• Tidak ada hasil yang ditemukan

KUMPULAN SOAL UKDI GENITOURINARIA

N/A
N/A
Wildan Ahmi

Academic year: 2024

Membagikan "KUMPULAN SOAL UKDI GENITOURINARIA "

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

KUMPULAN SOAL UKDI GENITOURINARIA

1. Seorang wanita 27 tahun, riwayat kontak seksual 3 hari yang lalu. Pasien mengeluh keluar nanah dari OUE warna kemerahan , bengkak, OUE terasa nyeri, dan terdapat demam. Diagnosis keadaan diatas adalah …

a. Sifilis

b. Limfogranuloma venerum c. Gonorrhoe

d. Ulkus molle

Pembahasan : gonore adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae. Pada infeksi gonore, gejala khas yang timbul adalah adanya pus yang mukopurulen, tanda tanda radang seperi kemerahan, bengkak dan demam. Penularannya melalui kontak seksual, dengan masa tunas yang singkat, umumnya 2-5hari.

2. Seorang laki laki 10 tahun, riwayat demam dan nyeri menelan sejak 5 hari yang lalu, lalu sejak 3 hari yang lalu BAK kurang dari 1 gelas/hari, nyeri pinggang , BUN (blood Urea Nitrogen) meningkat, laboratorium urin eritrosit (+), protein (+), diagnosis keadaan diatas adalah …

a. Glomerulonefritis akut b. Sindroma nefrotik c. Uretritis

d. Gagal ginjal kronis

Pembahasan : glomerulonefritis akut biasanya didahului oleh infeksi ekstra renal, terutama di traktus respiratorius bagian atas oleh kuman streptococcus beta hemoliticus tipe A. antara infeksi dan timbulnya glomerulonefritis akut terdapat masa laten selama kurang dari 10 hari.

Pada pemeriksaan laboratorium akan ditemukan proteinuria (+), hematuria (+), jumlah urin menurun dan berat jenis urin meninggi, dapat ditemukan juga albumin, eritrosit leukosit, silinder leukosit dan hialin. Albumin serum sedikit menurun, ureum dan kreatinin meningkat.

3. Seorang anak perempuan 6 tahun datang dengan keluhan BAK kurang. Riwayat diare dan muntah muntah sejak 3 hari yang lalu. Ayahnya kemudian mempuasakan anaknya dari makan dan minum.

Hari ini anaknya minum air > 7 liter tetapi BAK tetap sedikit. Diagnosis yang tepat adalah … a. Gagal ginjal akut

b. Gagal ginjal kronik

c. Gagal ginjal akut dan kronis

(2)

d. Glomerulonefritis

Pembahasan :

gagal ginjal akut adalah suatu penyakit dimana ginjal secara tiba-tiba kehilangan kemampuan untuk mengekskresikan sisa-sisa metabolisme. Berjalan cepat dalam hitungan hari-minggu dan berkaitan dengan penyakit kritis, biasanya bersifat reversible bila penderita dapat bertahan dengan penyakit kritisnya.

Etiologinya karena hipovolemi, hipotensi, penurunan curah jantung dan gagal jantung kongestif, obstruksi ginjal atau traktus urinarius bagian bawah, dan obstruksi vena atau arteri bilateral ginjal. Secara khusus terbagi menjadi tiga :

 Factor prarenal

Semua factor yg menyebabkan peredaran darah ke ginjal berkurang dengan terdapatnya hipovolemi, misalnya perdarahan karena trauma operasi, dehidrasi atau berkurangnya volume cairan ekstra seluler (dehidrasi pada diare), berkumpulnya cairan interstitial pada suatu daerah luka (kombusio, peritonitis).

 Factor renal

Gangguan koagulasi intravascular seperti sindroma hemolitik uremik, glomerulopati, neoplastik, nekrosis ginjal akut, pielonefritis akut.

 Factor pascarenal

Obstruksi dibagian distal ginjal Gejala klinis pada GGA adalah

 Gejala uremia : mual, muntah, anoreksia, drowsiness, atau kejang

Ologuria atau anuria (<300 ml/m2/ hari atau <1ml/kgBB/jam)

 Hipertensi

 Tanda tanda obstruksi saluran kemih misalnya pancaran urin yang lemah, menetes atau adanya massa pada palpasi abdomen

 Adanya keadaan keadaan yang merupakan factor predisposisi GGA, misalnya diare dengan dehidrasi berat, penggunaan aminoglikosida, khemoterapi

4. Anak 6 tahun sejak 5 hari yang lalu bengkak pada matanya, sejak 2 hari yang lalu disertai panas badan dan nyeri pinggang. Menurut orang tuanya, kencing keruh dan bergumpal. Pemeriksaan awal untuk tentukan diagnosis adalah …

a. Ureum b. Kreatinin c. Albumin urin

(3)

d. Glukosa urin

Pembahasan : pemeriksaan yang tepat adalah Albumin urine, untuk menilai adakah molekul albumin di dalam air seni. Bengak/oedem ini timbul karena kurangnya kadar protein albumin dalam darah, sehingga tekanan osmotic di dalam pembuluh darah semakin berkurang. Hal ini menyebabkan cairan yang ada di pembuluh darah akan merembes ke jaringan jaringan lain di luar pembuluh darah sehingga timbulah oedem/bengkak.

5. Pria usia 50 tahun tidak mempunyai anak setelah menikah selama 5 tahun, ditemukan tanda tanda pubertas sekunder, penis berukuran normal, teraba 1 testis pada scrotum kanan, teraba benjolan ukuran 3x4 di inguinal kiri. Diagnose?

a. Kriptokismus b. Tumor penis c. Karsinoma prostat d. Hidrokel

Pembahasan : kriptokismus adalah suatu keadaan testi tidak berada didalam kantong skrotum (maldesensus)tetapi masih dalam jalur yang normal (kanalis inguinalis). Manifestasi yang timbul biasanya karena tidak terabanya testis dalam skrotum, pada pasien dewasa biasanya menegeluh infertilitas, pada inspeksi region skrotum terlihat hipoplasia kulit skrotum karena tidak pernah ditempati oleh testis, pada palpasi testis tidak teraba di kantong skrotum melainkan berada di inguinal.

6. Seorang anak laki-laki berusia 2 tahun, dibawa ibunya ke dokter dengan keluhan beberapa hari buang air kecil kemerahan, pusing, mual. Saat diperiksa penderita demam, kelopak mata sedikit sembab dan hipertensi. Hasil pemeriksaan laboratorium urin didapatkan warna kuning kemerahan, eritrosit +3, protein (-). Pada pemeriksaan darah didapatkan komplemen C3 menurun. Apakah diagnosis yang paling mungkin?

A. Sistitis B. Nefritis C. Pyelonefritis D. Glomerulonefritis E. Sindrom nefrotik Pembahasan : Gejala Klinis

Gambaran klinis dapat bermacam-macam. Kadang-kadang gejala ringan tetapi tidak jarang anak datang dengan gejala berat.. Kerusakan pada rumbai kapiler gromelurus mengakibatkan

(4)

hematuria/kencing berwarna merah daging dan albuminuria, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Urine mungkin tampak kemerah-merahan atau seperti kopi Kadang-kadang disertai edema ringan yang terbatas di sekitar mata atau di seluruh tubuh. Umumnya edema berat terdapat pada oliguria dan bila ada gagal jantung. Edema yang terjadi berhubungan dengan penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG/GFR) yang mengakibatkan ekskresi air, natrium, zat-zat nitrogen mungkin berkurang, sehingga terjadi edema dan azotemia. Peningkatan aldosteron dapat juga berperan pada retensi air dan natrium. Dipagi hari sering terjadi edema pada wajah terutama edem periorbita, meskipun edema paling nyata dibagian anggotaGFR biasanya menurun (meskipun aliran plasma ginja biasanya normal) akibatnya, ekskresi air, natrium, zat-zat nitrogen mungkin berkurang, sehingga terjadi edema dan azotemia. Peningkatan aldosteron dapat juga berperan pada retensi air dan natrium. Dipagi hari sering terjadi edema pada wajah terutama edem periorbita, meskipun edema paling nyata dibagian anggota bawah tubuh ketika menjelang siang.

Derajat edema biasanya tergantung pada berat peradangan gelmurulus, apakah disertai dnegan payah jantung kongestif, dan seberapa cepat dilakukan pembatasan garam

Gambar 7.proses terjadinya proteinuria dan hematuria

Hipertensi terdapat pada 60-70% anak dengan GNA pada hari pertama, kemudian pada akhir minggu pertama menjadi normal kembali. Bila terdapat kerusakan jaringan ginjal, maka tekanan darah akan tetap tinggi selama beberapa minggu dan menjadi permanen bila keadaan penyakitnya menjadi kronis. Suhu badan tidak beberapa tinggi, tetapi dapat tinggi sekali pada hari pertama.

Kadang-kadang gejala panas tetap ada, walaupun tidak ada gejala infeksi lain yang mendahuluinya. Gejala gastrointestinal seperti muntah, tidak nafsu makan, konstipasi dan diare tidak jarang menyertai penderita GNA

Hipertensi selalu terjadi meskipun peningkatan tekanan darah mungkin hanya sedang. Hipertensi terjadi akibat ekspansi volume cairan ekstrasel (ECF) atau akibat vasospasme masih belum diketahui dengna jelas.

2.3.6. Gambaran Laboratorium

Urinalisis menunjukkan adanya proteinuria (+1 sampai +4), hematuria makroskopik ditemukan hampir pada 50% penderita, kelainan sedimen urine dengan eritrosit disformik, leukosituria serta torak selulet, granular, eritrosit(++), albumin (+), silinder lekosit (+) dan lain-lain. Kadang-

(5)

kadang kadar ureum dan kreatinin serum meningkat dengan tanda gagal ginjal seperti hiperkalemia, asidosis, hiperfosfatemia dan hipokalsemia. Kadang-kadang tampak adanya proteinuria masif dengan gejala sindroma nefrotik. Komplomen hemolitik total serum (total hemolytic comploment) dan C3 rendah pada hampir semua pasien dalam minggu pertama, tetapi C4 normal atau hanya menurun sedikit, sedangkan kadar properdin menurun pada 50% pasien.

