BAB 5 KESIMPULAN
C. Disain Kapal dengan Bahan Utama Laminasi bambu
Laminasi bambu mempunyai sifat yang baik sebagai bahan pembangunan kapal non baja dan memenuhi persyaratan Biro Klasifikasi Indonesia sebagai bahan untuk kapal.
44
DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim, (1985), The Gougeon Brothers on Boat Construction, Wood & West System* Materials (New Revised, Fourth Edition), Trademark of Gougeon Brothers, Inc., USA
2. ---, (1996), Buku Peraturan Klasifikasi dan Konstruksi Kapal Laut, Peraturan Kapal Kayu, Biro Klasifikasi Indonesia. Bina Hati, Jakarta
3. ---, (2010). Jenis-jenis Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu Penangkapan Ikan di Jawa Timur. Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Jawa Timur. Surabaya.
4. ---, (2010). Jenis-jenis dan Tipe Perahu Perikanan Tradisional di Jawa Timur. Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Jawa Timur. Surabaya.
5. Ananda S, Ichikawa Y, Munelata, Nagase Y and Shimizu H.
1996. Fiber Texture and Mechanical Graded Structure of
Bamboo. Dep. of Mechaniccal Engineering, Gumme University.
Japan.
6. ASTM E-739. 1988. Standard Practice for Statistical Analysis of Linier or Linearized Stress-Life (S-N) and Strain-Life (-N) Fatigue Data. In Annual Book of ASTM Standards, American Society for Testing and <aterials, Philadelphia.
7. ASTM D-390. 1972. Standard Spesification for Coal-tar Creosote for the preservative treatment of pile, poles and timbefr for marine, land and freshwater use. In Annual Book of ASTM Standards, American Society for Testing and <aterials, Philadelphia.
8. ASTM D-391. 1977. Standard Spesification for Creosote –coal tar Solution. In Annual Book of ASTM Standards, American Society for Testing and <aterials, Philadelphia.
9. AWPA 1987. Book of Standard (includes standards on preservatives, treatments, methods of analisys and inspection) Grabury, TX American Wood Preservers Association.
10. British Standard 1204 : Part 1 : (1964), Specification for Synthetic Resin Adhesives (Phenolic & Aminoplastic) for Wood, Part 1, Gap- filling Adhesives, British Standard Institution, London.
11. Bodiq, J and Benyamin AJ. 1982. Mechanics of Wood and Wood Composites. Nostrand Reinhold Company.
12. China National Bamboo Research Centre, 2001. Cultivation and Integrated Utilization on Bamboo in China. Hangzhou. China.
13. Coolins, JA. 1981. Failure of Materials in Mechanical Design.
John Willey and Sons. New York.
14. Chugg, WA., (1964), The Manufacture of Glue Laminated Structurer, Ernest Benn Limited, London .
15. Douglass C. Montgomery. 1997. Design and Analysis of Experimental. John Wiley and Sons.
16. Fangchun, Z. 2000. Selected Works of Bamboo Research. The Bamboo Research Editorial Committee, Nanjing Forestry University, Nanjing, China.
17. Idrid AA, Firmanti A dan Purwito. 1998. Penelitian Bambu untuk Bahan Bangunan. Pusat Penelitian dan Pengembangan PU.
Bandung.
18. Karnasudirdja, S., (1979), Tegangan dasar Beberapa Jenis kayu Indonesia (Basic Stresses of Some Indonesian Timber Species), Laporan no.140, Lembaga Penelitian Hasil Hutan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian Republik Indonesia, Bogor
19. Keitth, F and Thomas GW. 1999. Wood Engineering and Construction Handbook 3rd edition. MicGraw Hill. Inc. New York.
47
20. Krisdianto, Sumarni G dan Ismanto A. 2000. Sari Hasil Penelitian Bambu. Pusat Penelitian Hasil Hutan. Bogor.
21. Logan, DL., (1991), Mechanics of Materials, Rose-Hulman Institute of Technology, Harper Collins Publisher,New York..
22. Martawidjaja, A., (1978), Kayu untuk Industri Perkapalan di Indonesia, Timber Used for the Shipbuilding Industry in Indonesia, Bagian I, Laporan Penelitian Hasil Hutan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian Republik Indonesia, Bogor.
