BAB II KARANGKA TEORI
B. Dasar Hukum Jual Beli
Hukum jual beli berdasarkan kepada dalil Al-Qur`an, Sunnah dan Ijma adalah jaiz atau mubah (boleh).14 Dilihat dari aspek hukum, jual beli hukumnya mubah kecuali jual beli yang dilarang oleh syara‟.15
1. Al-Qur`an
Dasar hukum yang pertama dalam menetapkan hukum tentang jual beli adalah Al-Qur`an. karena ayat-ayat Al-Qur`an merupakan pedoman hidup dan ketetapan hukum yang langsung berasal dari Allah SWT, dan memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam.
13Hendri Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), h. 68-69
14Mardani, Hukum Perikatan Syariah Indonesia, h. 4
15Ahmad Wardi Muslich, Fiqh Muamalah, h. 177
a. Surah Al-Baqarah (2) ayat 275:
ُ
ُةروس(
:ةرقبلا ٥٧٢ )
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-Baqarah [2]:275)
b. Surah Al-Baqarah (2) ayat 282:
...
( :ةرقبلاُةروس ٥٨٥
)
ُ
ُ
“...Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli...” (QS. Al- Baqarah [2]:282)
20
c. Surah An-Nisa‟ (4) ayat 29:
...
( :ءآسّنلاُةروس ٥٩
)
ُ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama- suka di antara kamu.” (QS An-Nisa‟ [4]: 29)
M. Quraish Shihab menafsirkan bil-batil, memakan harta dengan tidak seimbang, sedangkan perolehan interaksi yang tidak seimbang itulah yang dimaksud dengan batil: la ta‟kulu amwalakum bainakum bil-batil. Janganlah kamu memakan harta sebagian antara kamu, yakni janganlah memperoleh dan menggunakannya. Pengembangan harta tidak dapat terjadi kecuali dengan interaksi antara manusia dengan manusia lain, dalam bentuk pertukaran dan bantu-membantu.
Makna-makna inilah yang antara lain di kandung oleh penggunaan kata “antara kamu” dalam Firman-Nya yang memulai uraian menyangkut perolehan harta terjadi antara dua pihak. Harta seakan-akan berada di tengah kedua pihak pada posisi ujung yang berhadapan. Keuntungan atau kerugian dari interaksi itu, tidak boleh di tarik terlalu jauh oleh masing- masing, sehigga salah satu pihak merugi, sedangkan pihak yang lain mendapat keuntugan, sehingga bila demikian harta tidak lagi berada di tengah atau antara, dan kedudukan kedua pihak tidak lagi seimbang. Perolehan yang tidak seimbang adalah batil dan yang batil adalah segala seusatu yang tidak hak, tidak dibenarkan oleh hukum, serta tidak sejalan dengan
tuntunan Ilahi, walaupun dilakukan atas dasar kerelaan yang berinteraksi.16
2. Sunnah
Berkaitan dengan jual beli Rasulullah SAW pernah ditannya oleh salah seorang sahabat mengenai pekerjaan yang baik, maka jawaban beliau ketika itu adalah jual beli. Peristiwa tersebut sebagaimana terdapat dalam hadist:
a. Hadist yang diriwayatkan oleh Rifa‟ah ibn Rafi‟:
َي ِ ضَز ٍعِفاَز ِنْب ِتَعا َفِز ْنَع ِهْي َلَع ُالله ىَلَص َّي ِبَّىلا َّنَأ ُهْىَع ُالله
ُّلُكَو ِه ِدَيِب ِل ُجَّسلا ُل َمَع َلا َق ؟ ُبَيْطَأ ِب ْسَكْلا ُّيَأ :َلِئ ُس َمَّل َسَو ) ُم ِكا َحلا ُه َح َح َص َو ُزاَّزَبلا ُها َوَز( ٍزْو ُرْب َم ٍعْيَب
17
“Dari Rifa‟ah bin Rafi‟ ra.ia berkata, bahwasanya Rasulullah SAW pernah ditanya: Usaha apakah yang paling baik itu (ya Rasulullah ) ? maka Beliau Menjawab, “yaitu pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli itu baik.” (HR. Imam Bazzar, dan dinilai shahih oleh Imam Hakim).