Keadaan tersebut menunjukkan aktivasi jalur alternatif komplomen

Penurunan C3 sangat mencolok pada pasien glomerulonefritis akut pascastreptokokus dengan kadar antara 20-40 mg/dl (harga normal 50-140 mg.dl). Penurunan C3 tidak berhubungan dengann parahnya penyakit dan kesembuhan. Kadar komplomen akan mencapai kadar normal kembali dalam waktu 6-8 minggu. Pengamatan itu memastikan diagnosa, karena pada glomerulonefritis yang lain yang juga menunjukkan penuruanan kadar C3, ternyata berlangsung lebih lama.

Adanya infeksi sterptokokus harus dicari dengan melakukan biakan tenggorok dan kulit. Biakan mungkin negatif apabila telah diberi antimikroba. Beberapa uji serologis terhadap antigen sterptokokus dapat dipakai untuk membuktikan adanya infeksi, antara lain antisterptozim, ASTO, antihialuronidase, dan anti Dnase B. Skrining antisterptozim cukup bermanfaat oleh karena mampu mengukur antibodi terhadap beberapa antigen sterptokokus. Titer anti sterptolisin O mungkin meningkat pada 75-80% pasien dengan GNAPS dengan faringitis, meskipun beberapa starin sterptokokus tidak memproduksi sterptolisin O.sebaiknya serum diuji terhadap lebih dari satu antigen sterptokokus. Bila semua uji serologis dilakukan, lebih dari 90% kasus menunjukkan adanya infeksi sterptokokus. Titer ASTO meningkat pada hanya 50% kasus, tetapi antihialuronidase atau antibodi yang lain terhadap antigen sterptokokus biasanya positif. Pada awal penyakit titer antibodi sterptokokus belum meningkat, hingga sebaiknya uji titer dilakukan secara seri. Kenaikan titer 2-3 kali berarti adanya infeksi.

Krioglobulin juga ditemukan GNAPS dan mengandung IgG, IgM dan C3. kompleks imun bersirkulasi juga ditemukan. Tetapi uji tersebut tidak mempunyai nilai diagnostik dan tidak perlu dilakukan secara rutin pada tatalaksana pasieN.

7. Seorang laki-laki berusia 72 tahun datang dengan keluhan sulit kencing. Pemeriksaan

fisik didapatkan retensi urin, vesica urinaria penuh dan nyeri tekan (+). Pada direct rectal touche (DRE) diduga terdapat pembesaran prostat. Pasien dapat kencing setelah dipasang katheter.

Direncanakan pemeriksaan radiologis ultrasonografi abdomen bawah. Apakah persiapan yang diperlukan?

A. puasa makan dan minum

B. diet rendah lemak 2 hari sebelum pemeriksaan

C. minum banyak, menahan kencing (katheter di klem)

(6)

D. tanpa persiapan E. tes alergi Pembahasan:

Usg abdomen adalah salah satu pemeriksaan usg yang memerlukan persiapan sebelum dilakukan pemeriksaan.

Adapaun persiapan pemeriksaan Usg abdomen di rumah sakit pupuk kaltim adalah sebagai berikut - 6 jam sebelum pemeriksaan, puasa tidak boleh makan, tapi diperbolehkan untuk minum air putih - Kurang lebih satu jam sebelum pemeriksaan diusahakan untuk menahan kencing

8. Seorang laki-laki berusia 61 tahun datang dengan keluhan nyeri pinggang kanan. Pasien sudah membawa hasil laboratorium urin menunjukkan Ca oksalat +++, kreatinin 1,31 mg /dl. Pada pemeriksaan ultrasonografi didapatkan pelebaran sistema pelvico calices dextra. Dokter merujuk pasien untuk pemeriksaan lebih lanjut. Apakah pemeriksaan penunjang lanjutan yang dibutuhkan?

A. urethrografi

B. pielografi anterograd C. pielografi retrograd D. pielografi intra vena E. cystografi

Pembahasan

Untuk mendiagnosis pasien dengan batu staghorn pada ginjal tetap kita lakukan secara sistematis mulai dari anamnesis, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan radiologi, laboratoriun, dan pemeriksaan penunjang yang lainnya agar kita dapat menegakkan diagnosis dari penyakit ini

Dari anamnesis kita bisa mendapatkan gejala klinik sesuai dengan keluhan pasien, seperti nyeri pinggang yang bisa berupa nyeri kolik atau non kolik.

Pada pemeriksaan fisis kita bisa menemukan adanya nyeri ketok pada daerah kosto-vertebral, pada palpasi ginjal pada sisi sakit dapat teraba akibat telah terjadi hidronefrosis, terlihat tanda-tanda gagal ginjal pada fase lanjut, anuria, dan jika disertai infeksi didapatkan demam/menggigil

Pada pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mencari kelainan pada saluran kencing yang dapat menunjang adanya batu di saluran kemih, menentukan fungsi ginjal, dan menentukan sebab terjadinya batu. pada pasien ini kita bisa menemukan adanya bakteriuria atau piuria, dapat ditemukan leukosit pada urinalisis, bisa juga ditemukan hematuri pada pemeriksaan mikroskopik urin, Ph urin menjadi alkalis, dan pada pemeriksaan kultur urin dapat diidentitifikasi organisme atau bakteri yang memproduksi urea pada pasien dengan staghorn calculi yang disebabkan oleh batu struvit. Pada pemeriksaan darah rutin dapat

(7)

ditemukan peningkatan leukosit jika disertai dengan infeksi saluran kemih. Untuk mengevaluasi fungsi ginjal kita dapat memeriksa ureum kreatinin, ini dapat meningkat jika terjadi gangguan pada ginjal dimana fase lanjut dari batu staghorn ini dapat menyebabkan hidronefrosis dan akhirnya terjadi gagal ginjal dan untuk mempersiapkan pasien menjalani pemeriksaan radiologi IVP. Perlu juga diperiksa kadar elektrolit yang diduga sebagai faktor penyebab timbulnya batu (antara lain kadar: kalsium, oksalat, fosfat, maupun urat dalam darah maupun di dalam urin

Pada pemeriksaan radiologi dapat ditemukan gambaran rediopak pada foto polos abdomen (BNO) pada ginjal dan pada pemeriksaan Intra Venous Pyelografi (IVP) dengan menggunakan kontras dapat ditemukan dilatasi dari pelvis renalis dan dilatasi dari kaliks minor karena obstruksi dan penurunan kontras ke ureter hingga buli-buli terganggu. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai keadaan anatomi dan fungsi ginjal. Pemeriksaan USG dikerjakan apabila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan IVP, yaitu pada keadaan-keadaan: alergi terhadap bahan kontras, faal ginjal yang menurun dimana ini dapat dilihat dari kadar serum kreatinin yang > 3, dan pada wanita yang sedang hamil.

Seorang laki-laki berusia 41 tahun datang ke dokter dengan keluhan utama nyeri perut, bersifat hilang timbul pada daerah pinggang kanan atas, disertai mual, muntah dan jumlah buang air kecil berkurang.

Dari hasil laboratorium darah didapatkan ureum 51.8, kreatinin 4.39. Hasil laboratorium urin diperoleh sedimen kalsium oksalat +2, sel epitel 2-4/LP, dan eritrosit pucat 3-4/LP. Apakah diagnosis yang paling mungkin?

A. nephrolithiasis B. urethrolithiasis C. cholelithiasis D. vesicolithiasis E. pankreatitis Pembahasan

Nefrolitiasis merupakan kristalisasi dari mineral dan matriks seperti pus darah, jaringan yang tidak vital dan tumor. Komposisi dari batu ginjal bervariasi, kira-kira tiga perempat dari batu adalah kalsium, fosfat, asam urin dan cistien.peningkatan konsentrasi larutan akibat dari intake yang rendah dan juga peningkatan bahan-bahan organic akibat infeksi saluran kemih atau urin ststis sehingga membuat tempat untuk pembentukan batu. Ditambah dengan adanya infeksi meningkatkan kebasaan urin oleh produksi ammonium yang berakibat presipitasi kalsium dan magnesium pospat

Manifestasi klinis:

1. Nyeri dan pegal di daerah pinggang

Lokasi nyeri tergantung dari dimana batu itu berada. Bila pada piala ginjal rasa nyeri adalah akibat dari hidronefrosis yang rasanya lebih tumpul dan sifatnya konstan. Terutama timbul pada costoverteral

(8)

2. Hematuria

Darah dari ginjal berwarna coklat tua, dapat terjadi karena adanya trauma yang disebabkan oleh adanya batu atau terjadi kolik

3. Infeksi

Batu dapat mengakibatkan gejala infeksi traktus urinarius maupun infeksi asistemik yang dapat menyebabkan disfungsi ginjal yang progresif.

4. Kencing panas dan nyeri

5. Adanya nyeri tekan pada daerah ginjal

PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Urin

a. PH lebih dari 7,6

b. Sediment sel darah merah lebih dari 90%

c. Biakan urin

d. Ekskresi kalsium fosfor, asam urat 2. Darah

a. Hb turun b. Leukositosis c. Urium krestinin

d. Kalsium, fosfor, asam urat

9. Seorang perempuan berusia 27 tahun datang ke dokter dengan nyeri abdomen akut. Untuk menyingkirkan kemungkinan kehamilan ektopik dilakukan pemeriksaan urin untuk hormon beta hCG (ßhCG). Apakah contoh bahan urin terbaik untuk kondisi tersebut?

A. urin acak B. urin tampung C. urin pancar tengah D. urin malam hari E. urin pagi hari Pembahasan

Jenis sampel urine :

Urine sewaktu/urine acak (random)

Urine sewaktu adalah urine yang dikeluarkan setiap saat dan tidak ditentukan secara khusus.

Mungkin sampel encer, isotonik, atau hipertonik dan mungkin mengandung sel darah putih,

(9)

bakteri, dan epitel skuamosa sebagai kontaminan. Jenis sampel ini cukup baik untuk pemeriksaan rutin tanpa pendapat khusus.

Urine pagi

Pengumpulan sampel pada pagi hari setelah bangun tidur, dilakukan sebelum makan atau menelan cairan apapun. Urine satu malam mencerminkan periode tanpa asupan cairan yang lama, sehingga unsur-unsur yang terbentuk mengalami pemekatan. Urine pagi baik untuk pemeriksaan sedimen dan pemeriksaan rutin serta tes kehamilan berdasarkan adanya HCG (human chorionic gonadothropin) dalam urine.

