BAB III METODE PENELITIAN
E. Desain Penelitian
Peneliti menyebarkan angket kepada pengusaha kerajinan tangan yakni gerabah di Lombok Barat. Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti menggunakan jenis penelitian survei. Metode survei yaitu metode yang datanya dikumpulkan dari responden yang banyak jumlahnya dengan menggunakan kuesioner.52
Menurut Sugiyono sebagaimana yang dikutip dalam Asriel Aziz penelitian survei adalah pengumpulan data yang menggunakan alat instrumen berupa kuesioner/wawancara untuk mendapatkan jawaban/tanggapan dari responden/konsumen.53
Penelitian ini berdasarkan tingkat eksplanasinya digolongkan sebagai penelitian asosiatif kausal. Penelitian asosiatif kausal menurut
51 Ibid,. hlm. 65
52Elninaro Ardianto, Metodologi Penelitian untuk Public Relations Kuantitatif dan Kualitatif, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2014), hlm. 69.
53Asriel Azis, “Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Kepercayaan dan Loyalitas Konsumen studi pada pengguna jasa pengiriman paket PT. Pos Indonesia Persero, (Skripsi, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta,2016), hlm. 21.
34
Sugiyono merupakan penelitian yang mencari hubungan atau pengaruh sebab-akibat yaitu hubungan variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y).54
F. Instrumen/Alat dan Bahan Penelitian
Instrumen yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data ialah observasi, wawancara, angket, dokumentasi dan studi pustaka.
1. Observasi
Black dan Campion dan Muslimin dalam penelitian Nurul Zuriah menyatakan bahwa sebagai alat pengumpul data yang penting, kuesioner dan wawancara tidak sepenuhnya memuaskan. Ada masalah tertentu yang tidak bisa didapatkan oleh kedua alat pengumpul data tersebut. Adakalanya penting untuk melihat prilaku dalam keadaan (setting) alamiah, melihat dinamika, dan melihat gambaran prilaku berdasarkan situasi yang ada. Dalam kondisi dan konteks yang seperti ini, observasi menjadi penting sebagai metode utama untuk mendapatkan informasi.55
Dalam penelitian ini peneliti secara langsung melakukan observasi pada awal penelitian, untuk mengamati orang-orang yang sedang melakukan kegiatan tertentu, seperti mengamati kegiatan yang dilakukan pengrajin-pengrajin gerabah dan penjual-penjual gerabah.
Peneliti memasuki desa Banyumulek, Sesela, Lelede, Senggigi dan Sayang-sayang untuk melihat langung proses kegiatannya.
54Ibid,. hlm. 101.
55.Ibid,. hlm. 173.
2. Wawancara
Wawancara adalah alat pengumpul informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan kepada narasumber secara lisan atau dijawab secara lisan pula. Ciri utama dari wawancara adalah adanya pertemuan atau kontak langsung dengan tatap muka antara pencari informasi (interviewer) dan sumber informasi (interviewee).56
Peneliti menggunakan metode ini sebagai metode awal dalam meperoleh informasi dan data dari lokasi penelitian, peneliti langsung mewawancarai sekeraris- sekertaris desa di seluruh desa yang ada dalam lokasi penelitian dan juga mewawancarai beberapa penjual gerbah.
3. Angket
Metode angket merupakan serangkaian atau daftar pertanyaan yang disusun secara sistematis kemudian dikirim atau disebarkan untuk diisi oleh responden. Setelah diisi, angket dikirim atau dikembalikan kepetugas atau peneliti untuk diolah dan mendapatkan kesimpulan.57
Angket dalam penelitian ini telah digunakan oleh peneliti sebelumnya yaitu Didin Johan Muchidin, Cahya Putra Arista Adi dan Winarni. Penggunaan angket dapat mempermudah responden dalam memberikan jawaban karena sudah diberikan alternative jawaban jadi tidak perlu waktu lama dalam memberikan jawaban.
56Nurul Zuriah, Metodelogi Penelitian Sosial dan Pendidikan, ( Jakarta:PT. Bumi Aksara, 2006), hlm. 179.
57Anton Bawono, Multivariate..., hlm. 133.
