B. Unsur Komunikasi
3. Dampak Media Sosial
“ siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata:
"Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?"”
(QS. Fushshilat [41]: 33)
“ Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik".” (QS. Yusuf [12]: 108)
Karena pentingnya berdakwah, terlebih di zaman yang sudah modern ini, maka Salah satu perkembangan media dakwah mutakhir adalah dakwah melalui media sosial. Media sosial menyiapkan aneka fasilitas yang dapat dijadikan media dakwah. Dengan varian fungsi media sosial, pesan dakwah dapat disampaikan denang lebih menarik dan interaktif.
Selain itu tidak menyimpang dari apa yang sudah di atur oleh Allah dalam Kalam- Nya.
kebijakan pemerintah, dan menjadi alternatif sebagai sumber informasi dibandingkan media tradisional. Interaksi di media sosial juga memperlebar jangkauan dari konten yang diunggah. Distribusi konten itu tidak hanya secara lokal atau diwilayah dengan bahasa tertentu, tetapi juga malampaui batasan geografis dan dikonsumsi oleh pengguna lain dibelahan negara yang berbeda.
Fenomena media sosial juga memberikan sisi berbeda, sebagaimana dijelaskan oleh Turkle (2011) bahwa kemajuan teknologi dan perangkatnya menyebabkan komunikasi dan hubungan dengan orang lain semakin banyak serta luas. Akan tetapi, dalam konteks lain, hubungan itu sekadar jaringan teknologi. Tidak ada keintiman dan kedekatan di antara orang- orang yang terhubung sebagaimana yang ada di dunia nyata. Juga terkait dengan perangkat teknologi, ketika sebuah keluarga sedang berkumpul pada sore hari, kehadiran perangkat telah mengalihkan perhatian atau fokus mereka untuk lebih memperhatikan telepon genggam dibandingkan dengan berbicara dengan orang- orang di ruang tengah.
Contoh lain dari kehadiran media sosial adalah selain adanya kecanduan untuk mengakses media sosial, juga menyebabkan lunturnya ruang privasi dengan ruang publik.48 Selain itu banyak kasus negatif juga yang disebabkan oleh media sosial, diantaranya: media sosial ini digunakan untuk menyampaikan ujaran kebencian (heater speech), membully seseorang, memprovokasi dan membuat atau menyebarkan berita bohong (hoax).49
Selain beberapa contoh kasus di atas, Anang Sugeng Cahyono mengelompokan dampak dari media sosial menjadi dua bagian, yakni dampak positif dan dampak negatif. Diantara kedua dampak tersebut adalah:
48 Rulli nashrullah, Media Sosial Perspektif Komunikasi, Budaya dan Sosioteknologi, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2015), h. 212- 213
49 Iftitah Jafar, “Konsep Berita dalam Al- Qur‟an (Implikasinya dalam Sistem Pemberitaan di Media Sosial)”, dalam Jurnalisa, Vol. 3 No.1 Mei 2017, h. 10
1. Dampak positif
a. Memudahkan kita untuk berinteraksi dengan banyak orang, jarak dan waktu bukan lagi penghalang untuk berinteraksi.
Kehadiran teknologi komunikasi pada dasarnya memberikan kemudahan bagi siapapun yang menggunakan teknologi untuk saling berinteraksi, saling terhubung dalam waktu yang bersamaan; bahkan teknologi telah mewakili kehadiran dan/ atau keterlibatan fisik dalam berkomunikasi.50
b. Memperluas pergaulan karena media sosial memiliki banyak koneksi dan jaringan yang luas
Jejaring ini tidak hanya diartikan sebagai infrastruktur yang menghubungkan antar komputer dan perangkat keras lainnya, namun juga menghubungkan antar individu. Hubungan atau jejaring itu tidak hanya bertipe koneksi dua individu, tetapi juga bisa melibatkan jumlah individu yang bahkan tidak dibatasi.51 Sehingga menyebabkan pergaulan dalam ranah dunia maya menjadi sangat luas.
c. Lebih mudah dalam mengekspresikan diri
Karena interaksi yang terjadi adalah di dalam dunia maya, maka antara individu yang satu dengan lainnya tidak saling bertemu maka menyebabkan tiap individu untuk mengekspresikan dirinya, bahkan orang yang memiliki sifat pemalupun bisa aktif dalam berkomunikasi dalam media sosial, karena tidak menampakkan dirinya secara langsung berbicara di depan umum, melainkan hanya sebatas berkirim pesan atau posting informasi yang dianggapnya perlu untuk diposting.