Urine tampung 24 jam

Urine tampung 24 jam adalah urine yang dikeluarkan selama 24 jam terus-menerus dan dikumpulkan dalam satu wadah. Urine jenis ini biasanya digunakan untuk analisa kuantitatif suatu zat dalam urine, misalnya ureum, kreatinin, natrium, dsb. Urine dikumpulkan dalam suatu botol besar bervolume 1.5 liter dan biasanya dibubuhi bahan pengawet, misalnya toluene.

10. Seorang laki-laki berusia 20 tahun dibawa ke UGD setelah mengalami kecelakaan lalu lintas.

Pasien juga mengeluh tidak dapat kencing. Dari pemeriksaan fisik didapatkan adanya hematoma penis dan perineum dan terdapat kesan vesika urinaria penuh. Apakah tindakan yang paling tepat untuk mengatasi keluhan tersebut?

A. kateterisasi

B. pungsi supra pubik C. diuretika

D. antibiotika E. analgesika Pembahasan:

RETENSIO URINE

Keadaan dimana penderita tidak dapat mengeluarkan urin yangterkumpul di dalam vesica urinaria sehingga kapasitas maksimal darivesica urinaria terlampaui

(10)
(11)

11. Seorang laki-laki berumur 34 tahun datang ke dokter dengan keluhan kencing sedikit. Pasien tersebut seminggu sebelumnya mendapat injeksi derivat aminoglikosida untuk suatu prediksi infeksi saluran kemih. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 120/80 mmHg, suhu 370C, denyut nadi 100x/menit, frekuensi napas 24x/menit. Hasil pemeriksaan urin rutin adalah protein (++) dan hematuria gros. Hasil pemeriksaan kadar kreatinin 7 mg/dl dan kadar ureum 200 mg/dl. Satu bulan yang lalu, kadar kreatinin pasien adalah 1,2 mg/dl dan ureum 45 mg/dl. Apakah diagnosis yang paling mungkin?

A. Gagal ginjal akut nefrotoksik B. Nefritis interstisial kronik C. Glomerulonefritis akut D. Glomerulonefritis kronik E. gagal ginjal kronik

‘Pembahasan

Ginjal merupakan organ yang sensitif. Kerusakan ginjal dapat diakibatkan oleh obat-obatan, kejadiannya dapat mengakibatkan morbiditas dan mortalitas yang bermakna. Banyak obat diduga menyebabkan kerusakan ginjal dan spektrum nefrotoksik akibat obat sangatlah luas. Rentang spektrum ini dapat dimulai dari perubahan reversibel sampai pada nekrosis ginjal akut yang fatal. Berikut ini adalah obat- obat penginduksi nefrotoksik yang mempunyai prevalensi paling sering

1. Aminoglikosida: Gentamisin, Tobramisin

2. Aminoglikosida: Gentamisin, Amikasin Tipe

Kerusakan

Mekanisme Aksi Prevalensi Keterangan

Neksrosis Pengikatan sel 12% pasien Dosis 1580 mg (800-2880mg) dari Tipe

Kerusakan

Mekanisme Aksi

Prevalensi Keterangan

Nekrosis tubulus proximal.8

Akumulasi aminoglikosida pada tubulus proximal ginjal.6

Dari 72 subyek uji, 19 orang (26%) mengalami nefrotoksisitas setelah pemberian gentamisin.

Dari 74 subyek uji 9 orang

(12%) mengalami

nefrotoksisitas setelah pemberian tobramisin.8

Aminoglikosida dimetabolisme secara utuh di hati dan dieliminasi melalui glomerulus. 5% hasil eliminasi diabsorbsi kembali oleh tubulus proximal sehingga konsentrasi dalam tubulus meningkat dan menimbulkan nekrosis tubulus. Penggunaan aminoglikosida selama lebih dari 7 hari dapat menyebabkan peningkatan 30%

serum kreatinin.6

(12)

tubulus proximal.

membran tubulus proximal kemudian penetrasi kedalam

sel dan

terakumulasi di tubulus proximal.11

mengalami

nefrotoksik karena gentamisin.

16% pasien

mengalami

nefrotoksik karena amikasin.11

gentamisin sudah menimbulkan nefrotoksik dengan lama pemberian 10 hari (7-14 hari). Amikasin dengan dosis 7,5 g (5,5-11g) dengan lama pemberian 10 hari (6-14 hari).

Nefrotoksik timbul setelah 7 hari pemberian gentamisin dan amikasin.

12. Pemberian obat yang tepat pada pasien dewasa dengan diagnosis inkontentinesia urin adalah a. Estrogen

b. Muscle relaxan c. Diuretika d. Beta bloker e. Digitalis Pembahasan :

Inkontensia urin adalah keluarnya urine di luar kemauan seseorang tanpa ia dapat mengendlikan dan menahannya. Penatalaksanaan terdiri atas pengobatan penyakit penyebabnya bila ada.

Hiperaktivitas detrusor dapat dihambat dengan parasimpatolitik, seperti probantin atau antrenil.

Kadang digunakan juga latihan kandung kemih.

Jawaban C diuretika

13. Seorang anak laki-laki berusia 8 tahun, dibawa ke tempat praktik dokter. Rencananya, ia akan disirkumsisi. Namun, pada pemeriksaan fisik, preputium tidak dapat ditarik ke belakang dan balanitis (-). Tindakan yang paling tepat dilakukan adalah

a. Steroid topikal

b. Preputium ditarik paksa c. Dorsal slit

d. Sirkumsisi langsung e. Observasi

Pembahasan :

Fimosis harus ditangani dengan sirkumsisi. Sebaiknya, dilakukan sayatan dorsal terlebih dahulu yang disusul dengan sirkumsisi sempurna

Jawaban D sirkumsisi langsung

14. Seorang laki-laki berusia 20 tahun datang ke sebuah rumah sakit dengan keluhan utama keluar cairan kental nanah dari kemaluannya. Tidak ada rasa sakit di daerah prostat. Pekerjaannya supir truk antarkota dan antarprovinsi. Pada pemeriksaan tanda vital didapatkan tekanan darah 120/80

(13)

mmHg, denyut nadi 80 kali/menit, ferkuensi nafas 20 kali/menit dan suhu 36,8 derajat celcius.

Pemeriksaan mikroskopis pada discharge ditemukan banyak leukosit dan netrofil. Tapi, tidak ditemukan bateri. Diagnosa apa yang paling mungkin dengan informasi tersebut?

a. Non gonococa uretritis b. Uretritis gonococal c. Sistitis interstisialis d. Sistitis acute e. Prostatitis acute Pembahasan :

Gejala klinik dari uretritis

 Rasa gatal dan panas di bagian distal uretra di sekitar orifisium uretra eksternum.

 Disuria, polikisuria

 Keluah duh dari ujung uretra yang kadang-kadang disertai darah.

 Nyeri saat ereksi

 Pada pemeriksaan tampak orifisium uretra eksternum eritematosa, edematosa, dan ektopion.

Tampak duh yang mukopurulen.

 Dapat terjadi pembesaran kelenjar getah bening inguinal unilateral atau bilateral.

Uretritis ini bukan disebabkan oleh bakteri karena tidak ditemukan banyak leukosit dan netrofil Jawaban A Non gonococal uretritis (ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, edisi ketiga, hal. 343-349) 15. Seorang laki-laki berusia 38 tahun datang ke puskesmas. Denan keluhan luka-luka kesil di

kemaluan disertai rasa perih dan gatal, setelah berhubungan dengan pekerja seks komersial.

Empat bulan yang lalu juga mengalami hal yang sama setelah sepuluh hari berhubungan dengan pekerja seks komersial. Keluhan juga disertai dengan demam dann sakit pinggang. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 120/80 mmHg, denyut nadi 80 kali /menit, frekuensi napas 20 kali/ menit dan suhu 36,8 derajat celcius. Terdapat uulkus keil. Multipel, vesikel dikorpus penis dan vesikel ada yang ditutupi oleh pus. Apa diagnosanya?

a. Ulkus mole b. Ulkum durum

c. Herpes geniital rekuren d. Liken planus

e. Gonore Pembahasa :

Manifestasi klinik pada herpes genital adalah adanya gejala sistemik seperti demam, malaise, anoresia dan pembngkakan kelenjar getah bening regional setelah masa infeksi, kira-kira tiga minggu. Kelainan klinis dijumpai berupa vesikel yang berkelompok di atas kulit yang semab dan

(14)

eritenatosa. Dapat menjadi krusta dan kadang-kadang mengalami ulserasi dangkal yang sembuh tanpa sikatrik.

Pada infeksi rekuren, vius herpes simpleks pada ganglion dorsalis dalam keadaan tidak aktif.

Manifestasi klinisnya berua demam, infeksi, kurang tidur, dan gangguan emosional. Gejala klinik yang timbul lebih riingan dari infeksi primer dan berlangsung 7-10 hari. Sering ditemukan gejala prodormal lokal sebelum pada tempat yang sama.

Jawaban C Herpes Genital Rekuren (ilmu penyakit kulit dan kelamin, edisi ketiga, ha. 355-357) 16. Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun memilik riwayat demam dan nyeri menelan sejak kurang

lebih 5 hari yang lalu. Kemudian, kurang lenih 3 hari yang lalu, BAK si anak kurang dari segelas/

har, nyeri pinggang, BUN meningkat, anoratorium urine eritrosit (+), protein (+), dan silinder (+).

Dignosis keadaan di atas adalah a. Glomerulonefritis akut b. Sindroma nefrotik c. ISK

d. Sindroma nefritis akut e. Gagal ginjal akut Pembahasan :

Pada pasien ana dengan riwayat ISPA, mengalami keluhan kencing sedikit, lanoratorium urine protein (+), silinder (+), dan eritrosit (+) merupakan manifestasi dari penyakit glomerulonefritis aku yang terjadi akibat infeksi kuman sterptokokus.

