4. Konsep Dasar Manajemen Nutrisi
2.4.4. Diet Makanan Cair
Makanan cair adalah makanan yang mempunyai konsistensi cair hingga kental. Makanan ini diberikan kepada pasien yang mengalami gangguan mengunyah, menelan, dan mencernakan makanan yang disebabkan oleh menurunnya kesadaran, suhu tinggi, rasa mual, muntah, pasca perdarahan saluran cerna, serta pra dan pasca bedah. Makanan dapat diberikan secara oral atau enteral.
Menurut konsistensi makanan, makanan cair terdiri atas tiga jenis, yaitu: makanan cair jernih, makanan cair penuh, dan makanan cair kental. Makanan cair jernih adalah makanan yang disajikan dalam bentuk cairan jernih pada suhu ruang dengan
kandungan sisa (residu) minimal dan tembus pandang bila diletakkan dalam wadah bening. Jenis cairan yang diberikan tergantung pada keadaan penyakit atau jenis operasi yang dijalani.
Tujuan diet makanan cair jernih adalah untuk Memberikan makanan dalam bentuk cair, yang memenuhi kebutuhan cairan tubuh yang mudah diserap dan hanya sedikit meninggalkan sisa, mencegah dehidrasi yang menghilangkan rasa haus.
Syarat diet makanan cair adalah:
1. Makanan diberikan dalam bentuk cair jernih
2. Bahan makanan hanya terdiri dari sumber karbohidrat 3. Tidak merangsang saluran cerna dan mudah diserap 4. Sangat rendah sisa
5. Diberikan hanya selama 1-3 hari 6. Porsi kecil dan diberikan sering.
Pada pasien dengan Bedah besar/bedah saluran cerna seperti Laparatomi, maka akan dilakukan pengaturan diet sebagai berikut :
a. Pasien diwajibkan puasa selama 6-12 jam setelah dilakukan prosedur operasi, tujuan nya adalah untuk menunggu sistem pencernaan berfungsi kembali setelah pembiusan. Pemberian nutrisi hanya dilakukan dengan cara parenteral.
b. Observasi bising usus pasien dengan cara melakukan Auskultasi abdomen, rata rata kembalinya motilitas usus pasca operasi adalah 6-8 jam.
c. Apabila bising usus aktif, instruksikan pasien untuk menelan ludah dan melakukan Test feeding.
Menurut (Trijana pudji rahayu, 2019) Test feeding dilakukan sebagai percobaan pemberian cairan untuk mengetahui fungsi dan absorpsi lambung dan usus. Test feeding dilakukan dengan cara menganjurkan pasien untuk minum atau memasukan cairan langsung melalui NGT.
d. Jika pasien tidak mual/muntah, lanjutkan pemberian diet sesuai intruksi dari Dokter penanggung jawab pasien.
e. Biasanya pemberian diet pasca bedah besar/ bedah saluran cerna diawali dengan pemberian air putih, cairan jernih, atau makanan cair jernih mulai 30ml/jam.
f. Selama pemberian nutrisi perhatikan juga keseimbangan cairan dan elektrolit untuk menghindari dehidrasi dan syok.
g. Pemberian nutrisi secara peroral atau enteral, harus memenuhi nilai gizi :
1) Energi : 25-45 kalori/kg BB
2) Protein : 1-1,5 g/kg BB (15-20 kalori total) 3) Lemak : 20-25% kalori total
4) Vitamin & mineral : vit C, vit K, vit A, zat besi, Zn (untuk penyembuhan luka)
5) Cukup cairan & elektrolit.
Fokus penelitian dilakukan pada pasien post op ileus obtruktif hari ke 1-3, maka pemenuhan nutrisi yang akan dilakukan adalah pemberian diet makanan cair pada pasien baik secara Oral maupun Enteral.
1. SOP Pemberian Nutrisi Peroral a. Definisi
SOP pemberian nutrisi per oral adalah suatu prosedur tindakan pemenuhan makanan dan minuman melalui mulut klien.
b. Tujuan
Tujuan pemberian nutrisi per oral, antara lain: tercukupinya keseimbangan nutrisi klien, dan sebagai sosialisasi antara klien- perawat
c. Indikasi dan Kontraindikasi
Adapun indikasi pemberian nutrisi per oral yakni klien yang tidak mampu makan secara mandiri yang disebabkan karena sakit atau trauma tubuh. Sedangkan kontraindikasinya tidak ada.
d. Hal yang perlu dikaji
Fungsi gastrointestinal, dan tipe diet yang dapat ditoleransi oleh klien, kemampuan klien menelan, nafsu makan klien, toleransi terhadap makanan, jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai, serta adanya alergi makanan.
