C.Varikokel D.Torsio testis E.Hidrocele Jawab: A Pembahasan:
Chriptorchimus merupakan salah satu faktor anatomis penyebab infertilitas pada pria. Chriptorchimus merupakan keadaan dimana proses desensus testikulorum saat masa janin tidak berjalan dengan baik sehingga testis tidak nerada di dalam kantong skrotum (maldesensus) tetapi masih beradaa pada jalurnya yang normal. Biasanya testis terletak di kanalis inguinalis atau rongga abdomen yaitu terletak di antara fossa renalis dan anulus inguinalis internus. Beberapa kemungkinan penyebab testis maldesensus antara lain; gubernakulum testis, kelainan intrinsik testis atau, defisiensi hormon gonadotropin yang memacu proses desensus testis. Chriptorchimus dapat menyebabkan kemandulan dikarenakan testis berada di dalam rongga inguinal atau abdomen dimana suhunya 1ºC lebih tinggi daripada suhu di dalam skrotum, hal ini mengakibatkan kerusakan sel epitel germinal testis dan pada akhirnya testis menjadi kecil. Namun kerusakan sel germinal tidak diikuti dengan kerusakan sel leydig sehingga fungsi seksual tidak mengalami gangguan.
SKENARIO
Tn X berusia 25 tahun datang ke sebuah UGD rumah sakitdengan keluhan disuria. Dari anamnesa didapatkan demam tinggi, menggigil, dan nyeri padadaerah pinggang kanan yang sifatnya hilang timbul dan tidak menjalar ke daerah kemaluan sejak dua hari yang lalu.Sebelumnyapasienmerasakan BAK terasapanassejak 7 hari yang lalu. Dari riwayat penyakitdahulu didapatkan riwayat pernah keluar nanah dari alat kelaminnya sertaada luka. Dari pemeriksaan fisik di dapatkan nyeri costo vertebral kanan, ulkus (+) pada genital. Kemudian dokter jaga melakukan pemeriksaan laboratorium urin didapatkan bakteriuria (+).
79. Apakah diagnosis sementarapadakasus?
a. Infeksi saluran kemih b. Torsio testis
c. Hiperplasia prostat d. Maldesensus testis e. Trauma buli-buli Pembahasan:
Infeksi Saluran Kemih
Infeksi tractus urinarius merupakan suatu keadaandimana adanya suatu proses peradangan yang akut ataupun kronisdari ginjal ataupun saluran kemih yang mengenai pelvis ginjal, jaringan interstisial dan tubulus ginjal (pielonefritis), atau kandung kemih (Cystitis), dan urethra (uretritis).
Infeksi padasaluran kemih ini dapatdibagi menjadi duabagian yaitu : 1. Infeksi saluran kemih bagian atas : Pyelonefritis
2. Infeksi saluran kemih bagian bawah : Cystitis, Uretritis.
80. Apa saja pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis pada kasus?
a. Urinalisis b. Bakteriologis
c. Tes plat celup (dip slide) d. Tes kimiawi
e. Benar semua
Pembahasan:
Pemeriksaan laboratorium A. Urinalisis
Leukosuria
Leukosuria atau piuria merupakan salah satu petunjuk penting terhadap dugaan adalah ISK.
Dinyatakan positif bila terdapat >5 leukosit/lapang pandang besar (LPB) sedimen air kemih.
Adanya leukosit silinder pada sediment urin menunjukkan adanya keterlibatan ginjal. Namun adanya leukosuriatidak selalu menyatakan adanya ISK karena dapat pula dijumpai pada inflamasi tanpa infeksi. Apabila didapat leukosituri yang bermakna, perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan kultur.
Hematuria
Dipakai oleh beberapa peneliti sebagai petunjuk adanya ISK, yaitu biladijumpai 5-10 eritrosit/LPB sedimen urin. Dapat jugadisebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik
berupa kerusakan glomerulus ataupun oleh sebab lain misalnya urolitiasis, tumor ginjal, atau nekrosis papilaris.
B. Bakteriologis
Mikroskopis
Dapat digunakan urin segar tanpa diputar atau tanpa pewarnaan gram. Dinyatakan positif biladijumpai 1bakteri/lapangan pandang minyak emersi.
