• Tidak ada hasil yang ditemukan

DESKRIPSI DEPARTEMEN LINGKUNGAN HIDUP

Dalam dokumen Laporan KP Final Kuliah lapanagn (Halaman 52-56)

41

42

swapantau kualitas air limbah dan air permukaan, laporan intergrasi dokumen lingkungan, pelaporan semester berupa pantauan emisi, dan pelaporan tahunan berupa pelaporan pengolahan limbah dalam setahun dan juga membuat evaluasi analisis pemantauan.

Pemantauan limbah cair yang dihasilkan oleh PT Pupuk Kalimantan Timur di setiap pabriknya berasal dari buangan-buangan kimia, buangan sanitasi dan buangan air berminyak. Buangan limbah cair tersebut berasal dari area dalam pabrik yang biasanya terdiri dari unit utility, unit urea dan unit amoniak, serta berasal dari bangunan-bangunan dalam area pabrik seperti gedung pengendali dan ruang seawater intake. Untuk limbah cair, PT Pupuk Kalimantan Timur memiliki izin pembuangan limbah cair ke badan air berupa Keputusan Gubernur Provinsi Kalimantan Timur Nomor 503/5250/LINGK/DPMPTSP/IX/2020, tentang Izin Pembuangan Air Limbah ke Laut kepada PTPupuk Kalimantan Timur di Kota Bontang Provinsi Kalimantan Timur. Pada izin tersebut, terdapat lokasi titik pemantauan dan titik penaatan. Titik pemantauan meliputi Inlet SWI, air limbah di Inlet WWT, dan Inlet 1 & 2 IPAL Domestik. Sedangkan titik Penaatan terdiri dari Outfall, Main Outfall, Emergency Pound, dan Outlet IPAL Domestik. Dalam SK tersebut juga membahas tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi Kegiatan Industri, khususnya bagi PT Pupuk Kalimantan Timur. Untuk pengelohaan limbah cair perusahaan dilakukan dengan dua treatment yaitu in plant treatment dan end of pipe treatment.

Untuk limbah udara dilakukan pemantauan emisi flue gas, debu, partikulat, dan kadar NH3 pada cerobong sumber emisi serta dilakukan pemantauan udara ambient di area pabrik dan sekitar pabrik setiap 3 bulan sekali. Hal ini dilakukan untuk memenuhibaku mutu emisi menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 17 Tahun 2019 tentang Baku Mutu Emisi bagi Usaha dan/atau Kegiatan Industri Pupuk dan Industri Amonium Nitrat, serta menurut PP 22 Tahun 2021 tentang Baku Mutu Udara Ambien. Kecepatan angin, kondisi cuaca, kondisi meteorologis dan kondisi pabrik sangat berpengaruh untuk melakukan proses pemantauan kualitas udara. Alat monitoring yang digunakan untuk pemantauan debu,

43

amoniak, dan flowrate berupa Continuous Emissions Monitoring System (CEMS). Limbah udara yang dihasilkan dari proses kondensasi pada condensate stripper di pabrik amoniak berupa gas NH3 dan CO dimanfaatkan kembali untuk meningkatkan efisiensi bahan baku dan juga untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Untuk limbah udara berupa gas N2, O2, dan sedikit H2 yang berasal dari HP Scrubber, dibuang ke lingkungan dikarenakan limbah udara tersebut telah memenuhi baku mutu lingkungan.

Sedangkan untuk pengelolaan limbah B3 terdapat Tempat Penyimpanan Sementara (TPS) limbah B3, tetapi untuk pengolahannya diserahkan kepada pihak ketiga. Pihak ketiga yang melakukan kegiatan pemanfaatan limbah B3 tersebut harus berupa perusahaan yang memiliki izin lengkap.

Untuk produksi bersih, PT Pupuk Kalimantan Timur melakukan proses recycle mulai dari recycle hydrogen, recycle urea menggunakan Urea Collecting Pit dan pengambilan natural gas menggunakan Natural Gas Condensate Recovery Unit (NGCR), dimana gas tersebut yang akan dimanfaatkan dalam proses pembakaran untuk menunjang kegiatan produksi.

PT Pupuk Kalimantan Timur senantiasa membangun budaya berwawasan lingkungan dalam upaya menjaga keberlanjutan perusahaan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, PT Pupuk Kalimantan Timur melaksanakan program-program antara lain yaitu taman penghijauan, konservasi anggrek dan mangrove serta pembuatan dan peletakan terumbu karang buatan.

3.3.2 Pengelolaan dan Perizinan Lingkungan Hidup (PPLH)

Pada bidang PPLH antara lain mengatur dan memastikan perizinan pengelolaan lingkungan hidup yang meliputi izin pemanfaatan, pengangkutan, pengolahan dan pembuangan. Selain itu bidang ini juga meliputi pembuatan dan update prosedur lingkungan hidup, mengurus perizinan AMDAL dan UKL-UPL, mengurus perizinan TPS B3 dan perizinan pemanfaatan LB3, mengelola TPS B3, memberikan rekomendasi

44

limbah B3, mengurus perizinan incenerator, menangani audit Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan (PROPER), menangani audit ISO-14001, menangani Resp.care dan SMT, membuat kontrak (SPK/SPJB), mengelolaa TPS B3, membuat perencanaan lingkungan hidup, mengelola emergency pond, mengelola limbah padat, mengelola limbah abu batubara, mengelola limbah cair dan perizinan pembuangan limbah cair ke laut, dan menangani proyek-proyek terkait lingkungan hidup.

45 BAB IV TUGAS KHUSUS 4.1 Pendahuluan

4.1.1 Latar Belakang

Permasalahan perubahan iklim telah menjadi fenomena lingkungan yang nyata dan merupakan salah satu ancaman terbesar bagi kehidupan manusia. Hal ini merupakan akibat dari aktivitas manusia baik secara langsung maupun tidak langsung yang dapat diamati dengan adanya perubahan pola, intensitas atau pergeseran parameter utama iklim seperti curah hujan, suhu, kelembaban, angin, tutupan awan dan penguapan.

Perubahan iklim berdampak pada ekosistem dan manusia di seluruh bagian benua dan samudra di dunia yang dapat menimbulkan risiko besar bagi kesehatan manusia, keamanan pangan, dan pembangunan ekonomi.

Perubahan iklim yang ekstrim sangat berpengaruh terhadap Indonesia sebagai negara tropis yang rentan terhadap ancaman bencana alam seperti kekeringan, banjir, tanah longsor, serta penularan penyakit.

Berbagai risiko bencana tersebut berpengaruh pada tingkat kesehatan, mata pencaharian masyarakat, dan kestabilan ekonomi yang dapat meningkatkan ancaman terhadap keberhasilan pencapaian pembangunan.

Perubahan iklim menjadi sebuah hal nyata yang telah dirasakan secara luas di berbagai belahan dunia, sehingga perlu adanya aksi nyata untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak dari perubahan iklim serta upaya pengurangan emisi Gas Rumah Kaca sebagai komponen yang diperlukan dalam pembangunan berkelanjutan.

Dengan adanya kondisi tersebut maka upaya adaptasi dan mitigasi menjadi sangat penting dan mendesak untuk dilakukan guna menghindari bencana dan kerugian yang lebih parah akibat perubahan iklim. Salah satu strategi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam upaya pengendalian perubahan iklim adalah dengan mendorong kerjasama multipihak untuk memperkuat kapasitas adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat tapak berbasis komunitas melalui pelaksanaan Program Kampung Iklim (ProKlim). ProKlim melibatkan peran aktif masyarakat

46

dan berbagai pihak pendukung seperti pemerintah dan pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi serta lembaga non-pemerintah.

Dalam hal ini, PT Pupuk Kalimantan Timur menjadi salah satu perusahaan yang mendukung pelaksanaan Program Kampung Iklim (ProKlim). Adapun kawasan yang didukung oleh PT Pupuk Kalimantan Timur yaitu Kelurahan Loktuan, Kecamatan Bontang Utara yang akan diusulkan ke dalam Program Kampung Iklim (ProKlim) dengan sasaran tingkat kategori utama. Hal tersebut, dikarenakan wilayah Kelurahan Loktuan, Kecamatan Bontang Utara cukup potensial dibandingkan dengan beberapa wilayah lainnya untuk dijadikan sebagai kawasan ProKlim berdasarkan kriteria yang diperlukan, meliputi kondisi wilayah, kelembagaan masyarakat, serta kegiatan aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di wilayah tersebut. Akan tetapi hingga saat ini belum terdapat data pencapaian ProKlim di wilayah tersebut sehingga, perlu dilakukan pengambilan data serta dilakukan evaluasi terhadap kegiatan yang berlangsung untuk selanjutnya dilakukan pengembangan terhadap kegiatan tersebut.

4.1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dapat diidentifikasi rumusan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana pencapaian peran kelembagaan masyatakat dan dukungan keberlanjutan dalam ProKlim (Program Kampung Iklim) di Kelurahan Loktuan, Kecamatan Bontang Utara?

2. Bagaimana hasil analisis mengenai peran kelembagaan dan dukungan keberlanjutan dalam pengusulan ProKlim (Program Kampung Iklim) di Kelurahan Loktuan, Kecamatan Bontang Utara?

4.1.3 Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai dari dilakukannya penelitian ini antara lain yaitu :

47

1. Untuk mengetahui capaian peran kelembagaan masyarakat dan dukungan keberlanjutan terhadap Proklim (Program Kampung Iklim) di Kelurahan Loktuan, Kecamatan Bontang Utara.

2. Untuk mengetahui data peran kelambagaan masyarakat dan dukungan keberlanjutan terhadap pengusulan Program Kampung Iklim (ProKlim) di Kelurahan Loktuan, Kecamatan Bontang Utara.

4.1.4 Manfaat

Manfaat yang diperoleh dari dilakukannya penelitian ini yaitu : 1. Bagi Perusahaan

Hasil penelitian KP ini dapat digunakan sebagai saran dan masukan terkait kegiatan yang dapat dilakukan dalam pelaksanaan Program Kampung Iklim (ProKlim) oleh PT Pupuk Kalimantan Timur khususnya di Kelurahan Loktuan, Kecamatan Bontang Utara.

2. Bagi Institut

Hasil penelitian KP ini dapat digunakan sebagai referensi tambahan bagi mahasiswa/i ITK terkait pendataan pada Program Kampung Iklim (ProKlim) khususnya di Kelurahan Loktuan, Kecamatan Bontang Utara.

3. Bagi Mahasiswa

Penelitian KP ini sebagai implementasi pengetahuan yang diperoleh selama menempuh studi, khususnya pada bidang Program Kampung Iklim (ProKlim) yang dibina oleh PT Pupuk Kalimantan Timur khususnya di Kelurahan Loktuan, Kecamatan Bontang utara untuk meningkatkan nilai kepedulian terhadap lingkungan.

4.2 Tinjauan Pustaka

4.2.1 Pengertian Proklim (Program Kampung Iklim)

ProKlim merupakan kegiatan yang memadukan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim pada tingkat tapak dengan melibatkan peran serta aktif masyarakat dan berbagai pihak pendukung seperti pemerintah dan

48

pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi serta lembaga non- pemerintah. Pelibatan para pemangku kepentingan yang efektif serta pengelolaan pengetahuan adaptasi dan mitigasi perubahan tingkat tapak merupakan salah satu aspek penting untuk mencapai target pengendalian perubahan iklim di tingkat nasional maupun global. Program ProKlim ini bersifat nasional dan dapat diimplementasikan di semua wilayah baik di kota maupun desa untuk membangun masyarakat yang lebih tahan dalam menghadapi perubahan iklim serta memiliki pola hidup rendah emisi karbon.

