7
KONSEP DASAR
tidak dengan eksposur-eksposur tertentu. Apakah suatu perlakuan tertentu ada hubungan dengan perubahan fenomena kesehatan. Oleh karena itu, untuk mempelajari epidemiologi analitik dibutuhkan pengetahuan- pengetahuan penunjang, antara lain adalah metodologi riset dan statistic (Riyadi AL & Wijayanti, 2012)
Epidmeiologi analitik bertujuan meneliti hubungan variable-variabel (misalnya hubungan antara paparan dan penyakit), pengaruh satu variable terhadap variable lainnya (misalnya pengaruh intervensi/terapi terhadap kelangsungan hidup pasien). Epidemiologi analitik menguji hipotesis dan mengestimasi (estimate) tentang kekuatan hubungan antara paparan dan penyakit atau efektivitas intervensi pencegahan dan pengendalian penyakit pada populasi.
Epidemiologi analitik berguna untuk sejumlah hal yaitu menentukan factor risiko, factor pencegah (factor protektif) ataupun kausa penyakit, menentukan factor prognostic yaitu factor yang mempengaruhi prognosis kasus, memprediksi terjadinya penyakit pada populasi dan memberikan bukti untuk pembuatan kebijakan dan perencanaan intervensi kesehatan yang efektif untuk pencegahan dan pengendalian penyakit (Murti, 2018).
Ada dua cara pendekatan epidemiologi analitik yaitu dengan studi prospektif dan studi retrospektif. Studi prospektif adalah suatu studi yang dimulai saat ini menuju ke waktu yang akan datang (dari sebab ke akibat), dengan mempelajari hubungan antara agent penyakit, frekuensi dan determinan-determinannya yang terlibat didalamnya melalui pendekatan kelompok. Sedangkan studi retrospektif adalah pendekatan melalui kelompok yang mempelajari hubungan antara agent penyakit, frekuensi dan determinan-determinannya pada masa lalu yaitu dari akibat ke sebab (Haryono W, Wibianto, & Noer Hidayat , 2021). Penelitian epidemiologi dibedakan menjadi dua studi epidemiologi yaitu penelitian epidemiologi analitik observasional dan analitik intervensi (eksperimen).
Tabel 7.1 Desain Penelitian Epidemiologi Desain
Penelitian
Informasi yang dikumpulkan
Penggunaan informasi Analitik dan
deskriptif
Beban penyakit (prevalensi/insidensi) Distribusi penyakit Identifikasi grup risiko tinggi Factor risiko penyakit
Kebijakan dan advokasi pengaturan prioritas
Pengaturan target Evaluasi
Penilaian dampak Studi
intervensi Efektivitas tindakan pencegahan
Efektivitas tindakan tatalaksana
Promosi kesehatan Tindakan
pencegahan Intervensi terapi Meta analisis/
kajian sistematik
Ringkasan efektivitas tindakan pencegahan Ringkasan efektivitas tindakan tatalaksana Sumber: (Wibawa & Halim, 2022)
Dua asumsi melatari epidemiologi analitik yaitu pertama, penyakit pada populasi tidak terjadi begitu saja secara kebetulan (random) melainkan ditentukan secara sistematis oleh factor risiko, factor kausal, factor pencegah ataupun factor protektif (Gordis, 2000). Kedua, factor risiko atau kausa tersebut dapat diubah sehingga dapat dilakukan upaya pencegahan penyakit (Kleinbaum, Kupper, & Morgenstern, 1982). Kalau saja factor risiko atau kausa tidak dapat diubah, maka tidak dapat dilakukan upaya intervensi kesehatan untuk mencegah, mengontrol penyakit untuk meningkatkan kesehatan populasi (Murti, 2018).
Gambar 7.1 Desain Studi Epidemiologi (Sumber: (Murti, 2018))
Gambar diatas menyajikan desain studi epidemiologi. Jika peneliti ingin melakukan studi analitik, maka dalam rancangan penelitiannya harus terdapat kelompok pembanding. Kesimpulan tentang perbedaan/
hubungan/pengaruh paparan terhadap terjadinya penyakit tidak bias ditarik tanpa menggunakan kelompok atau subjek-subjek pembanding. Sebagai contoh, jika peneliti ingin meneliti hubungan antara kebiasaan merokok dan risiko untuk mengalami kanker paru, maka kesimpulan tidak bias ditarik jika peneliti hanya meneliti sampel perokok saja. Kejadian kanker paru harus dibandingkan antara kelompok perokok dan bukan perokok. Kalaupun hanya meneliti kelompok perokok saja, maka peneliti harus membedakan kelompok perokok ringan, sedang dan berat yang satu kelompok dengan kelompok lainnya merupakan pembanding, lalu membandingkan kejadian kanker paru antara ketiga
kelompok tersebut. Jadi kelompok atau subjek kontrol (pembanding) mutlak harus ada dalam studi analitik (Murti, 2018).
Jenis Desain Epidemiologi Analitik Penelitian Epidemiologi Observasi
Pada penelitian observasional ini peneliti mencari hubungan antara satu variable; dengan variable lainnya untuk menjelaskan kejadian suatu penyakit. Dalam penelitian ini peneliti hanya mampu mengukur fenomena alamiah penyakit tanpa melakukan intervensi. Penelitian observasional terbagi atas:
1. Cross Sectional
Menurut (Nugrahaeni & Dyan, 2011) studi potong lintang (cross sectional) untuk penelitian analitik adalah studi yang mempelajari hubungan factor risiko (paparan) dan efek (penyakit/masalah kesehatan) dengan cara mengamati factor risiko dan efek secara serentak pada banyak individu dari suatu populasi pada suatu saat.
(Bustan, 2006) menjelaskan kelebihan dan kekurangan pada studi potong lintang (cross sectional), yaitu:
Kelebihan studi potong lintang lintang
a. Cepat, dapat dilakukan dengan hanya sekali pengamatan atau interview
b. Murah
c. Berguna untuk informasi bagi perencanaan d. Untuk mengamati kemungkinan hubungan
berbagai variable yang ada.
Kelemahan studi potong lintang
a. Umunya hanya menemukan kasus yang selamat.
Tidak dapat menemukan mereka yang mati karena penyakit yang diteliti
b. Sulit dilakukan terhadap penyakit atau masalah yang jarang dalam masyarakat
c. Sulit dipakai untuk penyakit yang akut, pendek masa inkubasi dan masa akhirnya
2. Studi Kasus Kontrol (Case control)
Studi kasus control merupakan studi penelitian yang dimana penelitian akan melakukan observasi atau pengukuran terhadap variable bebas dan tergantung tidak dalam satu waktu. Penelitian ini merupakan penelitian observasional karena peneliti tidak memberi perlakuan kepada subjek penelitian (Ningtyas, Dwi Wahyu, & Wibowo, 2015)
Kelebihan studi kasus control yaitu:
a. Relative lebih murah dan cepat memperoleh hasil dan cepat dalam melakukan survey
b. Baik dilaksanakan untuk penyakit yang jarang atau langka atau masa latennya panjang
c. Dapat melihat hubungan beberapa penyebab terhadap satu akibat
Kelemahan studi kasus control yaitu:
a. Sulit menentukan kelompok control yang tepat b. Tidak dapat menentukan relative risk secara
langsung
c. Karena waktu proses sudah berlalu maka sulit untuk mendapatkan informasi yang akurat
3. Studi Kohort
Penelitian kohort adalah rancangan penelitian epidemiologi yang mempelajari hubungan antara pajanan dan penyakit dengan cara membandingkan kelompok terpajan dan kelompok tak terpajan berdasarkan status penyakit (Notoadmojo, 2011).
Studi kohort disebut juga case referent study, case history study, atau retrospective study (Kleinbaum, Kupper, & Morgenstern, 1982). Studi kasus kontrol dimulai dengan memilih kasus (berpenyakit) dan
kontrol (tidak berpenyakit). Kasus dan kontrol biasanya dipilih dari populasi sumber yang sama, sehingga kedua kelompok memiliki karakteristik yang sebanding kecuali status penyakit. Peneliti kemudian mengukur paparan yang dialami subjek pada waktu yang lalu (retrospektif) dengan cara wawancara, mengkaji catatan medic atau catatan karyawan, memeriksa hasil-hasil pemeriksaan laboratorium kimia dan biologi, misalnya darah, urine atau jaringan. Jika paparan dikotomi, yakni paparan diukur dalam dua kategori-terpapar atau tidak terpapar, maka data yang diperoleh dapat dipecah menjadi empat kelompok ( (Murti, 2018).
Pada umumnya rancangan kohort merupakan penelitian epidemiologi longitudinal prospektif.