36
4. Dokumentasi
Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang artinya barang- barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya.58
5. Studi pustaka
Menurut sugiono, studi pustaka berkaitan dengan nilai, norma dan budaya yang berkembang dalam situasi social yang diteliti, selain itu studi pustaka sangat penting dalam melakukan penelitian, hal in dikarenakan penelitian tidak terlepas dari literatur ilmiah.59
G. Teknik Pengumpulan Data/Prosedur Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan dua macam data yaitu;
Pertama, data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari responden dengan menggunakan kuisioner dan yang diperoleh dari instansi terkait, dalam hal ini kuisioner dibagikan kepada penjual gerabah yang ada di Lombok Barat. Kedua, data sekunder yaitu data yang berisi dokumentasi, tulisan-tulisan, data yang diperoleh dari studi pustaka dan buku-buku yang berkaitan dengan masalah penelitian.
Peneliti mengumpulkan data dari para pengusaha gerabah tentang pengaruh kualitas produk, harga dan distribusi terhadap volume penjualan geraba, maka metode yang digunakan oleh peneliti yakni
58Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian..., hlm. 149.
59Sugiyono,Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R & D (Bandung : Alfabeta, 2010), hlm. 291.
dengan melalui observasi, melakukan wawancara, penyebaran angket (kuesioner), dokumentasi dan Studi Pustaka. Adapun cara kerja penelitian ini dengan mengajukan lembaran angket yang berisi daftar pertanyaan kepada responden atau pengusaha gerabah di Lombok Barat.
Dalam hal ini kuisioner diberikan kepada pengusaha kerajinan tangan gerabah. Kuisioner yang digunakan berdasarkan skala likert untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seorang atau sekelompok orang.
Dan pengukurannya menggunakan skala likert, yaitu skala yang berisi lima tingkat preferensi jawaban dangan pilihan jawaban sebagai berikut:60
SS (sangat setuju) = diberi nilai 5
S ( setuju) = diberi nilai 4
KS ( kurang setuju) = diberi nilai 3 TS (tidak setuju) = diberi nilai 2 STS (sangat tidak setuju) = diberi nilai 1 H. Teknik Analisis Data
Analisis data berguna untuk memberikan jawaban dari tujuan penelitian dan sekaligus memecahkan masalah penelitian, sehingga diperoleh manfaat yang dapat dipakai untuk menguji kebenaran hipotesa penelitian. Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam
60Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Kombinasi (Mixed Methods) (Bandung: Alfabeta, 2012), hlm.87.
38
bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Penelitian ini menggunakan analisis data sebagai berikut :61
1. Uji asumsi klasik
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan analisis Regresi Linier Berganda, maka dilakukan pengujian asumsi klasik yang terdiri dari pengujian Normalitas, Multikolinieritas dan Heteroskedastisitas :
a. Uji normalitas
Uji normalitas ini bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi ini, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Adapun cara untuk menguji normalitas data yaitu dengan analisis grafik yaitu :62
1. Analisis grafik merupakan cara termudah untuk melihat normalitas data yaitu dengan melihat grafik histogram dan grafik plot. Dasar pengambilan keputusan yaitu sebagai berikut : a. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
b. Jika data tersebut menyebar menjauhi dari garis diagonal dan tidak mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram
61Effendi,Metode Penelitian Survai. Cetakan Kedelapan belas, (Jakarta: Pustaka LP3ES, 2006), hlm. 256.
62 Acmad Nurdany, “Analisis Pengaruh Rasio Keuangan Rentabilitas Terhadap Pendapatan Margin Murabahah Bank Syariah”, Vol. 5, Nomor 2 Januari 2012, hlm. 19.
tidak menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
b. Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. Untuk mendeteksi terjadinya multikoloniaritas atau tidak dapat dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF). Jika nilai tolerance lebih besar dari 0,01 dan VIF lebih kecil dari 10 maka tidak terjadi multikoloniaritas.
c. Uji Heterokedastisitas
Uji heterokedastisitas atau uji Glejser bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidak samaan variace dan residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heterokedastisitas.
Untuk menguji ada tidaknya heterokedastisitas pada suatu penelitian dapat dilakukan dengan melihat nilai Sig pada uji Glejser dan juga dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scaterplot antara SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi dan sumbu X adalah residual. Dan pada penelitian ini dilakukan dengan analisis grafik plot dan analisis statistik .
