• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dimensi Kepemimpinan Sektor Publik dalam Islam

مولعلا يديد

C. Dimensi Kepemimpinan Sektor Publik dalam Islam

110 | Universitas Islam Negeri Mataram

tetapi dalam waktu yang bersamaan juga untuk kepentingan peningkatan jasa pelayanan di antara aparatur layanan itu sendiri.

Menurut team OECD, kepemimpinan publik merupakan the heart of good governance dan merupakan komponen utama bagi terciptanya pemerintahan yang baik dan berwibawa.

Pemerintah harus dipahami sebagai salah suatu lembaga yang harus memiliki kemampuan di dalam mendeskripsikan secara jelas tentang nilai-nilai kebangsaan yang penting. Perubahan lingkungan yang terjadi di sekitar kehidupan publik membutuhkan tipe dan pendekatan kepemimpinan baru dalam sektor publik. Pendekatan kepemimpinan diperlukan agar kepemimpinan sektor publik dapat menghasilkan redesain tugas pekerjaan yang lebih baik. Di samping itu, dalam menghadapi tantangan masa depan bangsa diperlukan kompetensi pemimpin publik berupa conception yang tepat, competency yang cukup, connection yang luas, confidence, dan integritas yang tinggi karena kepemimpinan sektor publik tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mempengaruhi, tetapi juga tanggung jawab untuk menciptakan kehidupan bangsa dan negara yang lebih baik, yang mampu memecahkan segala permasalahan dan memenuhi seluruh kepentingan publik yang diamanahkan kepada negara.124

Horizon Ilmu: Titik Temu Integratif dalam Tridarma | 111 keridaan Tuhan. Hanya saja Islam tidak membuat peraturan yang kaku tentang keduniaan, memberikan kesempatan seluas- luasnya kepada perkembangan masyarakat dan pilihan manusia, asalkan perkembangan dan pilihan tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam.125 Islam adalah agama yang sempurna karena tidak ada satu sisi kehidupan umat manusia yang nihil dari penjelasannya atau petunjuknya, termasuk dalam urusan kepemimpinan publik, yang merupakan suatu proses untuk mengarahkan dan mengendalikan kehidupan warga negara menuju cita-cita bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam perspektif Islam, pemimpin maupun kepemimpinan memiliki kedudukan yang sangat penting dan memberikan perhatian yang sangat serius dan penuh kehati- hatian terhadap aspek-aspek kepemimpinan tersebut. Dalam keyakinan Islam, dalam hidup dan kehidupan masyarakat, apalagi dalam konteks kehidupan bernegara, harus selalu ada proses pengendalian jalannya kehidupan umat manusia dalam konteks bernegara (kepemimpinan publik) yang baik dalam rangka mewujudkan kesejahteraan warga negara. Oleh karenanya, kepemimpinan publik merupakan bagian dari ajaran Islam yang luas, bukan termasuk ibadah mahdhah.126

Secara konseptual, kata pemimpin dalam Islam disebut juga dengan istilah waliy dan ulil amri, yaitu penerus kepemimpinan Rasulullah saw. setelah beliau wafat.127 Istilah lain dari pemimpin, adalah khalifah yang berasal dari kata (bahasa arab) khalafa yang artinya wakil, pengganti atau di

125 Cahyadi Takariawan, Yang Tegar di Jalan Dakwah (Yogyakarta:

Tiga Lentera Utama, 2003), 53.

126 Yunahar Ilyas, “Problem Kepemimpinan Perempuan dalam Islam”, dalam Jurnal Tarjih, Vol. 3 (2002), 71.

127 Ibid., 68.

112 | Universitas Islam Negeri Mataram

belakang. Hal ini menjelaskan bahwa keberadaan pemimpin memang untuk mewakili atau menggantikan pihak yang diwakilinya sehingga posisi dan tugasnya harus menjalankan amanah dari pihak yang diwakilinya. Kalau pemimpin itu disebut khalifah, yang diberikan tugas menjalan kepemimpinan di muka bumi ini, artinya adalah sang khalifah harus bisa berada di belakang untuk menjadi pendorong dan memberikan motivasi kepada orang yang dipimpinnya, dan tentunya bertujuan untuk kepentingan dan kemajuan dalam menjalani kehidupan yang baik dan benar. Di samping itu, tugas dan tanggung jawab pemimpin harus mengarahkan kehendak dan langkah yang harus diambil oleh orang yang dipimpinnya ke arah kebenaran.128

Berbeda dengan pandangan umum dari para teoritis yang mengatakan bahwa core dari sebuah kepemimpinan itu adalah to influence, dalam perspektif Islam berkeyakinan bahwa responsibility-lah yang menjadi core atau inti dari sebuah kepemimpinan, baik itu kepemimpinan sektor publik maupun kepemimpinan nonsektor publik. Jika dicermati secara seksama, terlihat adanya perbedaan pandangan antara Islam dengan teori umum tentang inti kepemimpinan, baik dari aspek konsekwensi dan implikasi.

Pertama, dalam konsep umum, aspek pemimpin dan kepemimpinan sektor publik selalu ditempatkan pada posisi yang hirarkhis, seorang pemimpin harus menempati posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan para pengikutnya.

Penempatan posisional ini merupakan salah satu aspek penting

128 Hasan Al-Mahami dan Kamil Muhammad, Al-Mausu’ah Al- Qur’aniyyah, Edisi Indonesia, terj. Ahmad Fawaid Syadzili (Jakarta: Kharisma Ilmu, 1997), 23.

Horizon Ilmu: Titik Temu Integratif dalam Tridarma | 113 yang dipergunakan oleh sang pemimpin dalam menjalankan tugasnya, yakni proses mempengaruhi orang lain agar dapat dilakukan secara efektif terhadap para pengikutnya, baik pengikut dalam arti bawahan maupun masyarakat atau warga negaranya. Oleh karena itu, tugas mereka adalah influence to others untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian, kepemimpinan memiliki peran dan posisi strategis dalam mempengaruhi orang lain, terutama dalam kehidupan bersama untuk mencapai tujuan bersama.

Kedua, hampir semua teori kepemimpinan dan manajemen sependapat bahwa bagi seorang pemimpin yang ingin menjalankan kepemimpinannya secara efektif, dalam mempengaruhi orang lain, prosesnya boleh dilakukan dengan cara yang persuasif maupun dengan cara yang coercive, namun tidak pernah dikatakan harus dilakukan dengan cara yang benar dan dengan penuh tanggung jawab. Inti kepemimpinan semacam ini terfokus pada aspek “kekuasaan” atau power yang sering kali kekuasaan atau power itu bersifat “memaksa” tanpa harus mempertimbangkan aspek benar atau salah, tetapi selalu didasarkan pada pertimbangan efektivitas tindakannya. Hal ini sejalan dengan pengertian dari kekuasaan yang didefinisikan sebagai power is the ability to get someone else to do something you want done, or the ability to make things happen or get things done the way you want.129

Process to influence yang dilakukan seorang pemimpin intinya terletak pada kemampuannya untuk membuat orang lain mau dan bersedia mengerjakan sesuatu yang diinginkan oleh sang pemimpin. Pola-pola yang seperti ini, dalam hal tertentu

129 Khaerul Sholeh, Membangun Kompetensi Kepemimpinan Publik Untuk Pelayanan Prima, Di Akses 1 Nopember 2013.

114 | Universitas Islam Negeri Mataram

akan menimbulkan dampak yang negatif, karena, pertama, tidak menutup kemungkinan bahwa pihak yang diperintah akan melaksanakan pekerjaannya dengan terpaksa, dan kedua, besar kemungkinan pekerjaan yang diinginkan oleh sang pemimpin itu justru pekerjaan yang tidak benar, melanggar hukum atau justru melanggar norma-norma agama, karena di dalam memberikan perintah, tidak dikaitkan secara langsung dengan

“tanggung jawab”, melainkan hanya sebatas terjadinya aktivitas akibat adanya sebuah pengaruh yang efektif.

Dalam perspektif Islam, kepemimpinan sektor publik tidak selalu bernuansa hirarkhis, karena inti pokok dari tugas mereka bukan terletak pada aspek influence to others, melainkan to responsibility with their jobs sebagaimana yang tertuang dalam hadits di atas. Dengan demikian, keberadaan seorang pemimpin tidak harus diposisikan secara hirarkis karena aspek tanggung jawab tidak berkaitan dengan kedudukan semata, melainkan berkaitan dengan bentuk tindakan yang dilakukannya. Dengan kata lain, Islam mengajarkan bahwa yang disebut pemimpin dan kepemimpinan itu tidak hanya terbatas pada mereka-mereka yang menduduki posisi-posisi yang strategis semata karena tugas seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya tidak bertumpu pada influence to others, melainkan terletak pada cara mempertanggungjawabkan atas pekerjaan yang diembannya.

Oleh karena tugas utama sang pemimpin adalah memikul beban tanggung jawab, sifat ideal seorang pemimpin publik itu adalah menjalankan tugasnya dengan cara yang serius, jujur, adil, berhati-hati, dan penuh amanah.

Untuk mendukung kinerja pemimpin publik yang sukses dalam menata perubahan, seseorang yang menduduki jabatan kepemimpinan publik harus memiliki paling tidak tiga

Horizon Ilmu: Titik Temu Integratif dalam Tridarma | 115 kompetensi yang meliputi pertama, kompetensi kognitif, yaitu kompetensi yang memberikan landasan penguasaan pengetahuan umum, hukum, teori, dan konsep, yang terdiri dari divergent thinking, critical thinking, creativity, problem solving, strategic thinking, dan analytical skills; kedua, komptensi fungsional, yaitu kompetensi dalam penguasaan ketrampilan untuk problem solving dalam kegiatan sehari-hari, yang terdiri language and communication skills, technological skills (IT, media, et.all), multicultural competencies (a general cultures, foreign languages, et.all), learning abilities and personal development, career planning skills, managerial skills, decision skills; ketiga, kompetensi sosial, yaitu kompetensi akan kebutuhan untuk pembinaan hubungan dengan individu atau sosial, yang terdiri dari self-direction, interpersonal skills, teamwork skills, compassion, integrity, mobilizing skills, personal and social values, ethical dimensions, character, and creativity.130

Seluruh kompetensi tersebut harus dipadukan dengan karakter organisasi antara lain visi, misi, value, dan tujuan.131 Dalam Islam, kepemimpinan publik pada dasarnya merupakan suatu amanah dan tanggung untuk mengajak, mengarahkan, dan mengendalikan kehidupan umat sebagai warga negara menuju tatanan kehidupan yang lebih baik berdasarkan tolok ukur ajaran Islam, sehingga kepemimpinan publik bersifat multidimensional yang meliputi sebagai berikut.

130 M. Pagon, E. Banutai, and U Bizjak, “Leadership Competencies For Successful Change Management”, in a Preliminary Study Report (Slovenian:

Presidency of the EU, 2008), 2.

131 Ibid.

116 | Universitas Islam Negeri Mataram 1. Dimensi Ilahiah

Dalam tata kelola negara yang baik, kehadiran pemimpin publik merupakan faktor penentu dalam meraih kesuksesan apa yang menjadi cita-cita ideal terbentuk suatu negara yang memiliki fungsi utama yang meliputi, pengaturan, pelayanan, dan pemberdayaan. Sebab pemimpin publik yang sukses akan mampu mengelola organisasi negara, dapat memengaruhi warga negara secara konstruktif, dan mampu menunjukkan jalan serta tindakan yang benar yang harus dilakukan secara bersama-sama, antara negara dan warga negara. Kepemimpinan publik adalah sifat dan ciri tingkah laku pemimpin yang mengandung kemampuan untuk mempengaruhi dan mengarahkan kemampuannya guna mencapai tujuan publik, yaitu memecahkan masalah dan memenuhi tuntutan kepentingan publik.132

Kepemimpinan publik memiliki posisi yang strategis karena merupakan titik sentral dalam dinamika pengaturan dan pengendalian kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam dimensi ilahiah, setiap orang yang berkedudukan sebagai pemimpin publik, yang merupakan bentuk perwujudan formal dari tugas kekhalifahannya, dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab kepemimpinannya, harus mengarahkan dan mengendalikan kehidupan berbangsa dan bernegara berlandaskan nilai- nilai keislaman, sehingga terhindar dari kesesatan menuju jalan Allah swt. 133

132 Winengan, Analisis Kebijakan Publik (Mataram, ISDB IAIN Mataram dan Sanabil, 2015), 21.

133 M. Harfin Zuhdi, “Konsep Kepemimpinan dalam Perspektif Islam”, dalam Jurnal Akademika, Vol. 19 No. 1 (2014), 35-57.

Horizon Ilmu: Titik Temu Integratif dalam Tridarma | 117 Negara harus diposisikan hanya wadah atau alat bagi seorang pemimpin publik mendekatkan diri kepada Ilahi. Bukan sebaliknya, menjadikan negara sebagai tujuan, sehingga menjauhkan pemimpin publik dari nilai-nilai keislaman. Kepemimpinan atau jabatan publik adalah tanggung jawab dan beban, bukan kesempatan dan kemuliaan, semboyan inilah yang harus tertanam pada diri seorang pemimpin publik yang ideal. Memang sepatutnya bahwa bagi seseorang yang sedang memegang jabatan pimpinan publik, mereka harus mampu menjalankan kepemimpinannya itu dengan niat yang lurus dalam menciptakan kemaslahatan bagi rakyatnya, karena jabatan kepemimpinan publik, tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada rakyat, tetapi juga kepada Ilahi.134

Pemahaman tentang kepemimpinan publik sebagai amanah, yang tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada rakyat, tetapi juga kepada Allah swt. inilah yang harus ditanamkan secara kuat kepada mereka yang akan dan sedang memegang tampuk kepemimpinan sektor publik, agar mereka selalu berhati-hati dan waspada dalam menjalankan tugasnya tersebut. Aspek lain yang perlu mendapat perhatian secara khusus berkaitan dengan kepemimpinan publik dalam dimensi ilahiah ini adalah power and religion. Dalam hal ini aspek kekuasaan bukan dipergunakan sebagai alat untuk memaksakan kehendak kepada orang atau pihak lain, tetapi lebih dipergunakan sebagai piranti atau alat untuk menegakkan kebenaran menuju jalan Allah SWT (amr ma’ruf dan nahi munkar).

134 M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, Tafsir Maudhu’I atas Pelbagai Persoalan Ummat (Bandung: Mizan, 1999), 152.

118 | Universitas Islam Negeri Mataram 2. Dimensi Individual

Kepemimpinan publik pada dasarnya memiliki tugas dan tanggung jawab untuk mengaktualisasikan fungsi-fungsi negara dalam mewujudkan kondisi kehidupan rakyat yang sejahtera dalam berbagai dimensi kehidupannya. Tentu ini bukanlah pekerjaan yang ringan, yang dapat dilakukan semua orang, tetapi membutuhkan sosok pribadi yang memiliki kapasitas tertentu. Dalam Islam, kapasitas ideal individu untuk menjalankan amanah kepemimpinan publik ini disandarkan pada sifat Nabi Muhammad saw., yaitu: shiddiq, seorang pemimpin publik dalam menjalankan tugas kepempinannya harus jujur, amanah, pemimpin publik harus menjalankan tugas kepemimpinannya dengan penuh komitmen dan tanggung, tabligh, pemimpin publik harus menyampaikan pesan- pesan kebenaran secara transparan, dan fathonah, seorang pemimpin publik harus orang yang cerdas, meliputi kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual.135

Tanggung jawab kepemimpinan sektor publik hendaknya diberikan kepada mereka yang tidak ambisius, mengemis, dan menyuap atas jabatan, karena dapat berakibat negatif bagi terlaksananya proses kepemimpinan yang baik, terutama akibat dominan orientasi untuk memaksimalkan kepentingan pribadi daripada kepentingan publik.136 Pada kesempatan lain Rasulullah juga melarang umat Islam memberikan hadiah kepada seorang pemimpin

135 Rakhmat Ceha dkk, “Pemetaan Kinerja Relatif Kepemimpinan Kepala Daerah terhadap Sifat Kepemimpinan Rasulullah SAW”, dalam Jurnal Mimbar, Vol. 28, No. 2 (2012), 229-240.

136 Muhammad Faiz Al-Math, 110 Hadits Terpilih, Sinar Ajaran Muhammad (Jakarta: Gema Insani, 1991), 61.

Horizon Ilmu: Titik Temu Integratif dalam Tridarma | 119 karena tindakan tersebut dapat mempengaruhi integritas pemimpin dalam memutuskan suatu kebijakan secara benar dan adil.137 Secara individual, pemimpin publik dituntut memiliki nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan pengetahuan, agar tidak mudah diintervensi atau digoyahkan oleh kekuasaan atau pengaruh kepentingan pihak lain yang dapat merugikan kewenangan dan kekuasaan seorang pemimpin publik, terutama akibat kendali mekanisme kontrol politik.

3. Dimensi Sosial

Kepemimpinan publik hanya pantas dipercayakan kepada seseorang yang ramah dan selalu membuka diri atas kehadiran rakyatnya, terutama ketika rakyat menghadapi berbagai persoalan hidup yang membutuhkan solusi dengan segera dari sang pemimpin publik. Kepemimpinan publik harus diberikan kepada seseorang yang memiliki sifat adil dan bijaksana. Seorang yang memperoleh kepercayaan untuk menduduki public official, tugas utama mereka bukan untuk mempengaruhi pihak lain, melainkan untuk mempertanggungjawabkan atas serangkaian amanah rakyat yang dilimpahkan kepadanya. Para pemimpin publik harus hadir sebagai inisiator untuk menciptakan sebuah iklim yang kondusif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam dimensi sosial, keberadaan kepemimpinan publik, terutama melalui kebijakan publiknya, harus hadir untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi rakyat, bukan justru menjadi sumber masalahan. Bagi pemimpin publik,

137 Syamsul Rijal Hamid, Buku Pintar Hadits (Bogor: Bhuana Ilmu, 2005), 87.

120 | Universitas Islam Negeri Mataram

harus memahami dan menyadari akan tanggungjawab kepemimpinannya, sehingga setiap keputusan kebijakannya, selalu menempatkan nilai kepentingan publik di atas segalanya dalam setiap pertimbangan kebijakannya. Konsepsi ini dalam Islam dinyatakan bahwa

“sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain”. Dimensi sosial seperti ini akan menjadikan kehadiran kepemimpinan publik menjadi lebih solutif dalam menata pemerintahan yang lebih baik sesuai harapan rakyatnya, sehingga setiap tindakan, kebijakan, dan keputusan pemimpin publik mendapatkan legitimasi dari rakyatnya. Dengan demikian, jika kepemimpinan publik mampu membawa kemaslahatan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, rakyatnyapun akan sadar terhadap kewajibannya sebagai pihak yang dipimpin, tidak melakukan moral hazard, tunduk kepada aturan atau ketentuan yang telah dibuat para pemimpin publiknya, sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an Surat Annisa Ayat 59, yang artinya, “Hai orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu”. 138