SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Setelah melalui proses pengumpulan data melalui wawancara dan observasi serta studi pustaka, maka peneliti menarik kesimpulan mengenai penelitian “Konstribusi Pemerintah Terhadap Pengasuhan Orang Tua Penyandang Difabel” (Studi Kasus keluarga Dikacamatan Dua Pitue Kabupaten Sidrap)”
adalah sebagai berikut :
1. Pola asuh orang tua penyandang difabel di Kecamatan Dua Pitue Kabupaten Sidrap memperlihatkan bahwa bentuk pola asuh dari beberapa keluarga penyandang difabel cenderung kurang terurus, namun adapun beberapa keluarga yang menerapkan pola asuh otoriter, namun dilihat dari beberapa keluarga ini kurang memperhatikan keluarga baik dari segi ekonomi dan pendidikan anaknya.
2. Kontribusi Pemerintah terhadap pengasuhan penyandang difabel di Kecamatan Dua Pitue Kabupaten Sidrap menunjukkan bahwa kurangnya kontribusi pemerintah dari dinas-dinas baik itu dinas pendidikan ataupun dinas sosial yang dapat menjamin kesejahteraan keluarga penyandang difabel, serta dari segi pendidikan anak-anak keluarga penyandang difabel.
98
B. Saran
Dalam sebuah penelitian seorang peneliti harus mampu memberikan sesuatu yang berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan, instansi atau lembaga serta berbagai pihak yang berkaitan dengan penelitian ini. Adapun saran-saran yang peneliti berikan setelah meneliti permasalahan ini adalah :
1. Dalam hal pola asuh orangtua penyandang difabel di daerah tersebut sebaiknya ada beberapa kerabat yang memperhatikan ataupun para relawan- relawan yang memiliki rasa empati untuk memberikan bimbingan yang baik bagi orangtua ini agar anak mereka mendapatkan kesejateraan pendidikan, social, moral dan lain-lain.
2. Dalam hal kontribusi pemerintah sebaiknya pemerintah bekerja sama dengan para kepala desa daerah tersebut agar keluarga-keluarga penyandang difabel ini dapat tersentuh oleh pemerintah sebagaimana di atur dalam UUD tentang kesejahteraan penyandang difabel.
DAFTAR PUSTAKA
Afrizal. 2014. Metode Penelitan Kualitatif Sebuah Upaya Mendukung Penggunaan Penelitian Kualitatif Dalam Berbagai Disiplin Ilmu.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Alimandan, 1992. Sosiologi Ilmu Pengatahuan Paradigma Ganda.Jakarta:
Rajawali Pers.
Garna, K ,Judistira. 1992. Teori-teori Perubahan Sosial. Bandung: Universitas Padjadjaran.
Hariwijaya& Triton. 2007. Pedoman Proposal dan Skripsi. Yogyakarta: Oriza Hutauruk. 2011. Pola Asuh Orang Tua Difabel Terhadap Anak Yang Normal.
Medan: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Hoogvelt Ankie M.M, 1976. Sosiologi Masyrakat Sedang Berkembang.
Terjemahan oleh Alimandan. 1985. Jakarta: Rajawali Pers.
Koentjaranigrat.2007. Manusia dan kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan.
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Antropologi. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.
Luh Upayani, 2016. Pola Asuh Keluarga dalam Mengasuh Anak Autis atau Difabel. Surabaya: Universitas Keristen Petra.
Prastowo, Andi. 2014. Metode Penelitian Kualitatif Dalam Perspektif Rancangan Peneitian. Yogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Putri Ariandi Priscana. 2015. Stigma Sosial Terhadap Penyandang Difabel.
Pontianak Barat: Rajawali Pers
Rahmat, Jalaluddin. Psikologi Komunikasi. 2007. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Sabri, Ahmad Zaharuddin, Sani Ahmad, Owoyemi, Musa Yusuf, dan Mangsor Fatinah.(2014). Leading by Example: Causer and Treatment by An Exiprienced LGBT Counsellor. Internasional Journal of Innovation and Scientific Research, 10(2),255-261
Sanaba, R., 2000, Eksistensi Kepemimpinan Tradisional terhadap Proses Birokrasi: kasus desa Fogi Kecamatan Sanana Kabupaten Maluku Utara, Tesis, Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta.
