BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Deskripsi Narasumber
Pelaku Usaha
NO Narasumber Nama Usaha Jenis Usaha
1 Marliana Milenial shop Pakaian dan
Assesoris Hape
2 Qosim Toko Galeri Batik
Pekalongan
Pakaian
3 Nurafiah Jilbab Syahdana Jilbab
Konsumen dan dari J&T
NO Nama konsumen Keterangan 1 Tanti Wilianti Konsumen J&T
2 Fatimah Konsumen J&T
3 Masyita anwar Konsumen J&T
4 Maryam J&T
Ahli agama
No Nama Keterangan
1 Drs. Sanusi Ahli agama
Pembahasan selanjutnya narasumber akan disebut dengan istilah kedua yaitu informan.
C. Hasil dan Analisis
1. Praktik Akad Pengiriman barang untuk meningkatkan jual beli.
Bagi pelaku usaha yang melakukan sistem jual beli online adalah sangat penting. Menurut Marliana yang menjalankan usaha pakaian dan assesoris hape, Menggunakan jasa J&T. Karena sangat membantu. Sebagaimana dia menjelaskan:
Karena mudah, kantornya juga dekat atau mudah didapat, dan pembayarannya bisa juga di bayar tempat atau COD”.49
Jarak kantor J&T yang dekat dan mudah juga didapat, ini yang menjadi alasan Qosim menggunakan jasa perusahaan itu. Selain jarak, Qosim juga mempertimbangkan waktu pengiriman. Sebagaimana dia menjelaskan:
Karena lebih cepat dari jasa pengiriman yang lain”.50
Mengenai waktu pengiriman yang cepat ini juga menjadi alasan Nurafiah, pelaku usaha jual beli jilbab,menggunakan jasa pengiriman J&T kepada konsumen. Sebagaimana dia menjelaskan:
Karena J&T itu estimasi kirimannya lebih cepat dibandingkan jasa pengiriman lain meskipun lebih mahal.”51
Berdasarkan dari apa yang di katakan oleh Marliana, Qosim, dan Nurafiah dapat diambil kesimpulan bahwa alasan mereka memilih jasa pengiriman dipihak J&T itu karena lebih cepat, lebih mudah didapat dan estimasi pengirimannya juga lebih cepat dibandingkan jasa pengiriman lain. Meskipun mahal serta bisa di bayar tempat (cod) harga ongkirnya, pada saat mengirim barang.
49 Marliana. Pelaku Usaha Pakaian dan Assesoris. Wawancara. 03 Februari 2019
50 Qosim, Pelaku Usaha Pakaian Batik Pekalongan. Wawancara. 04 Februari 2019
51 Nurafiah. Pelaku Usaha Jilbab Syahdana. Wawancara. 04 Februari 2019
Menurut Marliana kenapa tidak menggunakan jasa pengiriman barang yang lain. Sebagaimana dia menyatakan:
Karena jasa yang lain itu harus di bayar dulu baru bisa di kirim barangnya dan jika pesan barang lewat aplikasi seperti shopee harus dibayar dulu baru datang barangnya”.52
Menurut Nurafiah juga tidak memilih jasa perusahaan pengiriman barang yang lain, karena mempersoalkan masalah waktu kecepatan pengiriman barang.
Sebagaimana dia menjelaskan:
Saya tidak memilih perusahaan jasa pengiriman lain, Karena agak lama, walaupun murah sih”.53
Berdasarkan apa yang dikatakan oleh Marliana dan Nurafiah diatas dapat disimpulkan bahwa untuk jasa pengiriman lain itu harus membayar dulu ongkirnya baru bisa di kirim barangnya dan jasa lain juga agak lama walaupun murah.
