BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
3. Pengaruh Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi
terhadap Pengangguran Terbuka dan Kemiskinan di Kota
Samarinda
Sama-sama meneliti pengaruh pertumbuhan ekonomi dan inflasi terhadap pengangguran terbuka.
- Penelitian terdahulu menambah satu variabel dependen, yaitu
kemiskinan. Sementara penelitian hanya
menggunakan satu variabel dependen, yaitu
pengangguran.
- Metode yang digunakan pada penelitian terdahulu adalah model analisis jalur, sementara penelitian ini menggunakan metode regresi linear berganda.
4. Pengaruh Inflasi dan Pertumbuhan
Sama-sama meneliti pengaruh
- Lingkup penelitian
terdahulu lebih luas, yaitu Indonesia. Sementara
36 Ekonomi
terhadap Tingkat Pengangguran di Indonesia
pertumbuhan ekonomi dan inflasi terhadap tingkat
pengangguran terbuka.
lingkup dalam penelitian ini lebih kecil, yaitu daerah Kota Mataram.
- Periode tahun yang digunakan, dimana penelitian terdahulu
menggunakan periode tahun 2010-2018, sedangkan penelitian ini menggunakan periode tahun 2015-2021.
5. Analisis Pengaruh Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi terhadap Tingkat Pengangguran Terbuka di Pebatasan Timur Tengah
Sama-sama meneliti pengaruh pertumbuhan ekonomi dan inflasi terhadap tingkat
pengangguran terbuka.
- Wilayah penelitian yang berbeda, dimana penelitian terdahulu dilaksanakan di Perbatasan Timur Tengah, sementara penelitian ini dilaksanakan di Kota Mataram.
- Periode tahun yang digunakan, dimana penelitian terdahulu
menggunakan periode tahun 2001-2013, sedangkan penelitian ini menggunakan periode tahun 2015-2021.
Sumber: Olah Data Sekunder.
37
perusahaan membutuhkan tambahan tenaga kerja, dampaknya adalah mengurangi tingkat pengangguran.
Pertumbuhan ekonomi juga berpengaruh terhadap pengangguran. Dengan adanya pertumbuhan ekonomi, kegiatan ekonomi masyarakat secara keseluruhan akan berkembang. Berkembangnya kegiatan ekonomi tersebut, maka semakin banyak tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi sehingga pengangguran berkurang.
Uraian di atas dapat dijelaskan dengan kerangka berfikir sebagai berikut:
Sumber: Diolah oleh Penulis
Gambar 1.2
Skema Hubungan Antara Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi terhadap Tingkat Pengangguran
Gambar di atas menunjukkan bahwa adanya tanda panah yang mengarah dari inflasi ke arah tingkat pengangguran mengartikan bahwa inflasi memiliki pengaruh terhadap tingkat pengangguran. Begitupun tanda panah yang mengarah dari pertumbuhan ekonomi ke tingkat pengangguran, memiliki arti bahwa pertumbuhan ekonomi juga memiliki pengaruh terhadap tingkat pengangguran.
Sedangkan, tanda panah yang menghubungkan antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi, yang secara bersama-
INFLASI
TINGKAT PENGANGGURAN PERTUMBUHAN
EKONOMI
38
sama menuju ke arah tingkat pengangguran mengartikan bahwa inflasi dan pertumbuhan ekonomi secara bersama- sama memiliki pengaruh terhadap tingkat pengangguran.
D. Hipotesis Penelitian
Inflasi dan pengangguran memiliki hubungan yang negatif. Semakin tinggi tingkat inflasi, maka tingkat pengangguran akan turun.39 Bgitupun hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan pengangguran juga memiliki hubungan yang negatif atau berbanding terbalik, dimana semakin tinggi tingkat pertumbuhan ekonomi maka tingkat pengangguran akan mengalami penurunan.40
Bedasarkan uraian teori tersebut, maka dapat diajukan hipotesis sebagai berikut :
1. H1 : Inflasi berpengaruh terhadap pengangguran terbuka di Kota Mataram periode tahun 2015-2021.
2. H2 : Pertumbuhan ekonomi berpengaruh terhadap pengangguran terbuka di Kota Mataram periode tahun 2015-2021.
3. H3 : Inflasi dan pertumbuhan ekonomi secara bersama- sama berpengaruh terhadap pengangguran terbuka di Kota Mataram periode tahun 2015-2021.