Jawaban A Glomerulonefritis Akut. (Kapita Selekta Kedokteran Jilid I)

17. Seorang anak perempuan berusia 6 tahunn dibawa ke dokter dengan keluhan BAK kurang.

Riwayat diare dan muntah-muntah kurang lebih 3 hari yang alu. Ayahnya kemudian mempuasakan ananknya. Hari ini anaknya minum air >7 liter, tetapi BAK sedikit. Diagnosis keadaan ini adalah

a. Gagal ginjal akut b. Gagal ginjal kronis

c. Gagal ginjal akut dan kronis d. Sindroma neftrotik

e. Sindroma nefritis akut Pembahasan :

Gejala klinis GGA ditandai dengan pucat (anemia), edema, hipertensi, oligouria hingga 10-30 ml/

hari, gagal jantung kongestif, edema paru, serta kesadaran menurun hingga koma

Jawaban A GGA (kapita selekta kedokteran jilid II; Bab VI ilmu kesehatan anak, hal. 491)

(15)

18. Seorang pria berusia 50 tahun mengalami kolik abdomen kanan atas. Dan urinnya berwarna kemerahan. Kolik yang dirasakan tidak menyebar. Pada foto polos abdomen terdapat banyak gambaran radio-opaq berukuran 1 cm disubkostal XII kanan. Diagnosis kelainan ini adalah…

a. Kolelithiasis b. Hepatolithiasis c. Nefrolithiasis kanan d. Ureterolithiasis

e. Abses hati yang mengalami klasifikasi pembahasan

Kata kunci :

a. pria berusia 50 tahun

b. kolik abdomen kanan atas ginjal, hepar, kandung empedu, ureter c. urinnya berwarna kemerahan ginjal, hepar, kandung empedu, ureter d. Kolik yang dirasakan tidak menyebar ureter, ginjal.

e. foto polos abdomen terdapat banyak gambaran radio-opaq berukuran 1 cm disubkostal XII kanan àginjal.

Jadi diagnosis pada kasus ini kemungkinan adalah nefrolithiasis kanan (c)

19. Seorang pria berusia 30 tahun , sudah menikah selama 5 tahun namun belum mempunyai anak, memiliki tanda-tanda seks sekunder (+), bentuk dan ukuran penis normal , ada benjolan di inguinal kanan berukuran 4x3 cm. Kemungkinan diagnosanya adalah ...

a. Kriptorkismus b. Hernia inguinalis c. Varikokel

d. Torsio testis e. Hidrokel Jawaban A Pembahasan

Pasien mengalami infertilitas dan ada benjolan padda daerah inguinal sesuai testis normal orang dewasa (4x3x2,5 cm). Diagnosa banding utama pada kasus ini adalah kriptokismus dan hernia inguinalis. Karena keluhan utama pasien berupa infertilitas (bukan keluhan gastrointestinal), maka lebih dipikirkan untuk terjadi kriptokismus. Diagnosa akan lebih kuat jika pemeriksaan skrotum tidak teraba adanya penis.

Referensi

(16)

Purnomo B, 2003, Dasar-dasar Urologi, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, edisi 2, hal.

138-142.

Tanagho E et al, 2004, Smith’s General Urology, 16th ed., hal. 13.

20. Seorang anak laki-laki usia 3 tahun dibawa oleh orangtuanya ke dokter karena didapatkan pembesaran pada testis kanannya. Pada palpasi terdapat nodul yang berbatas jelas berdiameter 3 cm pada testis kanan tersebut. Pada pemeriksaan histopatologi pada nodul setelah di oprasi, tampak sel-sel ganas yang tersusun sebagai lembaran-lembaran maupun bentukan-bentukan kelenjar. Sel-sel tersebut berbentuk kuboidal, serta didapatkan bentukan hialin globul pada beberapa kelenjar. Selain itu, terdapat pula bentukan-bentukan mikrokista dan gromeruloid primitif. Jenis tumor testis apakah yang mungkin diderita oleh anak ini ?

a. Tumor yolk sac b. Koriokarsinoma c. Seminoma

d. Tumor sel Leydig e. Teratoma

Jawaban A Pembahasan

Tumor yolk sac : terdiri atas sel tumor kuboid tersusun sebagai jaringan mirip renda (retikular), daerah padat (solid) dan papil juga dapat ditemukan. Struktur mirip gromerulus primitif, disebut sinus endodermal ditemukan pada 50% kasus. Globul hialin eosinofilik yang mengandung alfa- fetoprotein dan alfa-1-antitripsin yang imunoreaktif di dalam dan disekitar sel tumor.

Referensi

Robins et al, 1996, Dasar Patologi Penyakit, edisi 5, EGC, hal. 607-611

21. Seorang pria usia 70 tahun mengalami sulit buang air kecil, pemeriksaan IVP menunjukkan adanya indentasi pada bagian bawah vesika urinaria. Diagnosa yang paling mungkin adalah ...

a. Karsinoma prostat b. Tumor buli-buli c. Hiperplasia prostat d. Tumor rektum e. Sistiyis kronis Jawaban C

Pembahasan

McNeal telah mempublikasikan konsep zona anatomi pada prostat. Tiga zona terpisah telah diidentifikasi. Zona ini meliputi zona perifer, zona sentral dan zona transisional yang masing- masing secara berturut-turut menyusun volume prostat pria dewasa sebanyak 70 %, 25%, dan 5%.

(17)

Pembesaran prostat jinak (benign prostatic hyperplasia, BPH) rata-rata berasal dari zona transisional. Oleh karena itu , pada pemeriksaan IVP dapat menimbulkan gambaran indentasi vesika urinaria (karena posisi zona transisional dekat dengan perlekatan uretra dan vesika).

Referensi

Tanagho E et al, 2004, Smith’s General Urology, 16th ed., hal. 367-368.

Purnomo B, 2003, Dasar-dasar Urologi, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, edisi 2, hal. 173-174.

22. Seorang wanita berusia 40 tahun datang ke dokter karena keluhan kolik abdomen kiri sejak tadi malam, yang menjalar sampai ke selangkangan. Pada pagi harinya, tampak urin penderita bercampur darah. Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan adanya kelainan patologis pada tubuhnya. Kelainan apakah yang paling mungkin diderita oleh pasien ini ?

a. Sinusitis akut b. Batu ureter c. Hidronefrosis

d. Penyakit ginjal polikistik e. Karsinoma sel ginjal Jawaban B

Pembahasan

Kolik adalah sensasi nyeri yang timbuk akibat kontraksi (spasme) dinding organ berrongga yang meningkat dalam rangka mengeluarkan sumber obstruksi. Kolik yang terjadi pada ureterolitiasis biasanya memberikan sensasi neri alih (refferet pain) yang terjadi sesuai dengan segmen ureter yang mengalami obstruksi. Obstriksi ureter 1/3 prokimal memberikan nyeri alih pada testis (testicular pain), ureter 1/3 media memberikan nyeri alih pada daerah setinggi McBurney (kanan)/contra McBurney (kiri) (dianosis banding apendisitis/divertikulitis), sedangkan uterer 1/3 distal memberikan nyeri alih pada dinding skrotum atau vulva pada wanita.

Karena pasien mengalami kolik yang menyebar pada selangkangan (vulva), maka diperkirakan pasien mengalami ureterolitiasis pada segmen 1/3 distal.

Referensi

Purnomo B, 2003, Dasar-dasar Urologi, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, edisi 2, hal.

31-32, 265.

Tanagho E et al, 2004, Smith’s General Urology, 16th ed., hal. 62.

23. Seorang pria berumur 18 tahun yang menerima pengobatan untuk infeksi HIV menderita myalgia (linu otot/pegal‐pegal). Kreatinin dalam darahnya 1,2 mg/dl, dengan kreatinin fosfokinasenya

(18)

7,400 U/L. Hasil dipstick analisis urinnya positif ada darah, tapi hanya ada 2‐4 sel darah merah perlapang pandang mikroskop dengan perbesaran tinggi.

Manakah obat‐obat dibawah ini yang paling terkait dengan gagal ginjal akutnya (Acute Renal Failure)?

A. Acyclovir B. Adefovir C. Cidovofir D. Foscarnet E. Zidovudin

Jawaban yang benar adalah E.

Frekuensi rhabdomiolisis meningkat pada infeksi HIV. Beberapa faktor ikut berperan, termasuk penggunaan alkohol dan penyalahgunaan obat, keterlibatan otot, dan toksisitas obat langsung.

Walaupun miopati adalah komplikasi yang umum pada infeksi HIV, biasanya dia tidak cukup menghasilkan keparahan sampai ke tingkat jejas otot yang mengakibatkan ARF mioglobinuri. Obat antiretroviral, zidovudin, dikaitkan dengan miopati berat dan rhabdomiolisis sebagai akibat deplesi DNA mitokondria pada myosit. Obat lain yang tercantum pada pilihan di atas tidak berkaitan dengan rhabdomiolisis.

24. Pernyataan manakah di bawah ini yang benar tentang pengobatan dengan diuretik loopacting pada gagal ginjal akut?

A. Meningkatnya pengeluaran urin menurunkan kebutuhan dialisis.

B. Terapi diuretik mengurangi kematian

C. Terapi diuretik menurunkan durasi kegagalan ginjal.

D. Terapi diuretik kemungkinan berkaitan dengan hipokalemia parah.

E. Keuntungan terapi diuretik semakin besar dengan pemberian dopamine secara bersamaan.

Jawaban yang benar adalah D.

Diuretik loop paling sering digunakan dalam menangani pasien ARF. Karena prognosis ARF nonoligurik lebih baik dari pada ARF oligurik, disarankan bahwa dengan mengubah keadaan pasien dari oligurik ke kondisi nonoligurik dapat memperbaiki kondisi klinis. Meningkatkan aliran urin dapat membuang sisa‐sisa/debris sel intraluminal yang menghalangi, sehingga dapat membalikkan salah satu mekanisme disfungsi ginjal. Sebagai tambahan, dengan menurunkan tansport aktif di dalam loop Henle ascending yang tebal, diuretik loop dapat mengurangi kebutuhan energi dan melindungi sel‐sel di daerah dengan gangguan perfusi. Namun, studi klinis,

(19)

tidak mendukung argumentasi‐argumentasi ini. Pada uji klinik menggunakan kontrol acak, terapi diuretik tidak terkait dengan perubahan apapun pada jumlah kematian, penurunan durasi ARF, atau perubahan kebutuhan dialisis. Tidak ada bukti peningkatan manfaat dengan pemberian dopamin secara bersamaan. Terapi diuretik dapat mengakibatkan kaliuresis dan hipokalemia.

Assadi, 2008; terj. Eva Manulang, D Lyrawati, 2008

25. Seorang anak laki‐laki berumur 7 tahun mengalami gejala awal gagal organ multisistem dengan ARF pada pneumonia Klebsiella dan sepsis. TDnya 87/50 mmHg, detak jantung 96/min dengan pemberian infuse kontinyu 6 μg/kg/min dopamin. Dia mendapat pernafasan bantuan mekanik dan memiliki PO2 74 torr ketika menerima 60% oksigen inspirasi. Tekanan oklusi kapiler pulmonar 22 mmHg. Pengeluaran urinnya <5 ml/jam. Data laboratorium, termasuk kreatinin 4,3 mg/dl, BUN 92 mg/dl, potassium 5,3 mEq/L, dan bikarbonat 19 mEq/L. Diputuskan untuk memulai terapi penggantian ginjal (RRT).