Biakan bakteri
Dimaksudkan untuk memastikan diagnosis ISK yaitu biladitemukan bakteri dalam jumlah bermakna sesuai dengan criteriaCattell,1996:
- Wanita, simtomatik
>102organisme koliform/ml urin plus piuria, atau 105organisme pathogen apapun/ml urin, atau
Adanya pertumbuhan organisme pathogen apapun pada urin yang diambil dengan cara aspirasi supra pubik
- Laki-laki, simtomatik
>103organisme patogen/ml urin - Pasien asimtomatik
105organisme patogen/ml urin pada 2 contoh urin berurutan.
C. Teskimiawi
Yang paling sering dipakai ialah tes reduksi griess nitrate. Dasarnya adalah sebagian besar mikroba kecuali enterokoki, mereduksi nitrat biladijumpai lebihdari 100.000-1.000.000bakteri.
Konversi ini dapat dijumpai dengan perubahan warna pada uji tarik. Sensitivitas 90,7% dan spesifisitas 99,1% untuk mendeteksi Gram-negatif. Hasil palsu terjadi bila pasien sebelumnya diet rendah nitrat, diuresis banyak, infeksi oleh enterokoki dan asinetobakter.
D. Tes Plat-Celup(Dip-slide)
Lempeng plastik bertangkai dimana kedua sisi permukaannya dilapisi perbenihan padat khusus dicelupkan kedalam urin pasien atau dengan digenangi urin. Setelah itu lempeng dimasukkan kembali kedalam tabung plastik tempat penyimpanan semula, lalu dilakukan pengeraman semalaman pada suhu 37°C. Penentuan jumlah kuman/ml dilakukan dengan membandingkan pola pertumbuhan pada lempeng perbenihan dengan serangkaian gambar yang memperlihatkan keadaan kepadatan koloni yang sesuai dengan jumlah kuman antara 1000 dan 10.000.000 dalam
tiap ml urin yang diperiksa. Cara ini mudah dilakukan, murah dan cukup akurat. Tetapi jenis kuman dan kepekaannya tidak dapat diketahui.
Pemeriksaan penunjang diagnosis ISK
Analisaurin rutin, pemeriksaan mikroskop urin segar tanpa puter, kultur urin, serta jumlah kuman/mL urin merupakan protocol standar untuk pendekatan diagnosis ISK. Pengambilan dan koleksi urin, suhu, dan teknik transportasi sampel urin harus sesuai dengan protocol yang dianjurkan.
Investigasi lanjutan terutama renal imaging procedures tidak boleh rutin, harus berdasarkan indikasi yang kuat. Pemeriksaan radiologis dimaksudkan untuk mengetahui adanya batu atau kelainan anatomis yang merupakan faktor predisposisi ISK. Rena limaging procedures untuk investigasi faktor predisposisi ISK termasuk lah ultrasonogram (USG), radiografi (foto polos perut, pielografi IV, micturating cystogram), dan isotop scanning.
Skenario
Seorang pasien laki-laki di bawa ke UGD Rumah Sakit dengan keluhan nyeri perut hebat di bagian bawah. Menurut keterangan keluarga yang mengantar, pasien baru tertabrak mobil di depan rumahnya.
Dari pemeriksaan fisikdidapatkan tekanan darah 90/60 mmHg, denyut nadi 130x/menit, pernafasan 27x/menit, meatal bleeding (+) dan kandung kencing teraba penuh. Dari pemeriksaan rectal toucher ditemukan floating prostat (+)
81. Bagaimana diagnosis banding dari kasus?
a. Hiperplasia prostat b. Maldesensus testis
c. Trauma sistem urogenital d. Infeksi saluran kemih e. Benar semua
Pembahasan
Trauma SistemUrogenitalia
a. Trauma atas : Ginjaldan Ureter
b. Trauma bawah : Vesikaurinaria, uretra (pars anterior dan pars posterior) c. Trauma Genitalia Eksterna : Penis, skrotumdan testis
Selain itu, ada juga pada Fraktur Pelvis yang menyebabkan rupture saluran urogenitaliadan menyebabkan meatal bleeding serta floating prostat.
