• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyusunan Pembukaan

Dalam dokumen Perancangan Peraturan Perundang-Undangan (Halaman 93-107)

TEKNIK PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

NOMOR 19 TAHUN 2010 TENTANG

8.6. Penyusunan Pembukaan

Ketentuan Nomor 14 pada Lampiran II UU No. 12 Tahun 2011 menentukan bahwa, Pembukaan Peraturan Perundang–undangan terdiri dari:

a. Frasa Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa;

b. Jabatan pembentuk Peraturan Perundang-undangan;

c. Konsiderans;

d. Dasar Hukum; dan e. Diktum.

Frasa “Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa”.

Frasa DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA yang dicantumkan dalam pembukaan peraturan perundang-undang dan dicantumkan sebelum nama jabatan pembentuk peraturan perundang-undangan, adalah untuk memberikan suatu cerminan bahwa rumusan dalam peraturan perundang-undangan yang dibentuk tersebut mengalir atau dipenuhi oleh rahmat Tuhan Yang Maha Esa.35 Ketentuan teknik penyusunan Frasa Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa terdapat dalam Lampiran II UU No. 12 Tahun 2011 pada Nomor 15, yaitu:

34Contoh pada Ketentuan Nomor 5 Lampiran II UU No. 12 Tahun 2011.

35 Maria Farida indrati Soeprapto, Op. Cit, hlm.95.

94

1. dicantumkan dalam pembukaan, sebelum nama jabatan pembentuk peraturan perundang- undangan;

2. ditulis seluruhnya dengan huruf kapital; dan 3. diletakkan di tengah marjin.

Contoh:

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2012

TENTANG PENDIDIKAN TINGGI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Jabatan pembentuk Peraturan Perundang-undangan.

Jabatan pembentuk peraturan perundang-undangan adalah penyebutan terhadap lembaga negara atau pejabat yang berwenang untuk mengesahkan ataupun menetapkan peraturan tersebut baik ditingkat pusat maupun daerah. Sebagai contoh misalnya: Presiden Republik Indonesia untuk Undang-Undang, Perpu, Peraturan Pemerintah, dan Peraturan Presiden. Gubernur Propinsi untuk Peraturan Daerah Propinsi, Bupati/Walikota untuk Peraturan Daerah Kabupaten/Kota dan sebagainya. Ketentuan teknik penusunan Jabatan pembentuk Peraturan Perundang–undangan terdapat dalam Lampiran II UU No. 12 Tahun 2011 pada Nomor 16, yakni:

1. ditulis seluruhnya dengan huruf kapital;

2. diletakkan di tengah marjin; dan 3. diakhiri dengan tanda baca koma.

Dalam contoh bagian frasa Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa tersebut di atas terdapat Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan, dalam hal itu yang berwenang mengesahkan Undang-Undang ialah Presiden Republik Indonesia. contoh Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan untuk Peraturan Daerah Propinsi dan Kabupaten, antara lain:

95

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 6 TAHUN 2014

TENTANG

PERLINDUNGAN ANAK

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 06 TAHUN 2013

TENTANG

PENANGGULANGAN KEMISKINAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI BANTUL, Konsiderans.

Lampiran II UU No. 12 Tahun 2011 menentukan teknik penyusunan Konsiderans pada ketentuan nomor 17 – 27 bahwa, Konsiderans diawali dengan kata Menimbang, yang memuat uraian singkat mengenai pokok pikiran yang menjadi pertimbangan dan alasan pembentukan Peraturan Perundang–undangan. Pokok pikiran pada konsiderans Undang–Undang, Peraturan Daerah Provinsi, atau Peraturan Daerah Kabupaten/Kota memuat unsur filosofis, sosiologis, dan yuridis yang menjadi pertimbangan dan alasan pembentukannya yang penulisannya ditempatkan secara berurutan dari filosofis, sosiologis, dan yuridis.

1) Unsur filosofis menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk mempertimbangkan pandangan hidup, kesadaran, dan cita hukum yang meliputi suasana kebatinan serta falsafah bangsa Indonesia yang bersumber dari Pancasila dan Pembukaan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

2) Unsur sosiologis menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam berbagai aspek.