Artinya jual beli yang jujur, tanpa di iringi kecurangan- kecurangan, mendapat berkat dari Allah.18
16Kementerian Agama RI, Pembangunan Ekonomi Umat (Tafsir Al- Qur`an Tematik), (Jakarta: Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama, 2012), Cet-2, h.24- 25
17Muhmmad bin Isma‟il Al-Kahlani, Subul As-Salam, Juz 3, (Mesir:
Maktabah Mushtafa Al-Babiy Al-Habibiy, 1960), Cet. IV, h. 4.
18Abdul Rahman Ghazaly, dkk, Fiqh Muamalat, , h. 69
22
b. Hadist dari Al-Baihaqi, sabda Rasulullah:
ٍديِع َس اَب َ
أ ُتْع ِم َس : َلا َق ، ِهيِبَأ ْنَع ،ِّيِوَدَْلْا ٍح ِلاَص ِنْب َدُواَد ْنَع ِه َّللا ُلى ُسَز َلاَق :ُلىُقًَ ،َّيِزْدُخْلا : َمَّل َس َو ِهْي َلَع ُالله ىَّلَص
ا َمَّه ِإ «
ٍ ٍضاَس َت ْنَع ُعْيَبْلا
)ه َجا َم ُنْبا ُها َوَز(
19
“Dari Dawud bin Soleh Al-Madini dari bapaknya berkata:
saya mendengar Abu Sa‟id Al-Khudri berkata: Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya jual beli itu harus atas dasar saling merelakan” (HR. Ibnu Majah)
3. Ijma’
Para ulama dan seluruh umat Islam Ijma‟ menurut syara‟ antara lain adalah adanya kesepatakan dari semua mujtahid yang hidup dalam satu masa tentang ketetapan hukum syara‟. Dengan demikian, apabila jumhur ulama menetapkan kesepakatan yang dilakukan oleh sebagian besar ulama, hal itu tidak termasuk ketetapan hukum dan tidak dikatakan ijma‟.20
Para ulama dan seluruh umat Islam sepakat mengenai kebolehan jual beli, karena sebagian besar kebutuhan seseorang itu ada pada kepemilikan orang lain, sementara orang itu tidak ingin memberikan kepadanya. Maka, adanya syariat jual beli merupakan sarana untuk mencapai apa yang dimaksudkan tanpa ada unsur keterpaksaan.21
19Abu „Abdillah Muhammad bin Yazid, Sunan Ibnu Majah, (Jordan: Bait Al-Afkar Ad-Dauliyah, t.th.) Kitab at-Tujaraat, Bab an-Nahyi „an at-Talaqi al- Jalabi, h. 236
20Rachmat Syafe‟i, Ilmu Ushul Fiqih, h. 85
21Ibnu Hajar Al Asqalani, Al Imam Al Hafizh, Penjelasan Kitab Shahih Bukhari, (Jakarta: Pustaka Azzam Anggota IKAPI DKI), h.3
Dengan jalan jual beli, maka manusia saling tolong- menolong untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan demikian, roda kehidupan ekonomi akan berjalan dengan positif karena apa yang mereka lakukan akan menguntungkan kedua belah pihak.22
C. Rukun Syarat dan Jual Beli 1. Rukun jual beli
Para ulama berbeda pendapat mengenai rukun jual beli.
Menurut ulama Hanafiyah rukun jual beli hanya ijab dan qabul.23 Yang menunjukkan sikap saling tukar-menukar, atau saling memberi. Atau dengan redaksi yang lain, Ijab qabul adalah perbuatan yang menunjukkan kesediaan dua pihak untuk menyerahkan milik masing-masing kepada pihak lain dengan menggunakan perkataan atau perbuatan.