39 Dornbusch, Rudiger & Fischer, Macroeconomics (9th ed), (New York: Mc Graw – Hill Companies, 2004), h. 15.
40 Toto Gunarto dan Marselina, Hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan pendapatan antar wilayah (Studi kasus Provinsi Lampung), Jurnal JEP, Volume 3 Nomor 1, 2016, h.29.
39 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif karena data yang digunakan berupa angka dengan pendekatan regresi linier berganda untuk megetahui hubungan atau pengaruh dua variabel atau lebih.
Penelitian kuantitatif adalah suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa angka sebagai alat analisis keterangan mengenai apa yang ingin diketahuinya.41
B. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi adalah total obyek yang akan dijadikan penelitian.42 Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh data mengenai inflasi, pertumbuhan ekonomi dan pengangguran terbuka di Kota Mataram.
2. Sampel
Sampel adalah sejumlah data yang diambil dari populasi. Dalam penelitian ini yang dijadikan sampel penelitian adalah data publikasi dari Badan Pusat Statistik terkait inflasi, pertumbuhan ekonomi dan pengangguran terbuka di Kota Mataram periode tahun 2015-2021. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampling jenuh atau sensus yaitu teknik penentuan sampel apabila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Tujuan dari
41 Mohammad Kasiram, Metode penelitian kuantitati-kualitatif, (Malang: UIN-Malang Pers, 2008), h. 72.
42 P. D. Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2014), h. 56.
40
penggunakan teknik sensus ini adalah untuk memperoleh sampel berupa data inflasi, pertumbuhan ekonomi dan pengangguran tiap semester maupun tiap tahun. Sampel penelitian ini diambil dari situs web resmi BPS yang sesuai dengan kriteria yang ditentukan penelitian ini.
C. Waktu dan Tempat Penelitian
Tempat yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh wilayah di daerah Kota Mataram dengan mengambil data dari Website resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat maupun BPS Kota Mataram yang berkaitan dengan variabel penelitian. Sedangkan untuk waktu penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai dengan bulan Juni tahun 2022 dengan data yang diambil adalah data dari tahun 2015-2021.
D. Sumber Data
Dalam penelitian ini sumber data yang dihimpun menggunakan data sekunder dimana data sekunder adalah data yang telah dikumpulkan oleh pihak lain bukan oleh periset sendiri untuk tujuan lain.43 Data dalam penelitian ini diperoleh dari Badan Pusat Statiska (BPS) yang berkaitan dengan variabel penelitian yang dipublikasikan melalui website resminya. Jenis data yang digunakan adalah time series (runtun waktu) data besarnya tingkat pengangguran, tingkat inflasi, dan pertumbuhan ekonomi di Kota Mataram selama periode tahun 2015-2021.
43 Istijanto, Aplikasi praktis riset pemasaran, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2009), h. 80.
Desain penelitian merupakan rancangan penelitian yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan proses penelitian. Desain penelitian bertujuan untuk memberi pegangan yang jelas dan terstruktur kepada peneliti dalam melakukan penelitiannya.46 Adapun desain penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
44 Oscar Yulius, Kompas I.T Kreatif SPSS 18, (Yogyakarta: Panser Pustaka, 2010), h. 92.
45 P. D. Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2014), h. 61.
46 Fachruddin, Imam. Desain penelitian. (Malang: Universitas Islam Negeri, 2009), h. 213.
42
Gambar 1.3 Desain Penelitian
Sumber: Diolah oleh Penulis.