50 Rulli Nasrullah, Teori dan Riset Media Siber ( Cyber Media) , h. 76
51 Rulli Nasrullah, Teori dan Riset Media Siber ( Cyber Media), h. 75
d. Penyebaran informasi dapat berlangsung secara cepat
Dengan adanya media sosial ini, sudah dipastikan banyak tersajinya informasi, ditambah dengan jenis- jenis dari media sosial itu sendiri yang memiliki fungsi untuk menyambung pertemanan, menyebabkan semakin mudahnya informasi tersebar melalui jaringan pertemanan dan postingan yang disebarkan melalui media tersebut.
e. Biaya lebih murah
Karena media sosial ini berada di dalam ranah maya atau internet, maka biaya cenderung lebih murah, karena tidak lagi membutuhkan biaya transportasi maupun media pembantu lainnya untuk saling berkomunikasi, karena cukup dengan mengakses media sosial menggunakan ponsel yang dilengkapi dengan fitur internet, maka biaya yang dibutuhkan hanya membeli pulsa untuk mengakses informasi yang ingin didapatkan.
2. Dampak negatif
a. Menjauhkan orang- orang yang sudah dekat dan sebaliknya dan informasi tatap muka cenderung menurun „
Seperti yang telah dijelaskan di atas, kadang kala karena terlalu sibuk dengan lawan bicara media maya yang jauh di sana, sehingga tidak memperdulikan orang- orang sekitar yang bahkan duduk bersama di dalam satu ruangan.
b. Membuat orang- orang menjadi kecanduan terhadap internet Dengan akses yang mudah, biaya yang murah, membuat pengguna internet ini kecanduan, terlebih para pengguna tidak perlu lagi repot- repot jalan untuk berinteraksi, cukup dengan menekan sebuah tombol, maka semua bisa di dapatkan.
c. Rentan terhadap pengaruh buruk orang lain
Karena mudahnya informasi tersebar, kadang tidak semua orang bisa menilai mana informasi yang benar mana yang salam, oleh karenanya salah satu cara untuk mengetahui informasi yang di dapat itu adalah benar atau salah, maka diperlukan sikap tabayyun terhadap informasi yang diterima, sehingga tidak mudah terpengaruh dengan issue- issue yang tersebar bebas dalam dunia maya.
d. Masalah privasi
Pad aumumnya pemilik website tidak mengizinkan orang lain untuk masuk ke dalam fasilitas akun pribadi si pemilik, namun semua informasi yang ada di dunia maya menjadi milik publik dan dapat diakses oleh semua orang, kendati ada peringatan untuk tidak mengakses data tertentu, namun tetap saja eksistensi informasi itu menjadi milik publik, karena substansi duni maya adalah milik publik.52
e. Menimbulkan konflik
Seperti yang tercantum dalam buku karya Ellys Lestari Pembayun, “Communication Quotient” yang menyebutkan bahwa antara konflik dan komunikasi saling memengaruhi, dari komunikasi itu dapat menimbulkan konflik. Konflik sendiri di artikan oleh Deutsch sebagai suatu kegiatan atau peristiwa yang dianggap tidak sesuai atau diingini yang dicirikan dengan tindakan- tindakan seperti selalu mencegah, menghalang- halangi,
52 Ratna Istriyani dan Nur Huda Widiana, “Etika Komunikasi Islam dalam Membendung Informasi Hoax di ranah Publik Maya”, dalam Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 36 No.2 2016, h. 306
ikut camppur urusan orang lain, melukai, dan perilaku atau tindakan lain yang tidak disukai atau tidak efektif.53
53 Ellys Lestari Pembayun, Communication Quotient, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), cet. 1 h. 199
AYAT AL- QUR’AN, HADIS DAN PERATURAN PERUNDANG- UNDANGAN TENTANG ETIKA KOMUNIKASI DI MEDIA SOSIAL A. Ayat- Ayat Etika Komunikasi dalam Al- Qur’an
Al- Qur’an menyatakan contoh atau praktik etika komunikasi dengan beberapa sebutan, diantaranya:
1. Hiwâr, yang menurut bahasa artinya adalah pembicaraan yang berlangsung antara dua orang atau lebih. Hiwâr juga berarti bertukar pikiran dan saling mengoreksi dalam pembicaraan. Adapun menurut istilah hiwâr artinya pembicaraan yang berlangsung dua orang atau lebih yang bertujuan untuk menyampaikan informasi atau meyakinkan orang lain dalam suasana tenang dan tidak panas.