Dalam proses penjualan dan melakukan transaksi dengan pihak pembeli barang Marliana memanfaatkan media sosial sebagai alat untuk berkomunikasi langsung dengan pihak pembeli. Sebagaimana dia menjelaskan:
Adapun proses penjualan, saya mempromosikan barang jualan saya lewat facebook, Whatshapp, dan Instagram. jika ada yang berminat pertama di Tanya mau kirim lewat apa? Biasanya itu dijawab lewat J&T. Karena bisa bayar ditempat. kemudian setelah di tentukan jasa pengirimannya baru dikirim uangnya untuk harga barangnya. Kemudian setelah dikirim uangnya baru saya mengirim barangnya. Itu harga barang ditransfer duluan kalau ongkirnya dibayar ditempat.”54
Sedangkan proses penjualan dan cara transaksi Qosim dengan coustemernya dia juga memanfaatkan media sosial seperti facebook, whatshapp,dan shopee. Sebagaimana dia menjelaskan:
52 Marliana. Pelaku Usaha Pakaian Dan Assesoris. Wawancara. 03 Februari 2019
53 Nurafiah. Pelaku Usaha Jilbab Syahdana. Wawancara.. 04 Februari 2019
54 Marliana. Pelaku Usaha Pakaian Dan Assesoris. Wawancara. 03 Februari 2019
Kalau proses penjualan saya, saya menjual atau mempromosikan barang jualan saya yaitu melalui facebook, instagram, dan shopee. Kalau proses transaksinya itu pihak pembeli bisa lewat shopee, bisa transfer lewat Bank yang tertera di Shopee dan kalau area jawa bisa pake jasa J&T dan bisa bayar tempat (cod)”.55
Sementara itu Nurafiah menjelaskan juga proses penjualan dan cara transaksinya di medial sosial dengan konsumennya. sebagaimana dia menjelaskan:
“Cara penjualannya, seperti penjualan online pada umumnya seperti promosi, promosinya itu dimedsos di facebook kah atau di whatshaap atau di insragram. Kemudian ketika coustemer sudah ada yang minat percakapannya itu lanjut lewat whatshaap untuk membahas deskripsi barang yang akan di beli. Setelah itu ditanyakan dimana akan dikirim untuk menginformasikan kepada coustemer itu ongkirnya . Setelah itu kalau sudah setuju dengan ongkirnya kita melakukan totalan harga barang dan ongkir. Kemudian menunggu transferan dari coustemer setelah itu barang dikirim”.56
Berdasarkan hasil wawancara dari ketiga narasumber bisa disimpulkan bahwa proses penjualannya itu seperti penjualan lainnya. Semacam mempromosikan lewat sosmed dan cara transaksinya itupun sama pula seperti penjual online pada umumnya.
Terkait proses pengiriman ada pedagang yang menyesuaikan keinginan konsumen untuk menggunakan jasa pengiriman barang tertentu dan pembeli juga sempat bertanya berapa lama masa waktu pengirimannya. Sebagaimana Marliana menjelaskan:
“Pelanggannya dapat menentukan sendiri jasa pengiriman barang yang dia inginkan. Pernah, Karena pembeli biasanya sangat memperhatikan masa waktu pengiriman dan keamanan barang sampai ketempat tujuan”.57
55 Qosim, Pelaku Usaha Pakaian Batik Pekalongan. Wawancara. 04 Februari 2019
56 Nurafiah. Pelaku Jilbab Syahdana. Wawancara. 04 Februari 2019
57 Marliana. Pelaku Usaha Pakaian Dan Assesoris. Wawancara. 03 Februari 2019
Hal yang sama yang di jelaskan oleh Qosim bahwa pembeli sering kali menanyakan masa pengiriman sehingga sampai ketempat tujuan. sebagaimana dia menjelaskan:
“ Iya bisa kak coustemer memilih jasa pengirimnya. kalau diluar daerah Jawa itu 5-7 hari. Kalau didaerah Jawa dan sekitarnya itu hanya 2-3 hari”.
58
Nurafiah juga menjelaskan hal yang sama terkait pembeli menentukan perusahaan jasa pengirim sendiri. Pembeli barang juga bertanya berapa lama waktu perjalanan barang sampai ketempat tujuan. Sebagaimana dia menjelaskan:
“Kalo saya sih selalu meminta persetujuan dari pelanggan, mau pilih jasa pos, jnt, jne, atau yalen jadi kalau sudah mengirimkan alamat langsung saya cek-kan ongkir di semua jasa pengiriman. Jadi terkadang pelanggan itu memilih yang paling murah ada juga yang memilih paling cepat sampai meskipun mahal”. Pernah, kalau sekitar sulses itu hanya 2-3 hari”.59
Berdasarkan hasil wawancara dapat di simpulkan bahwa pembeli barang bisa menentukan jasa pengirimannya sendiri, dan mereka pun pasti bertanya beberapa hari sampai barang ke tempatnya.
Di benarakan oleh pihak J&T bahwa proses pengiriman memerlukam waktu selama beberpa hari tergantung pada wilayah kota, jarak pengiriman dan alat transportasi pengiriman barang. Sebagaimana Maryam menjelaskan:
Kalau dalam kota sulsel 1 hari kalau luar kota 2 hari. Kalau luar Sulawesi selatan itu 4 -5 hari. “60
Untuk menjaga keamanan barang yang dikirimkan oleh pelaku usaha melalui J&T, pihak J&T biasanya memeriksa jenis barang apa yang akan dikirim. Kami melakukan wawancara langsung kepada pihak pelaku usaha jenis barang apa yang dia kirim. Karena pihak J&T ingin mencocokkan dan memastikan keamanan
58 Qosim, Pelaku Usaha Pakaian Batik Pekalongan. Wawancara. 04 04 Februari 2019
59 Nurafiah. Pelaku Usaha Jilbab Syahdana. Wawancara. 04 Februari 2019
60 Maryam. Supervisor J&T Express. Wawancara. 04 Februari 2019
barang yang dikirim melalui jasa pengiriman J&T. pihak pengirim. Sebab ada bebarapa barang yang mudah terbakar dan bisa merugikan pihak J&T.
Sebagaimana maryam menjelaskan:
Menurut maryam tujuannya pemeriksaan itu adalah untuk memastikan keamanan barang itu tidak terlarang.61
Untuk menjamin keselamatan barang yang dikirim melalui J&T, pihak J&T menawarkan pembayaran asuransi setiap barang yang dikirimkan. Sehingga bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, misalnya barang hilang, barang rusak. maka pihak penjual sebagai pihak pengirim dan pihak pembeli sebagai pihak penerima akan mendapatkan ganti rugi dari pihak J&T. Namun tdik banak pihak pengirim yang memanfaatkan jasa asuransi itu. Contohnya, Menurut Nurafiah tidak ada jaminan kesealmatan barang yang diberikan oleh pihak J&T. Karena dia tidak pernah mengambil tambahan asuransi. Sebagaimana Nurafiah menjelaskan:
Kalau saya selama ini tidak pernahji pakai tambahan asuransi barang. Karena yang dikirim hanya berupa pakaian jilbab dan sebagainya. Dan bukanji dokumen-dokumen penting. Dan jelas di semua jasa pengiriman itu kalau kita mengirim barang ada semacam resi, jadi di resi itu nanti kita di kasih nomor resi, kemudian untuk membantu pelacakan barang kita sudah dimana”.62
2. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Proses Jual Beli Online
Jual beli adalah bentuk dasar dari kegiatan ekonomi manusia dan merupakan aktivitas yang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Sebagaiman di jelaskan dalam Q.S Al-Baqarah ayat 275 yang berbunyi:
ْۡۚا ََٰٕثِّشنٱ َوَّشَدَٔ َغَۡٛجۡنٱ ُ َّللَّٱ َّمَدَأَٔ ...
61 Maryam. Supervisor J&T Express. Wawancara. 04 Februari 2019
62 Nurafiah. Pelaku Usaha Jilbab Syahdana. Wawancara. 04 Februari 2019
Artinya:
Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Dapat kita simpulkan dari ayat di atas bahwa allah telah menghalalkan jual beli dan mengharapkan riba dalam proses perdagangan maupun jual beli secara online. Adapun hukum jual beli online (berbisnis online) Islam. Dalam Islam berbisnis melaui online diperbolehkan selagi tidak terdapat unsur-unsur riba,kezaliman,monopoli dan penipuan. Namun jual beli online harus memiliki syarat-syarat tertentu boleh atau tidaknya dilakukan. Adapun syarat-syarat mendasar diperbolehkannya jual beli lewat online diantaranya:
1. Tidak melanggar ketentuan syariat agama, seperti transaksi bisnis yang diharamkan, terjadinya kecuragan, penipuan, dan monopoli
2. Adanya kesepakatan perjanjian diantara kedua belah pihak (penjual dan pembeli). Jika terjadi sesuatuyang tidak diinginkan antara sepakat (Alimdha‟) atau pembatalan (Fasakh).
3. Adanya kontrol,sanksi dan aturan hukumyang tegas dan jelas dari pemerintah (lembaga yang berkompeten) untuk menjamin bolehnya berbisnis yang dilakukan transaksinya melalui online bagi masyarakat.
Langkah-langkah yang dapat kita tempuh agar jual beli secara online diperbolehan,halal dan sah menurut syariat Islam.
a. Produk halal: kewajban menjaga hukum halal-haram dal objek perniagaan tetap berlaku, termasuk dalam perniagaan barang atau layanan jasa yang haram, sebagaimana yang di tegaskan dalam hadist:
“Sesungguhnya bila allah telah mengharamkan atau suatu kaum untuk memakan sesuatu,pasti ia mengharamkan pula hasil penjualannya.”
(HR.Ahmad dan Lainnya).
b. Kejelasan status anda
c. Kesesuaian harga dan kualitas barang.
d. Kejujuran anda
Jual beli adalah bentuk dasar dari kegiatan ekonomi manusia dan merupakan aktivitas yang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Menurut Ustadz Drs. Sanusi bahwa jual beli online melalui media sosial sekarang sangat viral di masa sekarang dan pasti berhubungan dengan masalah pengiriman barang lewat perusahaan jasa pengiriman barang. sebagaimana Drs. Sanusi menjelaskan:
Iya pernah, sekarang cukup tenar yang namanya jual beli secara online baik via fb,whatshapp,instagram, shopee, lazada, maupun aplikasi lainnya.
Kalau bicara terkait jual beli online jelas kita harus menggunakan jasa pengirim agar barang si pembeli bisa ketangan pembeli dengan menggunakan jasa J&T, JNE dan sebagainya”. 63
Pandangan Islam terhadap transaksi pengiriman barang bagi pelaku usaha dan pembeli barang yang melakukan ijab dan qabul atas barang yang dibeli oleh pihak pembeli. Sebagaimana Drs. Sanusi menjelaskan:
Sebagaimana keterangan dan penjelasan mengenai dasar hukum hingga persyaratan transaksi jual beli dalam hukum Islam, kalau kita lihat secara pintas mungkin mengarah pada ketidak dibolehkannya transaksi secara online (E-commerce), disebabkan ketidak jelasan tempat dan tidak hadirnya kedua belah pihak yang terlibat dalam tempat. Tetapi kalau kita telaan lagi dengan mencoba mengkolaborasikan antara ungkapan al-Qur‟an, hadist dan ijmma‟, dengan sebuah landasan: “ Pada awalnya semua Muamalah di perbolehkan sehingga ada dalil yang menunjukkan keharamannya”. Sebagaimana ungkapan Abdullah bin Mas”ud : Apa yang telah dipandang baik oleh muslim maka baiklah
63 Ustadz Drs. Sanusi. Toko Agama, Wawancara. 08 Maret 2020.
dihadapan Allah, akan tetapi sebaliknya. Dan yang paling penting adalah kejujuran,keadilan, dan kejelasan dengan memberikan data secara lengkap, dan tidak ada niatan untuk menipu atau merugikan orang lain, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah Ayat 275 dan 282.
ِنََٰر ِّۡۚشًَۡنٱ ٍَِي ٍََُٰطَّۡٛشنٱ ُُّطَّجَخَزَٚ ِ٘زَّنٱ ُوُٕمَٚ بًََك َّلَِإ ٌَُٕيُٕمَٚ َلَ ْا ََٰٕثِّشنٱ ٌَُٕهُكۡأَٚ ٍَِٚزَّنٱ َك
َُِءَٰٓبَج ًٍََف ْۡۚا ََٰٕثِّشنٱ َوَّشَدَٔ َغَۡٛجۡنٱ ُ َّللَّٱ َّمَدَأَٔ ْْۗا ََٰٕثِّشنٱ ُمۡثِي ُغَۡٛجۡنٱ بًَََِّإ ْإَُٰٓنبَل ۡىَََُّٓأِث ٞخَظِػ َٕۡي ۥ
ۡىُْ ُِۖسبَُّنٱ ُت ََٰذ ۡصَأ َكِئ َََٰٰٓنُْٔأَف َدبَػ ٍَۡئَ َُِّۖللَّٱ َٗنِإ َٰٓۥُُِش ۡيَأَٔ َفَهَص بَي ۥَُّهَف َََٰٗٓزَٱَف ۦِِّّثَّس ٍِّي بَِٓٛف
ٌَُٔذِه ََٰخ ٩٧٢
Terjemahnya:
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS.Al- Baqarah: 275)
ۡىُكَُ َّۡٛث تُز ۡكَٛۡنَٔ ُُِٕۡۚجُز ۡكٱَف ٗ ًَّٗضُّي ٖمَجَأ َََٰٰٓٗنِإ ٍٍَۡٚذِث ىُزَُٚاَذَر اَرِإ ْإََُُٰٓياَء ٍَِٚزَّنٱ بََُّٓٚأَََٰٰٓٚ
ُُۢتِربَك
َلََٔ ِۡۚل ۡذَؼۡنٱِث ُّكَذۡنٱ ِّ َۡٛهَػ ِ٘زَّنٱ ِمِه ًُۡٛۡنَٔ ۡتُز ۡكَٛۡهَف ُۡۚ َّللَّٱ ًََُّّهَػ بًََك َتُز ۡكَٚ ٌَأ ٌتِربَك َةۡأَٚ
َۡٙش ُّ ُِۡي ۡشَخۡجَٚ َلََٔ ۥَُّّثَس َ َّللَّٱ ِكَّزَٛۡنَٔ
بًفِٛؼَض َۡٔأ بًِٓٛفَص ُّكَذۡنٱ َِّۡٛهَػ ِ٘زَّنٱ ٌَبَك ٌِإَف ۡۚا ٗٔ ٔ
ًُِٚ ٌَأ ُغِٛطَز ۡضَٚ َلَ َۡٔأ ٌِإَف ُۖۡىُكِنبَجِّس ٍِي ٍَِۡٚذَِٛٓش ْأُذِٓ ۡشَز ۡصٱَٔ ِۡۚل ۡذَؼۡنٱِث ۥُُِّّٛنَٔ ۡمِه ًُۡٛۡهَف َُْٕ َّم
بًََُٰٓىَذ ۡدِإ َّمِضَر ٌَأ ِءَٰٓاَذَُّٓشنٱ ٍَِي ٌَ َٕۡض ۡشَر ًٍَِّي ٌِبَرَأَش ۡيٱَٔ ٞمُجَشَف ٍَِۡٛهُجَس بََُٕكَٚ ۡىَّن َلََٔ ََٰٖۡۚش ۡخُ ۡلأٱ بًََُٰٓىَذ ۡدِإ َشِّكَزُزَف ۡشَر َلََٔ ْۡۚإُػُد بَي اَرِإ ُءَٰٓاَذَُّٓشنٱ َةۡأَٚ
ُُِٕجُز ۡكَر ٌَأ ْإَُٰٓي َٔ ٔ
َر ۡشَر َّلََأ ََََٰٰٓٗ ۡدَأَٔ ِحَذَََّٰٓشهِن ُوَٕۡلَأَٔ ِ َّللَّٱ َذُِػ ُطَضۡلَأ ۡىُكِن ََٰر ۡۚۦِِّهَجَأ َََٰٰٓٗنِإ اًشِٛجَك َۡٔأ اًشِٛغَص َٰٓ َّلَِإ ْإَُٰٓثب
ُشِٚذُر ٗحَشِضبَد ًحَش ََٰجِر ٌَُٕكَر ٌَأ اَرِإ ْآَُٰٔذِٓ ۡشَأَٔ ْۗبَُْٕجُز ۡكَر َّلََأ ٌحبَُُج ۡىُكَۡٛهَػ َشَۡٛهَف ۡىُكََُۡٛث بَََٓٔ
َُٚٔ َُۖ َّللَّٱ ْإُمَّرٱَٔ ْۗۡىُكِث ُُۢقُٕضُف ۥََُِّّإَف ْإُهَؼۡفَر ٌِإَٔ ۡۚٞذَِٛٓش َلََٔ ٞتِربَك َّسَٰٓبَضُٚ َلََٔ ۡۚۡىُز ۡؼَٚبَجَر ُىُكًُِّهَؼ
َۡٙش ِّمُكِث ُ َّللَّٱَٔ ُْۗ َّللَّٱ ٞىِٛهَػ ٍء
٩٨٩
Terjemahnya:
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya,
meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya.
Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya.
Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS.Al-Baqarah:282)
Dari ayat diatas menjelaskan bahwa dalam setiap transaksi, Islam menghalalkan semua transaksi yang tidak ada unsur riba. Sementara itu pada ayat 282 setiap transaksi harus dibuatkan catatan antara kedua belah pihak, agar dapat menjadi bukti bagi kedua belah pihak yang melakukan transaksi.
Adapula yang harus kita tahu bahwa ada tanggung jawab pelaku usaha Terhadap pembeli dalam Prespektif Islam dalam berbisnis yaitu memiliki dua dimensi vertical dan horizontal. Yang dimaksud vertical dan horizontal itu adalah:
1) Tauhid 2) Amanah
3) Sumber daya tersedia karena karunia allah Swt. Demi mencapai kesejahteraan bersama antara sesame manusia.
4) Sikap taawun
5) Bisnis merupakan saranan ibadah.
Kalau berbicara hukum ada dalam UUPK pertanggungjawaban pelaku usaha diatur dalam UU NO. 8 tahun 1999 pada bab VI Pasal 19 sampai Pasal 28.
Bunyi pasalnya:
a. Memberikan ganti rugi atas kerusakan,pencemaran dan kerugian kosumen akibat mengkonsumsi barang atau jasa yang dihasilkan atau di perdagangkan.
b. Memberikan ganti rugi dalam wantu tujuh (7) hari setelah tanggal transaksi.
c. Pembuktian ada tidaknya unsur kesalahan dalam kasus pidanan dan gugatan ganti rugi.
d. Menyediakan suku cadang atau fasilitas purna jurnal.
e. Memberikan jaminan atau garansi sesuai dengan perjanjian.
f. Pembuktian terbalik, yaitu pembuktian yang diberikan kepada pelaku usaha.64
Menurut Islam terhadap jasa pengiriman barang pada pihak perusahaaan J&T telah sesuai dengan syariat Islam atau tidak. Sebagaimana Ustadz Drs.
Sanusi menjelaskan:
Semua perikatan (transaksi) yang dilakukan oleh kedua belah pihak atau lebih,tidak boleh menyimpang dan harus sejalan dengan kehendak syariat. Dalam hukum Islam perjanjian merupakan hubungan yang terjadi tidak dengan Allah tetapi sesama manusia juga atau yang sering disebut dengan muamalah. Dalam hukum Islam setiap jenis muamalah diperbolehkan dengan syarat harus berpedoman pada syariat Islam. Hal ini sebagaiman diatur dalam kaidah Fiqih yang Artinya: hukum dasar mu‟amalah adalah diperbolehkan sampai ada dalil yang melarangnya.”65
64 Ustadz Drs. Sanusi. Toko Agama, Wawancara. 08 Maret 2020
65 Ustadz Drs. Sanusi. Toko Agama, Wawancara. 08 Maret 2020
Berdasarkan kaidah yang barusan artinya dapat kita simpulkan bahwa kaidah tersebut segala macam transaksi dalam hukum Islam siperbolehkan asalkan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dan tidak bertentangan dengan al-Qur‟an dan Hadist. Oleh karena itu transaksi atau perjanjian yang dilakukan oleh jasa pengirim J&T Express yang sering di gunakan sama semua orang yang lakukan pengiriman barang di berbagai daerah kalau dalam hukum Islam diperbolehkan dalam hukum Islam karena tidak bertentangan dengan Syariat Islam.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil pembahasan bahwa akad pengiriman barang sangat membantu pihak pedagang online. Sehingga dapat meningkatkan jual beli produk-produk yang mereka perdagangkan.
2. Berdasarkan tinjuan dari surat Al-baqarah dan penjelasan dari Ustadz Drs.
Sanusi dapat disimpulkan bahwa sistem pengiriman jual beli online dan pengiriman barang itu tidak bertentangan dengan syariat Islam, sehingga diperbolehkan.
B. Saran
1. Baiknya bagi para pebisnis yang melaksanakan jual beli secara online seharusnya mengetahui syarat sah yang diperbolehkan dalam Islam. Tidak boleh menjual yang diharamkan dan menipu pembeli.
2. Baiknya ulama harus bekerja dengan pemerintah untuk memberikan pemahaman terhadap pelaku penjual online terkait halal-haramnya atau boleh dan tidaknya akad pengiriman dan transaksi secara online.
47
DAFTAR PUSTAKA
Adikoesumah, R. Soemita. 2000. Ke Sekretariatan dan administrasi Per Kantoran, no 121, h. 4-39.
Ali, Abdullah Yusuf. 1993. Qur‟an Terjemahan dan Tafsirnya. Cet. I; Jakarta:
Pustaka Firdaus.
Al-Hilali, Syaikh Salim bin „Ied. 2008. Mausuu‟ah al-Manaahisy Syar‟iyyah fii Shahiihis Sunnahan-Nabawiyyah, terj. Abu Ihsan al-Atsari, Ensiklopedi Larangan Menurut Al-Qur‟an dan AsSunnah, Cet. III; Jakarta: Pustaka Imam asy-syafi‟i.
Anwar, Syamsul. 2007. Hukum Perjanjian Islam, Ed. 1. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta.
………2012. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Cahyani, A. Intan. 2013 Fiqh Muamalah. Cet. I; Makassar: Alauddin University Press.
Dahlan, A. Azis. 1996. ed. Ensiklopedi Hukum Islam, jilid 3. Cet. I; Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve.
Departemen Agama Republik Indonesia. 2005. “Al-Qur‟an dan Terjemahnya”.
Jakarta: CV. Kathoda.
Djazuli. 2010 Kaidah-kaidah Fikih: Kaidah-kaidah Hukum Islam dalam Menyelesaikan Masalah-masalah yang Praktis. Cet. I; Jakarta: Kencana.
Fatimah. Penerima Barang. Wawancara .06 Februari 2020.
Ghofur, Ruslan Abd. 2010. Akibat Hukum Dan Terminasi Akad Dalam Fiqh Muamalah, Vol 2, No 2
Hamidjojo, R. Soetojo Prawiro dan Marthalena Pohan. 1978. Hukum Perikatan.
Surabaya : Bina Ilmu.
Haroen, Nasrun. 2000. Fiqh Muamalah Jakarta: Gaya Media Pratama.
Katsir, Ibnu. 1998. Tafsir Ibnu Katsir. Cet. 1; Kuala Lumpur: Victoty Agnecia.
Kau, Sofyan AP. 2007 “Tinjauan Hukum Islam Tentang Jual Beli Via Telepon dan Internet”, AlMizan 3, no. 1: h. 1-19.
Kharofa, Ala‟ Eddin. 1997. Transactions in Islamic Law. Malaysia: A.S.
Noordeen.
Lexy, Moleong. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Lexy, Moleong. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Maman, Rachman. 2011. Metode Penelitian Pendidikan Moral. Semarang:
UnnesPress.
Marliana. Pelaku Usaha Pakaian dan Assesoris Hape, Wawancara. 03 Februari 2020.
Maryam. Supervisor J&T Express. Wawancara. 04 Februari 2020.
Masyita Anwar. Penerima Barang. Wawancara. 03 Februari 2020.
Miles, Matthew B dan A, Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif.
Jakarta: UI Press.
Misbahuddin. 2012. E-Commerce dan Hukum Islam. Cet. I; Makassar: Alauddin University Press.
Nawawi, Ismail. 2012. Fikih Muamalah Klasik Kontemporer. Bogor : Ghalia Indonesia.
Nurafiah. Pelaku Usaha jilbab Syahdana. Wawancara. 04 Februari 2020.
Qosim, Pelaku Usaha Pakaian Batik Pekalongan. Wawancara. 04 Februari 2020.
Rahmat Alam Muhammad. 2014. Bisnis Jasa Pengiriman Barang Dalam Tinjauan Republik Indonesia, Undang-undang RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi
dan Transaksi Elektronik, Bab I, Pasal 1, angka 2.
Republik Indonesia, Undang-undang RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Bab II, Pasal 3.
Republik Indonesia, Undang-undang RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Bab II, Pasal 4.
Republik Indonesia, Undang-undang RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Bab V, Pasal 17.
Republik Indonesia, Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Pasal 1313.
Subekti. 1990. Hukum Perjanjian. Jakarta: Intermedia.
Sugiyono. 2013. Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta.
Tanti Wilianti. Penerima Barang. Wawancara, 06 Februari 2020
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, “Transaksi elektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan komputer, jaringan komputer, dan/atau media elektronik lainnya.
Warpani, Suwardjoko. 1990. Merencanakana Sistem Pengangkutan. Bandung:
Penerbit ITB.
Ustadz Drs. Sanusi. Toko Agama, Wawancara. 08 Maret 2020.
Wirdyaningsih, Gemala Dewi dan Yeni Salma Barlinti. 2013. Hukum Perikatan Islam di Indonesia. Cet. 1; Jakarta: Kencana Prenada Media Group.