III. METODE PENELITIAN
5.2 Potensi Pengembangan Tanaman Jambu Mete
Total 20 100.00 Sumber : Data primer setelah diolah, 2014
Tabel 9 menunjukkan bahwa jumlah tanggungan keluarga petani responden yang terbanyak mempunyai tanggungan yaitu 4 – 6 orang berjumlah 12 orang (60,00%), sedangkan jumlah tanggungan terkecil adalah jumlah tanggungan 1- 3 orang berjumlah 8 orang (40,00 %). Keadaan demikian sangat mempengaruhi terhadap tingkat kesejahteraan keluarga dan untuk peningkatan produksi dalam memenuhi kebutuhannya. Banyaknya jumlah anggota keluarga akan berpengaruh terhadap peningkatan usaha pengembangan jambu mete.
Penyuluh merupakan pihak yang berhubungan langsung dengan petani. Di mana penyuluh menjadi faktor utama yang penting untuk memberikan pengetahuan bagi petani padi khususnya penggunaan benih unggul serta keberadaan penangkar benih yang bermanfaat bagi petani. Seorang penyuluh haruslah memiliki kualifikasi tertentu, baik yang menyangkut kepribadian, pengetahuan, sikap, dan ketrampilan menyuluh dan keahlian sebagai penyuluh yang profesional. Penyuluhan pertanian adalah suatu usaha atau upaya untuk mengubah perilaku petani dan keluarganya, agar mereka mengetahui dan mempunyai kemampuan serta mampu memecahkan masalahnya sendiri dalam usaha atau kegiatan-kegiatan meningkatkan hasil usahanya dan tingkat kehidupannya
Minat masyarakat menganggap pengembangan jambu mete merupakan tanaman yang sangat potensi dikembangkan lebih lanjut. Dengan demikian, masyarakat seharusnya dapat ikut memanfaatkan jambu mete secara langsung. Usaha meningkatkan potensi dan minat petani terhadap pengembangan jambu mete di Desa Bontobulaeng Kecamatan Pasimasunggu Timur Kabupaten Kepulauan Selayar dimungkinkan dapat dilakukan dengan cara pemberian motivasi yang tepat dari penyuluh, perbaikan lingkungan di sekitar serta pemberiaan penghargaan kepada petani yang berhasil dalam meningkatkan pengembangan Jambu Mete. Adapun potensi dalam pengembangan tanama jambu mete disajikan dalam Tabel 10.
Tabel 10 Potensi Pengembangan Tanaman Jambu Mete
No Indikator Skor Rata-Rata Kategori
1 Iklim 86 2,15 Sedang
2 Lahan 96 2,40 Tinggi
3 Produksi 147 2,45 Tinggi Sumber : Data telah diolah, 2014.
Tabel 10 menunjukkan bahwa potensi dalam pengembangan jambu mete dengan indikator kesesuaian iklim yang berada kategori sedang dengan nilai rata-rata 2,15, Kesesuaian lahan yang berada kategori tinggi dengan nilai rata-rata 2,40, Sistem produksi jambu mete yang berada kategori tinggi dengan nilai rata-rata 2,45. Hal ini menunjukkan bahwa Desa Ujung memiliki potensi untuk pengembangan jambu mete, dimana iklim dan kesesuaian lahan sangat memenuhi untuk dibudidayakan jambu mete, disamping itu produksi dan pemasaran jambu mete cukup menjanjikan di wilayah ini, sehingga petani berminat untuk mengelola dan mengembangkan jambu mete sesuai arahan petugas setempat yang memberikan pengetahuan dan keterampilan dalam mengembangkan jambu mete.
5.2.1 Kesesuaian Iklim
Berdasarkan kondisi dilapangan petani dapat menilai bahwa iklim yang sesuai di Desa Ujung memiliki rata-rata hujan sebesar 250 mm/ tahun dan berada pada ketinggian tempat 0 - 100 m dari permukaan laut, dengan suhu rata-rata 20 °C – 30 oC.
