• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAMPAK PSIKOLOGIS YANG DIRASAKAN OLEH PEREMPUAN SAAT PANDEMI

Dalam dokumen PEREMPUAN PEREMPUAN DAN PANDEMI COVID-19 (Halaman 133-136)

PEREMPUAN DI MASA PANDEMI COVID-19

B. DAMPAK PSIKOLOGIS YANG DIRASAKAN OLEH PEREMPUAN SAAT PANDEMI

Wabah virus COVID-19 yang terjadi selama lebih kurang 2 tahun terakhir yang terjadi secara cepat dan luas tersebut, telah mengakibat perubahan yang signifikan di setiap aspek kehidupan masyarakat. Wabah tersebut telah menimbulkan keresahan bagi seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya memengaruhi kondisi fisik seseorang, tetapi juga berpengaruh terhadap kondisi psikologisnya. Jika dilihat secara spesifik secara psikis, pandemi COVID-19 berpotensi memberikan dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental individu, seperti perubahan-perubahan diri individu berupa khawatir, cemas, takut, dan stres. Sebenarnya reaksi/respon tersebut merupakan hal yang umum dan lumrah dialami oleh tiap individu ketika ia berada dalam keadaan dan kondisi yang kurang nyaman, terlebih dalam menghadapi situasi pandemi COVID-19 ini. Dalam ilmu psikologi, reaksi atau respon tersebut disebut dengan defens mechanism, yang merupakan suatu bentuk mekanisme pertahanan diri atau dengan kata lainnya dapat dikatakan bahwa sebagai suatu pertanda bahwa ada ancaman yang kita hadapi. Namun, apabila respon atau reaksi tersebut berlebihan, maka akan menganggu kondisi psikologis individu.

Buku yang diterbitkan oleh Taylor pada tahun 2019 tentang The Pandemic of Psychology menguraikan tentang bagiamana suatu penyakit yang dialami seseorang selama pandemi mempengaruhi keadaan/kondisi psikologis seseorang, mulai dari cara berpikir, emosi (seperti rasa takut, khawatir, cemas) serta telah berdampak pada perilaku sosial, seperti menghindar, stigmasisasi, perilaku sehat. Disisi lain, dampak psikologi lainnya yang mulai terlihat dengan jelas yaitu timbulnya prasangka, dan diskriminasi outgroup—yang berpotensi munculnya kebencian dan konflik sosial. COVID 19 diketahui awalnya muncul pada tahun 2019 akhir,

munculnya wabah ini telah menimbulkan prasangka, kebencian dan diskriminasi terhadap warga China di beberapa negara, seperti di Autsralia dan Amerika. Disisi lain, dampak paling meluas dan “menyentuh” hampir semua kalangan masyarakat yaitu, pandemi COVID-19, telah mengubah cara hidup manusia terutama dalam berkomunikasi dan juga berinteraksi dengan orang lain.

Data terbaru yang dipaparkan oleh UNICEF tahun 2021 menguraikan bahwa pandemi COVID-19 ini telah memberikan gangguan kesehatan mental bagi setiap individu, terutama pada perempuan. Dijelaskan bahwa sebanyak 54% ibu rumah tangga yang sudah menikah dengan 1-2 anak, dan juga 43% perempuan sudah menikah tetapi belum punya anak mengalami gangguan kesehatan mental selama pandemi ini. Hal yang sama juga diuraikan dari hasil penelitian UN Women yang dirilis pada Oktober 2020 menunjukkan sebanyak 57% perempuan mengalami peningkatan stres dan kecemasan jika dibandingkan dengan laki-laki (48%). Dengan demikian jelas bahwa perempuan mengalami implikasi dari situasi pandemi ini terhadap kesehatan dan kesejahteraan mentalnya.