G. Instrumen Penelitian
Sugiyono mengemukakan bahwa instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunankan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati.47 Sedangkan Arikunto berpendapat bahwa instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya.48
Berdasarkan pengertian tersebut, maka instrumen dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:
47 Sugiyono, P. D. Memahami Penelitian Kualitatif. (Bandung:
Alfabeta, 2012), h. 148.
48 Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. (Jakarta:
PT. Rineka Cipta, 2006). h. 10.
43 Tabel 1.3 Instrumen Penelitian
No. Variabel Indikator Alat Ukur Cara Ukur
Hasil Ukur 1. Inflasi
(X1)
Indeks harga konsumen
Persentase Menilai angka persentase dari BPS
- Tinggi - Rendah
2. Pertumb uhan Ekonomi (X2)
Data produk domestik bruto (GDP) atau pendapatan per kapita.
Persentase Menilai angka persentase dari BPS
- Tinggi - Rendah
3. Pengang gruan (Y)
a. Penduduk yang aktif mencari pekerjaan b. Penduduk
yang sedang menyiapkan pekerjaan baru/usaha c. Penduduk
yang tidak mencari pekerjaan baru karena mesara tidak mungkin mendapatkan pekerjaan d. Penduduk
yang tidak aktif
mencarai pekerjaan karena sudah
Persentase Menilai angka persentase dari BPS
- Tinggi - Rendah
44 mempunyai pekerjaan namun belum mulai bekerja.
Sumber: Diolah oleh Penulis
H. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi. Metode ini dilakukan dengan mengambil dokumentasi atau data yang mendukung penelitian, seperti angka tingkat inflasi, pertumbuhan ekonomi dan pengangguran terbuka yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik yang berkaitan dengan variabel penelitian dari website resminya. Selain itu peneliti juga menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) yang dilakukan dengan mengutip beberapa literatur seperti buku atau karanagn penlitian lainnya yang erat dengan permasalahan yang diteliti.
Metode analisis data merupakan bagian dari proses analisis dimana data yang dikumpulkan lalu diproses untuk menghasilkan kesimpulan dalam pengambilan keputusan.
Adapun metode analisa data dalam penelitian ini terdiri dari:
1. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik adalah persayaratan pengujian statistik yang dipenuhi terlebih dahulu dalam analisis regresi liner. Uji Asumsi Klasik untuk data sekunder harus menggunakan uji, yaitu: Normalitas, Multikoleniaritas, Heteroskedastisitas dan Autokorelasi.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui normal tidaknya suatu distribusi data. Model regresi yang baik hendaknya berdistribusi normal atau mendekati normal. Pengujian normalitas dilakukan dengan melihat nilai Asymp. Sig. (2-tailed). Jika angka signifikansinya > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data residual berdistribusi normal.49
b. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya korelasi yang tinggi antara variabel- variabel bebas dalam suatu model regresi linear berganda. Untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas yaitu dengan melihat nilai Tolerance dan VIF. Jika nilai VIF kurang dari 10 maka model
49 Siti Ma’sumah, Kumpulan Cara Analisis Data Beserta Contoh Judul dan Hipotesis Penelitian. (Banyumas: CV. Rizquna, 2019), h. 50.
46
regresi dinyatakan tidak mengandung multikolinieritas.50
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya.51 Jika variance dari residual satu ke pengamatan lain tetap, maka disebut Homoskedastisitas dan jika berbeda disebut Heteroskedastisistas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedadtisitas.
d. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Masalah ini timbul karena residual (kesalahan pengganggu) tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. Hal ini sering ditemukan pada data runtut waktu (time series) . Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi.
2. Uji Regresi Linear Berganda
Analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda, karena variabel independen lebih dari satu.
Dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui
50 Duli, Metodologi Penelitian Kuantitatif: Beberapa Konsep Dasar untuk Penulisan Skripsi & Analisis Data dengan SPSS. (Yogyakarta:
Depublish, 2019), h. 54.
51 Imam, Ghozali, Aplikasi Analisis Multivariete dengan Program SPSS, (Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2016), h. 34.
