A. HASIL
2. Data Asuhan Keperawatan
Tabel 4.1 Hasil Anamnesis Biodata dan Riwayat Kesehatan pasien dengan Gagal Jantung Kongestif (CHF) di RSUD dr. Kanujoso
Djatiwibowo Balikpapan.
Identitas Klien Klien 1 Klien 2
Nama Tn.S Tn.K
Jenis Kelamin Laki-Laki Laki-laki
Umur 45Tahun 65 Tahun
Status Perkawinan Menikah Menikah
Pekerjaan Karyawan swasta Buruh
Agama Islam Islam
Pendidikan Terakhir SMA SMP
Alamat Jl. Tiga Rt.23-25 Kec.
Balikpapan Utara
Perumahan PGRI no.07 gunung bahagia Kec.
Balikpapan Selatan Diagnosa Medis
CHF + ALO + CKD Stage V + Hipocalemia + Anemia Real
+ HT Emergency
CHF + Edema paru + AF RVR + HT
Nomor Register 69.89.XX 75.57.XX
MRS/ Tgl Pengkajian 25 Mei 2021/ 26 Mei 2021 05 Juni 2021 / 07 Juni 2021
50
Keluhan Utama Pasien mengatakan sesak nafas
Pasien mengatakan nyeri dada Riwayat Penyakit
Sekarang
Tn.S masuk melalui IRD
RSUD dr Kanujoso
Djatiwibowo Balikpapan pada tanggal 25 Mei 2021 jam 15.20 wita. Pasien datang sendiri dengan keluhan sesak nafas 1Minggu, kedua kaki bengkak dan tangan kiri sejak 2Minggu, BAK sedikit sejak 2bulan, tubuh terasa lemas. Tekanan darah: 226/117 mmHg, Nadi:
124x/i, Pernafasan: 30x/i, suhu:37 °C.
Pada saat dilakukan pengkajian tanggl 26 Mei 2021 jam 13.15 wita Pasien baru dirawat hari ke-1. Pasien mengeluh sesak nafas , tubuh lemas sesak juga dirasakan pada saat melakukan aktivitas seperti (bangun dari tempat tidur , dan berdiri), dan pasien mengatakan kurang tidur akibat sesak yang dialami pada malam hari, Bengkak pada ke2 kaki, dan tangan kiri, pasien mengatakan tidak ada nyeri pada saat bernafas.
Pasien terpasang IVFD Nacl 0,9% 18x/menit, Terpasang O2 nasal kanul 4lt/menit dan terpasang kateter urine. Hasil pemeriksaan Tanda-tanda vital pada
TD : 200/127 mmHg, Nadi : 110x/i,
Pernafasan : 28x/i, Suhu : 37°C.
SpO2 : 98%
Tn.K masuk melalui IRD
RSUD dr Kanujoso
Djatiwibowo Balikpapan pada tanggal 05 Juni 2021 jam 14.40 wita. Pasien datang sendiri dengan keluhan Nyeri dada, sesak nafas, dada terasa tertekan, ada mual dan muntah pasien mengatakan batuk berdahak sudah 1 minggu.
pasien mengatakan pada saat tidur harus menggunakan bantal 3. Tekanan darah : 154/79 mmHg, Nadi: 71x/i, Pernafasan: 26x/i, Suhu:
36,7°C.
Pada saat dilakukan pengkajian tanggal 07 Juni 2021 jam 12.10 wita. Pasien sudah dirawat hari ke-3. Pasien mengeluh nyeri dada kiri, pasien mengatakan masih batuk berdahak, tubuh terasa lemas, pasien mengatakan sedikit sesak, pasien mengatakan pada saat beraktivitas berat sesak timbul.
P: Pasien mengatakan nyeri dada kiri saat batuk
Q: nyeri seperti berdenyur R: dada kiri
S: skala 4 T: hilang timbul
pasien terpasang IVFD vemplon, terpasang O2 nasal kanul 3lt/menit dan kateter urine Hasil Tanda-tanda vital pada TD : 107/77mmHg, Nadi : 102x/i,
Pernafasan :22x/i, Suhu : 36,6°C.
