• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "DAFTAR ISI "

Copied!
153
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Berdasarkan data RISKESDAS 2018, prevalensi penyakit sendi di Indonesia tercatat sekitar 7,3% dan osteoarthritis (OA) atau radang sendi merupakan penyakit sendi yang umum terjadi. Meski sering dikaitkan dengan bertambahnya usia atau dikenal dengan penyakit degeneratif, penyakit sendi banyak terjadi pada usia 15 – 24 tahun (angka prevalensi sekitar 1,3%), angka prevalensinya terus meningkat pada rentang usia 24 – 35 tahun. (3,1%) dan usia 35 – 44 tahun (6,3%). Kalimantan Timur menempati urutan ke 10 sebagai provinsi dengan jumlah penderita penyakit sendi termasuk osteoarthritis tertinggi di Indonesia dengan prevalensi sekitar 8,12%.

Angka kejadian penyakit sendi termasuk osteoartritis di Kalimantan Timur tertinggi terdapat di Kabupaten Mahakam Ulu yaitu 25,86. Sementara itu di Puskesmas Batu Ampar Balikpapan, jumlah penderita penyakit sendi termasuk Osteoartritis pada tahun 2020 sebanyak 17 orang setelah sebelumnya pada tahun 2019 sebanyak 14 orang.

Rumusan Masalah

Monayo, Fenti Akuba pada tahun 2019 dengan judul “Pengaruh Latihan Peregangan Dalam Mengurangi Nyeri Sendi Lutut Pada Penderita Osteoarthritis”. Berdasarkan uraian di atas, penulis ingin mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai pelaksanaan “Pelayanan keperawatan pada pasien Osteoarthritis di wilayah kerja Puskesmas Batu Ampar Balikpapan Tahun 2021, sehingga terdapat gambaran yang nyata”.

Tujuan Penelitian

  • TujuanUmum
  • Tujuan Khusus

Manfaat Penelitian

  • Bagi Peneliti
  • Bagi Tempat Penelitian
  • Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan

TINJAUAN PUSTAKA

Konsep Dasar Medis Osteoathritis (OA)

  • Pengertian
  • Etiologi
  • Pathway
  • Patofisiologi
  • Faktor resiko
  • Manifestasi klinis
  • Pemeriksaan penunjang
  • Komplikasi
  • Penatalaksanaan

Peningkatan aktivitas enzim yang merusak makromolekul matriks tulang rawan artikular dan penurunan sintesis proteoglikan dan kolagen. Akibat dari perubahan proteoglikan adalah tingginya ketahanan tulang rawan dalam menahan gaya tekan sendi dan pengaruh lain yang dapat membebani sendi. Kekuatan tulang rawan yang menurun akan disertai dengan perubahan kolagen yang tidak sesuai dan kondrosit akan rusak.

Dengan meningkatkan total permukaan penahan beban, osteofit diperkirakan memperbaiki perubahan awal tulang rawan pada osteoartritis. Tulang rawan artikular menjadi aus, rusak, dan menimbulkan gejala osteoartritis seperti nyeri sendi, kekakuan, dan kelainan bentuk (Sembiring, 2018).

Gambar 2.1 Gambaran patologis osteoartritis
Gambar 2.1 Gambaran patologis osteoartritis

Konsep Keluarga

  • Definisi
  • Struktur Keluarga
  • Tipe Keluarga
  • Peran Keluarga
  • Fungsi Keluarga
  • Tugas Keluarga
  • Peran perawat Keluarga

Keluarga merupakan cerminan suatu organisasi dimana setiap anggota keluarga mempunyai peran dan fungsinya masing-masing untuk mencapai tujuan keluarga. Dalam kapasitas ini, anggota keluarga mengembangkan citra diri yang positif, rasa memiliki dan memiliki, rasa bermakna, dan merupakan sumber kasih sayang. Keluarga juga memutuskan kapan anggota keluarga yang mempunyai masalah kesehatan memerlukan bantuan atau bantuan profesional.

