BAB II LANDASAN TEORI
D. Konsep Kesetaraan Gender Dalam Keluarga
2. Dalil Kesetaraan Gender
Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Al-Dzariyat: 56)
Berdasarkan ayat di atas, terlihat sangat jelas bahwa posisi manusia hanya sebagai hamba. Manusia laki-laki atau pun manusia perempuan, kedudukannya sama-sama sebagai hamba Allah yang hanya boleh menghamba kepada Allah. Sehingga seharusnya tidak ada lagi yang namanya penghambaan istri terhadap suami maupun sebaliknya. Selain ayat di atas, ada pula landasan kesetaraan gender yang menyebutkan laki- laki dan perempuan secara eksplisit sebagaimana firman Allah berikut :
Artinya: “Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka Dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan Barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam Keadaan beriman, Maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab.”(QS. Al-Mu‟min: 40)
Kata dzakarin wa untsa disebutkan secara tegas yang menunjukkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Ayat tersebut menerangkan bahwa balasan Allah di dunia dan di akhirat antara laki-laki dan perempuan adalah sama, tidak ada yang didiskriminasi atau dinomorsatukan. Karena memang Islam mengajarkan bahwa baik perempuan maupun laki-laki mendapat pahala yang sama atas amal perbuatan masing-masing, begitupun sebaliknya, laki-laki dan perempuan memperoleh azab yang yang sama jika melakukan perbuatan yang dilarang Allah.
Secara lebih jelas lagi prinsip kesetaraan gender dalam Islam ditegaskan dalam ayat berikut :
Artinya: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki- laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”(QS.Al-Ahzab:35)
Konsep kesetaraan gender juga berakar dari konsep penciptaan perempuan. Jika laki-laki dan perempuan telah diciptakan setara oleh Allah sebagaimana QS.Al-Hujurat ayat 13, maka di kemudian hari tidak bisa berubah menjadi tidak setara.
Artinya: “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa- bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS.Al-Hujurat: 13)
Ayat di atas menjelaskan tentang asal kejadian manusia dari seorang laki-laki dan seorang perempuan yang sekaligus berbicara tentang kemuliaan manusia berdasarkan ketaqwaannya, bukan berdasarkan jenis kelamin semata. Sehingga tidak boleh manusia mempertuhankan manusia lain. Suami tidak boleh menjadi Tuhan bagi istri, begitu pun sebaliknya. Ketaatan tanpa syarat kepada manusia lain termasuk suami yang melebihi ketaatan kepada Allah menjadi wujud pengingkaran terhadap tauhid.102
Ada juga ayat Al-Qur‟an yang menyebutkan laki-laki dan perempuan secara tegas dalam lingkup hukum keluarga terkait relasi antara suami dan istri yakni :
…
…
Artinya: “… Mereka adalah pakaian bagi kalian dan kalian adalah pakaian bagi mereka…”(QS.Al-Baqarah: 187)
Berdasarkan ayat di atas, Allah telah menyetarakan kedudukan antara suami dan istri dalam kehidupan berkeluarga. Sehingga suami disebutkan sebagai pakaian bagi istri dan istri juga pakaian bagi suami.
Fungsi pakaian ialah melindungi dan menghangatkan. Jadi suami dan istri sama-sama setara untuk saling melindungi dan menghangatkan satu sama lain. Suami dan istri saling bekerja sama untuk melindungi dan memberi kenyamanan terhadap pasangannya.
Adapun dalil kesetaraan gender yang bersumber dari hadits yakni :
102Siti Musdah Mulia, Indahnya Islam Menyuarakan Kesetaraan & Keadilan Gender, (Yogyakarta: Nauvan Pustaka, 2014), h.5.
