BAB II TINJAUAN PUSTAKA
G. Dampak Pengelolaan Pariwisata
Setiap perubahan yang terjadi disuatu daerah pasti akan menimbulkan dampak, baik secara sosial, budaya, maupun ekonomi pada masyarakat, begitu juga dengan perubahan yang terjadi sebagai akibat pengelolaan pariwisata. Dalam setiap pengelolaan pariwisata, satu hal yang tidak bisa dihindari adalah kemungkinan timbulnya dampak negatif bersamaan dengan dampak positif yang memang diharapkan. Dampak negatif yang dimaksud dapat terjadi pada kondisi alam sekitar, kondisi sosial, budaya, maupun ekonomi masyarakat setempat. Oleh karena itu pengembang pariwisata perlu berusaha supaya dampak negatif yang ditimbulkannya bisa diminimalkan, dan manfaat yang diperoleh bisa menjadi lebih besar atau dapat dimaksimalkan.
Adapun manfaat yang akan diperoleh dari pengelolaan pariwisata antara lain:
1. Menimbulkan Efek Berganda
Pariwisata meiliki efek penyebaran pada sektor-sektor lainnya seperti sektor pertanian, sektor pengolahan bahan pangan, kerajinan tangan, sektor bangunan, sektor industri dan lain-lain.
2. Diversifikasi Usaha
Dengan adanya pariwisata maka daerah tujuan wisata akan menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat setempat. Dimana masyarakat disini tidak lagi bergantung pada sektor utama saja, misalnya: pertanian, pertambangan, perkebunan dan lain-lain melainkan penyediaan seperti daging, telur, sayur, alat- alat dekorasi dan lain sebagainya yang diperlukan oleh para wisatawan pada saat menginap di hotel.
3. Memperluas Kesempatan Kerja
Menurut Dwi Sadono (1990), dampak peluang kerja yang dapat muncul sebagai akibat dari pembangunan pariwisata ada tiga macam, yakni:
a. Dampak langsung, yakni peluang kerja di dalam jenis-jenis usaha yang secara langsung menjual produk wisata, yakni barang-barang dan jasa-jasa kepada wisatawan, misalnya: hotel, restoran, transportasi, usaha-usaha hiburan dan toko-toko cindera mata.
b. Dampak tidak langsung, yakni peluang kerja yang munculnya dipengaruhi oleh pengeluaran wisatawan di dalam kegiatan-kegiatan manufaktur dan distribusi dalam menjual barang-barang dan jasa-jasa untuk usaha pariwisata.
c. Peluang kerja di sektor konstruksi dan industri barang-barang modal yang berkaitan dengan kegiatan pariwisata.
4. Peningkatan Fasilitas Penduduk
Pembangunan pariwisata akan berpengaruh besar terhadap peningkatan fasilitas kehidupan masyarakat karena semakin banyak fasilitas yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan wisatawan, akan semakin banyak pula fasilitas masyarakat yang tersedia di daerah tujuan obyek wisata tersebut. Misalnya pembangunan jalan yang sebelumnya ditujukan untuk mempermudah akses wisatawan yang akan menuju suatu obyek wisata, pada kenyataannya dapat digunakan oleh masyarakat setempat.
5. Memperluas Kesempatan Berusaha
Banyaknya wisatawan yang datang untuk menikmati daya tarik suatu obyek wisata di suatu daerah tentunya akan menjadikan kebutuhan hidup di daerah meningkat. Peningkatan kebutuhan hidup inilah yang mendorong tumbuhnya berbagai usaha di berbagai sektor yang tujuannya untuk memenuhi kebutuhan hidup ini. Dengan demikian, pariwisata di suatu daerah bermanfaat bagi peningkatan kesempatan berusaha, terutama yang ditujukan untukmemnuhi kebutuhan wisatawan.
