• Tidak ada hasil yang ditemukan

THESIS Kiki 13072020 SIDANG TERBUKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "THESIS Kiki 13072020 SIDANG TERBUKA"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Kegunaan Penelitian

  • Kegunaan Ilmiah
  • Kegunaan Praktis

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, PREMIS

Anatomi dan Fisiologi Kornea

Proses penyembuhan luka kornea pasca prosedur bedah refraksi merupakan proses yang kompleks dan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan bedah refraksi. Proses penyembuhan luka kornea setelah prosedur SMILE berbeda dengan FS-LASIK, meskipun melibatkan mediator inflamasi serupa.

Gambar  2.1    Anatomi  lapisan  kornea.  Susunan  histologis  lapisan  kornea  menunjukkan (1) epitel, (2) membran Bowman, (3) stroma, (4)  membran descemet, dan (5) endotel
Gambar 2.1 Anatomi lapisan kornea. Susunan histologis lapisan kornea menunjukkan (1) epitel, (2) membran Bowman, (3) stroma, (4) membran descemet, dan (5) endotel

Laser in situ Keratomileusis (LASIK)

Prosedur LASIK dengan laser femtosecond (FS-LASIK) memerlukan dua mesin, mesin pertama untuk membuat flap, kemudian pasien menuju mesin kedua untuk fotoablasi dengan laser excimer. Mesin laser excimer saat ini memiliki dua jenis profil bentuk titik, yaitu Gaussian beam dan high hat beam.

Gambar 2.3  (1) Pembuatan flap dan hinge pada FS-LASIK.
Gambar 2.3 (1) Pembuatan flap dan hinge pada FS-LASIK.

Small Incision Lenticule Extraction

Langkah pertama prosedur SMILE setelah operator memastikan pemusatan posisi refleks kornea ke arah tengah pupil sudah baik, lensa intrastromal bagian bawah seperti terlihat pada Gambar 2.5 (1) dilakukan terlebih dahulu dengan menggunakan arah to , dilanjutkan dengan pembuatan bagian atas/tutup lensa dengan cara inside-out seperti pada Gambar 2.5 (3), dan dibuat sayatan kecil pada kornea sepanjang 2-3 mm pada bagian superotemporal sebelah kanan. mata dan bagian superonasal pada mata kiri yang menghubungkan kelopak mata dengan permukaan kornea, kemudian pisahkan kelopak mata terlebih dahulu, kemudian lensa ditarik keluar dengan tangan menggunakan microforceps. Keterbatasan prosedur SMILE dibandingkan FS-LASIK adalah pada prosedur SMILE dilakukan dua kali pemotongan pada stroma kornea, yaitu pada permukaan depan dan belakang lensa dibentuk dengan laser femtosecond, sedangkan pada prosedur FS-LASIK . hanya sebagian epitel kornea yang terpotong. Dua sayatan laser femtosecond stroma yang berbeda ini akan mempengaruhi kelengkungan anterior kornea dan menyebabkan proses penyembuhan luka kornea lebih lama sehingga mengakibatkan penurunan ketajaman penglihatan dan sensitivitas kontras satu hari setelah operasi, namun hasil tindak lanjut jangka panjang menunjukkan hasil akhir yang sebanding. . FS-LASIK.

Gambar 2.5 Arsitektur luka pada prosedur SMILE            (1) Potongan bawah lenticule
Gambar 2.5 Arsitektur luka pada prosedur SMILE (1) Potongan bawah lenticule

Komplikasi LASIK dan SMILE

Diameter lensa stroma pada prosedur SMILE 30% lebih kecil dibandingkan diameter flap kornea pada FS-LASIK, dan 40% jaringan saraf subbasal tidak mengalami kerusakan karena tidak dilakukan proses pembuatan flap dan fotoablasi pada prosedur SMILE. bukan. sehingga komplikasi sindrom mata kering lebih kecil pada prosedur ini.

Higher-order aberrations (HOAs)

Dapat dilihat bahwa MTF meluas ke frekuensi spasial yang lebih tinggi pada pupil 3 mm dan 7,3 mm. Pemeriksaan sensitivitas kontras dengan kisi-kisi gelombang sinus dapat digunakan untuk menggambarkan respons visual di luar sistem optik serta dari sistem mosaik sel fotoreseptor dan sistem saraf, sehingga memberikan karakterisasi yang lebih kaya tentang seberapa baik setiap komponen sistem visual. . Penelitian Applegate dkk menunjukkan bahwa dengan mengoreksi aberasi okular, fungsi MTF dan sensitivitas kontras akan meningkat.