Tanaman jambu mete sangat menyukai sinar matahari. Apabila tanaman jambu mete kekurangan sinar matahari, maka produktivitasnya akan menurun atau tidak akan berbuah bila dinaungi tanaman lain.
Jambu mete paling cocok dibudidayakan di daerah-daerah dengan kelembaban nisbi antara 70-80%. Akan tetapi tanaman jambu mete masih dapat bertoleransi pada tingkat kelembaban 60-70%. Angin kurang berperan dalam proses penyerbukan putik
tanaman jambu mete. Dalam penyerbukan bunga jambu mete, yang lebih berperan adalah serangga karena serbuk sari jambu mete pekat dan berbau sangat harum.
Kesesuaian iklim sangat menentukan bagi petani dalam mengembangkan jambu mete, agar produksinya dapat meningkat sesuai dengan kemampuan dalam menjaga dan memelihara jambu mete agar tetap berproduksi.
5.2.2 Kesesuaian Lahan
Berdasarkan kondisi dilapangan dimana persepsi petani menganggap bahwa jambu mente termasuk tanaman yang cepat tumbuh dan tahan kering
karena mempunyai perakaran yang dalam. Karena itu tanaman ini banyak digunakan sebagai tanaman untuk rehabilitasi lahan kritis sebagai tanaman penghijauan dan pencegah erosi. Selain itu tanaman ini mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi karena hampir semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan.
Bagian-bagian tanaman tersebut yang dapat dimanfaatkan antara lain adalah biji mente (cashew nut), buah semu (cashew apple), kulit biji, batang serta daun.
Lahan yang digunakan untuk penanaman mente dapat berasal dari lahan alang- alang semak belukar, lahan primer atau lahan konversi. Pada lahan alang-alang dan semak belukar cara pembukaan lahan dilakukan dengan pembabatan secara manual atau menggunakan herbisida. Pada lahan primer dilakukan dengan cara menebang pohon-pohon, sedangkan yang dari konversi dilakukan dengan menebang atau membersihkan tanaman yang terdahulu.
Berdasarkan kondisi dilapangan Desa Ujung merupakan suatu daerah yang cukup potensial untuk dijadikan daerah perkebunan dan pertanian dengan komoditas yang beragam, hal ini disebabkan karena kondisi lahan yang subur dan cukup baik untuk beberapa komoditas dimana Jenis tanah paling cocok untuk pertanaman jambu mete adalah tanah berpasir, tanah lempung berpasir, dan tanah ringan berpasir serta jambu mete paling cocok ditanam pada tanah dengan pH antara 6,3 - 7,3, tetapi masih sesuai pada pH antara 5,5 - 6,3.
Di Indonesia tanaman jambu mete dapat tumbuh di ketinggian tempat 1-1.200 m dpl. Batas optimum ketinggian tempat hanya sampai 700 m dpl, kecuali untuk tujuan rehabilitasi tanah kritis.
5.2.3 Sistem Produksi
Ketepatan masa panen dan penanganan buah mete selama masa pemanenan merupakan faktor penting. Tanaman jambu mete dapat dipanen untuk pertama kali pada umur 3-4 tahun. Buah mete biasanya telah dapat dipetik pada umur 60-70 hari sejak munculnya bunga. Masa panen berlangsung selama 4 bulan, yaitu pada bulan November sampai bulan Februari tahun berikutnya. Agar mutu gelondong/kacang mete baik, buah yang dipetik harus telah tua
Berdasarkan kondisi dilapangan dimana banyaknya hasil panen tergantung dari umur tanam. Jambu mete yang berumur 3-4 tahun dapat menghasilkan gelondong kering 2-3 kg/pohon. Hasil ini meningkat menjadi 15-20 kg/pohon pada umur 20-30 tahun. Tanaman jambu mete sebenarnya masih dapat berproduksi sampai umur 50 tahun, tetapi masa paling produktifnya adalah pada umur 25-30 tahun.