3) Unsur yuridis menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk untuk mengatasi permasalahan hukum atau mengisi kekosongan hukum dengan mempertimbangkan

96

aturan yang telah ada, yang akan diubah, atau yang akan dicabut guna menjamin kepastian hukum dan rasa keadilan masyarakat.

Dengan demikian, pada Konsiderans Undang-Undang dan Peraturan Daerah terdapat paling tidak tiga pertimbangan dan alasan yang menyebabkan dibentuknya peraturan perundang- undangan tersebut, yaitu alasan dan pertimbangan yang bersifat filosofis, sosiologis, dan yuridis.

Jika konsiderans memuat lebih dari satu pokok pikiran, maka setiap pokok pikiran dirumuskan dalam rangkaian kalimat yang merupakan kesatuan pengertian. Tiap-tiap pokok pikiran diawali dengan huruf abjad, dan dirumuskan dalam satu kalimat yang diawali dengan kata bahwa dan diakhiri dengan tanda baca titik koma. Jika konsiderans memuat lebih dari satu pertimbangan, rumusan butir pertimbangan terakhir berbunyi sebagai berikut:

Contoh, Konsiderans Undang-Undang:

Menimbang: a. bahwa…;

b. bahwa ...;

c. bahwa …;

d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c perlu membentuk Undang-Undang tentang ...;

Dalam praktik terdapat konsiderans Undang-Undang yang terdiri dari lebih dari 4 (empat) nomor pertimbangan, namun esensinya tetap menunjukkan pertimbangan dari aspek filosofis, sosiologis, dan yuridis. Contoh untuk itu, antara lain Konsideran UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan:

Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, yang merata, baik materiil maupun spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

b. bahwa dalam pelaksanaan pembangunan nasional, tenaga kerja mempunyai peranan dan kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku dan tujuan pembangunan;

c. bahwa sesuai dengan peranan dan kedudukan tenaga kerja, diperlukan pembangunan ketenagakerjaan untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja dan peransertanya dalam pembangunan serta peningkatan perlindungan tenaga kerja dan keluarganya sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan;

d. bahwa perlindungan terhadap tenaga kerja dimaksudkan untuk menjamin hak hak dasar pekerja/buruh dan menjamin kesamaan kesempatan serta perlakuan

97

tanpa diskriminasi atas dasar apapun untuk mewujudkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya dengan tetap memperhatikan perkembangan kemajuan dunia usaha;

e. bahwa beberapa undang undang di bidang ketenagakerjaan dipandang sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan tuntutan pembangunan ketenagakerjaan, oleh karena itu perlu dicabut dan/atau ditarik kembali;

f. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana tersebut pada huruf a, b, c, d, dan e perlu membentuk Undang undang tentang Ketenagakerjaan;

Konsideran peraturan perundang-undangan yang menyatakan bahwa peraturan perundang-undangan dianggap perlu untuk dibentuk adalah kurang tepat karena tidak mencerminkan pertimbangan dan alasan dibentuknya peraturan perundang-undangan tersebut.

Misalnya konsiderans Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958 Tentang Kewarga-Negaraan Republik Indonesia36:

Menimbang :

Bahwa perlu diadakan Undang-undang Kewarganegaraan Republik Indonesia;

Konsiderans tersebut tidak menunjukkan adanya alasan pertimbangan dibentuknya Undang- Undang tersebut. Sebab di situ hanya dinyatakan “perlu diadakan Undang-undang Kewarganegaraan Republik Indonesia”, tetapi tidak ada pokok pikiran yang menjadi alasan kenapa Undang-Undang tersebut perlu dibentuk.

Konsiderans Peraturan Pemerintah (PP) cukup memuat satu pertimbangan yang berisi uraian ringkas mengenai perlunya melaksanakan ketentuan pasal atau beberapa pasal dari Undang-Undang yang memerintahkan pembentukan Peraturan Pemerintah tersebut dengan menunjuk pasal atau beberapa pasal dari Undang–Undang yang memerintahkan pembentukannya.