82. Bagaimana penanganan pertama kali pada pasien di kasus?
a. Di lihat keadaan umum terlebih dahulu, vital sign, control cairan b. Pemeriksaan ginjal
c. Pemeriksaan Uretra )stabil/tidak) dengan Urethroplasty d. A dan B benar
e. Benar semua
83. Seorang laki-laki berusia 60 tahun mengeluh tidak bisa buang air kecil sejak 12 jam yang lalu.
Awalnya buang air kecil terganggu, harus mengejan, pancaran urin melemah, dan sering terbangun saat malam hari untuk buang air besar. Pada pemeriksaan colok dubur setelah pemasangan kateter, teraba prostat membesar, bernodul keras, dan permukaan tidak rata.
Pemeriksaan anjuran untuk menegakkan diagnosis kasus tersebut….
a. BNO-IVP b. USG abdomen\
c. PSA d. Darah rutin e. Survei tulang Pembahasan
Pada pemeriksaan fisik jika terdapat indurasi(keras) pada colok dubur, kita perlu mencurigai adanya kanker prostat dan perlunya evaluasi lebih lanjut (PSA, TRUS, biopsy).
84. Anak laki-laki berusia 10 tahun diantar ibunya ke puskesmas, mengeluh kencing berwarna merah dan bengkak pada kedua kaki. Satu minggu sebelumnya pasien pernah mengalami batuk pilek yang tidak diobati. Pemeriksaan fisik didapatkan edema pada kedua tungkai. Hasil urinalisi menunjukkan eritrosit (+), dengan sedimen urine: eritrosit 4-5/lp, leukosit 2-3/lp, dan bakteri (+). Organisme penyebab penyakit pada anak ini adalah….
a. Streptococcus hemoliticus b. Streptococcus viridans c. Staphyloccocus saprofit d. Pseudomonas aeruginosa e. Haemophylus influenza Pembahasan
Glomerulonefritis akut pasca streptococcus (GNAPS) adalah suatu sindrom nefritik yang ditandai hematuria yang mendadak serta sering diikuti adanya edema kelopak mata, hipertensi dan insufisiensi
ginjal, yang disebabkan oleh adanya infeksi kuman streptococcus β hemoliticus grup a. GNAPS didahului infeksi saluran napas atas atau kulit/piodermi oleh streptococcus β hemoliticus grup a terttentu yang bersifat nefrogenik. GNAPS paling sering terjadi pada anak, namun jarang di bawah usia 3 tahun.
Pada anamnesis akan didapatkan adanya riwayat infeksi saluran nafas / infeksi kulit 2-3 minggu sebelumnya, adanya riwayat kencing merah (berwarna seperti air cucian daging), edema sekitar mata yang kemudian menjalar ke tungkai, kencing berkurang atau tidak kencing sama sekali, sakit kepala serta sesak nafas, keluhan spesifik yang sering timbul adalah malaise, letargi, dan nyeri di leher abdomen serta demam. Pemeriksaaan fisik ditemukan tekanan darah sering meningkat, edema palpebral atau tungkai, dari infeksi/bekjas infeksi kulit. Fase akut umumnya telah membaik dalam waktu 1 bulan setelah onset, namun kelainan pada urin masih dapat berlanjut sampai usia lebih dari 1 tahun. Penunjang diagnose pada kasus ini ditemukan hematuria nyata/makroskopis, proteinuria, pada darah ditemukan LED tinggi, ureum dan kreatinin tinggi, C3 menurun, asto meningkat, uji clearance dari kreatinin menurun, biakan hapus tenggorok dapat ditemukan kuman streptococcus β hemoliticus.
85. Seorang pria berusia 18 tahun datang ke UGD rumah sakit dengan keluhan sakit mendadak di skrotum. Pada pemeriksaan tanda vital didapatkan, tekanan darah 120/88 mmHg, nadi 80 kali/menit, frekuensi napas 20 kali/menit, dan temperature 36,0’C. Pada pemeriksaaan fisik ditemukan, testis kiri membesar, merah, letak lebih tinggi, dan posisi mendatar. Hasil pemeriksaaan USG didapatkan kapur epidermis dan korda spermatika membesar dengan koreksi cairan di testis. Diagnosa pada pasien adalah a. Epididimoorkitis
b. Abses testis c. Torsio testis d. Tumor testis e. Hernia skrotalis Pembahasan:
Penyebab tersering sakit padfa skrotum, antara lain torsio testis, torsio appendiks testis, dan epididymitis.
