BAB II. LANDASAN PEMIKIRAN TEORITIS
2.1.2. Saham
2.1.2.3. Return Saham
Menurut Jones (2000), return adalah yield dan capital gain (loss). (1) Yield, yaitu cash flow yang dibayarkan secara periodik kepada pemegang saham (dalam bentuk dividen), (2) Capital gain (loss), yaitu selisih antara harga saham pada saat pembelian dengan harga saham pada saat penjualan. Hal tersebut diperkuat oleh Corrado dan Jordan (2000) yang menyatakan bahwa return dari investasi sekuritas adalah cash flow dan capital gain (loss).
Wahyudi (2003) mengemukakan bahwa return memiliki dua komponen, yaitu:
1. Pendapatan lancar (current income), yaitu keuntungan yang diperoleh investor melalui pembayaran yang bersifat periodik berupa dividen, sebagai hasil kinerja fundamental perusahaan. Keuntungan ini biasanya diterima dalam bentuk kas atau setara kas sehingga dapat diuangkan secara cepat. Misalnya dividen saham yang dibayarkan dalam bentuk saham yang bisa dikonversi menjadi uang kas dengan cara menjual saham yang diterima investor.
2. Keuntungan selisih harga (capital gain), yaitu keuntungan yang diterima investor yang disebabkan oleh selisih antara harga jual dan harga beli saham.
Besarnya capital gain suatu saham akan positif apabila harga jual dari saham lebih tinggi dari harga belinya. Hal sebaliknya juga dapat terjadi, yaitu investor memiliki kemungkinan untuk mendapat kerugian selisih harga (capital loss) apabila harga jual dari saham lebih rendah dari harga belinya.
Jogiyanto (2008) mengatakan bahwa return total merupakan return keseluruhan dari suatu investasi dalam suatu periode tertentu. Return total sering disebut dengan return saja. Return total terdiri dari (1) capital gain, yaitu selisih dari harga investasi sekarang relatif dengan harga periode yang lalu, dan (2) yield, yaitu persentase penerimaan kas periodik terhadap harga investasi periode tertentu dari suatu investasi.
Dari penjelasan tersebut, maka didapat persamaan untuk mencari return adalah: (Jogiyanto, 2008)
Return = Capital Gain (loss) + Yield
) 1 (
) 1 (
−
− +
= −
t
t t
t
t P
D P
R P
Keterangan:
Rt = Return periode t Pt = Harga saham periode t
P(t-1) = Harga saham periode t-1
Dt = Dividen perode t
Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dikemukakan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa return saham adalah keuntungan yang diperoleh dari kepemilikan saham investor atas investasi yang dilakukannya, yang terdiri dari capital gain (loss) dan dividen. Maka dari itu, hasil investasi tersebut dapat diketahui jumlahnya dengan cara menghitung selisih harga saham periode berjalan dengan periode sebelumnya dengan mengabaikan dividen yang menghasilkan persamaan sebagai berikut:
) 1 (
) 1 (
−
− −
=
t t t
P P Ri P
Keterangan:
Ri = Return saham harian Pt = Harga saham periode t
P(t-1) = Harga saham periode t-1
Jika harga investasi sekarang (Pt) lebih tinggi dari harga investasi periode lalu (Pt-1), maka hal ini menunjukkan bahwa terjadi keuntungan modal (capital gain). Sebaliknya, jika investasi sekarang (Pt) lebih rendah dari harga investasi periode lalu (Pt-1), maka hal ini menunjukkan bahwa terjadi kerugian modal (capital loss).
2.1.2.4. Abnormal Return, Actual Return, dan Expected Return
Jogiyanto (2008) membedakan return menjadi dua jenis, yaitu:
1. Tingkat pengembalian realisasi (actual return), yaitu return yang sudah terjadi yang dihitung berdasarkan data historis.
2. Tingkat pengembalian ekspektasi (expected return), yaitu return yang diharapkan di masa mendatang dan masih bersifat tidak pasti.