Hiwâr menurut istilah umum adalah diskusi yang berlangsung antara dua pihak atau lebih dengan tujuan untuk meluruskan pandangan, menampilkan hujjah, menetapkan kebenaran menghilangkan syubhat (keragu- raguan) dan mengembalikan orang yang salah pemahamannya kepada kebenaran.1
Kata hiwâr ditemukan tiga kali dalam Al- Qur’an, pertama, dalam surah al- Kahf ayat 34 dan 37 dan di surah al- Mujâdilah ayat 12
Dua ayat yang terdapat dalam surah al- Kahf mengenai dialog seorang pemilik kebun dengan seorang sahabatnya yang tidak memiliki banyak kekayaan seperti pemilik kebun. Sedangkan dalam surah al- Mujâdilah mengisahkan seorang wanita yang datang kepada Rasulullah saw.
mengadukan suaminya kepada Allah swt.
1 Harjani Hefni, Komunikasi Islam, (Jakarta: Prenada Media Grup, 2015), h. 124
2 Muhammad Fu’âd Abd. Al- Bâqy, al- Mu‟jam al Mufahrâs li alfâdz al- Qur‟an al- Karîm, (t. tp: Angkasa, t.th), h. 280
2. Jidâl menurut bahasa berarti memintal benang, kata ini memberikan inspirasi bahwa jidâl adalah upaya untuk merajut pendapat- pendapat yang bersebrangan seperti merajut benang- benang yang kusut.
Asalnya digunakan untuk orang yang bersebrangan dengan pendapat yang kita yakini agar kembali sesuai dengan yang sebenarnya. Dalam jidâl masing- masing pihak berusaha untuk meyakinkan dan mengalahkan lawannya dengan kata- kata telak dan kadang- kadang bercampur dengan suasana panas. Dalam Bahasa Indonesia, jidâl lebih dekat diartikan debat.
Kata Jidâl dalam Al- Qur’an dengan berbagai jenisnya disebutkan sebanyak 29 kali. Tersebar dalam 16 surat dalam 27 ayat. Yaitu, an- Nisâ [4]: 109 dan Hûd [11]: 32, masing- masing dua kali, al- Baqarah [2]: 197, an- Nisâ [4]: 107, al- An’âm [6]: 121, 125, al- A’râf [7]: 71, al- Anfâl [8]: 6, Hûd [11]: 74, ar Ra’d [13]: 13, an- Nahl [16]: 111, 125, al Kahf [18]: 54, 56, al- Hajj [22]: 3, 8, 68, al- Ankabût [29]: 46, Luqman [31]: 20, Ghâfir [40]: 4, 5, 25, 56, 69, asy- Syûra [42]: 35, al- Mujâdalah [58]: 1 masing- masing satu kali.3
3. Bayân secara Bahasa artinya jelas atau terang. Sedangkan menurut istilah bayân berarti menjelaskan tujuan dengan pilihan kata yang paling tepat.4 Kata bayân sangat banyak dituliskan di dalam Al- Qur’an dengan berbagai bentuknya.
4. Tadzkîr berasal dari kata dzakara yang berarti mengingat. Ketika bangun katanya menjadi dzakara- tadzkîr artinya berubah menjadi mengingatkan atau memberi peringatan.