Pengertian ijab menurut Hanafiyah adalah menetapkan perbuatan yang khusus yang menunjukkan kerelaan, yang timbul pertama dari salah satu pihak yang melakukan akad. Maksudnya adalah bahwa ijab adalah peryataan yang di sampaikan pertama oleh satu pihak yang menunjukkan kerelaan, baik dinyatakan oleh si penjual, maupun si pembeli.
Adapun pengertian qabul menurut Hanafiyah adalah pernyataan yang disebutkan kedua dari pembicaraan salah satu pihak yang melakukan akad. 24
22Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, (Bandung: Pustaka Percetakan Offset, 1994), Cet- 8, h.48
23AH. Azharudin Lathif, Fiqh Muamalat, (Jakarta: Uin Jakarta Press, 2005), Cet- 1, h. 101
24Ahmad Wardi Muslich, Fiqh Muamalah, h. 179-180
24
Sedangkan menurut jumhur ulama rukun jual beli terdiri dari:
a. Adanya orang yang berakad al-muta‟aqidain (penjual dan pembeli)
b. Adanya lafaz ijab dan qabul (shighat) c. Adanya barang yang di beli
d. Adanya nilai tukar pengganti barang.25
Dari penjelasan di atas, nampak jelas para ulama sepakat bahwa shighat (ijab dan qabul) termasuk kedalam rukun jual beli.
Hal ini karena shighat termasuk kedalam hakikat atau esensi jual beli. Adanya perbedaan pendapat ulama tersebut terletak pada
„aqidain (penjual dan pembeli) dan ma‟qud „alaih (barang yang dibeli dan nilai tukar pengganti barang). Tetapi perbedaaan tersebut hanya bersifat lafzhi. Ulama yang tidak menjadikan
„aqidain sebagai rukun, maka menjadikannya sebagai syarat jual beli sebagaimana yang dikemukakan oleh ulama Hanafiyah dan Hanabillah. Begitu juga sebaliknya, ulama yang menjadikan
„aqidain sebagai rukun, maka tidak disebutkannya dalam syarat jual beli sebagaimana yang dikemukakan oleh ulama Malikiyah dan Syafi‟iyah.26
Dalam ijab dan qabul tidak ada keharusan untuk menggunakan kata-kata khusus, karena ketentuan hukumnya ada pada akad dengan tujuan dan makna, bukan dengan kata-kata dan bentuk kata- kata itu sendiri. Hal penting yang diperlukan adalah saling rela yang direalisasikan dalam bentuk mengambil dan
25Abdul Rahman Ghazali, Fiqh Muamalat, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), h. 71
26 Enang Hidayat, Fiqih Jual Beli, h. 117
memberi atau cara lain yang dapat menunjukkan keridhaan dan berdasarkan pemilikan dan mempermilikkan.27 Mengingat posisi akad demikian pentingnya, maka unsur yang paling asasi dalam akad adalah adanya suka sama suka atau kerelaan.28 Selanjutnya menurut Ahmad Azhar Basyir ada beberapa hal yang dipandang dapat merusak akad yaitu adanya paksaan, adanya penipuan atau pemalsuan, adanya kekeliruan dan tipu muslihat.29
2. Syarat-syarat Jual Beli
Adapun syarat-syarat jual beli yang dikemukakan oleh jumhur ulama adalah sebagai berikut:
a. Syarat orang yang berakad
Para ulama fiqh sepakat bahwa orang yang melakukan akad jual beli harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Berakal, bahwasanya pihak yang berakad baik penjual maupun pembeli disyaratkan telah layak melakukan transaksi. Lebih jelasnya dia telah memenuhi ketentuan berikut:
a. Telah dewasa yaitu baligh, berakal, dan mampu menjalankan agama serta mengelola hartanya dengan baik. Oleh sebab itu jual beli yang di lakukan anak kecil yang belum berakal, orang gila, orang yang dicekal membelanjakan harta karena ideot (safah) hukumnya
27AH. Azharudin Lathif, Fiqh Muamalat, h. 102
28Ahmad Azhar Basyir, Asas-Asas Hukum Islam (Hukum Perdata Islam), h. 101
29Muhammad Nejatullah Siddiqi, Kegiatan Ekonomi dalam Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 58
26
tidak sah.30 Apabila orang berakal itu belum mumayyiz, maka jual belinya tidak sah, sekalipun mendapat izin dari walinya.31
b. Tanpa ada unsur paksaan yang tidak dibenarkan oleh hukum. Saling rela antara kedua belah pihak. Kerelaan antara kedua belah pihak untuk melakukan transaksi syarat mutlak keabsahannya.32 Akad jual beli yang dilakukan oleh orang yang dipaksa menjual hartanya hukumnya tidak sah. Jika paksaan itu dapat dibenarkan oleh hukum, seperti peritah menjual seluruh aset peminjam oleh hakim untuk melunasi utangnya, maka tindakan itu sah. Kita ketahui bahwa ucapan orang yang dipaksa secara ilegal tidak mempunyai akibat hukum apapun, kecuali dalam masalah salat.
