Dr. Rahmawati, S.KM., M.Kes Universitas Mandala Waluya
Latar Belakang Masalah
Masalah kesehatan masyarakat dapat diselesaikan bukan hanya pada satu bidang saja akan tetapi membutuhkan pendekatan berbagai disiplin ilmu. Epidemiologi memiliki keterkaitan dengan berbagai bidang lain. Oleh karena itu, metode epidemiologi merupakan salah satu metode untuk memecahkan masalah kesehatan masyarakat. Hal ini sesuai dengan pendapat Fox bahwa epidemiologi adalah kumpulan dari berbagai metoda khusus sebab-musabab penyakit dan arahnya tergantung pada keperluannya.
Dapat meminjam pengetahuan dan Keterampulan dari berbagai ilmu pengetahuan. Jadi Epidemiologi, boleh dibilang lebih sebagai suatu metoda dari pada suatu ilmu yang mandiri (Susila, 2014).
Menurut metode/teknik, analisis data penelitian epidemiologi terdiri dari penelitian deskriptif dan penelitian analitik. Studi analitik riset epidemiologi yang bertujuan untuk memperoleh penjelasan tentang faktor risiko dan penyebab penyakit. Salah satu Studi analitik yakni studi observasional.
Pada Studi Observasional peneliti hanya mengamati perjalanan alamiah peristiwa, membuat catatan siapa yang terpapar dan tidak terpapar faktor penelitian dan siapa mengalami dan tidak mengalami penyakit yang diteliti.
Dalam Epidemiologi dikenal tiga jenis studi observasional yaitu:
1. Cross Sectional Study 2. Case Control
3. Cohort.
Pada bab 9 akan membahas salah satu jenis studi obesrvasional yakni Case Control Studi.
Kajian Case Control Study 1. Definisi
Desain penelitian case control study merupakan suatu penelitian yang mempelajari faktor risiko dengan menggunakan pendekatan retrospektif, artinya penelitian dimulai dengan mengidentifikasi kelompok yang terkena penyakit atau efek tertentu (kasus) dan kelompok tanpa efek (kontrol). Ciri-ciri studi kasus kontrol adalah pemeilihan subyek berdasarkan status penyakit, untuk kemudian dilakukan pengamatan apakah subyek mempunyai riwayat terpapar faktor penelitian atau tidak. Subyek yang di diagnosa menderita penyakit disebut kasus.
Dan subyek yang tidak menderita penyakit disebut kontrol. Berbeda dengan rancangan cross sectional.
case control sebaiknya menggunakan data insidens bukan prevalens (Kleinbaum, 1982).
Berikut desain case control studi:
Gambar 9.1 Skema Desai Studi Case Control
2. Kriteria kasus dan kontrol a. Kasus
1) Kriteria diagnosis (Definisi Operasional):
harus di buat dengan jelas agar tidak menimbulkan bias informasi
2) Populasi sumber kasus dapat berasal dari rs dan masyarakat
b. Kontrol
1) Karakter populasi sumber kasus 2) Keserupaan antara kasus dan control
Ada beberapa cara untuk memilih control yang baik
1) Memilih kasus dan control dari populasi yang sama. Misalnya kasus adalah semua pasien dalam populasi tertentu sedangkan kontrol diambil secara acak dari populasi sisanya Dapat juga kasus dan kontrol diperoleh dari populasi yang telah ditentukan sebelumnya yang biasanya lebih kecil (misalnya dari studi kohort).
2) Matching. Cara kedua untuk mendapatkan kontrol yang baik adalah dengan cara melakukan matching yaitu memilih kontrol dengan karakteristik yang sama dengan kasus dalam semua variabel yang mungkin berperan sebagai faktor risiko kecuali variabel yang diteliti. Bila Matching dilakukan dengan baik, maka pelbagai variabel yang mungkin berperan terhadap kejadian penyakit (Kecuali yang sedang diteliti) dapat disamakan, sehingga dapat diperoleh asosiasi yang lebih kuat antara variabel yang sedang diteliti dengan penyakit.
3) Memilih lebih dari satu kelompok kontrol.