Soekanto, Soerjono. 2012. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Rajawali Pers.
100
Soekanto, soerjono. 1993. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Soekanto, Soerjano. 1983. Teori Sosiologi Tentang Perubahan Sosial. Jakarta:
Galia Indonesia.
Subudi, M, Peran kepemimipinan Puri sebagai agent of change budaya masyrakat desa adat Ubud Bali, Jurnal ,Unversitas Udayana , Bali
Supatri Ayu, 2014. Pola Asuh Orangtua Difabel Terhadap Anak Yang Normal.
Bandung: Universitas Padjajaran.
Sujarweni, V.Wiratna. 2014. Metodologi Penelitian Lengkap, Praktis, dan Mudah Dipahami. Yogyakarta: Pt Pustaka Baru.
Syarifuddindkk 2015. Pedoman Penuliasan Skripsi. Makassar: Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiah Makassar.
Usat, M, 2013, Fungsi kepemimpinan kepala adat dalam Pembangunan Desa Kelubir Kecamatan Tanjung Palas Utara Kabupaten Bulungan, Tesis Universitas Mullawarman, Kalimantan Tengah
Wijayanti, Pramita Esti. 2008. Peran Orangtua dalam Penanaman Nilai-Nilai Sosial terhadap Anak Autis. Surakarta: UNS.
Yusron Ahmad, 2011. Paradigma Penyandang Difabel dan Orang-orang yang Berkebutuhan Khusus. Yogyakarta: UGM.
Jurnal :
Faisal Mohammad, M. F.,Syam, S.,& Wilodati, W.(2016) Pola Asuh Orang Tua Difabel terhadap Anak yang Normal. SOSIETAS. 6(1).
Online :
Erlanda, A M, 2013 Konsep teori struktural fungsionalisme (Robert K. Merton) (online), (http:// www.erlandamaesta.co.id diakses 5 januari 2016 ) Erlanda, A M, 2013 Konsep teori struktural fungsionalisme
(RobertK.Merton)(online), (http:// www.erlandamaesta.co.id diakses 5 januari 2016 )
http://priyadi .net/archives/2006/10/04/penggunaan-istilah-difabel-atau-difabel/
Materi Pertanyaan : Kontribusi pemerintah terhadap pengasuhan orang tua penyandang difabel
Narasumber : Masyarakat
Pewawancara : Andi Sahri Rahayu
1. Bagaimana strategi orang tua dalam mengasuh anaknya ? 2. Apakah kendala orang tua ketika mengasuh anaknya ? 3. Apakah ada keterlibatan kerabat dalam mengasuh anaknya ?
4. Bagaimana respon anak terhadap pengasuhan orang tua yang menyandang difabel ?
5. Bagaimana kontribusi pemerintah terhadap orang tua yang menyandang difabel ?
6. Apakah pihak pemerintah memberikan pendidikan khusus terhadap orang tua penyandang difabel ?
7. Bagaimana pandangan masyarakat terhadap orang tua penyandang difabel ? 8. Bagaimana tanggapan orang difabel tentang keterlibatan pemerintah ?
besar terdiri dari suku bugis asli tanah Sidrap namun ada beberapa pendatang dari daerah berbeda namun suku yang sama. Masyarakat ini memiliki mata pencaharian sebagai petani serta berkebun, mereka biasanya menyebut “ase” yaitu beras, atau padi yang di keringkan di bawah sinar matahari sebagai hasil panen mereka. Selain itu keluarga-keluarga di kecamatan ini tergolong ada beberapa keluarga yang memiliki taraf ekonomi sedang namun beberapa pula memiliki taraf ekonomi rendah. Dan hal itu mengapa mereka lebih banyak memanfaatkan sumber daya alam sebagai mata pencaharian mereka, karena mereka tidak memiliki pendidikan yang memadai serta keadaan daerah yang masih kurang memiliki kantor-kantor untuk menyerap lapangan kerja di pedesaan.