c. Beragama Islam khusus bagi orang yang hendak membeli mushaf Al-Qur`an , kitab-kitab hadist, atsar para salaf.
d. Tidak ada unsur permusuhan dalam kasus pembelian senjata.33
2. Yang melakukan akad itu adalah orang yag berbeda.
Artinya, seseorang tidak dapat bertindak dalam waktu yang bersamaan sebagai penjual, sekaligus pembeli.34
30Wahbah Zuhaili, Fiqh imam Syafi‟i, Jilid 1, (Jakarta: Almahira,2010), Cet ke-1, h.56
31Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah, h. 116
32Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah, h. 104
33Wahbah Zuhaili, Fiqh Imam Syafi‟i, Jilid 1, h. 62
34Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah, h. 116
b. Syarat barang yang diperjual belikan
Adapun syarat ketentuan untuk objek jual beli (barang yang diperjual belikan) ada empat, yaitu:
1. Hendaknya barang yang akan dijual itu ada. Dengan demikian jual beli barang yang tidak ada tidak sah, juga semua barang yang dikhawatirkan tidak ada.
2. Hendaknya barang yang akan dijual itu harta yang bernilai.
Maksud dari harta yang bernilai menurut Hanafi adalah segala sesuatu yang disukai oleh tabiat manusia dan bisa disimpan sampai waktu yang dibutuhkan. Dengan kata lain, yang bisa dimiliki, disimpan dan dimanfaatkan manusia seperti biasa. Adapun pendapat yang paling benar adalah semua barang yang memiliki nilai materi bagi orang banyak.
3. Hendaknya barang itu milik sendiri. Artinya, barang itu terpelihara dan berada dibawah otoritas seseorang.
4. Hendaknya barang yang akan dijual itu bisa diserahkan pada saat transaksi.35
Dalam KUH Perdata syarat subjek jual beli adalah:
1. Dewasa ( sudah mencapai umur 21 tahun atau sudah menikah) pengertian tersebut berdasarkan pasal 330 KUH Perdata.36
2. Sehat pikirannya.
3. Tidak dilarang atau dibatasi dalam melakukan perbuatan hukum yang sah.
35Wahbah az Zuhaili, Fiqh Islam wa Adilatuhu, Jilid 5, h. 36
36R. Subekti dan R. Tjitrosudibio, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek), h. 90
28
Tiga syarat di atas secara umum tercantum pada pasal 1320 KUH Perdata.37
c. Syarat shigat (ijab dan qabul)
Para ulama fikih sepakat bahwa unsur utama dari jual beli adalah kerelaan kedua belak pihak. Kerelaan kedua belah pihak dapat dilihat dari ijab dan qabul yang dilangsungkan.