Di antara ketiga penyebab tersebut, sakit mendadak di skrotum ditemukan pada torsio testis.
Pemeriksaaan pada torsio testis akan ditemukan antara lain:
Nyeri mendadak, unilateral, dan menetap
Reflek kremaster negative
Testis yang mengalami torsi letak lebih tinggi, asimetris, dan posisi mendatar.
Khas terjadi pada neonates dan postpubertas. Namun, dapat juga terjadi pada orang dewasa.
86. Seorang wanita berusia 35 tahun, mengeluh nyeri pinggang kanan, demam, dan kadang-kadang menggigil. Pemeriksaan fisik menunjukkan suhu badan 39,3’C, denyut nadi 120 kali/menit, frekuensi pernapasan dan tekanan darah normal, dan nyeri perkusi sudut kostovertebra kanan. Hasil pemeriksaaan
laboratorium menunjukkan Hb 12,6 g/dL, leukosit 12.400/uL, trombosit 276.000/uL ureum 34, kretinin 1,4 mg/dL. Hasil urinalisis yaitu albumin (+1), silinder leukosit, leukosit 10-12/lpb. Diagnosis yang paling mungkin adalah…
a. Divertikulitis b. Apendisitis c. Sistitis akut d. Vesikolitiasis e. Pielonefritis Pembahasan
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah ditemukannya bakteri pada urin di saluran kemih. Dikatakan bakteri uria positif pada pasien asimptomatis bila terdapat lebih dari 105 unit koloni bakteri dalam sampel urin porsi tengah(midstream) per milliliter urin, sedangkan pada pasien simptomatis bisa terdapat jumlah koloni yang lebih rendah. Berdasarkan lokasinya ISK dibagi menjadi ISK bawah(sistitis, prostatitis, epididymitis, urethritis) dan ISK atas (pielonefritis, abses renal)
87. Seorang pria berusia 28 tahun datang ke UGD dalam keadaan lemah. Dia baru saja terjatuh dari motor 2 jam yang lalu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan TD 90/65 mmhg, denyut nadi 124 kali/menit. Ditemukan memar pada pinggang kiri. Apa kemungkinan diagnosisnya?
a. Trauma hepar b. Trauma ginjal kiri c. Trauma lien
d. Trauma ginjal kanan e. Trauma pancreas Pembahasan
Pasien dengan trauma hepar biasanya akan mengalami gejala khas berupa nyeri pada kuadran kanan atas yang menjalar ke pundak kanan (boas sign).Pasien dengan trauma lien dapat mengalami hal yang sama namun terjadi npada sisi
ISK Bawah ISK Atas
Disuria Demam
Frekuensi Mengigil
Urgensi Nyeri Pinggang
Nyeri suprapubik Malaise
Hematuria Anoreksia
Nyeri scrotal (epididimo-orkitis) Nyeri ketok sudut kostovertebra Nyeri perineal (prostatitis)
kiri (kehr’s sign).Sedangkan pasien dengan trauma pancreas akan memberikan tanda-tanda perdarahan retroperitoneal berupa grey turner’s sign (hematoma yang menyebar ke regio flank), cullen’s sign (hematoma yang menyebar ke region periumbilikal) atau fox’s sign (hematoma yang menyebar ke paha).
Sedangkan cedera ginjal dapat kita curigai bila :
o Adanya trauma pada daerah pinggang,punggung,dada sebelah bawah, perut bagian atas dengan disertai nyeri pada daerah tersebut.
o Hematuria
o Fraktur costa bagian bawah (8-12) atau fraktur prossesus spinosus.
Referensi
1.Purnomo B, 2003, Dasar-Dasar Urologi, edisi 2, hal.88-89.
2. Stone KC, Humphries RL, 2005, Current Essentials of Emergency Medicine, Mc Graw Hill, Lange Medical book, hal.292-297.