47
apakah ada pengaruh antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi terhadap pengangguran terbuka. Persamaan regresi secara yang digunakan adalah sebagai berikut:52 Y=a+b1.mfn+pern+e...(1)
Dimana:
Y = Pengangguran terbuka mf = Inflasi
per = Pertumbuhan ekonomi
a = Konstanta
b = Koefisien
e = Nilai residu 3. Uji Hipotesis
a. Uji t
Uji t dikenal dengan uji parsial, yaitu untuk menguji bagaimana pengaruh masing-masing variabel bebasnya secara sendiri-sendiri terhadap variabel berikutnya. Uji t bertujuan untuk mengetahui apakah variabel bebas atau variabel independent (X) secara parsial berpengaruh terhadap variabel terikat atau dependen (Y).
Kaidah keputusan :
Signifikansi > 0,05 maka hipotesis diterima Signifikansi ≤ 0,05 maka hipotesis ditolak b. Uji F
Uji F dikenal dengan uji serentak atau uji model atau uji anova, yaitu uji untuk melihat bagaimanakah pengaruh semua variabel bebasnya secara bersama- sama terhadap variabel terikatnya atau untruk menguji apakah model regresi yang kita buat baik/signifikan atau tidak baik/ non signifikan.
52 Syofian Siregar, Metode Penelitian Kuantitatif (Jakarta: PT Fajar Interpratama Mandiri, 2013), h. 61.
48 Kaidah keputusan :
Signifikansi > 0,05 maka H0 diterima Signifikansi ≤ 0,05 maka H0 ditolak 4. Uji Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terikat. Nilai koefisien determinasi adalah di antara nol dan satu. Nilai yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.53
53 Mudrajad Kuncoro, Metode Kuantitatif Teori dan Aplikasi untuk Bisnis dan Ekonomi, Edisi Ketiga. (Yogyakarta: STIM YKPN, 2007), h. 43.
49 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
1. Gambaran Umum Kota Mataram a. Sejarah Singkat Kota Mataram
Setelah secara resmi Nusa Tenggara Barat lahir menjadi salah satu daerah Swatantra Tingkat I dari pemekaran provinsi Sunda Kecil, selain Dati 1 Bali dan Nusa Tenggara Timur. Pada tanggal 17 Desember 1958 ditetapkanlah Mataram sebagai pusat Pemerintahan dan sekaligus sebagai ibu kotanya. Saat itu Mataram juga menjadi ibu kota Dati II Lombok Barat. Kota Mataram sebagai sebuah ibu kota Nusa tenggara Barat dan Lombok Barat, terdiri dari 3 bagian kota yaitu Ampenan, Mataram, dan Cakranegara. Ampenan merupakan kota pelabuhan, Mataram menjadi pusat Pemerintahan dan pendidikan, sedangkan Cakranegara sebagai pusat perdagangan dan perekonomian.
Mataram sebagai ibu kota dari dua buah Pemerintahan, perkembangan kota semakin bertambah maju. Kebutuhan sarana prasarana dan fasilitas umum menjadi semakin besar. Demikian juga kebutuhan jaringan transportasi dan tempat pemukiman menjadi lebih luas, karena itu Pemerintah Dati NTB, yang saat itu Gubernurnya dijabat oleh Kolonel Raden Wasita Kusama, dan atas saran pertimbangan pembantu- pembantu gubernur, diusulkan ke Pemerintah pusat cq.