Pernyataan perbandingan modalitas RRT manakah di bawah ini yang benar?

A. Arteriovenous hemodiafiltrasi kontinyu (CAVHDF) berkaitan dengan peningkatan survival yang lebibaik dibanding dengan hemodialisis intermittent.

B. Venovenous hemodialisis kontinyu (CVVHD) memungkinkan kontrol solut yang lebih baik dari pada Venovenous hemofiltrasi kontinyu (AVVH).

C. Dialisis efisiensi rendah yang lama (sustained low‐efficiency dialysis/SLED) dan dialisis harian yang lebih panjang (Extended Daily Dialysis) berkaitan dengan peningkatan survival yang lebih baik dibandingkan dengan hemodialisis intermittent.

D. CVVH berkaitan dengan peningkatan survival yang lebih baik dibandingkan dengan dialisis peritoneal.

E. SLED dan EDD berkaitan dengan peningkatan survival yang lebih baik dibandingkan dengan CVVH kontiniu.

Jawaban yang benar adalah D.

Studi terbaru pada pasien dengan infeksi –dengan ARF, tingkat kematian pada pasien yang diobati dengan dialisis peritoneal adalah 47%, sedangkan pasien yang menggunakan CVVH laju kematian 15%. Di banyak studi yang membandingkan RRT kronis (CRRT) dengan hemodiaisis intermittent, tidak ada manfaat konsistensi pada survival dari CRRT. Uji klinik kontrol acak terbesar, CRRT dikaitkan dengan kematian yang lebih tinggi, walaupun studi tersebut tidak

(20)

sempurna karena pengacakan yang tidak seimbang yang menghasilkan akuitas penyakit yang lebih tinggi pada kelompok CRRT. Tidak ada data untuk membandingkan hasil SLED atau EDD dengan hasil hemodialisis intermittent, atau CRRT. Walaupun mekanisme pembuangan solut berbeda antara CVVH (terutama klirens secara konvektif) dan CVVHD (klirens terutama secara difusi), tingkat kontrol solut yang sama untuk urea dan solute lain dengan berat molekul rendah dapat diperoleh menggunakan salah satu dari kedua cara tersebut.

26. Seorang anak laki‐laki berumur 6 tahun menunjukkan gejala awal multisistem gagal organ dan ARF setelah mengalami kecelakan sepeda motor di mana dia mengalami trauma berat. TDnya 80/47 mmHg dengan 0,07 μg/kg/menit norepinefrin. Dia diintubasi dan mendapat ventilasi mekanik, saturasi oksigen 98% pada FIO2 0,40. Pengeluaran urin 15 ml/jam. Data laboratorium menunjukkan kreatinin serum 2,9 mg/dl, BUN 49 mg/dl, potassium 4,8 mEq/L, dan bikarbonat 22 mEq/L. Dokter di bagian perawatan kritis meminta anda untuk memulai RRT (renal replacement therapy).

Pernyataan manakah yang benar tentang waktu yang tepat untuk mengawali RRT?

A. Pada uji klinik kontrol acak, memulai RRT dini (BUN, 60 mg/dl) terkait dengan 25 % pengurangan jumlah kematian.

B. Pada uji klinik kontrol acak mengenai memulai tindakan RRT pada saat yang dini vs pada saat yang lebih lanjut, memulai RRT secara dini tidak menghasilkan perubahan pada jumlah kematian.

C. Dalam sebuah analisis retrospektif pasien‐pasien ARF, memulai RRT secara dini tidak merubah jumlah kematian.

D. Dalam sebuah analisis retrospektif pasien‐pasien ARF, memulai RRT secara dini mengurangi jumlah kematian 25%

E. Dalam sebuah analisis retrospektif pasien‐pasien ARF, memulai RRT secara dini mengurangi jumlah kematian 50%

Jawaban yang benar adalah E.

Hanya ada sedikit data mengenai kapan waktu yang tepat memulai terapi renal pada ARF. Dalam satu analisis retrospektif, angka survival pasien yang mulai mendapat RRT pada BUN <60 mg/dl adalah 39% sedangkan pasien yang RRTnya dimulai setelah BUN >60 mg/dl angka survivalnya 20 %. Tidak ada uji klinik kontrol acak yang dilaksanakan untuk mengevaluasi pertanyaan ini.

(21)

27. Seorang laki-laki 10 tahun mengeluh air kencingnya berwarna gelap dan wajahnya sembab.

Penderita mengeluh nyeri waktu menelan, demam serta tenggorokkan terasa sakit 2 minggu yang lalu, tapi sekarang semua gejala tersebut sudah hilang. Dari hasil pemeriksaan fisik sekarang tekanan darahnya meningkat 150/90, oedem di wajah dan kaki. Dari hasil pemeriksaan kimia darah,terjadi peningkatan kreatinin dan urea darah serta penurunan albumin plasma. Pada pemeriksaan urine didapatkan proteinuria dan gross hematuria. Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik serta laboratorium tersebut, pasien patut diduga menderita :

A. Glomerulonephritis

B. Nekrosis tubuler akut

C. Uretritis akut

D. Sistitis akut

E. Appendisitis

PEMBAHASAN:

Pada glomerulonefritis akut terjadi injury pada sel-sel glomerulus yang mengakibatkan infiltrasi sel-sel radang dan proliferasi sel-sel glomerulus. Hal tersebut menimbulkan obstruksi lumen kapiler glomerulus. Akibatnya, aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerulus (GFR) menurun.

Terjadi oliguria (volume urin <=400 ml/hari).

Banyaknya cairan tubuh (plasma darah) yang tidak terfiltrasi lewat ginjal mengakibatkan cairan tersebut menumpuk dalam tubuh mengakibatkan edema, dan hipertensi. Sebagai akibat dari injury pada dinding kapiler glomerulus, urinalisis secara khas menunjukkan adanya sel darah merah (hematuria), leukosit, dan protein. Seringkali hematuria dapat dilihat secara makroskopis sebagai kencing berwarna gelap. Protein (albumin) tubuh yang keluar lewat urin mengakibatkan hipoalbuminemia.

Kunci jawaban : A

(Harrison’s Principles of Internal Medicine, 16th ed, hal.1679) 28. Patogenesis dasar dari penyakit yang diderita anak tersebut adalah

A. Autoimun

B. Aterosklerosis

C. Neuropati

D. Gangguan metabolisme

E. Keganasan

PEMBAHASAN

(22)

Glomerulonefritis poststreptokokus merupakan salah satu penyebab tersering glomeruloneritis.

Penyakit ini berkembang kurang lebih dua minggu setelah radang tenggorokan, atau infeksi kulit (impetigo) yang disebabkan Streptococcus β-hemoliticus grup A. Glomerulonefritis

poststreptokokus biasanya diderita anak-anak.

Gejala meliputi gross hematuria, nyeri kepala, dan gejala-gejala sistemik (mual, lemas, penurunan nafsu makan). Pada penyakit ini dapat terjadi pembengkakan kapsula renal yang menyebabkan nyeri pinggang ataupun punggung. Gejala lainnya seperti gejala glomerulonefritis secara umum.

Penyakit ini disebabkan interaksi antara antibodi terhadap antigen yang telah terperangkap di dalam glomerulus, sehingga menyebabkan terbentuknya kompleks imun di dalam glomerulus.

Kunci jawaban : A

(Harrison’s Principles of Internal Medicine, 16th ed, hal.1680) 29. Wajah sembab atau edema pada penderita tersebut dapat dihubungkan dengan

A. Hipertensi

B. Hipoalbumin

C. Gross hematuria

D. Keluhan nyeri telan

E. Peningkatan urea darah

PEMBAHASAN:

Sebagai akibat dari injury pada dinding kapiler glomerulus, urinalisis secara khas menunjukkan adanya sel darah merah (hematuria), leukosit, dan protein. Protein (albumin) tubuh yang keluar lewat urin mengakibatkan hipoalbuminemia. Tekanan onkotik intravaskuler yang menurun karena

hipoalbuminemia dapat menyebabkan edema.

Kunci jawaban : B

(Harrison’s Principles of Internal Medicine, 16th ed, hal.1680)

30. seorang anak perempuan berusia 6 tahun datang dengan keluhan buang air kecil kurang. Ia mempunyai riwayat diare dan muntah-muntah ±3 hari yang lalu. Ayahnya kemudian mempuasakan anak dari makan dan minum. Hari ini anaknya minum air lebih dari 7 liter, tetapi urinnya tetap sedikit. Diagnosis keadaan ini adalah

a. gagal ginjal akut

(23)

b. gagal ginjal kronis

c. gagal ginjal akut on kronis d. glomerulonefritis akut e. glomerulonefritis kronis.

Pembahasan Kata kunci:

 anak perempuan berusia 6 tahun.

 keluhan buang air kecil kurang ada gangguan pada saluran kemih (bisa ginjal, ureter, vesika urinaria, atau uretra).

 Ia mempunyai riwayat diare dan muntah-muntah ±3 hari yang lalu banyak cairan yang keluar dan intake yang kurang.

 Ayahnya kemudian mempuasakan anak dari makan dan minum ntake kurang dapat menyebabkan dehidrasi sehingga perfusi ke ginjal kurang bagus.

 Hari ini anaknya minum air lebih dari 7 liter, tetapi urinnya tetap sedikit ginjal telah mengalami gangguan fungsi.

Diagnosis pada kasus ini

Kemungkinan pada kasus ini terjadi gangguan fungsi dari ginjal gagal ginjal.

Dan terjadi begitu singkat akut

Jadi kemungkinan diagnosis pada kasus ini adalah gagal ginjal akut.

32. Seorang wanita berusia 54 tahun, sulit menahan buang air kecil, badannya agak kurus, sering merasa haus, dan penglihatannya kabur. Hasil pemeriksaan oftalmologi menunjukan ada kekeruhan lensa mata kiri. Nilai gula darah sewaktu (GDS) adalah 380 mg/dl. Zat apa yang di jumpai pada urin?

a. Glukosa b. Leukosit c. Protein d. Eritrosit

e. Kristal Ca oksalat Pembahasan.

