (p=0,001; p<0,05), aberasi koma (p=0,005; p≤0,05), dan trefoil (p=0,005; p≤0,05), bermakna secara statistik.
Tabel 4.4 Higher-order Aberrations pada SMILE (6mm)
Variabel SMILE (n=10 mata) Nilai p
Preoperasi Pascaoperasi RMS HOAs
Rerata ± Simpang Baku Rentang (min-maks)
0,36±0,156 0,20-0,57
0,59±0,200 0,27-0,86
0,001*
Coma
Median 0,06 0,23
0,005*
Trefoil
Median 0,05 0,17
0,005*
SA
Rerata ± Simpang Baku
Rentang (min-maks) 0,02±0,033
-0,05-0,06 0,06±0,144 -0,17-0,36
0,328
RMS HOAs = root mean square higher-order aberrations, SA = spherical aberration
Perbandingan induksi HOAs antara FS-LASIK dan SMILE pada simulasi pupil 6 mm dipaparkan pada tabel 4.5. Analisis menggunakan uji t tidak berpasangan untuk data RMS HOAs dan aberasi sferis, serta uji Mann Whitney untuk aberasi koma dan trefoil, didapatkan perbedaan yang tidak bermakna secara statistik terhadap perubahan induksi HOAs antara FS-LASIK dan SMILE, walaupun induksi RMS HOAs (0.23±0,140) dan aberasi sferis (0.04±0,119) setelah prosedur SMILE lebih kecil bila dibandingkan dengan setelah dilakukan prosedur FS- LASIK (p>0,05). Dari analisis statistik tersebut diperoleh hasil induksi aberasi koma (0.20±0,169) dan trefoil (0.16±0,150) pada SMILE lebih besar daripada FS- LASIK (p>0,05).
Tabel 4.5 Perbandingan Induksi HOAs antara FS-LASIK dan SMILE (6mm)
Variabel Kelompok Nilai p
FS-LASIK (n=10 mata)
SMILE (n=10 mata)
∆ RMS HOAs
Rerata ± Simpang Baku
Rentang (min-maks) 0,23±0,250
0,13-0,52 0,23±0,140 0,07-0,45
0,983
∆ Coma
Median 0,09 0,16 0,280
∆ Trefoil
Median 0,04 0,10
0,075
∆ SA
Rerata ± Simpang Baku Rentang (min-maks)
0,07±0,252 -0,38-0,35
0,04±0,119 -0,12-0,31
0,715
RMS HOAs = root mean square higher-order aberrations, SA = spherical aberration
4.2 Uji Hipotesis
Hipotesis pada penelitian ini adalah induksi higher-order aberrations (HOAs) terjadi lebih kecil pada pasien pascaoperasi dengan metode SMILE dibandingkan dengan metode LASIK menggunakan laser femtosecond (FS-LASIK).
Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji t tidak berpasangan didapatkan bahwa induksi HOAs pada pasien yang dilakukan tindakan SMILE tidak memiliki perbedaan bermakna dibandingkan dengan induksi HOAs setelah tindakan FS-LASIK.
Kesimpulan : hipotesis ditolak
4.3 Pembahasan
Prosedur bedah refraktif laser kornea bertujuan menghilangkan ketergantungan penggunaan kacamata dengan mengoreksi kelainan refraksi defokus dan astigmat yang termasuk dalam komponen lower-order aberrations (LOAs). Tujuan tersebut dicapai dengan mengubah permukaan anterior kornea yaitu dengan pembuatan flap dan ablasi stroma kornea pada prosedur FS-LASIK, serta pembuatan lenticule stroma pada prosedur SMILE. Tindakan koreksi optimal dari LOAs ini akan menginduksi timbulnya higher-order aberrations (HOAs) pascaoperasi. 6,15,19 Penelitian ini membandingkan induksi HOAs antara pasien miopia dan astigmat miopia yang dilakukan tindakan FS-LASIK dan SMILE dengan subjek penelitian meliputi 10 mata pada kelompok FS-LASIK dan 10 mata pada kelompok SMILE.