6. Mempercepat Perkembangan Pemukiman Penduduk
Berkembangnya pariwisata menjadi pendorong bertambahnya pemukiman penduduk. Ini dikarenakan banyaknya wisatawan yang datang ke daerah tujuan wisata tersebut begitu pula peningkatan kebutuhan barang dan jasa yang diperlukan wisatawan. Keadaan seperti ini menjadi pendorong para
pengusaha/masyarakat untuk membuka usaha di daerah itu. Hal yang sering terjadi, tempat usaha itu dalam perkembangannya biasanya digunakan sebagai tempat tinggal para wisatawan. Bisa juga terjadi, karena merasa nyaman dan mendapatkan banyak hal yang dibutuhkan di daerah tujuan wisata sehingga memutuskan untuk tinggal di lokasi tersebut.
7. Peningkatan Pelayanan Transportasi
Pelayanan transportasi yang awalnya ditujukan untuk mendukung pengembangan pariwisata, yakni supaya akses wisatawan menuju akses wisatawan menuju oyek wisata menjadi lebih baik, juga digunakan untuk masyarakat. Dengan demikian, terjadi peningkatan pelayanan transportasi. Bisa juga terjadi peningkatan ini dalam hal kualitas pelayan transportasi, yakni perbaikan pelayanan transportasi yang telah ada yang awalnya ditujukan untuk pelayanan kepada wisatawan, kenyataannya dapat juga digunakan oleh masyarakat setempat.
8. Memperluas Kesempatan Pendidikan
Dalam hal pengembangan pariwisata dibutuhkan sumberdaya manusia yang banyak. Dalam hal ini tentunya yang dibutuhkan adalah sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan dibidang pariwisata, yakni yang dapat memberikan pelayanan dengan standar kualitas tertentu. Oleh karena itu supaya kebutuhan akan sumberdaya manusia seperti itu terpenuhi maka diperlukan pendidikan khusus pariwisata. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa berkembangnya pariwisata akan memberikan perluasan kesempatan pendidikan bagi masyarakat, khususnya pendidikan pariwisata.
9. Preservasi Dan Konservasi Lingkungan
Keberhasilan pembangunan pariwisata tidak saja dilihat dari dari banyaknya wisatawan yang mengunjunginya, tetapi juga dari kelangsungan keberadaan sumberdaya yang menjadi daya tarik wisata. Jika yang dimaksud berupa alam/lingkungan, maka kelestarian lingkungan harus menjadi tujuan dari pengelola pariwisata supaya usahanya dapat berkembang dan berlangsung secara berkelanjutan. Dengan begitu berkembangnya pariwisata akan menguntungkan dari sisi pelestarian alam.
10. Pengembangan Wawasan Sosial
Kedatangan wisatawan di daerah tujuan wisata akan berpengaruh kepada pengembangan wawasan sosial, baik wisatawan maupun masyarakat setempat.
Masyarakat setempat menjadi lebih luas wawasan sosialnya karena melihat dan kemungkinan memahami budaya wisatawan, sedangkan wisatawan menjadi terbuka wawasan sosialnya dengan melihat dan mengetahui budaya masyarakat setempat. Pertemuan budaya yang berbeda ini memungkinkan terjadinya saling memahami antar pihak dan pemahaman pada masing-masing pihak mengenai perbedaan budaya yang dimiliki serta memungkinkan semakin berkurangnya rasa curiga terhadap pihak lain. Kondisi demikian ini akan memdorong dan memupuk persaudaraan yang menjadi modal dasar perdamaian.
Selain itu Menurut buku Pegangan Penatar dan Penyuluh Kepariwisataan Indonesia yang diterbitkan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, sedikitnya manfaat dan dampak negatif yang ditimbulkan tersebut dapat ditinjau dari empat aspek.
1. Ekonomi
a. Manfaatnya ialah Menambah devisa, Membuka kesempatan berusaha.
Menambah lapangan kerja,Meningkatkan pendapatan masyarakat dan pemerintah Mendorong pembangunan daerah.
b. Dampak negatifnya ialah Harga barang dan jasa pelayanan menjadi naik, karena banyaknya pengunjung atau wisatawan yang dianggap selalu membawa uang banyak dan Harga tanah naik akibat dari banyaknya para investor yang memerlukan tanah untuk pembangunan hotel dan sarana penunjang industri pariwisata
2. Sosial Budaya
a. Manfaatnya ialah Pelestarian budaya dan adat, Meningkatkan kecerdasan masyarakat, Meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani dan .Mengurangi konflik sosial.
b. Dampak negatifnya ialah Penduduk khususnya remaja suka mengikuti pola hidup para wisatawan yang tidak sesuai dengan budaya dan kepribadian bangsa kita sendiri.