3 Muhammad Fu’âd Abd. Al- Bâqy, al- Mu‟jam al Mufahrâs li alfâdz al- Qur‟an al- Karîm, (t. tp: Angkasa, t.th), h. 165
4 Ibnu Mandzur, Lisan al- „Ara, (Beirut: Dâr Shâdir, 1412-1992), juz. 13, h. 68-69
Kata tadzkîr dan tadzakkur dalam berbagai bentuknya disebutkan dibeberapa tempat dalam Al- Qur’an. Diantaranya: al- An’âm [6]: 70, ar- Ra’d [13]: 19, Ibrahim [14]: 5, Thâhâ [20]: 44, Fathir [35]: 37, az- Zumar [39]: 9, Ghafir [40]: 13, adz- Dzariyat [51]: 49, an- Nâziat [79]:
35, al- A’la [87]: 9-10, al- Ghâsyiyah [88]: 21, al- Fajr [89]: 23.
Selain empat kata cara menyampaikan pesan atau etika dalam berkomunikasi seperti di atas, ada beberapa kata yang juga sering digunakan Al- Qur’an untuk menyampaikan pesan, diantaranya:
Tabligh yang berarti selesai, Tabsyir yang berarti bahagia atau gembira, indzâr yang berarti menyampaikan peasn dengan cara mengingatkan yang bertujuan untuk menumbuhkan rasa takut dan kehati- hatian, baik untuk diri komunikator maupun komunikan, Ta’aruf yang berarti tahu atau kenal, Tawâshi berasal dari kata wasiat yang secara bahasa artinya bersambung, Nasihat yang berarti murni, bersih jernih, Irsyâd yang berarti mencari petunjuk ke jalan yang lurus lawan dari kata sesat, wa’dz dan mau’idzah yang artinya mengingatkan kebaikan yang membuat hati menjadi lembut, dan idzkâl al- surûr yang artinya membahagiakkan orang lain. Selanjutnya untuk mempermudah dalam pencarian kata etika saat melakukan komunikasi dibuatlah tabel yang sudah menyebutkan pengelompokan jenis etika yang biasa digunakan saat berkomunikasi, sudah menggunakan bahasa yang biasa kita kenal dalam kehidupan sehari- hari, namun tetap berdasarkan ayat Al- Qur’an, yaitu:
No. Ayat Etika Komunikasi5
Ayat
1. Berkata Benar An- Nisa [4]: 8-9 , al- Isrâ [17]: 39, al-
5 Pengelompokan ayat diambil dari buku Index Al- Qur’an. Lihat: Baiquni, Syawaqi,
dkk, Indek Al- Qur‟an (Cara Mencari Ayat Al- Qur‟an), (Surabaya: Arkola, 1996), h. 1-344
Ahzâb [33]: 70, 35 2. Larangan mencari
kesalahan orang lain
Al- hujurât [49]: 12
3. Kata dan Perkataan
al- Baqarah [2]: 169, an- Nisa [4]: 135, al- an’âm [6]: 112-113, Luqman [31]: 6, az- Zumar [39]: 17-18, Fushhilat [41]:
33, 4.
Larangan melontarkan kata- kata jelek, dan berbantah- bantahan
An- Nisa [4]: 147, al- Anfâl [8]: 46
5. Kata “Maaf”
al- Baqarah [2]: 237, ali Imran [3]: 134, an- Nisa [4]: 43, 99, 149, al- A’râf [7]:
199,al- Hajj [22]: 60, an- Nȗr [24]: 22, asy- Syûra [42]: 4, 25, 30, 34, 40, al- Mujadalah [58]: 2
6.
Larangan mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan
Al- Isrâ [17]: 36
7. Berbicara
al- Baqarah [2]: 118, 204, an- Nisâ [4]:
164, al- A’râf [7]: 143, Luqman [31]:
19, Ar- Rahmân [55]: 4-5, - 144, ash- Shâf [61]: 2-3, an- Nabâ [78]: 37 8. Argumentasi al- An’am [6]: 149, Yusuf [12]: 108 9. Beda Pendapat an- Nisâ [4]: 159, asy- Syûra [42]: 10
10. Baca
an- Nisâ [4]: 43, al- A’raf [7]: 24, al- Hijr [15]: 90-93 an- Nahl [16]: 96, al- Isrâ [17]:107- 110, Maryam [19]: 58,
Luqman [31]: 7, Fâthir [35]: 20, ash Shaffât [37]: 3, , Fushhilat [41]: 26, al- jatsiyah [45]: 6, al- jumu’ah [62]: 2, al- Alaq [96]: 1-6al- Qâri’ah [101]: 77
11. Prasangka
ali Imrân [3]: 27, 37, 154, al- An’âm [6]: 116- 117, Yunus [10]: 36, , al Ahzâb [33]: 10, Saba [34]: 20, al- Fath [48]: 6, al- Hujurât [49]: 12, an- Najm [53]: 28
12. Berita
Al- Baqarah [2]: 97, 119- 213, an- Nûr [24]: 11-26, Shâd [38]: 67, an- Nabâ [78]: 1-5,
13. Berlapang Dada an- Nahl [16]: 127, An- Nûr [24]: 22, al- Balâd [90]: 14
14.
