• Tidak ada hasil yang ditemukan

WARNA-WARNI PERAN PEREMPUAN SELAMA PANDEMI

Dalam dokumen PEREMPUAN PEREMPUAN DAN PANDEMI COVID-19 (Halaman 64-69)

KESEIMBANGAN

A. WARNA-WARNI PERAN PEREMPUAN SELAMA PANDEMI

tanggungjawabnya sebagai seorang istri maupun ibu di dalam rumah tangga dan diharapkan mampu mengurus suaminya dan anak-anaknya dengan baik (Junaedi & Riana, 2002; Saidah 2017; Samsidar, 2019).

Selain itu, perempuan juga memiliki fitrah sebagai seorang ibu, dimana peran sebagai ibu adalah suatu peran yang sangat mulia. Karena hanya melalui seorang ibu, Tuhan menitipkan benih-benih manusia di dalam rahimnya yang suci untuk kemudian dilahirkan, disusui dan diasuh dengan penuh kasih sayang hingga tumbuh besar menjadi manusia yang berguna. Sebagaimana sebuah syair Arab yang masyhur “Al-ummu madrosatul ula’, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq”, artinya Ibu adalah sekolah atau madrasah pertama bagi anak-anaknya, bila ibu mempersiapkan dan mendidik anak- anaknya dengan baik maka ia telah mempersiapkan generasi terbaik untuk masa depan (Rohmah & Azis, 2018; Lubis & Harahap, 2021).

2. Perempuan Sebagai Anggota Masyarakat

Dalam ajaran agama Islam, tidak ada larangan bagi perempuan untuk berperan aktif dalam masyarakat sesuai dengan fitrah dan kodratnya selama masih dalam koridor norma yang ada. Sebagai bagian dari masyarakat, ada banyak tuntutan peran yang diharapkan dapat dilakukan oleh perempuan sebagai upaya menciptakan lingkungan masyarakat yang kondusif, sehat, aman, tentram, adil dan makmur.

Sejalan dengan tuntutan sektor sosial budaya GBHN Tahun 1978, yang juga memberikan perhatian khusus bagi "Peranan Perempuan" dalam pembangunan, dimana peran perempuan juga sangat penting dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata spiritual dan materiil berdasarkan pancasila didalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka. Sehingga tidak terlalu berlebihan istilah yang sering digaungkan bahwa perempuan adalah tiang negara, karena apabila perempuan berperan baik dalam masyarakat, maka negara akan baik dan jika ia rusak, maka negara pun akan rusak (Lestari, 2011; Ahdiah,2013; Rohmah & Azis, 2018; Lubis & Harahap, 2021). Peran perempuan dalam menciptakan lingkungan masyarakat yang kondusif adalah suatu keniscayaan, sehingga ketika seorang perempuan melihat bahwa masyarakatnya mengalami permasalahan atau gangguan stabilitas, termasuk dalam kondisi pandemi, maka ia harus segera bergerak, berkontribusi mencari jalan keluar dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Bahkan dalam kondisi tertentu,

perempuan diharuskan terjun ke masyarakat dalam berbagai sektor pekerjaan untuk menyelesaikan masalah yang ada.

3. Perempuan Sebagai Pekerja

Badan Pusat Statistik (BPS) mempublikasikan persentase pekerja perempuan Indonesia menurut jenis pekerjaan di tahun 2020 berjumlah 50,70 juta penduduk dengan usia berkisar 15 tahun ke atas. Terjadi peningkatan 2,63% jumlah pekerja perempuan dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sejumlah 49,40 juta orang. Pada tahun 2020, perempuan yang bekerja sebagai tenaga usaha penjualan berjumlah 27,55%. Persentase tersebut meningkat sebanyak 1,07 poin dibandingkan tahun 2019 yaitu sebesar 26,48%. Sebesar 26,65%

pekerja perempuan menjalani peran sebagai tenaga usaha ternak, ikan, perburuan dan hutan,tenaga tani dan kebun. Tenaga kerja perempuan pada bidang tenaga produksi, operator alat angkutan dan pekerja kasar berjumlah 19,65%. Perempuan yang bekerja sebagai teknisi, tenaga profesional dan tenaga lainnya sebanyak 9,8%. Sebagai tambahan, data statistik juga menunjukkan jumlah perempuan yang bekerja sebagai tenaga usaha jasa sebesar 9,22%. Selanjutnya 6,37%

perempuan bekerja sebagai pejabat pelaksana, tenaga tata usaha dan sejenisnya. Sedangkan 0,65% pekerja perempuan merupakan tenaga kepemimpinan dan ketatalaksanaan dan sisanya sebanyak 0,11%

perempuan bekerja pada jenis pekerjaan lainnya (Dihni, 2021).

Gambar 1. Persentase Pekerja Perempuan Indonesia Menurut Jenis Pekerjaan

Menjalankan peran sebagai perempuan bekerja terutama dalam masa pandemi ini merupakan hal yang tidak mudah untuk dilakukan,

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) (2021)

0 5 10 15 20 25 30

tenaga usaha penjualan usaha tani; ternak; kebun produksi alat angkutan tenaga profesional;teknis tenaga usaha jasa pejabat pelaksana tenaga kepemimpinan lainnya

2020

khususnya bagi perempuan yang merangkap perannya sebagai istri, ibu, anak, keluarga dan anggota masyarakat. Karena pada saat yang bersamaan, mereka harus mengurus rumah tangga, mempersiapkan kebutuhan seluruh keluarga, membersihkan dan merapikan rumah, belum lagi merangkap peran menjadi “guru dadakan” akibat sekolah daring, menolong tetangga dan menjadi support system bagi lingkungan masyarakat yg terpapar Covid-19, sekaligus dituntut untuk tetap profesional melakukan dan menyelesaikan urusan “kantor” yang dikerjakan dari rumah. Rasanya tidak berlebihan jika label “perempuan super” atau superwomen di alamatkan bagi kaum perempuan yang menjalankan perannya yang luar biasa banyaknya dibandingkan laki- laki (Erikson, 2005; Kamila, 2020; Dhinni, 2021). Bisa dibayangkan kerepotan dan kerempongan yang dihadapi dan dilakoni perempuan yang bekerja, menjalankan fungsi dan perannya sebagai istri serta ibu yang bertanggungjawab sekaligus sebagai anggota masyarakat yang baik di masa pandemi ini.

J. “INGINNYA” VERSUS “KENYATAAN” YANG DIALAMI PEREMPUAN SELAMA PANDEMI

Pandemi Covid-19 menghadirkan berbagai tantangan yang baru, unik dan menantang untuk seluruh masyarakat di dunia, tidak terkecuali kaum perempuan. Perempuan dengan berbagai tuntutan peran dan tanggung jawab yang dipikulnya memiliki keinginan dan harapan yang sangat besar untuk tetap menjaga kesehatan fisik dan mental keluarga serta lingkungan masyarakat dimasa pandemi ini. Apalagi mengingat tuntutan perannya sebagai penanggung jawab dalam urusan rumah tangga dan juga sebagai bagian dari masyarakat (Samsidar, 2019; Lubis & Harahap, 2021). Bekerja dari rumah selama masa pandemi ini, adalah hal yang sangat diharapkan oleh perempuan. Hal tersebut karena pada saat bekerja, perempuan bisa tetap dekat secara fisik dengan anak-anak dan keluarga, dapat dengan mudah menjaga dan memantau seluruh aktifitas anggota keluarga, terhindar dari perasaan was-was akan kondisi kesehatan anggota keluarga, serta kecil kemungkinan terjangkit virus Covid-19 karena semua anggota keluarga berkegiatan di rumah.

Namun pada saat yang bersamaan, bagi perempuan yang bekerja, menjalankan peran dan tuntutan untuk menjaga kesehatan fisik dan mental keluarga serta lingkungan masyarakat sambil tetap profesional menjalankan perannya dalam bekerja bukanlah hal yang mudah.

Seringkali malah, para perempuan tangguh ini melupakan dan mengabaikan kesehatan fisik dan mentalnya sendiri karena lebih mengutamakan peran mulianya tersebut. Bahkan tidak sedikit perempuan yang mengalami dilema dan konflik di dalam dirinya, antara memprioritaskan urusan keluarga dan masyarakat atau pekerjaan.

Beberapa hasil penelitian menemukan bahwa banyak perempuan bekerja yang mengalami kehilangan orientasi ruang dan waktu, terisolasi dari rekan kerja, teman dan keluarga selama masa pandemi Covid-19 dan sulit membagi serta mengelola perannya dengan seimbang. Pada akhirnya tidak sedikit para perempuan tangguh ini mengalami dilema dan ketidakpastian antara menjalankan rutinitas hidup sehari-hari dalam rumah tangga dan atau menyelesaikan pekerjaan “kantor” yang menjadi tanggung jawabnya. Hal ini berdampak pada munculnya ketegangan tambahan, baik secara fisik, mental, maupun finansial pada diri perempuan. Sehingga sangatlah wajar jika dilema, ketidakpastian dan disorientasi ini mengarah pada gangguan fisik maupun psikis (Bharati, Radha & Murugan, 2020;Venkataraman & Venkataraman, 2020).

Beberapa penelitian di masa pandemi menemukan bahwa tidak sedikit perempuan yang menjalankan peran ganda ini cenderung seperti jam pendulum yang terombang ambing antara tuntutan pekerjaan dan pekerjaan rumah tangga yang tiada henti dan serba tidak pasti di masa pandemi ini. Belum lagi pada saat yang sama, seorang perempuan menghadapi perasaan dilema untuk terus memenuhi tugas 'alaminya' sebagai ibu dan istri di rumah, sekaligus mendapat “pembatasan” dan

“tuntutan” dari suami dan lingkungan sekitarnya saat dia tetap memilih untuk bekerja sekaligus mengurus rumah tangga. Anggapan yang kurang baik juga kerap kali muncul untuk perempuan yang bekerja. Label “istri yang melalaikan tanggung jawab”, “menelantarkan keluarga”, “ibu yang kurang becus dalam mengasuh anak” dan label-label negatif lainnya yang dialamatkan kepada perempuan bekerja cukup menambah tekanan fisik dan psikis yang dirasakannya. Perdebatan panjang dan komentar sinis tentang keseimbangan antara keluarga dan pekerjaan serta pilihan peran ganda yang di jalani perempuan ini tidak pernah ada habisnya. Bahkan dari perspektif sebagian besar ibu rumah tangga konvensional yang sama- sama perempuan, ibu yang memilih untuk bekerja sebenarnya sedang

“mencari-cari” masalah dengan melakukan sesuatu yang bukan menjadi kodratnya. Kebanyakan perempuan bekerja ini pun menghadapi tuntutan dan harapan sosial yang terus-menerus dan terkadang dirasakan cukup

berat untuk ditanggung dan dijalaninya sendiri. Kebanyakan kaum perempuan mendapati diri mereka menyulap tanggung jawab di rumah dan di luar rumah, termasuk pekerjaan sehingga menambah beban kerja dan beban emosional yang berujung pada hilangnya rasa bahagia dan kualitas hidup yang semakin berkurang. Penelitian lainnya bahkan mendapatkan hasil bahwa bagi perempuan bekerja yang sudah menikah dan memiliki tanggung jawab sebagai istri dan ibu, sekaligus bekerja dari rumah di masa pandemi, dapat berdampak sangat parah dalam hal kecemasan dan stres bahkan bisa berujung pada depresi. Studi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar perempuan pekerja yang sudah menikah merasa tidak puas dengan pengaturan kehidupan rumah tangga sekaligus kehidupan kerja di tengah pandemi yang dapat mengganggu kesehatan fisik, psikologis, dan hubungan sosial mereka dengan keluarga serta lingkungan sekitarnya (Bharati, Radha & Murugan, 2020; Da Silva, Padilha, Rodrigues, Reis & Driusso, 2021; Nidhi, Nandi, Segan, Awasthi &

Janardhanan, 2021).

K. PEREMPUAN DAN PERANNYA: KELUARGA,

Dalam dokumen PEREMPUAN PEREMPUAN DAN PANDEMI COVID-19 (Halaman 64-69)