SpO2 : 98%
Riwayat Kesehatan Dahulu
Pasien mengatakan pernah di rawat di RS Restu Ibu Balikpapan pada Tahun 2017
Pasien mengatakan pernah di rawat di RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan Pada
51
yang lalu karena penyakit stroke.
Tahun 2020 yang lalu karena penyakit CHF.
Riwayat Kesehatan Keluarga
Pasien mengatakan di keluarga ada yang memiliki riwayat penyakit Hipertensi yaitu Kakek dan ayah pasien.
Pasien juga mengatakan dikeluarga tidak ada yang memiliki riwayat penyakit Diabetes Militus , asma dan penyakit menular seperti TBC.
Pasien mengatakan di keluarga tidak ada yang memiliki riwayat penyakit seperti Hipertensi, Jantung, Asma, dan Diabetes militus.
Perilaku Yang Mempengaruhi Kesehatan
Pasien mengatakan Tidak pernah merokok, tidak pernah minum-minuman seperti alkohol, pesien mengatakan tidak pernah menggunakan obat-obatan yang tidak diresepkan oleh dokter, dan pasien mengatakan olahraga tetapi jarang.
Pasien mengatakan tidak mengkonsumsi alkohol, pasien dulunya pernah merokok terkadang sebungkus rokok bisa habis dalam sehari dan pasien berhenti merokok pada 1 tahun, pasien tidak
menggunakan obat-obatan tanpa resep dokter, dan pasien tidak melakukan olahraga.
Berdasarkan tabel 4.1 ditemukan data dari pengkajian biodata pada pasien 1 dan pasien 2 ditemukan persamaan seperti, jenis kelamin, status perkawinan, agama, dan diagnosa medis yaitu Congestive Heart Failure dengan penyakit penyerta yang berbeda dan juga perbedaan yang ditemukan pada saat pengkajian seperti umur, perkejaan, dan alamat pasien. Pada pasien 1 masuk rumah sakit pada tanggal 25 Mei 2021 dan dikaji pada tanggal 26 Mei 2021, sedangkan pasien 2 masuk rumah sakit pada tangggal 05 Juni 2021 dan dikaji pada tanggal 07 Juni 2021.
52
Tabel 4.2 Hasil Observasi dan Pemeriksaan Fisik pada Klien dengan Gagal Jantung Kongestif (CHF) di RSUD dr. Kanujoso Djatiwobowo
Balikpapan.
Observasi dan
Pemeriksaan Fisik Pasien 1 Pasien 2
1. Keadaan Umum Keadaan umum pasien sedang, pasien dalam posisi semi fowler, pasien terpasang Infus, nasal kanul 4Lpm, dan kateter urine.
Keadaan umum pasien sedang, pasien dalam posisi fowler, pasien terpasang infus, nasal kanul 3Lpm dan kateter urine.
2. Kesadaran Compos mentis GCS 15, E4V5M6
E4 :pasien dapat membuka mata secara spontan, M6: pasien dapat melakukan gerakan sesai instruksi, V5 : pasien mampu menjawab dengan benar, orientasi sempurna.
Compos mentis GCS 15, E4V5M6
E4 :pasien dapat membuka mata secara spontan,
M6: pasien dapat melakukan gerakan sesuai instruksi, V5:
pasien mampu menjawab dengan benar, orientasi sempurna.
3. Pemeriksaan Tanda Tanda Vital
TD : 200/127 mmHg N : 110 X/menit R : 28 X/menit S : 37 °C SpO2 : 98%
TD : 107/77 mmHg N : 102 X/menit R : 22 X/menit S : 36,6°C.