40
Analisis grafik plot merupakan cara termudah untuk melihat terjadi atau tidaknya masalah heterokedastisitas yaitu dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scaterplot antara SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi dan sumbu X adalah residual. Dasar pengambilan keputusan :
a. Jika ada pola tertentu, misalnya titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengidentifikasikan telah terjadi heterokedastisitas.
b. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heterokedastisitas.
2. Koefisien Determinasi
Koefesien determinasi (R2) merupakan pengujian yang digunakan untuk mengukur seberapa besar kemampuan variabel independen dalam menerangkan variabel dependen. Nilai koefesiensi determinasi adalah antara nol dan satu. Jika mendekti satu maka hubungan semakin erat namun jika mendekati nol maka hubungn semakin lemah.63
63 Duwi Priyanto, Cara Kilat Belajar Analisis Data dengan SPSS 20 (Yogyakarta: Andi Offset, 2012), hlm. 135.
Jadi dapat dikatakan jika Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen juga kecil atau dengan kata lain terbatas. Tapi jika nilai R2 tinggi atau mendekati satu pada suatu penelitian menunjukkan bahwa variabel-variabel bebas menerangkan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel terikat.
Dalam hal ini untuk mengetahui hasil analisis determinasi maka peneneliti menggnakan program SPSS sebagai alat hitung.
3. Analisis Regresi Linear Berganda
Analisis ini digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh dua atau lebih variabel bebas dengan cara bersama terhadap satu variabel terikat. Analisis regresi linier berganda adalah hubungan secara linear antara dua atau lebih variabel independen (X1, X2,X3,….Xn) dengan variabel dependen (Y).64
Analisis regresi linear berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh dengan menentukan nilai Y (sebagai variabel dependen) dan untuk menaksir nilai-nilai yang berhubungan dengan X (sebagai variabel independen), dengan menggunakan rumus statistik sebagai berikut:
Y = a + b1X1 + b2X2+b3X3
64Eko Ari Asmoko, “Pengaruh Brand Image, Brand Trust, Dan Brand Awareness Terhadap Keputusan Pembelian Shampo Clear”, (Skripsi, Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadyah Purworejo, 2017), hlm. 46.
42
Keterangan:
Dimana :
Y = Variabel Dependen (Volume Penjualan) a = Nilai Konstanta
b1 = koefisien regresi dari kualitas produk b2 = koefisien regresi dari harga
b3 = koefisien regresi dari distribusi X1 = kualitas produk
X2 = Harga X3 = Distribusi 4. Pengujian Hipotesis
Uji Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini ada dua, yaitu uji F (simultan) dan uji t (parsial). Uji F dimaksudkan untuk menguji hubungan dari semau variabel bebas yang diajukan terhadap variabel tidak bebas secara simultan (bersama-sama), sedangkan uji t dimaksudkan untuk menguji hubungan dari masing- masing variabel bebas terhadap variabel tidak bebas secara parsial.
Uji hipotesis dirumuskan untuk memutuskan apakah menerima atau menolak hipotesis berdasarkan hasil pengolahan data :
a. Uji F (Simultan)
Uji F dikenal dengan Uji serentak atau uji Model/Uji Anova yaitu uji untuk melihat bagaimana pengaruh
semua variabel bebasnya secara bersama- sama terhadap variabel terikatnya.
Uji F digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas secara bersama- sama (simultan) terhadap variabel terikat.
Signifikan, berarti hubungan yang terjadi dapat berlaku untuk populasi. Penggunaan tingkat signifikansinya beragam, tergantung keinginan peneliti, yaitu 0,01 (1%) ; 0,05 (5%) dan 0,10 (10%). Hasil uji F dilihat dalam tabel ANOVA dalam kolom sig65.
Tahapan uji F dalam menentukan hipotesis yaitu, seperti ;
i. Jika Ho, maka secara bersama- sama tidak ada pengaruh antara kualitas produk , harga dan distribusi terhadap volume penjualan.
ii. Jika Ha, maka secara bersama- sama ada pengaruh antara kualitas produk , harga dan distribusi terhadap volume penjualan.
b. Uji T (Parsial)
Uji parsial atau uji statistik T adalah untuk mengetahui satu variabel penjelas/independen dalam mempengaruhi variabel dependen.66
65 Syofian Siregar, Metode Penelitian Kuantitatif dilengkapi dengan Perbandingan Perhitungan Manual dan SPSS (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), hlm. 302.