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian bahwa potensi pengembangan jambu mete dengan indikator kesesuaian iklim yang berada kategori sedang dengan nilai rata-rata 2,15, Kesesuaian iklim sangat menentukan bagi petani dalam mengembangkan jambu mete, agar produksinya dapat meningkat sesuai dengan kemampuan dalam menjaga dan memelihara jambu mete agar tetap berproduksi. Kesesuaian lahan yang berada kategori tinggi dengan nilai rata-rata 2,40, karena kondisi lahan yang subur dan cukup baik untuk beberapa komoditas dimana Jenis tanah paling cocok untuk pertanaman jambu mete adalah tanah berpasir, tanah lempung berpasir, dan tanah ringan berpasir. Sistem produksi jambu mete yang berada kategori tinggi dengan nilai rata-rata 2,45,
6.2 Saran
1. Hendaknya pembinaan secara tepat dan berkesinambungan oleh petugas Penyuluh Pertanian dalam kegiatan pengembangan jambu mete
2. Diharapkan kerjasama yang baik antara penyuluh pertanian dengan petani dalam upaya peningkatan pengetahuan, dan keterampilan dalam menumbuhkan minat dalam pengembangan jambu mete.
Lampiran 1 Kuesioner Penelitian
POTENSI PENGEMBANGAN TANAMAN JAMBU METE DI DESA UJUNG KECAMATAN PASIMASUNGGU TIMUR KABUPATEN KEPULAUAN
SELAYAR
No Responden :
Tgl Wawancara :
I. Identitas Responden
Nama :
Umur :
Pendidikan :
Luas Lahan :
Pengalaman Usaha Tani :
II. Potensi Pengembangan Jambu Mete
a. Kesesuaian Iklim Lokasi Pengembangan Jambu Mete
1. Apakah Bapak/Ibu mengetahui kondisi iklim yang sesuai bagi pengembangan jambu mete ?
a. ya, sesuai 3
b. kadang-kadang sesuai 2
c. tidak, sesuai 1
2. Apa bapak/ibu sering memperoleh informasi tentang iklim yang sesuai bagi pengembangan jambu mete oleh penyuluh pertanian ?