Karena sukar mencari kelompok kontrol yang benar benar sebanding maka dapat dipilih lebih dari satu kelompok kontrol. Misalnya
bila kelompok kasus diambil di rumah sakit, maka satu kontrol diambil dari pasien lain di rumah sakit yang sama dan kelompok kontrol lainnya berasal dari daerah tempat tinggal kasus. Apabila ratio odds yang didapatkan dengan menggunakan 2 kelompok kontrol tersebut tidak banyak berbeda, maka hal tersebut akan memperkuat asosiasi yang ditemukan. Apabila ratio odds antara kasus dengan masing-masing kontrol sangat berbeda, berarti salah satu atau kedua hasil tersebut tidak sahih (terdapat bias) dan perlu diteliti dimana letak biasnya.
3. Langkah-Langkah dalam penelitian case control a. Membuat rumusan masalah
b. Membuat tujuan penelitian c. Membuat hipotesa penelitian
d. Menetapkan variabel independent dan variabel dependen
e. Melaksanakan penelitian
f. Melakukan analisis hubungan (Sastroasmoro, 2008)
4. Analisis pada penelitian case control study
Analisis hasil penelitian pada desain cse control yaitu menentukan odds ratio (Sastroasmoro, 2008)
Odds ratio dapat dihitung dengan menggunakan tabel 2x2
Faktor Risiko (Var.
Independen)
Faktor Efek (Variabel Dependen)
Jumlah Positif Negatif
Positif A B A+B
Negatif C D C+D
Jumlah A+C B+D A+B+C+D
OR=A/(A+B):C/(C+D) = A/B = AD B/(A+B): D/(C+D) = C/D = BC
Contoh Soal ;
Jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu 136 orang, dengan kasus 68 orang dan kontrol 68 orang atau dengan perbandingan 1: 1. Data dikumpulkan berdasarkan variabel yang diteliti yaitu pola makan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan aktifitas fisik. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji statistik Odds Ratio (OR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola makan dan kebiasaan merokok memiliki hubungan yang bermakna sebagai faktor risiko kejadian penyakit stroke dengan nilai masing -masing; pola makan OR = 2,046 (CI 95%, 1,031- 4,057), Kebiasaan merokok OR = 2,275 (CI 95%, 1,086 - 4,767), sedangkan konsumsi alkohol dan aktifitas fisik memiliki hubungan yang tidak bermakna sebagai faktor risiko kejadian penyakit stroke dengan nilai masing-masing konsumsi alkohol OR = 1,219 (CI 95%, 0,354 - 4,203), aktifitas fisik OR
= 0,554 (CI 95%, 0,270 - 1,134).
5. Kelebihan dan kekurangan Case Control Kelebihan
a. Dapat digunakan untuk meneliti kasus yang jarang
b. Penelitian dapat dilakukan dengan cepat c. Tidak memerlukan biaya yang besar
d. Tidak memerlukan responden yang banyak Kekurangan
a. Sering terjadi recall bias
b. Ketepatan mengenai informasi sulit diperoleh (Sastroasmoro, 2008)
6. Matching dalam Case Control
Matching (pencocokan) adalah proses pemiliham kontrol sehingga mirip dengan kasus dalam karakterisitik tertentu seperti usia, ras, jenis kelamin, status sosial ekonomi dan pekerjaan. Dalam Desain
Case Control terdapat Pengamatan Pada Studi Kasus Kontrol (Tanpa Maching) dan Pengamatan Pada Studi Kasus Kontrol (Dengan Maching). Berikut Penjelasan terkait pengamatan studi kasus kontrol Tanpa matching dan dengan matching.
a. Pengamatan Pada Studi Kasus Kontrol (Tanpa Maching)
Studi kasus kontrol dimulai dengan menentukan kasus (kelompok subjekSdengan efek) dan kelompok kontrol (kelompok subjek tanpa efek).
Setelah data diperoleh secara retrospektif maka data tersebut dapat disajikan dalam tabel 2x2 yang terdiri dari dua kategori yaitu untuk faktor risiko terdiri dari faktor risiko (+) dan faktor risiko (-), sedangkan untuk kelompok efek terdiri dari kasus dan kontrol. Berikut penyajian data pada studi kasus kontrol.
