• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIKECAMATAN MALLUSETASI

Dalam dokumen INDAHNYA MODERASI BERAGAMA (Halaman 105-117)

99

MEWUJUDKAN TOLERANSI BERAGAMA DI

100

as a medium for socia;izing communication, it can build religious tolerance between people through various elements of society,both individuals and institutions.

Keywords : Tolerance, Religion, Social Media PENDAHULUAN

Toleransi ialah menggambarkan sikap saling menghormati dan saling bekerjasama di antara kelompok- kelompok yang ada di masyarakat yang berbeda baik secara etnis,suku, budaya, bahasa, politik, maupun agama. Tetapi, toleransi agama sesama umat menurut Islam bukan untuk saling melebur di dalam suatu keyakinan. Bukan juga sebagai sarana saling bertukar keyakinan di antara anggota kelompok, orang ataupun masyarakat, di dalam agama yang berbeda,jadi terdapat batas-batas yang mana boleh dan yang mana tidak boleh dilanggar.

Kehadiran media social juga dari hari ke hari jugasemakin berkembang jumlah penggunanya hal ini memberikan fakta menarik betapa kekuatan sosial media bagi kehidupan manusia itu sendiri.Media sosial pun berbagai macam seperti facebook, Instagram, Whatsaap, Line, Telegram, Tiktok dll. Media sosial, adalah sarana untuk berkomunikasi dan juga mencari informasi yang paling mudah.

Sebenarnya hal ini membuka sisi lain dari media sosial. Bahwa media sosial bisa digunakan sebagai sarana membangun toleransi beragama jika penggunanya bijak dalam menggunakannya.

101

Semakin berkembang nya media sosial Sering terjadi banyak konflik ,dimedia sosial toleransi beragama sesama umat sering diabaikan karena melalui sosial media orang orang bebas mengeluarkan pendapatnya tetapi tidak memperdulikan orang lain hal ini yang mengakibatkan dimedia sosial sering terjadi konflik agama dan menimbulkan sikap radikalisme media sosial.

Pada persoalan agama yang setiap orang mempunyai kebebasan dalam memilih keyakinan. Agama itu sendiri memberikan perhatian tidak hanya pada perkara mudah bahkan pada kondisi yang sangat sulit semua orang di sepanjang waktu, tanpa memandang usia, jenis kelamin, atau status di dalam masyarakat.

Namun yang terjadi sekarang ini, persoalan mengenai agama tidak lagi sebagai peneduh kehidupan sosial tetapi sekarang menjadi pemicu konflik dengan mengatas namakan agama, permasalahan ini yang di jadi permasalahan bukanlah Agama, akan tetapi pada penganutnya yang kurang menginternalisasi keberadaan toleransi beragama pada penganut agama lain, oleh karena itu timbullah sikap radikalisme yang sering terjadi dikalangan masyarakat didunia nyata maupun didunia maya (social media).

LITERATUR

1. Penelitian Dra. Hertina, M. Pd berjudul ToleransiI Upaya Untuk Mewujudkan Kerukunan Umat Beragama didalamnya berisi Sikap teloransi antar umat beragama di Indonesia telah mempunyai konstitusional yang memelihara keyakinan umat

102

masing-masing.Secara lahiriyah, toleransi umat beragama di Indonesia merupakan harapan bangsabangsa di dunia.

2. Penelitian Arina Rahmatika berjudul Konsep Kerukunan Dalam Komunikasi Pembangunan Agama Di Sosial Media didalamnya berisi komunikasi pembangunan agama mencoba sarana untuk membangun kerukunan antar umat beragama melalui sosial media yang telah menjadi ruang publik masyarakat ini. Tentunya dengan adanya komunikasi pembangunan agama di sosial media melalui kelembagaan dan individu, diharapkan dapat ikut serta menjaga keutuhan NKRI dan mencegah konflik antar agama di Indonesia.

3.Penelitian M. Thoriqul Huda dan Okta Fila berjudul Media Sosial Sebagai Sarana Membangun Kerukunan beragama didalamnya berisi Peran media sosial dapat dijadikan sebagai sarana untuk membangun kerukunan beragam, Penggunaan sosial media di anatara nya yaitu untuk sarana komunikasi, mengajak orang-orang untuk memahami perdamaian dan untuk hidup saling mengasihi sehingga dapt tercipta suatu perdamian dalam kehidupan masyarakat.