SpO2 : 98%
4. Kenyaanan/nyeri Pasien tidak ada keluhan nyeri Ada :
P:Pasien mengatakan nyeri dada kiri saat batuk
Q: nyeri seperti berdenyur R : dada kiri
S: skala 4 T: hilang timbul 5. Status fungsional/
Aktivitas dan mobilisasi Barthel Indeks
• Pasien dapat mengendalikan rangsanga BAB secara mandiri
• Mengendalikan rangsangan BAK menggunakan kateter
• Membersihkan diri secara mandiri
• Penggunaan jamban, masuk dan kleuar (melepas, memakai membersihkan dan menyiram) perlu pertolongan
• Makan secara mandiri
• Berubah sikap dar baring ke duduk butuh bantuan orang lain
• Berpindah/ berjalan dengan bantuan 1 orang
• Memakai baju di bantu sebagian
• Naik turun tangga butuh pertolongan
• Mandi secara mandiri Pasien Ketergantungan Sedang
• Pasien dapat mengendalikan rangsanga BAB secara mandiri
• Mengendalikan rangsangan BAK menggunakan kateter
• Membersihkan diri secara mandiri
• Penggunaan jamban, masuk dan kleuar (melepas, memakai membersihkan dan menyiram) perlu pertolongan
• Makan secara mandiri
• Berubah sikap dar baring ke duduk secara mandiri
• Berpindah/ berjalan dengan bantuan 1 orang
• Memakai baju di bantu sebagian
• Naik turun tangga butuh pertolongan
• Mandi secara mandiri Pasien Ketergantungan Ringan
53
6. Pemeriksaan Fisik kepala
• Kulit kepala bersih.
• Rambut :
Penyebaran rambut merata, warna Hitam, tidak mudah patah dan tidak bercabang, tidak ada kelainan.
• Mata :
Sklera putih, konjungtiva merah mudah tidak tampak anemis, palebra tidak ada edema, kornea jernih, Reflek cahaya + , pupil isokor. Kelainan : pasien tidak mengalami gangguan penglihatan
• Hidung :
Pernafasan cuping hidung tidak ada , posisi septum nasi di tengah, lubang hidung bersih didak ada kotoran, ketajaman penciuman baik, tidak terdapat kelainan.
• Mulut :
Bibir warna merah muda, Gigi semua molar satu mandibular permanen, lidah warna merah keputih-putihan, mukosa kering, tonsil ukuran normal, dan letak uvula simetris di tengah
• Telinga :
Daun telinga bersih dan normal, kanalis telinga tidak ada masalah, pendengaran masih baik.
Tidak dilakukan pemeriksaan tes weber, tes rinner, dan tes swabch pada telinga kanan dan kiri.
• Leher :
Kelenjar getah bening tidak teraba, tiroid tidak teraba, posisi trakea di tengah, tidak ada peningkatan JVP.
• Kulit kepala bersih.
• Rambut :
Penyebaran rambut merata, warna Hitam beruban, tidak mudah patah dan tidak bercabang, tidak ada kelainan.
• Mata :
Sklera putih, konjungtiva merah mudah tidak tampak anemis, palebra tidak adad edema, kornea keruh, Reflek cahaya + , pupil isokor. Kelainan : pasien
mengalami gangguan penglihatan seperti kabur, tidak dapat melihat jarak jauh akibat keruhnya lensa mata yang normalnya jernihm transparan dan berbentuk seperti kantung baju.
• Hidung :
Pernafasan cuping hidung tidak ada, posisi septum nasi di tengah, lubang hidung bersih didak ada kotoran, ketajaman penciuman baik, tidak terdapat kelainan.
• Mulut :
Bibir warna hitam, Gigi semua molar satu mandibular permanen, lidah warna merah keputih- putihan, mukosa lembab, tonsil ukuran normal, dan letak uvula simetris di tengah
• Telinga :
Daun telinga bersih dan normal, kanalis telinga tidak ada masalah, pendengaran masih baik.
Tidak dilakukan pemeriksaan tes weber, tes rinner, dan tes swabch pada telinga kanan dan kiri.
• Leher :
Kelenjar getah bening tidak teraba, tiroid tidak teraba, trakea di tengah, tidak ada peningkatan JVP.