Pengamatan Pada Studi Kasus Kontrol (Tanpa Maching)
Faktor Risiko
Faktor Efek Jumlah
Positif Negatif
Positif a b a+b
Negatif c d c+d
Jumlah a+c b+d a+b+c+d
Menunjukkan hasil pengamatan pada studi kasus kontrol (tanpa maching), yaitu:
1) Pada sel a: kasus yang mengalami pajanan 2) Pada sel b: kontrol yang mengalami pajanan 3) Pada sel c: kasus yang tidak mengalami
pajanan
4) Pada sel d: kontrol yang tidak mengalami pajanan (Sastroasmoro, 2008).
b. Pengamatan Pada Studi Kasus Kontrol (Maching) Studi kasus kontrol dengan matching berbeda pada studi kasus kontrol tanpa matching. Apabila dalam studi kasus kontrol pemilihan kontrol dilakukan secara maching maka analisis dari studi ini perlu disesuaikan. Pada studi kasus
kontrol dengan matching, kelompok kontrol biasanya diambil secara mached pada kelompok kasus dengan memperhatikan beberapa variabel penting seperti umur dan jenis kelamin (Sastroasmoro dan Ismael, 2011);(Bhisma Murti, 1997). Misalkan seorang peneliti ingin melakukan penelitian di RS X dengan judul penelitian:
pengaruh merokok terhadap kejadian penyakit jantung pada kelompok usia < 45 tahun, dengan sampel penelitian sebanyak 50 orang.
Pada contoh kasus ini variabel merokok (independen) terdiri dari dua kategori yaitu merokok dan tidak merokok. Sedangkan variabel kejadian penyakit jantung koroner pada kelompok usia < 45 tahun (dependen) terdiri dari dua kategori yaitu menderita penyakit jantung koroner (kasus) dan tidak menderita penyakit jantung koroner (kontrol). Dalam melakukan pengumpulan data berdasarkan judul tersebut maka harus memperhatikan beberapa variabel lain seperti umur dan jenis kelamin untuk dilakukan proses mached terhadap subjek yang diamati antara kelompok kasus dan kontrol.
Tiap individu dalam kelompok kasus tersebut diberikan pasangannya (matched) terhadap kelompok kontrol sesuai jumlah sampel penelitian, sehingga dapat diperoleh 50 pasangan kasus dan kontrol. Setelah data diperoleh secara retrospektif maka data tersebut dapat disajikan dalam tabel 2x2 antara kelompok kasus dengan kelompok kontrol. Dengan demikian penyajian data pada studi kasus kontrol dengan maching sebagai berikut:
Kontrol Jumlah
E+ E-
Kasus E+ a b a+b
E- c d c+d
Jumlah a+c b+d a+b+c+d
Keterangan: E+ : kelompok terpapar
E- : kelompok tidak terpapar
1) Pada sel a: kasus dan kontrol terpapar 2) Pada sel b: kasus terpapar dan kontrol tidak
terpapar
3) Pada sel c: kasus tidak terpapar, kontrol terpapar
4) Pada sel d: kasus dan kontrol tidak terpapar 7. Bias
Bias adalah kesalahan yang terjadi secara sistematik dalam desain, pelaksanaan dan analisis. Bias terjadi karena
a. Bias karena seleksi
b. Bias karena perbedaan prakiraan paparan c. Bias Pelaksanaan pengumpulan data d. Bias mengingat Kembali (recall bias).
Daftar Pustaka
Kleinbaum, D. G. (1982). Epidemiologi Research. Division of Gage Publishing.
Sastroasmoro, S. (2008). Dasar Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Sagung seto.
Susila, S. (2014). Metode Penelitian Epidemioplogi. Bursa Ilmu.
Profil Penulis Dr. Rahmawati, S.KM., M.Kes
Penulis lahir di Bone, 23 Februari 1985, ketertarikan penulis terhadap dunia Kesehatan di mulai pada tahun 2003. Penulis melanjutkan S1 dalam bidang ilmu Kesehatan masyarakat, peminatan Epidemiologi di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muslim Indonesia. Penulis kemudian melanjutkan S2 pada tahun 2008, Peminatan Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin dan pada tahun 2018 melanjutkan Program Doktoral bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin dan menyelesaikan program Doktoral Tahun 2021. Penulis merupakan dosen Profesional sejak tahun 2011 pada Program Studi Kesehatan masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Masyarakat Kendari yang sekarang bertransformasi menjadi Universitas Mandala Waluya.
Email Penulis: [email protected]