Abnormal return (return tidak normal) atau excess return merupakan kelebihan dari return yang sesungguhnya terjadi terhadap return normal. Return normal merupakan return ekspektasi. Dengan demikian, abnormal return adalah selisih antara return sesungguhnya (actual return) yang terjadi dengan return ekspektasi (Jogiyanto, 2008) yang ditulis dengan rumus:
AR = R – E(R) Keterangan:
AR = Abnormal return R = Actual return E(R) = Expected return
2.1.2.5. Likuiditas saham
Likuiditas saham merupakan jumlah saham yang ditransaksikan di pasar modal dalam periode tertentu. Menurut Wirman (2002) likuiditas adalah tingkat kemampuan suatu aktiva finansial berubah menjadi kas atau sebaliknya pada setiap saat diinginkan dengan waktu yang sesingkat-singkatnya dan dengan resiko kerugian yang paling minimum.
Semakin tinggi frekuensi saham tersebut ditransaksikan maka likuiditas saham tersebut akan semakin tinggi sehingga investor menyukai saham-saham yang likuiditasnya tinggi karena apabila sewaktu-waktu memerlukan dana dapat menjual saham yang dimilikinya dengan mudah dan cepat. Saham yang tidak likuid akan menyebabkan investor kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan (gain), karena dengan likuiditas yang tinggi akan menyebabkan adanya selisih harga yang kemudian sangat diminati oleh investor jangka pendek yang mencari keuntungan melalui selisih harga (capital gain).
Di pasar modal likuiditas saham dianggap penting bagi investor dan emiten, hal tersebut dapat dilihat dengan diberi peringkat untuk 45 perusahaan yang memiliki likuiditas tertinggi di pasar modal yang dikenal dengan peringkat LQ 45.
Likuiditas saham dipengaruhi oleh banyak hal, salah satunya karena tingginya harga suatu saham yang menyebabkan kurangnya saham tersebut diperdagangkan di bursa sehingga dianggap kurang likuid. Dengan harga yang tinggi menyebabkan permintaan akan saham berkurang sehingga biasanya saham yang mahal tersebut akan digolongkan menjadi saham tidur atau saham yang kurang aktif diperdagangkan, saham tersebut dapat saja di delisting (dikeluarkan) dari bursa apabila likuiditas perdagangannya rendah.
Dalam penelitian ini likuiditas saham diartikan sebagai ukuran jumlah volume transaksi perdagangan saham di pasar modal. Semakin likuid suatu saham berarti volume atau frekuensi perdagangan semakin tinggi, hal tersebut menunjukkan minat investor terhadap suatu saham karena dianggap akan lebih mendatangkan return dibandingkan saham yang likuiditasnya rendah.
Pengukuran likuiditas saham dilakukan dengan melihat Trading Volume Activity (TVA) merupakan suatu instrumen yang dapat digunakan untuk melihat reaksi pasar terhadap suatu informasi melalui parameter frekuensi perdagangan di pasar modal. Nilai TVA berbanding lurus dengan likuiditas saham, semakin tinggi TVA berarti likuditas saham tinggi pula sehingga mudah dikonversikan menjadi uang kas. Perhitungan TVA dilakukan dengan membandingkan jumlah saham yang diperdagangkan dalam satu periode tertentu dengan total jumlah saham yang beredar pada periode yang sama.
2.1.3. Right Issue
2.1.3.1 Pengertian Right Issue
Koetin (2000:42) menggunakan istilah claim untuk right issue yaitu penawaran terbatas ketika semua pemegang saham perseroan harus diberi kesempatan untuk membeli terlebih dahulu saham-saham yang akan dikeluarkan, menurut perbandingan jumlah saham yang tetap dimiliki masing- masing.
Right issue adalah suatu upaya yang dilakukan oleh emiten utnuk menghemat biaya emisi dan untuk menambah jumlah saham yang beredar.
Umumnya, diharapkan penambahan jumlah lembar saham yang beredar di pasar akan meningkatkan likuiditas saham. Tujuan perusahaan melakukan right issue adalah untuk menambah modal perusahaan, perluasan investasi atau untuk pembayaran utang. Right issue merupakan hak bagi pemegang saham lama untukmembeli saham baru yang dikeluarkan oleh emiten, biasanya ditawarkan dengan harga yang lebih rendah dari harga pasar (Budiarto dan Baridwan, 1999: 99).
Di dalam keputusan Ketua Bapepam Nomor: kep-26/PM/2003 Peraturan No. IX. D1 angka 1, istilah Right Issue diterjemahkan dengan istilah Penawaran Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Dalam peraturan ini didefinisikan bahwa: Hak memesan efek terlebih dahulu adalah hak yang melekat pada saham yang memungkinkan para pemegang saham yang ada untuk membeli efek baru termasuk saham, efek yang dapat dikonversikan menjadi saham dan waran, sebelum ditawarkan pada pihak lain.