23. Morisco, (1999), Rekayasa Bambu, Fakultas Teknik Sipil, PAU Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
24. Pizzi A. 1983. Wood Adhesives, Chemistry and Technology.
Marcel Dekker Inc. New York.
25. Popov, EP. 1976. Mechanics of Materials (second edition).
Prentice Hall. New Jersey.
26. Rosyid, DM. dan Widodo, AB. 2000. Pengembangan Material Konstruksi Laminasi untuk Aplikasi Kelautan. Riset Unggulan Kemitraan (RUK) VI tahun 2001, Kerjasama antara ITS dengan PT. PAL dan PT. Pamolite Adhesive Industry. Surabaya.
27. Walpole, RE. 1995. Pengantar Statistika. Gramerdia Pustaka Utama. Jakarta.
28. Widodo, AB. 2012. Pengembangan Material Laminasi bambu Sebagai Komponen Konstruksi Utama Kapal Kayu. Laporan Akhir Penelitian Hibah Fundamental, DP2M DIKTI.
Kementerian pendidikan dan Kebudayaan.
29. Widodo, AB. 2012. Teknologi Pembangunan Kapal Kayu sebagai Sarana Penangkap Ikan dengan Menggunakan Material Laminasi Bambu untuk Memenuhi Kebutuhan Kapal Nelayan di Jawa Timur. Laporan Akhir Penelitian Penelitian Prioritas Nasional Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025, DP2M DIKTI. Kementerian pendidikan dan Kebudayaan.
48
30. US Forest Product Laboratory. 1987. Wood Handbook. US Department of Agriculture Handbook 72. US Government Printing Office. Washington DC.
31. Williamson TG. 2002. APA Engineered Wood Handbook.
McGraw-Hill. London.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Risalah Kayu Jati.
Nama Botanis :
Tectona grandis L.f. famili Verbenaceae.
Nama Daerah :
Deleg, dodolan, jate, jatih, jatos, kiati, kulidawa (jw).
Nama di Negara Lain :
Giati (Vn), teak (Bma, Ind, Th, UK, USA, NI, GM); Kyun (Bma);
Sagwan (Ind); maisak (Th); teck (Fr); tece (Bz).
Daerah Penyebaran :
Seluruh Jawa, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat (Sumbaea), Maluku dan Lampung.
Habitus :
Pohon dapat mencapai tinggi 45 meter dengan bebas cabang 15-20 meter, diameter dapat mencapai 220 cm, bentuk cabang tidak teratur dan beralur.
Gambar. Struktur Kulit Kayu (pohon) Jati.
CIRI UMUM.
Warna :
Kayu teras berwarna coklat muda, coklat kelabu sampai coklat merah tua atau merah coklat. Kayu gubal berwarna putih atau kelabu kekuning-kuningan.
Tekstur :
Tekstru kayu agak kasar dan tidak merata Arah serat :
Arah serat lurus atau kadang-kadang agak terpadu.
Kesan raba :
Permukaan kayu licin atau agak licin, kadang-kadang seperti berminyak.
Gambar. Struktur dan Tekstur Kayu Jati.
Gambar :
Lingkaran tumbuh nampak jelas, baik bidang transversal maupun radial, seringkali menimbulkan gambar yang indah.
Bau :
Kayu jati berbau bahan penyamak yang mudah hilang.
STRUKTUR.