Secara umum dalam lingkungan masyarakat Kecamatan Dua Pitue Kabupaten Sidrap adalah masyarakat yang memegang teguh kebudayaan dan adat istiadat yang mereka anut dari leluhur mereka. Dalam melakukan aktivitas sehari- hari pun masyarakat pada umumnya berinteraksi satu sama lain dalam lingkungan tempat tinggal mereka. Berdasarkan hasil observasi secara umum, para masyarakat lingkungan tersebut adalah dominan memiliki pekerjaan sebagai petani. Namun dalam hal interaksi masyarakat Kecamatan Dua Pitue Kabupaten Sidrap berinteraksi layaknya masyarakat desa pada umumnya. Berbicara tentang masyarakat, kelompok terkecil dalam sebuah masyarakat adalah keluarga.
Keluarga yang merupakan pranata terkecil dalam lingkungan masyarakat adalah akar dari terbentuknya sebuah individu yang baru sebelum keluar dalam ranah
kecil yang di mulai dalam lingkungan keluarga, di mana keluarga mengajarkan hal-hal sederhana tentang bagaimana seorang anak berlaku dalam kelompok keluarga dan kelompok masyarakat. Dalam pranata keluarga setiap anggota keluarga memiliki peranan dan tugas masing-masing, contoh seorang ayah memiliki tugas memberi nafkah terhadap anggota keluarganya, dan selain dari pada itu seorang ayah juga adalah sebagai pendidik bagi istri dan anaknya.dalam keluarga, orang tua berperan penting dalam membentuk sebuah kepribadian bagi anggota keluarga lainnya terutama anak, dalam hal mendidik, mengasuh, memberikan perlindungan, kasih sayang, rasa nyaman dan aman. Namun secara real dalam lingkungan social sering kali di temukan keluarga yang mengalami masalah atau konflik atau dalam bahasan sosiologis mengatakan bahwa ada beberapa fungsi jadi pranata tersebut tidak berjalan dengan semestinya. Peran orang tua adalah yang paling utama dalam pranata ini, orang tua berperan penting dalam pembentukan kepribadian seorang anak, orang tua memberikan pendidikan dan pelajaran moral bagi anaknya.
Berdasarkan hasil observasi di lapangan menunjukkan bahwa beberapa kelompok keluarga yang memiliki masalah disfungsional atau tidak berjalannya fungsi-fungsi dalam keluarga dengan semestinya seperti dalam penelitian kali ini tentang pola asuh orang tua penyandang difabel. Dalam kasus orang tua penyandang difabel yang memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas
karena kecelakaan dan sebagainya. Dilihat dalam lingkungan sekitar daerah penelitian di lakukan bahwa ada beberapa keluarga yang ditemukan mengalami hal yang sama yakni memiliki keterbatasan dalam hal mengasuh anaknya. Para orang tua penyandang difabel tersebut kebanyakan mengandalkan keluarga dekat yang dapat membantu mereka dalam mengasuh anak-anak mereka, beberapa diantaranya memiliki anak di bawah umur 15 tahun, namun rata-rata di temukan keluarga memiliki banyak anak dan telah berumur kurang lebih 25-30 tahun.
Orang tua penyandang difabel pun bermacam-macam, dari 10 informan yang ditemukan bahwa tuna wicara dan tuna daksa adalah jenis difabel yang banyak di temui dalam beberapa keluarga penyandang difabel di lingkungan Kecamatan Dua Pitue. Berikut adalah beberapa gambaran tentang disabilitas yakni penyebab disabilitas secara garis besar, sebab timbulnya disabilitas tubuh dapat disebabkan : Akibat kecelakaan, cacat sejak lahir atau ketika dalam kandungan, cacat yang disebabkan oleh penyakit, kecacatan karena malnutrisi dan keracunan makanan dan minuman, kecacatan karena alcoholism khronis dan penyalahgunaan narkotika, kecacatan disebabkan oleh populasi dan pencemaran lingkungan serta bencana alam..