2.1.3.2. Tujuan Perusahaan Melakukan Right Issue
Perusahaan menerbitkan right issue sering kali untuk menghemat biaya emisi, dan juga untuk menambah jumlah lembar saham yang diperdagangkan.
Umumnya diharapkan penambahan jumlah saham di bursa akan meningkatkan frekuensi perdagangan saham tersebut, istilahnya adalah meningkatkan likuiditas saham (Harianto dan Sudomo, 2002:558).
Perusahaan melakukan right issue dengan menetapkan harga pemesan baru jauh di bawah harga pasar saham atau kurs yang tercatat di bursa pada saat itu, hal ini dapat diartikan bahwa perusahaan tersebut ingin menurunkan harga saham- saham yang dimiliki pemegang saham yang ada (Koetin, 2000: 42).
2.1.3.3. Alasan Perusahaan Melakukan Right issue
Bagi perusahaan, paling tidak terdapat 2 alasan untuk melakukan right issue, yaitu:
1. Right issue dapat mengurangi biaya, karena right issue biasanya tidak menggunakan jasa penjamin (Under writer).
2. Dengan adanya right issue berakibat jumlah saham perusahaan yang ada akan bertambah sehingga diharapkan akan meningkatkan frekuensi perdagangan yang berarti akan meningkatkan likuiditas saham.
Sedangkan bagi pemegang saham itu sendiri, right issue membuat mereka lebih mudah mempertahankan proporsi kepemilikan sahamnya dan untuk melindungi dari nilai saham yang merosot (Jogiyanto, 1998: 75).
2.1.3.4. Hal- hal yang Berkaitan dengan Right issue
Beberapa hal penting yang berkaitan dengan right issue seperti yang tercantum dalam prospektus perusahaan yang akan melakukan right issue:
1. Cum-date adalah tanggal terakhir seorang investor dapat meregistrasikan sahamnya untuk mendapatkan hak corporate action.
2. Ex-date adalah tanggal saat investor sudah tidak mempunyai hak akan suatu corporate action.
3. DPS-date adalah tanggal saat daftar pemegang saham yang berhak akan suatu corporate action.
4. Tanggal pelaksanaan dan akhir right issue, periode right issue tersebut dicatat di bursa.
5. Allotment-date adalah tanggal menentukan jatah investor yang mendapatkan right issue dan berapa besar tambahan saham baru akibat right issue.
6. Listing date adalah tanggal ketika penambahan saham akibat right issue tersebut terdaftar di bursa efek.
Harga pelaksanaan, merupakan harga pelaksanaan yang harus dibayar investor untuk mengkonversi haknya ke dalam bentuk saham. Umumnya harga pelaksanaan right issue di bawah harga saham yang berlaku.
2.1.3.5. Teori Tentang Informasi
Terdapat dua teori yang relevan untuk menjelaskan hubungan antara kandungan informasi dari berbagai corporate action dengan perkembangan harga/volume perdagangan saham di pasar modal, (dalam Brigham, Gapenski, Daves, 1998) yaitu:
1. Teori Struktur Modal
Dalam teori ini, diasumsikan bahwa walaupun suatu perusahaan memiliki struktur modal yang optimal, masih tidak jelas apakah mampu menjelaskan timbulnya pengaruh negatif terhadap harga saham karena penambahan saham baru. Alasannya adalah bahwa penambahan saham baru seharusnya selalu mewakili perkembangan struktur modal yang optimal atau lebih baik dan bukan sebaliknya, sehingga penambahan saham baru seharusnya memberikan dampak terhadap harga saham yang positif atau nol. Smith pada tahun 1986 (dalam Jogianto, 2000), menyatakan bahwa berdasarkan studi empiris ditemukan bahwa secara statistik penerbitan saham baru berpengaruh negatif terhadap harga saham perusahaan. Oleh karena itu teori struktur modal seharusnya mampu menjelaskan mengapa harga saham bereaksi negatif terhadap informasi penambahan saham baru yang berbeda dengan asumsi yang ada dalam teori tersebut.