Pori :
Pori sebagian besar atau hampir seluruhnya soliter dalam susunan tata lingkar, diameter 20-40 µ, fkrewensi 3-7 per mm2
Parenkim :
Parenkim termasuk tipe para trakeal berbentuk selubung lengkapatau tidak lengkap. Disamping itu terdapat pula parenkim berbentuk aprtrakeal berbentuk pita tangensail pendek atau panjang. Parenkim terminal terdapat pada batas lingkaran tumbuh.
Jari-jari :
Jari-jari homogen, lebar 50-100 µ, tinggi 500-2000 µ, frekwensi 4-6 per mm2.
50
Serat :
Panjang serat rata-rata 1.316b µ dengan diamter 24.8 µ, tebal dinding 3.3 µ diameter lumen 18.2 µ.
Gambar. Struktur Pori-pori Kayu Jati SIFAT FISIS.
Berat Jenis dan kelas kuat : 0.67 (0.62 – 0.75) ; II.
Penyusutan :
Penyusutan sampai kering tanur 2.8 % (radial) dan 5.2 % (tangensial).
SIFAT MEKANIS.
Keteguhan lentur statik :
Tegangan pada batas proporsional (kg/cm2) (b) -
(k) - 718
Tegangan pada batas patah (kg/cm2) (b) -
(k) - 1031
Modulus Elastisitas (1000) (kg/cm2) (b) -
(k) - 127.7
Usaha sampai batas proporsi (kg/cm2) (b) -
(k) - 2,25
Usaha sampai batas patah (kg/cm2) (b) -
(k) - 8,08
Keteguhan pukul :
51
(b) - (k) - 8,08 Radial (kg/cm2) (b) -
(k) -
Tangensial (kg/cm2) (b) -
(K) -
Keteguhan tekan sejajar serat : Tegangan maksimum (kg/cm2) (b) -
(k) 550
Kekerasan (JANKA) :
Radial (kg/cm2)
(b) - (k) 414
Tangensial (kg/cm2) (b) - (k) 428 SIFAT KIMIA.
Kadar :
- Selulosa ( % ) 47.5
- Lignin 29.9
- Pentosan 14.4
- Abu 1.4
- Silika 0.4
Kelarutan :
- Alkohol ( % ) 4.6 - Air dingin 1.2 - Air panas 11.1 - Na2H 1.0 % 19.8
Nilai kalor 5.081 kalor.
KEAWETAN DAN KETERAWETAN Keawetan :
Kayu jati termasuk kelas awet II, berdasarkan hasil percobaan laboratorium terhadap Cryptotermes cynocephalus Light dan percobaan kuburan terhadap jamur dan rayap tanah. Jenis kayu ini juga dilaporkan tahan terhadap serangan jamur, antara lain Schizophyllum commune.
Keterawetan :
Kayu diawetkan secara pelaburan dengan Carbolineum dan NaF memberikan hasil penetrasi obat yang dalam.
PENGERINGAN Pengeringan alami :
Papan dengan kadar air 40 % dapat dikeringkan sampai kering udara dalam waktu :
Tebal 1.0 cm waktu pengeringan : 15 hari.
Tebal 2.50 cm waktu pengeringan : 31 hari.
Tebal 4.0 cm waktu pengeringan : 50 hari.
Pengeringan dengan dapur pengering :
Kayu mengering lMBt dengan cacat yang minimal. Papan tebal 2.5 cm dapat dikeringkan dengan kadar air 40 % dalam waktu 5-6 hari. Suhu pengeringan adalah 60-80 oC dengan kelembaban nisbi 80-40 %.
VENIR DAN KAYU LAPIS.
Venir :
Kayu jati perlu mendapatkan perlakuan pendahuluan sebelum dikupas. Venir yang dihasilkan cukup baik dan mudah direkat.
Kayu lapis :
Karena memberikan gambar yang indah, kayu jati banyak dipakai untuk venir muka.
PENGERJAAN.
Kayu jati mudah dikerjakan, baik dengan mesin maupun dengan alat tangan. Jika alat yang digunakan cukupm tajam dapat dikerjakan sampai halus, tetapi bidang tranversal harus dilakukan dengan hati-hati karena kayunya agak rapuh. Kayu jati dapat divernis dan dipelitur dengan baik.
52
KEGUNAAN.
Karena sifatnya yang baik, kayu jati merupakan jenis kayu yang paling banyak dipakai untuk berbagai keperluan, terutama dipulau Jawa. Kayu jati praktis dan sangat cocok untuk segala jenis komstruksi seperti tiang, balok dan gelagar pada bangunan rumah dan jembatan, rangka atap, kusen pintu dan jendela, tiang dan papan bendungan dalam air tawar, bantalan dan kayu perkakas kereta api, mebel, alat-alat yang memerlukan perubahan bentuk yang kecil, kulit dan deck kapal, lantai (papan dan parket) dan sirap. Meskipun kayu jati mempunyai kegunaan yang luas, tetapi karena sifatnya yang agak rapuh, kurang baik digunakan sebagai bahan yang memerlukan kekenyalan tinggi seperti tangkai perkakas, alat olah raga, peti pengepak dan sebagainya. Jati merupakan kayu yang paling baik untuk pembuatan kapal, terutama untuk kapal yang berlayar didaerah tropis. Kayu jati juga baik dipakai sebagai tong, pipa dan lain-lain dalam industri kimia dan mempunyai daya tahan terhadap berbagai bahan kimia. Selain dari pada itu dikabarkan juga bahwa kayu jati dapat dipakai sebagai obat kolera dan kejang usus.
SILVIKULTUR.
Tempat tumbuh :
Jati tumbuh baik pada tanah sarang, terutama pada tanah yang banyak mengandung kapur. Jenis ini tumbuh didaerah dengan musim kering yang nyata, tipe curah hujan C-F, jumlah hujan rata- rata 1200-2000 mm per tahun, pada ketinggian 0-700 m dpl.
Permudaan :
Permudaan alam mudah terjadi dan membentuk tegakan murni setelah mengalami kebakaran. Selain daripada itu mudah pula tumbuh tunas tegak, tetapi permudaan semacam ini jarang dilakukan karena akan menghasilkan kayu dengan kualitas rendah.
Karena itu untuk jati umumnya berlaku sistem tebang habis dengan permudaan buatan. Permudaaan buatan dilakukan langsung dengan biji yang ditanam pada permudaan musim hujan dengan biji yang ditanam pada permudaan musim hujan dengan
53
jarak tanam 3 x 1 m sampai dengan 3x3 metertergantung pada bonita tanah.
Buah :
Pohon berbunga pada bulan Oktober-Juni dan buah masak pada bulan Juli-Desember. Jumlah biji kering 1500 butir per kg.
Hama dan Penyakit :
Hama yang banyak ditemukan antara lain adalah bubuk jati Xyleborus destruens Bldf. Yang menyerang batang hingga berlubang, ulat daun jati Hiblaea puera Cr. Pyrausta machoeralis Wlk yang memakan daun hingga gundul, rayap atu inger-inger Neotermes tectonae Damm. dan oleng-oleng Duomitus ceramicus Wlk. yang menyerang batang melalui akar. Disamping itu terjadi pula kerusakan hutan jati oleh pengembalaan dan satwa lain.
Penyakit yang lazim terdapat pada pohon jati antara lain disebabkan oleh bakteri dan jamur. Pencegahan hama dapat dilakukan dengan tindakan silvikultur seperti penjarangan dan pembersihan tumbuhan bawah yang menjdi sarang hama.
Pemberantasan penyakit dapat dilakukan dengan jalan segera menebang dan membakar pohon yang terserang.
Lampiran 2. Risalah Bambu Betung.
Nama botanis : Dendrocalamus asper (Schult.) Backer ex Heyne.