Sebanyak 60% dari total subjek pada penelitian ini mempunyai tujuan melepaskan ketergantungan penggunaan kacamata sebagai alasan dilakukan prosedur bedah refraktif laser kornea. Rerata usia subjek penelitian adalah 20,80 pada kelompok FS-LASIK dan 21,10 pada kelompok SMILE. Rentang usia subjek penelitian adalah 18-30 tahun, hal ini sesuai dengan rekomendasi FDA bahwa usia 18 tahun merupakan batas usia minimal yang dapat dilakukan LASIK.5
Ketebalan flap pada subjek penelitian ini adalah 120,0±8,165 pada FS-LASIK dan 126,0±9,661pada SMILE. Hal ini sesuai dengan parameter standar laser femtosecond yang dipakai untuk prosedur pembuatan flap pada LASIK dengan VisuMax Carl Zeiss Meditec AG dengan pulse rate 500kHz dapat dimulai dari ketebalan 110 – 120 μm, sedangkan untuk ketebalan lenticule pada SMILE dapat dimulai dari 110 – 160 μm. Pemilihan ketebalan flap dan lenticule pada FS-LASIK
dan SMILE disesuaikan dengan ketebalan kornea, RSB, dan SE. Penelitian uji klinis terbaru yang dilakukan oleh Ang dkk menggunakan mesin laser femtosecond serupa dengan penelitian ini memakai parameter ketebalan flap dan lenticule masing-masing 120 μm untuk kedua prosedur pada subjek dengan rerata SE - 5.3±1.8 dan -5.2±1.7 untuk FS-LASIK dan SMILE. Sedangkan Shetty dkk melakukan pembuatan flap setebal 100 μm pada kelompok FS-LASIK dan ketebalan lenticule 120 μm pada SMILE. Kedua penelitian tersebut memiliki hasil RMS HOAs yang tidak berbeda bermakna antara FS-LASIK dan SMILE.16,37,59,60
Higher-order aberrations (HOAs) membentuk 10% total aberasi okular yang merupakan distorsi gelombang cahaya ketika melewati media refraksi yang ireguler, terutama permukaan anterior kornea dan lapisan air mata, serta dapat menyebabkan penurunan kualitas gambar retina sehingga menimbulkan keluhan glare, halo, starburst dan penurunan sensitivitas kontras. Fenomena optik ini terjadi pada kondisi mesopik dan skotopik.4,16 Faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya HOAs pascaoperasi bedah refraktif laser kornea adalah ukuran pupil, deteriorasi lapisan air mata, perubahan kelengkungan anterior kornea, misalignment bola mata intraoperasi, serta laju ablasi laser excimer.7,15
Laser excimer pada penelitian ini adalah VISX STAR S4 IR® yang menggunakan profil top-hat beam dengan teknologi variable spot scanning (VSS) yang mempunyai spot size pemindaian antara 0,65 – 6,5 mm dengan rate 6 – 20 Hz. Profil top-hat beam yang dikombinasi dengan VSS akan menghasilkan pola curam yang kurang seragam pada zona ablasi di permukaan stromal bed bila dibandingkan dengan laser excimer dengan profil Gaussian beam. Penelitian
retrospektif membandingkan induksi HOAs setelah tindakan FS-LASIK menggunakan dua platform laser excimer oleh Reed dkk memaparkan bahwa induksi RMS HOAs pada pasien FS-LASIK yang telah dilakukan fotoablasi dengan VISX STAR S4 IR® menghasilkan induksi RMS HOAs sebesar 0,00841±0,03011 μm, dibandingkan dengan induksi yang dihasilkan setelah fotoablasi profil Gaussian beam oleh WaveLight® EX500 yaitu 0,0174±0,02417 μm (p=0,275).
Walaupun tidak ditemukan perbedaan bermakna antara kedua platform laser pada penelitian Reed dkk, kelompok VISX STAR S4 IR® dalam penelitian tersebut memiliki rerata preoperatif SE sebesar -2,37 D, lebih kecil daripada rerata SE pada penelitian ini. Penelitian retrospektif lain oleh Chen dkk mengenai perbandingan HOAs antara prosedur SMILE dan FS-LASIK, dengan menggunakan VISX STAR S4 IR® untuk ablasi stroma, memaparkan bahwa total HOAs pascaoperasi FS- LASIK adalah sebesar 0,245±0,094 μm, hampir sama dengan penelitian ini yaitu 0,23±0,250.18,53,61
Metode yang dapat digunakan untuk mengukur HOAs adalah dengan menggunakan wavefront analysis berbasis sensor Hartmann-Shack. Hasil pengukuran HOAs secara kualitatif direpresentasikan dalam bentuk point spread function (PSF), serta dalam bentuk polinomial Zernike dan transformasi Fourier secara kuantitatif. Polinomial Zernike terdiri dari komponen visual dan matematis sehingga dapat menggambarkan elemen geometrik dari seluruh aberasi sistem optik dan dianalisis secara statistik. Besaran HOAs yang secara ortogonal telah dilambangkan dalam polinomial Zernike dengan koefisien Z, dapat dihitung lebih lanjut dalam root mean square (RMS). Root mean square dari keseluruhan HOAs