Tentunya “buku” ini memiliki kekurangan dan masih bisa ditambah dan diperkaya dari sudut pandang yang berbeda. Selain itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada para lulusan dan staf UIN Mataram yang telah membantu menerbitkan “buku” ini.
PENDAHULUAN
Feminisme
Menurut Arneil, tidak ada definisi yang lengkap dan memuaskan untuk kata feminisme selain fakta bahwa gerakan ini mencakup berbagai analisis dan metode serta karena analisis dan metode ini selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakat dan kebutuhan perjuangan feminisme itu sendiri.5 Hook mengatakan bahwa tidak ada gerakan sosial-politik yang terjadi dalam beragam kritik feminisme yang lebih internal dan yang terjadi secara luas dalam feminisme. . Analisis dan metode yang digunakan tentunya berkaitan erat dengan konteks permasalahan yang dihadapi kaum feminis dimanapun dan kapanpun, meskipun harus disebutkan juga bahwa dasar dari gerakan ini dan tujuan yang ingin dicapai sebenarnya sama.
Feminisme (=) Barat
Fakta bahwa feminisme di dunia Barat merupakan kelanjutan atau derivasi dari teori sosial politik liberal merupakan salah satu ciri yang membedakannya dengan gerakan untuk mengangkat derajat perempuan dalam Islam. Dalam Islam, perjuangan perempuan justru dipimpin oleh laki-laki, sedangkan feminisme di Barat kebanyakan dipimpin oleh perempuan.
Feminisme Muslim Indonesia
Feminisme Muslim Indonesia menghadapi persoalan yang menantang sekaligus menarik karena karakteristik yang terkumpul dalam gerakan ini meliputi tiga variabel yang masing-masing mewakili nilai dan karakteristik tertentu. Lebih lanjut, feminisme Muslim Indonesia harus dapat menggunakan kerangka ini dalam konteks Indonesia yang notabene adalah negara berkembang, bekas jajahan, dan majemuk, baik itu agama, suku, budaya dan lain-lain, yang tentu menghadirkan tantangan dan permasalahan tersendiri.
Sama juga Beda
- Titik Temu
- Titik Beda
Dalam hal mensistematisasikan perjuangan dan merasionalkan pemikiran/pandangan keagamaan, feminisme Muslim Indonesia sangat dipengaruhi oleh feminisme Barat. Jadi jika feminisme Barat menggunakan pendekatan sosiologis, maka feminisme muslim Indonesia menggunakan pendekatan teologis.
Daftar Pustaka
17 Penolakan RUU APP tidak serta merta berarti menerima atau membolehkan hal-hal yang berbau pornografi dan pornografi. Oleh karena itu, penghapusan pornografi dan pornografi merupakan perjuangan yang mendesak bagi perempuan dan sistem kehidupan secara keseluruhan.
Sekilas tentang Feminisme Radikal
Arah perjuangan feminisme radikal, yang bersifat kultural, berupaya meningkatkan kesadaran gender di tingkat sosial. Feminisme radikal hanya meragukan bahwa hukum atau pendekatan politik saja dapat berbuat banyak untuk menciptakan dunia.
Mendefinisikan Pornografi
Beberapa definisi pornografi di atas sepertinya hanya menegaskan bahwa pornografi adalah perbuatan yang memanfaatkan perempuan semata sebagai objek seks. Sebagai penjelasan awal yang menekankan kekerasan terhadap perempuan, pemaknaan pornografi sebagaimana ditawarkan oleh feminisme radikal di atas mungkin sudah cukup.
Mendebat Politik Ketimpangan Seksual
Kelompok pertama, misalnya Andrea Dworkin, memilih untuk mengedepankan jalur konstitusional dengan mengusulkan dibentuknya undang-undang hak-hak sipil (Hukum Hak Sipil) untuk meminimalisir pornografi.35 Kelompok kedua, misalnya Elen Willis, berpendapat bahwa pendekatan hukum tidak akan bisa banyak bicara karena hukum itu sendiri sudah jelas bersifat patriarki. Namun di sisi lain, feminisme radikal tidak dapat menghindari upaya hukum sebagai salah satu strategi gerakannya.
Pornografi versus Kebebasan
Padahal, yang paling mendasar adalah mengubah cara pandang dunia patriarki dan industri kotor terhadap posisi perempuan sebagai objek. Perempuan tidak memahami bahwa kehidupan di dunia patriarkal tempat mereka hidup terungkap sesuai dengan kehendak narasi utama. Berbicara tentang sistematisasi subordinasi di satu pihak dan kebebasan atau hak (agency) untuk menentukan kehidupan perempuan oleh perempuan itu sendiri dalam persoalan pornografi memang sangat sulit dan seakan tidak ada habisnya.