88. Pada kasus diatas berdasarkan gejala fisik yang ada, kemungkinan dalam derajat berapakah syok perdarahan yang dialami pasien?
f. Derajat I g. Derajat II h. Derajat III i. Derajat IV j. Derajat V
Pembahasan
Derajat I Derajat II Derajat III Derajat IV Kehilangan darah (mL) Sampai 750 750-1500 1500-2000 >2000 Kehilangan darah (%
volume darah)
Sampai 15 % 15-30% 30-40% >40%
Denyut nadi <100 >100 >120 >140
Tekanan darah Normal Normal Menurun Menurun
Tekanan nadi Normal atau
naik
Menurun Menurun Menurun
Frekuensi nafas 14-20 20-30 30-40 >35
Produksi urin (mL/jam >30 20-30 5-15 Tidak berarti
Status mental Sedikit cemas Agak cemas Cemas, bingung
Bingung, lesu Penggantian cairan Kristaloid Kristaloid Kristaloid Kristaloid
(hukum 3:1) dan darah dan darah Referensi
American College of Surgeon, 2004, advance trauma life support, 7th ed, hal. 79-81.
89. Pada kasus diatas,jika ada operasi eksplorasi didapatkan cedera organ yang disertai cidera pembuluh darah segmental, dalam dserjat berapakah cedera organ yang terjadi?
a. Derajat I b. Derajat II c .Derajat III d. Derajat IV e. Derajat V
Pembahasan
Sebagian besar trauma ginjal (85%) adalah trauma minor (derajat I dan II) ,15% adalah cedera mayor (derajat III dan IV), serta 1% adalah trauma pedikel ginjal.
Table penentuan derajat cedera ginjal AAST (moore, 1989) Derajat Deskripsi Cedera
I Kontusio ginjal atau subcapsular hematoma yang tidak meluas.Tidak ada laserasi
II Hematoma perirenal yang tidak meluas.Laserasi kortikal <1cm dalam tanpa ekstravasasi
III Laserasi kortikal >1cm tanpa esktravasasi urin
IV Laserasi : melalui corticomedullary junction ke system kolektifus; atau vascular ;trauma arteri atau vena ginjal segmental dengan hematoma atau laserasi pembuluh darah parsial atau thrombosis pembuluh darah
V Laserasi : ginjal hancur (remuk) ; atau vascular ;pedikel atau avulse ginjal.
Referensi
3. Purnomo B, 2003, Dasar-Dasar Urologi, edisi 2, hal.88.
4. Hohenfelnerr M et al, 2007, Emergencies in Urology, Heidelberg University, Medical School, Springer, hal. 206-207.
90. Sebagai seorang dokter, anda mendapat rujukan pasien dari tahanan. Pasien tersebut adalah pencopet yang tertangkap dan dipukuli oleh orang banyak. Malam harinya, di dalam tahanan, ia terejut melihat urinnya berwarna merah gelap. Apakah yang menyebabkan warna urin menjadi merah gelap?
a. Perdarahan ateri uretra
b. Perdarahan dari vesika urinaria c. Ginjalnya rusak terpukul
d. Adanya mioglobin dalam urin
e. Adanya darah yang terbuang bersama urin
Dalam mengevaluasi pasien yang memiliki urin berwarna merah (tampak gelap), hal pertama yang perlu dilakukan adalah anamnesis secara lengkap untuk menyingkirkan kemungkinan terjadinya false hematuria yang dapat terjadi karena hemoglobinuria, mioglobinuria, konsentrasi asam urat yang meningkat, sehabis mengkonsumsi makanan yang mengandung pigmen tumbuhan berwarna merah, atau setelah mengkonsumsi beberapa macam obat seperti fenotiazin, porfirin, rifampisin dan fenilftalein. Selain itu, yang juga harus disingkirkan adalah terjasinya perdarahan meatal (meatal bleeding) yang dapat terrjasi karen trauma (bukan urin berwarna merah).
Perdarahan yang berasal dari ginjal, ureter dan vesika urinaria baru dapat disingkirkan jika dilakukan pemeriksaan dipstik dan mikroskopik urin. Dimana hasilnya dapat berupa:
- Urin merah dengan dipstik (+) darah, mikroskopik (-) darah. Hal ini menunjukkan terjadinya hemoglobinuria/mioglobinuria.