Nilai RMS yang lebih besar dari ambang batas ini menunjukkan tingginya penyimpangan yang terjadi pada kornea. Wang et al menjelaskan, setelah prosedur FS-LASIK juga terjadi peningkatan HOA yang signifikan, terutama pada permukaan anterior kornea. FS-LASIK 3 bulan setelah operasi, hal ini dikarenakan belum adanya eye tracking system yang digunakan untuk SMILE.

Namun penelitian yang dilakukan oleh Lin dkk melaporkan adanya peningkatan induksi HOA dengan RMS pada SMILE yang lebih sedikit dibandingkan dengan LASIK pada 1 dan 3 bulan pasca operasi, hal ini serupa dengan penelitian yang dilakukan Ganesh dkk yang menunjukkan adanya peningkatan HOA yang signifikan pada pasien. dengan FS-LASIK dibandingkan dengan nilai sebelum operasi, sedangkan peningkatan ini tidak signifikan secara statistik pada kelompok SMILE dengan nilai pra operasi l.

Gambar 2.8  Point Spread Function (PSF) pada berbagai diameter pupil.
Gambar 2.8 Point Spread Function (PSF) pada berbagai diameter pupil.

Kerangka Pemikiran

  • Alur Kerangka Pemikiran

Prosedur LASIK dapat menimbulkan HOA pasca operasi dari dua langkah utama prosedur pembedahan, yaitu pembuatan flap kornea dan fotoablasi lapisan stroma. Sejak diperkenalkan pada tahun 2000, pembuatan flap kornea dengan laser femtosecond telah mulai menggantikan pembuatan flap dengan mikrokeratoma. Flap kornea yang dibentuk dengan laser femtosecond mempunyai keunggulan yaitu flap mempunyai bentuk planar yang mengikuti ketebalan kornea dan memiliki ketebalan yang sama pada bagian posterior kornea, namun dengan ketebalan flap kurang lebih 110-120 µm dengan diameter sekitar 7,0 - 9,0 mm, menyebabkan degradasi lapisan air mata dan ketidakteraturan permukaan anterior kornea lebih besar dibandingkan pada prosedur SMILE.

Selain prosedur pembuatan flap, fotoablasi miopia pada FS-LASIK menggunakan laser excimer dengan profil sinar apeks yang curam, sehingga menghasilkan zona ablasi yang kurang mulus pada dasar stroma dan menghasilkan bentuk kornea anterior yang lebih rata. Sejak dikembangkan pada tahun 2011, prosedur SMILE telah menjadi alternatif bedah kornea refraktif laser, karena dalam prosedur ini lensa 6,0-6,5 mm diambil dari sayatan kecil kornea berukuran 2-3 mm, sehingga menghilangkan kebutuhan akan pembentukan lensa. flap kornea.prosedur ini. Penyimpangan mata sebagian besar terjadi di bagian anterior kornea, sehingga melakukan operasi refraksi tanpa flapping akan mengurangi diseksi saraf subbasal dan akibat penyimpangan pasca operasi.

Premis dan Hipotesis

Subjek/ Bahan Penelitian

  • Populasi Penelitian
  • Kriteria Inklusi
  • Kriteria Eksklusi
  • Kriteria Drop Out
  • Pemilihan Sampel
  • Bahan dan Alat Penelitian

Penderita miopia dan astigmatisme rabun dengan nilai bola -2,00 hingga -6,00 dioptri dan nilai astigmatik tidak lebih dari 2 dioptri. Pemilihan sampel dilakukan dengan kuota sampling, yaitu sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, disesuaikan dengan usia, derajat kelainan refraksi, stabilitas air mata, dan root mean square (RMS) pra operasi, ditugaskan tanpa pengacakan ke kelompok perlakuan A (the Prosedur FS-LASIK dilakukan) dan kelompok perlakuan B (dilakukan prosedur SMILE) hingga ukuran sampel tercapai. Besar sampel ditentukan berdasarkan rumus survei analitik berpasangan jenis ini dengan data numerik sebagai berikut.

