• Tidak ada hasil yang ditemukan

CARA KERJA (Penentuan Vit C)

Dalam dokumen Laporan Praktikum Biokimia Tanaman (Halaman 45-54)

ACARA IV.PENENTUAN VITAMIN C DAN KLOROFIL

D. CARA KERJA (Penentuan Vit C)

Memanen masing-masing 1 tanaman sawi Organik & Anorganik, lalu dicuci hingga bersih Memisahkan organ-organ tanaman (hanya menggunakan daun)

Daun-daun ditimbang dengan komposisi tiap perlakuan 10 g Daun sawi di blender setiap perlakuannya

38 Filtrat kemudian disaring dan ditampung pada Erlenmeyer

Menambahkan masing-masing filtrat dengan 0,01 % h2so4 & 2 ml amilum Lalu mentitrasi dengan larutan yodium & catatlah kebuutuhan yodium tiap perlakuan

Menghitung kadar karbohidrat dengan rumus yang sudah diberikan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL

Tabel 5 Pengukuran Kadar Vitamin C

Perlakuan Kebutuhan Yodium (ml) Hasil Konversi (mg)

Organik 1,8 0,003168

Anorganik 0,18 0,0003168

Perhitungan Kadar Vitamin C :

% Vit C (Anorganik) = (𝑵 𝒙 𝑽𝒐𝒍𝒖𝒎𝒆) 𝒙 𝑩𝑬 𝑨𝒔𝒂𝒎 𝑨𝒔𝒌𝒐𝒓𝒃𝒂𝒕

𝑴𝒂𝒔𝒔𝒂 𝒔𝒂𝒎𝒑𝒆𝒍 (𝒎𝒈)

𝒙 𝟏𝟎𝟎 %

= 0,01 𝑥 0,18 𝑥 0,88 𝑥 100 :5

10.000 𝑚𝑔

x 100% , =

0,0003168

10.000 𝑚𝑔

x 100 % , = 0,000003168

Konversi satuan : 0,000003168

100 mg

=

0,000003168 𝑚𝑔 0,1 𝑚𝑔

x

100

100

=

𝟎,𝟎𝟎𝟎𝟑𝟏𝟔𝟖 𝐦𝐠 𝟏𝟎𝟎 𝐠𝐫

% Vit C (Organik) = (N x Volume) x BE Asam Askorbat

Massa sampel (mg)

x 100 %

=

0,01 𝑥 1,8 𝑥 0,88 𝑥 100 :5

10.000 𝑚𝑔

x 100% , =

0,3168

10.000 𝑚𝑔

x 100 % = 0,00003168

Konversi satuan : 0,00003168 mg

100 mg

=

0,00003168 𝑚𝑔 0,1 𝑚𝑔

x

100

100

=

𝟎,𝟎𝟎𝟑𝟏𝟔𝟖 𝐦𝐠 𝟏𝟎𝟎 𝐠𝐫

39 Tabel 6 Konsentrasi Klorofil Daun Sawi Pagoda

Tabel 7 Rumus Perhtungan Klorofil A & B

NO Rumus Perhitungan Kadar Klorofil A & B mg/L 1. Klorofil A 12,7 (663 nm) – 2,69 (645 nm) 2. Klorofil B 22,9 (645 nm) – 4,68 (663 nm)

1. Organik U1 : 𝟔𝟔𝟑

𝟎,𝟓𝟏𝟑

𝟔𝟒𝟓

𝟎,𝟐𝟖𝟓

Organik U2 : 𝟔𝟔𝟑

𝟎,𝟓𝟐𝟒

𝟔𝟒𝟓

𝟎,𝟐𝟗𝟐

Klorofil A Klorofil A

= 12,7 (663 nm) – 2,69 (645 nm) =12,7 (663 nm) – 2,69 (645 nm)

= 12,7 (0,513) – 2,69 (0,285) = 12,7 (0,524) – 2,69 (0,292)

= 6,5151 – 0,76665 = 6,6548 – 0,78548

=5,74845 mg/L = 5,86932 mg/L

Klorofil B Klorofil B

= 22,9 (0,285) – 4,68 (0,513) = 22,9 (645) – 4,68 (663)

= 6,5265 – 2,40084 = 22,9 (0,292) – 4,68 (0,524

= 4,12566 mg/L = 6,6868 – 2,45232

= 4,23448 mg/L

2. Anorganik U1 : 𝟔𝟔𝟑

𝟎,𝟑𝟕𝟎

𝟔𝟒𝟓

𝟎,𝟐𝟏𝟐

Anorganik U2 : 𝟔𝟔𝟑

𝟎,𝟒𝟏𝟗

𝟔𝟒𝟓 𝟎,𝟐𝟒𝟕

Klorofil A Klorofil A

= 12,7 (663 nm) – 2,69 (645 nm) =12,7 (663 um) – 2,69 (0,247)