Contoh Konsideran, PP Nomor 43 Tahun 2014 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa :

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 31 ayat (3), Pasal 40 ayat (4), Pasal 47 ayat (6), Pasal 50 ayat (2), Pasal 53 ayat (4), Pasal 66 ayat (5), Pasal 75 ayat (3), Pasal 77 ayat (3), dan Pasal 118 ayat (6) Undang-Undang Nomor

36Undang-undang Nomor 62 Tahun 1958 Tentang Kewarga-Negaraan Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak berlaku dan dicabut dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.

98

6 Tahun 2014 tentang Desa serta untuk mengoptimalkan penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa;

Dengan demikian, Konsiderans PP Nomor 43 Tahun 2014 dengan tegas menyatakan bahwa PP ini dimaksudkan untuk melaksanakan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, terutama melaksanakan ketentuan Pasal 31 ayat (3), Pasal 40 ayat (4), Pasal 47 ayat (6), Pasal 50 ayat (2), Pasal 53 ayat (4), Pasal 66 ayat (5), Pasal 75 ayat (3), Pasal 77 ayat (3), dan Pasal 118 ayat (6).

Konsiderans Peraturan Pemerintah dapat juga memuat pokok-pokok pikiran secara filosofis, sosiologis dan yuridis, seperti Ketentuan Nomor 19 pada Lampiran II UU No. 12 Tahun 2011 sebagai pertimbangan dan alasan pembentukan peraturan peerintah tersebut. Hal itu dapat dilihat misalnya Konsiderans Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 99 Tahun 2012 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 Tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan.

Menimbang: a. bahwa tindak pidana terorisme, narkotika dan prekursor narkotika, psikotropika, korupsi, kejahatan terhadap keamanan negara dan kejahatan hak asasi manusia yang berat, serta kejahatan transnasional terorganisasi lainnya merupakan kejahatan luar biasa karena mengakibatkan kerugian yang besar bagi negara atau masyarakat atau korban yang banyak atau menimbulkan kepanikan, kecemasan, atau ketakutan yang luar biasa kepada masyarakat;

b. bahwa pemberian Remisi, Asimilasi, dan Pembebasan Bersyarat bagi pelaku tindak pidana terorisme, narkotika dan prekursor narkotika, psikotropika, korupsi, kejahatan terhadap keamanan negara dan kejahatan hak asasi manusia yang berat, serta kejahatan transnasional terorganisasi lainnya perlu diperketat syarat dan tata caranya untuk memenuhi rasa keadilan masyarakat;

c. bahwa ketentuan mengenai syarat dan tata cara pemberian Remisi, Asimilasi, dan Pembebasan Bersyarat yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan, belum mencerminkan seutuhnya kepentingan keamanan, ketertiban umum,

99

dan rasa keadilan yang dirasakan oleh masyarakat dewasa ini, sehingga perlu diubah;

d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan;

Konsiderans Peraturan Presiden (perpres) cukup memuat satu pertimbangan yang berisi uraian ringkas mengenai perlunya melaksanakan ketentuan pasal atau beberapa pasal dari Undang-Undang atau Peraturan Pemerintah yang memerintahkan pembentukan Peraturan Presiden tersebut dengan menunjuk pasal atau beberapa pasal dari Undang-Undang atau Peraturan Pemerintah yang memerintahkan pembentukannya. Konsiderans Peraturan Presiden untuk menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan memuat unsur filosofis, sosiologis, dan yuridis yang menjadi pertimbangan dan alasan pembentukan Peraturan Presiden

Contoh 1, Perpres RI Nomor 3 Tahun 2016 Tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional:37

Menimbang : a. bahwa dalam rangka percepatan pelaksanaan proyek strategis untuk memenuhi kebutuhan dasar dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, perlu dilakukan upaya percepatan pelaksanaan Proyek Strategis Nasional;

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Presiden tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional;

Contoh 2, Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2016 Tentang Daftar Bidang Usaha Yang Tertutup dan Bidang Usaha Yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal:38

Menimbang: a. bahwa untuk melaksanakan Pasal 12 ayat (4) dan Pasal 13 ayat (1) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal telah d itetapkan Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2014 tentang Daftar Bidang

37 chrome-extension://oemmndcbldboiebfnladdacbdfmadadm/https://www.ekon.go.id/hukum/download /2168/1596/perpres-3-2016.pdf.

