• Tidak ada hasil yang ditemukan

Diagnosa Keperawatan

Dalam dokumen DAFTAR ISI (Halaman 131-148)

BAB IV TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

2. Diagnosa Keperawatan

Masalah keperawatan atau diagnose keperawatan merupakan suatu penialaian klinis mengenai respons klien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik yang berlangsung secara actual maupun potensial. Diagnosa keperawatan bertujuan untuk mengidentifikasi respons klien individu, keluarga dan komunitas terhadap situasi yang berkaitan dengan kesehatan (PPNI, 2017)

Terdapat penegakkan diagnose yang sama pada klien 1 dan 2 yaitu sebagai berikut :

a. Nyeri Kronis

Nyeri kronis didefinsikan pengalaman sensorik atau emosional yang berkitan dengan kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga

berat dan konstan, yang berlangsung lebih dari 3 bulan (PPNI, 2017).

Hasil pengkajian pada klien 1 menunjukkan adanya masalah gangguan rasa nyaman. Klien 1 mengeluh rasa tidak nyaman pada lutut terkadang ada nyeri timbul dengan skala 2 seperti tertusuk dan terjadi secara hilang timbul, nyeri biasanya timbul setelah beraktivitas berat. Klien tampak gelisah dan sesekali memegang lutunya.

Hasil pengkajian pada klien 2 menunjukkan adanya masalah nyeri kronis yang ditandai dengan keluarga pada klien 2 mengeluh adanya nyeri pada kaki hingga tumit dengan skala 5, nyeri seperti tegang tertusuk-tusuk. Klien juga mengatakan nyeri muncul saat pagi hari dan nyeri di rasakan sudah sejak 7 bulan yang lalu.

Berdasarkan (PPNI, 2017) gejala tanda mayor yaitu klien mengeluh nyeri, tampak meringis, gelisah, dan tidak mampu menuntaskan aktivitas.

Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Adhiputra, 2017) yaitu pasien dengan osteoathritis (OA) biasanya mengeluh nyeri pada sendi yang terkena yang bertambah dengan gerakan atau waktu melakukan aktivitas dan berkurang dengan istirahat.

Penatalaksanaan nyeri secara non farmakologis juga meliputi teknik relaksasi nafas dalam. Berdasarkan penelitian Aini, dkk (2018) mengenai pengaruh terapi relaksasi nafas dalam terhadap penurunan tingkat nyeri, yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada pemberian teknik relaksasi nafas dalam terhadap

penurunan persepsi nyeri.

Menurut pendapat (Isrizal & Lestari, 2019) hubungan pengetahuan klien dengan cara mengatasi nyeri pada radang sendi disebabkan oleh pengetahuan. Apabila dihubungkan dengan data umum nya, jika dilihat dari segi pengetahuan klien yang baik tentang penyakitnya, maka ia dapat meningkatkan upaya penatalaksanaan terhadap penyakit tersebut. Dapat disimpulkan pengaruh pengetahuan klien tentang radang sendi dengan cara mengatasi nyeri yang dilakukan adalah berbanding lurus.

Berdasarkan diagnosis tersebut penulis berasumsi bahwa faktor pencetus nyeri adalah kurangnya pengetahuan klien mengenai penyakitnya dan cara penanganannya.

b. Defisit Pengetahuan

Kesiapan peningkatan pengetahuan adalah ketiadiaan atau kurangnya informasi kognitif yang berkaitan dengan topik tertentu (PPNI, 2017).

Pada keluarga klien 1 yaitu Tn. A berusia 65 tahun sebagai kepala keluarga dengan pendidikan terakhir SM A. Keluarga Tn. A mengatakan ingin mengetahui lebih banyak terkait osteathritis, Keluarga sering menanyakan penyakitnya. Sedangkan pada klien 2 yaitu Ny. J sebagai ibu rumah tangga berusia 47 tahun dengan keseharian ibu mengasuh anak dan menjahit, keluarga Ny. J mengatakan ingin mengetahui lebih banyak terkait osteoathritis.

Berdasarkan (PPNI, 2017) gejala tanda mayor mengungkapkan menanyakan masalah yang dihadapi, menunjukkan prilaku tidak susai anjuran, dan menunjukkan persepsi yang keliru terhadap masalah.

Kurang pengetahuan dipicu oleh tingkat pendidikan, usia dan pekerjaan anggota keluarga atau pun klien. Tingkat pengetahuan keluarga dapat mempengaruhi sikap dan persepsi dalam merawat anggota keluarga yang sakit sesuai dengan teori (Yuswatiningsih, 2017) penyuluhan kesehatan yang diberikan kepada lansiabisa menambah wawasan atau informasi tentang cara perawatan osteoarthritis, selain itu dengan adanya penyuluhan kesehatan lansialebih memahami tentang tanda dan gejala penyakit osteoarthritis dan memahami perawatan tentang osteoarthritis dalam hal melakukan aktivitas serta pola makan yang sehat.

Dari pernyataan diatas penulis berasumsi bahwa pendidikan kesehatan sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan pada klien 1 dan klien 2 sesuai dengan pernyataan dari (Sari, 2013) Pendidikan kesehatan merupakan suatu proses perubahan pada diri seseorang dengan maksud untuk mencapai derajat sehat serta memiliki tujuan untuk mengubah perilaku yang tidak sehat menjadi sehat baik pada individu, kelompok, dan masyarakat.

Berikut pembahasan diagnose yang berbeda pada klien 1 dan klien 2 :

a. Manajemen Kesehatan Keluarga Kurang Efektif

Manajemen kesehatan keluarga kurang efektif didefinsikan pola penanganan masalah kesehatan dalam keluarga tidak memuaskan untuk memulihkan kondisi kesehatan anggota keluarga (PPNI, 2017).

Pada keluarga klien 1 yaitu Tn. A berusia 65 tahun sebagai kepala keluarga dengan pendidikan terakhir SMA. Keluarga Tn. A mengatakan jarang berolahraga dan keluarga kurang memahami cara penanganannya.

Mubarak dkk (2011) mengatakan bahwa keluarga merupakan faktor pendorong yang menguatkan perilaku yang terwujud dalam sikap dan gaya hidup yang mempengaruhi status kesehatan individu atau masyarakat. Sejalan dengan pernyataan menurut Friedman (2010) dengan pendekatan 5 tugas kesehatan keluarga yaitu : mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya, mengambil keputusan tindakan kesehatan yang tepat, memberikan perawatan, mempertahankan suasana rumah yang menguntungkan kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga, mempertahanakan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembaga kesehatan.

Osteoartritis adalah salah satu jenis artritis yang sering terjadi, oleh karena itu perlu adanya peranan khusus pada perawatan osteoartritis terutama bagi keluarga. Peran keluarga dalam

perawatan diantaranya yaitu menjaga dan merawat kondisi anggota keluarga agar tetap dalam keadaan optimal dan produktif, memperthankan dan meningkatkan status mental, mengantisipasi adanya perubahan sosial dan ekonomi, memotivasi dan memfasilitasi untuk memenuhi kebutuhan spiritual (Darwinto, dkk 2013) dalam (Ayunintyas, 2019).

Berdasarkan keluhan tersebut penulis berasumsi untuk melakukan edukasi peran keluarga dalam merawat penderita osteoartritis misalnya dengan mengingatkan tentang hal yang tidak boleh dilakukan seperti mengkonsumsi kacang-kacangan, aktivitas berlebih, dan menjaga agar berat badan normal dan ideal. Selain itu keluarga dapat memberikan kompres air hangat apabila penderita merasa nyeri sendi dan selalu memberikan dukungan psikososial terhadap penderita.

b. Resiko Jatuh

Resiko jatuh didefinsikan beresiko mengalami kerusakan fisik dan gangguan kesehatan akibat terjatuh. (PPNI, 2017).

Hasil pengkajian pada klien 1 menunjukkan adanya masalah resiko Jatuh. Klien 1 berumur 65 tahun mengatakan pernah kecelakaan jatuh dari motor sekitar 3 bulan yang lalu, terkadang kaki nya kram dan penglihatan buram, klien juga terlihat sedikit pincang.

Selaras dengan hasil penelitian (Condrowati, 2015) yaitu jika dikaitkan dengan risiko jatuh diketahui bahwa rata-rata usia lansia memiliki risiko jatuh tinggi. Proses menua ditandai dengan menurun atau menghilangnya secara perlahanlahan kemampuan jaringan untuk mengganti diri, memperbaiki struktur dan mempertahankan fungsi normalnya (Mujahidullah, 2012).

Berdasarkan keluhan tersebut penulis berasumsi untuk melakukan edukasi pada keluarga atau orang-orang terdekatnya melalui suatu kegiatan pemberian penyuluhan kesehatan dengan harapan dapat mengindentifikasi factor risiko, penilaian keseimbangan dan gaya berjalan, latihan fleksibilitas gerakan, latihan keseimbangan fisik dan koordinasi keseimbangan, dan memperbaiki kondisi lingkungan yang dianggap tidak aman.

Untuk melakukan pencegahan agar lansia tidak beresiko untuk jatuh, maka diperlukan pengetahuan dan keterampilan yang perlu dilakukan oleh orang-orang terdekatnya seperti keluarga. Selaras dengan jurnal (Nurhasanah & Nurdahlia, 2020) melalui pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai dengan baik oleh orang-orang terdekatnya akan meminimalisir angka kejadian jatuh pada lansia karena tercipta lingkungan yang aman bagi lansia.

(Kamel & Et,Al, 2013) menyatakan hal yang bisa dilakukan adalah memodifikasi lingkungan rumah seperti membuat lantai tidak licin, lantai yang rata, tidak ada barang-barang yang

berserakan di lantai, pencahayaan yang cukup dan tidak menyilaukan serta mengurangi tangga yang ada di jalur lansia berjalan. Sekitar 24% lansia jatuh ditangga dan 36 % jatuh terjadi diluar.

3. Intervensi Keperawatan

Menurut Setiadi (2012) dalam (Indah Sari, 2020) Perencanaan keperawatan adalah bagian dari fase pengorganisasian dalam proses keperawatan sebagai pedoman untuk mengarahkan tindakan keperawatan dalam usaha membantu, meringankan, memecahkan masalah atau untuk memenuhi kebutuhan pasien. Peneliti telah membuat intervensi keperawatan sesuai dengan buku Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI).

a. Nyeri Kronis

Rencana tindakan keperawatan pada osteoathritis yang akan dilakukan pada pasien 1 dengan masalah nyeri akut berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga untuk merawat anggota keluarga yang sakit, peneliti telah mencantumkan tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama waktu yang ditentukan diharapkan nyeri akut dapat berkurang dengan kriteria hasil Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun, frekuensi nadi membaik antara lain : 1. Monitor skala nyeri, 2. Lihat reaksi nonverbal klien, 3.

Ajarkan tehnik relaksasi nafas dalam, 4. Anjurkan klien untuk mengompres hangat didaerah yang nyeri.

Rencana tindakan keperawatan pada osteoathritis yang akan dilakukan pada pasien 2 dengan masalah nyeri kronis berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga untuk merawat anggota keluarga yang sakit, peneliti telah mencantumkan tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama waktu yang ditentukan diharapkan nyeri akut dapat berkurang dengan kriteria hasil Keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah menurun, frekuensi nadi membaik antara lain : 1. Monitor skala nyeri, 2. Lihat reaksi nonverbal klien, 3.

Ajarkan tehnik relaksasi nafas dalam, 4. Anjurkan klien untuk mengompres hangat didaerah yang nyeri.

b. Defisit pengetahuan

Rencana tindakan keperawatan pada osteoathritis yang akan dilakukan pada pasien 1 dengan masalah defisit pengetahuan berhubungan dengan ketidak mampuan keluarga mengenal masalah kesehatan, peneliti telah mencantumkan tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama waktu yang ditentukan diharapkan tingkat pengetahuan meningkat dengan kriteria hasil Kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang suatu topic meningkat, perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkat, pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun, persepsi yang keliru terhadap masalah menurun antara lain : 1. Identifikasi tingkat pengetahuan klien, 2.

Identifikasi kemungkinan penyebab yang muncul pada klien osteoarthritis, 3. Berikan pendidikan kesehatan, 4. Diskusikan pilihan

penanganan yang cocok pada klien.

Rencana tindakan keperawatan pada osteoathritis yang akan dilakukan pada pasien 2 dengan masalah nyeri akut berhubungan dengan ketidak mampuan keluarga mengenal masalah kesehatan, peneliti telah mencantumkan tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama waktu yang ditentukan diharapkan tingkat pengetahuan meningkat dengan kriteria hasil Kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang suatu topic meningkat, perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkat, pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun, persepsi yang keliru terhadap masalah menurun antara lain : 1. Identifikasi tingkat pengetahuan klien, 2.

Identifikasi kemungkinan penyebab yang muncul pada klien osteoarthritis, 3. Berikan pendidikan kesehatan, 4. Diskusikan pilihan penanganan yang cocok pada klien.

c. Resiko jatuh

Rencana tindakan keperawatan pada osteoathritis yang akan dilakukan pada pasien 1 dengan masalah resiko jatuh berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga untuk merawat anggota keluarga yang sakit, peneliti telah mencantumkan tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama waktu yang ditentukan diharapkan tingkat jatuh dapat berkurang dengan kriteria hasil jatuh saat berdiri menurun, jatuh saat duduk menurun, jatuh saat berjalan menurun antara lain : 1. Identifikasi factor yang mempengaruhi resiko jatuh, 2.

Anjurkan klien untuk berpegangan jika tidak kuat, 3. Anjurkan klien menggunakan tongkat jika perlu 4. Anjurkan klien untuk menghindari lantai yang basah/licin.

d. Manajemen kesehatan keluarga kurang efektif

Rencana tindakan keperawatan pada osteoathritis yang akan dilakukan pada pasien 2 dengan masalah manajemen kesehatan keluarga kurang efektif berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga untuk merawat anggota keluarga yang sakit, peneliti telah mencantumkan tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama waktu yang ditentukan diharapkan tingkat jatuh dapat berkurang dengan kriteria hasil kemampuan menjelaskan masalah kesehatan yang di alami meningkat, aktivitas keluarga mengatasi masalah kesehatan tepat meningkat, verbalitas kesulitan menjalankan perawatan yang di tetapkan menurun antara lain : 1. Identifikasi kesiapan dan kemampuan me-nerima informasi, Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan, 2. Jelaskan manfaat kesehatan dan efek fisiologis latihan gerak, 3. Jelaskan jenis latihan yang sesuai dengan kondisi kesehatan, 4. Beri reinforcement positif atas usaha yang dilakukan keluarga

4. Implementasi Keperawatan

Implementasi yang dilakukan pada klien 1 dan pada klien 2 dilakukan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun dan disesuaikan dengan masalah keperawatan yang ditemukan pada klien. Implementasi yang

dilakukan pada klien 1 tanggal 27 Juli-01 Agustus 2021 dan pada klien 2 tanggal 27,28,31 Juli – 01,03,04 Agustus 2021.

Berdasarkan perencanaan yang telah dibuat peniliti melakukan tindakan keperawatan yang telah disusun sebelumnya, bahwa seluruh intervensi telah dilaksanakan.

Berdasarkan perencanaan yang disusun oleh peneliti melakukan tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah nyeri kronis pada pasien yaitu : memonitor skala nyeri , memonitor tanda-tanda vital, melihat reaksi nonverbal klien, mengajarkan tehnik relaksasi nafas dalam, menganjurkan klien untuk mengompres hangat didaerah yang nyeri.

Menganjurkan teknik relaksasi nafas dan kompres hangat selaras dengan pernyataan (Kristanti & DKK, 2018) pemberian kompres hangat dan relaksasi nafas dalam sama-sama efektif untuk menurunkan nyeri karena kompres hangat dan relaksasi nafas dalam memberikan efek rasa nyaman dan memperlancar peredaran darah sehingga mengurangi nyeri yang dialami pasien artritis.

Berdasarkan perencanaan yang disusun oleh peneliti melakukan tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah kurangnya pengetahuan yaitu: mengidentifikasi tingkat pengetahuan klien, mengidentifikasi kemungkinan penyebab yang muncul pada klien osteoarthritis, memberikan pendidikan kesehatan, mendiskusikan pilihan penanganan yang cocok pada klien.

Pendidikan kesehatan untuk mengatasi kurangnya pengetahuan pada klien 1 dan 2 sesuai pernyataan Notoatmodjo (2012) dalam (Susilo, 2012) Pendidikan kesehatan adalah aplikasi atau penerapan pendidikan dalam bidang kesehatan. Secara operasional pendidikan kesehatan adalah semua kegiatan untuk memberikan dan meningkatkan pengetahuan, sikap, praktek baik individu, kelompok atau masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri.

Berdasarkan perencanaan yang disusun oleh peneliti melakukan tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah resiko jatuh yaitu : identifikasi tingkat kekuatan otot klien, identifikasi factor yang mempengaruhi resiko jatuh, menganjurkan klien untuk berpegangan jika tidak kuat, menganjurkan klien menggunakan tongkat jika perlu, menganjurkan klien untuk menghindari lantai yang basah/licin.

Penyataan Meridean Maas (2014) dalam (Wulandari, 2016) Keadaan lingkungan rumah yang berbahaya dan dapat menyebabkan jatuh harus dihilangkan. Penerangan rumah harus cukup tetapi tidak menyilaukan.

Lantai rumah datar, tidak licin, bersih dari benda – benda kecil yang susah diliat. Peralatan rumah tangga yang sudah tidak aman (lapuk, dapat bergeser sendiri) sebaiknya di ganti, peralatan rumah ini sebaiknya diletakkan sedemikian rupa sehingga tidak mmenggangu jalan atau tempat aktivitas lansia. Kamar mandi dibuat tidak licin, sebaiknya diberi pegangan pada dindingnya, pintu yang sudah dibuka. Wc sebaiknya dengan kloset duduk dan diberi pegangan pada dinding. Alat bantu

berjalan yang dipakai lansia baik berupa tongkat, kruk, atau walker harus dibuat dari bahan yang kuat tetapi ringan, aman tidak mudah bergeser serta sesuai dengan ukuran tinggi badan lansia.

Berdasarkan perencanaan yang disusun oleh peneliti melakukan tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah manajemen kesehatan keluarga kurang efektif yaitu: mengidentifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi, menyediakan materi dan media pendidikan kesehatan, menjelaskan manfaat kesehatan dan efek fisiologis latihan gerak, menjelaskan jenis latihan yang sesuai dengan kondisi kesehatan, dan memberikan reinforcement positif atas usaha yang dilakukan.

Tujuan latihan ini antara lain adalah untuk memperbaiki fungsi sendi, meningkatkan lingkup gerak sendi, meningkatkan kekuatan otot, proteksi sendi dari kerusakan dengan mengurangi stres pada sendi, mencegah kecacatan dan meningkatkan kebugaran jasmani serta meningkatkan kualitas hidup penderita. sesuai dengan pernyataan (Jamtvedt, et al, 2008) dalam (Wardojo & DKK, 2020) bahwa pemberian exercise therapy sangat dianjurkan karena memberikan hasil yang baik dalam menurunkan nyeri yaitu sebanyak 92%, dan peningkatan kekuatan otot sebanyak 85% .

Sehingga penulis berasumsi untuk memberikan pendidikan kesehatan mengenai perawatan keluarga dengan mengajarkan latihan gerak sederhana. Serta penulis juga melakukan demonstrasi pada klien 1 dan 2 terkait latihan gerak sederhana seperti quad set, straight leg raise, knee extension, heel pain dan heel spur treatments.

Selaras dengan pernyataan Arovah, (2007) bahwa terapi latihan dilakukan secara bertahap dengan tujuan meminimalkan cedera dengan memperkuat otot pendukung sendi. memulihkan kekuatan dan jangkauan gerak agar dapat dilakukan aktivitas seperti semula. Latihan yang berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan keseimbangan, kekuatan, fleksibilitas, ketahanan dan kemampuan propioseptor otot yang pada akhimya dapat mencegah terjadinya cedera yang berulang.

Pada klien 1 dengan diagnosis gangguan rasa nyaman penulis melakukan tindakan keperawatan dengan menganjurkan pemberiaan relaksasi napas dalam dan kompres hangat. Diagnosis kurang pengetahuan penulis melakukan penyuluhan/pendidikan kesehatan terkait apa itu penyakit osteoathritis serta bagaimana cara penaganannya. Diagnosis manajemen keluarga kurang efektif penulis melakukan edukasi dan demonstrasi mengenai latihan gerak sederhana pada klien osteoathritis.

Dan diagnosis resiko jatuh penulis melakukan edukasi mengenai resiko jatuh dan memperkecil resiko jatuh dengan menganjurkan klien untuk berhati-hati saat jalan atau memakai alat bantu jalan.

Pada klien 2 dengan diagnosis nyeri kronis penulis melakukan monitoring nyeri pada klien serta menganjurkan relaksasi napas dalam dan kompres hangat. Sedangkan dalam diagnosis kurang pengetahuan penulis melakukan penyuluhan/pendidikan kesehatan terkait apa itu penyakit osteoathritis serta bagaimana cara penaganannya. Dan diagnosis manajemen keluarga kurang efektif penulis melakukan edukasi dan

demonstrasi mengenai latihan gerak sederhana pada klien osteoathritis.

5. Evaluasi Keperawatan

Menurut Dinarti & Et,Al (2013) dalam (Indah, 2020) Evaluasi keperawatan dicatat disesuaikan dengan setiap diagnosa keperawatan.

Evaluasi untuk setiap diagnose keperawatan meliputi data subyektif (S) data obyektif (O), analisa permasalahan (A) klien berdasarkan S dan O, serta perencanaan ulang (P) berdasarkan hasil analisa data diatas. Evaluasi ini disebut juga evaluasi proses. Semua itu dicatat pada formulir catatan perkembangan (progress note).

Hasil evaluasi yang sudah didapatkan setelah melakukan asuhan keperawatan keluarga pada klien 1 yaitu di dapatkan data evaluasi subjek keluarga sudah memahami tentang apa itu osteoathritis, penyebab osteoathritis, tanda dan gejala osteoathritis, faktor risiko osteoathritis, komplikasi dari osteoathritis, cara penanganan osteoathritis. Keluarga juga telah memahami dan mampu mengulangi terkait materi yang disampaikan serta mampu menerapkan relaksasi napas dalam dan kompres hangat saat nyeri timbul. Klien juga dapat menerapkan latihan gerak sederhana pada klien osteoathritis, serta klien dapat memodifikasi lingkungan secara mandiri untuk memperkecil terjadinya resiko jatuh.

Hasil evaluasi yang sudah didapatkan setelah melakukan asuhan keperawatan keluarga pada klien 2 yaitu di dapatkan data evaluasi subjek keluarga sudah memahami tentang apa itu osteoathritis, penyebab osteoathritis, tanda dan gejala osteoathritis, faktor risiko osteoathritis,

komplikasi dari osteoathritis, cara penanganan osteoathritis. Keluarga juga telah memahami dan mampu mengulangi terkait materi yang disampaikan serta mampu menerapkan relaksasi napas dalam dan kompres hangat saat nyeri timbul. Klien juga dapat menerapkan latihan gerak sederhana pada klien osteoathritis

Dari hasil evaluasi didapatkan masalah yang teratasi yaitu diagnosa nyeri akut, kurangnya pengetahuan, dan resiko jatuh, sehingga intervensi dihentikan. Sedangkan untuk masalah nyeri kronis teratasi sebagian sehingga intervensi tetap dilanjutkan.

kedua keluarga penulis berasumsi bahwa pendidikan kesehatan ini sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan terkait merawat keluarga dengan osteoathritis selaras dengan (Widyastuti, 2008 ) Pendidikan kesehatan merupakan salah satu tindakan keperawatan yang mempunyai peranan yang penting dalam memberikan pengetahuan kepada klien tentang suatu penyakit, sehingga nantinya pasien yang terkena osteoarthritis dapat bersikap untuk mencegah terjadinya kekambuhan. Dan sesuai dengan pernyataan (Yuswatiningsih, 2017) bahwa terdapat pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap kesehatan keluarga dalam memberikan perawatan pada penderita osteoahritis.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil peneitian dan pembahasan BAB IV mengenai asuhan keperawatan keluarga pada anak dengan asma di lingkungan kerja Puskesmas Lamaru dan Puskesmas Sumber Rejo, maka kesimpulan dan saran adalah sebagai berikut :

A. Kesimpulan 1. Pengkajian

Pengkajian didapatkan dari hasil. Terdapat perbedaan dalam hasil pengkajian yaitu pada klien 1 ditemukan adanya resiko jatuh. Sedangkan pada klien 2 ditemukan manajemen kesehatan keluarga kurang efektif.

2. Diagnose Keperawatan

Diagnosa keperawatan pada klien 1 dan klien 2 terdapat perbedaan.

Pada klien 1 ditegakkan 3 diagnosa keperawatan nyeri kronis, defisit pengetahuan, dan resiko jatuh. Sedangkan pada klien 2 ditegakkan 3 diagnosa keperawatan yaitu nyeri kronis, defisit pengetahuan, dan manajemen kesehatan keluarga tidak efektif.

3. Intervensi Keperawatan

Intervensi yang digunakan dalam kasus pada klien 1 dan klien 2 disusun sesuai dengan diagnosa yang ditegakkan dan disesuaikan dengan teori yang ada. Intervensi disusun sesuai dengan masalah yang ditemukan berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan.

4. Implementasi Keperawatan

Implementasi keperawatan dilaksanakan sesuai dengan rencana tindakan yang telah disusun. Implementasi pada klien 1 dan klien 2 sesuai dengan kebutuhan klien dengan osteoathritis. Dalam implementasi pada klien 1 dan klien 2 penulis telah melakukan semua rencana tindakan yang telah dibuat.

5. Evaluasi Keperawatan

Akhir dari proses keperawatan adalah evaluasi terhadap asuhan keperawatan yang diberikan. Evaluasi yang dilakukan pada klien 1 selama 6 hari begitupun juga dengan klien 2 selama 6 hari yang dibuat dalam bentuk SOAP. 2 diagnosa keperawatan pada klien 1 dan klien 2 telah teratasi, dan pada klien 2 yang teratasi sebagian.

B. Saran

1. Bagi peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan, keterampilan, dan pengalaman, serta wawasan peneliti sendiri dalam melakukan penelitian ilmiah khususnya dalam pemberian asuhan keperawatan keluarga pada anak dengan asma. Diharapkan bagi peneliti selanjutnya dapat melakukan pengkajian secara holistik terkait dengan yang dialami oleh klien agar asuhan keperawatan dapat tercapai tepat sesuai dengan masalah yang ditemukan pada klien.

2. Bagi Tempat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan perwata mampu melakukan kerjasama yang baik dalam melaksanakan asuhan keperawatan secara professional dan komperhensif.

3. Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan agar dapat menambah ilmu pengetahuan dalam bidang keperawatan khususnya dalam pelaksanaan asuhan keperawatan keluarga pada anak dengan asma secara komprehensif dan mengikuti perkembangan keperawatan yang terbaru.

Dalam dokumen DAFTAR ISI (Halaman 131-148)

Dokumen terkait