Menurut mereka, ijab dan qabul perlu diungkapkan secara jelas dalam transaksi-transaksi yang bersifat mengikat kedua belah pihak, seperti akad jual beli, akad sewa menyewa, dan akadd nikah. Terhadap tranksaksi yang sifatnya mengikat salah satu pihak seperti wasiat, hibah dan wakaf tidak perlu qabul, karena akad seperti ini cukup dengan ijab saja. bahkan menurut Ibnu Taimiyah, ulama fikih hanbali, dan ulama lainnya ijab pun tidak diperlukan dalam masalah jual wakaf.
Apabila ijab dan qabul telah diucapkan dalam akad jual beli, maka pemilikan barang atau uang telah berpindah tangan dari pemilik semula. Barang yang dibeli berpidah tangan menjadi milik pembeli, dan nilai tukar atau uang berpindah tangan menjadi milik penjual.
Untuk itu, para ulama fikih mengemukakan bahwa syarat yang terkait dengan ijab dan qabul, yaitu:
1. Orang yang mengucapkannya telah telah baligh dan berakal, menurut jumhur ulama, atau telah berakal, menurut ulama Hanafiyah; sesuai dengan perbedaan mereka dalam syarat- syarat orang yang melakukan akad.
2. Qabul sesuai dengan ijab. Misalnya, penjual mengatakan:
“saya jual buku ini seharga lima belas ribu,” lalu pembeli
37R. Subekti dan R. Tjitrosudibio,, h. 339
menjawab: “saya beli dengan harga lima belas ribu”.
Apabila antara ijab dan qabul tidak sesuai, maka jual beli tidak sah.
3. Ijab dan qabul dilakukan dalam satu majelis. Artinya kedua belah pihak yang melakukan jual beli hadir dan membicarakan topik yang sama. Apabila penjual mengucapkan ijab, lalu pembeli berdiri sebelum mengucapkan qabul, atau pembeli mengerjakan aktifitas lain yang tidak terkait dengan masalah jual beli, kemudian ia ucapkan qabul, menurut kesepakatan ulama fikih jual beli ini tidak sah. Sekalipun mereka berpendirian bahwa ijab tidak harus dijawab langsung dengan qabul. Dalam kaitan ini, ulama Hanafiyah dan Malikiyah mengatakan bahwa antara ijab dan qabul boleh saja diantarai oleh waktu, yang diperkirakan bahwa pihak pembeli sempat untuk berfikir.
Namun ulama Syafi‟iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa jarak antara ijab dan qabul tidak terlalu lama, yang dapat menimbulkan dugaan bahwa obyek pembicaraan telah berubah.
Di zaman modern perwujudan ijab dan qabul tidak lagi diucapkan, tetapi dilakukan dengan sikap mengambil barang dan membayar uang dari pembeli, serta menerima uang dan menyerahkan barang oleh penjual, tanpa ucapan apapun. Misalnya, jual beli yang berlangsung di pasar swalayan. Dalam fikih Islam, jual seperti ini disebut dengan bai‟ al-mu‟athah.
Dalam kasus perwujudan ijab dan qabul melalui sikap ini (bai‟ al-mu‟athah) terdapat perbedaan pendapat
30
dikalangan ulama fikih. Jumhur ulama berpendapat bahwa jual beli seperti ini hukumnya boleh, apabila hal ini sudah merupakan kebiasaan suatu masyarakat di suatu negeri, karena hal itu telah menunjukkan unsur ridha dari kedua belah pihak. Menurut mereka, diantara unsur terpenting dalam transaksi jual beli adalah suka sama suka (al- tara‟dhi), sesuai dengan kandungan surah An-Nisa ayat 26.
Sikap mengambil barang dan membayar harga barang oeh pembeli, menurut mereka, telah menunjukkan ijab dan qabul dan telah mengandung unsur kerelaan.38
Ahmad Azhar Basyir telah menetapkan kriteria yang terdapat dalam ijab dan qabul yaitu:
1. Ijab dan qabul harus dinyatakan oleh orang sekurang- kurangnya telah mencapai umur tamyiz, yang menyadari dan mengetahui isi perkataan yang diucapkan sehingga ucapan itu benar-benar merupakan pernyataan isi hatinya. Dengan kata lain, ijab dan qabul harus keluar dari orang yang cakap melakukan tindakan hukum.