7. Pemeriksaan Thorak : Sistem pernapasan
Pasien mengeluh sesak, pasien tidak mengeluh batuk , dan tidak ada sekret.
• inspeks : bentuk dada simetris, frekuensi pernafasan 28
Pasien tidak mengeluh sesak, pasien mengeluh batuk dan ada sekret berwarna putih ,
konsistensi cair berlendir dan tidak berbau.
54
x/menit, irama nafas tidak teratur, pola nafas takipnea, pernafasan cuping hidung ada, otot bantu pernafasan ada, usaha nafas dalam posisi setengah duduk (semi fowler), alat bantu nafas terpasang nasal kanul 4Lpm.
• palpasi: vocal premitus anterior dan posterior teraba
jelas,Ekspansi paru anterior dan posterior Normal , tidak ada kelainan.
• perkusi : terdengar sonor, batas paru hepar ICS4 sampai ICS 6
• auskultasi: suara nafas wheezing, suara ucapan tidak terlalu jelas, pasien tidak terpasang WSD
• inspeks : bentuk dada simetris, frekuensi pernafasan 22 X/menit, irama nafas teratur, pola nafas takipnea, pernafasan cuping hidung tidak ada, otot bantu pernafasan tidak ada, usaha nafas dalam posisi duduk (fowler), alat bantu nafas 3Lpm (stanby)
• palpasi: vocal premitus anterior dan posterior teraba
jelas,Ekspansi paru anterior dan posterior Normal , tidak ada kelainan.
• perkusi : terdengar redup, batas paru hepar ICS4 sampai ICS 6.
• auskultasi: suara nafas ronkhi, suara ucapan jelas, pasien tidak terpasang WSD
8. Pemeriksaan Jantung : Sistem Kardiovaskular
Pasien tidak ada keluhan nyeri dada
• inspeksi: bentuk dada normal tidak ada kelainan CRT >3detik , tidak ada sianosis.
• palpasi: ictus cordis teraba di RIC V (tepat pada posisinya , Akral Dingin.
• perkusi: batas atas bawah, kanan dan kiri bunyi sonor
• auskultasi : BJ II-Aorta : Normal lup dup, BJ II- Pulmonal : Normal lup dup.
kedua BJ II Aorta dan Pulmonal ditimbulkan oleh penutupan katup-katup aorta dan pulmonal menandakan fase diastolik ventrikel.
BJ I-Trikuspidalis : Normal lup dup, BJ I-Mitral Normal lup dup.
kedua BJ I Trikuspidalis dan Mitral ditimbulkan oleh
penutupan katup-katup mitral dan trikuspidalis menandakan fase sistolik ventrikel.
Tidak ada bunyi jantung tambahan, terjadi kesan kardiomegali .
Pasien ada keluhan nyeri dada P:Pasien mengatakan nyeri dada kiri saat batuk
Q: nyeri seperti berdenyur R : dada kiri
S: skala 4 T: hilang timbul
• inspeksi: bentuk dada normal tidak ada kelainan CRT <3detik , tidak ada sianosis.
• palpasi: ictus cordis teraba di RIC V (tepat pada posisinya , Akral Hangat.
• perkusi: batas atas bawah, kanan dan kiri bunyi sonor
• auskultasi : BJ II-Aorta : Normal lup dup, BJ II- Pulmonal : Normal lup dup.
kedua BJ II Aorta dan Pulmonal ditimbulkan oleh penutupan katup-katup aorta dan pulmonal menandakan fase diastolik ventrikel.
BJ I-Trikuspidalis : Normal lup dup, BJ I-Mitral Normal lup dup.
kedua BJ I Trikuspidalis dan Mitral ditimbulkan oleh
penutupan katup-katup mitral dan
55
Pasien tidak terpasang CVP, CRT
>50% Kardiomegali.