Beberapa penyebab disabilitas diatas adalah berdasarkan hasil observasi di lapangan, namun dari beberapa penyebab tersebut adalah yang mendominasi yakni cacat di sebabkan karena penyakit dan bawaan sejak lahir. Ketidak
terbatas yang menyebabkan anak mereka seperti di terlantarkan akibat keterbatasan orang tua penyandang difabel ini dalam mengasuh anaknya.
Beberapa anak penyandang difabel ini terlihat sangat tidak terurus, namun ada beberapa keluarga difabel yang beruntung karena di bantu oleh orang atau keluarga terdekat mereka dalam mengasuh anaknya sehingga sangat mempermudah.
UMUR : 50 tahun PEKERJAAN : Kepala Desa
2. NAMA : Agustina
JENIS K : Perempuan
UMUR : 47 tahun
PEKERJAAN : IRT
3. NAMA : Puang R
JENIS K : Laki-laki
UMUR : 49 Tahun
PEKERJAAN : -
4. NAMA : Puang A
JENIS K : Perempuan
UMUR : 49 Tahun
PEKERJAAN : Petani
5. NAMA : Fatima
JENIS K : Perempuan
UMUR : 39 Tahun
PEKERJAAN : Pegawai Kantor Desa
6. NAMA : Ros
JENIS K : Perempuan
UMUR : 53 Tahun
PEKERJAAN : -
PEKERJAAN : -
8. NAMA : Basri
JENIS K : Laki-laki
UMUR : 53 Tahun
PEKERJAAN : Petani
9. NAMA : Asis
JENIS K : Laki-laki
UMUR : 47 Tahun
PEKERJAAN : -
10. NAMA : Kebba
JENIS K : Laki-laki
UMUR : 49 Tahun
PEKERJAAN : -
Gambar 1 : Padi sebagai mata pencaharian masyarakat
Gambar 2 : Masyarakat menggiling padi
Gambar 1 : Padi sebagai mata pencaharian masyarakat
Gambar 2 : Masyarakat menggiling padi
Gambar 1 : Padi sebagai mata pencaharian masyarakat
Gambar 2 : Masyarakat menggiling padi
Gambar 4 : narasumber Naheriah difabel (bisu) Gambar 4 : narasumber Naheriah difabel (bisu) Gambar 4 : narasumber Naheriah difabel (bisu)
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam ilmu sosiologi menjelaskan bahwa keluarga adalah bagian terkecil untuk anak dan anggota keluarga atau individu melakukan sebuah interaksi dan adaptasi sebelum keluar di lingkungan masyarakat. Seorang anak atau individu mengalami pertumbuhan dan perubahan serta mengenal pola-pola interaksi di mulai dari bentuk terkecil yaitu keluarga, yang dalam hal ini pengertian keluarga adalah kelompok primer yang terpenting dalam masyarakat. Secara historis terbentuk paling dari satuan yang merupakan organisasi terbatas, dan mempunyai ukuran yang minimum, terutama pihak-pihak yang pada awalnya yang mengadakan suatu ikatan. Keluarga dapat didefinisikan sebagai suatu kelompok kecil yang disatukan dalam ikatan perkawinan, darah ataupun adopsi. Merupakan susunan rumah tangga, sendiri, berinteraksi, dan berkomunikasi satu sama lain yang menimbulkan peranan-peranan social bagi suami istri, ayah, ibu, putri, putra, yang menganut budaya-budaya yang sama. Keluarga merupakan lembaga pertama dalam kehidupan seorang anak, tempat belajar segala sesuatu dan menyatakan diri sebagai mahluk sosial. Sehingga pranata-pranata yang dalam masyarakat termasuk pranata keluarga seharusnya berjalan sesuai dengan semestinya. Dalam lingkungan sosial, sering kali di temukan beberapa keluarga mengalami masalah atau konflik internal, sehingga dengan kejadian tersebut bisa di simpulkan bahwa
1
ada beberapa hal-hal dalam pranata keluarga mereka tidak berjalan dengan semestinya.