Kata kunci:

 wanita berusia 54 tahun.

 sulit menahan buang air kecil

(24)

 badannya agak kurus

 sering merasa haus,

 dan penglihatannya kabur.

 Hasil pemeriksaan oftalmologi menunjukan ada kekeruhan lensa mata kiri.

 Nilai gula darah sewaktu (GDS) adalah 380 mg/dl.

Dari semua hasil pemeriksaan ini mengarah kepada DM. DM hiperglikemi.

Jadi zat yang ditemukan dalam urin adalah glukosa.

33. Seorang wanita berusia 30 tahun, dengan berat badan 60 kg, mempunyai keluhan sesak dan muntah. Tekanan darah 160/100 mmHg, frekuensi pernapasan 28 kali/menit.

Didapatkan edema pada kedua kaki dan didapatkan rales pada kedua basal paru.

Pemeriksaan darah menunjukan kadar hemoglobin 7,3 g/dl, MCV dan MCHC normal, ureum 421 mg/dl, kreatinin 32 mg/dl. Pada pemeriksaan ultrasonografi didapatkan ukuran kedua ginjal mengecil, densitas korteks meningkat, dan batas korteks medula kabur.

Diagnosis fungsional ginjal untuk pasien ini adalah ?

a. Penyakit ginjal kronik stadium V b. Penyakit ginjal kronik stadium II c. Gagal ginjal akut

d. Sindroma nefrotik e. Sindroma nefritis akut.

Pembahasan.

Kata kunci:

- Seorang wanita berusia 30 tahun, - dengan berat badan 60 kg,

- mempunyai keluhan sesak dan muntah.

- Tekanan darah 160/100 mmHg, - frekuensi pernapasan 28 kali/menit.

- Didapatkan edema pada kedua kaki - rales pada kedua basal paru.

- Pemeriksaan darah menunjukan kadar hemoglobin 7,3 g/dl, - MCV dan MCHC normal,

- ureum 421 mg/dl,

(25)

- kreatinin 32 mg/dl.

- Pada pemeriksaan ultrasonografi didapatkan ukuran kedua ginjal mengecil, densitas korteks meningkat, dan batas korteks medula kabur.

Diagnosis fungsional ginjal untuk pasien ini adalah ?

Diagnosis fungsi ginjal dapat ditentukan dengan laju filtrasi glomerulus (LFG) Nilai normal laju filtrasi glomerulus adalah 125-130ml/menit/1,73 m²

LFG = ( 140 – USIA ) X BB 72 X kreatinin plasma (mg/dl)

Jadi :

LFG = ( 140 – 30) X 60 72 X 32 (mg/dl)

= 2,43ml/menit/1,73 m²

Kriteria derajat penyakit ginjal kronis meliputi:

1. Penyakit ginjal kronis derajat I : LFG ≥90(ml/menit/1,73m²) 2. Penyakit ginjal kronis derajat II : LFG 60-89

3. Penyakit ginjal kronis derajat III : LFG 30-59 4. Penyakit ginjal kronis derajat IV : LFG 15-29 5. Penyakit ginjal kronis derajat V : LFG < 15

Berdasarkan kriteria diatas, pada kasus ini pasien mengalami penyakit ginjal kronis derajat V.

34. Terapi utama yang paling di perlukan pada kasus no 33 diatas adalah……

a. Transplantasi ginjal

b. Continous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD).

c. Hemodialisis

d. Konservatif atau medika mentosa e. Transfusi sel darah merah

Pembahasan :

Pada pasien diatas telah mengalami gagal ginjal kronis stadium V.

Terapi yang tepat adalah hemodialisis/dialysis peritoneal atau transplantasi ginjal.

Karena pada pasien ini berada dalam keadaan darurat maka terapi yang tepat adalah hemodialisis.

Karena dialysis peritonial dan transplantasi ginjal membutuhkan persiapan dan waktu karena terkait tindakan oprasi pada keduanya.

(26)

35. Seorang pria berusia 70 tahun mengalami sulit buang air kecil. Pemeriksaan IVP menunjukkan adanya identasi pada bagian bawah vesika urinaria. Diagnosis yang paling mungkin adalah...

a. Karsinoma prostat b. Tumor buli-buli c. Hiperplasia prostat d. Tumor rektum e. Sistitis Kronis

Jawaban : c. Hiperplasia prostat Pembahasan :

McNeal telah mempublikasikan konsep anatomi pada prostat. Tiga zona terpisah telah diidentifikasi. Zona ini meliputi zona perifer, zona sentral, zona transisionalyang masing-masing secara berturut-turut menyusun volume prostat pria dewasa sebanyak 70%, 25%, dan 5%. Zona- zona anatomi tersebut memiliki sistem drainase duktus yang berbeda. Selain itu, yang lebih penting adalah juga memiliki konsep terkait proses-proses neoplasma yang berbeda. Sebanyak 60- 70% kanker prostat berasal dari zona perifer, 10-20% pada zona transisional, 5-10% pada zona sentral. Pembesaran prostat jinak (benign prostatic hyperplasia, BPH) rata-rata berasal dari zona transisional. Oleh karena itu, pada pencitraan IVP dapat menimbulkan gambaran indentasi vesika urinaria (karena posisi zona transisional dekat dengan perlekatan uretra pada vesika). Berbeda dengan kanker prostat yang lebih sering terjadi pada zona perifer yang posisinya relatif lebih jauh dari perlekatan vesika dengan uretra (walaupun tidak menutup kemungkinanuntuk terjadi pada zona transisional maupun zona sentral).

Prostat adalah organ pria yang paling sering mengalami neoplasma,baik yang bersifat jinak maupun ganas. Prostat melingkupi bagian paling proksimal dari uretra. Secara anatomi, prostat terletak pada pelvis minor (rongga pelvis yang sesungguhnya), terpisah oleh simpisis pubis oleh sebuah celah yang disebut spatium retropubic (spatium Retzius). Permukaan posterior prostat dipisahkan dari ampula recti oleh fascia Denonvillier. Basis prostat menyatu dengan leher kandung kemih, sedangkan puncaknya (apex) melekat dengan permukaan atas diafragma pelvis.

Di sebelah lateral prostat bersentuhan dengan musculus levator ani. Prostat mendapat vaskularisasi dari cabang arteri iliaka interna (arteri vesikalis inferior dan arteri rektalis media).

Drainase vena prostat terjadi melalui pleksus venosus dorsalis yang juga menerima drainase dari vena profunda dorsalis penis dan vena-vena vesikalis sebelum bermuara pada vena iliaka interna.

Inervasi prostat berasal dari pleksus pelvicus. Ukuran prostat normal adalah 3-4 cm pada basis, 4- 6 cm pada ukuran sefalokaudal, dan 2-3 cm pada dimensi anteroposterior.

(27)

Tumor buli akan memberikan memberikan gambaran IVP berupa filling defect, jika didapatkan hidroureter atau hidronefrosis yang merupakan salah satu tanda adanya infiltrasi tumor ke ureter atau muara ureter. CT-scan atau MRI berguna untuk menentukan ekstensi tumor ke organ sekitarnya. Pada sistitis kronis dapat ditemukan adanya vesikovaginal atau vesikoenteral fistula.

Referensi :

1. Tanagho E et all, 2004, Smith’s General Urology, 16th ed., hal. 367-368.

2. Purnomo B, 2003, Dasar-dasar Urologi, Fakultas Kedoteran Universitas Brawijaya, edisi 2, hal. 173-174.

Seorang pria berusia 70 tahun datang ke dokter dengan keluhan gangguan berjalan dan baal (mati rasa) pada kulit tungkai. Pada pemeriksaan didapatkan adanya kanker prostat. Kemungkinan penyebab dari gangguan ini adalah...

a. Retensi urin yang menekan pleksus lumbalis

b. Adanya metastasis kanker prostat ke vertebra lumbalis

c. Gangguan aliran darah ke tungkai karena penekanan kelenjar prostat d. Metastasis kanker prostat ke otot-otot tungkai

e. Kelemahan otot karena usia lanjut

Jawaban : b. Adanya metastasis kanker prostat ke vertebra lumbalis Pembahasn :

Pola progresi kanker prostat telah terdefinisikan dengan baik. Kecenderungan untuk menyebar keluar dari prostat (ekstensi ekstrakapsular) atau invasi vesikula seminalis dan metastatis jauh meningkat seiring meningkatnya volume tumor dan buruknya diferensiasi sel kanker. Tumor berukuran kecil dan berdiferensiasi baik biasanya hanya terbatas menyerang prostat, sebaliknya tumor besar dengan diferensiasi buruk lebih sering bersifat ekstensif lokal atau metastasis ke limfonodi atau tulang. Penetrasi kapsula prostat oleh sel-sel kanker sering terjadi melalui ruang perineural. Invasi vesikula seminalis berhubungan dengan kecenderungan terjadinya penyakit yang bersifat regional atau metastatis jauh. Kanker prostat yang menginvasi trigonum vesika dapat menyebabkan terjadinya obstruksi ureter. Sebagai catatan, penyebaran sel kanker menuju rektum jarang terjadi karena fascia Denonvillier dapat berfungsi sebagai barier kuat penyebaran menuju rektum.

Metastasis limfonodi sering teridentifikasi pada rantai limfonodi obturator,sedangkan limfonodi lainnya meliputi limfonodi ilia komunis, presakral, dan para-aorta. Tulang-tulang aksial

(28)

merupakan bagian yang paling sering terkena metastasis jauh, dengan vertebra lumbal adalah bagian yang paling sering terkena. Bagian-bagian yang sering terkena metastasis lainnya meliputi proksimal femur, pelvis, vertebra toraks, kosta, sternum, kranium, dan humerus. Lesi tulang yang terjadi berupa lesi osteoblastik. Lesi pada tulang panjang sering menyebabkan terjadinya fraktur patologis. Vertebra yang terkena metastasis dengan volume besar dapat menyebar pada spatium epidural yang menyebabkan kompresi medula spinalis. Hal ini dapat menjelaskan alasan mengapa pada kasus ini pasien mengalami gangguan berjalan dan baal. Metastasis organ visceral paling sering mengenai paru, hati, dan glandula adrenal. Metastasis pada sistem saraf pusat biasanya terjadi akibat penyebaran langsung dari metastasis tumor pada tulang kranium.

