13.1. Pendahuluan
Pada tutorial kedelapan, mahasiswa melakukan pendalaman atas bahan kajian pada kuliah keenam melalui diskusi mengenai ketentuan-ketentuan teknik penyusunan peraturan perundang-unangan perubahan, pencabutan dan pengesahan peraturan perundang-undangan.
Penyusunan peraturan perundang-undangan ini merujuk pada penyajian materi dalam bentuk application task dengan wacana berjudul “Kontroversi Perubahan UU ITE”, yang terdapat pada Penyajian Materi dalam pertemuan keduabelas. Dengan tutorial tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menyusun peraturan perundang-undangan tentang perubahan peraturan perundang- undangan, perundang-undangan tentang pencabutan peraturan perundang-undangan, yang sesuai dengan wacana. Untuk itu, untuk masing-maing tema peraturan perundang-undangan yang disusun disediakan bahan kajian tersendiri pada penyajian materi.
13.2. Penyajian Materi
Bahan kajian penyusunan peraturan perundang-undangan perubahan peraturan perundang-undangan disajikan dengan wacana sebagai berikut.
KONTROVERSI PERUBAHAN UU ITE
Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) perubahan atas UU ITE No. 11 Tahun 2008 baru saja mulai berlaku pada Senin, 28 Nopember 2016. Tujuan perubahan adalah untuk memberikan kepastian hukum dan perlakuan yang adil bagi para pengguna internet.
Perubahan yang dilakukan antara lain pemerintah diberikan wewenang untuk memutus akses informasi elektronik yang dianggap melanggar hukum, pemerintah berewenang untuk melakukan pemfilteran atau pemblokiran konten yang dianggap melanggar Undang-Undang, sesuai dengan UU terkait. Ada pula penambahan ketentuan mengenai right to be forgotten atau hak untuk
197
dilupakan dengan menghapus konten informasi elektronik yang tidak benar, berdasarkan keputusan pengadilan.
Perubahan yang menuai kontroversi adalah adanya pasal yang mengatur pencemaran nama baik menjadi delik aduan, sehinga seseorang yang melakukan pencemaran nama baik tidak serta merta dapat diproses hukum jika tidak ada pengaduan. Ancaman hukuman pencemaran nama baik diturunkan dari maksimal enam tahun menjadi empat tahun sehingga tersangka pelaku pencemaran nama baik tidak akan ditahan. Sebab KUHP menentukan bahwa penahanan perlu dilakukan jika ancaman penjara di atas lima tahun. Tetapi tetap ada risiko bagi pengguna internet akan dikenakan pasal pencemaran nama baik akibat urusan sepele. Karena itulah diusulkan pasal pencemaran nama baik sebaiknya dihapuskan karena dianggap dapat membatasi kebebasan berekspresi. Ancaman pidana yang tinggi pun untuk syarat suatu penahanan tidak begitu signifikan dalam memutus rantai kebebasan berekspresi. Selama pasal itu ada, akan menjadi cara untuk menargetkan orang-orang tertentu yang dianggap melanggar UU ITE. Sepanjang tahun 2015 terdapat 45 kasus kriminalisasi terhadap ekspresi yang sah, Laporan tahunan Amnesty Internasional tentang kondisi HAM di Indonesia menyoroti pemidanaan orang yang mengekspresikan pandangannya secara damai, dengan dasar hukum tentang pencemaran nama baik, penghujatan, dan 'ujaran kebencian'. Misalnya penjatuhan hukuman lima bulan penjara oleh Pengadilan Neger Bandung kepada seorang perempuan karena percakapan asusila di Facebook.
Perempuan itu dijerat Pasal 27 ayat (1) UU ITE karena 'mentransmisikan Informasi Elektronik dengan muatan yang melanggar kesusilaan'.
Pada sisi lain, ungkapan kebencian atau hate speech' di dunia maya sudah kronis dan jika tidak diatasi akan membunuh kita bersama. Para penyebar kebencian bertebaran di berbagai media sosial: di kolom komentar Facebook, forum-forum online, cuitan di linimasa Twitter, Instagram, hingga sosial media yang paling terbatas sekalipun seperti Path. Hal itu disebabkan anonimitas di dunia maya membuat orang lebih bebas bersuara - apalagi dengan akun fiktif, orang bisa mempengaruhi orang lain dengan motif tertentu. Para penebar kebencian perlu diberikan hukuman sosial karena itu merupakan musuh besar kebebasan berekspresi.