- Urin merah dengan dipstik (+) darah dengan sel darah merah amorf (-). Hal ini menunjukkan perdarahan saluran kemih.
- Urin merah dengan dipstik (+) darah, mikroskopik (+) darah dengan sel darah merah amorf (+). Hal ini menunjukkan perdarahan glomerular.
Pada konteks kasus ini, terdapat riwayat pasien yang sebelumnya mengalami trauma otot berat (dipukuli) yang merupakan faktor resiko untuk terjadinya rabdomiolisis yang ditandai dengan terjadinya mioglobulinuria. Rabdomiolisis adalah sindrom klinis serrius yang terjadi akibat cedera otot skelet berat yang menyebebkan pelepasan mioglobulin otot dan isi sel otot lainnya, meliputi CK-MM dan aldolase ke dalam sistem sirkulasi darah. Adapun penyebab rabdomiolisis yang paling sering adalah trauma otot berat, luka bakar, infeksi, serta kejang.
Referensi:
1. Purnomo B, 2003, Dasar-dasar Urologi, edisi 2, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, halaman 190
2. Kliegman RM et al, 2007, Nalson Essentials of Pediatrics, 5th ed., Elsevier.
3. Wong SK, Yeung SD, 2001, Rhabdomyolysis After Marathon Run, Hongkong Journal of Emergency Medicine, 8:38-39.
4. Line RL et al, 1995, Acute Exertional Rhabdomyoliysis, American Family Phisican.
91. Seorang pria berrusia 42 tahun, setelah mengikuti lomba lari, suau hari kemudian urinnya berrwarna gelap (seperti teh). Tes dipstik urin menunjukkan glukosa (-), eritrosit (+), sel darah putih (-). Pada pemerriksaan urin mikroskopik tidak didapatkan darah. Kemungkinan yang terjadi adalah:
a. Hematuria b. Hipovolemik c. Rabdomiolisis d. Kurang minum e. Dehidrasi
Pada kasus ini pasien mengalami urin berwarna gelap setelah melakukan lomba lari. Pada pemeriksaan dipstik didapatkan darah (+). Namun pada pemeriksaan dipstik pada hemoglobinuria/mioglobinuria juga memberrikan hasil (+) darah, maka diagnosis bandingnya adlah post-exercise hematuria dan false hematuria (hamoglobinuria/mioglobinuria).
Post exercis hematuria dapat terjadi pada orang yang habis melakukan jenis olahraga tertentu seperti Marathon dan snowmobilling. Hal ini terjadi karena iritasi urin berkepanjangan selama masa aktivitas olahraga. Untuk membedakannya dengan false hematuria maka perlu dilakukan pemeriksaan mikroskopik urin. Pada kasus ini hasil pemeriksaan menunjukkan tidak didapatkannya darah pada pemerriksaan mikroskopik, maka diagnosisnya adalah false hematuria yang kemungkinan besar berupa mioglobinuria (rhabdomiolisis) karena adanya riwayat stress otot skelet berkepanjangan yang terjadi selama lomba lari.
Pada pelari Marathon, dapat terjadi rhabdomiolisis karena terrjaddi disfungsi intrinsik sel otot yang disebebkan adanya overstress sehingga memicu lepasnya mioglobin dan isi sel otot lainnya (CK-MM, aldolase) ke dalam sirkulasi darah yang kemudian diekskresi ke dalam urin
Di bawah ini adalah beberapa faktor resiko terkait aktivitas yang dapat memicu terjadinya rabdomiolidis:
Lingkungan
- Suhu ruangan yang tinggi - Kelembaban yang tinggi
- Konsumsi air minum yang tidak kuat - Ketinggian
Okupasional:
- Pelatihan militer
- Pekerjaan konstruksi dan bangunan
- Pekerjaan di ladang dan pekerjaan fisik lapangan lainnya
- Kerja fisik yang berhubungan dengan suhu tinggi atau menggunakan pakaian/perlengkapan pelindung
Rekreasional:
- Lari jarak jauh - Sepak bola - Angkat berat
- Olahraga berintensitas berat lainnya - Kondisi fisik yang buruk
- Olahraga sporadik Medis
- Sickle cell trait - Insufisiensi ginjal - Dehidrassi
- Fatig (kelelahan)
- Penyakit akibat virus yang barru dialami
- Penggunaan obat (aspirin dan agen antikoagulan) - Penggunaan kokain atau konsumsi alkohol Referrensi