لما ىرت معلص للها لوسر لاق لوقي يرشب نب نامعنلا نع مهحمارت في يننمؤ
هدسج رئاس ول ىعادت اوضع ىكتشا اذإدسلجا لثمك مهفطاعتو مىداوتو ىملحاو رهسلاب
“Diriwayatkan dari Nu‟man bin Basyir R.a bahwa Rasuluullah AW bersabda: Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling menyayangi, saling mencintai dan saling mengasihi, mereka laksana satu tubuh, yang jika salah satu anggota tubuhnya merintih kesakitan, maaka seluruh anggota tubuh yang lain akan merasakan demam dan tidak dapat tidur.”(HR.Bukhari No.6079)
Berdasarkan hadits di atas, terlihat nilai kesalingan dan kerja sama dengan mengibaratkan seluruh orang beriman, baik laki-laki maupun perempuan sebagai tubuh yang satu. Hadits tersebut menunjukkan kesetaraan gender secara umum sebagai seorang muslim baik laki-laki maupun perempuan. Ada juga hadits yang menyebutkan kata mukmin laki- laki dan mukmin perempuan secara eksplisit di bawah ini :
وسفنةنمؤلماو نمؤلماب ءلابلا لازيام معلص للها لوسر لاق لاق ةريرى بِأ نع ةئيطخ ويلعامو للها ىقلي تّح ولاموىدلوو
“Abu Hurairah R.a meriwayatkan bahwa Rasululllah SAW bersabda:
Cobaan akan selalu menimpa seorang mukmin laki-laki dan perempuan, baik pada dirinya, anaknya, maupun hartanya, sehingga ia bertemu Allah kelak tanpa beban dosa sama sekali (karena sudah dihapus melalui musibah tersebut).”(HR. Tirmidzi No. 2579)
Menurut Qasim Amin Syari'ah telah menempatkan perempuan sederajat dengan laki-laki dalam hal tanggung jawabnya sebagai manusia di muka bumi. Qasim Amin adalah salah satu tokoh emansipasi perempuan yang menganjurkan kebebasan bagi perempuan. Qasim Amin menolak kebiasaan pemingitan terhadap perempuan pada waktu itu. Cara agar kaum
perempuan tidak mengalami pemingitan kembali, maka perempuan harus berpendidikan seperti halnya laki-laki.103
Oleh karena itu salah satu cara mengeluarkan perempuan dari pemingitan ruang domestik ialah dengan memberikan pendidikan yang memadai kepada perempuan. Melalui pendidikan ini perempuan bisa berkiprah di ruang publik. Melihat realita lapangan pekerjaan di Indonesia sekarang, jika perempuan hanya berpendidikan Sekolah Menengah Pertama ke bawah, maka dapat dipastikan perempuan tersebut hanya berkiprah di ruang domestik dengan berbagai faktor.
Al-Qur‟an menekankan bahwa manusia baik laki-laki maupun perempuan diciptakan sebagai seorang hamba. Meskipun ada sedikit perdebatan tentang penciptaan manusia di antara penafsir yang merujuk pada QS. An-Nisa ayat 1. Akan tetapi menurut al-Qaffal Allah menciptakan manusia dari diri yang satu (nafs wahidah) dan Allah telah menjadikan dari jenis itu pasangannya (zawj) yaitu manusia yang sama karena minha menunjukan arti dari jenis yang sama. Sehingga apabila Adam dan pasangannya sama-sama diciptakan dari tanah, bukan dari tulang rusuk pasangannya.104
Siti Musdah Mulia menegaskan kesetaraan gender melalui sudut pandang tauhid. Tauhid menjadi inti ajaran Islam yang mengajarkan manusia bagaimana menjadi Tuhan yang sejati dan selanjutnya
103 Qasim Amin, Sejarah Penindasan Perempuan: Menggugat Islam Laki-laki, Menggurat Perempuan Baru, (Yogyakarta: Ircisod, 2003), h. 147-148.
104Nasitotul Janah, “Telaah Buku Argumentasi Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur‟an Karya Nasaruddin Umar”, Sawwa: Jurnal Studi Gender, Vol 12 No.2, April 2017, h. 181.
membimbing manusia menjadi manusia yang sejati pula. Kesetaraan gender berpedoman pada ajaran tauhid yang benar. 105
Surah Al-Ikhlas, salah satu dari banyak bagian dalam Al-Qur'an yang membahas tauhid, dapat dianggap sebagai doktrin sentralnya.106 Tauhid yang benar akan mengahadirkan wujud kesetaraan gender dalam keluarga. Semua manusia sama di hadapan Allah, baik sebagai hamba Allah maupun sebagai khalifah. Akibatnya, laki-laki dan perempuan melakukan hal yang sama dalam mengamalkan tauhid, yaitu menyembah hanya kepada Allah. Semua orang adalah saudara atas dasar keadilan dan kesetaraan.