Departemen Dalam Negeri, agar kota Mataram dimekarkan menjadi kota Administratif yang untuk sementara masih berada dalam kendali Dati II Lombok Barat. Setelah usulan pemda tingkat II NTB disetujui oleh Departemen Dalam Negeri, maka dilakukan
50
persiapan-persiapan administratif untuk sementara dalam persiapan menuju Kota Administratif, ditunjukkan pejabat Sementara (PjS) Wali kota Administratif Mataram, yaitu Drs Iswarto, yang pada saat itu sedang memangku jabatan sebagai Kepala Urusan Pegawai (UP) Sekretariat Daerah Nusa Tenggara. Sebagai pejabat sementara Drs Iswarto ditugaskan mengurus dan menyelesaikan proses terwujudnya Kota Administratif Mataram. Dalam tugasnya sebagai PjS Wali Kota Adinistratif, dia dibantu oleh seorang sekretaris Wali Kota yang dijabat oleh Drs. Abu Bakar Achmad, setelah kurang lebih satu tahun melaksanakan tugas sebagai PjS Wali Kota, keluarlah surat keputusan resmi Kota Mataram pada tanggal 29 Agustus 1978.54
b. Keadaan Geografis
Berdasarkan posisi geografisnya, Kota Mataram memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut: sebelah Utara berbatsan dengan Kabupaten Lombok Barat, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Lombok Barat, sebelah Barat berbatasan dengan Selat Lombok, dan sebelah Timur juga nerbatasan dengan Kabupaten Lombok Barat.55
Luas wilayah Kota Mataram adalah 61,30 km2, yang terbagi dalam 6 kecamatan, yaitu Kecamatan Ampenan, Sekarbela, Mataram, Selaparang, Cakranegara, dan Sandubaya. Kecamatan terluas
54 Pemerintah Kota Mataram. “Profil Kota Mataram”. Diakses melalui http://web.mataramkota.go.id/profil pada tanggal 3 September 2022, Pukul 04.08 WITA.
55 Badan Pusat Statistik Kota Mataram. “Kota Mataram dalam Angka 2022”. Diakses melalui https://mataramkota.bps.go.id/publication/ pada tanggal 3 September 2022, Pukul 04.19 WITA.
51
adalah Kecamatan Selaparang yaitu sebesar 10,77 km2, disusul Kecamatan Mataram dengan luas wilayah 10,76 km2. Sedangkan wilayah terkecil adalah Kecamatan Ampenan dengan luas 9,46 km2 .
Grafik 5.1
Luas Daerah menurut Kecamatan di Kota Mataram Tahun 202156
c. Kependudukan
Berdasarkan data yang ada di BPS tahun 2021, jumlah penduduk Mataram tercatat 432.024 jiwa.
Jumlah penduduk perempuan lebih besar dibandingkan jumlah penduduk laki-laki, ditunjukkan oleh rasio jenis kelamin (rasio jumlah penduduk laki-laki terhadap jumlah penduduk perempuan), sebesar 99.34 persen.
Penduduk Mataram belum menyebar secara merata di seluruh wilayah Mataram. Umumnya, penduduk banyak menumpuk di kecamatan Ampenan.
Secara rata-rata, kepadatan penduduk Mataram tercatat
56 Badan Pusat Statistik Kota Mataram. “Kota Mataram dalam Angka 2022”. Diakses melalui https://mataramkota.bps.go.id/publication/ pada tanggal 3 September 2022, Pukul 04.19 WITA.
9.46 10.32 10.76 10.77 9.67
10.32
Ampenan Sekarbela Mataram Selaparang Cakranegara Sandubaya
52
sebesar 7.048 jiwa setiap kilometer persegi, dan wilayah terpadat yaitu kecamatan Ampenan yang memiliki tingkat kepadatan 9.356 orang setiap kilometer persegi.
Grafik 5.2
Jumlah Penduduk berdasarkan Kecamatan di Kota Mataram Tahun 202157
Berdasarkan grafik di atas, maka distribusi jumlah penduduk menurut kecamatan, terbanyak berdomisili di Kecamatan Ampenan dengan jumlah penduduk 88,507 jiwa, sedangkan jumlah penduduk paling sedikit berada di Kecamatan Sekarbela yang hanya menyumbang 56,111 jiwa dari total penduduk di Kota Mataram.
d. Ketenagakerjaan
Tenaga kerja yang terampil, merupakan potensi sumberdaya manusia yang sangat dibutuhkan dalam proses pembangunan menyongsong era globalisasi.
57 Badan Pusat Statistik Kota Mataram. “Kota Mataram dalam Angka 2022”. Diakses melalui https://mataramkota.bps.go.id/publication/ pada tanggal 3 September 2022, Pukul 04.19 WITA.
