BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Kemampuan Awal Anak Sebelum Tindakan
1. Deskripsi Data Penelitian / Tindaka Siklus I
Pelaksanaan penelitian di kelompok B RA Raudhatus Salam Desa Kaliwulu Kecamatan Plered Kabupaten Cirebon dilaksanakan dalam dua siklus tindakan dan masing-masing siklus tindakan terdiri dari dua pertemuan.
Pelaksanaan tindakan dilaksanakan pada hari Senin tanggal 12 dan 19 Maret 2018. Waktu kegiatan mulai jam 08.00 sampai dengan jam 10.00 WIB, yang terbagi dalam kegiatan pembukaan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.
Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan tema kegiatan. Adapun hasil penelitian diuraikan sebagai berikut:
1. Tindakan Siklus 1
a) Perencanaan Tindakan Siklus 1
Tahap perencanaan pada tindakan siklus 1, dilakukan sebagai berikut:
1) Guru membuat Rencana Kegiatan Harian (RKH) yang sesuai dengan pembelajaran membilang serta cara penilaian dalam pembelajaran.
Indikator dalam kegiatan tersebut meliputi kemampuan menyebutkan urutan angka 1-20, kemampuan menunjukkan konsep dengan benda 1- 20 dan kemampuan menunjukkan bilangan 1-20.
2) Guru mempersiapkan sumber media belajar dan alat-alat peraga yang akan digunakan dalam pembelajaran membilang.
3) Guru menyusun instrumen pengumpulan data berupa pedoman observasi
4) Guru memberitahukan dan memberikan pengarahan pada anak tentang metode bermain media lotto yang akan diterapkan pada anak.
b) Pelaksanaan Tindakan Siklus 1
Pertemuan pada tindakan siklus 1 dilakukan pada hari Senin 12 Maret 2018, yang berlangsung dari jam 08.00 sampai dengan 10.00 WIB yang terdiri dari kegiatan pembukaan, inti dan penutup.
Diuraikan sebagai berikut:
(1) Kegiatan Pembukaan
(a) Kegiatan diawali dengan pembukaan, berbaris, salam ikrar dan doa sebelum belajar
(b)Selanjutnya guru melakukan tanya jawab dengan anak- anak tentang manfaat api
(c) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
(2) Kegiatan Inti
Pada kegiatan inti guru menjelaskan materi bermain mengenal angka. Selanjutnya guru mengajak anak-anak untuk bercakap-cakap tentang materi yang disampaikan. Guru merangsang anak untuk bercakap-cakap dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan tema. Adapun langkah-langkah bermain media lotto pada pertemuan siklus 1 sebagai berikut:
(a) Guru membagi anak menjadi dua kelompok. Selanjutnya guru mengkondisikan anak- anak agar suasana kelas menjadi tenang dan siap untuk pelaksanaan pembelajaran.
(b) Guru menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan, yaitu
membilang dengan metode bermain dengan media lotto, meliputi menyebutkan urutan angka 1-20, menunjukkan konsep dengan benda 1-20, dan menunjukkan bilangan 1- 10.
(c) Guru menempelkan media lotto 1-20 di papan tulis, selanjutnya anak satu persatu diminta menyebutkan angka nama angka tersebut. Kolaborator mencatat kemampuan setiap anak dalam membilang angka 1-20.
(d) Setelah anak menyebutkan urutan angka, guru selanjutnya melepaskan kartu bilangan media lotto dari papan tulis.
(e) Guru meminta anak untuk mengurutkan bilangan 1-20 dengan cara meminta anak satu persatu untuk menempelkan urutan angka 1-20 di papan tulis.
(f) Setelah mengurutkan bilangan 1-20, guru meminta anak untuk menghubungkan bilangan 1-20 dengan cara guru menyebutkan dan menuliskan satu angka di papan tulis.
(g) Selanjutnya anak diminta untuk mencari angka yang diminta oleh guru dan menempelkan di papan tulis sesuai dengan bilangan yang disebutkan guru.