Hasil EKG
− Sinus takikardi: menunjukkan adanya hipoksia atau iskemia
− Anterior infaction:
menunjukkan bagian anterior mengalami infark posible infraction Infraction inferior mengalami infark
− Left atrial enlargement:
menunjukkan hipertrofi atrium kanan
− Low voltage: menunjukkan penurunan intrinsic otot jantung.
trikuspidalis menandakan fase sistolik ventrikel.
Tidak ada bunyi jantung tambahan, terjadi kesan kardiomegali .
Pasien tidak terpasang CVP, CRT
>50% Kardiomegali.
Hasil EKG
− sinus ritme ireguler : bisa menunjukkan adanya hipoksia, iskemia, dan regangan otot jantung
− QT – Prolangation : menunjukkan dapat menyebabkan sinkop
− ST-T abnormal : menunjukkan adanya infarks fase sub akut
− Gelombang Q abnormal : menunjukkan adanya infark.
9. Pemeriksaan Sistem
Pencernaan dan Status Nutrisi
Status nutrisi :
BB pasien 76kg TB 170cm dengan nilai IMT 26,2 kategori berat badan pasien Gemuk. Pasien selama6 bulan tidak adad
penurunan BB yang berarti nafsu makan baik.
Eliminasi dan Diet :
Pasien BAB 1x/hari, terakhir BAB sabtu tanggal 24 mei 2021 dengan konsistensi padat. Pasien makan 3x sehari dengan diet padat jenis diet rendah garam, nafsu makan baik dan porsi makan selalu habis.
Abdomen
• Inspeksi: bentuk perut normal, tidak ada bayangan vena atau benjolan massa, dan pasien tidak ada luka oprasi.
• Auskultas: peristaltik usus 14x/menit.
• Palpasi: perut pasien tidak ada masalah, tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa, hepar dan ginjal tidak ada pembesaran.
• Perkusi: pasien tidak ada asites , pada ginjal tidak ada nyeri ketuk.
Satus nutrisi :
BB pasien 62kg TB pasien 165cm dengan nilai IMT: 22,7 kategori berat badan Normal. selama 6 bulan pasien tidak ada penurunan BB yang berarti nafsu makan pasien baik.
Eliminasi dan Diet :
Pasien BAB 0x/hari, 2hari terakhir pasien belum ada BAB sejak tanggal 5 juli 2021 dengan konsistensi keras. Pasien makan 3x sehari dengan jenis diet rendah garam, nafsu makan baik dan porsi makan selalu habis.
Abdomen
• Inspeksi: bentuk perut normal, tidak ada bayangan vena atau benjolan massa, dan pasien tidak ada luka oprasi.
• Auskultas: peristaltik usus 8x/menit.
• Palpasi: perut pasien kembung, ada nyeri tekan, tidak ada massa, hepar dan ginjal tidak ada pembesaran.
• Perkusi: pasien tidak ada asites , pada ginjal tidak ada nyeri ketuk.
56
10. Sistem persyarafan
Memori pasien baik dapat mengulang. bahasa pasien baik, kognisi baik. orientasi orang, tempat, dan waktu baik. saraf sensori nyeri ketuk, suhu, sentuhan baik. saraf kordinasi baik. refleks fisiologi patella, achiles, bisep, trisep, brakipradialis normal. Tidak ada refleks patologis. Pasien mengeluh pusing. Pasien kurang tidur ,tidur kurang lebih 3jam sehari karena kesulitan untuk memulai tidur akibat sesak yang dialami.
Pemeriksaan XII Saraf Kranial:
I (Olfaktorius): penciuman pasien baik.
II (Optikus): pasien ada gangguan penglihatan akibat katarak.
III (Okulomotoris): pasien dapat menggerakkan bola mata.
IV (Troklearis): pasien dapat menggerakkan mata.
V (Trigemminus): pasien dapat berkspresi.
VI (Abdusen): pasien dapat melotot dan melirik.
VII (Fasialis): ekspresi wajah normal.
VIII (Vestibulokoklearis):
pendengaran normal.
IX (Glosofaringis): pasien dapat sensasi dengan normal.