66 Imam, ghozali, Aplikasi Analisis Multivariete, Edisi 8, (Semarang: Universitas Diponogoro, 2016), hlm. 97.
44
Dalam penelitian ini memiliki ti ga variabel bebas yakni kualitas produk, harga dan distribusi. Uji statistik T ini sebagai proses penghitungan untuk mengetahui pengaruh kualitas produk, harga dan distribusi satu kategorinya secara parsial terhadap volume penjualan sebagai variabel terikatnya.
Pengujian ini menggunakan tingkat signifikansi 5% dan kriteria dalam uji ini adalah jika nilai thitung > ttabel dan apabila nilai signifikansi atau p-value lebih kecil dari α, maka setiap variabel independen berpengaruh pada variabel dependen.
Tahap dalam uji t yaitu menentukan hipotesis, seperti;
1) Jika Ho, maka secara individual tidak ada pengaruh antara kualitas produk dengan volume penjualan.
2) Jika Ha, maka secara individual ada pengaruh antara kualitas produk dengan volume penjualan.
3) Jika Ho, maka secara individual tidak ada pengaruh antara harga dengan volume penjualan.
4) Jika Ha, maka secara individual ada pengaruh antara harga dengan volume penjualan.
5) Jika Ho, maka secara individual tidak ada pengaruh antara distribusi dengan volume penjualan.
6) Jika Ha, maka secara individual ada pengaruh antara distribusi dengan volume penjualan.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Sejarah
Gerabah atau tembikar merupakan peninggalan budaya tradisional yang tergolong sangat tua. Menurut para ahli, berdasarkan penelitian yang dilakukan diketahui bahwa benda-benda tembikar atau gerabah sudah mulai dikenal sejak masa bercocok tanam.67
Yardani Yumarta menyebutkan pertama kali dikenal pada masa neolitik (kira-kira 10.000 tahun SM) di daratan Eropa dan mungkin pula sekitar akhir masa paleolitik (kira-kira 25.000 tahun SM) di daerah Timur Dekat.
Kebudayaan, gerabah merupakan kebudayaan yang universal (menyeluruh), artinya gerabah ditemukan di mana-mana, hampir di seluruh bagian dunia.Perkembangannya bahkan juga penemuannya muncul secara individual di tiap daerah tanpa harus selalu mempengaruhi. Mungkin juga masing-masing bangsa menemukan sendiri sistem pembuatan gerabah tanpa adanya unsur peniruan dari bangsa lain. Berbegai benda yang dihasilkan oleh para pengrajin, seperti gentong, pasu, pot bunga, mangkok, cobek, kendi, dan
67 Rizki Caturini, “Sejarah dan Pengbangan Sentra Gerabah Plered” dalam https://lipsus.kontan.co.id/v2/gerabah/read/340/Sejarah-dan-Perkembangan-Sentra-Gerabah-Plered
45
46
sebagainya, serta seringnya diadakan pameran, menandakan benda ini cukup populer di mata masyarakat.
Pada masa ini masyarakat hidup secara nomaden, senantiasa berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya.Dalam corak hidup seperti itu wadah gerabah dapat digunakan secara efektif karena gerabah merupakan benda yang ringan dan mudah dibawa-bawa.
Selain itu gerabah juga merupakan benda yang kuat, paling tidak lebih kuat daripada yang dibuat dari bahan lain, seperti kayu, bambu atau kulit binatang.
Istilah gerabah ini biasanya untuk menunjukkan barang pecah belah yang terbuat dari tanah liat.Selain dengan sebutan di atas, ada pula sebagian orang menyebutnya dengan tembikar dan sebagian lagi keramik lokal, untuk membedakannya dari istilah keramik asing.
Gerabah dibuat dari satu atau dua jenis tanah liat yang dicampur. Warnanya tidak bening, berpori, dan bersifat menyerap air.
Campuran yang digunakan terdiri dari pasir kasar atau pasir halus, dan pembakarannya antara 1000-1150 derajad Celcius.Kadang-kadang lebih rendah dari itu.