Besar sampel untuk menguji perbandingan mean, sehingga penentuan besar sampel dilakukan berdasarkan perhitungan statistik dengan menetapkan tingkat kepercayaan sebesar 95% dan uji daya sebesar 90% untuk hipotesis satu arah. Nilai deviasi Z diperoleh dari tabel distribusi normal/standar untuk tingkat kepercayaan dan parameter yang dipilih. Besarnya perbedaan mean dan standar deviasi ditentukan berdasarkan penelitian Gyldenkerne et al. 49 Berdasarkan rumus di atas, nilai tersebut dimasukkan ke dalam rumus besar sampel sebagai berikut.

Mengingat dropout, sampel minimal setiap kelompok adalah 10 mata dengan jumlah sampel akhir 20 mata.

Metode Penelitian

  • Rancangan Penelitian
  • Identifikasi Variabel dan Definisi Operasional
  • Cara Kerja dan Teknik Pengumpulan Data
  • Rencana Pengolahan dan Analisis Data
  • Tempat dan Waktu Penelitian

Kelompok tersebut menjalani pembuatan flap LASIK dengan mesin VisuMax femtosecond dan ablasi stroma dengan laser excimer. Pencarian data rekam medis pasien miopia ringan hingga sedang dan miopia astigmatik dari rekam medis pasien yang telah menjalani prosedur FS-LASIK dan SMILE dengan satu operator bedah pada tanggal 1 Februari 2019 hingga 28 Februari 2020, yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. . Memastikan ketersediaan data dari rekam medis mesin aberrometri wavefront, kemudian melakukan pencocokan data berdasarkan usia, jenis kelamin, derajat kelainan refraksi dengan spherical equivalen (SE) ± 0,50 dioptri, root mean square (RMS) pra operasi, dan stabilitas sobek.

Pemeriksaan skrining sebelum prosedur FS-LASIK dan SMILE, yang meliputi tekanan intraokular, stabilitas lapisan air mata, topografi dan tomografi kornea, serta aberrometri muka gelombang dilakukan oleh staf terlatih di Pusat LASIK PMN di Rumah Sakit Mata Cicendo. Teknik prosedur SMILE dilakukan oleh operator bedah yang sama dengan operator FS-LASIK, dengan tahapan yang tercantum dalam laporan operasi sebagai berikut. Dalam waktu kurang lebih 30 menit setelah prosedur FS-LASIK dan SMILE, ketajaman penglihatan yang belum dikoreksi diperiksa pada jarak 4 meter menggunakan Snellen chart dan pemeriksaan slit-lamp biomikroskop untuk menilai stabilitas flap dan komplikasi yang mungkin terjadi.

Pasien dengan ketajaman penglihatan 1,0 1 bulan pasca operasi yang tidak terkoreksi menjalani pemeriksaan kebasahan epitel kornea dan aberrometri muka gelombang untuk dianalisis lebih lanjut oleh peneliti.

Gambar 3.1 iDesign ®  Advanced Wavescan Studio     Dikutip dari: jnjvisionpro.com  56
Gambar 3.1 iDesign ® Advanced Wavescan Studio Dikutip dari: jnjvisionpro.com 56

Implikasi/ Aspek Etik Penelitian

Penelitian ini berpedoman pada tiga prinsip dasar penelitian pada manusia dengan memperhatikan permasalahan sebagai berikut. Pasien mempunyai hak untuk bertanya dan diajak berkonsultasi mengenai permasalahan yang berkaitan dengan pelaksanaan operasi. Penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan informasi mengenai perkembangan bedah FS-LASIK dan SMILE, khususnya untuk pertimbangan penentuan metode bedah refraksi.

Penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan informasi mengenai kualitas penglihatan pasien pasca prosedur FS-LASIK dan SMILE. Pemeriksaan pasien pada penelitian ini diawasi oleh dokter spesialis mata dari Unit Bedah Katarak dan Refraktif.

Skema Alur Penelitian

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

  • Karakteristik Umum Subjek Penelitian
  • Karakteristik Klinis Preoperatif
  • Perbandingan HOAs antara FS-LASIk dan SMILE … 55

Hasil penelitian terdiri dari karakteristik subjek penelitian, karakteristik klinis dan hasil analisis perbandingan induksi HOA antara FS-LASIK dan SMILE pada pasien astigmatik miopia dan miopia. Penelitian dilakukan pada 20 mata dari 20 subjek yang menjalani prosedur bedah refraksi kornea, 10 mata pada kelompok FS-LASIK dan 10 mata pada kelompok SMILE, disesuaikan dengan usia, derajat kelainan refraksi, ukuran pupil dalam kondisi skotopik, dan total. root mean square (RMS) sebelum operasi. Karakteristik klinis pra operasi FS-LASIK dan SMILE meliputi setara bola (SE), diameter pupil, ketebalan kornea sentral (CCT), zona optik (OZ), ketebalan flap, kedalaman ablasi, sisa lapisan stroma (RSB) dan penyimpangan tingkat tinggi RMS (HOA) ditunjukkan pada tabel 4.2.