1. Wong SK, Yeung SD, 2001, Rhabdomyolysis After Marathon Run, Hongkong Journal of Emergency Medicine, 8:38-39.
2. Parmar MS, 1999, Snowmobiler’s Hematuria, Internal Medicine, Timmins and District Hospital.
92. Seorang pria datang ke UGD karena sulit buang air kecil yang disertai dengan nyeri. Pada anamnesis didapatkan riwayat jatuh dari sepeda. Pada pemeriksaan fisik terjadi bloody discharge.
Tindakan yang tepat adalah..
a. Kateter b. Ureterografi c. Sistostomi d. Kateter kondom e. Diuetik
Pada kasus ini pasien mengalami bloody disccharge uretra (metal bleeding) diserrtai sulit buang air kecil . Pasien juga mengalami riwayat jatuh dari sepeda yang merupakan faktor resiko terjadinya straddle injury yang dapat mencederai uretra anterior. Pada kondisi seperti ini, hal pertama yang paling tepat dilakukan adalah sistostomi. Pemasangan kateter Foley tidak
disarankan karena dikhawatirkan dapat memperbuuk cedera uretra yang telah terjadi.
Uretrerografi dapat dilakukan setelah tindakan awal untuk menentukan diagnosis pasti.
Cedera pada uretra dapat berupa kontusio uretra atau ruptir uretra. Pada kontusio uretra, pasien mengeluh adanya perdarahan per uretra atau hematuria pada wal miksi (inisial hematuria). Jika terdapat robekan pada korpus spongiosum, dapat terlihat adanya hematoma padda penis (jika Fascia buck tidak robek) atau terjadi hematom pada skrotum berbentuk kupu-kupu (butterfly hematoma) jika fascia Buck robek dan hanya dibatasi fascia Colles. Pemerriksaan uterrografi pada kontusio uretra tidak menunjukkan adanya ekstravasasi kontras, sedangkan pada ruptur uretra menunjukkan adanya ekstravasasi.
Kontusio uretra tidak memerlukan kondisi khusus, tetapi mengingat cedera ini dapat menimbulkan striktur uretra di kemudian hari, maka setela 4-6 bulan perlu dilakukan pemeriksaan uretrografi ulangan. Padda ruptur uretra parsial dengan ekstravasasi ringan, cukup dilakukan sistostomi untuk mengalihkan aliran urin. Kateter sistostomi dipertahankan sampai 2 minggu dan dilepas setelah diyakinkan melalui pemeriksaan ureterografi bahwa tidak ada ekstravasasi kontras atau tidak timbul striktur uretra, maka perlu dilakukan reparasi terlebih dahulu.
Referensi
Purnomo B, 2003, dasar-dasar Urologi, edisi 2, hal. 99-101
93. Seorang anak berusia 6 tahun, seak 5 hari yang lalu matanya bengkak. Sejak 2 hari yang lalu ia demam dan ia mengalami nyeri pinggang. Menurut orangtuanya, urin anak ini keruh dan bergumpal. Pemeriksaan awal untuk menentukan dignosisnya adalah...
a. Ureum b. Kreatinin c. Keton urin d. Albumin urin e. Glukosa urin
Pada kasus ini apsien mengalami edema pada wajah, demam, serta nyri pinggang. Selai itu juga dikeluhkan bahwa urin pasien keruh dan bergumpal. Edema wajah pada anak serring dikaitkan dengan terjadinya proteinuria (sindrom nefrotik, dll) sehingga untuk memastikan perlu dilakukan pemeriksaan albumin/proterin urin. Mengenai keluhan urin keruh dan bergumpal, selain dimungkinkan disebabkan oleh proteinuria, juga sangat mungkin disebabkan oleh terjadinya piuria (urin bernanah) terkait dengan terjadinya deman dan nyeri pinggang yang dapat mengarahkan diagnosis kepada infeksi saluran kemih.
Urin keruh (cloudy urine) terjadi karena perubahan turbiditas urin, yang dapat disebabkan oleh: