BAB IX ICPO INTERPOL
G. DI BIDANG PERENCANAAN ADMINISTRASI
Bidang Perencanaan Administrasi merupakan lembaga yang berfungsi untuk mengatur segala aktivitas yang akan dilaksanakan oleh NCB Interpol dan bertanggung jawab penuh terhadap penciptaan stabilitas kelembagaan . Contohnya : pembuatan susunan kegiatan yang harus dilakukan oleh polisi yang akan menjalankan tugas di Luar Daerah atau Luar Negeri dalam kurun waktu yang telah ditentukan, pengalokasian serorang polisi yang telah dipindahkan dari Polda untuk menjalankan dinas di NCB Interpol, mengatur rapat, membagi tugas kepada setiap Polisi NCB sesuai dengan kewenangan Kapolri, menyusun acara – acara kedinasan seperti menentukan tanggal pertemuan antar lembaga – lembaga kepolisian Negara – negara lain.
C. Penutup
Setelah mempelajari uraian pada bagian penyajian di atas, beberapa pertanyaan yang perlu Saudara jawab antara lain: sebutkan tugas dan kewenangan NCB Interpol di Indonesia? Dan bagaimana struktur organisasinya? Jelaskan fungsi bidang-bidang yang terdapat pada NCB
Interpol di Indonesia Untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik, Saudara diharapkan membaca situs resmi Mabes Polri.
BAB X
TINDAK PIDANA DI BIDANG PENERBANGAN
A. Pendahuluan
Pada bab ini akan diuraikan mengenai tindak pidana di bidang penerbangan.
Tujuannya adalah agar dapat memberikan pemahaman dasar mengenai yurisdiksi terhadap kejahatan dalam pesawat udara pada penerbangan internasional.
B. Penyajian
1. Yurisdiksi Terhadap Kejahatan Pada Penerbangan Internasional
Dalam penerbangan internasional suatu permasalahan akan timbul, misalnya kemungkinan terjadinya pelbagai peristiwa hukum yang dapat mengancam keselamatan para penumpang beserta harta bendanya maupun keselamatan pesawat udara itu sendiri. Peristiwa hukum semacam inilah yang dalam istilah populer lebih dikenal sebagai kejahatan penerbangan.
Konvensi-konvensi internasional yang telah dihasilkan oleh masyarakat internasional yang bertalian dengan kejahatan penerbangan ini adalah : a. Konvensi Tokyo 1963, tentang Kejahatan-kejahatan dan tindakan-
tindakan Tertentu Lainnya yang dilakukan di dalam Pesawat Udara (Convention on offences and Certain Other Acts Commited on Board Aircraft).
Konvensi Tokyo hanya berlaku bagi kejahatan-kejahatan dan tindakan-tindakan tertentu lainnya yang dilakukan di dalam pesawat udara.
Ruang lingkup perbuatan yang termasuk dalam konvensi ini adalah:
- kejahatan-kejahatan terhadap hukum pidana
- tindakan-tindakan baik yang merupakan kejahatan ataupun tidak, yang dapat atau yang membahayakan keselamatan pesawat udara, atau orang-orang, atau barang-barang di dalamnya, ataupun yang
membahayakan ketentraman dan kedisiplinan di dalam pesawat udara.
b. Konvensi Den Haag 1970, tentang Pemberantasan Penguasaan Pesawat Udara secara Melawan Hukum (Convention for the Suppression of Unlawful Seizure of Aircraft).
Konvensi Den Haag lebih ditujukan terhadap tindakan-tindakan yang merupakan penguasaan secara tidak sah atas pesawat udara yang sedang dalam penerbangan (penyelamatan pesawat udaranya) namun keselamatan para penumpang dan awak pesawat serta harta bendanya juga turut diselamatkan.
Ruang lingkup berlakunya konvensi berlaku jika tempat lepas landas atau pendaratan secara aktual dari pesawat udara yang di dalamnya terjadi tindakan-tindakan kejahatan.
c. Konvensi Montreal 1971, tentang Pemberantasan Tindakan-tindakan Melawan Hukum yang Mengancam Keselamatan Penerbangan Sipil (Convention for the Suppression of Unlawful Acts Against the Safety of Civil Aviation).
Konvensi Montreal pengaturannya lebih difokuskan pada usaha pencegahan tindakan-tindakan yang melawan hukum terhadap keselamatan penerbangan sipil.
Ruang lingkup konvensi ini antara lain tindakan-tindakan kekerasan yang diperluas sampai dengan percobaan melakukan (attempt to commit an offence) dan turut serta melakukan (is an accompliance of), maka tiada satu tindakan yang membahayakan penerbangan dan keselamatan penerbangan serta penumpangnya yang akan terhindar dari ketentuan konvensi dan tuntutan pidana.
Masalah ekstradisi terhadap pelaku kejahatan penerbangan
Kewenangan suatu negara untuk menentukan apakah akan mengadili atau tidaknya si pelaku kejahatan tersebut, bertalian dengan penentuan apakah kejahatan itu itu sebagai kejahatan politik atau tidak. Walaupun sudah
ditentukan dalam kedua konvensi bahwa kejahatan tersebut sebagai kejahatan yang dapat diekstradisikan (extraditable crime).
C. Penutup
Setelah mempelajari uraian pada bagian penyajian di atas, beberapa pertanyaan yang perlu Saudara jawab antara lain: sebutkan beberapa konvensi yang berkaitan dengan yurisdiksi terhadap kejahatan dalam pesawat udara pada penerbangan internasional? Untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik, Saudara diharapkan membaca buku I Wayan Parthiana ”Hukum Pidana Internasional dan Ekstradisi”.
BAB XI
KEJAHATAN PERANG A. Pendahuluan
Pada bab ini akan di uraikan mengenai pengertian dan ruang lingkup pelanggaran-pelanggaran berat dan pelanggaran HAM khususnya Kejahatan Perang. Tujuannya adalah agar dapat memberikan gambaran mengenai perbuatan-perbuatan yang termasuk sebagai kejahatan perang.
B. Penyajian
Dalam mukadimah Konvensi tentang tidak dapat ditetapkannya Pembatasan Statuta pada Kejahatan Perang dan Kejahatan terhadap Kemanusiaan, dijelaskan juga bahwa kejahatan-kejahatan perang dan kejahatan-kejahatan kemanusiaan adalah diantara kejahatan-kejahatan yang paling gawat dalam hukum internasional. Kejahatan perang mengharamkan terdapatnya penduduk sipil maupun sarana sipil sebagai korban.
Suasana anti perang ini mempunyai dampak pada berbagai bidang, salah satu di antaranya adalah hukum perang. Karena orang tidak menginginkan adanya atau timbulnya perang, maka istilah perang sejauh mungkin dihindari. Dengan sendirinya istilah hukum perang juga tidak disukai.
Akibat dari pandangan ini adalah ditinggalkannya usaha untuk mempelajari atau menyempurnakan hukum perang. Oleh karena itu untuk mempelajari hukum perang harus ditinjau terlebih dahulu apakah kejahatan perang itu?
Kejahatan Perang merupakan pelanggaran-pelanggaran berat dalam Konvensi Den Haag 1907, Konvensi Jenewa 1949 dan Protokol I-II 1977 yang ditegaskan pula dalam Article 8 Statute of Rome 1998. Dikualifikasikannya pelanggaran-pelanggaran berat dan pelanggaran HAM sebagai kejahatan perang didasarkan pada pemikiran bahwa pelanggaran-pelanggaran berat dan pelanggaran HAM yang terjadi pada masa konflik bersenjata, merupakan perbuatan yang bertentangan dengan prinsip keseimbangan antara asas kepentingan militer dengan asas kemanusiaan yang diakui sebagai hukum kebiasaan perang.
Asas kepentingan militer (Military Necessity Principles) yaitu setiap pihak yang bersengketa diperbolehkan menggunakan seluruh kekuatan militernya di dalam mengalahkan pihak lawan dalam waktu yang sesingkat- singkatnya dan dengan korban sekecil-kecilnya. Berlakunya prinsip ini harus seimbang dengan prinsip kemanusiaan. Prinsip kemanusiaan (Humanity Principles) adalah bahwa setiap pihak yang bersengketa harus mencegah dilakukannya tindakan-tindakan yang menimbulkan penderitaan yang sebenarnya tidak perlu dalam peperangan itu sendiri.
Selanjutnya yang dimaksud dengan pelanggaran-pelanggaran berat (grave breaches) adalah tindakan-tindakan yang dikategorikan sebagai pelanggaran-pelanggaran berat dalam Konvensi Jenewa 1949 dan Protokol Tambahan 1977 yang berlaku dalam sengketa/konflik bersenjata internasional.
Sedangkan yang dimaksud dengan pelanggaran HAM adalah pelanggaran- pelanggaran “jaminan-jaminan dasar” yang diatur dalam Pasal 3 common article Konvensi-konvensi Jenewa 1949 dan Pasal 4 Protokol Tambahan II- 1977, dalam konflik bersenjata non-internasional. Pengertian dan ruang lingkup kejahatan perang terkait dengan bidang Hukum Humaniter, dan diatur dalam Konvensi Den Haag 1907, Konvensi Jenewa 1949 dan Protokol I-II 1977 yang ditegaskan pula dalam Article 8 Statute of Rome 1998 yang berlaku sebagai hukum dan kebiasaan perang, yang kemudian dirumuskan sebagai kejahatan perang dalam Statuta Roma 1998 sebagai bagian dari Most Serious Crime atau pelanggaran HAM berat.
Pengertian dan Ruang Lingkup Kejahatan Perang Definisi / Pengertian Kejahatan Perang “War crimes” : 1. Menurut Peraturan Perundang-undangan Nederlands-Indie
Menurut Pasal 1 Stb. 1946 No. 44 yang dimaksud dengan kejahatan perang adalah perbuatan-perbuatan yang melanggar undang-undang atau adat kebiasaan perang, dilakukan dalam masa perang oleh bawahan sebuah negara musuh atau oleh orang-orang asing antek-antek musuh, seperti:
1. Pembunuhan dan pembunuhan masal;
2. Teror yang sistematis;
3. Pembunuhan tawanan “gijzelaar (orang yang ditahan sebagai jaminan/sandra);
4. Penganiayaan penduduk sipil;
5. Dengan sengaja membuat penduduk lapar;
6. Penculikan gadis-gadis atau wanita-wanita untuk dipaksa menjadi pelacur atau pemaksaan untuk dijadikan pelacur;
7. Pembuangan penduduk-penduduk sipil;
8. Penahanan penduduk-penduduk sipil dalam keadaan yang tidak manusiawi;
9. Pemaksaan penduduk-penduduk sipil melakukan pekerjaan berkaitan dengan aktivitas-aktivitas militer musuh;
10. Perampasan kedaulatan selama penduduk militer;
11. Pemaksaan untuk dijadikan tentara dalam lingkungan penduduk- pendudukan daerah yang didudukinya;
12. Usaha mmenghapus kebangsaan penduduk-penduduk daerah yang didudukinya;
13. Penjarahan;
14. Pembeslahan harta milik (penyitaan);
15. Pemungutan pajak yang tidak sah atau yang tidak wajar atau penuntutan-penuntutan yang tidak wajar;
16. Pemalsuan uang atau pengedaran (pengeluaran) uang palsu;
17. Menjatuhkan hukuman-hukuman kolektif;
18. Dengan nekat merusak atau menghancurkan harta-harta milik;
19. Dengan sengaja membombardir tempat-tempat yang tanpa pertahanan;
20. Dengan nekat merusak atau mengahancurkan gedung-gedung atau monumen-monumen keagamaan, karitatif, pendidikan atau yang bersejarah;
21. Pengrusakan kapal-kapal penumpang atau kapal-kapal niaga tanpa pemberitahuan lebih dahulu atau tanpa mengadakan upaya-upaya untuk menyelamatkan para penumpang dan awak kapal;
22. Pengrusakan kapal-kapal nelayan atau kapal-kapal penolong (relief) ;
23. Pengeboman rumah-rumah sakit dengan sengaja ; 24. Penyerangan atau pengrusakan kapal-kapal hospital ;
25. Pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan lain menyangkut Palang Merah ;
26. Penggunaan gas beracun atau gas yang menyesakkan ;
27. Penggunaan peluru-peluru peledak atau peluru-peluru penghancur atau alat-alat lain yang tidak manusiawi ;
28. Perintah untuk tidak menampung orang ;
29. Perlakuan buruk terhadap orang-orang yang luka atau tawanan- tawanan perang ;
30. Mempekerjakan tawanan-tawanan perang dengan cara yang tidak dibenarkan;
31. Penyalahgunaan bendera putih ; 32. Meracuni sumber-sumber air ;
33. Penahanan masa yang tidak sah (disahkan) ;
34. Perlakuan buruk terhadap penduduk yang diinternir atau tahanan- tahanan
35. Pembuatan pelaksanaan eksekusi atau pelaksanaan eksekusi yang kejam ;
36. Tidak memberi pertolongan atau merintangi pemberian pertolongan kepada korban-korban musibah kapal di laut ;
37. Dengan sengaja tidak mau memberi obat-obatan kepada para pen- duduk ;
38. Melakukan kegiatan-kegiatan permusuhan bertentangan dengan syarat-syarat gencatan senjata atau menghasut untuk dan;
39. Memberi informasi-informasi, memberi kesempatan atau sarana- sarana kepada orang-orang lain untuk melakukan itu (kegiatan permusuhan).
2. Menurut Konvensi Geneva 1949 dan Protokol Tambahan 1977 Pasal 50 Konvensi Jenewa menyatakan bahwa :
“ Pelanggaran-pelanggaran berat (grave breaches) yang dimaksudkan oleh Pasal-Pasal terdahulu adalah pelanggaran-pelanggaran yang meliputi perbuatan-perbuatan berikut, apabila dilakukan terhadap orang atau milik yang dilindungi oleh Konvensi : pembunuhan disengaja, penganiayaan atau perlakuan tidak berperikemanusiaan, termasuk percobaan-percobaan biologis, menyebabkan dengan sengaja penderitaan besar atau luka berat atas badan atau kesehatan, serta penghancuran yang luas dan tindakan perampasan atas harta benda yang tidak dibenarkan oleh kepentingan militer dan yang dilaksanakan dengan melawan hukum serta dengan semena-mena.”
Selain dalam Pasal 50 Konvensi Jenewa 1949 “grave breaches”
juga diatur dalam Pasal 85 Protokol Tambahan 1977. Dari Pasal tersebut yang perlu dikemukakan adalah ayat 1, yang menyatakan :
“ Ketentuan-ketentuan Konvensi tentang penindakan terhadap pelanggaran dan pelanggaran berat yang ditambah dengan Bagian ini, akan berlaku terhadap penindakan pelanggaran dan pelanggaran-pelanggaran berat Protokol ini.”
Dijelaskan pula dalam ayat 5, yang menyatakan :
“ Tanpa mengurangi penerapan Konvensi dan Protokol ini, pelanggaran- pelanggaran berat atas piagam-piagam tersebut harus disebut kejahatan perang. “
Berdasarkan uraian Pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa pelanggaran- pelanggaran berat/grave breaches yang dicantumkan baik dalam Konvensi Jenewa maupun Protokol Tambahan 1977, dapat dianggap sebagai kejahatan perang (“war crimes”).
3. Menurut Statuta International Tribunal Yugoslavia
Ketentuan tentang kejahatan-kejahatan apa yang termasuk dalam yurisdiksi Tribunal tersebut terdapat dalam beberapa Artikel, yaitu :
Art. 2 “ Pelanggaran-pelanggaran berat pada Konvensi Jenewa 1949.
Pelanggaran berat terhadap Konvensi Jenewa 1949 yaitu masing- masing dari perbuatan berikut ini terhadap orang-orang atau hak milik yang dilindungi berdasarkan ketentuan Konvensi Jenewa yang bersangkutan :
1. Pembunuhan yang dilakukan dengan sadar;
2. Penyiksaan atau perlakuan tidak manusiawi, termasuk percobaan biologis;
3. Secara sadar menyebabkan penderitaan berat, atau luka serius terhadap badan atau kesehatan;
4. Perusakan meluas dan perampasan hak milik, yang tidak dibenarkan oleh kebutuhan militer dan dilakukan secara tidak sah dan tanpa alasan;
5. Memaksa seorang tawanan perang atau orang lain yang dilindungi untuk berdinas dalam pasukan dari suatu kekuatan yang bermusuhan;
6. Secara sadar merampas hak-hak seorang tawanan perang atau orang lain yang dilindungi atas pengadilan yang jujur dan adil;
7. Deportasi tidak sah atau pemindahan atau penahanan tidak sah;
8. Menahan sandera.
Art. 3 Violations of the laws and customs of war
The International Tribunal shall have the power to prosecute persons violating the laws and customs of war. Such violations shall include, but not be limited to :
a. Employment of poisonous weapons or other weapons calculated to cause unnecessery suffering;
b. Wanton destruction of cities, towns or villages, or devastations not justified by military necessity;
c. Attack or bombardment by whatever means of underfended towns, villages, dwelling or building;
d. Seizure of destruction or wilful damage done to institutions dedicated to religion, charity and education, the arts and sciences, historic monuments and works of art and science;
e. Plunder of public or private property.
Berdasarkan yurisdiksi dari Tribunal Yugoslavia ternyata tidak dicantumkan adanya kejahatan perang tetapi diuraikan mengenai
a. Grave Breaches of the Geneva Conventions of 1949 seperti yang tercantum dalam Art. 2 dan
b. Violations of the laws or customs of war yang tercantum dalam Art. 3. Yang dicantumkan dalam Art. 3 ini adalah kejahatan- kejatahan yang diambil dari Konvensi Den Haag 1907.
4. Menurut Statuta International Tribunal Rwanda
Dalam “competence” dari Tribunal tidak terdapat istilah war crimes dan sebagai gantinya dalam Art. 1 ditemukan rumusan sebagai berikut :
“ The International Tribunal for Rwanda shall have the power to prosecute persons responsible for serious violations of international humanitarian law commited in the territory of Rwanda………”
Dapat dijelaskan bahwa Pengadilan internasional Rwanda mempunyai kekuasaan untuk menuntut orang yang bertanggung jawab atas pelanggaran serius terhadap hukum kemanusiaan internasional yang di
lakukan dalam wilayah Rwanda. Selanjutnya dalam Art 4 ditemukan violations of Art 3 Common to the the Geneva conventions and of Additional Protocol II. Jadi berbeda dengan perumusan dalam statuta Yugoslavia, disini disebut Additional Protocol II, sedang violations of the laws and customs of war, ditiadakan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, baik dalam statuta untuk Tribunal International untuk bekas Yugoslavia, maupun dalam statuta untuk Tribunal di Rwanda, istilah war crimes tidak digunakan.
5. Menurut Statuta International Tribunal Nuremberg
Yurisdiksi dari International Military Tribunal-Nuremberg diatur dalam Art.6. war crimes disini dirumuskan sebagai violations of the laws and customs of war, disertai dengan kejahatan-kejahatan yang tergolong di dalamnya (pembunuhan, deportasi atau pemaksaan pemindahan penduduk, perbudakan, pemaksaan tawanan perang, pembunuhan sandera, perusakan dan perampasan hak milik yang tidak dibenarkan oleh kebutuhan militer secara paksa). Dengan tambahan kata-kata but not to be limited to, dimaksudkan bahwa masih ada kejahatan lain yang tergolong war crimes, tanpa menyebut kejahatan-kajahatan mana yang dimaksud.
6. Menurut Statuta International Tribunal Far East
Yurisdiksi Tribunal ini diatur dalam Bagian II Art. 5. istilah yang digunakan adalah conventional war crimes maksudnya ialah violations of the laws or customs of war, tanpa menyebutkan kejahatan-kejahatan apa saja yang termasuk didalamnya. Berdasarkan definisi dari ordonansi nederland-indie dan empat Statuta International Tribunal, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa :
Yang memberikan definisi yang sangat luas adalah Ordonansi no. 46- 1946;
Grave breaches yang diatur daalam Konvensi Geneva 1949 dan Protocol Tambahan 1977 dan dianggap sebagai war crimes mencakup sejumlah besar pelanggaran;