2. Ijab dan qabul harus tertuju pada sesuatu objek yang merupakan objek akad.
3. Ijab dan qabul harus berhubungan langsung dalam suatu majelis apabila kedua belah pihak sama-sama hadir, atau sekurang-kurangnya dalam majelis diketahui ada ijab oleh pihak yang tidak hadir.39
38Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah, h. 116- 117
39Ahmad Azhar Basyir, Asas-asas Hukum Islam (Hukum Perdata Islam), (Yogyakarta: UII Press, 2000), h. 66
d. Para ulama Fiqh mengemukakan syarat nilai tukar (harga barang) sebagai berikut:
1. Harga yang disepakati kedua belah pihak harus jelas jumlahnya.
2. Boleh diserahkan pada waktu akad, sekalipun secara hukum seperti pembayaran denga cek dan kartu kredit. Apabila harga barang itu dibayar dikemudian (berutang) maka waktu pembayarannya harus jelas.
3. Apabila jual beli itu dilakukan dengan saling mempertukarkan barang (al-Muqayyadhah) maka barang yang dijadikan nilai tukar bukan barang yang diharamkan oleh syara‟, seperti babi dan khamar, karena kedua jenis benda ini tidak bernilai menurut syara‟.40
Disamping syarat-syarat yang berkaitan dengan rukun jual beli di atas, para ulama fikih juga mengemukakan beberapa syarat lain, yaitu:
a. Syarat sah jual beli, para ulama fikih menyatakan bahwa suatu jual beli baru dianggap sah apabila; jual beli itu terhindar dari cacat, seperti kriteria barang yang diperjual belikan itu tidak diketahui, baik jenis, kualitas maupun kuantitasnya, jumlah harga tidak jelas, jual beli itu mengandung unsur paksaan, unsur tipuan, mudharat, serta adanya syarat-syarat lain yang membuat jual beli itu rusak.; apabila barang yang diperjual belikan itu beda bergerak, maka barang itu boleh langsung dikuasai pembeli dan harga barang dikuasai penjual. Sedangkan barang tidak bergerak,
40Musthafa Ahmad Zarqa, Al- Madkhal Fi al-Fiqh al-Islami, Juz 3, (Mesir: Mathabi Fata al-„Arab), h. 67
32
boleh dikuasai pembeli setelah surat menyuratnya diselesaikan, sesuai dengan „urf setempat.
b. Syarat yang terkait dengan pelaksanaan jual beli. Jual beli baru boleh dilaksanakan apabila yang berakad mempunyai kekuasaan untuk melakukan jual beli. Misalnya, barang itu milik sendiri (barang yang dijual itu bukan milik orang lain atau hak orang lain terkait dengan barang itu). Akad jual beli tidak boleh dilaksanakan apabila orang yang melakukan akad tidak memiliki kekuasaan untuk melaksanakan akad. Misalnya, seseorang bertindak mewakili orang lain dalam jual beli. Dalam hal ini, pihak wali harus mendapatkan persetujuan dari orang yang diwakilinya. Apabila orang yang diwakilinya setuju, maka barulah hukum jual beli itu dianggap sah.
c. Syarat yang terkait dengan kekuatan hukum akad jual beli. Para ulama fikih sepakat menyatakan bahwa suatu jual beli baru bersifat mengikat apabila jual beli itu terbebas dari segala macam khiyar (hak pilih untuk meneruskan atau membatalkan jual beli).