Politik Patriarkhi
Kalaupun ada upaya untuk meminimalisir pornografi, maka biasanya dunia patriarki melindungi mereka yang mengeksploitasi dan melakukan kekerasan terhadap perempuan itu sendiri, bukan menyelamatkan perempuan dari kejahatan sistem eksploitasi itu sendiri. Komisi hukum yang memprakarsai UU Kecabulan (UU Pornografi) yang kebetulan menempatkan tubuh perempuan sebagai pelaku utama pornografi dan satu-satunya yang harus diatur. Pihak-pihak yang bekerja sama menciptakan pornografi tersebut di atas dapat berupa kekuatan yang tersistematisasi seperti dunia industri, atau bahkan kecenderungan pribadi seperti penikmat pornografi.
Catatan Akhir
Seperti disebutkan sebelumnya, dalam isu pornografi, feminisme radikal memandang perempuan sebagai objek belaka. Namun ketika menyangkut upaya menolak dan meminimalkan pornografi, feminisme radikal menginspirasi dan mendorong perempuan untuk menjadi pelopor. Selain itu, kesimpulan tentang feminisme radikal yang memandang perempuan sebagai objek di satu sisi dan avant-grade memberantas pornografi juga tidak dilengkapi dengan tawaran yang relevan.
Daftar Pustaka
Artikel ini berupaya melihat dan menelusuri perkembangan isu dan analisis gender dalam produk hukum Islam (fiqh) hasil kajian Bahtsul Masa'il NU. Bagaimana analisis gender dan teori feminis meliput produk hukum bernuansa gender pada periode Bahtsul Masa'il 1926-2004. Bagaimana pengaruh gaya tradisionalisme dan liberalisme terhadap perkembangan pemikiran gender dalam produk-produk Bahtsul Masa'il periode 1926-2004?
Metode Penelitian
Mengingat penelitian ini mencakup kurun waktu 1926 hingga 2004 dan menunjukkan dinamika pemikiran tentang gender dalam produk hukum, maka penting untuk memperhatikan waktu atau waktu keluarnya produk pemikiran hukum tersebut. Dengan mempertimbangkan waktu, biaya, kemudahan akses dan banyak lagi, model penelitian perpustakaan ditentukan. Ditemukan bahwa buku Keputusan Pemecahan Hukum Islam Muktamar, Musyawarah Nasional dan Konbes Nahdhatul Ulama 1926-2004 menjadi sumber data utama.
Hasil dan Pembahasan
- Peta Isu Gender Dalam Keputusan Bahtsul Masa’ilMasa’il
- Keputusan Bahtsul Masa’il Dalam Perspektif Gender Gender
- Hak terhadap Harta Bersama
- Partisipasi Perempuan di Wilayah Publik Pengkajian yang seksama terhadap isu
- Kemandirian Ekonomi Bagi Perempuan Isu tentang kemandirian ekonomi
- Hak Perempuan Menentukan Pilihan Pandangan bahwa perempuan adalah a half
Selama seragam menutupi aurat, hukumnya boleh karena perang juga wajib bagi perempuan, tetapi harus terpisah dari laki-laki. Harus ada kesempatan yang sama bagi perempuan dan laki-laki dalam peran non-alamiah. Jika perempuan membutuhkan kualifikasi tertentu untuk berpartisipasi dalam ruang publik, tidak demikian halnya dengan laki-laki.
Corak Pemikiran Hukum Bahtsul Masail
Anggapan bahwa hukum keluarga Islam sarat dengan bias gender dapat dibenarkan jika melihat hasil keputusan forum BM di atas. Perspektif gender dalam forum BM masih pada tataran konsep yang terlihat pada keputusan BM terhadap isu meudhu'iyyah (konseptual). Namun pada kenyataannya, forum BM masih didominasi oleh mazhab verbalis, meskipun sedikit demi sedikit ada upaya metodologis untuk mempraktekkan mazhab.
Catatan Akhir
Realitas individual ini kemudian juga menjadi kesadaran publik dimana masyarakat lebih melihat posisi perempuan yang kebetulan adalah istri dari guru besar tersebut. Istri Tuan Guru lebih merupakan "tokoh di balik layar" yang keberadaan dan perannya belum banyak terungkap. Tujuannya adalah untuk mengungkap profil perempuan Sasak dalam posisinya sebagai istri guru dan bagaimana profil tersebut mempengaruhi aktivitas sosial dan keagamaan mereka.