X (Vagus): Refleks menelan normal.
XI (Assesorisius): pasien dapat menggerakkan leher.
XII (Hipoglosus): gerakan lidah normal.
Memori pasien baik dapat mengulang. bahasa pasien baik, kognisi baik. orientasi orang, tempat, dan waktu baik. saraf sensori nyeri ketuk, suhu, sentuhan baik. saraf kordinasi baik. refleks fisiologi patella, achiles, bisep, trisep, brakipradialis normal. Tidak ada refleks patologis. Pasien mengeluh pusing. Pasien kurang tidur ,tidur kurang lebih 4jam sehari karena kesulitan untuk memulai tidur akibat nyeri dan sesak.
Pemeriksaan XII Saraf Kranial:
I (Olfaktorius): penciuman pasien baik.
II (Optikus): pasien ada gangguan penglihatan akibat katarak.
III (Okulomotoris): pasien dapat menggerakkan bola mata.
IV (Troklearis): pasien dapat menggerakkan mata.
V (Trigemminus): pasien dapat berkspresi.
VI (Abdusen): pasien dapat melotot dan melirik.
VII (Fasialis): ekspresi wajah normal.
VIII (Vestibulokoklearis):
pendengaran normal.
IX (Glosofaringis): pasien dapat sensasi dengan normal.
X (Vagus): Refleks menelan normal.
XI (Assesorisius): pasien dapat menggerakkan leher.
XII (Hipoglosus): gerakan lidah normal.
11. Sistem perkemihan
Kebersihan bersih,
keluhan kecing tidak ada,
kemampuan berkemih
menggunakan kateter ukuran dewasa di hari ke-2 ,prosuksi urine 1.600 ml/hari warna kuning cerah dan tidak berbau. Kandung kemih tidak membesar dan tidak ada nyeri tekan.
Intake:
Minuman peroral kurang lebih 1500ml/hari. Cairan infus
Kebersihan bersih,
keluhan kecing tidak ada,
kemampuan berkemih
menggunakan kateter ukuran dewasa di hari ke-3 ,prosuksi urine 1300 ml/hari warna kuning cerah dan tidak berbau. Kandung kemih tidak membesar dan tidak ada nyeri tekan.
Intake:
Minuman peroral kurang lebih 500ml/hari. Obat IV kurang lebih
57
500ml/hari. Obat IV kurang lebih 100ml/hari. NGT tidak terpasang.
Makanan 147ml/hari = 2247ml/hari
Output:
Urine 1000ml/hari. Tidak terpasang drain. IWL 758ml/hari.
Tidak ada diare, muntah, perdarahan. Dan pasien tidak ada BAB = 1758ml/hari
Balance cairan:
Input – Output 2247 – 1758 = +487ml
200ml/hari. NGT tidak terpasang.
Makanan 147ml/hari = 847ml/hari Output:
Urine 720ml/hari. Tidak terpasang drain. IWL 600ml/hari. Tidak ada diare, muntah, perdarahan. Dan pasien tidak ada BAB = 1320ml/hari
Balance cairan:
Input – Output 847 – 1320 = –473ml
12. Sistem
muskuloskeletal dan integumen
Pergerakan tidak bebas.
Kekuatan otot 5 4 4 4
Kelainan eksremitas tidak ada, kelainan tulang belakang tidak ada, Fraktur tidak ada , Traksi/
Spalk/ Gips tidak ada, kompartemen symdrome tidak ada, kulit baik tidak ada sianosis , tidak ada luka, adanya edema eksremitas atas : RU:+1 LU:+1 RL:+3 LL:+3
Eksremitas bawah:
RU:+3 LU:+3 RL:+4 LL: +4
Ekskoriasis, psoriasis, uritkaria tidak ada , pasien tidak beresiko terjadi decubitus.
Pergerakan bebas.