Meskipun terjadi peningkatan aberasi bola setelah FS-LASIK, namun hal tersebut tidak menghasilkan perubahan yang signifikan secara statistik. Perbandingan induksi HOA antara FS-LASIK dan SMILE pada simulasi pupil 6 mm ditunjukkan pada Tabel 4.5. Analisis menggunakan uji t tidak berpasangan untuk data RMS HOA dan spherical aberration serta uji Mann Whitney untuk aberasi koma dan trefoil menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik terhadap perubahan induksi HOA antara FS-LASIK dan SMILE, meskipun RMS HOA dan spherical penyimpangan induksi setelah prosedur SMILE lebih kecil dibandingkan setelah prosedur FS-LASIK (p>0,05).

Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji t tidak berpasangan didapatkan bahwa induksi HOA pada pasien yang menjalani prosedur SMILE tidak mempunyai perbedaan bermakna dibandingkan dengan induksi HOA setelah prosedur FS-LASIK.

Tabel 4.1 Karakteristik Subjek Penelitian
Tabel 4.1 Karakteristik Subjek Penelitian

Pembahasan

Kedua penelitian tersebut memiliki skor RMS HOA yang tidak berbeda signifikan antara FS-LASIK dan SMILE. Beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan penyimpangan koma setelah prosedur FS-LASIK adalah letak engsel yang terletak di atas, seperti misalnya. Perbandingan induksi HOA yang terjadi setelah prosedur FS-LASIK dan SMILE pada penelitian ini menunjukkan hasil yang tidak berbeda signifikan secara statistik bila diukur pada simulasi 6 mm (FS-LASIK SMILE p=0,983).

Hal ini serupa dengan penelitian Shetty et al yang menunjukkan bahwa RMS HOA meningkat pada prosedur FS-LASIK dan SMILE yang dipandu wavefront (masing-masing nilainya 0,11 μm; p>0,05) meskipun memiliki karakteristik peningkatan pasca operasi pada polinomial Zernike yang berbeda. . Pada prosedur SMILE, peningkatan aberasi koma terjadi lebih tinggi, sedangkan pada prosedur FS-LASIK, induksi aberasi sferis lebih tinggi pada pasca operasi. Berbeda dengan permukaan anterior kornea yang akan menjadi lebih oblate setelah fotoablasi pada prosedur FS-LASIK yang akan menyebabkan aberasi sferis positif lebih banyak, meskipun dikompensasi dengan metode ablasi yang dipandu muka gelombang.

Induksi HOA pada pasien yang telah menjalani prosedur SMILE tidak berbeda nyata dibandingkan dengan prosedur FS-LASIK. Hasil kualitas visual dan optik pada SMILE dan FS-LASIK untuk miopia pada fase paling awal setelah operasi. Perbandingan perubahan bentuk kornea dan penyimpangan yang disebabkan oleh FS-LASIK dan SMILE untuk miopia.

SIMPULAN DAN SARAN

Gambar

Gambar 2.1   Anatomi Lapisan Kornea ……………………………………… 8  Gambar 2.2   Skema Perbandingan Anyaman Persarafan Kornea ………… 9  Gambar 2.3   Pembuatan Flap dan Hinge pada LASIK ……………………
Gambar  2.1    Anatomi  lapisan  kornea.  Susunan  histologis  lapisan  kornea  menunjukkan (1) epitel, (2) membran Bowman, (3) stroma, (4)  membran descemet, dan (5) endotel
Gambar 2.2   Skema perbandingan anyaman persarafan kornea   Dikutip dari: Sekundo W, dkk  16
Gambar 2.3  (1) Pembuatan flap dan hinge pada FS-LASIK.
+7

Referensi

Dokumen terkait

17 2.3 Hipotesis 2.3.1 Premis Berdasarkan hal tersebut diatas maka premis-premis pada penelitian ini adalah: Premis 1: Penglihatan binokular normal terbentuk dari persepsi