88.507 56.111
77.893 69.036 68.201 69.276
Ampenan Sekarbela Matara, Selaparang Cakranegara Sandubaya
53
Tabel 5.1
Persentase Penduduk Bekerja terhadap Angkatan Kerja menurut Tingkat Pendidikan di Kota
Mataram Tahun 202158
Pendidikan Bekerja Pengangguran Sekolah Dasar
(SD) 97.27 2.73
Sekolah Menengah
Pertama 97.60 2.40
Sekolah Menengah
Atas 92.57 7.43
Perguruan Tinggi 93.61 6.09 Tabel di atas menunjukkan bahwa angkatan kerja pada tahun 2021 mencapai 65,61 persen di antara penduduk usia kerja. Diantara angkatan kerja terdapat 94,81 persen yang bekerja. Menurut tingkat pendidikan, yang bekerja dengan tingkat pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) paling banyak sebesar 97,60 persen sedangkan paling rendah sebanyak 92,57 persen berpendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA), diantara angkatan kerja yang setingkat pendidikannya.
2. Inflasi Kota Mataram
Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga satu atau dua barang saja tidak disebut inflasi, kecuali kenaikan tersebut meluas dan mengakibatkan pada sebagian besar dari harga-harga barang lain. Oleh karenanya, ada tiga komponen yang harus dipenuhi agar
58 Badan Pusat Statistik Kota Mataram. “Kota Mataram dalam Angka 2022”. Diakses melalui https://mataramkota.bps.go.id/publication/ pada tanggal 3 September 2022, Pukul 04.19 WITA.
54
dapat dikatakan telah terjadi inflasi adalah: kenaikan harga, bersifat umum dan berlangsung terus-menerus.
Tabel 5.2
Tingkat Inflasi Kota Mataram Tahun 2015-202159 No. Tahun Inflasi (%)
1 2015 3.25
2 2016 2.47
3 2017 3.35
4 2018 3.10
5 2019 1.31
6 2020 0.58
7 2021 2.28
Berdasarkan tabel di atas, maka dapat diketahui bahwa inflasi tertinggi di Kota Mataram terjadi pada tahun 2017 sebesar 3,35 persen. Sedangkan inflasi paling rendah terjadi pada tahun 2020, yakni sebesar 0,58 persen.
Sepanjang tahun 2015-2021, inflasi di Kota Mataram terus mengalami fluktuasi, yakni dari tahun 2015 ke 2016, inflasi mengalami penurunan sebesar 0,78 persen. Akan tetapi meningkat di tahun berikutnya, yaitu tahun 2017 sebesar 0,88 persen, kemudian menurun sedikit di tahun 2018 sebesar 0,25 persen. Sementara di tahun 2019 hingga 2020, inflasi terus mengalami penurunan, yakni sebesar 1,79 persen di tahun 2019, dan 0,73 persen di tahun 2020.
Meskipun pada tahun 2021 kembali mengalami peningkatan sebesar 1,7 persen.
59 Badan Pusat Statistik Kota Mataram. “Kota Mataram dalam Angka 2022”. Diakses melalui https://mataramkota.bps.go.id/publication/ pada tanggal 3 September 2022, Pukul 04.19 WITA.
55
3. Pertumbuhan Ekonomi Kota Mataram
Ekonomi dikatakan mengalami pertumbuhan apabila produksi barang dan jasa meningkat dari tahun sebelumnya. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh mana aktivitas perekonomian dapat menghasilkan tambahan pendapatan atau kesejahteraan masyarakat pada periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi abisa diartikan sebagao perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksikan dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat.