e. Alat dan Bahan
1) Piring berisi makanan 2) Sendok
3) Garpu
4) Gelas minum yang berisi air hangat seta tutupnya 5) Sedotan
6) Tissu dalam tempatnya 7) Serbet
8) Baki untuk tempat membawa makanan f. Prosedur Tindakan
FASE PRAINTERAKSI
1) Mengidentifikasi kemampuan klien dalam pemenuhan nutrisi peroral
2) Mencuci tangan 3) Menyiapkan alat
FASE ORIENTASI
1) Mengucapkan salam & memperkenalkan diri 2) Menjelaskan tujuan prosedur tindakan
3) Menanyakan persetujuan klien/keluarga untuk dilakukan tindakan
FASE KERJA
1) Membawa makanan dengan menggunakan baki 2) Menjaga privasi klien
3) Mendekatkan alat-alat yang akan digunakan
4) Meminta klien berpartisipasi dalam tindakan (mengatur posisi) 5) Memberikan penghargaan klien atas kerjasamanya
6) Membentangkan Serbek di bawa dagu klien
7) Duduk dengan posisi yang memudahkan pekerjaan 8) Menawari minum kepada klien
9) Menyuapkan makanan sedikit-demi dengan menggunakan sendok atau garpu
10) Memperhatikan apakan makanan sudah ditelan habis klien 11) Setelah memberikan makanan klien diberikan minum 12) Membersihkan mulut klien dan sekitanya dengan tissue FASE TERMINASI
1) Merapikan klien dan alat 2) Mengevaluasi respon klien
3) Minta terima kasih pada klien atas kerjasamanya 4) Mengucapkan salam
5) Mencuci tangan
6) Mendokumentasikan prosedur dalam catatan klien
2. Prosedur Tindakan pemberian Nutrisi melalui Nasogastrik Tube : a. Definisi
Memberikan makan cair melalui selang lambung (enteral) adalah proses memberikan melalui saluran cerna dengan menggunakan selang NGT ke arah lambung.
b. Tujuan
1) Memenuhi kebutuhan nutrisi pasien 2) Mempertahankan fungsi usus
3) Mempertahankan integritas mucosa saluran cerna
4) Memberikan obat-obatan dan makanan langsung ke dalam saluran pencernaan
5) Mempertahankan fungsi-fungsi imunologik mukosa saluran cerna
c. Indikasi dan Kontraindikasi Indikasi :
1) Klien yang tidak dapat makan/menelan atau klien tidak sadar 2) Klien yang terus-menerus tidak mau makan sehingga
membahayakan jiwanya, misalnya klien dengan gangguan jiwa.
3) Klien yang muntah terus-menerus
4) Klien yang tidak dapat mempertahankan nutrisi oral adekuat 5) Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), Premature,
dismature
6) Perdarahan GI (Gastrointestinal)
7) Trauma multiple, pada dada dan abdomen 8) Pemberian Obat-obatan, cairan makanan
9) Pencegahan aspirasi penderita dengan intubasi jangka panjang 10) Operasi abdomen
11) Obstruksi saluran cerna Kontra indikasi :
1) Fraktur tulang-tulang wajah dan dasar tengkorak
2) Penderita operasi esofagus dan lambung (sebaiknya NGT dipasang saat operasi
d. Hal yang perlu dikaji
Fungsi gastrointestinal, dan tipe diet yang dapat ditoleransi oleh klien, kemampuan klien menelan, nafsu makan klien, toleransi terhadap makanan, jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai, serta adanya alergi makanan.
e. Alat dan Bahan 1) Hanscoon 2) Spuit 20-50 cc 3) Bengkok 4) Stetoskop
5) Strip indikator pH (kertas lakmus) jika diperlukan 6) Formula makanan selang yang diresepkan
7) Makanan cair sesuai dengan kebutuhan dalam tempatnya, dengan ketentuan suhu makanan harus hangat sesuai suhu tubuh.
8) Air matang (Hangat)
9) Bila ada obat yang harus diberikan, dihaluskan terlebih dahulu dan dicampurkan dalam makanan/ air, diberikan terakhir.
f. Prosedur Tindakan FASE PRAINTERAKSI
1) Mengidentifikasi alergi dan intoleransi makanan klien 2) Mencuci tangan
3) Menyiapkan alat
FASE ORIENTASI
1) Mengucapkan salam & memperkenalkan diri 2) Menjelaskan tujuan prosedur tindakan
3) Menanyakan persetujuan klien/keluarga untuk dilakukan tindakan
FASE KERJA
1) Mencuci Tangan
2) Memasang sarung tangan (Hanscoen)
3) Cek ketepatan selang di lambung, dengan cara :
Buka klem NGT atau spuit NGT dan masukkan selang ke dalam gelas berisi air. Posisi tepat jika tidak ada gelembung udara.
Buka klem dan lakukan pengisapan/ aspirasi cairan lambung dengan menggunakan spuit NG. Cek cairan lambung dengan menggunakan strip indikator pH. Posisi tepat jika pH < 6.