= 12,7 (0,370) – 2,69 (0,212) = 12,7 (0,419) – 2,69 (0,247)

= 4,699 – 0,57028 = 5,3213 – 0,66443

Sampel Daun Bobot (g) Konsentrasi Klorofil (mg/kg)

a. 663 nm b. 645 nm Total mg/L

Sawi POC U1 0,1 0,513 0,285 5,74845

Sawi POC U2 0,1 0,524 0,292 4,223448

Sawi An U1 0,1 0,370 0,212 3,1238

Sawi An U2 0,1 0,419 0,247 3,69538

40

= 4,12872 mg/L = 4,65687 mg/L

Klorofil B Klorofil B

= 22,9 (645) – 4,68 (663 = 22,9 (0,247) – 4,68 (0,419)

= 22,9 (0,212) – 4,68 (0,370) = 5,6563 – 1,96092

= 4,8548 – 1,7316 = 3,69538 mg/L

= 3,1238 mg/L B. PEMBAHASAN

Analisis kadar vit C dalam praktikum ini menggunakan metode titrasi iodium (titrasi langsung). Iod merupakan oksidator yang tidak terlalu kuat, sehingga hanya zat-zat yang merupakan reduktor yang cukup kuat dapat dititrasi. Penggunaan amilum sebagai indikator dari perubahan tidak berwarna menjadi berwarna biru. Indikator amilum merupakan suatu indikator yang lazim digunakan pada saat titrasi iodium, penentuan titik akhir titrasi dapat terjadi karena terbentuk kompleks amilum 12 yang berwarna biru tua. Hal ini disebabkan karena larutan amilum terdapat unit-unit glukosa yang membentuk rantai heliks karena adanya ikatan konfigurasi pada tiap unit glukosanya. Bentuk ini menyebabkan amilum dapat membentuk kompleks dengan molekul iodium yang dapat masuk ke spiralnya, sehingga menyebabkan warna biru tua kompleks tersebut.

Hasil perhitungan kadar atau kandungan Asam Askorbat (Vitamin C) tercantung pada tabel Kebutuhan Titrasi Yodium & Hasil Konversi Vitamin C, kandungan asam askorbat tertinggi paada perlakuan POC (Pupuk Organik Cair) yakni sebesar 0,003168 mg, sedangkan terendah pada perlakuan Pupuk Anorganik yakni sebesar 0,0003168 mg. Hasil ini menunjukan perbedaan nyata pada kadar Asam Askorbat (Vitamin C) dari masing- masing perlakuan. Perbedaan hasil tersebut disebabkan karena perlakuan pupuk anorganik memiliki unsur-unsur hara yang lebih banyak/kompleks dari pada pupuk organik, sehingga jumlah vitamin C nya lebih banyak pada perlakuan pupuk anorganik.

Fungsi dari larutan iodium sendiri adalah untuk memperlihatkan jumlah vitamin C yang terdapat dalam sampel menjadi senyawa dihidroaskorbat, sedangkan fungsi amilum untuk membentuk suatu kompleks warna biru yang terjadi pada saat bereaksi dengan iodin karena adanya iodia. Larutan amilum tidak boleh ditambahkan tepat sebelum titik akhir dicapai atau pada saat konsentrasi iodium tinggi, karena sedikit iod akan tetap terabsorbsi bahan pada titik akhir titrasi.

Dari Tabel Hasil Konsentrasi Klorofil Tanaman Sawi, menunjukan bahwa perlakuan pemupukan POC (Pupuk Organik Cair) pada Sampel Daun Sawi POC U1 yakni 5,74845

41 dan U2 yaitu 4,223448. Kemudian untuk perlakuan Anorganik UI yakni 3,1238 dan U2 yaitu 3,69538, kandungan klorofil tertinggi pada perlakuan pupuk POC U1 sebesar (5,74845) dan terendah pada perlakuan Anorganik U1 (3,1238). Dari data hasil kandungan klorofil antar 2 perlakuan menunjukan perbedaan nyata pada kandungan klorofil dari masing-masing perlakuan. Kandungan klorofil di dalam sayuran (daun) merupakan salah satu kriteria penting untuk menentukan kandungan zat gizi sayuran daun tersebut.