Penerapan ProKlim sebagai gerakan nasional pengendalian perubahan iklim berbasis komunitas didorong untuk dapat dikembangkan dengan mempertimbangkan risiko yang dihadapi masyarakat di masa depan dengan terjadinya perubahan iklim. Pemahaman mengenai tingkat kerentanan, potensi dampak dan proyeksi iklim dengan bertambahnya suhu permukaan bumi perlu dibangun, sehingga masyarakat mampu memilih jenis aksi adaptasi yang diperlukan untuk meningkatkan ketahanan dalam menghadapi perubahan iklim (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2017).

Tujuan pembangunan berkelanjutan dalam ProKlim terfokus pada integrasi empat aspek utama yaitu keberlanjutan pertumbuhan ekonomi (economic sustainability), keberlanjutan kesejahteraan yang adil dan merata dan menghargai budaya lokal (socio-cultural sustainability), serta keberlanjutan ekologi dan ekosistem tata kehidupan yang serasi dan seimbang (ecological sustainability). Secara khusus, indikator pembangunan berkelanjutan dalam ProKlim ditentukan pada tiga komponen dasar ProKlim yaitu kegiatan adaptasi perubahan iklim, kegiatan mitigasi perubahan iklim, dan kelompok masyarakat dan dukungan keberlanjutan (Faedlulloh D, 2019).

4.2.2 Tujuan Proklim

Pelaksanaan Proklim mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 84 Tahun 2016 tentang Program Kampung Iklim. Kemudian untuk pedoman pelaksanaan diatur dalam Peraturan

49

Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Nomor P.1/PPI/SET/KUM.1/2/2017 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Kampung Iklim. Tujuan utama Proklim adalah untuk meningkatkan pemahaman mengenai perubahan iklim dan dampak yang ditimbulkan dan mendorong pelaksanaan aksi nyata yang dapat memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim serta memberikan kontribusi terhadap upaya pengurangan emisi GRK.

Tujuan khusus dari Proklim adalah:

1. Mendorong kelompok masyarakat melakukan kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat lokal.

2. Memberikan pengakuan terhadap aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat lokal yang telah dilakukan kelompok masyarakat.

3. Memberikan pengakuan terhadap pemerintah daerah dalam penguatan pelaksanaan Proklim.

4. Memberikan pengakuan terhadap pendukung dalam rangka fasilitasi pembentukan dan pengembangan Proklim.

5. Mendorong penyebarluasan kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang telah berhasil dilaksanakan pada lokasi tertentu untuk dapat diterapkan di daerah lain sesuai dengan kondisi wilayah dan kebutuhan masyarakat setempat.

Agar tercapainya tujuan tersebut, dalam Proklim ini terdapat koordinasi penguatan yang dilakukan dari Kementerian, Pemerintah Daerah hingga ke Pelaksana Proklim. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengkoordinasikan penguatan pelaksanaan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta kelembagaan untuk mendukung pelaksanaan Proklim secara nasional. Kemudian dilanjutkan pada Pemerintah Daerah Provinsi melalui gubernur mengkoordinasikan penguatan pelaksanaan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta kelembagaan untuk mendukung pelaksanaan Proklim di daerah. Pemerintah Daerah Kota/Kabupaten sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah melakukan penguatan pelaksanaan Proklim di daerah. Nantinya, pelaksana Proklim melakukan kegiatan adaptasi dan

50

mitigasi perubahan iklim, mengembangkan kelembagaan di tingkat lokal serta mengembangkan jejaring kerjasama guna memperkuat pelaksanaan Proklim secara berkesinambungan (Pedoman Penyelenggaraan Program Kampung Iklim, 2021).