38 chrome-extension://oemmndcbldboiebfnladdacbdfmadadm/http://www.ssek.com/download/document/

Negative_Investment_List_(Indonesian)_150.pdf.

100

Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal;

b. bahwa untuk lebih meningkatkan kegiatan penanaman modal baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri untuk percepatan pembangunan dengan tetap meningkatkan perlindungan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, serta Koperasi dan berbagai sektor strategis nasional serta meningkatkan daya samg ekonomi dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN dan dinamika globalisasi ekonomi, dipandang perlu mengganti ketentuan n1engenai daftar bidang usaha yang tertutup dan bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan di bidang penanaman modal;

c. bahwa sehubungan dengan hal sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b di atas, perlu menetapkan Peraturan Presiden tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usal yang Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal;

Konsiderans Peraturan Daerah; sesuai dengan Ketentuan Nomor 19 Lampiran II UU No. 12 Tahun 2011 memuat pokok-pokok pikiran filosofis, sosiogis dan yuridis sebagai prtimbangan dan alasan pembentukan. Tetapi, dapat juga memuat hanya satu pertimbangan yang berisi uraian ringkas mengenai perlunya melaksanakan ketentuan pasal atau beberapa pasal dari Undang-Undang atau Peraturan Pemerintah yang memerintahkan pembentukan Peraturan Daerah tersebut dengan menunjuk pasal atau beberapa pasal dari Undang-Undang atau Peraturan Pemerintah yang memerintahkan pembentukannya.

Contoh Konsiderans Peraturan Daerah yang memuat pokok-pokok pikiran filosofis, sosiologis dan yuridis, misalnya Konsiderans Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 6 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Menimbang : a. bahwa anak anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang merupakan generasi penerus bangsa dan dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya yang harus dipertanggungjawabkan keberadaannya, sehingga perlu dilakukan upaya terarah, sistematis dan bermakna untuk menghormati, melindungi serta menjamin terpenuhinya hak anak;

b. bahwa di Provinsi banyak anak yang perlu mendapat perlindungan dari berbagai bentuk tindak kekerasan, eksploitasi dan keterlantaran yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah, masyarakat dan keluarga;

c. bahwa dalam rangka memberikan arahan, landasan, dan kepastian hukum bagi Pemerintah Daerah, masyarakat dan keluarga dalam perlindungan anak perlu diadakan pengaturan tentang Perlindungan Anak;

101

d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b dan huruf c, perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Perlindungan Anak;

Contoh lain, misalnya Konsiderans Peraturan Daerah Kabupaten Bekasi Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketentuan Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran:39

Menimbang: a. bahwa penyelenggaraan pencegahan danpenanggulangan bahaya kebakaran telah diatur dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bekasi Nomor 28 Tahun 2000, namun sejalan dengan perkembangan pembangunan, perkembangan teknologi, dan sebagai upaya untuk lebih meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam bidang pencegahan dan penanggulangan kebakaran serta dengan telah terbitnya Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung;

b. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 17 ayat (3) Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, telah mengamanatkan persyaratan kemampuan Bangunan Gedung dalam mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran merupakan kemampuan Bangunan Gedung untuk melakukan pengamanan terhadap bahaya kebakaran melalui sistem proteksi pasif dan/atau proteksi aktif;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Daerah tentang Ketentuan Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran;

Dalam Konsiderans Peraturan Daerah Kabupaten Bekasi tersebut terdapat hanya tiga pertimabangan. Namun sudah mencerminkan pokok pikiran filosofis, sosiologis dan yuridis.

Pokok pikiran filosofis dan sosiologis digabungkan menjadi satu pada pertimbangan huruf a.

Contoh Konsideran Peraturan Daerah yang hanya memuat satu pertimbangan, misalnya Konsiderans Peraturan Daerah Kabupaten Bangka Barat Nomor 8 Tahun 2010 tentang Hutan Kota40.

Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Hutan Kota;

39 www.bekasikab.go.id:8080/alfresco/d/d/workspace/SpacesStore/f52a7e9b-59fc-4acb-ab1c- 53d9966d59fe/6_LDPerda6Damkar. pdf

40 Lihat contoh Ketentuan Nomor 27 pada Lampiran II UU No. 12 Tahun 2011.

102 Dasar Hukum.

Dasar hukum diawali dengan kata Mengingat, yang memuat:

a. Dasar kewenangan pembentukan Peraturan Perundang-undangan; dan

b. Peraturan Perundang-undangan yang memerintahkan pembentukan Peraturan Perundang- undangan.

Penulisan Dasar hukum pembentukan Undang-Undang yang berasal dari DPR adalah Pasal 20 dan Pasal 21 UUD 1945. Sedangkan dasar hukum pembentukan Undang-Undang yang berasal dari Presiden adalah Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 UUD 1945. Sementara itu, dasar hukum pembentukan Undang-Undang yang berasal dari DPR atas usul DPD adalah Pasal 20 dan Pasal 22D ayat (1) UUD 1945.

Contoh UU Usul Presiden, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2014 Tentang Administrasi Pemerintahan :41

Mengingat: Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Jika UUD 1945 memerintahkan langsung untuk membentuk Undang-Undang, pasal yang memerintahkan dicantumkan dalam dasar hukum. Jika materi yang diatur dalam Undang- Undang yang akan dibentuk merupakan penjabaran dari pasal atau beberapa pasal UUD 1945, pasal tersebut dicantumkan sebagai dasar hukum.

Contoh UU Nomor 8 Tahun 2012 Tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Mengingat: Pasal 1 ayat (2) dan ayat (3), Pasal 18 ayat (3), Pasal 19 ayat (1), Pasal 20, Pasal 22C ayat (1) dan ayat (2), Pasal 22E, Pasal 24C ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Dasar hukum pembentukan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang.

Dasar hukum pembentukan Undang-Undang tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang menjadi Undang-Undang adalah Pasal 5 ayat (1), Pasal 20, dan Pasal 22 ayat (2) UUD 1945. Dasar hukum pembentukan Undang-Undang tentang Pencabutan Peraturan

41 http://www.hukumonline

103

Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah Pasal 5 ayat (1), Pasal 20, dan Pasal 22 ayat (3) UUD 1945.

Dasar hukum pembentukan Peraturan Pemerintah adalah Pasal 5 ayat (2) UUD 1945; pembentukan Peraturan Presiden dilakukan berdasarkan Pasal 4 ayat (1) UUD 1945.

Sedangkan pembentukan Peraturan Daerah berdasarkan pada Pasal 18 ayat (6) UUD 1945, Undang-Undang tentang Pembentukan Daerah dan Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah.

Jika terdapat peraturan perundang-undangan di bawah UUD 1945 yang memerintahkan secara langsung pembentukan peraturan perundang-undangan, peraturan perundang-undangan tersebut dimuat di dalam dasar hukum.

Contoh Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2016 tentang Dosen dan Tenaga Kependidikan pada Perguruan Tinggi Negeri Baru:

Mengingat : 1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 158, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5336);

3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5494);

Ketentuan lain mengenai teknik penyusunan dasar hukum yang diatur dalam Lampiran II UU No.12 Tahun 2011 adalah:

1. Peraturan perundang-undangan yang digunakan sebagai dasar hukum hanya peraturan perundang-undangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi.

2. Peraturan perundang-undangan yang akan dicabut dengan peraturan perundang-undangan yang akan dibentuk, peraturan perundang-undangan yang sudah diundangkan tetapi belum resmi berlaku, tidak dicantumkan dalam dasar hukum.

3. Jika jumlah peraturan perundang-undangan yang dijadikan dasar hukum lebih dari satu, urutan pencantuman perlu memperhatikan tata urutan peraturan perundang-undangan dan jika tingkatannya sama disusun secara kronologis berdasarkan saat pengundangan atau penetapannya.

104

4. Frasa UUD 1945 ditulis sesudah penyebutan pasal terakhir dan kedua huruf “u” ditulis dengan huruf kapital.

5. Dasar hukum yang bukan UUD 1945 tidak perlu mencantumkan pasal, tetapi cukup mencantumkan jenis dan nama peraturan perundang-undangan tanpa mencantumkan frasa Republik Indonesia.