(3) Kegiatan Penutup
Pelaksanaan bermain media lotto, selalu diupayakan guru untuk memberi motivasi dan dorongan kepada anak yang
masih pasif supaya anak ikut terlibat langsung dalam bermain media lotto.
(a) Pada akhir kegiatan guru meminta anak untuk duduk dengan tertib di tempat duduk masing-masing, dan dilanjutkan dengan percakapan tentang kegiatan yang sudah berlangsung.
(b) Pada tahap ini guru memberikan pujian kepada anak yang mampu bermain media lotto dengan baik. Kepada anak yang belum mampu menyelesaikan dan tidak mau melakukan, guru memberikan motivasi agar pada pertemuan selanjutnya untuk lebih berani.
Pertemuan siklus 1, bermain media lotto secara keseluruhan dari awal sampai akhir kegiatan berjalan dengan tertib dan lancar.
Sebelum menutup permainan, guru mengajak anak membaca doa pulang. Pada tahap akhir siklus 1 peneliti melakukan evaluasi terhadap hasil pengamatan dan evaluasi terhadap hasil kegiatan yang dilakukan selama tindakan siklus 1, dengan mengidentifikasi hambatan-hambatan yang muncul selama pelaksanaan tindakan siklus 1. Selanjutnya peneliti merencanakan perbaikan-perbaikan terhadap hambatan yang muncul dan perbaikan tersebut untuk diterapkan pada kegiatan selanjutnya.
c) Observasi Tindakan Siklus 1
Observasi peningkatan kemampuan mengenal angka pada anak kelompok B RA Raudhatus Salam Desa Kaliwulu Kecamatan Plered Kabupaten Cirebon pada siklus 1 dirangkum melalui Pengamatan yang dilakukan dalam bermain media lotto meliputi indikator menyebutkan urutan angka 1-20, menunjukkan konsep dengan benda 1-20 dan menunjukkan bilangan 1-20. Hasil pengamatan diuraikan melalui tabel berikut ini:
Tabel 4.2
Peningkatan kemampuan mengenal angka dari prasiklus ke siklus I
Peningkatan
Menyebutkan urutan angka
Menunjukkan konsep dengan
benda
Menunjukkan bilangan 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 prasiklus 12 8 0 0 16 4 0 0 17 3 0 0 Persentase
(%) 60 40 0 0 80 20 0 0 85 15 0 0 Siklus I 4 10 6 0 7 9 4 0 10 5 5 0 Persentase
(%) 20 50 30 0 35 45 20 0 50 25 25 0
Berdasarkan tabel di atas, peningkatan kemampuan membilang anak kelompok B pada tindakan siklus 1, dapat dijelaskan sebagai berikut:
a) Kemampuan Menyebutkan Urutan Angka
Pada indikator menyebutkan urutan angka, anak yang mendapat skor 1 (mampu menunjukkan konsep dengan benda 25% / 1- 3 angka) rata-rata ada 4 anak atau mencapai 20% dari jumlah total
20 anak, dan anak yang mendapat skor 2 (mampu menunjukkan konsep dengan benda 50% / 1-5 angka) rata-rata 10 anak (50%), serta anak yang mendapat skor 3 (mampu mengurutkan angka 1-7) rata-rata 6 anak (30)%.
b) Menunjukkan Konsep Angka dengan Benda
Pada indikator menunjukkan konsep angka dengan Benda, anak yang mendapat skor 1 (mampu menunjukkan konsep dengan benda 25% / 1-3 angka) rata-rata ada 7 anak atau mencapai 35%
dari jumlah total 20 anak, dan anak yang mendapat skor (mampu menunjukkan konsep dengan benda 50% / 1-5 angka), rata-rata 9 anak (45%), serta anak yang mendapat skor 3 (mampu mengurutkan angka 1-7) rata-rata 4 anak (20)%.
c) Menunjukkan angka
Pada indikator menunjukkan konsep angka dengan Benda, anak yang mendapat skor 1 (mampu menunjukkan konsep dengan benda 25% / 1-3 angka) rata-rata ada 10 anak atau mencapai 50% dari jumlah total 20 anak, dan anak yang mendapat skor 2 (mampu menunjukkan konsep dengan benda 50% / 1-5 angka) rata-rata 5 anak (25%), serta anak yang mendapat skor 3 (mampu mengurutkan angka 1-7) rata-rata 5 anak (25)%.