Kekuatan otot 5 4 5 5
Kelainan eksremitas tidak ada, kelainan tulang belakang tidak ada, Fraktur tidak ada , Traksi/
Spalk/ Gips tidak ada, kompartemen symdrome tidak ada, kulit baik tidak ada sianosis , tidak ada luka, tidak ada edema eksremitas, Ekskoriasis, psoriasis, uritkaria tidak ada , pasien tidak beresiko terjadi decubitus.
13. Sistem endokrin Pasien tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan kelanjar getah bening pasien tidak ada riwayat luka DM serta tidak mengalami luka gangren.
Pasien tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan kelanjar getah bening pasien tidak ada riwayat luka DM serta tidak mengalami luka gangren.
14. Seksualitas dan reproduksi
Pasien tidak ada masalah pada kelenjar prostat.
Pasien tidak ada masalah pada kelenjar prostat.
15. Keamanan dan lingkungan
pasien tidak ada riwayat jatuh 3bulan terakhir, Diagnosa pasien lebih dari 1, pasien menggunakan alat bantu dengan berpegangan pada benda-benda sekitar, pasien
menggunakan kateter,
kemampuan berjalan pasien lemah, status mental orientasi sesuai dengan kemampuan pasien.
Dengan kesimpulan = Pasien Resiko Jatuh
pasien tidak ada riwayat jatuh 3bulan terakhir, Diagnosa pasien lebih dari 1, pasien menggunakan alat bantu dengan berpegangan pada benda-benda sekitar, pasien
menggunakan kateter,
kemampuan berjalan pasien lemah, status mental orientasi sesuai dengan kemampuan pasien.
Dengan kesimpulan = Pasien Resiko Jatuh
58
Berdasarkan tabel 4.2 observasi dan pemeriksan fisik pada pasien 1 dan 2 di temukan perbedaan masalah yaitu pada pemeriksaan tanda-tanda vital bagian pemeriksaan tekanan darah ada kenaikan tekanan pada pasien 1 TD : 200/127mmHg, sedangkan tidak terdapat kenaikan tekanan darah pada pasien 2 TD : 107/77 mmHg. Pada status fungsional atau aktivitas pasien 1 dan 2 memiliki perbedaan ketergantungan yaitu pada pasien 1 ketergantungan sedang dan pasien 2 ketergantungan ringan. Pada pemeriksaan jantung pasien 1 dan 2 keduanya memiliki gambaran EKG yang abnormal dan mengalami gambaran kardiomegali. Pada pemeriksaan syaraf pasien 1 dan 2 keduanya sama-sama mengeluh pusing , pasien 1 tidur kurang lebih 3jam sehari akibat sulit tidur karena sesak dan pasien 2 kurang tidur 4jam sehari dengan keluhan sulit tidur karena nyeri dan sesak. Pada observasi keamanan lingkungan pasien 1 dan 2 keduanya memiliki resiko jatuh.
Adapun perbedaan pada tabel 4.2 observasi dan pemeriksaan fisik pada pasien 1 dan 2 yaitu fisik kepala bagian mata pasien 1 tidak mengalami katarak sedangkan pasien 2 mengalami katarak, pada pemeriksaan bagian hidung pasien 1 menggunakan pernafasan cuping hidung sedangkan pasien 2 tidak menggunakan pernafasan cuping hidung.
Pada pemeriksaan disik system thorax dan pernafasan bagian kuluhan pasien 1 mengalami sesak tidak ada batuk berdahak, sedangkan pasien 2 tidak ada sesak ada batuk berdahak dan secret , pada inspeksi pasien 1 frekuensi nafas 28x/menit menggunakan alat bantu nafas 4lpm, sedangkan pasien 2 frekuensi nafas 22x/menit menggunakan alat bantu nafas 3lpm. Saat perkusi
59
pada pasien 1 bunyi saat perkusi sonor di semua lapang baruj, sedangkan pasien 2 bunyi perkusi redup bagian atas lapang baru, dan saat auskultasi bunyi nafas pasien 1 wheezing, suara ucapan kurang jelas, sedangkan pasien 2 suara nafas ronkhi tetapi ucapan jelas.