2. Teori Sinyal
Asumsi utama dalam teori ini adalah bahwa manajer memiliki informasi yang akurat tentang nilai perusahaan yang tidak diketahui oleh investor luar, dan manajer adalah orang yang selalu berusaha memaksimalkan insentif yang diharapkannya. Maksudnya adalah manajer umumnya memiliki informasi yang lebih lengkap dan akurat dari pihak luar perusahaan (investor) mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan. Asimetri informasi akan terjadi jika manajer tidak secara
penuh menyampaikan seluruh informasi yang diperolehnya tentang semua hal yang dapat mempengaruhi perusahaan ke pasar modal. Jika manajer menyampaikan suatu informasi ke pasar, maka umumnya pasar merespon informasi tersebut sebagai suatu sinyal terhadap event tertentu yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan yang tercermin dari perubahan harga dan volume perdagangan saham yang terjadi sebagai implikasinya.
Pengumuman perusahaan untuk menambah jumlah lembar saham baru yang beredar (right issue) akan direspon oleh pasar sebagai suatu sinyal yang menyampaikan adanya informasi baru yang dikeluarkan oleh pihak manajer selanjutnya akan mempengaruhi nilai saham perusahaan dan aktivitas perdagangan saham.
2.1.4. Penelitian Terdahulu
Pengumuman perusahaan yang melakukan right issue, secara teoritis dan empiris telah menyebabkan harga saham bereaksi negatif dan ini merupakan kejadian yang diakibatkan oleh systematic risk. Systematic risk adalah bagian risiko yang tidak dapat dihilangkan dengan diversifikasi atas portofolionya.
Beberapa temuan empiris tersebut adalah: Masulis dan Korwar (1986), Myers dan Maljuf (1984), Scholes (1972). Dari hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa nilai pasar perusahaan turun 3% pada saat pengumuman (dalam Ghozali dan Solichin, 2003).
Beberapa temuan tersebut sesuai dengan model signaling theory yang menyatakan adanya informasi asimetri di antara berbagai partisipan di pasar modal. Naik turunnya saham saat right issue sangat dipengaruhi oleh rate of return yang diharapkan investor dari penggunaan dana yang terhimpun dalam right issue ini. (Suad Husnan, 1994: 428).
Dari penelitian yang dilakukan oleh Prima Yusi Sari, ditemukan bahwa dari 71 sampel perusahaan yang melakukan right issue (1994-1996) di BEJ ternyata terdapat reaksi pasar yang negatif terhadap harga saham yang signifikan terhadap pada saat ex date maupun di sekitar ex date.
Budiarto dan Baridwan (1996), Penelitian yang ditemukan bahwa dari 50 sampel perusahaan yang melakukan right issue (1994-1996) di BEJ ternyata terdapat perbedaan return saham yang signifikan pada hari pengumuman dengan hari sebelum pengumuman. Tetapi tidak ditemukan adanya perbedaan yang signifikan return antara sebelum dan sesudah pengumuman right issue.
Ghazali dan Silichin (2003), melakukan penelitian tentang reaksi pasar saat perusahaan melakukan penawaran saham terbatas untuk sampel perusahaan yang terdapat di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Perusahaan yang digunakan sebagai sampel adalah perusahaan yang melakukan right issue tahun 1996 dan 1997.
Penelitian tersebut mendapatkan hasil tidak adanya abnormal return positif yang signifikan pada saat pengumuman right issue.
Saraswati (1997), yang meneliti hubungan antara harga teoritis saham ex- right dengan gain/loss investor setelah right issue selama 3 tahun untuk tahun 1993 s/d 1996, dari hasil analisis korelasi antara harga teoritis founders dengan gain founders setelah right issue menunjukkan hubungan yang positif. Hal ini berarti right issue cenderung menguntungkan founders dibanding dengan hubungan right issue dengan gain investor yang ternyata negatif, yang berarti bahwa investor rugi dengan adanya right issue.
Oleh Kurniasari dan Nugraheni (2003) ditemukan bahwa dari 27 sampel perusahaan yang melakukan right issue (1999-2001) di BEJ ternyata terdapat reaksi pasar yang negatif terhadap harga saham yang tidak signifikan pada saat ex date.
