• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN

4.2 Diagnosis keperawatan

Diagnosis keperawatan yang dirumuskan oleh penulis berdasarkan data yang telah ditemukan dari hasil pengkajian ada 6 diagnosis keperawatan.

diagnosis pertama adalah gangguan ventilasi spontan berhubungan dengan kelemahan otot pernapasan dibuktikan dengan pengaruh ansetesi, terintubasi, post pembedahan jantung. Keadaan umum pasien tenang, dalam pengaruh anastesi dan sedasi, kesadaran SAS 1 dengan GCS E1M1Vett, pasien pasca tindakan operasi pasien pasca tindakan operasi CABG X3 (LIMA-LAD, SVG- OM, SVG-PDA) Insersi IABP Pre Insisi, terpasang ETT no 8 kedalaman 24 cm dari batas bibir, dengan setting ventilator mode ASV 100% ,FiO2 50% ,PEEP 5, SpO2 100%

Insufisiensi paru dan hipoksemia dapat terjadi pada 30-60% pasien setelah CABG. Hasil AGD pH: 7.23, PaCO2: 50,5 mmHg, PaO2: 210,7 mmHg, HCO3-: 21,5 mmol/L, BE : -5,6. Riwayat kesehatan dan faktor intraoperatif harus dipertimbangkan. Penatalaksanaan paru pasca operasi, terutama riwayat merokok, penyakit paru obstruktif, penggunaan steroid, penyakit refluks gastroesofageal, gagal jantung, dan malnutrisi dapat meningkatkan komplikasi paru pasca operasi (Kementerian Kesehatan, 2022).

Diagnosis kedua adalah risiko penurunan curah jantung ditandai dengan perubahan kontraktilitas, perubahan preload, dan perubahan afterload. Pasien p ost operasi CABG X3 (LIMA-LAD, SVG-OM, SVG-PDA) Insersi IABP Pre Insisi. Kondisi hemodinamik pasien terpantau stabil dengan support Nitorgliserin 0,5 mcg/kgBB/menit, Adrenalin 0,1 mcg/kgBB/menit, Vascon 0,1 mcg/kgBB/menit dan urin output dalam batas normal. Hasil tersebut membuat penulis mengangkat diagnosis penurunan curah jantung .

Diagnosis ketiga adalah ketidakseimbangan kadar glukosa darah berhubungan dengan resistensi insulin dibuktikan dengan hasil laboratorium tanggal 4 Oktober 2024 jam 13.15 didpatkan nilai kadar glukosa darah sewaktu

pasien adalah 237 mg/dL. Menurut Crider (2023) Trauma pembedahan menyebabkan tubuh melepaskan hormon ketekolamin, kortisal, dan glukagon dalam jumlah yang lebih besar. Ketika kadar hormon ini meningkat, tubuh dapat mengalami resistensi insulin yang lebih besar dan peningkatan jumlah glukosa dalam darah.

Diagnosis keempat adalah risiko perdarahan ditandai dengan tindakan pembedahan dimana terdapat luka post operasi di sternum yang tertutup transparan dresing terlihat bersih dan tidak ada rembesan dan terpasang drain substernal 28 Fr dan drain intrapericard 24 Fr dengan produksi 140 ml dalam 3 jam pertama. Dikedua tungkai pasien terdapat luka graft yang tertutup perban elastis tampak bersih dan tidak ada rembesan. Hasil laboratorium tanggal 21 Agustus 2024 jam 13.15 Hemoglobin 10,8 g/dL dan hematokrit 30,4%, dan transfusi FFP 2 bag. Periode pasca operasi dapat dipersulit oleh pendarahan yang berlebihan. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan saat mengevaluasi potensi perdarahan pasien. Perawat harus memantau adanya tanda-tanda pendarahan pada pasien. Pasca operasi, pemeriksaan hemoglobin dan hematokrit harus dilakukan secara berkala (Kementerian Kesehatan, 2022).

Diagnosis kelima adalah risiko infeksi ditandai dengan efek prosedur invasif. Pasien paska bedah operasi banyak terpasang alat – alat invasif.

Terdapat luka post operasi di sternum tertutup transparan dresing dan graft di kedua ekstremitas bawah dibalut dengan perban elastis. Balutan luka tampak bersih dan tidak ada rembesan. Terpasang ETT, sideport, artery line, drain substernal 28 Fr dan intrapericard 24 fr, vena perifer di vena metacarpal dextra, Dower cateter urine no 16 fr, hasil laboratorium leukosit: 18.620 /AμL.

Coronary Artery Bypass Graft (CABG) adalah operasi jantung yang paling umum di dunia. Komplikasi pasca prosedur CABG dibedakan menjadi dua, yakni mayor dan minor. Salah satu komplikasi terbesar adalah infeksi lokasi operasi. Faktor pra operasi yang dapat memicu terjadinya infeksi bedah antara lain usia, status gizi, diabetes, kebiasaan merokok, lama operasi dan penggunaan jahitan bedah adalah hal-hal yang harus diperhatikan sebelum operasi (Nugraha, 2021).

Diagnosis yang ke enam adalah Resiko perfusi jaringan perifer tidak efektif

berhubungan dengan prosedur pemasangan IABP dibuktikan dengan keadaan umum pasien

tenang, dalam pengaruh anastesi dan sedasi, kesadaran SAS 1 dengan GCS E1M1Vett, pasien pasca tindakan operasi pasien pasca tindakan operasi CABG X3 (LIMA-LAD,

SVG-OM, SVG-PDA) Insersi IABP Pre Insisi, terpasang IABP di femoralis dekstra dengan

frekuensi 1:1, augmentasi maksimal, pulsasi arteri dorsalis pedis kanan dan kiri teraba cukup kuat , akral hangat. CRT < 2 dtk, TD IABP 114/86,MAP 108, EKG: sinus

rhythm, Perawatan pasien post op CABG yang menggunakan alat bantu IABP membutuhkan perawatan dan keahlian khusus. Hal ini dikarenakan IABP sebagai alat bantu

mekanik dapat berubah menjadi berbahaya bila tidak digunakan atau difungsikan secara

tepat. Kesalahan yang umum terjadi adalah malposisi dari balon dan atau timming error.

Salah satu timming error yang paling sering terjadi adalah early inflate yaitu balon

mengembang terlalu awal/ lebih awal dari seharusnya. Early inflate akan mengakibatkan

penutupan premature katup aorta yang pada akhirnya akan meningkatkan LVEDV dan

menurunkan curah jantung (Hanlon Pena, 2009).

Diagnosis keperawatan tersebut diatas secara teori akan ditemukan pada pasien-pasien paska bedah jantung sesuai dengan data-data yang telah ditemukan pada pasien tersebut. Penegakan diagnosis keperawatan tersebut sesuai dengan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (DPP PPNI, 2016) 4.3 Intervensi Keperawatan

Setelah dilakukan pengkajian keperawatan dan menentukan masalah diagnosis keperawatan maka langkah selanjutnya adalah menentukan intervensi sesuai dengan prioritas masalah keperawatan. Penentuan tujuan pada perencanaan dari proses keperawatan adalah sebagai arah dalam membuat rencana tindaan dari masing-masing diagnosa keperawatan. Kriteria hasil dilakukan untuk memberi petunjuk bahwa tujuan telah tercapai dan digunakan dalam membuat pertimbangan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat kriteria hasil adalah berfokus pada pasien, singkat, jelas untuk memeudahkan perawat dalam mengidentifikasi tujuan dan rencana tindakan dapat diobservasi dan diukur, realistik, ditentukan oleh perawat dan pasien.

Pada perencanaan tindakan, penulis mengacu pada referensi Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) (DPP PPNI, 2018). Pada teori dan kenyataan tahap perencanaan menggunakan referensi yang sama. Perencanaan pada pasien Tn. T penulis mengambil dari referensi dan menyesuaikan dengan kondisi pasien, sehingga dapat mengoptimalkan keberhasilannya

a. Gangguan ventilasi spontan berhubungan dengan kelemahan otot pernapasan dibuktikan dengan pengaruh ansetesi, terintubasi, post pembedahan jantung

Gangguan ventilasi spontan adalah penurunan cadangan energi yang mengakibatkan individu tidak mampu bernapas secara adekuat.

Intervensi yang diberikan adalah dukungan ventilasi. Tujuan intervensi ini adalah ventiasi spontan meningkat.

b. Risiko penurunan curah jantung ditandai dengan perubahan kontraktilitas, preload, dan afterload

Risiko penurunan curah jantung didefinisikan berisiko mengalami pemompaan jantung yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Intervensi yang dilakukan adalah perawatan jantung.

c. Ketidakstabilan kadar glukosa darah bergubungan dengan resistensi insulin buktikan dengan GDS 237 mg/dL

Ketidakstabilan kadar glukosa darah adalah variasi kadar glukosa darah naik atau turun dari rendang normal. Pada kasus ini kadar

glukosa darah pasien meningkat dari batas normal. Intervensi yang diberikan adalah manejemen hiperglikemia. Salah satunya dengan kolaborasi pemberian drip insulin yang bertujuan untuk menejakn glukoneogenesis dan lipolisis.

d. Risiko perdarahan ditandai dengan tindakan pembedahan

Risiko perdarahan adalah berisiko mengalami kehilangan darah baik internal (terjadi didalam tubuh) maupun eksternal (terjadi dilluar tubuh). Intervensi yang diberikan adalah pencegahan perdarahan.

e. Risiko infeksi ditandai dengan efek prosedur invasive

Risiko infeksi adalah berisiko mengalami peningkatan terserang oraganisme patogenik. Intervensi yang dilakukan adalah dengan pencegahan infeksi. Kontrol risiko bertujuan untuk membentuk aksi mandiri untuk memahami, mencegah, mengurangi dan memodifikasi kesehatan untuk mengurangi risiko infeksi dan perawatan luka yang dilakukan bertujuan untuk mencegah adanya komplikasi dari luka.

f. Resiko perfusi jaringan perifer tidak efektif berhubungan dengan prosedur pemasangan IABP

Resiko perfusi tidak efektif ini dapat mempersempit lumen pembuluh darah pada daerah yang dilakukan insersi IABP. Hal ini diperburuk oleh adanya perdarahan atau terbentuknya thrombus yang akan mengganggu aliran distal pembuluh darah.Selain itu pada saat insersi bila ada plak aterosklerosis di bufirkasio aorta abdominalis bisa lepas dan menjadi trombus menyumbat arteri mesenterika superior maupun arteri splenik.

Intervensi keperawatan yang dilakukan oleh penulis dengan mengacu kepada Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) (PPNI, 2018) sangan bisa digunakan dan diterapkan oleh perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan karena intervensi yang diberikan sesuai dengan luaran yang diharapkan.

Dokumen terkait