METODE PENGAPDIAN

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Pendekatan ABCD (Asset-Based Community Development) Dalam metode ABCD memiliki lima langkah kunci untuk melakukan proses riset pendampingannya diantarannya;

1. Discovery (Menemukan)

Melakukan wawancara kepada masyarakat yang sering menggunakan media social.Wawancara tersebut digiring

103

untuk mengetahui apakah masyarakat meggunakan media social sudah melakukan toleransi beragama sesama umat.

2. Dream (Mimpi)

Setelah melakukan wawancara kepada masyarakat,disini bisa mengetahui masalah atau keinginan masyarakat.Setelah mengetahui masalah atau keinginan masyarakat maka langkah selanjutnya yaitu merancang sebuah kegiatan untuk memenuhi impian masyarakat.

3. Design (Merancang)

Melakukan proses mengetahui kegiatan kegiatan masyarakat yang dilakukan di media social.

4. Define (Menentukan)

Menentukan masyarakat mana yang harus di fokuskan dalam kegiatan yang akan dilakukan. Nantinya.

5. Destiny (Lakukan)

Hal ini merupakan fase akhir yang secara khusus focus pada cara-cara personal dan organisasi untuk melangkah mau.Seperti mensosialisasikan langsung dimasyarakat tentang toleransi beragama,mengajak masyarakat membagikan postingan positif saja dimedia socianya,membagikan pamlet untuk masyarakat melalui media social,dan mengajak masyarakat melakukan kegiatan yang bernilai toleransi Bergama lalu diupload dimedia social.

PEMBAHASAN Tinjauan Pustaka

Penelitian ini termasuk kedalam jenis penelitian kualitatif, dimana penelitian ini menekankan sikap realita yang

104

terbangun secara sosial, hubungan erat antara peneliti dan subjek yang diteliti, serta tekanan situasi yang membentuk penyelidikan (Norman dan Yvonna, 2009, hal. 6).

Pada tulisan buku M. Aziz Tunny, Dkk. Dalam bukunya yang berjudul “Wajah agama di media”, pada buku tersebut lebih menitik beratkan pada wajah pluralisme beragama dalam media. Sedangkan pada tulisan ini lebih menitik beratkan terhadap Mewujudkan Toleransi beragama di media sosial.

Teori

Secara harfiyah kata ‘Toleran’ bermakna sikap menenggang(menghargai,membiarkan, membolehkan) pendirian ( pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dsb.) seseorang yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Adapun kata ‘toleransi’ bermakna sikap atau sifat toleran.

Sedangkan agama, menurut Elizabeth K. Notthingham dalam buku yang ditulis Jalaludin, berpendapat bahwa agama adalah sebuah gejala yang sering kali terjadi tanpa melihat tempat, serta berhubungan atas usaha-usaha manusia yang dilakukan untuk mengukur seberapa dalam hubungan dirinya dengan pencipta. Dalam hal ini agama memuat tentang norma- norma kebaikan, manusia akan melakukan usaha baik untuk mendekatkan dirinya kepada pencipta.

Toleransi antar umat beragama berarti suatu sikap Saling menghargai dan menghormati agama lain yang dianut oleh umat beragama,toleransi memang sangat penting dala kehidupan sehari-hari dengan kita meiliki sikap toleransi maka

105

kita akan menigkatkan rasa nasionalisme dalam diri kita sendiri.

Analisis

Kehidupan modern saat ini hampir tidak dapat dipisahkan dari media social begitu banyak orang orang menggunakan media social bukan untuk melakukan hal hal yang bermanfaat,bukan untuk mempererat persaudaraan dan bukan juga untuk konten positif tetapi justru untuk menyebar pesan kebenciaan ajakan intoleransi dan tindakan radikal.

Membangun toleransi antar umat beragama pada era tekhnologi informasi saat ini bukan hal yang mudah dimana gaya hidup masyarakaat hidup sekarang lebih sering langsung melahap berita apa saja yang disediakan oleh media dan langsung membagikan tombol share tanpa membaca artikelnya terlebih dahulu ditambah lagi dengan komentar yang emosional contohnya,terkait dengan isu isu agama seperti ketika muncul berita mengenai masjid yang terbakar netizen cenderung memiliki mindset bahwa pelakunya ialah orang orang yang non muslim begitupun sebaliknya ketika muncul berita tentang geraja yang hancur karena ledakan orang orang berfikir bahwa pelakunya ialah orang orang yang muslim. Adu argument dan berdebat dimedia social tidak dapat dipungkiri lagi netizen yang menyampaikan uneg uneg nya juga beraneka ragam ada yang sopan santunnya masih terjaga sampai yang berkomentar pedas.

Evaluasi

Terkhusus di kecamatan Mallusetasi masyarakat yang

106

menggunakan media social sering kali menyalagunakan media social mereka menggunakan media social sebagai tempat mengujar kebencian,menghakimi orang yang tidak seagama, tidak menghargai sesama umat,tidak memberi support kepada umat yang berbeda agama sering sekali membuat komentar komentar pedas divideo,foto orang yang tidak seagama dengannya.

Jadi melalui kegiatan KPM ini penulis selaku mahasiswa KPM ingin mewujudkan toleransi beragama dimedia social dengan cara :

1. Membuat pamphlet tentang moderasi beragama dann membagikan pamphlet tersebut disemua media social yang ada ,agar setiap orang yang melihat pamphlet tersebut bisa sadar akan pentingnya toleransi beragama sesama umat

2. Sosialisasi mengenai toleransi beragama di media social 3. Share Kebaikan di media social

4. Karena sekarang yang sering terjadi banyak orang orang yang menggunakan media social tiktok sebagai media mengomentari orang lain maka dari itu Kegiatan KPM membuat konten tentang moderasi beragama dan membagikan nya ditiktok

5. Saling memberi support melalui komentar dimedia social antar sesama umat

107

6. Memberi arahan arahan kepada anak anak usia dini agar menggunakan social media dengan benar karena seperti yang diketahui anak anak usia dini sering sekali menghujat orang orang di media sosial yang tidak seagama dengannya

7. Memposting Status Status tentang agama dimedia social Facebook karena yang sering terjadi ujaran kebencian, komentar komentar pedas, hujatan hujatan antar orang yang beda agama terjadi di media sosial facebook

KESIMPULAN

Media sosial sangat memberi dampak terhadap perubahan dunia entah itu dampak positif maupun dampak negatif, pola pikir masyarakat dapat berubah dengan menerima informasi yang ada di media sosial. Seperti diketahui media sosial sudah menawarkan cara yang mudah bagi masyarakat untuk melakukan komunikasi tanpa melihat jarak, waktu, dan ruang. Melalui media sosial, seseorang dapat terhubung dengan seseorang yang lain yang juga sebagai pengguna media sosial tersebut, mereka akan melakukan komunikasi dan bertukar informasi. Bentuk media sosial lebih interaktif, karena pengguna dapat langsung berinteraksi dengan orang lain dalam bentuk komentar ataupun memberikan like pada postingan- postingan terbaru.

Melalui kegiatan KPM ini penulis ingin mewujudkan toleransi beragama dimedia social dengan cara mensosialisasikan tentang moderasi beragama melalui

108

membagiakn sejumlah pamphlet moderasi beragama desejumlah media social dan juga , membuat kegiatan tolernasi keagamaan lalu diupoload disemua social media yang ada.Kegiatan ini bertujuan agar orang orang dimedia social tidak lagi mengabaikan toleransi beragama sesame umat.

109 DAFTAR PUSTAKA

Abdul Hamid Nasution (2 April 2015). Media Islam dan Radikalisme. Riau Pos, 4.

Alo Liliweri. (1991). Memahami Peran Komunikasi Massa dalam Masyarakat. Cetakan 1. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.

Fakhrunnas MA Jabbar (20 Juni 2015). Membangun Sikap Toleransi di Bulan Suci. Riau Pos, 4.

Harahap, Syahrin, Pluralitas Agama: Kerukunan Dalam Keragaman,(Jakarta: Kompas, 2001)

Harahap, Syahrin, Teologi Kerukunan, (Jakarta: Prenada, 2011)

Hasan Sazali. Penguatan Toleransi Agama dalam Komunikasi Pembangunan Agama Studi Pemerintah Kota Bogor dan YogyakartaDisertasi, (Yogyakarta: Sekolah)

Mulawarman dkk, Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, (2015) Perilaku Media Sosial beserta Implikasinya Ditinjau dari Prespektif Psikologi Sosial Terapan.

Buletin Psikologi, Vol, 25, No. 1 (2017).

110 BIODATA PENULIS

Nama :Devita Dwi Cahyanti Prodi :Ekonomi Syariah Nim :17.2400.030

Alamat :Desa Bojo , Keacamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru

Lokasi KPM :Desa Bojo-Kupa

111

Dalam dokumen INDAHNYA MODERASI BERAGAMA (Halaman 105-117)