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris apakah publikasi right issue mempengaruhi perubahan harga dan tingkat likuiditas saham perusahaan. Ada tidaknya pengaruh akan dilihat dari return, abnormal return dan total volume activity yang melakukan right issue di seputar tanggal pengumuman right issue, selama 5 hari sebelum dan sesudah pengumuman right issue.
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
Peneliti Variabel Hasil
Prima Yusi Sari (2002)
Abnormal Return, Spread, Ratio
Terdapat reaksi pasar yang negatif terhadap harga saham yang signifikan terhadap pada saat ex date maupun di sekitar ex date.
Budiarto dan Baridwan (1999)
Return, Abnormal Return, TVA
Tidak terdapat perbedaan return, abnormal return dan TVA saham yang signifikan antara sebelum dan sesudah pengumuman right issue.
Ghazali dan Silichin (2003)
Return, Abnormal Return, Harga
Tidak ada abnormal return positif yang signifikan pada saat pengumuman right issue.
Saraswati (1997)
Harga, Gain/loss
Right issue cenderung menguntungkan founders dibandingkan dengan hubungan right issue dengan gain investor.
Kurniasari dan Nugraheni (2003)
Return, Abnormal Return, Harga
Terdapat return dan abnormal return yang negatif tetapi tidak signifikan pada saat ex date.
2.2. Kerangka Pemikiran
Perusahaan yang memiliki nilai yang baik tercermin dari harga saham yang tinggi. Semakin tinggi harga saham menunjukkan bahwa kinerja perusahaan tersebut baik yang dapat memberikan keuntungan bagi para pemilik sahamnya sehingga para investor akan sangat tertarik untuk dapat memiliki saham tersebut.
Namun apabila harga saham terlalu tinggi akan dapat mengurangi minat investor untuk dapat berinvestasi karena tingginya harga saham tidak dapat dijangkau oleh investor.
Saham-saham yang memiliki harga yang terlalu tinggi akan menyebabkan permintaan akan saham tersebut menjadi berkurang sehingga akan menyebakan tingkat likuiditas saham tersebut berkurang, karena dengan harga yang mahal hanya sedikit investor yang melakukan transaksi perdagangan terhadap saham tersebut. Saham yang memiliki tingkat volume perdagangan yang rendah dapat digolongkan menjadi saham yang tidak aktif diperdagangkan di bursa. Dengan berkurangnya tingkat likuiditas suatu saham dapat menjadi ancaman bagi saham tersebut di bursa saham karena bursa dapat melakukan delisting (dikeluarkan) dari bursa apabila transaksi perdagangan saham tersebut rendah.
Reaksi pasar ditunjukkan oleh adanya perubahan harga dari sekuritas yang bersangkutan. Reaksi ini dapat diukur dengan return saham. Apabila dilanjutkan dengan melihat indeks harga saham gabungan, maka reaksi ini akan berubah menjadi abnormal return yang didapat dari selisih return saham dengan return pasar.
Right issue dapat dijadikan salah satu cara bagi perusahaan untuk menghindari ancaman delisting di bursa. Right issue adalah kebijakan perusahaan (corporate action) yang bertujuan agar saham berada pada rentang perdagangan yang optimal dengan tingkat harga yang lebih rendah dan jumlah saham yang beredar lebih banyak sehingga akan meningkatkan permintaan investor. Dengan semakin tinggi permintaan saham, maka berdasarkan hukum penawaran dan permintaan maka harga saham akan naik dan jumlah volume transaksi akan meningkat. Jadi perusahaan mengharapkan dengan kebijakan right issue mendapat banyak keuntungan sekaligus, seperti dapat terhindar dari delisting di bursa,
Periode setelah Right Issue Return
saham
TVA Periode sebelum
Right Issue
Return saham
TVA
Berbeda Abnormal
Return
Abnormal Return
meningkatnya volume perdagangan, harga saham berada pada rentang yang optimal.
Pada penelitian ini bertujuan untuk meneliti dampak dari kebijakan right issue terhadap return, abnormal return dan likuiditas saham. Return, abnormal return dan likuiditas saham sebelum dan sesudah right issue dijadikan bahan penelitian karena dampak dari peristiwa right issue langsung berpengaruh pada return, abnormal return dan jumlah saham.
Berdasarkan uraian, maka dapat diperoleh kerangka pemikiran dalam penelitian ini sebagai berikut :
Gambar 2.2.
