• Tidak ada hasil yang ditemukan

DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Dalam dokumen prosiding - Repository UPY (Halaman 197-200)

π“π’π¬π²πš 𝐏𝐞𝐫𝐦𝐚𝐭𝐚𝐬𝐚𝐫𝐒𝟏), π‡πšπ©π’ππ’π§πŸ), πŠπšπ«π§πšππ’πŸ‘)

1Universitas Negeri Jakarta

[email protected]

2Universitas Negeri Jakarta [email protected]

3Universitas Negeri Jakarta [email protected]

ABSTRAK

Di era revolusi industri 4.0 saat ini, kemajuan teknologi semakin berkembang yang menjadikan manusia sulit untuk terpisah dengan teknologi sehingga berdampak terhadap kemampuan sosialnya. Bersamaan dengan itu, era revolusi industri ini menuntut anak memiliki karakteristik mampu bekerja sama maupun berkolaborasi sehingga dapat bertahan pada era modern ini. Kemampuan sosial yang rendah juga akan berdampak terhadap kemampuan anak mengenal berbagai jenis emosi yang berujung lack of social skill dimana anak kesulitan dalam kemampuan membentuk, membina serta mempertahankan hubungan dengan orang lain. Pentingnya mengembangkan kemampuan sosial sebaiknya dimulai dari masa anak usia dini.

Salah satu cara yang dapat digunakan oleh pendidik dalam mengoptimalkan kemampuan sosial anak yaitu dengan permainan kooperatif. Permainan kooperatif akan mempermudah anak untuk berinteraksi intens dengan sesama, memberikan peluang anak untuk bekerja sama dalam menyelesaikan sebuah masalah serta membantu anak memahami berbagai macam emosi yang terjadi saat interaksi berlangsung.

Kata kunci : Kecerdasan Interpersonal, Permainan Kooperatif, Anak Usia Dini, Era Revolusi Industri 4.0

PENDAHULUAN

Salah satu tuntutan yang wajib dimiiki anak pada era revolusi industri ini adalah kemampuan kerja sama maupun kolaboratif. Kemampuan kerja sama maupun kolaboratif didapat dari kecerdasan interpersonal yang dimiliki masing-masing individu. Kecerdasan interpersonal yang dimiliki anak berperan penting dalam perkembangan. Hal ini dikarenakan kecerdasan interpersonal berhubungan dengan kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain dalam bertuk interaksi.

Selama melakukan interaksi, anak akan belajar mengenai emosi-emosi yang

191 | P a g e

ditampilkan orang lain dan memahami emosi diri sendiri yang akan menimbulkan kepekaan dalam membedakan dan merespon perilaku yang ditampilkan orang lain.

Oleh karena itu kecerdasan interpersonal menjadi hal penting yang harus dimiliki.

Kecerdasan interpersonal seorang anak tidak dapat muncul dengan sendirinya, dibutuhkan latihan untuk dapat mengembangkan kecerdasan interpersonal seorang anak. Disinilah peran guru sebagai pendidik anak usia dini untuk memberikan latihan keterampilan sosial kepada anak sejak usia dini. Anak usia dini dibiasakan untuk bersosialisasi dengan teman-teman sebaya, agar kemampuan sosial seperti komunikasi, simpati, empati, mau berbagi, dan saling bekerja sama dapat terjalin.

Apabila anak memiliki kecerdasan interpersonal yang baik, maka anak akan mudah menyesuaikan diri dalam situasi atau lingkungan baru yang akan dihadapinya, baik itu dalam lingkungan keluarga, lingkungan teman sebaya dan lingkungan sekolah.

Pengembangan kemampuan sosial di dalam proses pembelajaran hendaknya dilakukan melalui pemberian pengalaman langsung kepada diri anak, tidak hanya terbatas melalui kegiatan tanya jawab, penugasan, percakapan maupun bercerita.

Melalui pemberian pengalaman langsung, anak akan mengkonstruksi pengetahuan baru berdasarkan pengalaman yang telah dialami oleh anak. Pengalaman langsung untuk mengembangkan kemampuan sosial anak salah satunya dapat dilakukan melalui kegiatan bermain.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dewi menyimpulkan bahwa penerapan metode bermain dapat meningkatkan kemampuan sosial emosional pada anak, dimana metode bermain merupakan cara yang dirancang agar anak dapat mengembangkan kemampuan, seperti membina hubungan dengan anak lain, bertingkahlaku sesuai dengan tuntutan masyarakat, menyesuaikan diri dengan teman sebaya, paham bahwa setiap perbuatan akan ada konsekuensinya, dapat melatih sifat kooperatif anak dan melatih anak menjalin hubungan yang baik dengan orang-orang yang ada dilingkungan sosialnya (Dewi, Asri, & Putra, 2016).

Berdasarkan hal tersebut, dibutuhkan permainan yang dapat melatih sosial. Salah satu permainan yang dapat meningkatkan kemampuan sosial emosional pada anak adalah dengan permainan kooperatif. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Anindya (2015) menyebutkan bahwa permainan kooperatif dapat meningkatkan keterampilan sosial anak secara efektif. Dimana kemampuan sosial dapat ditingkatkan melalui permainan kooperatif yang ditandai dengan adanya kerjasama atau pembagian tugas dan pembagian peran antar anak-anak yang terlibat dalam permainan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Bermain secara kooperatif dapat mengembangkan kemampuan mereka dalam bersosialisasi dan melatih emosional mereka tanpa meninggalkan dunia bermain. Apabila anak diberi permainan kooperatif secara berkala, maka akan dapat mengembangkan aspek kognisi, emosi dan sosial sehingga anak akan berkembang secara optimal.

Berkaitan dengan riset terdahulu yang pernah dilakukan, penelitian yang dilakukan oleh Handayani dengan judul β€œUpaya Meningkatkan Kecerdasan Interpersonal Anak Usia Dini Melalui Outdoor Learning TK Pembina Kabupaten

192 | P a g e

Rembang”. Menjelaskan bahwa pembelajaran outdoor dapat meningkatkan kecerdasan interpersonal anak TK Pembina dimana pembelajaran yang dilakukan dengan metode alam terbuka dengan penekanan pendekatan melaui eksperimental learning (Handayani & Ampuni, 2019). Penelitian lainnya dilakukan oleh Adawiyah dengan judul: β€œModel Pembelajaran Proyek Bermuatan Budaya Lokal Dalam Meningkatkan Kecerdasan Interpersonal dan Visual-spasial” menjelaskan bahwa terdapatnya peningkatan yang signifikan terhadap kecerdasan interpersonal yang dimiliki anak yang terlihat dari hasil uji pre perlakuan dan post perlakuan (Adawiyah

& Barat, 2018).

Berdasarkan hasil penelitian-penelitian terdahulu, penelitian yang dilakukan banyak berfokus pada pemberian model pembelajaran untuk meningkatkan kecerdasan interpersonal, sedangkan pada studi literatur ini, kecerdasan interpersonal dapat dilatih dengan cara metode bermain kooperatif. Permainan kooperatif dapat dilakukan dengan cara kompetisi maupun non kompetisi (Syamsidah, 2015). Permainan kooperatif yang dilakukan secara kompetisi akan lebih efektif melatih kemampuan anak bekerja sama dalam sebuah kelompok.

METODE PENELITIAN

Metodelogi yang digunakan pada penelitian ini adalah studi literatur, dimana studi literatur merupakan jenis penelitian dengan menjawab permasalahan yang ada dengan meninjau literatur-literatur yang sesuai sehingga dapat diberikan solusi atas permasalahan tersebut. Literatur yang digunakan berupa buku, jurnal nasional maupun internasional serta tinjauan media-media masa yang sesuai.

PEMBAHASAN

Permainan Kooperatif

Dasar teori permainan kooperatif diambil dari metode pembelajaran kooperatif yang dilandasi oleh teori konstrutivisme. Pada dasarnya pendekatan teori konstrutivisme dalam belajar adalah suatu pendekatan di mana anak harus secara individual menentukan dan mentransformasikan informasi yang kompleks, memeriksa informasi dengan aturan yang ada dan merevisinya bila perlu (Rusman, 2017).

Menurut Slavin, pembelajaran kooperatif menggalakkan anak berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok (Slavin, 2007). Pada hakikatnya pembelajaran kooperatif sama dengan kerja kelompok yang didalamnya terdapat sharing proses antar anak.

Dalam pembelajaran ini akan tercipta sebuah interaksi yang lebih antar anak.

Pada anak usia dini, terdapat beberapa kategori permainan yang diklasifikasikan oleh parten yang disebutnya dalam Parten’s Classic Study of Play sebagai berikut: 1) Unoccupied Play / Permainan Rekapitulasi, 2) Solitary Play / Permainan Solitary, 3) Onlooker Play, 4) Parallel Play, 5) Associative Play, 6) Cooperative Play (Hurlock, 2008). Parten menjelaskan bahwa cooperative play (permainan kooperatif) merupakan permainan dalam kelompok yang terorganisasi, dengan kegiatan-kegiatan konstruktif dan setiap anak mempunyai peranan sendiri- sendiri. Kelompok ini dipimpin dan diarahkan oleh satu atau dua orang anak sebagai

Dalam dokumen prosiding - Repository UPY (Halaman 197-200)