Profil Istri-Istri Tuan Guru
Semakin rendah tingkat pendidikannya, semakin enggan istri majikan untuk membaca dan mengikuti perkembangan dalam kehidupan bermasyarakat. Kemampuan mereka untuk mempengaruhi juga tinggi terlepas dari latar belakang pendidikannya, jadi ada istri majikan. Pencitraan diri ini juga tidak terlepas dari bagaimana masyarakat lebih memandang posisi perempuan sebagai istri guru besar.
Aktivitas Sosial Keagamaan
Setahu saya, ada istri seorang guru yang mendirikan usaha SPBU dengan seorang pengusaha asal Surabaya. Fenomena ini menunjukkan bahwa keinginan untuk mengabdi pada pengembangan pendidikan dengan kontribusi yang dapat mereka berikan juga terdapat pada istri majikan. Kegiatan politik dilakukan oleh istri majikan, seperti menjadi kader partai dan menjadi calon anggota legislatif.
Faktor Penghalang Peran Publik Istri Tuan Guru Ada beberapa hal yang ditengarai sebagai
Ada anggapan bahwa syarat utama menjadi istri guru adalah akhlak (religius) dan fisik (cantik), bukan karena latar belakang pendidikan. Dalam hal ini, ideologi pemisahan ruang publik dan domestik sangat terasa di kalangan istri-istri guru lama pada umumnya. Di antara istri-istri Tuan Guru ada seorang yang pandangannya sangat maju tentang ideologi pemisahan ruang.
Faktor Pendorong Peran Publik Istri Tuan Guru Walaupun dalam skala yang masih terbatas,
Latar belakang istri seorang guru sebagai seorang aktivis juga sangat mempengaruhi aktif tidaknya setelah menikah. Latar belakang seorang aktivis berpengaruh langsung pada dinamika jiwa dan cara pandang istri majikan. Selain faktor tuan dan keluarga, rumah tinggal Islami menjadi tujuan aktivitas publik istri guru.
Istrinisasi Peran Istri Tuan Guru
Keterlibatan istri majikan untuk menjadi pengusaha sekaligus menjadi tim lobi sangat membantu perkembangan pondok. Fakta bahwa sebagian besar perempuan Tuan Guru menjadi istri dan menjadi figur di belakang layar popularitas laki-laki Tuan Guru lebih merupakan masalah dalam hal keterlibatan sosial dan pengabdian masyarakat. Kasus istri guru, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, telah menimbulkan kecenderungan untuk menafikan atau mengaburkan komitmen publik istri guru sebagai makhluk sosial yang memiliki komitmen publik terhadap masyarakat dan menegaskan identitas keperempuanannya.
Penegasan Identitas Domestik Dan Penegasian Komitmen Publik
Pengingkaran terhadap komitmen publik istri Tuan Guru juga terlihat dari kaburnya aktivitas istri Tuan Guru di dunia publik. Hal ini menyebabkan simpanan seorang guru luput dari pengetahuan umum karena apapun yang mereka lakukan masih dipandang sebagai kerangka perempuan yang seharusnya melakukan peran domestik. Ideologi pelemahan peran perempuan ini memunculkan kecenderungan untuk menganggap istri majikan hanya sebagai istri pelaku domestik tanpa memperhatikan kewajiban publik yang dipenuhinya atau aspirasinya.
Catatan Akhir
Faktor yang mempengaruhi peran publik istri guru dapat dibedakan menjadi faktor penghambat dan faktor pendukung, baik internal maupun eksternal. Ada hal-hal yang mendukung perempuan Tuhan untuk terlibat dalam kegiatan sosial keagamaan dan di ruang publik. Jadi, penegasan identitas keluarga dan penyangkalan keterlibatan publik adalah karakteristik yang melingkupi tindakan istri majikan.
Daftar Pustaka
Fiqh (hukum Islam) telah menetapkan bahwa mahar adalah kewajiban laki-laki dan hak perempuan. Seringkali, dengan memberikan mahar, seorang pria menganggap bahwa dia telah membeli seorang wanita dan melegitimasi setiap perlakuan terhadap wanita. Mahar ini dapat digunakan untuk kepentingan pribadi perempuan atau dibagi dengan laki-laki.
Mahar: Membeli Atau Menghargai?
Tulisan ini mencoba memaparkan bagaimana kasus ampa co'i ndai (pembayaran mahar oleh perempuan) yang terjadi di suku Mbojo. Apakah ampa co'i ndai ini merupakan bentuk interseksionalitas gender, yaitu bahwa isu gender tidak dapat dijelaskan secara terpisah dari faktor lain seperti faktor status sosial? Ataukah ampa co'i ndai ini sebenarnya merupakan bentuk kompromi terhadap adat yang hanya mewajibkan laki-laki untuk memberikan mahar, meskipun tidak semua laki-laki mampu melakukannya.