Nama daerah :
Bambu petung atau betung, diberbagai daerah bambu ini dikenal dengan nama : buluh petong, buluh sanggi, bambu batueng, pring petung, betong, bulo lotung, awi bitung, jajang betung, pereng petong, tiing petung atau petung, bulo batung dan awu petung.
Penyebaran :
Seluruh pulau Jawa.
Gambar. Penyebaran Bambu Betung di pulau Jawa Habitat :
Tumbuh baik ditanah aluvial tropis yang lembab dan basah, tetapi juga tumbuh didaerah kering didaratan rendah maupun daratan tinggi.
Kondisi tumbuhan :
Rumpun simpodial, tegak dan padat. Rebung hitam keunguan tertutup bulu membeludu berwaqrna coklat hingga kehitaman.
Buluh tinggi hingga mencapai 20 meter, tegak dengan ujung melengkung. Percabangan terdapat dibagian tengah buluh atau 1.5-3 meter dipermukaan tanah, cabang terdiri atas 5-11 cabang disetiap ruas, sebuah cabang lebih besar daripada cabang lainnya.
Buluh hijau, hijau tua atau hijau keunguan atau hijau agak keputih-putihan dan bertotol putih karena ada lumut ketika tua, selain iyu buku-buknya dikelilingi akar udara. Bagian bawah buluh muda tertutup buluh membeludu. Ruang panjangnya 40-50 cm dan berdiameter 12-18 cm dan kadang lebih dari 20 cm.
Pelepah buluh mudah luruh tertutup bulu hitam hingga coklat tua membeludu, kupingnya membulat dan kadang mengeriting hingga
54
dasar daun pelepah buluh, tinggi 7 mm dengan buluh kejur pendek, panjangnya mencapai 3 mm, daun pelepah buluh terkeluk balik, menyegitiga dengan dasar menyempit. Daun 25-30 x 2.5-4 cm, bagian bawah agak berbulu, kuping pelepah buluh kecil, tinggi 1-2 mm, gundul, ligula rata dengan panjang buluh kejur 2-3 mm.
Bambu jenis ini mempunyai rumpun agak rapat, dapat tumbuh didaratan rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 2000 meter diatas permukaan air laut. Pertumbuhan cukup baik khusunya untuk daerah yang tidak terlalu kering. Warna kulit batang hijau kekuning-kuningan. Batang dapat mencapai panjang 10-14 meter, panjang ruas berkisar antara 40-60 cm dan tebal dinding 10-15 cm.
Bambu Betung (Dendrocalamus asper) Kegunaan :
Bagi orang Sunda dan Jawa rebung bambu ini digunakan untuk sayur. Buluh digunakan untuk pilar konstruksi bangunan, mebel, sumpit, tusuk gigi dan kertas. Selain itu, juga digunakan untuk alat musik. Bambu betung banyak dipakai sebagai bahan bangunan (konstruksi), perahu, mebel, saluran air, penampung aren (sadapan
pohon nira), gedeg, kerajinan. 55
Lampiran 3. Risalah Resorchinol Formaldehyde Adhesive.
Technical Data Sheet Aerodux-500
Phenol-Resorcinol-Formaldehyde Structural Adhesive
Product Overview:
Aerodux 500 is supplied in three grades: 500F (Fast), 500M (Medium), and 500S (Slow). Hardener 501 is used with each formulation
Aerodux 500 liquid resins, when mixed with Hardener 501, provide a range of adhesive formulations which are fully weatherproof, and particularly suited to the manufacture of large laminated timber structures or other critical wood structures which are expected to be exposed to the elements. Additionally, they are resistant to acids, weak alkalis, solvents and to boiling water.
Aerodux 500 adhesives are simple to prepare. Both resin and hardener are liquids, and mixed in a 1:1 ratio.
They meet the requirements of BS 1204, Parts 1 and 2 (Type WBP), BS 1203 (Type WBP), and DIN 68 705 (AW 100), and can be released in accordance with DCI and ARB regulations.