4.2.3 Upaya Adaptasi Dan Mitigasi Dalam ProKlim

Komponen dari kegiatan-kegiatan ProKlim yakni adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Kegiatan yang terkait dengan upaya adaptasi merupakan upaya masyarakat dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan iklim yang tidak dapat dielakkan. Terdapat upaya adaptasi terhadap dampak perubahan iklim dapat dilaksanakan melalui kegiatan antara lain yaitu pengendalian kekeringan, banjir dan longsor, peningkatan ketahanan pangan, penanganan atau antisipasi kenaikan muka laut, rob, intrusi air laut, abrasi, ablasi atau erosi akibat angin, gelombang tinggi, pengendalian penyakit terkait iklim dan kegiatan-kegiatan lain yang terkait dengan upaya peningkatan penyesuaian diri terhadap perubahan iklim (Pedoman Penyelenggaraan Program Kampung Iklim, 2021).

Sedangkan, kegiatan upaya mitigasi merupakan kegiatan pencegahan penyebab perubahan iklim sekaligus mengurangi peningkatan emisi gas rumah kaca ke atmosfer. Kegiatan mitigasi di tingkat tapak dapat dimulai dari hal-hal sederhana di lingkungan sekitar rumah sampai dengan yang dilaksanakan secara berkelompok dengan melibatkan warga di lokasi kampung iklim. Pengelolaan sampah, limbah padat, dan limbah cair;

penggunaan energi baru terbarukan serta konservasi penghematan energi;

penanganan lahan pertanian rendah emisi gas rumah kaca; peningkatan dan/atau mempertahankan tutupan vegetasi; pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. yang melibatkan masyarakat adalah contoh kegiatan mitigasi di tingkat tapak yang perlu terus dikampanyekan kepada seluruh pihak. Kegiatan-kegiatan tersebut tidak harus terpenuhi semua komponennya, namun harus ada kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang dilaksanakan (Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2016).

51 4.2.4 ProKlim dalam SRN

Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim atau SRN merupakan sistem pengelolaan dan penyediaan data dan informasi berbasis web tentang aksi dan sumber daya untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di Indonesia. Dalam kaitannya dengan ProKlim, SRN merupakan portal untuk pendaftaran ProKlim mulai mulai tahun 2017. SRN menjadi wadah pengolahan data dan informasi aksi dan sumber daya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di Indonesia. Melalui SRN inilah, data dan informasi dari aksi maupun sumber daya yang digunakan tersebut dihimpun secara kolektif. SRN merupakan bentuk pengakuan pemerintah atas kontribusi para pihak dalam upaya pengendalian perubahan iklim di Indonesia (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2017).

4.2.5 Peraturan ProKlim (Program Kampung Iklim)

Sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri LHK No.

P.39/Menlhk-Setjen/2015 tentang Rencana Strategis KLHK Tahun 2015- 2019, program dan kegiatan Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (DJPPI) dalam periode ini secara garis besar diarahkan pada: 1) Meningkatnya efektivitas adaptasi dan mitigasi perubahan iklim; 2) Menurunnya luas areal kebakaran hutan dan lahan; dan 3) Meningkatnya wilayah yang memiliki kapasitas adaptasi perubahan iklim. Fasilitasi desa/kelurahan yang menerapkan Program Kampung Iklim (ProKlim) ditetapkan sebagai salah satu indikator capaian sasaran peningkatan wilayah yang memiliki kapasitas adaptasi dengan target sebanyak 2.000 desa/kelurahan, yang sekaligus juga dapat berkontribusi terhadap pencapaian sasaran peningkatan efektifitas adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat tapak (Pedoman Penyelenggaraan Program Kampung Iklim, 2021).

ProKlim telah memiliki payung hukum pelaksanaan berupa Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 19 Tahun 2012 tentang Program Kampung Iklim. Integrasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan pada tahun 2015, diikuti dengan pengesahan peraturan pengganti melalui Peraturan Menteri LHK No

52

P.84/Menlhk/Setjen/Kum.1/11/2016 tentang Program Kampung Iklim.