3. Berbangsa dan Bernegara
a. Manfaatnya ialahMempererat persatuan dan kesatuan, Menumbuhkan rasa memiliki dan kecintaan terhadap tanah air serta Memelihara hubungan baik secara internasional.
b. Banyaknya peluang dan pemanfaatan wisatawan juga mengundang perilaku yang tidak bertanggung jawab misalnya: pemerasan, perjudian,
prostitusi, pencurian, pengedaran barang barang terlarang, penipuan dan lain sebagainya.
4. Lingkungan
a. Manfaatnya ialah Melestarikan lingkungan, Menumbuhkan suasana hidup tenang dan bersih, Meningkatkan kesegaran fisik dan mental Jauh dari polusi, santai dapat mengembalikan kesehatan fisik dan mental. demikian pengembangan pariwisata merupakan salah satu cara dalam upaya untuk melestarikan lingkungan.
b. Dampak negatifnya ialah Terjadi pengrusakan lingkungan, baik karena pembangunan prasarana dan sarana pariwisata, maupun karena ulah pengunjung atau tangan-tangan jahil orang yang tidak bertanggung jawab.
H. Kerangka Pikir
Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas pelayanan serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, swasta/pengusaha, pemerintah dan pemerintah daerah.
Dalam pengelolaan pariwisata perlu memperhatikan bahwa implementasi rencana pariwisata akan melibatkan banyak pihak yakni masyarakat, pemerintah dan dunia usaha. Oleh karena itu sebelum program aksi ini dilaksanakan, maka perlu disosialisasikan dengan baik supaya ada persepsi yang sama antara pihak- pihak yang dimaksud. Kesamaan persepsi ini akan mempermudah pelaksanaan pengelolaan pariwisata. Dengan demikian kerjasama pemerintah, swasta dan masayaraka dalam pengelolaan pariwisata berupaya memanfaatkan seluruh potensi sumberdaya yang dimiliki guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat
serta meningkatkan kualitas lingkungan dengan senantiasa tetap menjaga kelestarian sumber daya yang ada. Berikut kerangka pikir penelitian:
Bagan Kerangka Pikir
I. Fokus Penelitian
Kerjasama Pemerintah dan Swasta merupakan hal yang sangat penting dalam dalam upaya pengelolaan pariwisata. Dengan adanya kerjasama antar pihak kepentingan baik permerintah, swasta maupun partisipasi masyarakat dalam pengelolaan pariwisata ini tidak tertutup kemungkinan dalam pengelolaannya akan berlangsung dengan baik dan berkelanjutan. Sebagaimana tertuang dalam
Kerjasama Pemerintah dan Swasta Dalam Pengelolaan Obyek Wisata Pantai Baloiya di Kecamamatan Bontosikuyu Kabupaten Kepulauan Selayar
Kerjasama Pemerintah dan Swasta
1. Perlindungan terhadap lingkungan alam dan budaya 2. Penyediaan infrastruktur pariwisata
3. Keamanan dan kenyamanan berwisata 4. Pengembangan sumber daya manusia 5. Promosi dan Pemasaran Pariwisata
Faktor Pendukung
Sarana dan prasarana yang cukup memadai
Faktor Penghambat
Letak georafis obyek wisata Pantai Baloiya
Keberhasilan Pengelolaan Obyek Wisata yang baik dan Berkelanjutan
Peraturan Daerah (PERDA) Kabupaten Kepulauan Selayar Nomor 7 Tahun 2011
peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 1996 dan Peraturan Pemerintah RI Nomor 36 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan kepariwisataan, Presiden Republik Indonesia menimbang Bahwa untuk meningkatkan pengembangan kepariwisataan dalam menunjang pembangunan nasional, di perlukan keterpaduan peranan pemerintah, badan usaha dan masyarakat dalam penyelenggaraan kepariwisataan serta dalam penyelenggaraan kepariwisataan yang memanfaatkan potensi pariwisata nasional, diperlukan berbagai upaya dan langkah untuk tetap memperkukuh jati diri bangsa, memperhatikan mutu dan kelestarian lingkungan, keamanan wisatawan, peran serta masyarakat dan kelangsungan usaha pariwisata.