Selain itu bahan pembuatan gerabah juga mudah didapatkan.Tanah liat terdapat di mana-mana.Karena itu adalah suatu hal yang wajar jika setiap masyarakat bisa menjadi produsen bagi kepentingannya sendiri. Akan tetapi mengenai proses „penemuan‟
gerabah itu sendiri, belum satu orang pun bisa menguraikannya secara ilmiah.
Pembuatan gerabah jelas membutuhkan api sebagai faktor yang utama, meskipun panas matahari barangkali dapat juga dipakai untuk fungsi yang sama. Karena itu dapat dipastikan bahwa munculnya gerabah merupakan efek lain dari penemuan dan domestikasi api.
Masyarakat yang belum mengenal api tentulah mustahil bisa memproduksi gerabah.
Melalui penemuan benda-benda bersejarah oleh para ahli diketahui bahwa pada masa itu manusia hidup dalam corak berburu dan mengumpulkan makanan. Usaha mengumpulkan makanan berarti membutuhkan alat untuk wadah makanan tersebut.
Dalam hal ini wadah yang paling tepat adalah gerabah karena gerabah mudah dibawa ke mana saja. Dan ini sesuai dengan corak hidup nomaden. Karena itulah gerabah memiliki arti yang penting bagi manusia, sehingga ia dapat diterima dalam setiap kebudayaan dan terus semakin berkembang selama belum ditemukan wadah lain yang memiliki tingkat efektifitas setinggi gerabah.
Penggunaan wadah gerabah oleh suatu kelompok manusia memiliki arti penting bahkan jauh lebih penting daripada yang bisa kita bayangkan.Dengan dikenalnya wadah yang kecil, mudah dibawa dan kuat, suatu kebudayaan maju selangkah lagi ke arah kebudayaan yang
48
lebih tinggi.Apa lagi dengan dikenalnya corak kebudayaan hidup menetap, fungsi gerabah semakin meluas. Kebutuhan gerabah yang beraneka ragam melahirkan tipe-tipe gerabah yang semakin banyak.Kalau sebelumnya digunakan wadah lain yang jauh lebih sulit diperoleh, kini mereka bisa membuat wadah gerabah yang lebih mudah didapat.
Gerabah sebagai salah satu benda hasil kebudayaan manusia merupakan unsur yang paling penting dalam usaha untuk menggambarkan aspek-aspek kehidupan manusia.Sampai kini gerabah yang berhasil ditemukan terutama berbentuk wadah, seperti periuk, cawan, pedupaan, kendi, tempayan, piring, dan cobek.
Gerabah sering kali ditemukan di anatara benda-benda lain pada situs arkeologi.Untuk keperluan studi arkeologi temuan ini sangat besar manfaatnya, karena gerabah merupakan alat penunjuk yang baik dari kebudayaan yang berbeda. Beberapa kereweng yang dapat dikenali tipenya bisa digunakan untuk menanggali benda-benda lain yang ditemukan di sekitarnya dan dapat pula digunakan untuk menentukan hubungannya dengan kebudayaan lain. Selain itu gerabah merupakan benda yang sulit hancur sama sekali, terlebih lagi kalau
tersimpan dalam tanah. Itulah sebabnya gerabah yang telah berusia puluhan ribu tahun pun masih bisa dikenali.68
Masyarakat Indonesia sudah sejak dulu mengenal kerajinan tanah liat sebagai bagian dari sejarah dan budaya setempat.Aktivitas membuat kerajinan tanah liat ini pun lantas menjadi industri dan digunakan secara massal.
Kerajinan gerabah khususnya yang tumbuh dan berkembang di Banyumulek Lombok Barat memiliki nilai spesifik, berbeda dengan gerabah di daerah lain baik bentuk, proses desain, dekorasi serta penyelesaian (finishing) sudah memanfaatkan teknik seni tradisional (modern).
Masyarakat pengrajin dalam kemampuannya berkarya dan berkreativitas secara berkesinambungan dengan menciptakan desain baru mengikuti sejera konsumen (pasar). Gustami (2002) dalam makalahnya yang berjudul “Seni Kriya Akar Seni Rupa Indonesia”
menyebutkan yang menarik perhatian cabang seni kerajinan (gerabah) dimasing-masing daerah memiliki gaya tersendiri yang dapat melengkapi pesona, daya pikat dan keunggulan komperatif bila dibandingkan dengan cabang seni lainnya.