6. Penulisan jenis peraturan perundang-undangan dan rancangan peraturan perundang- undangan, diawali dengan huruf kapital. Contoh: Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.

Rancangan Undang-Undang, Rancangan Peraturan Pemerintah, Rancangan Peraturan Presiden, Rancangan Peraturan Daerah Provinsi dan Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.

7. Penulisan Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah, dalam dasar hukum dilengkapi dengan pencantuman Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung.

8. Penulisan Perda sebagai dasar hukum dilengkapi dengan pencantuman Lembraran Daerah Provinsi, Kabupaten/Kota dan Tambahan Lembaran Daerah Provinsi, Kabupaten/

Kota yang diletakkan di antara tanda baca kurung.

9. Penulisan Peraturan Presiden tentang pengesahan perjanjian internasional dan Peraturan Presiden tentang pernyataan keadaan bahaya dalam dasar hukum dilengkapi dengan pencantuman Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung.

10. Dasar hukum yang berasal dari peraturan perundang-undangan zaman Hindia Belanda atau yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sampai dengan tanggal 27 Desember 1949, ditulis lebih dulu terjemahannya dalam bahasa Indonesia dan kemudian judul asli bahasa Belanda dan dilengkapi dengan tahun dan nomor Staatsblad yang dicetak miring di antara tanda baca kurung.

Contoh:

Mengingat: 1. ...;

105

2. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (Wetboek van Koophandel, Staatsblad 1847: 23 );

11. Jika dasar hukum memuat lebih dari satu peraturan perundang-undangan, setiap dasar hukum diawali dengan angka Arab 1, 2, 3, dan seterusnya, dan diakhiri dengan tanda baca titik koma.

Contoh :

Mengingat: 1. …;

2. …;

3. …;

Diktum.

Diktum peraturan perundang-undangan adalah penyebutan/penulisan nama peraturan peraturan perundang-undangan yang dibentuk, sesuai dengan nama yang tertulis dalam judul peraturan perundang-undangan.42 Diktum terdiri atas:

a. kata Memutuskan;

b. kata Menetapkan; dan

c. jenis dan nama Peraturan Perundang-undangan.

Teknik penlisan kata Memutuskan, sebagai berikut:

a. ditulis seluruhnya dengan huruf kapital;

b. tanpa spasi di antara suku kata;

c. diakhiri dengan tanda baca titik dua; dan d. diletakkan di tengah marjin.

Pada Undang-Undang, sebelum kata Memutuskan dicantumkan Frasa: Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA yang diletakkan di tengah marjin.

Contoh Undang-Undang:

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN:

42 Maria Farida Indrati Soeprapto, Op Cit, hlm. 98

106

Pada Peraturan Daerah, sebelum kata Memutuskan dicantumkan Frasa: Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH …(nama daerah) dan GUBERNUR/

BUPATI/WALIKOTA … (nama daerah), yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital dan diletakkan di tengah marjin.

Contoh Peraturan Daerah:

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI BALI dan

GUBERNUR BALI MEMUTUSKAN:

Teknik penyusunan Kata Menetapkan, sebagai berikut:

a. dicantumkan sesudah kata Memutuskan yang disejajarkan ke bawah dengan kata Menimbang dan Mengingat;

b. huruf awal kata Menetapkan ditulis dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik dua;

c. jenis dan nama yang tercantum dalam judul peraturan perundang-undangan dicantumkan lagi setelah kata Menetapkan tanpa frasa Republik Indonesia; dan

d. jenis dan nama peraturan perundang-undangan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik.

Contoh:

MEMUTUSKAN:

Menetapkan: UNDANG–UNDANG TENTANG KEPARIWISATAAN.

Jenis dan nama yang tercantum dalam judul Peraturan Daerah dicantumkan lagi setelah kata Menetapkan tanpa frasa Provinsi, Kabupaten/Kota, serta ditulis seluruhnya dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik.

Contoh:

MEMUTUSKAN:

Menetapkan: PERATURAN DAERAH TENTANG KEUANGAN DESA.

Dalam dokumen Perancangan Peraturan Perundang-Undangan (Halaman 93-107)