Penelitian ini berfokus pada kerjasama yang telah dilakukan antara pemerintah dan swasta dalam pengelolaan obyek wisata Pantai Baloiya di Kecamatan Bontosikuyu Kabupaten Kepulauan Selayar. Oleh sebab itu penelitian ini akan mengkaji bagaimana kerjasama pemerintah dan swasta dalam pengelolaan obyek wisata Pantai Baloiya telah berjalan optimal atau tidak di Kabupaten Kepulauan Selayar.
J. Definisi Fokus Penelitian
1. Kerjasama dalam hal ini merupakan adanya kesepakatan antara dua orang atau lebih yang saling menguntungkan. Dimana dalam hal ini Kerjasama Pemerintah dan Swasta dalam Pengelolaan Obyek Wisata Pantai Baloiya Kabupaten Kepulauan Selayar.
2. Perlindungan terhadap lingkungan alam dan budaya.
Dalam hal ini pemerintah dan swasta memiliki otoritas dalam membuat kebijakan politik yang tujuannya untuk memberikan perlindungan terhadap alam dan benda-benda cagar budaya, misalnya melalui berbagai undang-undang, peraturan daerah maupun peraturan lainnya yang secara langsung maupun tidak langsung terkait dengan pengelolaan pariwisata.
3. Penyediaan infrastruktur pariwisata.
Pemerintah dan swasta disini bertanggung jawab dalam hal penyediaan infrastuktur pariwisata misalnya infrastruktur nasional maupun regionalyang pada umumnya difokuskan pada bandara pelabuhan laut, ketentuan mengenai infrastruktur umum dan pendukung pelayanan kepada wisatawan, seperti air, listrik, komunikasi, dan keselamatan.
4. Keamanan dan kenyamanan berwisata.
Pada dasarnya tujuan wisatawan mengunjungi obyek wisata adalah untuk mendapatkan kesenangan dan kenyamanan. Para pengelola pariwisata harus memperhatikan kedua aspek itu secara seksama supaya wisatawan yang berkunjung mempunyai kesan yang baik terhadap produk wisata yang dinikmatinya, oleh karena itu pemerintah dan pihak pengelola/swasta harus dapat memberikan jaminan keamanan ini pada masyarakat maupun wisatawan yang datang.
5. Pengembangan sumber daya manusia.
Dalam hal ini pemerintah mempunyai peran yang sangat penting misalnya, dalam membuat aturan mengenai tata cara pendidikan yang harus dilaksanakan
oleh lembaga pendidikan khusus pariwisata. Pendidikan pariwisata ini dilaksanakan agar sumberdaya manusia memiliki kompetensi di bidang pariwisata.
6. Promosi dan Pemasaran Pariwisata ialah suatu upaya pemerintah dan swasta dalam memperkenalkan suatu obyek wisata baik melalui bentuk brosur, file/CD,internet, dan lain-lain.sebagainya dengan tujuan menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke obyek wisata tersebut.
7. Faktor pendukung, merupakan penunjang dalam pengelolaan obyek wisata 8. Faktor penghambat, hal apa saja yang menjadi hambatan dalam pelaksanaan
pengelolaan pariwisata.
BAB III
METODE PENELITIAN A. Waktu Dan Lokasi Penelitian
Penelitian yang dilaksanakan di Kabupaten Selayar (Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kabupaten Kepulauan Selayar, Topik yang diteliti sekitar tentang peran Pemerintah daerah dan Swasta dalam pengelolaan Objek wisata Pantai Baloiya. Dalam upaya aktualisasi data dan informasi serta realisasi kebijakan dapat dilihat dibeberapa kabupaten/kota terutama dapat terungkap didaerah yang dijadikan sampel dinilai representatif terhadap daerah lain di Kabupaten Kepulauan Selayar. Lokasi yang menjadi sampel yaitu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kepulauan Selayar dan Selayar Island Resor and Dive Center karena data ataupun dokumen-dokumen dapat di peroleh dari kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kepulauan Selayar mengenai Objek Wisata Pantai Baloiya di Kecamatan Bontosikuyu Kabupaten Kepulauan Selayar, penelitian ini yang berlangsung dari bulan maret sampai dengan mei 2014.