Referensi :

1. Tanagho E et all, 2004, Smith’s General Urology, 16th ed., hal. 367-368.

2. Kirby RS, 2003, Atlas of Prostatic Disease, 3rd ed., Phartenon Publishing, hal. 67, 91.

36. Seorang anak laki-laki berusia 4 tahun dibawa orang tuanya ke dokter karena mengeluh nyeri pada perutnya yang sudah dideritanya selama beberapa hari. Pada pemeriksaan fisik teraba massa pada perut bagian kanan. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan hematuria tanpa proteinuria. Pada CT Scan abdomen tampak massa solid pada ginjal kanan berdiameter 10 cm. Tumor apakah yang paling mungkin diderita oleh anak ini?

a. Karsinoma sel ginjal b. Tumor William c. Rabdomiosarkoma d. Neuroblastoma e. Clear cell sarcoma

Jawaban : b. Tumor William Pembahasan :

Tumor Wilms adalah neoplasia maligna yang paling sering terjadi pada traktus urinarius anak- anak. Berbeda dengan neuroblastoma yang merupakan neoplasma maligna yang paling sering terjadi pada bayi, dan merupakan tumor ganas solid tersering kedua pada anak. Insidensi tumor Wilms tertinggoi terjadi pada usia 3-4 tahun dan 90% terjadi pada anak berusia <7 tahun. Anak laki-laki dan perempuan memiliki angka kejadian yang sama. Sebagian besar anak dengan tumor Wilms datang dengan keluhan massa abdomen. Sekitar 30% pasien mengalami nyeri abdomen, namun sebagian besar pasien tidak mengalami gejala apapun (asimptomatik) dan tampak sehat.

(29)

Pada pemeriksaan fisik didapatkan massa abdomen tidak nyeri yang jarang melewati garis tengah.

Hipertensi terjadi pada 63% pasien. Karena pengaruhnya pada vena kava, anak dengan tumor Wilms dapat mengalami varikokel atau gagal jantung kongestif.

Berikut ini nadalah perbandingan tumor Wilms dan neuroblastoma:

Tabel 1 Perbandingan tumor Wilms dan neuroblastoma

Tumor Wilms Neuroblastoma

Sering terkait dengan anomali kongenital

Terjadi pada anak yang sehat

Biasanya berbentuk massa unilateral Usia puncak 2-4 tahun

Muncul di ginjal

Kalsifikasi jarang terjadi

Anomali yang berhubungan memiliki insidensi yang rendah (kecuali 2%

insidensi defek otak dan kepala) Terjadi pada anak yang sakit

Seringkali massa melewati garis tengah Usia puncak 22 bulan

Neuroblastoma ginjal primer sangat jarang terjadi

Kalsifikasi “stippled” tampak pada 50%

film polos, dan 80% pada CT Tabel 2 Kanker ginjal pediatrik primer

Karsinoma sel ginjal : merupakanneoplasma ginjal primer yang palingsering terjadi dibandingkan tumor Wilms

 Gambaran klinis : hematuria, nyeri panggul (flank pain), (polycystic kidney disease) terdapat massa, penurunan berat badan

 Metastasis; nodus limfe, tulang, paru, hati

 Meningkat dengan von Hippel-Lindau dan polycystic kidney disease (PCKD)

 Kelangsungan hidup : 50%

 Pengobatan : nefrektomi radikal

Tumor Rabdoid : sel-sel berukuran besar dengan inklusi eosinofilik seperti rabdomioblast, tetapi bukan otot.

 Metastasis : Otak

 Sangat letal (kelangsungan hidup : 18%)

 Pengobatan : belum ada kemoterapiyang jelas terbukti efektif Clear cell sarcoma

 Metastasis : tulang dan otak

 Predominan pada bayi laki-laki

(30)

 Pengobatan : kemoterapi dengan adriamisin memperbaiki prognosis Kanker yang jarang

 Rabdomiosarkoma (tidak seperti tumor rabdoid, kankerini mengandung otot lurik fetal)

 Neuroblastoma

 Leiomiosarkoma

 Karsinoma sel transsional Referensi :

Nachtsheim D, 2003, Vademicum Urological Oncology, Landes Bioscience, California, hal. 117- 125.

37. Seorang anak laki-laki berusia 2 tahun, dibawa ibunya ke dokter dengan keluhan beberapa hari buang air kecil kemerahan, pusing, mual. Saat diperiksa penderita demam, kelopak mata sedikit sembab dan hipertensi. Hasil pemeriksaan laboratorium urin didapatkan warna kuning kemerahan, eritrosit +3, protein (-). Pada pemeriksaan darah didapatkan komplemen C3 menurun. Apakah diagnosis yang paling mungkin?

a. Sistitis b. Nefritis c. Pyelonefritis d. Glomerulonefritis e. Sindrom nefrotik

Jawaban : d. Glomerulonefritis Pembahasan :

Patofisiologi

Patofisiologi pada gejala-gejala klinik berikut:

1. Kelainan urinalisis: proteinuria dan hematuria

Kerusakan dinding kapiler glomerulus sehingga menjadi lebih permeable dan porotis terhadap protein dan sel-sel eritrosit, maka terjadi proteinuria dan hematuria.

2. Edema

Mekanisme retensi natrium dan edema pada glomerulonefritis tanpa penurunan tekanan onkotik plasma. Hal ini berbeda dengan mekanisme edema pada sindrom nefrotik.

Penurunan faal ginjal yaitu laju filtrasi glomerulus (LGF) tidak diketahui sebabnya, mungkin akibat kelainan histopatologis (pembengkakan sel-sel endotel, proliferasi sel mesangium,

(31)

oklusi kapiler-kaliper) glomeruli. Penurunan faal ginjal LFG ini menyebabkan penurunan ekskresi natrium Na+ (natriuresis), akhirnya terjadi retensi natrium Na+. Keadaan retensi natrium Na+ ini diperberat oleh pemasukan garam natrium dari diet. Retensi natrium Na+ disertai air menyebabkan dilusi plasma, kenaikan volume plasma, ekspansi volume cairan ekstraseluler, dan akhirnya terjadi edema

3. Hipertensi

a. Gangguan keseimbangan natrium (sodium homeostasis)

b. Gangguan keseimbangan natrium ini memegang peranan dalam genesis hipertensi ringan dan sedang.

c. Peranan sistem renin-angiotensin-aldosteron biasanya pada hipertensi berat. Hipertensi dapat dikendalikan dengan obat-obatan yang dapat menurunkan konsentrasi renin, atau tindakan nefrektomi.

d. Substansi renal medullary hypotensive factors, diduga prostaglandin. Penurunan konsentrasi dari zat ini menyebabkan hipertensi2

4. Bendungan Sirkulasi

Bendungan sirkulasi merupakan salah satu ciri khusus dari sindrom nefritik akut, walaupun mekanismenya masih belum jelas.

Beberapa hipotesis yang berhubungan telah dikemukakan dalam kepustakaan-kepustakaan antara lain:

38. Vaskulitis umum

Gangguan pembuluh darah dicurigai merupakan salah satu tanda kelainan patologis dari glomerulonefritis akut. Kelainan-kelainan pembuluh darah ini menyebabkan transudasi cairan ke jaringan interstisial dan menjadi edema.

39. Penyakit jantung hipertensif

Bendungan sirkulasi paru akut diduga berhubungan dengan hipertensi yang dapat terjadi pada glomerulonefritis akut.

40. Miokarditis

Pada sebagian pasien glomerulonefritis tidak jarang ditemukan perubahan-perubahan elektrokardiogram: gelombang T terbalik pada semua lead baik standar maupun precardial. Perubahan-perubahan gelombang T yang tidak spesifik ini mungkin berhubungan dengan miokarditis.

41. Retensi cairan dan hipervolemi tanpa gagal jantung

Hipotesis ini dapat menerangkan gejala bendungan paru akut, kenaikan cardiac output, ekspansi volume cairan tubuh. Semua perubahan patofisiologi ini akibat retensi natrium dan air.

(32)

Gejala Klinis

Gejala klinis glomerulonefritis akut pasca streptokok sangat bervariasi, dari keluhan-keluhan ringan atau tanpa keluhan sampai timbul gejala-gejala berat dengan bendungan paru akut, gagal ginjal akut, atau ensefalopati hipertensi.

Kumpulan gambaran klinis yang klasik dari glomerulonefritis akut dikenal dengan sindrom nefritik akut. Bendungan paru akut dapat merupakan gambaran klinis dari glomerulonefritis akut pada orang dewasa atau anak yang besar. Sebaliknya pada pasien anak-anak, ensefalopati akut hipertensif sering merupakan gambaran klinis pertama.

1. Infeksi Streptokok

Riwayat klasik didahului (10-14 hari) oleh faringitis, tonsilitis atau infeksi kulit (impetigo).

Data-data epidemiologi membuktikan, bahwa prevalensi glomerulonefritis meningkat mencapai 30% dari suatu epidemi infeksi saluran nafas. Insiden glomerulonefritis akut pasca impetigo relatif rendah, sekitar 5-10%.

2. Gejala-gejala umum

Glomerulonefritis akut pasca streptokok tidak memberikan keluhan dan ciri khusus. Keluhan- keluhan seperti anoreksia, lemah badan, tidak jarang disertai panas badan, dapat ditemukan pada setiap penyakit infeksi.

3. Keluhan saluran kemih

Hematuria makroskopis (gross) sering ditemukan, hampir 40% dari semua pasien. Hematuria ini tidak jarang disertai keluhan-keluhan seperti infeksi saluran kemih bawah walaupun tidak terbukti secara bakteriologis. Oligouria atau anuria merupakan tanda prognosis buruk pada pasien dewasa.

4. Hipertensi

Hipertensi sistolik dan atau diastolik sering ditemukan hampir pada semua pasien. Hipertensi biasanya ringan atau sedang, dan kembali normotensi setelah terdapat diuresis tanpa pemberian obat-obatan antihipertensi. Hipertensi berat dengan atau tanpa ensefalopati hanya dijumpai pada kira-kira 5-10% dari semua pasien.

5. Edema dan bendungan paru akut

Hampir semua pasien dengan riwayat edema pada kelopak mata atau pergelangan kaki bawah, timbul pagi hari dan hilang siang hari. Bila perjalanan penyakit berat dan progresif, edema ini akan menetap atau persisten, tidak jarang disertai dengan asites dan efusi rongga pleura

Referensi :

1. Husein, A, dkk. Buku Ajar Nefrologi Anak. Edisi kedua. Jakarta : Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2002. h 345-353

(33)

2. Behrman, Kliegman, Arvin. Nelson Textbook of Pediatrics. Edisi 17. Philadelphia; 2004. h 1813-1814

3. Prico SA. dan Wilson LM. Patologi Konsep Klinik Proses-proses Penyakit. Jakarta : EGC;

1995. h 827-829.