Gambaran keluarga utuh secara umum adalah seorang ayah, ibu dan anak, namun bagaimana ketika seorang ibu dan ayah atau salah satu dari mereka adalah penyandang cacat dan anak yang memiliki keadaan fisik yang normal, mungkin pemahaman kita sebagai orang awam adalah mereka tidak dapat mengasuh anaknya sebagaimana mestinya akibat keterbatasan fisik dan mental yang mereka miliki. Keluarga memiliki peran penting dalam pembentukan kepribadian seseorang. Dalam keluarga umumnya anak dan orang tua memiliki hubungan interaksi yang intim. Keluarga memberikan dasar pembentukan tingkah laku, watak, moral, dan pendidikan anak.
Orang tua mempunyai berbagai macam fungsi seperti mengasuh, membimbing, memelihara dan mendidik anak-anaknya. Setiap orang tua pasti menginginkan anak-anaknya menjadi manusia yang pandai, cerdas, berakhlak, dan berguna bagi semua orang. Akan tetapi banyak orang tua tidak menyadari bahwa cara mereka mendidik membuat anak merasa tidak diperhatikan, dibatasi kebebasannya, bahkan ada yang merasa tidak disayangi oleh orang tuannya.
Perasaan tersebut yang banyak mempengaruhi sikap, perasaan, cara berfikir, bahkan kecerdasan mereka.
Mendidik anak dengan baik dan benar berarti menumbuh kembangkan totalitas potensi anak diupayakan pertumbuhannya secara wajar melalui pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmani, seperti pemunuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan. Sedangkan potensi rohaniah anak diupayakan
pengembangannya secara wajar melalui usaha pembinaan intelektual, perasaan dan budi pekerti.
Peran orang tua juga turut mempengaruhi terhadap pendewasaan seorang anggotanya. Hal ini sesuai dengan fungsi keluarga batih dalam didalam masyarakat. Keluarga batih merupakan kelompok dimana individu dapat menikmati bantuan utama dari sesamanya serta keamanan dalam hidup. Disisi lain, keluarga merupakan jembatan antara individu dengan kebudayaanya. Melalui keluarga, anak belajar nilai-nilai, peran sosial, norma-norma serta adat istiadat yang ditanamkan oleh orang tua.
Untuk menghasilkan karakter, kepribadian, dan akhlak anak maka diharapkan menggunakan cara sosialisasi yang baik. Karna sosialisasi merupakan proses belajar kebudayaan didalam suatu sistem sosial tertenu. Sistem sosial berisikaan berbagai kedudukan dan peranan yang terkait dengan suatu masyarakat dengan kebudayaannya. Dalam tingkat sistem sosial sosialisasi merupakan proses belajar mengenai nilai dan aturan untuk bertindak dan berinteraaksi seorang individu di sekitarnya dari masa kanak-kanak hingga masa tua.
Sebaliknya interaksi akan terjadi jika ada respon dari orang lain atas tindakan kita kepada orang lain. Melalui interaksi dengan orang lain, seseorang memperoleh identitas, mengembangkan nilai-nilai dan aspirasi-aspiras. Artinya sosialisasi diperlukan sebagai sarana untuk untuk menumbuhkan kesadaran diri.
Bagi individu sosialisasi memiliki fungsi sebagai pengalihan sosial dan penciptaan kepribadian, namun dalam kenyataanya tidak semua manusia normal.