Sumber: diadaptasi dari http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38124294, http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/02/160224_indonesia_internet_kebebasan ekspresi, http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/08/150826_trensosial_hatespeech.
Petunjuk: diskusikan bahan kajian di atas, kemudian susunlan RUU Perubahan UU ITE.
Bahan kajian penyusunan peraturan perundang-undangan pencabutan peraturan perundang-undangan disajikan dengan wacana sebagai berikut.
BURUH DEMO UU TAX AMESTY DAN PP NO. 78 TAHUN 2015
Kelompok serikat pekerja dan buruh di 20 provinsi meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, Jawa Barat, Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau (Batam), Gorontalo, Sulawesi Utara,
198
Sulawesi Barat secara serentak mengadakan aksi untuk menuntut pencabutan UU Tax Amnesty (Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2016) dan PP No. 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan pada hari Kamis 29 September 2016. Massa aksi akan berkumpul di Patung Kuda Indosat dan sebagian di Balaikota DKI Jakarta. Dalam aksi tersebut, buruh menuntut dua hal yaitu: pertama Cabut PP No. 78 Tahun 2015, tolak upah murah dan naikkan upah minimum tahun 2017 sebesar Rp. 650.000,00; kedua, tolak UU Tax Amnesty.
PP No. 78 Tahun 2015 dinilai bertentangan dengan UU No.13 Tahun 2003, khususnya terkait dengan mekanisme penetapan upah minimum. Sebab penetapan upah minimum hanya didasarkan pada inflansi dan pertumbuhan ekonomi, sedangkan dalam UU No.13 Tahun 2003 berlandaskan pada kebutuhan hidup layak (KHL) yang dilakukan melalui mekanisme survei KHL dan pembahasan di Dewan Pengupahan.
Kenaikan upah minimum tahun 2017 yang ideal adalah sebesar 650 ribu. Angka ini didasarkan pada survei pasar yang menggunakan 60 item. Dengan demikian, buruh tidak asal meminta kenaikan upah. Tetapi didasarkan pada data dan kebutuhan hidup.
Penolakan UU Tax Amnesty dengan alasan bahwa tax amnesty bersifat diskriminatif. Tax Amnesty merupakan bentuk hukuman bagi orang yang taat membayar pajak. Orang yang taat membayar pajak tidak ada keringanan bahkan jika dalam kondisi dikenakan didenda sekalipun.
Pada sisi lain, mereka yang tidak membayar pajak justru diampuni. Alasan buruh melakukan aksi berkaitan dengan isu perpajakan adalah agar kas negara menjadi besar sehingga bisa membiayai berbagai program pembangunan terutama program kesejahteraan dan jaminan social, misalnya dapat membiayai lebih banyak untuk tunjangan ibu hamil dan melahirkan, tunjangan pendidikan anak atau sekolah gratis hingga perguruan tinggi, jaminan kesehatan, jaminan pengangguran, pelayanan transportasi, dan perumahan murah untuk rakyat, serta tunjangan guru.
Direktur Jenderal Pajak (DJP) Kemenkeu, Ken Dwijugeasteadi menganggap aksi buruh yang menolak tax amnesty ialah hak warga negara. Hal tersebut lumrah karena aksi buruh untuk menyampaikan aspirasi. Namun, Ken menjelaskan bahwa tax amnesty diperuntukkan untuk wajib pajak yang memiliki penghasilan di atas Rp 4,5 juta per bulan atau Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Jadi, buruh boleh melepas haknya untuk tax amnesty. Jadi buruh tidak tersentuh tax amnesty, dan itu hak.