Kerangka Pemikiran
2.3. Hipotesis
Berdasarkan pada gambar 2.2, maka peneliti merumuskan hipotesis alternatif sebagai berikut :
Ho1 : Return saham setelah ex date right issue tidak berbeda secara signifikan dengan return saham sebelum ex date.
Ha1 : Return saham setelah ex date right issue berbeda secara signifikan dengan return saham sebelum ex date.
Ho2 : Abnormal return saham setelah ex date right issue tidak berbeda secara signifikan dengan abnormal return saham sebelum ex date.
Ha2 : Abnormal return saham setelah ex date right issue berbeda secara signifikan dengan abnormal return saham sebelum ex date.
Ho3 : Frekuensi perdagangan saham setelah ex date right issue tidak berbeda secara signifikan dengan aktivitas volume perdagangan saham sebelum ex date.
Ha3 : Frekuensi perdagangan saham setelah ex date right issue berbeda secara signifikan dengan aktivitas volume perdagangan saham sebelum ex date.
3.1. Pemilihan Objek Penelitian
Populasi yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan- perusahaan yang melakukan right issue di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahan yang melakukan right issue pada tahun 2006 sampai 2008. Penarikan sampel untuk penelitian ini menggunakan metode purposive random sampling. Adapun kriteria yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah sebagai berikut :
1. Perusahaan tersebut terdaftar di BEI tahun 2006 sampai 2008.
2. Penelitian ini hanya fokus pada perusahaan yang melakukan right issue dan tidak diikuti dengan kebijakan lainnya seperti warrant, stock split, deviden saham dan pengumuman lainnya di tahun yang sama, sehingga penelitian ini murni hanya peristiwa right issue saja yang terjadi di tahun tersebut.
3. Data emiten tersedia lengkap baik harga dan volume perdagangan saham yang diperlukan untuk kebutuhan analisis penelitian.
Berdasarkan data yang diperoleh dari BEI perusahaan-perusahaan yang melakukan right issue pada tahun 2006 sampai dengan 2008 sebanyak 64 perusahaan.
Dari 64 perusahaan, terdapat 30 perusahaan yang tidak diikutsertakan dalam penelitian ini karena perusahaan tersebut tidak memenuhi pada kriteria yang telah ditetapkan. Jadi sampel akhir dalam penelitian ini yaitu sebanyak 34 perusahaan.
3.2. Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan data sekunder perusahaan publik yang terdaftar di BEI. Data-data tersebut diperoleh dari bagian Pusat Referensi Pasar Modal (PRPM) di BEI, website www.idx.co.id dan www.duniainvestasi.com.
Data yang dikumpulkan adalah data historis perusahaan emiten yang melakukan right issue. Data yang diperlukan dalam penelitian ini antara lain
1. Data harga saham harian 5 hari sebelum dan 5 hari sesudah ex date right issue (t0). Harga saham yang digunakan adalah harga saham penutupan (closing price) harian.
2. Data Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harian 5 hari sebelum dan 5 hari sesudah ex date right issue (t0).
3. Data volume perdagangan saham harian 5 hari sebelum dan 5 hari sesudah ex date right issue. (t0)
4. Data perusahaan yang melakukan right issue dan ex date right issue perusahaan tersebut selama 2006 sampai dengan 2008.
3.3. Tehnik Operasional Variabel
1. Variabel Penelitian
Variabel adalah faktor yang diuji dalam penelitian. Variabel penelitian ini terdiri dari:
1. Return saham
2. Abnormal return saham
3. Trading Volume Activity (TVA) 2. Definisi Operasional Variabel Penelitian
Definisi operasional dalam penelitian ini return saham, abnormal return, TVA dan right issue. Ketiga variabel ini akan diteliti untuk dilihat apakah ada pengaruh dari peristiwa right issue terhadap return saham, abnormal return dan TVA. Definisi dari masing-masing variabel tersebut adalah sebagai berikut:
1. Return saham
Return saham adalah keuntungan yang diperoleh dari kepemilikan saham investor atas investasi yang dilakukannya, yang terdiri dari capital gain (loss) dan dividen.
2. Abnormal return
Abnormal return (return tidak normal) atau excess return merupakan kelebihan dari return yang sesungguhnya terjadi terhadap return normal. Return normal merupakan return ekspektasi. Dengan