B. Jenis Dan Tipe Penelitian
a. Dalam penelitian ini , penulis menggunakan dasar penelitian studi kasus yaitu dimana obyek/ masalah yang dipilih dan diamati,kemudian dianalisis secara menyeluruh sebagai suatu kesatuan yang terintegrasi dengan tujuan akan memperoleh informasi dari sejumlah informan yang dianggap dapat mewakili populasi.
b. Tipe penelitian adalah deskriftif- kualitatif bertujuan untuk memberikan gambaran atau penjelasan tentang kebijakan pemerintah daerah dan swasta
dalam pengelolaan obyek wisata Pantai Baloiya di Kecamatan Bontosikuyu, Kabupaten Kepulauan Selayar.
C. Sumber Data
Sumber data yang dimaksud dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Dimana data hasil penelitian didapatkan melalui dua sumber data yaitu:
1. Data primer, adalah data yang diperoleh langsung dari hasil wawancara yang diperoleh dari narasumber atau informan yang dianggap berpotensi dalam memberikan informasi yang relevan dan sebenarnya di lapangan.
2. Data sekunder, adalah sebagai data pendukung data primer dari literature dan dokumen serta data yang diambil dari bahan bacaan, bahan pustaka, dan laporan-laporan penelitian.
D. Informan Penelitian
Penentuan subjek atau informan dalam penelitian ini, penulis menetapkan informan penelitian diambil dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Selayar serta aparat-aparat terkait dalam hal ini adalah dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 1
No Informan Jumlah
1 Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Selayar
1 orang 2 Staf Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
Kabupaten Kepulauan Selayar
4 orang
3 Petugas SIR ( Selayar Isaland Resort and Dive Centre)
3 orang
4 Masyarakat 2 orang
Total Informan 10 orang
E. Fokus Penelitian
Fokus penelitian merupakan suatu lingkup permulaan yang akan dijadikan sebagai wilayah penelitian, sehingga peneliti akan memperoleh gambaran secara menyeluruh tentang situasi yang akan diteliti. Penetapan fokus penelitian juga sebagai upaya pencegahan terjadinya pembiasaan didalam mendeskripsikan dan membahas masalah yang sedang diteliti. Fokus pada dasarnya adalah masalah pokok yang bersumber dari pengalaman peneliti atau pengetahuan yang diperolehnya melalui kepustakaan ilmiah ataupun kepustakaan lainnya. Dengan demikian yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah Kerjasama Pemerintah dan Swasta Dalam Pengelolaan Obyek Wisata Pantai Baloiya di Kecamatan Bontosikuyu Kabupaten Kepulauan Selayar, yang meliputi:
1. Perlindungan terhadap lingkungan alam dan budaya 2. Penyediaan infrastruktur pariwisata
3. Keamanan dan kenyamanan berwisata 4. Pengembangan sumber daya manusia 5. Promosi dan pemasaran Pariwisata F. Teknik Pengumpulan Data
Data yang dihimpun untuk penelitian ini lebih banyak menggunakan data primer, sedangkan data sekunder hanya digunakan sebagai pelengkap analisi data primer tersebut. Keuntungan dari pemanfaatan data sekunder adalah penelititidak terlibat dalam mengusahakan dana penelitian lapangan, merekrut dan melatih pewawancara, menentukan sampel dan mengumpulkan data di lapangan yang
banyak memakan energi dan waktu. Memakai teknik aksidental yaitu siapa yang ditemui saat penelitian, maka itu yang dijadikan sebagai sampel.