Sumber: diadptasi dari Sucipto, Kamis, 29 September 2016, “Buruh Demo Tuntut Pencabutan UU Tax Amnesty”, http://wartaekonomi.co.id/read/2016/09/29/114974/buruh-demo-tuntut- pencabutan-uu-tax-amnesty.html, hlm.1; Septian Deny, 29 Sep 2016, “Ini Untungnya Pencabutan UU Tax Amnesty buat Buruh”, http://bisnis.liputan6.com/read/2614109/ini- untungnya-pencabutan-uu-tax-amnesty-buat-buruh, hlm. 1.
Petunjuk: diskusikan bahan kajian di atas, kemudian susunlan RUU Pencabutan UU Tax Amesty dan Rancangan PP Pencabutan PP No. 78 Tahun 2015.
Bahan kajian penyusunan peraturan perundang-undangan pengesahan perjanjian atau persetujuan internasional, disajikan dengan wacana sebagai berikut.
199
INDONESIA DAN JEPANG SEPAKATI KERJA SAMA PERTAHANAN
Dalam waktu dekat, pemerintah Indonesia akan menandatangani nota kesepahaman (MoU) bidang pertahanan dengan pemerintah Jepang. Duta Besar Indonesia untuk Jepang, Yusron Ilza Mahendra, mendorong industri pertahanan di Indonesia seperti PT Pindad, PT PAL, dan PT Dirgantara Indonesia (DI) untuk memanfaatkan peluang tersebut.
Jepang saat ini sudah melakukan deregulasi kebijakan atas ekspor alat-alat pertahanan atau penjualan senjata. Sebelumnya, kerja sama pertahanan Jepang dengan negara lain selalu terhambat aturan di dalam negeri yang membatasi Jepang untuk memiliki kekuatan militer. Ini peluang yang besar sekali. Misalnya, kerja sama pesawat dengan PT DI atau bisa join dalam riset, produksi, dan capital (modal). Kerjasama di bidang industri pertahanan, iklimnya sangat baik.
Jepang di bawah Perdana Menteri (PM) Shinzo Abe berusaha mengamandemen pasal 9 UUD Jepang yang isinya membatasi negara itu untuk memiliki kekuatan militer. Namun, amandemen ternyata tidak dimungkinkan sehingga pemerintah mengusulkan rancangan undang- undang (RUU) yang isinya menyebutkan konstitusi bisa memiliki tafsiran baru. RUU itu sudah disepakati oleh parlemen, sehingga Jepang berani membuka diri untuk kerjasama pertahanan sejak 1 April 2014. Dengan demikian, seandainya ada masalah-masalah di Laut Cina Selatan, konflik Vietnam, atau konflik yang menyangkut kepentingan nasional, Jepang secara kualitatif bisa meningkatkan pertahanannya.
Yusron mengatakan bahwa, MoU itu juga memungkinkan alat-alat pertahanan atau senjata asal Jepang untuk masuk ke Indonesia. Misalnya, Indonesia sebelumnya pernah berkeinginan mengimpor mesin Hino dari Jepang, namun terhambat pasal 9 UUD Jepang. Selain itu, Indonesia bisa mendapatkan tiga keuntungan sekaligus lewat kerjasama pertahanan tersebut atau ibaratnya buy one get three. Keuntungannya adalah pertahanan di dalam negeri semakin baik, diplomasi pertahanan menjadi semakin kuat, dan industri pertahanan bisa meningkatkan perekonomian Indonesia.
Sumber: diolah dari C-5/L-8, https://www.pindad.com/indonesia-dan-jepang-sepakati-kerja- sama-pertahanan
Petunjuk: diskusikan bahan kajian di atas, kemudian susunlan RUU Pengesahan Persetjuan Internasional Indonesia – Jepang.
13.3. Penutup
Pada akhir tutorial, mahasiswa wajib mengumpulkan hasil tutorial berupa Rancangan Undang-Undang Perubahan UU ITE, Rancangan Undang-Undang Pencabutan UU Tax Amesty, Rancangan PP Pencabutan PP No. 78 Tahun 2015, dan RUU Pengesahan Persetjuan Internasional Indonesia – Jepang. Hasil tutorial dibuat dalam tulisan tangan, yang akan direview lebih dahulu oleh pengampu mata kuliah. Hasil tutorial yang sudah direview wajib diketik dengan format sebagai berikut: