• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

E. Desain Penelitian

Rancangan atau desain penelitian ini adalah rencana dan struktur penelitian yang disusun sedemikian rupa sehingga kita dapat memperoleh

36Ibid; hlm. 38.

jawaban atas permasalahan-permasalahan penelitian. Desain dalam penelitian ini menggunakan factorial design, karena di dalam penelitian ini terdapat variable lain yang mempengaruhi perlakuan terhadap variable dependen.

Desain factorial merupakan desain yang dapat memberikan perlakuan dua variabel bebas atau lebih pada waktu bersamaan untuk melihat efek masing-masing variabel bebas secara bersamaan terhadap variabel terikat dan efek-efek yang terjadi akibat adanya interaksi beberapa variabel.37

Dalam penelitian ini terdapat dua kelompok yaitu model pembelajaran snowball throwing sebagai kelompok eksperimen I dan model pembelajaran talking stick sebagai kelompok eksperimen II. Setelah diberikan perlakuan, kedua kelompok akan diberikan tes akhir (post-test) untuk mengetahui perbandingan hasil belajar dari kedua perlakuan tersebut. Desain ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Tabel 3.2

Tabel desain penelitian factorial

Kelompok Kelas Eksperimen I Kelas Eksperimen II

Post Test X1 X2

F. Instrumen/Alat dan Bahan Penelitian

Pada perinsipnya, peneliti melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang baik. Alat ukur penelitian biasanya dinamakan instrument

37 Nana Sudjana dan Ibrohim, Penelitian Dan Penilaian Pendidikan, (Bandumg:

Percetakan Sinar Batu Algensido, 2012), hlm. 49.

penelitian. Instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya. Alat bantu yang digunakan peneliti dalam penelitian ini berupa tes.

Tes adalah alat atau prosedur yang dipergunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian.38 Adapun tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tertulis, yaitu menggunakan tes uraian dan cara pemberian skor menggunakan penskoran analitik. Penskoranan alitik ini digunakan untuk soal-soal yang batas jawabannya sudah jelas dan terbatas, misalnya ujian pada bidang studi matematika atau ilmu-ilmu alam.39 Tes tersebut diberikan setelah selesai pembelajaran baik dengan penerapan model snowball throwing maupun talking stick atau disebut dengan post-tes.

Sebelum instrumen Tes dan RPP diberikan maka perlu dilakukan validasi ke dosenmatematika dan guru matematika. Adapun dosen yang menvalidasi tes dan RPP adalah bapak SamsulIrpan, M.Pd dan Habib Ratu Perwira Negara, M.Pd. Alasan peneliti memilih dosen tersebut sebagai validator adalah, karena kedua dosen tersebut merupakan dosen matematika, akan tetapi Samsul Irpan merupakan salah satu dosen yang ahli dalam materi pembelajaran yang akan diterapkan oleh peneliti di sekolah dan alasan peneliti menvalidasi tes dan RPP sekaligusdisatu dosen adalah karena RPP

38 Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan(Jakarta: Rajawali Pers, 2009) hlm. 66.

39Djmari Mardapi, Tehnik Penyusunan Instrumen Tes dan Nontes, (Jogjakarta:

Mitra Cendika, 2008), hlm. 130.

dan kisi-kisi instrument tes berkaitan. Saran yang diberikan oleh dosen-dosen tersebut mengenai instrument tes adalah perbaiki kisi-kisi, harus berdasarkan KD dan indikator yang sesuai, butir soal no 1 tidak sesuai, butir soal no 2 dan 5 perbaiki bunyi soal, dan untuk butir pada soal no 3 diperjelas. Sedangkan saran yang diberikan pada RPP adalah RPP dilengkapi, disesuaikan berdasarkan langkah-langkah pembelajaran snowball throwing dan talking stick, perbaiki indikator pembelajaran, perjelas pada kegiatan inti dan lampirkan soal pada RPP Talking stick. Sedangkan guru matematika yang memvalidasi tes dan RPP adalah salah satu guru matematika di MTs NW Putri Narmada yaitu Ibu Sri Mardiana, S.Pd. Adapun lebar validasi dan hasil perbaikan RPP dapat dilihat pada lampiran 2.

Adapun kisi-kisi instrumen untuk model snowball throwing dan talking stick kelas VII MTs Putri NW Narmada Tahun 2018/2019dapat dilihat pada lampiran 3.

G. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam proses penelitian. Karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Untuk memperoleh data yang mencerminkan masalah yang diteliti dan dapat dipertangung jawabkan maka dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan sebagai berikut:

1. Tes hasil belajar

Tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan, iteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu.40 Untuk mengukur hasil belajar biasanya banyak orang menggunakan tes yang tujuan utamanya adalah untuk mengukur hasil belajar yang dicapai oleh siswa dan sekelompok siswa yang belajar dan juga dipergunakan untuk mengetahui seberapa jauh materi yang telah dipelajarinya dapat dikuasai. Dari pengalaman yang dialami tes juga dapat memberikan motivasi bagi siswa agar mereka lebih memperhatikan pelajaran yang sedang berlangsung.

Untuk mendapatkan data tentang hasil belajar studi matematika yang diterapkan model snowball throwing dan model talking stick dilakukan dengan menggunakan instrumen tes hasil belajar dalam bentuk esay sebanyak 5 soal. Adapun soal tes hasil belajar siswa terdapat pada lampiran 4. Hasil perhitungan skor diperoleh dengan rumus sebagai berikut:

ℎ ×

2. Dokumentasi

Dokumentasi ditunjukkan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian, meliputi buku-buku yang relevan dan foto-foto untuk memperoleh data siswa kelas VII MTs NW Putri Narmada.

40Ridwan, Metode Teknik Menyusun Tesis, (Bandung: Alfa Beta,2010), hlm.105

H. Teknik Analisis Data

Data tentang hasil belajar dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan dua macam teknik statistik, yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial. Adapun teknik statistik deskriptif dan statistik inferensial menggunakan perhitungan IBM SPSS Statistics Versi 16.0. Statistik inferensial digunakan untuk menguji hipotesis yang telah dibuat sebelumnya dengan menggunakan uji independen sampel t-test, namun sebelumnya dilakukan terlebih dahulu uji normalitas dan uji homogenitas sebagai uji prasyarat.

1. Uji Normalitas Data

Uji normalitas ini bertujuan untuk menguji apakah sampel dalam penelitian iniberasal dari populasi yang sama atau tidak. Perhitungan dalam uji normalitas ini menggunakan SPSS versi 16. Adapun langkah- langkahnya sebagai berikut:

a. Buka program SPSS, kemudian klik variabel viewpada kolom pertama name baris pertama dan kedua ketik “nilai” dan “kelompok”

b. pada kolom Decimal untuk stiap baris ubah setiap angka menjadi 0.

c. Dan untuk kolom values, klik tombol kotak kecil pada kolom baris kedua, maka akan muncul value label, pada value ketik 1 kemudian pada lebel ketik snowball throwing kemudian klik add. Kemudian pada value ketik 2 kemudian pada label ketik talking stick kemudian kelik add, kemudian klik Ok. Lebih jelasnyabisa dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 3.1 value labels uji Normalitas d. Untuk kolom-kolom lainnya boleh dihiraukan.

e. Kembali pada tab data view, isi dengan nilai masing-masing variabel.

f. Klik Analyzedescriftive statisticexsplor.

g. Klik variabel nilai masukan dan masukkan ke depedent list, kemudian klik kelompok dan masukkan ke kotak faktor list.Lebih jelasnyabisa dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 3.2 eksplore uji Normalitas

h. Pada kotak dialog kelik plots beri tanda centang pada Normality plots with test. Selanjutnya klik tombol Continue kemudian klik OK.

Kreteria pengujian: jika nilai sig> 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi Normal.

2. Uji Homogenitas Varian

Uji homogenitas bertujuan untuk melihat apakah data pada kedua kelompok memiliki variansi yang sama (homogen) atau tidak. Untuk uji homogenitas varians peneliti menggunakan uji SPSS versi 16. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

a. Buka program SPSS, kemudian klik variabel view pada kolom pertama name baris pertama dan kedua ketik “nilai” dan “kelompok”

b. pada kolom Decimal untuk stiap baris ubah setiap angka menjadi 0.

c. Dan untuk kolom values, klik tombol kotak kecil pada kolom baris kedua, maka akan muncul value label, pada value ketik 1 kemudian pada lebel ketik snowball throwing kemudian klik add. Kemudian pada value ketik 2kemudian pada label ketik talking stick kemudian kelik add, kemudian klik Ok. Lebih jelasnya bisa dilihat pada tabel berikut.

Gambar 3.3 value labeis Homogenitas d. Untuk kolom-kolom lainnya boleh dihiraukan.

e. Kembali pada tab data view, isi dengan nilai masing-masing variabel.

f. Klik Analyzecompare meansoneway anova.

g. Klik nilai masukan dan masukkan ke depedent list, kemudian klik kelompok dan masukkan ke kotak factor.

h. Pada kotak dialog kelik options beri tanda centang pada Homogeneity of variance test. Selanjutnya klik tombol Continue kemudian klik OK.

Kreteria pengujian: jika nilai sig> dari 0,05 maka data tersebut memiliki varian sama (homogen).41

3. Hipotesis data

Setelah dilakukan uji prasyarat maka langkah selanjutnya yaitu melakukan uji analisi data untuk mengetahui apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak. Untuk uji hipotesis menggunakan uji SPSS versi 16. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

a. Buka program SPSS, kemudian klik variabel view pada kolom pertama name baris pertama dan kedua ketik “nilai” dan “kelompok”

b. pada kolom Decimal untuk stiap baris ubah setiap angka menjadi 0.

c. Dan untuk kolom values, klik tombol kotak kecil pada kolom baris kedua, maka akan muncul value label, pada value ketik 1 kemudian pada lebel ketik snowball throwing kemudian klik add. Kemudian pada value ketik 2 kemudian pada label ketik talking stick kemudian kelik add, kemudian klik Ok. Lebih jelasnya bisa dilihat pada gambardibawah ini.

41Alfira, Statistika…, hlm. 136

Gambar. 3.4 value labels pada uji T-Test idependen d. Untuk kolom-kolom lainnya boleh dihiraukan.

e. Kembali pada tab data view, isi dengan nilai masing-masing variabel.

f. Klik Analyzecompare meansindefendent samples T-test.

g. Klik nilai masukan dan masukkan ke test variabel, kemudian klik kelompok dan masukkan ke grouping variabel. Lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 3.5 uji independen sampel T-Test

h. Selanjutnya klik tombol Define Groups kemudian masukkan kode 1 dan 2, Dan klik Continue. Kemudian pada kotak dialog utama klik OK.

Kereteria pengujian: jika thitung>ttabel maka H0 ditolak, dengan taraf sigifikansi0,05

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Deskripsi hasil penelitian ini adalah jawaban dari rumusan masalah yang telah ditetapkan sebelumnya yang dapat menguatkan hipotesis atau jawaban sementara. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di MTS NW Putri Narmada sebagai berikut:

1. Deskripsi Hasil Belajar Matematika Yang Menerapkan Model pembelajaran Snowball Throwing Dan Talking Stick Pada Kelas VII MTS NW Putri Narmada Tahun Pelajaran 2018/2019.

Penelitian ini dilakukan di MTs NW purti Narmada pada tanggal 8 sampae tanggal 29 Juni 2019 yang diikuti oleh siswa sebanyak 52 siswa.

Adapun yang menjadi sampel pada penelitian ini yaitu kelas VII A dan kelas VII C.

Proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran snowball throwing pada kelas VII C sangat menyenangkan, siswa sangat antusias dalam permainan bola salju, dalam pelaksanaannya siswa dituntut aktif dalam proses pembelajaran, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan maksimal. Adapun hasil tes dari evaluasi hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika dengan menerapkan model snowball throwing, diperoleh nilai maksimum 94, skor minimumnya adalah 68, dengan skor rata-rata 79,24, jumlah yang siswa yang tuntas

berlajar yaitu 18, siswa yang tidak tuntas 7 orang dan memiliki standar deviasi 7,926.

Sedangkan proses pembelajaran pada kelas VII A yang menerapkan model pembelajaran talking stick, siswa juga di tuntut aktif dalam proses pembelajaran, akan tetapisiswa kurang semangat dalam proses pembelajaran, terlihat beberapa siswa cenderung lebih banyak sibuk dengan aktivitasnya sendiri daripada memperhatikan materi yang sedang di diskusikan, sehingga proses pembelajaran kurang maksimal. Adapun hasil dari evaluasi hasil belajar matematika setelah diterapkan model pembelajaran talking stick diperoleh, nilai maksimum 95, dan nilai minimumnya adalah 60 dengan rata-rata 74,64, jumlah yang siswa yang tuntas berlajar yaitu 13, siswa yang tidak tuntas 14 orang dan memiliki standar deviasi 7,986.

Adapun hasil penelitian dapat dilihat pada tabel hasil belajar yang diterapkan model pembelajaran snowball throwing dan talking stick di bawah ini. Dan lebih jelasnya bisa dilihat pada lampiran 5.

Tabel 4.1

Hasil Belajar Siswa Kelas VII A Dan VII C Yang Menerapkan Model Snowbell ThrowingDan Talking Stick

Statistik

Nilai Kelas V11 C dan VII A Post-tes Kelas

Eksperimen I

Prost-tes Kelas Eksperimen II

Jumlah Sampel 25 27

Nilai Terendah 68 60

Nilai Tertinggi 94 94

Tuntas 18 13

Tidak Tuntas 7 14

Jumlah Nilai Keseluruhan 1991 2016

Nilai Rata-Rata 79,64 74,64

Standar Deviasi 7,926 7,986

2. Perbandingan Hasil Belajar Matematika Yang Menggunakan Model Pembelajaran Snowball Throwing Dan Talking Stick Pada Siswa Kelas VII MTs. NW Putri Narmada Tahun Pelajaran 2018/2019.

Pada bagian ini digunakan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar matematika yang menerapkan model snowball throwing dan talking stick.

Analisis yang digunakan adalah analisis statistik inferensial. Untuk melakukan analisis statistik inferensial dalam menguji hipotesis, maka diperlukan pengujian dasar atau uji prasyarat terlebih dahulu yang meliputi uji normalitas dan uji homogenitas.

a. Uji Normalitas Data

Pengujian normalitas dilakukan pada data hasil post-test kedua sampel yaitu pada kelas eksperimen I dan eksperimen II. Uji normalitas ini dianalisis dengan menggunakan SPSS versi 16 melalui uji Kolmogrov-smirnovdengan taraf signifikan 0,05.

membandingkan distribusi data (yang akan diuji normalitasnya) dengan distribusi normal baku. Distribusi normal baku adalah data yang telah ditransformasikan ke dalam bentuk z-score dan diasumsikan normal. Uji ini digunakan untuk uji beda antara data yang diuji normalitasnya dengan data normal baku. Penerapan pada uji Kolmogorov-Smirnov adalah bahwa jika Sig. di bawah 0,05 berarti data yang akan diuji mempunyai perbedaan yang signifikan dengan data normal baku, berarti data tersebut tidak normal. Jika nilai Sig. di atas 0,05 maka tidak terdapat perbedaan yang signifikan dengan data normal baku yang artinya data tersebut normal. Berikut hasil uji normalitas yang didapatkan:

Tabel 4.2

Hasil Uji NormalitasPost-tesKelas Eksperimen I Dan Kelas Eksperimen II

Nilai Kelopok Kolmogrov-smirnov Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic Df Sig.

Snowball Throwing

.133 25 .200 .951 25 .271 Talking

Stick

.150 27 .122 .976 27 .763

Setelah dilakukan pengolahan data pada SPSS maka diperoleh output nilai sign untuk post-test kelas eksperimen I pada kelas snowball throwing sebesar 0,200 berarti nilai sig. lebih besar dari nilai α (0,200 > 0,05), jadi dapat disimpulkan bahwa data post-test kelas eksperimen I berdistribusi normal. Sedangkan pada hasil post-test eksperimen II kelas talking stickdiperoleh sig. sebesar 0,122, berarti

nilai sig. lebih besar dari nilai α (0,122 > 0,05), jadi dapat disimpulkan bahwa data post-test kelas eksperimen II juga berdistribusi normal.

Karena hasil post-test kedua kelas berdistribusi normal maka pengujian parametrik dapat dilakukan. Selanjutnya akan dilakukan pengujian homogenitas data dari hasil post-test kedua kelas.

b. Uji Homogenitas

Sebelum mengadakan pengujian hipotesis, maka terlebih dahulu dilakukan uji homogenitas, karena hal ini merupakan salah satu syarat untuk melakukan pengujian dalam analisis inferensial. Uji homogenitas bertujuan untuk melihat apakah data pada kedua kelompok memiliki variansi yang sama (homogen) atau tidak. Dasar pengambilan keputusan untuk uji homogenitas adalah jika nilai signifikansi lebih dari 0,05 maka data pada kedua kelompok memiliki data yang homogen.

Tabel 4.3

Hasil Uji Homogenistas Post-tes Kelas Eksperimen I Dan Kelas Eksperimen II

Levane statistic df1 df2 Sig.

.072 1 50 .789

Berdasarkan output SPSS maka diperoleh nilai sig. sebesar 0,965, berarti nilai sig. lebih besar dari nilai α = 0,05 (0,789 > 0,05), dengan demikian diterima. Maka dapat disimpulkan bahwa data post-test dari kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II homogen. Hasil

pengolahan dengan SPSS versi 16 selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 6.

c. Uji Hipotesis

Pada bagian ini disajikan uraian tentang analisis data dalam menguji hipotesis yang telah diajukan. Adapun tehnik analisis data yang dilakukan menggunakan uji statistik melalui uji T-Tes independen. Adapun hasil output SPSS sebagai berikut:

Tabel 4.4 Group Statistic

Nilai Kelompok N Mean Std. deviation Std. error mean Snowball

Throwing

25 79,64 7.626 1.525

Talking Stick

27 74,67 7.986 1.537

Independent Samples T-tes

Levene's Test for Equality

of

Variances t-test for Equality of Means

F Sig. t Df

Sig. (2- tailed)

Mean Difference

Std. Error Difference

95% Confidence Interval of the

Difference Lower Upper NIL

AI

Equal variances

assumed

.072 .789 2.293 50 .026 4.973 2.169 .617 9.330 Equal

variances not assumed

2.297 49.947 .026 4.973 2.165 .624 9.322

Gambar 4.1 tabel independen sampel T-test

Berdasarkan gambar tabel diatas diketahui bahwa teknik pengujian yang digunakan adalah uji t-test sampel independen, untuk group

statistic pada kelompok snowball throwing dan talking stick di peroleh N atau banyak data 25 dan 27, untuk mean (rata-rata) yaitu 79,64 dan 74,67, untuk std. Deviasion 7,626 dan 7.986, dan std. Eror mean diperoleh 1.525 dan 1.537. Selanjutnya pada output independen sampel t-tes diperoleh F(perbedaan variannya) yaitu 0,072 berarti varians data tersebut sama, untuk sign (homogen) sebesar 0.789, thirung

sebesar 2.293, sig.(2-tiled) sebesar 0.026, mean diference (selisih dari rata-rata) sebesar 4.973, std eror diference (selisih standar difference) yaitu 2.169 dan ttabel diperoleh 1.675. Berdasarkan uraian dari hasil output SPSS di atas diketahui nilai thitung>ttabel maka terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar yang menerapkan model pembelajaran snowball throwing dan model pembelajaran talking stik. Berdasarkan perbedaan tersebut model pembelajaran snowball throwing lebih efektif dibandingkan dengan model pembelajaran talking stick. Oleh karena itu H0 ditolak dan H1 diterima.

B. PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan di MTs NW Putri Narmada tahun pelajaran 2018/2019. Penelitian ini menggunakan dua kelas yaitu kelas VII C sebagai kelas eksperimen I dan kelas VII A sebagai eksperimen II. Variabel yang diteliti adalah hasil belajar matematika yang menerapkan model pembelajaran snowball throwing dan hasil belajar matematika yang menerapkan model pembelajaran talking stick. Sebelum melaksanakan penelitian, penelti mengidentifikasi permasalahan yang ada, menentukan materi ajar, menyusun

rencana pembelajaran dan menyusun instrument tes hasil belajar. Adapun materi yang diajarkan peneliti pada saat penelitian adalah persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel.

Berdasarkan hasil analisis data menggunkan SPSS versi 16,0 setelah menerapkan model pembelajaran snowball throwing dan model pembelajaran talking stick menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan. Hal ini dapat dilihat berdasarkan output SPSS menunjukkankan bahwa nilai thitung>ttabel. Berdasarkan perbedaan tersebut diketahui nilai post-teskelompok eksperimen I yang menerapkan model pembelajaran snowball throwing, diperoleh nilai tertinggi sebesar 94 dan nilai terendah yaitu 68 dengan jumlah nilai rata-rata 79,64 sedangkan kelompok eksperimen II diperoleh nlai tertinggi sebesar 94 dan nilai terendah 60 dengan nilai rata-rata yaitu 74,64. Berdasarkan hal tersebut model pembelajaran Snowball Throwing lebih unggul dibandingkan dengan model pembelajaran Talking Stick, hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata hasil belajar matematika, dimana hasil belajar matematika yang yang menerapkan model pembelajaran snowball throwing lebih tinggi dibandingkan dengan model pembelajaran talking stick. Berdasarkan hal tersebut maka H0 ditolak.

Terjadinya perberbedaan hasil belajar matematika siswa pada kedua kelas dengan menggunakan metode pembelajaran sowball throwing dan talking stick disebabkan karena pada proses pelaksanaannya, siswa diberi perlakuan yang berbeda yaitu pada kelas eksperimen I siswa diberi intruksi oleh guru tentang pembelajaran dan membentuk kelompok kerja secara kolaboratif

kemudian diberi materi perkelompok dan guru memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi pembelajaran.

Kemudian siswa menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada teman kelompok, selanjutnya guru melakukan permainan bola salju, secara bergiliran siswa diberi kesempatan untuk bertanya dan siswa lainnya menjawab. Dan guru mengajak siswa untuk menyimpulkan materi yang dipelajari pada hari itu. Sedangkan pada kelas eksperimen II diberi informasi terlebih dahulu sebelum memasuki materi pembelajaran dan siswa diberi tugas untuk membaca dan mempelajari materi tersrbut, setelah itu guru memebentuk kelompok dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi, lalu memberikan permainan tongkat bertanya, hal itu dilakukan secara bergiliran sambil diiring musik, kemudian siswa yang memegang tongkat wajib menjawab pertanyaan dari guru, dan akhirnya guru membimbing siswa untuk menyimpulkan materi yang didapatkan pada hari itu.

Suasana penerapan model pembelajaran Snowball Throwing pada kelas eksperimen I sangat menyenangkan, walaupun pada awalnya banyak memakan waktu pada sintak kerja kooperatif, banyak waktu terbuang karena siswa masih belum terbiasa dengan model pembelajaran tersebut, walapun sebelumnya guru sudah memberikan arahan. Namun dengan berjalannya waktu proses pembelajaran dapat terlaksana seperti yang diharapkan.

Ketika proses pembelajaran snowball throwing berlangsung siswa masih malu untuk menjelaskan materi dengan teman kelompoknya masing- masing, karena mereka belom terbiasa melakukan hal tersebut, namun karena

ketua kelompok diberikan tanggung jawab penuh terhadap keberhasilan kelompoknya oleh karena itu ketua kelompok harus mampu menjelaskan kembali apa yang sudah dijelaskan oleh guru guru kepadanya. Hal tersebut Sejalan dengan pernyataan yang dikemukakan oleh (Salvin dalam Abimanyu Mifzal 2012) mengemukakan bahwa keberhasilan balajar dari kelompok tergantung pada kemampuan dan aktivitas anggota kelompok, baik secara individual maupun kelompok.42 Serta adanya permainan bola salju yang dilakukan selama lima menit menambah antusias siswa untuk belajar sehingga proses belajar mengajar menjadi menyenangkan.

Sedangkan pada pelaksanaan model pembelajaran talking stick pada kelompok eksperimen II juga memiliki hambatan. Siswa membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan model pembelajaran yang baru diterapkan didalam kelas,siswa juga kurang semangat dalam belajar walaupun sebelumnya guru menyuruh siswa untuk belajar di luar jam pelajaran. Hal tersebut dikarenakan siswa belum siap dengan materi yang akan dipelajari dan tidak terlalu paham dengan materi tersebut walaupun berdiskusi dengan temannya. Hal ini mengakibatkan beberapa siswa tidak terlalu aktif dalam proses pembelajaran.

Sehingga penyerapan materi pembelajaranpun akhirnya kurang maksimal, akan tetapi siswa sangat antusias dan semangat dengan adanya permainan tongkat estafet dengan lagu pengiring.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa pada saat penelitan dilakukan, kedua kelas sama-sama aktif dalam proses pembelajaran

42Abimanyu Mifzal, Strategi,…hlm.34

Dokumen terkait