1. Wawancara, penulis mengadakan dialog langsung dengan informan yang dinilai dapat memberikan informasi yang akurat dan tepat menegenai hal yang menyangkut Kerjasama Pemerintah dan Swasta Dalam Pengelolaan Obyek Wisata Pantai Baloiya di Kecamatan Bontosikuyu Kabupaten Kepulauan Selayar. Pertanyaan yang disampaikan penulis secara lisan dan terstruktur, agar fokus pembicaraan terarah kepada kerjasama pemerintah dan swasta serta klasifikasi data sekunder.
2. Observasi, penulis melakukan penelitian langsung ke objek penelitian untuk melihat aktifitas sesungguhnya yang dilakukan pemerintah dan swasta serta masyarakat yang dijadikan sample.
3. Studi dokumentasi, penulis mengkaji naskah-naskah, buku-buku, literatur dan peraturan-peraturan yang berkenaan dengan Kerjasama Pemerintah dan Swasta. Studi ini menambah kejelasan dalam membahas secara rinci permasalahan yang dihadapi Pemerintah dan Swasta Dalam Pengelolaan Obyek Wisata Pantai Baloiya di Kecamatan Bontosikuyu Kabupaten Selayar.
G. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang dilakukan adalah analisis kualitatif dilakukan dengan menggambarkan data-data tentang Kerjasama Pemerintah dan Swasta Dalam Pengelolaan Obyek Wisata Pantai Baloiya di Kecamatan Bontosikuyu Kabupaten Kepulauan Selayar.
Analisis data merupakan bagian yang sangat penting dalam metode penelitian, karena dengan analisis data tersebut dapat diberi makna dan arti yang berguna dalam pemecahan masalah penelitian. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisis data adalah sebagai berikut:
1. Editing, adalah meneliti kembali catatan setelah kembali dari lapangan, data- data diperoleh, dikumpulkan, direduksi, dipilih, kemudian data yang relevan dirangkum dengan permasalahan peneliti.
2. Klasifikasi, yaitu mengelompokkan data-data sesuai dengan masalah yang diteliti.
3. Tabulasi Data, yaitu menggolongkan data kedalam kelompok-kelompok sehingga penelitian menjadi lebih terarah.
4. Interpretasi, interpretasi yaitu mencari data yang lebih luas dari data yang ada diolah bersamaan dengan data yang diperoleh dari hasil wawancara dan dihubungkan dengan teori ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hal yang dimaksud.
H. Keabsahan Data
Triangulasi bermakna yakni mengadakan pengecekan akan kebenaran data yang dikumpulkan dari berbagai sumber data dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang lain, serta pengecekan pada waktu yang berbeda.
1. Triangulasi sumber, triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek pada sumber lain keabsahan data yang telah diperoleh sebelumnya.
2. Triangulasi metode, triangulasi metode bermakna data yang diperoleh dari satu sumber dengan menggunakan metode atau teknik tertentu diuji kekuatan atau ketidak akuratannya.
3. Triangulasi waktu, triangulasi waktu berkenaan waktu pengumpulan data.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi atau Karakteristik Obyek Penelitian
Kabupaten Kepulauan Selayar merupakan salah satu di antara 24 Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten Kepulauan Selayar terdiri dari gugusan beberapa pulau sehingga membentuk suatu wilayah kepulauan. Wilayahnya yang berbentuk kepulauan membuat potensi wisatanya, terutama wisata bahari sangat besar. Salah satu objek wisata bahari yang terkenal disana adalah Taman Nasional Taka Bonerate di kecamatan Takabonerate. Selain obyek wisata bahari Taman Nasional Taka Bonerate, terdapat pula objek-objek wisata bahari lainnya yang menyebar hampir di seluruh Kecamatan di Kabupaten Kepulauan Selayar. Salah satu objek wisata baharinya berada di Kecamatan Bontosikuyu, yakni Pantai Baloiya. Dari sekian banyak pantai yang ada, pantai Baloiya merupakan salah satu objek wisata primadona di Kabupaten Kepulauan Selayar, karena memang pantai ini punya alam yang begitu indah. Ditengah pantainya terdapat hamparan batu dimana hampir seluruh permukaannya ditumbuhi oleh tanaman asoka. Pasir pantainya putih selembut salju dan pesona alam baharinya menakjubkan.