Fakta dilapangan menunjukkan bahwa selama masa pandemi ini, perempuan “seakan-akan” dituntut untuk memiliki kemampuan multitasking berlebih. Perempuan menjadi sosok yang memungkinkan segala sesuatu, terutama peran dan statusnya dalam keluarga “dituntut” untuk lebih optimal dan sempurna ditengah situasi yang serba “terbatas”. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya peraturan-peraturan karantina nasional dan pembatasan mobilitas yang diberlakukan, sehingga tak ayal peraturan tersebut menyebabkan para perempuan (baik sebagai ibu, pekerja, dan istri) harus menghabiskan waktu-waktu yang berharga dalam kehidupannya secara mandiri. Ditambah lagi selama masa pandemi COVID 19 ini, menjadikan perempuan memiliki tugas “berlebih”, mulai dari bekerja dari rumah, mengasuh, menjadi guru/ tentor bagi anak-anaknya, dimana hal tersebut cukup menjadikan ukuran terhadap beban psikologisnya yang dialaminya.

Berikut beberapa uraian dampak psikologis khususnya yang dialami perempuan selama masa pademi dilihat berdasarkan peran dan fungsinya dalam keluarga, yaitu:

1) Perempuan yang berperan sebagai ibu rumah tangga, istri, pengasuh dan juga pekerja profesional, jelas memiliki peran dan beban tidak hanya ganda, tapi juga berlipat-lipat—sebagai ibu, pekerja, guru, dan pengurus rumah tangga serta sebagai istri. Pastinya beban fisik dan mental lebih tinggi, hal ini dikarenakan adanya tambahan beban

berlebih, yaitu kelelahannya sebagai pekerja. Sehingga dampak psikologis yang kerap terjadi dan dialami, tidak hanya gangguan emosi, tapi juga burnout hingga gangguan depresi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Fakultas Kedokteran UI yang memperlihatkan sebanyak 83% ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai pekerja (tenaga kesehatan) mengalami burnout syndrome atau stress akibat kelelahan bekerja (BBC,2021).

2) Selama masa pandemic COVID-19, perempuan menjadi kelompok yang lebih rentan terkena stres, cemas, dan depresi (Wang dkk, 2020)

3) Hasil survei KOMNAS HAM pada tahun 2020 menguraikan bahwa sebanyak 96% melaporkan bahwa beban pekerjaan rumah tangga semakin banyak. Perempuan bekerja dua kali lipat dari pada laki-laki dalam hal mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan durasi lebih dari 3 jam. Dan pengurusan rumah tangga lebih banyak dilakukan oleh perempuan dibandingkan oleh laki-laki, dengan jumlah perbandingan 89%; 83,4%.

4) Perempuan juga dibebankan dengan kondisi keuangan keluarga, dikarenakan kebutuhan finansial keluarga selama pandemi semakin bertambah. Dijelaskan bahwa rumah tangga dengan pengeluaran bertambah terjadi prosentase kekerasan fisik dan seksual 100 %, dibandingkan kekerasan psikologis dan ekonomi, yang mencapai 50% atau lebih (KOMNAS HAM, 2020)

5) Ada sekitar 10.3% (235) responden melaporkan bahwa hubungan mereka dengan pasangannya semakin tegang, dimana mereka yang mempunyai status menikah lebih rentan (12%) daripada yang yang tidak (KOMNAS HAM, 2020)

6) Usia 31-40 tahun adalah kelompok yang paling banyak menjawab bahwa hubungan dengan pasangan menikah (2.5%). menjadi lebih tegang sejak pandemi COVID-19. Lebih jauh lagi, jika dicermati berdasarkan penghasilan responden, terdapat 2 kali lebih banyak jumlah responden dengan penghasilan di bawah 5 Juta Rupiah yang menyatakan bahwa hubungan dengan pasangan semakin tegang sejak pandemi COVID-19, dan

7) Pada perempuan lebih banyak mengalami semua jenis kekerasan dibandingkan laki-laki. Selama Pandemi COVID-19 secara umum kekerasan psikologis di uraikan bahwa, kekerasan psikologis, sebanyak 15,3%, atau 289 perempuan, menjawab kadang-kadang

mengalami, dan 3,5%, atau 66 perempuan, menjawab sering mengalami (KOMNAS HAM, 2020).

C. FAKTOR–FAKTOR YANG MEMBEBANI PEREMPUAN

Dalam dokumen PEREMPUAN PEREMPUAN DAN PANDEMI COVID-19 (Halaman 133-136)