Adhesive Chemistry:
PRF adhesives are classified as thermosetting polymers and are produced by a condensation polymerization reaction between formaldehyde, phenol and resorcinol.
PRF adhesives are cold-setting with very high weather and water resistance as well as heat resistance to be used in products for exterior, humid and interior climates. PRF adhesives are mainly used in the production of load-bearing timber structures and are tested and approved by official testing bodies for use in the building industry.
56
Physical Properties, Aerodux 500 Resins (Slow, Medium, or Fast):
Appearance Reddish-brown liquid
Viscosity at 70°F 40,000 to 111,000 centipoise (similar to ketchup)
Specific Gravity at 70° 1.13
Solids Content 52-58%
Flash Point 88°F (31°C)
Physical Properties, Aerodux 501 Hardener:
Appearance Brown liquid
Viscosity at 70°F 1,300,000 to 1,800,000 centipoise (similar to Crisco)
Specific Gravity at 70°F 1.16
Solids content 69-73%
Flash Point 100°F (38°C)
Storage & Shelf Life:
Store these formulations sealed in their original containers in a cool dry location (5-20°C). Shelf life under these conditions is at least 1 year.
Preparation/Mixing:
Resin and hardener must be well mixed for proper cure. Proportions may be measured either by weight or by volume. Mix ratio is 1:1 for all three resins. Viscosity of the resulting mixture at 25°C is between 150,000 and 200,000 centipoise (about like tomato paste or peanut butter).
Pot Life:
Resin and hardener start reacting with each other once they are mixed with the reaction proceeding until the glue is completely cured. This reaction time is a direct function of temperature of the mixture. What is referred to as “Pot Life” defines how long the glue mix remains usable.
57
Pot life in hours for various temperatures by resin type:
Temperature (°C) 5 10 15 20 25
30 35
(°F) 41 50 50 68 77 86 95
500F 9 6 4 1.5
500M 5.5 3 2
1
500S 3.5
2.5 0.5
Substrate Surface Preparation:
Surfaces to be bonded must be free of dust or other debris. Smooth dense surfaces to be bonded should be thoroughly sanded. Best adhesion achieved between sanded surfaces rather than smooth planed surfaces.
Substrate Moisture Content:
Satisfactory results may be obtained when the moisture content of the surfaces to be bonded is within the range of 6-25% with best results achieved between 12-16%. Artificial drying will be required to reduce the moisture content to 16% or lower. Adjacent surfaces should not differ by more than 4% moisture content.
Glue Spread:
Apply an even coating of mixed adhesive to both the surfaces to be bonded. Under typical workshop conditions (temperatures around 65- 68°F and 65% relative humidity), a spread rate of between 150 and 250 grams per square meter to each face of a joint is sufficient. The joint defect called “drying out” is influenced mainly by relative humidity, temperature, glue spread rate, wood type, and air circulation in the workshop. In conditions of high ambient temperature and low
relative humidity, higher spread values may be necessary to limit drying out.
Assembly Time:
Assembly time is defined as the time elapsing between glue
application and pressure application. It is divided into open time and closed assembly time.
Open assembly time should be kept as short as possible to avoid premature drying of the spread.
Under all circumstances the adhesive must still be tacky when the pressure is applied. Evidence of glue squeeze-out from the glue line upon pressure application will confirm that allowable assembly time was not exceeded.
Assembly time in hours for various temperatures by resin type:
Temperature (°C) 10 15 20 25
30 35
(°F) 50 59 68 77
86 95
500F 1.5 0.75 0.5
500M 1.5 .01 0.75 0.5
500S 1.0 0.75
0.5
Clamping Pressures:
Though the adhesive has limited gap-filling properties, it is important to bring surfaces into firm contact. It is essential that the mating surfaces of the joint establish contact before the adhesive gels.
Clamping pressure is dependent upon the wood species used and on the type of bonding operation. For laminated timber structures, the pressure should be 0.6-1.0 N/mm2 for softwoods and 0.8-1.2 N/mm2 for hardwoods.
58
Clamping Times:
These are the generally rated minimum fixturing times required to achieve full rated joint strengths.
Required clamping times in hours for various temperatures by resin type:
Temperature (°C) 10 15 20 25
30 40
(°F) 50 59 68 77 86 104
500F 24 7 5 2.5 1.5
0.5
500M 15 8.5 6.5 3
1
500S 17 9 6
2 Appearance:
The resulting appearance of the cured glue line is visibly purple in color. This glue line is particularly noticeable on light colored wood species.
Clean-Up:
Mixing and spreading equipment must be cleaned after use and before the glue gels. Cured glue is insoluble and must be scraped off of tools. Un-cured glue can be removed effectively from tools and glue lines by wiping with warm water.
Safety Precautions:
Aerodux resins and hardeners are generally harmless to handle provided that certain precautions normally taken when handling chemicals are observed. Keep the uncured materials away from food.
Cover any skin abrasions before working with these adhesives. Avoid
breathing the vapor from either the resin or the hardener. These vapors are flammable. Keep away from open flames and assure containers are firmly sealed when not in use.
Skin and eye contact with uncured glue should be avoided due to possible reaction. Protective gloves and eye protection are
recommended. Adequate ventilation of workshop should be assured.
Use of Extenders:
Wood flour or some mineral fillers (China clay, fine chalk, etc.) may be added to increase viscosity for gap filling or to reduce glue costs.
A “lightly-filled” mix would be comprised of 40 parts of filler to 100 parts resin and 100 parts hardener. This lightly filled mix will still comply with the requirements of BS-1203 (Type WBP).
A “heavily-filled” mix would be comprised of 200 parts of filler to 100 parts resin and 100 parts hardener. This will be highly viscous and may need to be adjusted with the addition of small amounts of water. Water additions should be kept to a minimum. This mix is suitable for bonding uneven-surfaced boards, such as mineral fiber reinforced boards, and where maximum strength and full weatherproof properties are not a primary requirement.
Note that the use of fillers is not allowed for approved systems for load bearing building components.
59
BAMBU LAMINASI SEBAGAI MATERIAL ALTERNATIF 73
PEMBUATAN KOMPONEN KAPAL
Lampiran 4. Hasil Pengujian Sifat Fisis Laminasi Bambu.
Variasi
Laminasi Ulangan
Sifat Fisis :
Keterangan Kerapatan
(Kg/dm3)
Kembang Susut (%)*)
Solid
1 2 3 4 5
0,731 0,687 0,536 0,761 0,740
0,914 0,981 2,000 3,344 2,867
Laminasi 3
1 2 3 4 5
0,600 0,601 0,672 0,650 0,620
2,347 1,311 1,240 1,472 1,733
Laminasi 5
1 2 3 4 5
0,670 0,760 0,710 0,690 0,720
2,536 2,962 0,446 1,695 1,905
Kombinasi 3
1 2 3 4 5
0,709 0,749 0,738 0,744 0,760
3,092 2,612 2,454 1,933 2,162
Kombinasi 5
1 2 3 4 5
0,712 0,669 0,702 0,661 0,722
3,868 3,067 4,696 2,305 2,207
Lam. Bambu
1 2 3 4 5
0,939 0,770 0,724 0,844 0,729
0,852 2,744 2,357 1,068 2,525
Keterangan :
Solid : kayu Jati
Laminasi 3 : laminasi kayu Jati 3 lapis.
Laminasi 5 : laminasi kayu Jati 3 lapis.
Kombinasi 3 : laminasi kayu Jati dan bambu Betung 3 lapis.
Kombinasi 5 : laminasi kayu Jati dan bambu Betung 5 lapis.
Lam. Bambu : Laminasi Bambu Betung.
*) : arah lebar papan.
61