Klorofil juga dikertahui berperan sebagai antioksidan dalam tubuh. Faktor yang mempengaruhi kandungan klorofil pada suatu tanaman adalah umur tanaman, morfologi daun serta faktor genetik. Umur daun dan tahapan fisiologis suatu tanaman merupakan faktor yang menentukan kandungan klorofil. Tiap spesies dengan umur yang sama memiliki kandungan kimia yang berlainan dengan jumlah genom yang berlainan pula. Hal ini mengakibatkan metabolisme yang terjadi juga berlainan terkait dengan jumlah substrat maupun enzim metabolismenya. (Yusri dan Arman.2014). Dalam penelitian (A.A. Istri Mirah.2020) berpendapat bahwa perbedaan kadar klorofil pada tanaman ini disebabkan karena kadar pigmen lain yang ada pada daun tersebut lebih dominan atau disebabkan oleh adanya faktor adaptasi pada suatu tumbuhan

V. KESIMPULAN

1. Berdasarkan hasil titrasi langsung (iodium) kadar vitamin C tanaman sawi lebih banyak pada perlakuan Pupuk Anorganik, hal tersebut disebabkan karena perlakuan/penggunaan pupuk yang memiliki kandungan unsur hara yang lebih kompleks disbanding pupuk organik cair

2. Berdasarkan hasil dari analisa kadar klorofil dengan menggunakan alat Spektrofotometri sampel Sawi POC U1 memiliki kadar klorofil tertinggi yakni 5,74845, hal tersebut bisa terjadi karena penyerapan tanaman pada pupuk organik cair yang lebih cepat merespons dari pada pupuk anorganik yang memiliki tekstur pupuk butiran padat

42 DAFTAR PUSTAKA

A.A.Istri Mirzah Dharmadewi. 2020. Analisis Kandungan Klorofil Pada Beberapa Jenis Sayuran Hijau Sebagai Alternatif Bahan Dasar Food Suplement. FKIP Biologi.

Universitas Mahadewa Indonesia

BPS. (2016). Konsumsi Buah dan Sayur Susenas Maret 2016. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Couto, C. E. (2016). Chlorophyll and Green Color Stabilization on Vegetable Homogenates Cahayu, D, Indah, A., 2020. Hubungan Asupan Vitamin C, Vitamin B12, Asam Folat

dengan Kadar Hb Remaja Putri Kelas VIII di SMP Negeri 3 Lubuk Pakam.

Gaherwar, S., & Kulkarni, P. (2017). Estimation of Chlorophyll Content of Some Green Leafy Vegetables for Their Biochemical Properties. Indian J.Sci.Res, 2, 170-171.

Iriyani, D dan P. Nugrahani. 2014. Kandungan Klorofil, Karotenoid, dan Vitamin C Beberapa Jenis Sayuran Daun pada Pertanian Periurban di Kota Surabaya. Jurnal Matematika, Sains dan Teknologi 15 (2): 84-90

Nurmastika, A., Dkk,2018. RancangBangun alat pengukurkadar asam askorbat pada buah dengan metode titrasi iodimetri. Setrum:Sistem Kendali-Tenaga elektronikatelekomunikasi-komputer, 7(1), pp.147-157

Settaluri, dkk. 2015. Review of Biochemical and Nutritional Constituents in Different Green Leafy Vegetables in Oman. Biology Section, Department of Applied Sciences, Higher College of Technology, Muscat, Sultanate of Oman. Vol.06 No.09(2015), Article ID:57126,4 pages

Yusri dan Arman, D. (2014). Aplikasi Pemupukan Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Dua Varietas Bayam (Amaranthus sp.). Jurnal Agrium. Vol. 18. No.3

43 LAMPIRAN

NO GAMBAR KTERANGAN

1. 2 helai daun dari masing-masing

tanaman perlakuan

2. Meletakan daun yang telah di

haluskan dengan mortar ke erlenmeyer

3. Komposisi daun 0,10

g/erlenmeyer

Gambar 24 Helai daun sawi An (kiri) & POC (kanan)

Gambar 25 Peletakan daun ke Erlenmeyer

Gambar 26 Penimbangan daun sawi POC & An

44

4. Larutan Aceton

5. Penambahan larutan Aceton

6. Masing-masing Erlenmeyer tiap

perlakuan di Shaker selama 15 menit

Gambar 27 Larutan Aceton

Gambar 28 Pencampuran larutan aceton

Gambar 29 Shaker masing-masing ekstrak daun

45

7. Komposisi larutan klorofil pada

kuvet

8. Spektrofotometri/alat

perhitungan jumlah klorofil

9. Hasil kadar klorofil pada

spektrofotometri

Gambar 30 Peletakan ekstrak pada kuvet (3/4)

Gambar 31 Spektrofotometri

Gambar 32 Hasil Spektrofotometri

46

Dalam dokumen Laporan Praktikum Biokimia Tanaman (Halaman 45-54)

Dokumen terkait