Apabila jual beli itu masih mempunyai hak khiyar, maka jual beli itu belum mengikat dan masih boleh dibatalkan.41
Syarat-syarat umum sahnya transaksi yang harus ada disetiap jenis jual beli agar transaksi itu dianggap sah secara syar‟i. transaksi harus terhindar dari enam cacat, sebagai berikut:
a. Ketidakjelasan, maksud dari cacat ini adalah ketidakjelasan yang berlebihan dalam transaksi atau menimbulkan konflik yang sulit untuk diselesaikan, yaitu sengketa yang disebabkan argumentasi kedua belah pihak yang sama-sama kuat karena adanya faktor ketidakjelasan seperti orang yang menjual seekor kambing yang
41Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah, h. 119- 120
berada ditengah-tengah sekumpulan ternak kambing, ketidakjelasan tebagi menjadi empat kategori.
1. Adanya ketidakjelasan bagi pembeli yang menyangkut barang dagangan, dari segi jenis, macam dan jumlahnya.
2. Ketidakjelasan mengenai harga sehigga tidak boleh sesorang menjual barang dengan harga yang sama dengan barang atau dengan sesuatu yang harganya akan tetap.
3. Ketidakjelasan mengenai batasan waktu, seperti yang biasa terjadi pada harga yang ditangguhkan atau pada khiyar syarat (boleh memilih antara meneruskan atau membatalkan transaksi dengan syarat). Dengan demikian, masa berlakunya transaksi harus jelas, sedang jika tidak jelas maka transaksi tidak sah.
4. Ketidakjelasan mengenai barang jaminan untuk pembayaran yang ditunda, seperti seorang penjual mengajukan syarat kepada pembeli agar memberi uang muka dengan jumlah yang sama dari harga barang. Baik berupa jaminan maupun barang gadaian.
Dengan syarat ini sama saja kedua belah pihak menyerahkan barangnya masing-masing sedangkan jika tidak maka transaksinya batal.42
b. Pemaksaan, artinya seseorang dipaksa untuk melakukan sesuatu.
Pemaksaan ada dua macam: (1) pemaksaan penuh yaitu, orang yang dipaksa merasa dirinya terpaksa melakukan sesuatu paksaan misalnya diancam dibunuh atau dipukul yang bisa menyebabkan anggota badannya menjadi cacat. (2) pemaksaan tidak penuh yaitu, hanya diancam akan di penjara, pukulan biasa, atau diancam
42Jaih Mubarok, Hasanudin, Fikih Mu‟amalahh Maliyyah Akad Jual-Beli, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2017), Cet- 1, h. 55
34
penganiayaan seperti tidak mendapatkan kenaikan pangkat pada pekerjaannya atau menurunkan jabatannya.
c. Adanya pembatasan waktu, yaitu membatasi waktu berlakunya jual beli, seperti pernyataan, “saya menjual kain ini kepadamu selama setahun atau sebulan saja, maka transaksi ini hukumnya tidak sah karena jual beli tidak menerima pembatasan waktu.
d. Adanya unsur kebohongan atau spekulasi. Maksudnya adalah ketidakjelasan mengenai sifat barang.
e. Adanya kerusakan yakni dharar (kerugian) adalah barang ang yang dijual tidak mungkin dapat diserahkan kecuali penjualnya akan merasa rugi dari harganya. Seperti seseorang menjual sebatang pohon di atas atap bangunan. Mengakibatkan penyerahan barang seperti ini mengharuskan merusak barang disekitar batang pohon.
f. Adanya syarat yang dapat membatalkan transaksi, yaitu syarat- syarat yang bertujuan untuk memenuhi kepentingan salah satu pihak pelaku transaksi, dan tidak ada ketentuannya dalam syariat dan adat („urf). Serta tidak menyalahi ataupun sesuai isi transaksi.
Misalnya seseorang menjual mobil dengan syarat ia boleh memakainya selama sebulan setelah transaksi dilakukan, atau menjual rumah dengan syarat ia boleh tetap menghuninya selama kurun waktu tertentu setelah dijual, atau seorang pembeli barang memberikan syarat kepada penjual untuk meminjamkan sejumlah uang kepadanya.43
Adapun syarat-syarat khusus sahnya transaksi yang menyangkut sebagian jenis jual beli saja agar transaksi itu dianggap sah, seperti berikut ini:
43Wahbah az Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu, jilid 5 h. 55-57