Ada manusia sejak lahir mengalami kecacatan atau pada masa pertumbuhan
mengalami kecacatan atau ketunaan secara fisik. Ketidak sempurnaan ini dapat menjadi masalah bagi orang-orang yang mengalaminya, terutama individu yang sudah mengalaminya terutama individu yang sudah menjadi orang tua. Didalam keluarga yang memiliki orang tua difabel (memiliki kemampuan berbeda) dalam hal ini adalah penyandang cacat tunawicara akan memiliki cara atau metode yang berbeda dalam mendidik anak-anaknya, hal ini dikarenakan kekurangan fisik yang dimilikinya.
Cara atau metode yang digunakan dalam mendidik dan membina anak sangat berpengaruh pada diri anak, orang tua yang memiliki kemampuan yang berbeda atau difabel juga akan mendidik dan membina anak-anaknya agar menjadi individu yang baik dikemudian hari. Peran pemerintah sangat di perlukan dalam mengatasi hal ini sebagai lembaga yang memiliki kekuatan dalam menekan dan membuat peraturan untuk warga Negara Indonesia. Peran pemerintah dianggap sangat penting dinilai masih kurang dalam memberikan jaminan dan perlindungan bagi penyandang disabilitas. Hal ini terlihat dari masih banyaknya diskriminasi yang seharusnya mereka dapatkan, terutama dibidang pendidikan, seharusnya pemerintah memberikan jaminan pada difabel untuk mendapatkan pendidikan dari tingkat dasar hingga lanjutan bahkan perguruan tinggi. Dan bukan hanya sekedar membukakan akses untuk mencapai pendidikan saja, namun memeberikan jaminan untuk penyandang disabilitas dalam menjalani proses pndidikan. Pemerintah diharapkan dapat berlaku adil terhadap warga negaranya baik mereka yang menyandang disabilitas maupun yang lainnya, adil disini bukan memiliki arti sama rata, bahkan pemerintah tidak bisa menyamaratakan bantuan
yang diberikan. Namun pemerintah dapat memberikan bantuan kepada warga negaranya sesuai dengan kebutuhannya, pemerintah sesungguhnya juga tidak dapat berjalan sendiri dalam mengatasi diskriminasi yang diterima oleh penyandang disabilitas ini, namun seluruh masyarakat juga diharapkan saling bersinergi dan menggugah kesadaran difabel. Karna hingga saat ini masih banyak masyarakat yang memberikan diskriminasi terhadapa difabel tersebut, padahal penyandang disabilitas adalah kelompok masyarakat sama layaknya masyarakat lainnya hanya saja memiliki kebutuhan yang berbeda.
Sejalan dengan hasil penelitian Rerha Meka Hutauruk (2011), anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan yang diharapkan seorang ibu dari anaknya, dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan kesadaran.
Begitupun dalam jurnal Ayu Supatri (2014), peran penting orang tua akan terlihat dalam kehidupan anak, tentang pengasuhan ( parenting ) orang tua yang memiliki anak retardasi mental, agar para orang tua memberikan perhatian khusus, dan memberikan bimbingan yang baik kepada anaknya sehingga anak tersebut lebih percaya diri.
Sejalan dengan jurnal Priscana Arindi Putri (2015), dia memfokuskan terhadap anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki perbedaan dengan anak-anak secara umum atau rata-rata anak seusianya. Anak dikatakan berkebutuhan khusus, jika ada sesuatu yang kurang atau bahkan lebih didalam dirinya, istilah lain untuk menggantikan kata anak luar biasa yang menandakan
adanya kelainan khusus yang memiliki karakter yang berbeda antara satu anak dengan anak yang lainnya.
Kemudian dari berbagai contoh jurnal yang dijelaskan di atas, dalam penelitian ini peneliti berusaha menganalisis tentang bagaimana orangtua yang mengalami cacat mental atau difabel dalam hal mengasuh anaknya yang notabene adalah memiliki keadaan tubuh dan fisik yang normal, untuk itulah dari latar belakang yang di jelaskan oleh peneliti di atas, oleh sebab itu peneliti tertarik untuk meneliti “Konstribusi Pemerintah Terhadap Pengasuhan Orang Tua Penyandang Difabel” (Studi Kasus keluarga Dikacamatan Dua Pitue Kabupaten Sidrap).