Mencintai perdamaian dan menghindari konflik
Al- Anfâl [8]: 61-62, at- Taubah [9]: 4- 7, Hud [11]: 118- 119, al- Hujurât [49]:
9-10,
15. Dakwah
al- Baqarah [2]: 135, ali Imran [3]: 104, al- Hijr [15]: 95, An- Nahl [16]: 125- 128, al- Kahfi [18]: 28, al- Hajj [22]:
67, al- Mu’minun [23]: 72, al- Furqan [25]: 57, al- Qashshash [28]: 87, Shad [38]: 86, asy- Syûra [42]: 15-16, 23, ath- Thûr [52]: 40, al- Muddatsir [74]:
3-7
16. Debat Al- Baqarah [2]: 139, 258, ali- Imran [3]: 65- 66, an- Nisâ [4]: 105, 107-109,
al- Hajj [22]: 3, 8-9, Luqman [31]: 20- 21, al- Mukmin [40]: 4, 35, 56, 69, asy- Syura [42]: 16, 35
17. Dengar
Ali- Imran [3]: 35- 121, al- A’raf [7]:
204, Yunus [10]: 65, Hud [11]: 20, Ibrahim [14]: 39, al- Isrâ [17]: 1, 36, al- Hajj [22]: 61, 75, ar- Rûm [30]: 52, Luqman [31]: 28, Sabâ [34]: 50, Fâthir [35]: 22, az- Zumar [39]: 23, ath- Fushhilat [41]: 4-5, al- Ahkaf [46]: 29- 31, Thagâbun [64]: 16, al- Jin [72]: 1-2, 13, al- Insân [76]: 2-4
18. Dialog
Al- A’râf [7]: 48-51, al- Furqan [25]:
17-18, al- Qashshas [28]: 62- 64, ash- Shaffat [37]: 51-57, al- Muddatsir [74]:
40- 47
19. Diskusi Al- Ankabut [29]: 46
20. Siang dan Malam
ali- Imrân [3]: 27, 190, al- An’am [6]:
96, Yunus [10]: 6-7, al- Isrâ [17]: 12, al- Hajj [22]: 61, al- Mukminun [23]: 80, an- Nûr [24]: 44, al- Furqan [25]: 47, 62, al- Qashshash [28]: 71, Luqman [31]: 29, Fathir [35]: 13, al- Mukmin [40]: 41, 73, az- Zumar [39]: 5, al- Jatsiyah [45]: 5, al- Hadid [57]: 6, , an- Nabâ [78]: 11, Muzammil [73]: 20 21. Pergaulan Pria dan
Wanita
An- Nûr [24]: 30-31, 58-64, al- Hujurat [49]: 9-12
22. Menggunakan kata untuk menyesatkan
Luqman [31]: 6
23. Menjaga hubungan baik sesama manusia
al- Baqarah [2]: 27, ali Imran [3]: 28, 118, an- Nisâ [4]: 1, Al- Anfal [8]: 1, ar- Ra’d [13]: 21, 25
24. Perundingan al- Fath [48]: 7-10, Al- Mujadalah [58]:
7
25. Suudzan Ali Imran [3]: 154, al- Ahzab [33]: 10, al- Fath [48]: 6, al- Hujurat [49]: 18 26. Kisah Nabi Sulaiman
berkaitan dengan surat
Al- Anbiyâ [21]: 78-82, an- Naml [27]:
15-44, Saba’ [34]: 12-14, Shâd [38]: 30- 40