Peningkatan kemampuan mengenal angka anak dapat digambarkan dengan diagram sebagai berikut :
Gambar 4. Diagram peningkatan kemampuan mengenal angka dari praasiklus ke siklus I
1. Refleksi Siklus I
Refleksi pada siklus 1 dilakukan oleh peneliti pada akhir siklus I, yaitu untuk membahas hal-hal apa saja yang menjadi masalah atau kendala pada pelaksanaan tindakan siklus I. Refleksi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah evaluasi terhadap proses tindakan dalam satu siklus. Kegiatan refleksi yang dilakukan di pergunakan sebagai pijakan untuk melakukan kegiatan pada tindakan siklus II. Berdasarkan hasil pengamatan dan observasi yang dilakukan peneliti, diperoleh hal-hal yang menjadi hambatan pada tindakan siklus 1, antara lain:
a) Pada saat anak diminta untuk menyebutkan, menunjukkan konsep dengan benda dan menunjukkan angka, anak terlihat
masih ragu-ragu dan belum percaya diri . Padahal mengetahui nilai atau angka yang tertera dalam lotto.
b) Anak belum berani atau masih takut salah, pada waktu guru meminta maju ke depan kelas untuk kegiatan membilang angka c) Pada proses kegiatan menyebutkan angka yang di tempel di
papan tulis, masih terlihat kesulitan karena ukuran angka dalam kartu angka berukuran sedang, sehingga kurang jelas.
d) Pada saat proses kegiatan berlangsung, masih terdapat anak yang masih saling mengobrol, sehingga mengurangi konsentrasi dalam kegiatan metode bermain media lotto. Hal ini disebabkan terbatasnya jumlah media lotto, sehingga anak harus menunggu giliran bermain media lotto.
Pelaksanaan tindakan pada siklus I masih banyak kekurangannya, sehingga perlu dilakukan perbaikan yang diharapkan pada tindakan siklus II bisa lebih meningkat kemampuan menyebutkan angka, mengurutkan angka, dan menghubungkan angka.
Untuk itu di rencanakan beberapa langkah perbaikan dalam pelaksanaan metode bermain media lotto yang dilakukan pada siklus II. Adapun langkah-langkah perbaikan-perbaikan tersebut diuraikan sebagai berikut:
a) Guru mengubah model pembelajaran dari secara klasikal menjadi kelompok dengan pengaman. Hal ini dimaksudkan agar guru bisa
lebih optimal dalam memperhatikan anak, sehingga anak lebih bersemangat dan percaya diri .
b) Untuk memacu semangat dan rasa percaya diri anak dalam mengemukakan pendapat, maka peneliti memberikan reward berupa tanda bintang untuk anak yang mampu membilang angka dengan baik.
c) Ukuran angka dalam kartu yang sebelumnya berukuran 10×10 cm diganti dengan yang berukuran lebih besar yai tu 15×15 cm, dan menyiapkan Lembar Kerja Anak (LKA), sehingga diharapkan dapat memudahkan anak kegiatan belajar mengenal angka.
d) Kartu lotto 1-20 dibuat l ebih banyak dari sebelumnya dan dibuat dengan variasi bermacam-macam warna, sehingga diharapkan anak tidak terlalu menunggu giliran, dan juga lebih menarik buat anak serta konsentrasi anak pada saat kegiatan berlangsung akan lebih meningkat.
Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, maka peneliti melanjutkan penelitian pada siklus II tentang mengenal angka pada anak kelompok B dengan media lotto. Diharapkan pada siklus II kemampuan anak dalam mengenal angka dengan media lotto memperoleh hasil atau peningkatan yang signifikan dibandingkan hasil pada siklus I.