4. Sutisna Himawan. Patologi. Jakarta. FK UI; 1998 h 258-261.

5. Herry, G dan Heda, M. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak. Edisi ketiga.

Bandung : Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNPAD RSHS; 2005 h 536-538.

38. Seorang wanita berumur 17 tahun positif HIV memulai regimen terapi antriretroviral yang sangat aktif (HAART), termasuk efavirenz, tenofovir, dan lamivudine. Dia menggunakan trimetoprimsulfamethoxazole untuk pencegahan pneumokistis. Fungsi ginjal dan urinalisis normal sebelum memulai terapi. 6 minggu kemudian, dia datang dengan hasil pemeriksaan laboratorium sebagai berikut: sodium 140 mEg/l, potassium 4,8 mEq/l, klorida 115 mEq/l, bikarbonat 15 mEq/l, BUN 60 mg/dl, dan fosfor 1,9 mg/dl. Urinalisis menunjukkan berat jenis 1.015, pH 5, sedikit protein, glukosa 2+, dipstick negatif, mikroskopi sedikit keruh dengan granul coklat dan sel –sel tubular ginjal pada pengamatan lapang pandang perbesaran tinggi, dan tidak ada sel lain, sisa atau kristal. Manakah di bawah ini yang paling mungkin menjadi penyebab gagal ginjal akut pada pasien ini?

A. Nefrotoksik Efavirenz B. Nefropati HIV

C. Nefritis interstitial alergi disebabkab oleh trimethoprim‐sulphamethoxazole D. Toksisitas lamivudine (toksisitas mitokondria)

E. Nefrotoksis

Jawaban yang benar adalah E.

Kombinasi dari sindrom Fankoni dan jejas ginjal akut dengan nekrosis tubular akut mengarah ke dugaan adanya toksisitas tenofovir. Nefropati HIV yang cepat progresinya tidak mungkin jika tidak ada proteinuria. Diagnosis luka ginjal akut karena toksisitas pada mitokondria oleh penghambat

‘nukleoside reverse transcriptase’ tidak didukung oleh nilai gap anion yang normal dan tidak adanya myoglobinuria (dipstick urin negative‐heme). Mikroskopik urin tidak menunjukkan alergi nephritis interstisial. Efavirenz adalah sebuah penghambat ‘nonnukleosida reverse transcriptase’, sampai saat ini tidak ada laporan adanya nefrotoksisitas.

39. Pernyataan manakah di bawah ini yang benar tentang pengobatan dengan diuretik loopacting pada gagal ginjal akut?

A. Meningkatnya pengeluaran urin menurunkan kebutuhan dialisis.

(34)

B. Terapi diuretik mengurangi kematian

C. Terapi diuretik menurunkan durasi kegagalan ginjal.

D. Terapi diuretik kemungkinan berkaitan dengan hipokalemia parah.

E. Keuntungan terapi diuretik semakin besar dengan pemberian dopamine secara bersamaan.

Jawaban yang benar adalah D.

Diuretik loop paling sering digunakan dalam menangani pasien ARF. Karena prognosis ARF nonoligurik lebih baik dari pada ARF oligurik, disarankan bahwa dengan mengubah keadaan pasien dari oligurik ke kondisi nonoligurik dapat memperbaiki kondisi klinis. Meningkatkan aliran urin dapat membuang sisa‐sisa/debris sel intraluminal yang menghalangi, sehingga dapat membalikkan salah satu mekanisme disfungsi ginjal. Sebagai tambahan, dengan menurunkan tansport aktif di dalam loop Henle ascending yang tebal, diuretik loop dapat mengurangi kebutuhan energi dan melindungi sel‐sel di daerah dengan gangguan perfusi. Namun, studi klinis, tidak mendukung argumentasi‐argumentasi ini. Pada uji klinik menggunakan kontrol acak, terapi diuretik tidak terkait dengan perubahan apapun pada jumlah kematian, penurunan durasi ARF, atau perubahan kebutuhan dialisis. Tidak ada bukti peningkatan manfaat dengan pemberian dopamin secara bersamaan. Terapi diuretik dapat mengakibatkan kaliuresis dan hipokalemia. Seorang gadis Hispanik usia 9 tahun menderita sepsis dan gagal ginjal akut, yang diikuti pancreatitis kronik. Dia membutuhkan ventilasi mekanik untuk mengatasi gagal nafasnya, tapi tidak membutuhkan RRT. Hemoglobinnya turun secara progresif dari 11.5 g/dl menjadi 8.5 g/dl pada pemeriksaan laboratorium hariannya.

40. Manakah dari pernyataan di bawah ini yang benar untuk penanganan anemia?

A. Penggunaan rekombinan eritropoietin manusia pada pasien kritis berkaitan dengan berkurangnya kemungkinan perlunya transfusi.

B. Penggunaan rekombinan eritropoietin untuk menjaga hemoglobin tetap antara 11‐12 g/dl berkaitan dengan berkurangnya resiko kematian.

C. Strategi transfusi sel darah merah untuk menjaga hemoglobin >10 g/dl berkaitan dengan berkurangnya resiko kematian.

D. Strategi transfurasi restriktif sel darah merah‐hanya memberikan transfusi jika hemoglobin kurang dari 7 g/dl‐ berkaitan dengan meningkatnya kematian pada pasien dengan penyakit kardiovaskuler.

E. Tidak satupun di atas

Jawaban yang benar adalah A.

Rekumben erythropoietin (rHuEpo) menurunkan kebutuhan transfuse pada pasien kritis, tapi tidak berefek pada survival pasien. Penggunaan strategi transfusi restriktif (ambang batas hemoglobin 7 g/dl) berkaitan dengan tingkat kematian yang lebih rendah di rumah sakit dibandingkan dengan

(35)

strategi biasa yang menjaga kadar hemoglobin di atas 10 g/dl. Tidak ada peningkatan resiko ketika strategi transfusi restriktif digunakan untuk pasien dengan penyakit kardiovaskuler.

Seorang anak laki‐laki usia 10 tahun dengan sindrom nefrotik dan sedang menjalani terapi steroid dibawa paramedis ke bagian gawat darurat. Pasien dilaporkan terjatuh pada saat keluar dari kamar mandi dua hari sebelumnya dan tidak dapat bangun kembali. Katanya tidak memiliki riwayat penyakit ginjal. Pada saat pemeriksaan fisik, dia memiliki ecchymosed difus di punggung dan ekstremitas bawah, dan pinggul kirinya terputar lateral.

41. Manakah nilai‐nilai awal laboratorium di bawah ini, diperoleh saatdi ruang emergensi, yang PALING dapat digunakan untuk memprediksi resiko terjadinya luka ginjal akut dan membutuhkan RRT?

A. Kreatinin serum 1,8 mg/dl B. Potasium serum 5,6 MEq/l C. Bikarbonat serum 17 mEq/l D. Fosfokinase kreatinin 9650 U/l E. pH urin 5,5

Jawaban yang benar adalah A. Nilai kreatinin serum awal ≥ 1,7 mg/dl merupakan prediktor terbaik untuk memperkirakan perkembangan luka ginjal akut atau perlunya RRT pada 97 pasien rhabdomyolisis yang dirawat pada ruang gawat darurat selama periode 4 tahun. Kadar fosfokinase awal (CPK), konsentrasi awal potassium serum, dan pH dan berat jenis urin tidak membedakan mana pasien yang mengalami atau tidak mengalami luka ginjal akut.

42. Seorang anak perempuan berumur 6 tahun dirawat karena mengalami peningkatan asites.

Kreatinin serum pada saat masuk 1,4 mg/dl. Setealah parasentesis dengan volume yang besar, pengeluran urinnya menurun dengan cepat sampai kurang dari 100 ml/hari, dan kreatinin serumnya meningkat sampai 2,7 mg/dl. Kultur cairan asitesnya steril. Sodium urin 8 mEq/l.

Setelah infus 1500 ml 0,9 % saline, pengeluaran urinnya tidak meningkat.

Pengobatan manakah di bawah ini yang menghasilkan rasio terbaik antara peningkatan fun

Gambar

Gambar 7.proses terjadinya proteinuria dan hematuria

Referensi

Dokumen terkait

Manifestasi klinik ADRs penelitian ini berupa obat captopril berupa batuk kering 2,63% dari 11 pasien, dan gagal ginjal akut 2,63% dari 11 pasien, tenapril berupa batuk kering

Pada pasien dengan gagal ginjal kronik biasanya didapatkan keluhan utama yang bervariasi, mulai dari urine keluar sedikit sampai tidak dapat BAK, gelisah sampai

Berikut ini yang kurang tepat tentang resusitasi cairan pada pasien luka bakar adalah: a.. Resusitasi yang cepat dan tepat dapat mencegah terjadinya gagal ginjal

Glomerulonefritis akut (GNA) adalah manifestasi klinis kompleks dari proses patologis pada ginjal yang ditandai dengan adanya hematuria atau silinder sel darah merah

Faktor prediktor mortalitas pada pasien yang menggunakan VM di UPI RSCM adalah renjatan, gagal napas, riwayat henti jantung, stroke, dan gangguan ginjal

Pada klien dengan gagal ginjal kronik biasanya didapatkan keluhan utama yang bervariasi, mulai dari urine keluar sedikit sampai tidak dapat BAK, gelisah sampai penurunan

Wanita 20 tahun datang dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir sedikit-sedikit sejak 2 hari yang lalu, kadang disertai gumpalan darah dan nyeri perut bagian bawah..

Seorang anak perempuan 6 tahun dibawa kedua orang tuanya ke dokter dengan keluhan sakit saat buang air kecil. Pasien menjadi malas buang air kecil. Riwayat demam sejak 2 hari ini. Keadaan umum baik, kesadaran kompos mentis, pemeriksaan fisik tanda vital dalam batas normal dan nyeri tekan daerah suprapubik (+). Pemeriksaan lab urin didapat leukosit 10-15/lpb dan eritrosit 1-2/lpb. Pemeriksaan penunjang baku emas untuk penyakit di atas adalah? Urinalisis Daah rutin Kultur urin IVP USG ginjal dan kandung