• Tidak ada hasil yang ditemukan

Corak Pemikiran Hukum Bahtsul Masail

Dalam dokumen Buku - Repository UIN Mataram (Halaman 131-136)

Bab 1 PENDAHULUAN

C. Corak Pemikiran Hukum Bahtsul Masail

sebenarnya dibangun atas prinsip kesataraan. Demikian pula dengan doktrin tentang persamaan kewajiban maupun larangan bagi perempuan dan laki-laki.

Balasan baik berupa reward atau punishment bagi perbuatan perempuan dan laki-laki juga oleh Islam ditentukan dalam porsi dan jenis yang sama. Misalnya tentang kewajiban menuntut ilmu dan hukuman bagi pencuri maupun pezina sebagaimana yang dijelaskan di dalam al Qur’an.

Penilaian tentang ketidakmampuan Islam mengakomodasi permasalahan gender diperoleh jika yang dijadikan obyek kajian adalah fiqh khususnya masalah hukum keluarga misalnya masalah waris, hak talak, poligami, saksi, dan sebagainya. Hukum keluarga, ternyata, walaupun dianggap sebagai hukum yang paling kuat resistensinya terhadap sekularisasi65, tetapi juga tidak cukup menyerap modernisasi misalnya prinsip kesetaraan gender.

Asumsi bahwa hukum keluarga Islam sarat dengan bias gender dapat dibenarkan ketika melihat hasil keputusan forum BM tersebut di atas. Sebagian besar isu gender yang termuat dalam keputusan tersebut adalah isu gender yang berkaitan dengan keluarga.66 Kalau ditarik lebih spesifik lagi berkisar pada

65Lebih jauh tentang masalah ini, lihat John L. Esposito, Women in Muslim Family Law (Syracuse: Syracuse University Press, 1982)

66Lihat Abdullah A. Na’im, Islamic Family Law in a Changing World: A Global Resource Book (New York: Zed Book, 2002)

pemilahan wilayah publik dan domestik di dalam rumah tangga. Tidak heran misalnya Kerber, seorang sarjana Amerika, menganggap bahwa hukum keluarga atau hukum perkawinan sangat sarat dengan permasalahan dan problematika gender.67 Karena memang keluarga adalah tempat yang pertama dan utama bagi tersemaikannya ideologi apapun termasuk ideologi gender.68

Keputusan BM tersebut merepresentasikan bahwa hanya satu bentuk keluarga yang ideal di mana suami menjadi pencari nafkah sedangkan isteri adalah pekerja rumah tangga. Padahal, dalam sejarahnya Islam memberikan alternatif model keluarga di mana tidak selamanya suami bertindak sebagai pencari nafkah.

Nabi Muhammad sendiri telah memberikan contoh profil keluarga yang ’modern’ di mana isteri-isteri beliau berperan penuh membiayai kehidupan keluarga seperti Khadijah binti Khuwailid dan Zainab binti Jahsy serta aktif juga terlibat dalam masalah politik maupun pendidikan umat seperti Aisyah binti Abu Bakar.

67Linda K Kerbert dan Jane Sherron de Hart, “Documents: The Law of Domestic Relations: marriage, Divorce, Dower” dalam Women’s America: Refocusing the Past (New York: Oxford University Press, 2004), hal. 55-58

68Lihat Atun Wardatun, “I Know It because I See It: The Socialization of Public and Private Spheres Ideology within Family”

dalam Qawwam: Journal for Gender Mainstreaming Vol 1 (1) 2006.

Ada beberapa catatan kritis bagi keputusan BM kaitannya dengan isu gender ini:

a. Forum BM masih mengenyampingkan perspektif gender. Perspektif gender dalam forum BM masih berada pada tataran konsep yang terlihat pada keputusan BM pada masalah maudhu’iyyah (konseptual). Pada masalah waqi’iyyah (aktual) keputusan BM masih sarat memuat ketimpangan perlakuan terhadap isu perempuan. Hal ini tidak bisa dilepaskan pada konteks sosial secara umum.

Munculnya isu kesetaraan tersebut pada akhir-akhir 90-an adalah didorong juga oleh modernisasi kehidupan maupun pemikiran di Indonesia. Isu gender sendiri baru meruak di Indonesia pada awal 80-an

b. Terbatasnya suara dan pengalaman perempuan sebagai dasar pijakan. Oleh sebagian ahli, sebagaimana yang dikemukakan sebelumnya bahwa tradisionalisme pemikiran dalam forum BM karena masih dominannya golongan tua yang berbasis pondok pesantren pada forum tsb. Anak muda yang berbasis tradisi akademik kampus masih sedikit mewarnai forum BM. Jika di tarik pada permasalahan gender, minimnya keterlibatan perempuan dan tidak dipakainya pengalaman perempuan sebagai pijakan pengambilan keputusan forum BM menyebabkan keputusan-keputusan tersebut masih terkesan diskriminatif.

c. Kurang memahami realitas dan analisis sosial.

Penyelesaian masalah hukum tidak melulu harus bersifat deduktif normatif tetapi juga harus mempertimbangkan realitas sosial yang oleh karenanya bersifat induktif-empiris. Permasalahan hukum bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri bebas dari faktor-faktor eksternal tetapi merupakan sesuatu yang dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Oleh karenanya, menyelesaikan permasalahan hukum perlu mempertimbangkan segala sesuatunya. Dalam prinsip Islam misalnya, telah diperkenalkan al kuliyyat al khamsah (prinsip pokok yang lima) sebagai dasar pembentukan hukum yaitu agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan. Penyelesaian masalah hukum mutlak harus mempertimbangkan kemaslahatan baik menyangkut diri pribadi maupun kemaslahatan umum. Oleh karena itu realitas dan analisis sosial seharusnya disertakan dalam formulasi hukum tertentu.

d. Rigiditas fiqh. Forum BM terlalu terpaku pada produk-produk masa lampau. Kurang mengakomodasi dinamika dan perkembangan kehidupan dewasa ini. Fiqh sebagai sebuah produk sejarah dibakukan dan dianggap sebagai alternatif solusi yang sudah final. Inilah yang disebut sebagai pengkultusan pemikiran keagamaan (taqdis al afkar al din). Sebagai produk akal yang bersetting

kondisi sosial tertentu, fiqh seharusnya dipandang sebagai khazanah intelektual Islam yang sangat terbuka bagi upaya dekonstruksi maupun rekonstruksi karena tuntutan kondisi sosial yang berbeda. Itulah sebenarnya yang diinginkan oleh keputusan MUNAS Lampung tentang keharusan bermadzhab secara minhajy (metodologis) bukan secara qauly (verbalis). Namun pada kenyataannya, forum BM masih di dominasi oleh cara bermadzhab verbalis walaupun sedikit-demi sedikit ada upaya ke arah bermadzhab secara metodologis.

Dari beberapa catatan tersebut di atas, terlihat bahwa corak pemikiran hukum pada forum BM dapat dilihat dari dua sisi: Pertama, dari sisi permasalahan aktual, pemikiran hukum masih bersifat tradisional.

Perspektif gender masih sedikit sekali dijadikan landasan keputusan. Kedua, dari sisi konseptual, keputusan BM sudah bercorak liberal dalam arti kesadaran gender (gender consciousness) sudah mewarnai keputusan BM.

Dalam dokumen Buku - Repository UIN Mataram (Halaman 131-136)