Pantai Baloiya berlokasi di Desa Patikarya, Kecamatan Bontosikuyu, Kabupaten Kepulauan Selayar. Ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk mengunjungi Pantai Baloiya. Salah satunya adalah menggunakan bis yang berangkat dari terminal Malengkeri di kota Makassar, ibukota Sulawesi Selatan dengan kisaran tarif Rp.100.000 hingga Rp.130.000. Cara lainnya adalah
menyebrang lewat laut melalui Pelabuhan Bira, di Kabupaten Bulukumba dengan tujuan pelabuhan Pamatata di Kabupaten Kepulauan Selayar. Pelabuhan Bira sendiri dapat ditempuh dari Makassar selama sekitar 5 jam perjalanan. Kemudian dari Pamatata, anda bisa menggunakan bus dengan tarif sekitar Rp. 20.000 hingga 40.000 menuju Benteng ibukota Kabupaten Kepulauan Selayar. Lokasi pantai Baloiya berjarak kurang lebih 10 kilometer dari Kota Benteng. Di kota inilah para wisatawan bisa menemukan fasilitas penginapan dan restauran, jika ingin bermalam disana.
Di kawasan pantai Baloiya, wisatawan dapat dengan leluasa melakukan aktivitas alam seperti berenang, diving, snorkeling, memancing, dan berjemur.
Bagi pencinta diving dan snorkeling, pantai ini adalah surganya. di kedalaman lautnya terdapat beragam terumbu karang dan ikan berwarna-warni. Kemudian bagi yang gemar memancing, bisa menggunakan perahu sewaan tradisional milik warga setempat atau menghubungi pihak pengelola setempat. Selayar Island Resort and Dive Centre ini adalah sebagai salah satu pihak pengelola obyek wisata pantai baloiya yang bertugas menyiapkan segala fasilitas wisatawan khusus mereka yang melakukan aktivitas snorkeling atau pun diving serta fasilitas penginapan dan restoran.
Berkaitan dengan pengelolaannya,Selayar Island Resort and Dive Centre memiliki beberapa orang petugas yang terdiri dari tenaga honorer Dinas pariwisata dan kebudayaan Kabupaten Kepulauan Selayar maupun dari masyarakat di sekitar Objek Wisata Pantai Baloiya sebagai upaya pemberdayaan
masyarakat lokal. Adapun rincian untuk petugas-petugas Selayar Island Resort di Objek Wisata Pantai Baloiya tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 2 .: Petugas Selayar Island Resort and Dive centre
No Jabatan Jumlah
1 Master Diving 1 orang
2 Diving Centre 1 orang
3 Superpisor 2 orang
4 Tekhnisi 1 orang
5 House cleaning 2 orang
6 Garden Cleaning 3 orang
7 Kitchen 2 orang
Jumlah Total 12 orang
Sumber: Selayar Island Resort and Dive Centre April 2014
SIR and Dive Centre ini sendiri berdiri sejak tahun 2000 yang dimana didirikan oleh Mumiyama Khozo. Mumiyama Khozo sendiri pada saat itu menjabat sebagai direktur PT. Takabonerate Maring Servis. Dalam sejarah berdirinya SIR and Dive Centre, sudah di kelola oleh 3 perusahaan sampai saat ini yaitu sebagai berikut:
a) PT. Takabonerate Maring Servis, Jepan (Tahun 2000–Tahun 2005) b) PT. Indo Pasifik, Jakarta (Tahun 2005–Tahun 2010)
c) PT. Astana Kunti, Bali (Tahun 2010–sekarang)
Untuk sementara, SIR and Dive Centre masih dibawah naungan PT.
Astana Kunti Bali sebagai perwakilan pengelola obyek wisata Pantai Baloiya Kecamatan Bontosikuyu Kabupaten Kepulauan Selayar dalam menfasilitasi segala kebutuhan wisatawan selama berada di obyek wisata Pantai Baloiya. Untuk saat ini Direktur PT Astana Kunti Bali (Pak Agni) belum membentuk struktur organisasi yang baru untuk pengelola dikarenakan dengan alasan belum sempat datang ke Pantai Baloiya sehingga beliau menunjuk Pak Mustaning (Master