Dimana secara garis besar terdiri atas berbagai pihak seperti pihak pelaksana Proklim yang terdiri dari kelompok masyarakat yang tinggal di lokasi Kampung Iklim, Pembina ProKlim yang terdiri dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, dan pihak pendukung ProKlim yang terdiri dari dunia usaha, perguruan tinggi, Lembaga penelitian dan Pengembangan, organisasi masyarakat, LSM, serta mitra pembangunan (PERMENLHK, 2016).

Untuk memberikan arahan teknis kepada semua pemangku kepentingan yang terlibat dalam ProKlim, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim kemudian menerbitkan Peraturan Dirjen PPI No.

P.1/PPI/SET/KUM.1/2/2017 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Kampung Iklim. Secara garis besar Perdirjen tersebut memuat hal-hal teknis mengenai (1) Informasi Umum ProKlim, (2) Pedoman Pembentukan dan Pengembangan ProKlim (3) Pedoman Pengusulan ProKlim (4) Pedoman Penilaian ProKIim dan (5) Pedoman Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan ProKlim yang memberikan panduan bagi pemerintah, pendukung dan pelaksana ProKlim. Sedangkan untuk pedoman penghitungan penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dalam pelaksanaan aksi mitigasi di lokasi ProKlim, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim telah menerbitkan Peraturan Direktur Jenderal PPI No.

P.5/PPI/SET/KUM.I/12/2017 tentang Pedoman Penghitungan Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Untuk Aksi Mitigasi Perubahan Iklim Berbasis Masyarakat (DJPPI, 2017).

Pada Peraturan Menteri Nomor 84 Tahun 2016 disebutkan bahwa terdapat tujuh kegiatan Proklim yang mana dirangkum dalam Peraturan Direktur Jenderal Perubahan Iklim tentang Pedoman Pelaksanaan Proklim ke dalam tahapan-tahapan pelaksanaan Proklim. Adapun tahapan pelaksanaan Proklim digambarkan pada bagan sebagai berikut:

1. Identifikasi kerentanan dan risiko perubahan iklim (dapat menggunakan instrumen yang sudah ada)

2. Identifikasi sumber emisi dan serapan gas rumah kaca

53

3. Pengembangan dan peningkatan kapasitas masyarakat dan kelembagaan masyarakat

4. Pelaksanaan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat lokal berbasis masyarakat

5. Peningkatan kapasitas akses sumberdaya, pendanaan, teknologi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim

6. Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim (PERMENLHK, 2016).

4.2.6 Lokasi Penelitian

Gambar 4.1 Peta Administrasi Kecamatan Bontang Utara Sumber : Kecamatan Bontang Utara Dalam Angka, 2021

Kecamatan Bontang Utara merupakan salah satu dari tiga kecamatan yang ada di wilayah Kota Bontang. Memiliki luas wilayah 33,03 km2

54

dengan enam kelurahan. Kelurahan yang terluas di Kecamatan Bontang Utara, yaitu Kelurahan Guntung dengan luas wilayah 11,35 km2 (34,36 persen), sedangkan kelurahan yang memiliki luas wilayah terkecil , yaitu Kelurahan Api-Api dengan luas wilayah 2,15 km2 (6,52 persen). Pada penelitian ini berfokus pada Kelurahan Loktuan, Kecamatan Bontang Utara, Kota Bontang

Berdasarkan posisi geografisnya, wilayah Kecamatan Bontang Utara di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Kutai Timur, sebelah timur berbatasan dengan Selat Makassar, sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Bontang Selatan, dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Bontang Barat dan Kabupaten Kutai Timur.

Kecamatan Bontang Utara terdiri dari enam kelurahan dan 205 Rukun Tetangga (RT). Kelurahan yang ada di Kecamatan Bontang Utara, yaitu Kelurahan Bontang Kuala, Bontang Baru, Api-Api, Gunung Elai, Lok Tuan, dan Guntung. Kelurahan yang memiliki RT yang paling banyak, yaitu Kelurahan Lok Tuan dengan jumlah RT sebanyak 52 RT, sedangkan kelurahan dengan jumlah RT paling sedikit, yaitu Kelurahan Guntung dengan jumlah RT sebanyak 18 RT.

Berdasarkan data hasil Sensus Penduduk 2020 September, jumlah penduduk Kecamatan Bontang Utara tahun 2020 sebanyak 82.121 jiwa, dengan rasio jenis kelamin Penduduk sebesar 108 yang artinya terdapat 108 jiwa penduduk laki laki pada setiap 100 jiwa penduduk perempuan. Adapun Kelurahan yang memiliki paling banyak penduduk nya adalah Kelurahan Lok Tuan, yaitu 21.834 jiwa. Sedangkan Kelurahan yang paling sedikit penduduk yang yang tercatat adalah Kelurahan Bontang Kuala, yaitu 6.860 jiwa. Dengan Tingkat kepadatan penduduk Kecamatan Bontang Utara rata- rata sebanyak 2.486 jiwa per kilometer persegi. Kelurahan paling padat penduduknya adalah Kelurahan Api-Api, yaitu rata-rata 8.108 jiwa per kilometer persegi. Sedangkan kelurahan yang paling jarang penduduknya adalah di Kelurahan Bontang Kuala yaitu rata-rata 766 jiwa per kilometer persegi.

55

Berdasarkan data dari Potensi Desa, Dinas Pendidikan Kota Bontang dan Kementerian Agama Kota Bontang, Kecamatan Bontang Utara memiliki fasilitas pendidikan prasekolah dan sekolah di setiap jenjang, yaitu 28 taman kanak-kanak/ sederajat, 20 sekolah dasar/sederajat, 13 sekolah menengah pertama/ sederajat, 11 sekolah menengah atas/ sederajat, dan 2 akademi/perguruan tinggi.

Potensi pertanian tanaman pangan di Kota Bontang tidak terlalu menonjol, mengingat Bontang adalah daerah perkotaan. Selama ini, Kota Bontang masih mengandalkan suplai bahan-bahan makanan dari daerah lain.

Kecamatan Bontang Utara bukanlah wilayah yang produktif untuk subsektor tanaman pangan. Di Kecamatan Bontang Utara hanya terdapat 34 hektar tegal/kebun dan 126 hektar ladang/huma. Untuk subsektor tanaman pangan, di Kecamatan Bontang Utara hanya terdapat komoditas ubi kayu dengan luas panen sekitar 4 hektar.

Untuk tanaman sayuran dan buah-buahan semusim, yang paling banyak produksinya selama tahun 2020, yaitu petsai/sawi 1.246 kuintal, disusul kangkung sebesar 985 kuintal, kembang kol 716 kuintal, tomat 697 kuintal, dan terung 635 kuintal. Sementara untuk tanaman buah-buahan tahunan, yang paling banyak produksinya selama tahun 2020 adalah pisang yaitu sebesar 4.026 kuintal, disusul nangka/ cempedak 165 kuintal, dan pepaya 158 kuintal. Selain tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan, terdapat juga tanaman biofarmaka seperti jahe, kunyit, laos/lengkuas, dan temulawak dengan luas panen masing-masing sebesar 34 hektar, 36 hektar, 19 hektar, dan 16 hektar. Diantara tanaman biofarmaka tersebut, jahe yang paling banyak produksinya tahun 2020, yaitu sebesar 149 kg. Pada tahun 2020, komoditas yang ditanam untuk tanaman perkebunan antara lain kelapa dengan luas areal 12 hektar, kakao, aren, dan jambu mente dengan luas areal masing-masing 1 hektar. Dan Produksi perikanan di Kecamatan Bontang Utara tahun 2020 tercatat 11.248,84 ton, yang terdiri atas 9.557,89 ton produksi perikanan laut dan 1.690,95 ton perikanan budidaya. Jumlah rumah tangga perikanan laut tercatat 1.560 rumah tangga, sedangkan jumlah

Dalam dokumen Laporan KP Final Kuliah lapanagn (Halaman 52-56)

Dokumen terkait