B. Rumusan Masalah
Untuk memperjelas fokus kajian dalam penelitian ini maka peneliti akan merumuskan pokok permasalahan penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagaimanakah cara orang tua penyandang difabel dalam mengasuh anaknya di Kacamatan Dua Pitue Kabupaten Sidrap?
2. Bagaimana bentuk konstribusi pemerintah terhadap pengasuhan orang tua yang penyandang difabel di Kacamatan Dua Pitue Kabupaten Sidrap ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, berikut tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui cara orang tua penyandang difabel dalam mengasuh anaknya di Kacamatan Dua Pitue Kabupaten Sidrap!
2. Untuk mengetahui bentuk konstribusi pemerintah terhadap pengasuhan orang tua yang menyandang difabel di Kacamatan Dua Pitue Kabupaten Sidrap !
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini akan memberikan sumbanagan ilmu pengetahuan bagi pengembangan ilmu sosial pada umumnya dan ilmu sosiologi pada khususnya dan sebagai bahan referensi bagi peneliti yang tertarik membahas mengenai konstribusi Pemerintah terhadap pengasuhan orang tua penyandang difabel.
2. Manfaat Praktis a. Bagi masyarakat
Diharapkan dapat menjadi sumbangsi pemikiran dan wawasan kepada masyarakat umum dalam menyikapi keberadaan kontribusi Pemerintah terhadap pengasuhan orang tua yang penyandang difabel.
b. Bagi peneliti
Sebagai pengetahuan dan pengalaman serta latihan dalam berfikir bagi peneliti dalam mengaplikasikan ilmu yang didapatkan selama duduk dibangku perkuliahan. Selain itu, peneliti diharapkan dapat memberikan wawasan dan pengalaman bagi peneliti dalam memahami kontribusi Pemerintah terhadap orang tua yang penyandang difabel.
c. Bagi penyandang difabel
Penelitian ini diharapkan berguna dan mampu memberikan konstribusi terhadap orang tua pengasuh penyandang difabel dalam pemenuhan sebagian kebutuhan meskipun kekurangan fisik atau kemampuan mentalnya.
E. Definisi Operasional 1. Kontribusi
Kontribusi secara teoritis. Masyarakat awam mengartikan kontribusi sebagai sumbangsih atau peran, atau keikutsertaan seorang dalam suatu kegiatan tertentu. Ada banyak defenisi kontribusi menurut sudut pandangnya masing- masing. Mungkin sebagian dari anda pernah mendengar penggalan kalimat seperti ini dalam melakukan pembangunan didaerah masyarakat harus ikut berkontribusi dalam pembangunan desa, kata kontrbusi disini diartikan sebagai adanya ikut campur masyarakat baik dalam bentuk tenanga, fikiran dan kepedulian terhadap suatu program atau kegiatan yang dilakukan pihak tertentu. Kontribusi tidak bisa diartikan hanya sebagai keikut sertaan seseorang secara formalitas saja, melainkan harus ada bukti nyata atau aksi nyata bahwa orang atau kelompok tersebut ikut membantu ikut turun kelapangan untuk mengsukseskan suatu kegiatan tertentu.
Bentuk kontribusi yang bisa diberikan oleh masyarakat harus sesuai dengan kapasitas atau kemampuan masing-masing program tersebut.
2. Pemerintah
Pemerintah adalah kemudi dalam bahasa latin asalnya Gubernaculum.
Pemerintah adalah organisasi yang memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan dalam bentuk (penerapan hukum dan undang-undang) di kawasan tertentu. Kawasan tersebut adalah wilayah yang berada dikekuasaan mereka.
Pemerintah berbeda dengan pemerintahan. Pemerintahan merupakan organ atau alat pelengkap jika dilihat dalam arti sempit pemerintah hanya lembaga eksekutif saja. Sedangkan arti pemerintahan dalam arti luas adalah semua mencakup