a. ya, sering 3
b. kurang sering 2
c. tidak, pernah 1
b. Kesesuaian Lahan Untuk Pengembangan Jambu Mete
1. Apa Bapak/Ibu sangat mengetahui lahan yang cocok bagi bagi pengembangan jambu mete ?
a. ya, sangat tahu 3
b. kurang tahu 2
c. tidak, sama sekali 1
2. Untuk pengembangan jambu mete, Menurut bapak/ibu jenis lahan yang sesuai untuk jambu mete?
a. Lahan kering 3
b. Lahan basah 2
c. Lahan kering dan basah 1 c. Sistem produksi Jambu Mete
1. Apakah petani selama ini memakai bibit unggul yang dianjurkan pemerintah guna pengembangan jambu mete?
a. ya 3
b. kadang-kadang 2
c. tidak 1
2. Apakah selama ini harga bibit jambu mete yang ditawarkan ke petani masih mahal ?
a. ya 3
b. kadang-kadang 2
c. tidak 1
3 Apakah penyuluh pertanian terus memberikan inovasi dan dorongan kepada petani untuk mengembangkan jambu mete?
a. ya 3
b. kadang-kadang 2
c. tidak 1
Lampiran 2 Identitas Responden
No Nama
Umur
(tahun) Pendidikan
Pengalaman Berusahatani
(tahun)
Jumlah Tanggungan
(orang)
1 Andi Kasman 47 SD 12 4
2 Patta Bira 47 SD 12 4
3 Amrullah 48 SD 10 4
4 Densi Rungka 45 SD 10 3
5 Baso Eja 37 SD 15 6
6 Syamsul Bahri 35 SMA 5 2
7 Amiruddin 54 SMP 10 4
8 Ahmad Rabu 40 SMP 5 2
9 Andi Azis 51 SD 10 5
10 Anwar Salam 47 SD 10 4
11 Baso lama 40 SD 5 4
12 Nursalam 40 SD 4 4
13 Baso tallu 49 SMP 10 2
14 Siga 46 SMP 15 6
15 Tanri 46 SD 15 4
16 Dg manojengang 47 SD 10 2
17 Mursalim 39 SD 12 3
18 Tasri 55 SD 9 4
19 Dg situju 35 SMP 4 1
20 Muslimin 40 SMA 5 3
Lampiran 3 Potensi Pengembangan dalam Kesesuaian Iklim Lokasi
Responden
Iklim Lokasi
Jumlah Rata-rata
I II
Andi Kasman 3 2 5 2,50
Patta Bira 2 3 5 2,50
Amrullah 2 2 4 2,00
Densi Rungka 2 3 5 2,50
Baso Eja 1 2 3 1,50
Syamsul Bahri 2 1 3 1,50
Amiruddin 2 2 4 2,00
Ahmad Rabu 3 3 6 3,00
Andi Azis 1 1 2 1,00
Anwar Salam 3 3 6 3,00
Baso lama 2 2 4 2,00
Nursalam 1 3 4 2,00
Baso tallu 2 2 4 2,00
Siga 1 3 4 2,00
Tanri 3 1 4 2,00
Dg manojengang 2 3 5 2,50
Mursalim 3 1 4 2,00
Tasri 2 2 4 2,00
Dg situju 2 2 4 2,00
Muslimin 3 3 6 3,00
Jumlah 42 44 86 43,00
rata-rata 2,1 2,2 4,30 2,15
Keterangan : 1,00 - 1,66 = rendah 1,67 - 2,33 = sedang 2,34 - 3,00 = tinggi
Lampiran 4 Potensi Pengembangan Dalam Kesesuaian Lahan
Responden
Kesesuain lahan
Jumlah Rata- rata
I II
Andi Kasman 2 2 4 2,00
Patta Bira 3 2 5 2,50
Amrullah 1 3 4 2,00
Densi Rungka 3 2 5 2,50
Baso Eja 2 3 5 2,50
Syamsul Bahri 3 2 5 2,50
Amiruddin 2 1 3 1,50
Ahmad Rabu 3 2 5 2,50
Andi Azis 1 3 4 2,00
Anwar Salam 3 2 5 2,50
Baso lama 3 3 6 3,00
Nursalam 2 2 4 2,00
Baso tallu 3 3 6 3,00
Siga 3 3 6 3,00
Tanri 2 3 5 2,50
Dg manojengang 3 2 5 2,50
Mursalim 1 3 4 2,00
Tasri 3 3 6 3,00
Dg situju 3 2 5 2,50
Muslimin 2 2 4 2,00
Jumlah 48 48 96 48,00
rata-rata 2,4 2,4 4,80 2,40
Keterangan : 1,00 - 1,66 = rendah 1,67 - 2,33 = sedang
2,34 - 3,00 = tinggi
Lampiran 5 Potensi Pengembangan dalam Sistem Produksi
Responden
Sistem Produksi
Jumlah Rata- rata
I II III
Andi Kasman 2 3 3 8 2,67
Patta Bira 2 3 3 8 2,67
Amrullah 3 2 3 8 2,67
Densi Rungka 2 3 2 7 2,33
Baso Eja 1 3 3 7 2,33
Syamsul Bahri 3 2 2 7 2,33
Amiruddin 3 3 3 9 3,00
Ahmad Rabu 2 2 3 7 2,33
Andi Azis 3 1 3 7 2,33
Anwar Salam 3 2 1 6 2,00