Kelebihan studi kohort yaitu:
a. Mendapatlan incident risk relative risk secara langsung
b. Dapat melihat hubungan satu penyebab terhadap beberapa akibat
c. Dapat mengikuti secara langsung kelompok yang dipelajari
Kelemahan studi kohort yaitu:
a. Membutuhkan biaya yang mahal
b. Lama dalam persiapan dan hasil yang diperoleh c. Hanya bias mengamati satu factor penyebab d. Kurang praktis untuk penyakit yang langka e. Mempunyai risiko drop out
Penelitian Epidemiologi Eksperimental
Pada penelitian eksperimental ini peneliti mempelajari pengaruh manipulasi dari intervensi suatu factor risiko terhadap timbulnya penyakit. Pada penelitian ini model perlakuan hanya pada variable aktif, contohnya latihan fisik, cara pemberian obat, teknik operasi dan lain sebagainya. Untuk variable pasif tidak dapat diberikan
perlakuan tapi dapat dipelajari efeknya (Universita Andalas, 2020). Eksperiment merupakan desain riset dimana peneliti melakukan manipulasi sebuah atau lebih factor (variable) dan melakukan pengujian dalam kondisi yang terkendali, untuk menentukan efek dari manipulasi factor itu terhadap sebuah variable dependen. Pada eksperimen, peneliti dengan sengaja mengubah sebuah atau lebih factor pada siatuasi yang terkontrol dengan tujuan untuk mempelajari pengaruh dari pengubahan factor itu terhadap variable dependen.
Dalam cara pandang yang sesungguhnya, definisi epidemiologi tidak mencakup penelitian eksperimental.
Epidemiologi mengkaji pengaruh epidemic, kejadian luar biasa (KLB) dalam populasi dan kelompok. Penelitian eksperimental digunakan dalam penelitian empiris dasar pada populasi yang kecil. Di bidang perawatan kesehatan/medis, desain eksperimental digunakan dalam pengujian obat-obatan, vaksin, prosedur perlakuan dan teknik perlakuan pasien, yang semuanya dilaksanakan dalam skala kecil, sering kali terdapat hewan percobaan atau kelompok studi percobaan yang kecil. Umumnya tidak etis apabila eksperimen seperti itu dilakukan pada populasi besar karena risiko dan hasilnya kemungkinan tidak baik. Dengan demikian, sekelompok kecil sukarelawan, terkadang terdiri atas penderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan, digunakan sebagai sampel dan mereka diberitahu mengenai bahaya dan risiko yang akan dihadapi. Terkadang digunakan orang yang beban kehidupannya sedikit (Timmreck, 2005).
Rancangan studi eksperimen atau intervensi adalah jenis penelitian yang dikembangkan untuk mempelajari fenomena dalam kerangka korelasi sebab akibat. Studi eksperimen ini digunakan ketika peneliti atau orang lain dengan sengaja memperlakukan berbagai tingkat variable independent terhadap variable dependent.
Studi eksperimen terdiri dari 2 macam yaitu:
1. Eksperimen Murni
Eksperimen murni/eksperiment random adalah suatu bentuk rancangan yang memperlakukan dan
memanipulasi subjek penelitian dengan control secara ketat. Eksperiment murni kadang disebut true eksperiment. Eksperiment random dipandang sebagai gold standar riset epidemiologi untuk menilai efek intervensi. Kemampuannya mengendalikan secara maksimal situasi penelitian (terutama factor-faktor perancu) mampu memberikan bukti-bukti empiris kuat bagi inferensi kausal (Murti, 2018).
Ciri-ciri eksperimen murni yaitu:
a. Ada perlakuan yaitu memperlakukan variable yang ditelitinya
b. Ada randominasi yaitu penunjukan subjek penelitian secara untuk mendapatkan salah satu dari berbagai tingkat factor penelitian
c. Semua variable terkontrol, eksperimen murni mampu mengontrol hamper semua pengaruh factor penelitian terhadap variable hasil yang diteliti.
2. Quasi Eksperimen
Quasi eksperimen adalah yang dalam mengontrol situasi penelitian tidak terlalu ketat atau menggunakan rancangan tertentu atau menunjuk subjek penelitian dengan tidak acak untuk mendapatkan salah satu dari berbagai tingkat factor penelitian. Tujuan dari studi ini yaitu untuk mengetahui efektivitas dari suatu program intervensi untuk dibandingkan outcome dari intervensi dari dua kelompok (Universita Andalas, 2020).
Eksperimen kuasi dilakukan sebagai alternative eksperimen randomisasi, tatkala pengalokasian factor penelitian kepada subjek penelitian tidak mungkin, tidak etis, atau tidak praktis dilaksanakan dengan randomisasi. Banyak situasi yang membuat randomisasi menjadi tidak mungkin, tidak etis atau tidak praktis untuk diterapkan, misalnya ketika ukuran sampel terlalu kecil. Sebagai contoh, populasi studi terdiri dari empat komunitas lainnya, dimana dua komunitas akan mendapat intervensi dan dua
komunitas lainnya tidak mendapatkan intervensi kesehatan. Maka dalam contoh ini yang dimaksud dengan besar sampel adalah empat komunitas tersebut, bukan jumlah keseluruhan subjek masing- masing komunitas (Rothman, 2002).
Ciri-ciri quasi eksperiment yaitu:
a. Tidak ada randominasi yaitu penunjukkan subjek penelitian secara tidak acak untuk mendapatkan salah satu dari berbagai tingkat factor penelitian.
b. Tidak semua variable terkontrol karena terkait dengan pengalokasian factor penelitian kepada subjek penelitian tidak mungkin, tidak etis, atau tidak praktis menggunakan randominasi sehingga sulit mengontrol variable secara ketat.
Daftar Pustaka
Bustan, M. (2006). Pengantar Epidemiologi, Edisi Revisi, Cetakan II. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Gordis, L. (2000). Epidemiology. Philadelphia: PA: WB Saunders Company.
Haryono W, Wibianto, A., & Noer Hidayat , T. (2021).
Epidemiologi dan Karakteristik Pasien Luka Bakar di RSUD Cibabat dalam Periode 5 Tahun (2015 - 2020):
Studi Retrospektif. Cermin Dunia Kedokteran, 208-210.
Kleinbaum, D., Kupper, L., & Morgenstern, H. (1982).
Epidemiologic Research: Principles and quantitative methods . New York: Van Nostrand Reinhold.
Murti, B. (2018). Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi.
Karanganyar: Universitas Sebelas Maret.
Ningtyas, Dwi Wahyu, & Wibowo, A. (2015). Pengaruh Kualitas Vaksin Terhadap Kejadian Campak di Kabupaten Pasuruan. Jurnal Berkala Epidemiologi, 315-326.
Notoadmojo, S. (2011). Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Nugrahaeni, & Dyan, K. (2011). Konsep Dasar Epidemiologi. Jakarta: ECG.
Riyadi AL, S., & Wijayanti, T. (2012). Dasar - Dasar Epidemiologi. Jakarta: Salemba Medika.
Rothman, K. (2002). Epidemiology: An Introduction. New York: Oxford University Press.
Saepudin, M. (2011). Prinsip-prinsip Epidemiologi. Jakarta:
Trans Info Media (TIM).
Timmreck, T. C. (2005). Epidemiologi. Jakarta: Buku Kedoteran.
Universita Andalas. (2020). Studocu. Retrieved September 27, 2023, from https://www.studocu.com/id/
document/universitas-andalas/kesehatan- lingkungan/epidemiologi-analitik/11061905
Wibawa, A. Y., & Halim, A. (2022). Konsep Dasar Riset Epidemiologi. Bandung: Universitas Padjajaran.
Profil Penulis Febriyanti, SKM., M.Epid
Menyelesaikan studi S1 di program studi Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, Ternate jurusan epidemiologi. Penulis kemudian melanjutkan studi S2 di program studi Magister Epidemiologi Peminatan FETP (Field Epidemiology Training Program) Universitas Airlangga, Surabaya dan menyelesaikan kuliah pada tahun 2020. Penulis memiliki dedikasi yang tinggi di bidang epidemiologi karena berkomitmen untuk selalu mengamalkan ilmu yang telah ia peroleh selama ini. Saat ini, penulis aktif bekerja di salah satu NGO yang bergerak di bidang kesehatan yaitu Global Fund Provinsi Maluku Utara sebagai tim monitoring dan evaluasi junior dan berdomisili di Ternate, Maluku Utara. Selain itu, penulis juga pernah menjadi dosen tamu di universitas yang ada di Maluku Utara yang juga berbagi ilmu terkait dengan bidang yang digeluti yaitu epidemiologi dan senang membuat tulisan untuk diterbitkan atau dipresentasikan di kegiatan konferensi nasional maupun internasional.
Email Penulis: [email protected]