Anggota keluarga yang mempunyai masalah kesehatan harus mendapat tindak lanjut atau pengobatan untuk mencegah masalah yang lebih serius. Penyedia layanan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada anggota keluarga yang sakit dan melakukan pengawasan terhadap pelayanan/pembinaan untuk meningkatkan kemampuan merawat keluarga.

Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga Osteoathritis (OA)

  • Pengkajian
  • Diagnosa Keperawatan Keluarga
  • Intervensi Keperawatan
  • Implementasi Keperawatan
  • Evaluasi Keperawatan

Periksa/kaji kaki dengan menstabilkan tumit dan memutar kaki depan ke dalam dan ke luar (sendi tarsal dan transversal). D.0083) Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penyakit: perubahan kemampuan melakukan tugas umum, peningkatan pengeluaran energi, ketidakseimbangan mobilitas. Skornya adalah 50 diagnosa keperawatan potensial dengan skor 1, diagnosa keperawatan risiko dengan skor 2, dan diagnosa keperawatan aktual dengan skor 3.

Kriteria kemampuan mengubah skor terdiri dari mudah dengan skor 2, ada yang mendapat skor 1 dan tidak mampu dengan skor nol. Penilaian pada kriteria ini terdiri dari, tinggi dengan skor 3, cukup dengan skor 2, dan rendah dengan skor 1. Penilaian pada kriteria ini terdiri dari segera dengan skor 2, bahwa tidak ada segera kebutuhan dengan skor 1, dan tidak dirasakan dengan skor nol 0.

Effendy dalam Harmoko (2012) mendefinisikan: rencana keperawatan keluarga adalah serangkaian tindakan yang ditentukan oleh perawat untuk dilaksanakan, dalam memecahkan masalah kesehatan dan keperawatan yang telah ditetapkan. Tujuan Umum : Setelah dilakukan kunjungan rumah selama 6 hari diharapkan nyeri berkurang Tujuan Khusus : Setelah dilakukan tindakan. Implementasi keperawatan keluarga atau penerapan keperawatan merupakan suatu proses dimana perawat mempunyai kesempatan untuk melaksanakan rencana tindakan yang telah disusun dan membangkitkan minat serta kemandirian keluarga untuk melakukan perbaikan perilaku hidup sehat.

Memberikan rasa percaya diri dalam merawat anggota keluarga yang sakit dengan mendemonstrasikan cara merawat, menggunakan sumber daya dan fasilitas di rumah, serta mengawasi keluarga dalam melakukan tindakan. Membantu keluarga mengadaptasi lingkungan menjadi sehat dengan menggali sumber daya yang ada dalam keluarga dan mengadaptasi lingkungan semaksimal mungkin. Memotivasi keluarga untuk menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada, dengan memperkenalkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada ke dalam lingkungan keluarga dan membantu keluarga menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada.

Tabel 2.1 Skoring Prioritas Masalah
Tabel 2.1 Skoring Prioritas Masalah

METODE PENELITIAN

  • Pendekatan (Desain Penelitian)
  • Subyek Penelitian
  • Batasan Istilah (Definisi Operasional)
  • Lokasi dan Waktu Penelitian
  • Prosedur Penelitian
  • Teknik dan Instrument Pengumpulan Data
  • Keabsahan Data
  • Analisis Data

Berdasarkan Tabel 4.11 diperoleh hasil bahwa urutan prioritas masalah pada klien 1 yaitu nyeri kronik berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang sakit dengan skor 5, dilanjutkan dengan diagnosis defisit pengetahuan terkait . terhadap ketidakmampuan keluarga dalam mengenali gangguan kesehatan dengan skor 4, dan risiko terjatuh berhubungan dengan kecacatan keluarga. merawat anggota keluarga yang sakit dengan skor 3. Sedangkan urutan masalah prioritas klien adalah 2 nyeri kronik berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang sakit Osteoarthritis dengan skor 4, disusul dengan diagnosis defisit pengetahuan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengenali masalah kesehatan dengan skor 4, dan manajemen kesehatan keluarga yang tidak efektif berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang sakit dengan skor 4. Dalam pembahasannya peneliti akan membahas kesesuaian dan kesenjangan antara teori dan hasil studi kasus keperawatan keluarga pada klien 1 dan 2 dengan osteoartritis.

