• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Deskripsi Hasil Penelitian

Islam tentang berpakaian bagi kaum muslim dan muslimah adalah suatu kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah dan ini sudah dijelaskan didalam Al-Qur‘an salah satunya dalam surat Al-A‘raf ayat 26.‖49

Saudari ST menyatakan ―Kita hidup sudah di tahun 2021 bukan zaman purba, pakaian itu penting, kita tidak ngomong soal agama Islam saja, kalau orang normal ya pakai baju, kalau orang enggak pakai baju ya berarti orang enggak normal atau gila, jadi kalau kita merasa normal ya wajib pakai pakaian yang benar apalagi agamanya Islam menutup aurat itu hukumnya wajib, pakaiannya wajib tertutup jangan sampai kelihatan auratnya, pakaiannya jangan ketat apalagi nerawang.‖50

Mahasiswi lainnya dengan inisial AD, ALF, NND, SRT, PTR, IS, EK, AY menyatakan hal yang serupa yaitu ―pakaian muslimah yang sesuai dengan syariat Islam yaitu yang menutup aurat, jilbab menutup dada, pakaiannya tidak ketat, tidak membentuk tubuh dan tidak menerawang juga tidak berlebihan.‖51

Sedangkan menurut mahasiswi dengan inisial ANN ―pakaian yang sesuai syari‘at yaitu yang menutup seluruh badan tanpa terbuka aurat sedikitpun.‖52 Pungkasnya saat ditanyakan mengenai pakaian muslimah yang sesuai dengan syari‘at.

Kajur PAI saat ditanyakan upaya apa yang dilakukan agar mahasiswinya berpakaian sesuai dengan syariat, beliau memberikan penjabaran bahwasanya

―upayanya biasanya dilakukan di awal dalam kegiatan PBAK untuk

49 Hasil wawancara dengan saudari IN pada tanggal 28 Mei 2021

50 Hasil wawancara dengan saudari ST pada tanggal 28 Mei 2021

51 Hasil wawancara dengan saudari AD, ALF, NND, SRT, PTR, IS, EK dan AY pada tanggal 28 Mei 2021

52 Hasil wawancara dengan saudari ANN pada tanggal 28 Mei 2021

mensosialisasikan kode etik mahasiswa terkait dengan cara berpakaian, pergaulan dan lain sebagainya, mahasiswa juga sudah diberikan buku pedoman kode etik yang didalamnya mengatur standar-standar berpakaian dan seharusnya kalau sudah mahasiswa apalagi jurusan PAI seharusnya sudah berkomitmen dan sudah paham soal adab berpakaian.‖53

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dengan mahasiswi Jurusan PAI angkatan 2017 dan Kajur PAI, dapat disimpulkan bahwa mayoritas mahasiswi PAI sudah paham betul seperti apa perintah agama dalam aturan menutup aurat bagi kaum wanita, mereka juga mengetahui batasan-batasan aurat serta mereka mengetahui menutup aurat itu termasuk kewajiban. Lalu pihak kampus juga telah mensosialisasikan isi kode etik untuk mahasiswa maupun mahasiswi di awal perkuliahan, yang mana isinya membahas materi yang berkaitan dengan tata cara berpakaian yang harus diikuti selama perkuliahan. Aturan berpakaian tersebut pun sudah menjadi kewajiban mahasiswa dan mahasiswi untuk melaksanakannya.

b. Impelentasi dari pemahaman pakaian muslimah dalam keseharian mahasiswi PAI angkatan 2017

Sebagai seorang muslim sewajarnya seseorang itu memakai pakaian yang sesuai dengan perintah agama karena memang sudah menjadi kewajibannya.

Tentunya Allah SWT bukan tanpa alasan dalam memerintahkan umatnya agar mengikuti syari‘at berpakaian dalam Islam, hal ini Allah maksudkan demi kebaikan umat Islam itu sendiri dan juga masyarakat dimana ia berada.

53 Hasil wawancara dengan Kajur PAI pada tanggal 27 Mei 2021

Mengenakan pakaian yang sesuai syari‘at juga seharusnya dikenakan bukan hanya saat berada di lingkungan kampus saja, tetapi juga ruang publik lainnya.