Pada pemeriksaan jantung pasien 1 CRT >3detik, sedangkan pasien 2 CRT
<3detik. Pada interoetasi hasil EKG tanggal 27/05/2021 pasien 1 sinus takikardi, anterior infraction, lateral infraction, possile inffraction suspect, left atrial enlargmen, low volge, sedakan interpretasi hasil lEKG pasien 2 Ireguler, sinus ritme, QTT-prolagation, ST-PT abnormal, dan gelombang Q abnormal.
Pada pemeriksaan system pencernaan dan status nurtrisi pada pasien bagian eliminasi pasien 1 tidak ada keluhan eliminasi , sedangkan pasien 2 mengeluh tidak ada BAB selama 2hari . inspeksi pada pasien 1 bentuk perut normal tidak ada penumpukan feses, sedangkan pasien 2 bentuk perut besar akibat adanya penumpukan feses. Palpasi pada pasien 1 tidak ada masalah, sedangkan pasien 2 perut kembung.
Pada pemeriksaan perkemihan pasien 1 dan 2 terpasang kateter balance cairan pasien 1 +487ml, sedangkan pasien 2 -475ml. pada pemeriksaam muskuloskeletal bagian pasien 1 memiliki nilai tangan kana 5 tangan kiri 4 kaki kanan 4 kaki kiri 4 sedangkan pada pasien 2 nilai tangan kanan 4 tangan kiri 5 kaki kanan 5 kaki kiri 5. Pada pemeriksaan system endokrin pasien 1 dan 2 tidak ada hiperglikemi.
Tabel 4.3 pengkajian psikososial pada pasien dengan Gagal Jantung Kongestif (CHF) di RSUD dr. Kanujoso Djatiwobowo Balikpapan.
60
Pengkajian
psikososial Pasien 1 Pasien 2
Persepsi pasien terhadap penyakitnya
Pasien berpresepsi bahwa penyakitnya cobaan dari tuhan
Pasien berpresepsi bahwa penyakitnya cobaan dari tuhan Eksresi pasien terhadap
penyakitnya
Ekspresi pasien terhadap sakitnya biasa saja, karena pasien telah menerima keadaannya
Ekspresi pasien terhadap sakitnya biasa saja, karena pasien telah menerima keadaannya
Reaksisaat berinteraksi Pasien kooperatif Pasien kooperatif Gangguan konsep diri Pasien tidak ada gangguan
konsep diri
Pasien tidak ada gangguan konsep diri
Berdasarkan Tabel 4.3 ditemukan data dari pengkajian psikososial pada pasien 1 dan 2 ditemukan persamaan mulai dari persepsi pasien terhadap penyakitnya, ekspresi pasien terhadap penyakitnya, reaksi saat berinteraksi dan konsep diri pasien.
Tabel 4.4 pengkajian personal hygene dan kebiasaan pada pasien dengan Gagal Jantung Kongestif (CHF) di RSUD dr. Kanujoso Djatiwobowo
Balikpapan.
Personal Hygene
Pasien 1 Pasien 2
Pasien mandi 1x sehari, keramas 1x sehari, kuku klien bersih , pasien ganti pakaian 1x sehari, pasien sikat gigi 1x sehari, pasien tidak merokok, pasien tidak minum alkohol.
Pasien mandi 1x sehari, keramas 1x sehari, kuku klien bersih , pasien ganti pakaian 1x sehari, pasien sikat gigi 1x sehari, pasien tidak merokok, pasien tidak minum alkohol.
Berdasarkan Tabel 4.4 pengkajian personal hygene dan kebiasaan pada pasien 1 dan 2 ditemukan persamaan mulai dari mandi, ganti pakaian, sikat gigi, keramas, memotong kuku, tidak merokok dan tidak meminum alkohol.
Tabel 4.5 pengkajian spiritual pada pasien dengan Gagal Jantung Kongestif (CHF) di RSUD dr. Kanujoso Djatiwobowo Balikpapan.