Penilaian klien 1 dan 2 dilakukan pada hari Selasa tanggal 27 Juli 2021, klien 1 berusia 65 tahun dan klien 2 berusia 47 tahun. Hasil pengkajian pada klien 2 menunjukkan adanya masalah nyeri kronis yang ditandai dengan keluarga klien 2 mengeluhkan nyeri pada kaki hingga tumit dengan skala 5, nyeri seperti tegang menusuk. Pelaksanaan pada klien 1 dan klien 2 berlangsung sesuai rencana yang telah disusun dan disesuaikan dengan permasalahan keperawatan klien.

Untuk klien 1 dengan diagnosa gangguan kenyamanan, penulis melakukan perawatan dan menganjurkan relaksasi pernapasan dalam dan kompres hangat. Diagnosa manajemen keluarga yang tidak efektif adalah penulis memberikan edukasi dan demonstrasi mengenai latihan rentang gerak sederhana pada klien osteoarthritis. Untuk klien 2 dengan diagnosa nyeri kronik, penulis memonitor nyeri klien dan menyarankan relaksasi dengan pernafasan dalam dan kompres hangat.

Sedangkan pada klien 2 ditegakkan 3 diagnosa keperawatan yaitu nyeri kronik, defisit kognitif, dan terapi keluarga tidak efektif. Intervensi yang digunakan pada kasus klien 1 dan klien 2 disusun berdasarkan diagnosis yang diberikan dan disesuaikan dengan teori yang ada. Pada saat implementasi klien 1 dan klien 2, penulis telah mengimplementasikan seluruh action plan yang telah dibuat.

TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN

Hasil

Bentuk dada simetris antara kanan dan kiri, tidak ada retraksi dinding dada, dada normal, suara nafas vesikuler seluruhnya. Ekstremitas Ekstremitas normal, tidak ada edema, kekuatan kanan dan kiri normal, klien tampak lemas saat berjalan. Mata lengkap, tidak ada edema, konjungtiva tidak anemia, sklera jernih dan tidak ikterik, telinga simetris.

Mulut: Tidak ada sariawan, tidak ada gusi berdarah, selaput lendir lembab, gigi lengkap, lidah bersih. Bentuk dada simetris antara kanan dan kiri, tidak ada retraksi dinding dada dan payudara normal, bunyi nafas vesikular diseluruh lapang paru, ucapan/suara dari kanan ke kiri sama, tidak ada. 1 x 1 Keluarga merasa ada masalah, namun keluarga tidak mampu merawat anggota keluarga yang menderita osteoartritis.

Manajemen kesehatan keluarga yang tidak efektif berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam merawat kerabatnya yang menderita osteoartritis (D.0115). 3 Manajemen kesehatan keluarga yang tidak efektif berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam merawat kerabatnya yang sakit. Manajemen kesehatan keluarga yang tidak efektif dalam keluarga berkaitan dengan ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggota keluarganya dengan baik.

Tabel 4.2 Hasil Pemeriksaan Fisik Keluarga Klien 1
Tabel 4.2 Hasil Pemeriksaan Fisik Keluarga Klien 1

Pembahasan

  • Diagnosa Keperawatan

Dari pernyataan diatas penulis beranggapan bahwa pendidikan kesehatan sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan klien 1 dan klien 2 sesuai dengan pernyataan dari (Sari, 2013) Pendidikan kesehatan adalah suatu proses mengubah seseorang dengan tujuan mencapai suatu tujuan. tingkat sehat dan bertujuan untuk mengubah perilaku yang tidak sehat menjadi tidak sehat bagi individu, kelompok dan masyarakat. Rencana tindakan keperawatan osteoartritis yang akan dilaksanakan pada pasien 1 dengan masalah nyeri akut berkaitan dengan ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang sakit, peneliti mencantumkan tujuan setelah melaksanakan tindakan keperawatan dalam jangka waktu tertentu, diharapkan nyeri akut dapat berkurang dengan ukuran hasil. Keluhan nyeri berkurang, meringis berkurang, kecemasan berkurang, denyut nadi membaik, meliputi : 1. Rencana tindakan keperawatan Osteoarthritis yang akan dilaksanakan pada pasien 2 dengan masalah nyeri kronik berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang sakit, peneliti memasukkan tujuan setelahnya. tindakan keperawatan untuk jangka waktu tertentu, diharapkan nyeri akut dapat dikurangi dengan tindakan hasil. : 1.

Dalam rencana tindakan keperawatan osteoartritis yang akan dilaksanakan pada pasien 1 dengan masalah resiko jatuh berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang sakit, peneliti mencantumkan tujuan setelah pelaksanaan tindakan keperawatan dalam waktu tertentu. berharap bahwa tingkat jatuh dapat dikurangi dengan mengurangi kriteria jatuh berdiri. , terjatuh sambil duduk, terjatuh sambil berjalan antara lain : 1. Berdasarkan rencana yang telah disusun peneliti, pelaksanaan tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah kurangnya pengetahuan yaitu : pengenalan tingkat pengetahuan klien, pengenalan kemungkinan penyebab yang terjadi pada klien osteoartritis, pendidikan kesehatan, diskusi tentang pilihan pengobatan yang tepat pada klien. Pendidikan kesehatan untuk mengatasi kurangnya pengetahuan pada klien 1 dan 2 menurut Notoatmodjo (2012) dalam (Susilo, 2012) Pendidikan kesehatan adalah penerapan atau pemanfaatan pendidikan dalam bidang kesehatan.

Dan penulis juga memberikan demonstrasi kepada klien 1 dan 2 tentang latihan rentang gerak sederhana seperti quad set, straight leg raise, knee extension, nyeri tumit dan perawatan taji tumit. Hasil evaluasi yang didapat setelah melakukan asuhan keperawatan keluarga pada klien 1 adalah diperoleh data evaluasi yang menunjukkan bahwa pihak keluarga sudah memahami apa itu osteoartritis, penyebab osteoartritis, tanda dan gejala osteoartritis, faktor risiko terjadinya osteoartritis, komplikasi akibat osteoartritis. , cara mengobati osteoartritis. Klien juga dapat menerapkan latihan gerakan sederhana pada klien osteoarthritis dan klien dapat secara mandiri menyesuaikan lingkungan untuk mengurangi resiko terjatuh.

Hasil evaluasi yang didapat setelah melakukan keperawatan keluarga pada klien 2 adalah diperoleh data evaluasi, anggota keluarga sudah memahami apa itu osteoartritis, penyebab osteoartritis, tanda dan gejala osteoartritis, faktor risiko terjadinya osteoartritis. Evaluasi dilakukan pada klien 1 selama 6 hari dan pada klien 2 selama 6 hari yang dilakukan dalam bentuk SOAP. Diharapkan bagi peneliti selanjutnya dapat melakukan pengkajian secara holistik terkait dengan apa yang dialami klien, sehingga dapat tercapai asuhan keperawatan secara tepat terkait dengan permasalahan yang ditemukan klien.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Saran

Hasil penelitian ini diharapkan perawat dapat bekerja sama dengan baik untuk melaksanakan asuhan keperawatan secara profesional dan komprehensif. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan di bidang keperawatan khususnya dalam pelaksanaan asuhan keperawatan keluarga pada anak penderita asma secara komprehensif dan mengikuti perkembangan keperawatan terkini. Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Sikap Lansia Dalam Mengatasi Kekambuhan Penyakit Rematik Pada Posyandu Lansia Desa Karangasem Kecamatan Laweyan Kota Surakarta.

Gambar

Gambar 2.1 Gambaran patologis osteoartritis
Tabel 2.1 Skoring Prioritas Masalah
Tabel 2.2 Intervensi Keperawatan Keluarga  No.  Masalah
Tabel 4.2 Hasil Pemeriksaan Fisik Keluarga Klien 1
+7

Referensi

Dokumen terkait

Prinsip kerja kompres hangat dengan mempergunakan buli-buli panas yang dibungkus kain yaitu secara konduksi dimana terjadi perpindahan panas dari buli-buli panas ke dalam perut yang