Tabel 5.3
Pertumbuhan Ekonomi Kota Mataram Tahun 2015-202160
No. Tahun
Pertumbuhan Ekonomi (%)
1 2015 7.99
2 2016 8.01
3 2017 8.07
4 2018 4.95
5 2019 5.58
6 2020 5.52
7 2021 3.27
Berdasarkan tabel di atas maka diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi di Kota Mataram juga mengalami fluktuasi. Pertumbuhan ekonomi tertinggi terjadi pada tahun 2016 sebesar 8,01 persen, dan tahun 2017 sebesar 8,07 persen. Sementara pertumbuhan ekonomi paling
60 Badan Pusat Statistik Kota Mataram. “Kota Mataram dalam Angka 2022”. Diakses melalui https://mataramkota.bps.go.id/publication/ pada tanggal 3 September 2022, Pukul 04.19 WITA.
56
rendah terjadi pada tahun 2021, yakni hanya sebesar 3,27 persen.
4. Pengangguran Terbuka Kota Mataram
Pengangguran terbuka atau open unemployment adalah tenaga kerja yang sungguh-sungguh tidak mempunyai pekerjaan. Menurut BPS pengangguran terbuka terdiri atas : Penduduk yang sedang mencari pekerjaan, Penduduk yang sedang mempersiapkan usaha, penduduk yang merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan, penduduk yang sudah punya pekerjaan tapi belum mulai bekerja.
Tabel 5.4
Pertumbuhan Ekonomi Kota Mataram Tahun 2015-202161
No. Tahun
Pengangguran Terbuka (%)
1 2015 7.5
2 2016 3.52
3 2017 5.35
4 2018 6.49
5 2019 5.28
6 2020 6.83
7 2021 5.19
Berdasarkan tabel di atas, maka dapat diketahui bahwa tingkat pengangguran di Kota Mataram juga berfluktuasi. Adapun tinggkat pengangguran tertinggi terjadi pada tahun 2015 sebesar 7,5 persen, dan tahun
61 Badan Pusat Statistik Kota Mataram. “Kota Mataram dalam Angka 2022”. Diakses melalui https://mataramkota.bps.go.id/publication/ pada tanggal 3 September 2022, Pukul 04.19 WITA.
57
2020 sebesar 6,83 persen. Sedangkan tingkat pengangguran terendah terjadi pada tahun 2016, yakni hanya sebesar 3,25 persen.
5. Analisis Data
Penelitian ini menganalisis pengaruh inflasi dan pertumbuhan ekonomi terhadap pengangguran terbuka di Kota Mataram. Data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data time series atau rentang waktu mulai dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2021. Alat pengolah data yang digunakan dalam penelitian ini adalah perangkat lunak (software) komputer SPSS 25.0 dengan metode analisis regresi linier berganda.
a. Uji Asumsi Klasik 1) Uji Normalitas
Uji Normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak. Pengujian normalitas dilakukan dengan uji Kolmogorov-Smirnov yang dilakukan terhadap nilai residual. Pengujian ini dilakukan dengan melihat nilai sig.(2-tailed).
Tabel 5.5 Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized
Residual
N 7
Normal Parametersa,b
Mean .0000000
Std.
Deviation
1.31173070 Most Extreme
Differences
Absolute .164
Positive .164
58
Negative -.132
Test Statistic .164
Asymp. Sig. (2-tailed) .200c,d
Sumber: Olah data SPSS 25.
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa hasil uji normalitas Kolmogorov-Smirnov nilai Sig.(2-tailed) sebesar 0,200 > dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data pada penelitian ini berdistribusi normal.
2) Uji Multikolinieritas
Penelitian ini menggunakan nilai VIF (Variance Inflation Factor) untuk mendeteksi masalah multikolinearitas. Suatu model penelitian dikatakan bebas dari masalah multikolinearitas apabila nilai VIF masing-masing variabel < 10.
Ringkasan hasil pengujian disajikan pada tabel berikut:
Tabel 5.6 Uji Multikolinieritas
Model
Collinearity Statistics
Keterangan
Toleran ce VIF (Constant)
Inflasi (X1) .833 1.20 1
Tidak terdapat Multikolinearit
as P
e
Pertumbuhan Ekonomi (X2)
.833 1.20 1
Tidak terdapat Multikolinearit
as
Sumber: Olah data SPSS 25.