68Mindra Faisal iskandar dan Djulinto Susantio “Gerabah, Sejarah dan Perannya” dalam https://hurahura.wordpress.com/2010/03/24/gerabah-sejarah-dan-peranannya/ 26 OKTOBER 2019 JAM 21.07
50
Faktor bahan, daya kreasi dan kebutuhan sangat menentukan tumbuh kembangnya gerabah Banyumulek. Di samping itu gerabah Banyumulek tetap menampakkan nilai ritual dan ekonomis yang dalam, diilhami oleh karya-karya gerabah penunjang kehidupan sehari-hari, upacara maupun kegiatan rumah tangga.
Melalui ketrampilan para pengrajin dalam mengembangkan dan menciptakan bentuk-bentuk baru seperti vas bunga, asbak, tempat lilin, guci air, gentong maupun bentuk lampu taman dengan memadukan unsur-unsur tradisional sebagai ciri khas daerah sangat menentukan pertumbuhan kerajinan gerabah di daerah ini.
Peranan disainer dalam usaha mengembangkan dan menciptakan ciri khas daerah sangat menentukan, perkembangan gerabah Banyumulek dengan sentuhan nilai modern.69
2. Pengujian Asumsi Klasik
a. Uji Normalitas
Uji normalitas yakni mengetahui apakah data yang disajikan untuk dianalisis lebih lanjut berdistribusi normal atau tidak untuk pengujian normalitas data.
Adapun hasil uji normalitas berdasarkan teknik grafik histogram pada penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut :
69Ketut Muka Pendet “Analisis bentuk dan fungsi gerabah banyumulek Lombok Barat”
dalam https://www.isi-dps.ac.id/berita/analisis-bentuk-dan-fungsi-gerabah-banyumulek-lombok- barat/
Gambar VI.2.
Hasil Uji Normalitas
Dalam penelitian berdasarkan gambar VI.2 di atas dapat kita lihat data observasi dan data distribusi yang mendekati normal.
Terlihat bahwa hasil output SPSS gambar Normal P-P Plot menunjukan pola distribusi yang mendekati normal dengan hipotesis, jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas sehingga bisa disimpulkan bahwa model regresi memenuhi asumsi normalitas
52
b. Uji Multikolinearitas
Uji Multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui besarnya interkolerasi antar variabel bebas dalam penelitian ini. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan terdapat masalah Multikolinearitas.
Apabila nilai toleransi di atas 0,01 dan nilai VIF di bawah 10 maka tidak terjadi Multikolinearitas.
Hasil uji Multikolinearitas untuk model regresi pada penelitian ini disajikan pada tabel di bawah ini :
Tabel VI.1
Hasil Uji Multikolinearitas
Coefficientsa Model
Unstandardized Coefficients
Standardize d
Coefficient s
T Sig.
Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Consta
nt)
3.856 3.806 1.013 .319
kualitas produk
.150 .108 .277 1.394 .173 .733 1.364
harga .115 .157 .140 .734 .468 .798 1.253
distribu si
.000 .114 -.001 -.004 .997 .808 1.238
a. Dependent Variable: volume penjualan
Dalam penelitian berdasarkan tabel VI.1 diatas menunjukan bahwa kualitas produk mempunyai nilai tolerance 0,733 dan nilai VIF 1.364, harga mempunyai nilai tolerance 0,798 dan nilai VIF 1.253
dan distribusi mempunyai nilai tolerance 0.808 dan VIF 1.238.
Sehingga terlihat masing-masing variabel mempunyai nilai tolerance di atas 0,01 dan VIF kurang dari 10, sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi pada penelitian ini tidak terjadi Multikolinearitas.
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji heterokedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidak samaan variace dan residual satu pengamatan ke pengamatan lain.
Untuk mendeteksi ada tidaknya heterokedastisitas pada suatu model maka dapat dilihat dari pola gambar scarttpolot. Suatu data dikatakan tidak terdapat heterokedastisitas jika;
1) Penyebaran titik-titik data tidak berpola ,
2) Tititk- titik data menyebar di atas dan di bawah angka nol pada sumbu Y,
3) Titik- titik data tidak mengumpul hanya di atas atau di bawah .