Mayoritas mahasiswi menjawab ―kadang-kadang‖ saat ditanya apakah mereka menerapkan pemahaman agama tentang berpakaian yang mereka ketahui seperti mahasiswa dengan inisial AD, AY,

IS, ANN, EK, NND, dan SRT. ―Aku cuma kadang-kadang sih, kalo ngampus pakai jilbab tapi belum syar‘i masih sering pake rok belahan sama enggak pakai kaus kaki, kalau di luar kampus pakai celana panjang biasa, ya Allah berdosa banget aku‖ ucap mahasiswi dengan inisial ANN.54

Penuturan mahasiswi dengan inisial AD bahwa ―saat kuliah saya menggunakan pakaian tertutup tapi saat di rumah atau main pakaian saya kadang tertutup kadang tidak, kadang juga sedikit ketat‖.55

Penuturan mahasiswi dengan inisial AY mengaku bahwa, ―kalau saya pribadi belum sepenuhnya menutup aurat, karena saya kadang kalau main sama berpergian masih suka enggak pakai jilbab, mungkin yg selalu pakai jilbab hanya waktu saya sedang kuliah‖.56

Mahasiswi dengan inisial ST mengatakan ―Ya kalau kuliah itu seringnya saya pakai rok, tapi kalau di rumah ya sering disuruh kemana-mana jadi pakai celana panjang sama pakai kaos tetap memakai jilbab, menurut saya yang namanya muslim menutup aurat itu wajib enggak cuma di lingkungan kampus saja tapi kalau bisa setiap hari harus pakai baju muslim tertutup, sama saja bohong kalau pakai di kampus tertutup tapi kalau di rumah dibuka, main

54 Hasil wawancara dengan saudari ANN pada tanggal 28 Mei 2021

55 Hasil wawancara dengan saudari AD pada tanggal 28 Mei 2021

56 Hasil wawancara dengan saudari AY pada tanggal 28 Mei 2021

dibuka jilbabnya, mana di upload ke sosial media lagi kaya temen-temen saya‖.57

Mahasiswi dengan inisial ALF mengatakan ―pakaian saya saat kuliah biasanya mengenakan gamis, rok dan atasan, memakai hijab pastinya. Berbeda ketika saya di rumah saya hanya pakai pakaian yang menurut saya nyaman tapi ketika keluar rumah ya tetap pakai pakaian yang bebas tapi sopan dan masih dalam ketentuan syari‘at Islam.‖58

Penuturan mahasiswi dengan inisial PTR mengatakan ―Insya Allah saya selalu menerapkan apa yang saya pahami, di kuliah saya lebih mengutamakan berhijab dengan baju terusan atau gamis, berlaku juga untuk di luar rumah.

Berpakaian sesuai syari‘at harus diterapkan dimanapun karena sebenarnya sangat menjaga diri kita dari maksiat orang lain yang melihat.‖59

Mahasiswi dengan inisial DST menyatakan bahwa ―ketika di kampus karna jurusan PAI jadi dilarang memakai celana jadi hanya pakai rok dan atasan atau gamis, untuk di rumah karena isinya mahramnya kita jadi pakai pakaian yang tidak menutup aurat, untuk di luar rumah tetap menggunakan pakaian yang sesuai syari‘at.‖60

Saat ditanyakan apakah prilaku berpakaian mahasiswi PAI yang sekarang sudah memenuhi kriteria pakaian muslimah rata-rata menjawab belum.

Mahasiswi dengan inisial AY menyatakan ―sejauh ini yang saya lihat di lingkungan kampus, mahasiswi belum sepenuhnya berpakaian sesuai syariat,

57 Hasil wawancara dengan saudari ST pada tanggal 28 Mei 2021

58 Hasil wawancara dengan saudari ALF pada tanggal 28 Mei 2021

59 Hasil wawancara dengan saudari PTR pada tanggal 28 Mei 2021

60 Hasil wawancara dengan saudari DST pada tanggal 28 Mei 2021

karena sebagian ada yang masih memakai jilbab tapi tidak pakai dalaman jadi nerawang rambutnya terlihat, terus ada yang pakai jilbab sengaja tidak menutup dada, ada juga yang pakaiannya ketat nyeplak bentuk badan, malah ada juga yang pakai gamis tapi tipis menerawang.‖61 ―Mereka masih basing- basing yang penting bagus untuk foto OOTD (outfit of the day)‖62 timpal mahasiswi dengan inisial ANN.

Mahasiswi dengan inisial ALF menuturkan bahwa ―menurut saya mahasiswi sudah ada yang berpakaian sesuai syari‘at dan ada yang belum karena mahasiswa PAI ada yang lulusan pondok maupun SMA dan SMK.‖63 Sedangkan mahasiswi dengan inisial PTR mengatakan bahwa ―sebagian besar mahasiswi yang saya ketahui sudah menerapkan syari‘at berpakaian sesuai agama walau tidak sepenuhnya tetapi masih dalam kategori baik dan masih dalam tahap pembiasaan untuk menggunakan pakaian muslimah.‖64 Dan sisanya menjawab ada yang sudah sesuai dengan syari‘at dan ada yang belum.

Kajur PAI, Bapak Umar mengungkapkan bahwa ―secara umum menurut saya mahasiswi PAI sudah baik walaupun ada beberapa yang masih berpakaian belum sesuai dengan syari‘at, belum berpakaian yang longgar dan lebih cenderung ke sempit.‖65

Dari observasi yang telah peneliti lakukan maka didapati fakta bahwasanya mahasiswi PAI angkatan 2017 memang sebagian ada yang sudah menerapkan perilaku berpakaian yang sesuai dengan syari‘at Islam dan

61 Hasil wawancara dengan saudari AY pada tanggal 28 Mei 2021

62 Hasil wawancara dengan saudari ANN pada tanggal 28 Mei 2021

63 Hasil wawancara dengan saudari ALF pada tanggal 28 Mei 2021

64 Hasil wawancara dengan saudari PTR pada tanggal 28 Mei 2021

65 Hasil wawancara dengan Kajur PAI pada tangal 27 Mei 2021

sebagian lainnya masih belum menerapkan perilaku berpakaian yang sesuai syari‘at Islam padahal mayoritas dari mereka paham akan ketetapan Allah mengenai aturan berpakaian khususnya bagi kaum perempuan, contohnya masih banyak mahasiswi yang belum berpakaian longgar, cenderung ketat persis seperti yang dikatakan oleh Kajur PAI, menggunakan rok span yang sempit lalu bajunya dimasukkan ke dalam rok hingga tercetak bentuk tubuhnya. Kasus paling banyak yang peneliti temukan yaitu minimnya penggunaan kaos kaki, baik mahasiswi yang berpakaian ketat maupun mahasiswi yang mengenakan gamis atau baju longgar. Kemudian banyak mahasiswi yang hijabnya diselempangkan ke bahu hingga tidak menutupi bagian dada dan juga penggunaan hijab yang tipis hingga terlihatlah rambutnya, dan lain sebagainya.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dengan mahasiswi Jurusan PAI angkatan 2017 dan Kajur PAI, dapat disimpulkan bahwa sebagian mahasiswi ada yang sudah mengimplementasikan berpakaian sesuai syari‘at dan sebagian ada juga yang belum. Beberapa mahasiswi mengaku masih belum berpakaian sesuai syari‘at dan hanya terkadang saja.

Masih terdapat sebagian mahasiswi yang memakai baju tipis menerawang, rok dengan belahan, tidak memakai kaus kaki, memakai jilbab tipis hingga terlihat rambutnya, memakai jilbab namun tidak menutup dada dengan sengaja, dan berpakaian ketat membentuk lekuk tubuh. Beberapa diantaranya masih mengedepankan fashion terbaru yang kebanyakan tidak sesuai dengan syari‘at Islam, bahkan masih terdapat beberapa mahasiswi yang

tidak mengenakan jilbab saat keluar rumah dan di upload ke sosial media.

c. Faktor penghambat mahasiswi dalam menerapkan cara berpakaian sesuai syari’at

Faktor penghambat adalah faktor yang sifatnya menghambat jalannya suatu kegiatan atau bahkan menghalangi dan menahan terjadinya sesuatu.

Faktor penghambat bagi mahasiswi dalam menerapkan cara berpakaian sesuai syari‘at dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu diri sendiri dan lingkungan. Seperti yang diungkapkan oleh mahasiswi dengan inisial SRT bahwa ―faktor penghambatnya ada dari dalam diri sendiri, masih kurang kesadarannya.‖66 Saudari AD mengatakan bahwa ―sebenarnya faktor penghambatnya mungkin lebih ke ego diri sendiri sih, merasa malu saja kalau main pakai baju muslimah serasa kayak pakai jubah terus panas juga, gerah gitu.‖67 Kemudian mahasiswi dengan inisial AY mengatakan bahwa ―faktor penghambatnya sepele sih, kadang pengen main enggak pakai jilbab, kadang kalau mau pergi buru-buru terus rambutnya masih basah jadi risih kalau langsung pakai jilbab, kadang males aja gitu hehe.‖68 Mahasiswi dengan inisial DST menyatakan ―kalau menurut saya, tidak semua mahasiswi punya pakaian yang mendukung supaya bisa berpakaian sesuai syari‘at agama.‖69

Selain itu faktor lingkungan juga punya andil cukup besar dalam menghambat mahasiswi menerapkan berpakaian sesuai syari‘at. Seperti yang dikatakan oleh mahasiswi berinisial ALF ―Mahasiswa PAI kan berbeda-beda,

66 Hasil wawancara dengan saudari SRT pada tanggal 28 Mei 2021

67 Hasil wawancara dengan saudari AD pada tanggal 28 Mei 2021

68 Hasil wawancara dengan saudari AY pada tanggal 28 Mei 2021

69 Hasil wawancara dengan saudari DST pada tanggal 28 Mei 2021

ada yang dari lulusan pondok, ada yang dari SMA maupun SMK. Karena tiap pendidikan tersebut lingkungannya berbeda dan cara berpakaiannya pun berbeda.‖70 Mahasiswi dengan inisial IN mengatakan bahwa ―sebelum para mahasiswi masuk ke jurusan PAI kan mereka hidup di lingkungan atau pertemanan yang berbeda-beda, enggak semua anak pondok, maka dari itu bagi saya berpakaian sopan sudah cukup bagi saya.‖71

Penuturan mahasiswi dengan inisial IS mengatakan bahwa ―biasanya faktor penghambat yang sering terjadi itu tentang lingkungan, seperti lingkungan pertemanan pun sangat mempengaruhi, misal teman-temannya suka enggak pakai jilbab lama-lama kita kebawa juga.‖72 Ditimpali oleh mahasiswi dengan inisial NND ―Ya mungkin karena faktor lingkungan dan keluarganya kurang mendukung.‖73 Selanjutnya ST mengatakan bahwa ―sekarang itu mengikuti mode, ada model pakaian terbaru ya itu yang diikuti.‖74

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penghambat bagi mahasiswi untuk menerapkan aturan berpakaian sesuai dengan syari‘at agama ada beberapa faktor. Yang pertama yaitu berasal dari diri sendiri seperti kurangnya kesadaran pada diri mahasiswi untuk menutup aurat dengan sempurna, beberapa dari mereka masih merasa malas padahal mereka faham bahwa menutup aurat hukumnya wajib. Yang kedua, mahasiswi masih nyaman mengenakan pakaian yang belum sesuai syari‘at dengan alasan terasa gerah dan panas jika mengenakan pakaian muslimah. Yang ketiga, keterbatasan

70 Hasil wawancara dengan saudari ALF pada tanggal 28 Mei 2021

71 Hasil wawancara dengan saudari IN pada tanggal 28 Mei 2021

72 Hasil wawancara dengan saudari IS pada tanggal 28 Mei 2021

73 Hasil wawancara dengan saudari NND pada tanggal 28 Mei 2021

74 Hasil wawancara dengan saudari ST pada tanggal 28 Mei 2021

pakaian muslimah yang dimiliki oleh para mahasiswi juga mejadi salah satu persoalan sehingga mereka tidak bisa memakai pakaian syar‘i setiap harinya.

Yang keempat, pengaruh pergaulan yang kurang mendukung para mahasiswi yang belum mengenakan pakaian sesuai dengan syari‘at Islam. Dan yang kelima, para mahasiswi mengikuti trend mode fashion terkini yang tidak syar‘i serta beralasan tidak modis bahkan merasa malu jika mengenakan pakaian muslimah.

d. Sanksi-sanksi yang diberikan untuk mahasiswi yang belum berpakaian sesuai syari’at

Sanksi merupakan tindakan-tindakan hukuman yang diberikan kepada seseorang akibat melanggar suatu aturan atau ketentuan yang telah ditetapkan, sanksi bersifat memaksa seseorang agar menaati suatu aturan atau ketentuan tersebut. Berdasarkan kode etik, mahasiswa yang belum berpakaian sesuai kode etik masuk ke dalam sanksi ringan. Sanksi ringan itu sendiri berbentuk sepertiteguran lisan maupun tertulis, biasanya mahasiswa yang berpakaian tidak sesuai kode etik mtidak bisa mengikuti perkuliahan dan tidak mendapat pelayanan administrasi, akademik, maupun kemahasiswaan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kajur PAI, beliau mengatakan

―kalau memang kita temukan ada mahasiswa yang berpakaian tidak sesuai dengan syari‘at maka kita tegur besok jangan diulangi, pakai pakaian yang lebih baik. Sanksi yang kita berikan sesuai dengan kode etik.‖75

Sama dengan pernyataan dari mahasiswi dengan inisial ALF ―waktu itu

75 Hasil wawancara dengan Kajur PAI pada tanggal 27 Mei 2021

teman saya tidak dilayani di akademik karena tidak berpakaian sesuai dengan kode etik, ditegur karena tidak pakai kaus kaki dan rok belahan, jadi teman saya pulang karena malu ditegur di akademik fakultas.‖76

Hal tersebut sama dengan pernyataan AD yaitu ―jika ada mahasiswi yang belum berpakaian sesuai kode etik, setahu saya kalau lagi di kelas pasti kena sindir, saya pernah disindir sama ibu Sri Wahyuni saat perkuliahan berlangsung dibilang ―mba itu lehernya ngegerowong (bahasa jawa yang artinya lehernya kemana-mana)‖ karena saya pakai jilbab tapi enggak dipentulin dibagian leher. Bukan Cuma itu saja, teman saya yang pakai make up berlebihan juga disindir dibilang pipinya benjut karena kuliah pakai blush on, benjut itu bengkak seperti bagian buah yang sudah busuk, sama satu lagi temen-temen saya yang pakai tas selempang kayak tas buat arisan dirazia sama ibu Sri Wahyuni, tasnya digantung di jendela dan banyak yang kena, pada malu semua. Mantap banget deh ibu Sri.‖77

Penuturan mahasiswi dengan inisial ST mengaku ―waktu itu saya juga pernah kena tegur sama ibu nuryah karena saya pakai tas pesta dan kerudung saya tidak menutupi dada tapi saya selempangin ke bahu, kata ibunya ―kalau tidak mau dirubah besok jangan mengikuti perkuliahan saya‖, dari kejadian itu saya merasa malu dan enggak pernah mengulangi lagi.‖78

Saat ditanyakan bagaimana respon kalian saat melihat teman yang memakai baju kurang sopan dan tidak sesuai dengan syari‘at, saudari DST mengaku ―saya kalau lihat mahasiswi tidak berpakaian sesuai syariat itu saya

76 Hasil wawancara dengan saudari ALF pada tanggal 28 Mei 2021

77 Hasil wawancara dengan saudari AD pada tanggal 28 Mei 2021

78 Hasil wawancara dengan saudari ST pada tanggal 28 Mei 2021

risih dan malah malu sendiri tetapi mau negur bagaimana, kalau teman dekat pun saya cuma bisa menasehati saja, kalau yang tidak kenal ya cuma bisa melihat saja.‖79 Hampir sama dengan mahasiswi berinisial ALF, dia mengaku

―kalau saya orangnya tidak blak-blakan, jadi kalau melihat ada mahasiswi PAI yang berpakaian tidak sesuai saya hanya diam dan tidak menegur, kecuali kalau dia teman dekat saya baru saya berani tegur.‖80 Mahasiswi dengan inisial IN pun mengungkapkan hal yang senada dengan saudari DST, IN mengatakan

―kadang risih ya lihatnya padahal kan dia kuliahnya di IAIN tapi pakaiannya kadang dadanya tidak ditutup suka diselampirin di bahu, tapi mau kayak mana kita negur dianya takut dibilang sok-sokan padahal ya risih banget liatnya.‖81

Mahasiswi dengan inisial IS mengaku ―saat saya melihat mahasiswi PAI yang tidak berpakaian sesuai dengan syari‘at Islam saya hanya terheran-heran, kenapa bisa seorang mahasiswi PAI tidak menerapkan syari‘at tersebut padahal sudah sering ada pemberitahuan.‖82 Saudari AD, AY, NND dan SRT mengatakan bahwa ―saya bingung mau negurnya soalnya saya juga belum berpakaian dengan baik jadi saya diam saja.‖83

Pengakuan mahasiswi dengan inisial PTR mengatakan bahwa ―reaksi saya biasa, tidak terlalu berlebihan karena mereka butuh bimbingan serta butuh waktu perlahan untuk mengubah kebiasaan dari yang buruk menjadi baik.‖84

79 Hasil wawancara dengan saudari DST pada tanggal 28 Mei 2021

80 Hasil wawancara dengan saudari ALF pada tanggal 28 Mei 2021

81 Hasil wawancara dengan saudari IN pada tanggal 28 Mei 2021

82 Hasil wawancara dengan saudari IS pada tanggal 28 Mei 2021

83 Hasil wawancara dengan saudari AD, AY dan SRT pada tanggal 28 Mei 2021

84 Hasil wawancara dengan saudari PTR pada tanggal 28 Mei 2021

―Mereka lagi khilaf sebentar lagi pasti berubah kok‖85 ucap saudari ANN.

Kemudian saudari EK mengatakan ―sesekali saya tegur dengan cara bercanda untuk mengingatkan namun jika tidak bisa diingatkan mau bagaimana. Intinya yang penting kita sudah mencoba memberikan contoh berpakaian yang setidaknya rapi dan sopan lebih baik lagi kalau sesuai syari‘at agama.‖86

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kajur PAI dan mahasiswi PAI angkatan 2017 dapat disimpulkan bahwa sanksi yang diberikan pihak lembaga kepada para mahasiswi yang berpakaian tidak sesuai syari‘at berdasar pada kode etik. Dalam kode etik, mahasiswa yang tidak berpakaian sesuai masuk ke dalam kategori hukuman ringan. Sanksi ringan itu sendiri berbentuk seperti teguran lisan maupun tertulis, biasanya mahasiswa yang berpakaian tidak sesuai kode etik tidak bisa mengikuti perkuliahan dan tidak mendapat pelayanan administrasi, akademik, maupun kemahasiswaan. Dalam keseharian kegiatan yang ada di kampus para dosen, kajur maupun staff senantiasa memberikan sanksi kepada para mahasiswi yang bandel dalam berpakaian seperti disindir didepan teman-temannya dan ternyata tindakan tersebut terbukti memberikan efek jera kepada para mahasiswi yang melanggar.

2. Pembahasan

Telah kita ketahui bahwa aurat wanita terdiri dari ujung kepala hingga ujung kaki kecuali wajah dan telapak tangan, akan tetapi masih banyak wanita

85 Hasil wawancara dengan saudari ANN pada tanggal 28 Mei 2021

86 Hasil wawancara dengan saudari EK pada tanggal 28 Mei 2021

yang menyalahgunakan aturan itu. Masih banyak diantaranya yang enggan menutup seluruh bagian auratnya karena beberapa alasan, termasuk para mahasiswi PAI IAN Metro angkatan 2017 yang seyogyanya merupakan mahasiswi kampus yang berada dalam naungan lembaga agama Islam sekaligus calon pendidik.

Perlu kita sadari bahwa menggunakan hijab dan menutup aurat hukumnya wajib dan merupakan perintah Allah SWT sebagaimana yang telah ditetapkan di dalam kitab suci Al-Qur‘an salah satunya Q.S. Al-Ahzab ayat 59:

ۡؤُوۡلٱ ِءَٰٓاَعًَِّ َكِحاٌََبَّ َكِج ََّٰ ۡشَ ِّلِّ لُق ُِّٖبٌَّلٱ اََُِّٗأَََٰٰٓٗ

َكِل ََٰذ ََّّۚيِِِبِ٘بََٰلَج يِه َّيَِِۡ٘لَع َيًِ٘ ۡدُٗ َيٌِِ٘ه

ا ٗو٘ ِحَّز ا ٗزُْفَغ ُ َّللَّٱ َىاَكَّ ََۗيَۡٗذ ۡؤُٗ َلََف َيۡفَس ۡعُٗ ىَأ ًَََٰٰٓٔ ۡدَأ .

Artinya: “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.87

Berdasarkan hasil analisis dari wawancara, observasi dan dokumentasi yang telah peneliti lakukan maka didapatkan hasil bahwa mayoritas mahasiswi PAI sudah paham betul seperti apa perintah agama dalam aturan menutup aurat bagi kaum wanita. Mereka juga mengetahui batasan-batasan aurat serta mereka mengetahui menutup aurat itu termasuk kewajiban.

Lalu pihak kampus pun telah mensosialisasikan isi kode etik untuk mahasiswa maupun mahasiswi di awal perkuliahan, yang mana isinya membahas materi yang berkaitan dengan tata cara berpakaian yang harus diikuti selama perkuliahan. Isi dari aturan berpakaian mahasiswi IAIN Metro

87 Al-Qur‟an dan Terjemahnya Juz 1-30, 2004.

adalah:

1. Tidak menutup wajah.

2. Rapih, sopan dan berhijab menutupi dada.

3. Menutup aurat hingga pergelangan tangan.

4. Pakaian tidak tipis dan ketat.

5. Tidak memakai rok ketat dan belah terlalu tinggi.

6. Memakai sepaytu dan berkaos kaki.88

Berdasarkan aturan-aturan di atas maka dapat disimpulkan bahwa pihak kampus IAIN Metro sudah amat detail dalam menetapkan peraturan berpakaian yang mana jika ditelaah aturan-aturan tersebut berlandaskan pada syari‘at Islam. Aturan berpakaian tersebut pun sudah menjadi kewajiban mahasiswa dan mahasiswi untuk melaksanakannya, hanya saja masih banyak mahasiswi yang ―bandel‖ dan enggan melaksanakan apa yang sudah menjadi kewajibannya dengan beragam alasan masing-masing.

Dari hasil wawancara dan observasi dengan mahasiswi Jurusan PAI angkatan 2017 dan Kajur PAI mengenai Impelentasi dari pemahaman pakaian muslimah dalam keseharian mahasiswi PAI angkatan 2017 maka dapati hasil bahwa sebagian mahasiswi ada yang sudah mengimplementasikan berpakaian sesuai syari‘at dan sebagian ada juga yang belum. Beberapa mahasiswi mengaku masih belum berpakaian sesuai syari‘at dan hanya terkadang saja.

Masih terdapat sebagian mahasiswi yang memakai baju tipis menerawang, rok dengan belahan, tidak memakai kaus kaki, memakai jilbab tipis hingga terlihat

88 Tim Penyusun, Buku Panduan Kode Etik dan Tata Tertib bagi Mahasiswa.

Dokumen terkait