• Tidak ada hasil yang ditemukan

ECOSYSTEM OF ELECTRIC VEHICLE IN INDONESIA

TINJAUAN PERKEMBANGAN SPKLU DI INDONESIA DAN ANALISIS

ditandai dengan berdirinya komunitas pengguna, seperti Tesla Club Indonesia (TCI), Komunitas sepeda/motor listrik Indonesia (KOSMIK), dan EV Jakarta [1].

Puncaknya, Perpres No. 55 tahun 2019, yang diterbitkan pada tanggal 8 Agustus 2019 mendorong percepatan implementasi ekosistem KBLBB di Indonesia. Geliat pertumbuhan ekosistem KBL mulai ditunjukkan, dan diinisiasi oleh pemerintah, melalui kementerian terkait, lembaga negara, BUMN, dan bahkan pihak swasta. Namun, Perpres tersebut tidaklah cukup untuk mengatur secara baik pertumbuhan ekosistem KBLBB di Indonesia, sehingga diperlukan aturan-aturan turunan yang lebih teknis.

Peningkatan jumlah EV dunia didorong oleh semangat menggunakan energi bersih dan kesadaran bahwa bahan bakar fosil akan habis.

Indikasi peningkatan jumlah EV tidak dapat terpisah dengan peningkatan jumlah fasilitas Charging Station (CS) di dunia. Sampai akhir tahun 2018, diestimasikan terdapat 5.2 juta charging station (CS) dari 630 ribu charging point, meningkat 44% dari tahun 2017, dan peningkatan terbesar terjadi pada charging station yang dimiliki pihak swasta/private [3]. Menurut European Union Alternative Fuels Infrastructure Directive (EC, 2014), rasio ideal antara SPKLU dan KBL adalah 1 banding 10, sedangkan di US rasio CS dan KBL mencapai sekitar 1 berbanding 32 [4]. Rasio ini masih dipengaruhi oleh beberapa faktor yang ada pada negara tersebut, seperti kondisi kepadatan penduduk, karakteristrik transportasi publiknya, sebaran CS, dan yang terpenting lagi adalah teknologi CS dan baterai yang tersedia (terkait dengan lamanya waktu pengisian baterai dan jarak tempuh sekali charging). Namun demikian, informasi ini mengindikasikan hubungan antara jumlah CS/SPKLU dan KBLBB, sehingga indikator peningkatan ekosistem KBLBB dapat dilihat dari parameter pertumbuhan infrastruktur KBLBB, khususnya CS/SPKLU.

Permasalahan “ayam dan telur” sebagai titik awal pengembangan ekosistem KBLBB di Indonesia dapat terselesaikan, dengan mensinergikan antara pembangunan KBLBB dan SPKLU. Untuk itu makalah ini dibuat dalam rangka mengevaluasi perkembangan ekosistem KBLBB di Indonesia, dengan meninjau pembangunan SPKLU. Selain itu, upaya implementasi KBLBB juga disajikan dengan menganalisis perkembangan upaya pembuatan

peraturan turunan dari Perpres 55 tahun 2019.

Sebagaimana diketahui, bahwa Perpres tersebut perlu diturunkan sehingga jelas tahapan/ prosedur penerapan ekosistem KBLBB di Indonesia.

Makalah ini juga memberikan analisis terhadap perkembangan pembahasan draft peraturan turunan Perpres 55 tahun 2019. Mengingat bahwa aturan yang sedang disiapkan juga cukup banyak, maka makalah ini membatasi pembatasan hanya pada materi turunan Perpres yang terkait dengan aspek teknis dan teknologi, seperti yang dibahas di Kementerian ESDM, Kemenhub, dan kementerian Perindustrian. Akhirnya, informasi yang dituangkan dalam makalah ini, diharapkan mampu dijadikan sebagai umpan balik untuk penerapan KBLBB di Indonesia.

METODE

Makalah ini disusun dengan menggunakan analisa kualitatif. Dengan metode ini, suatu fenomena dideskripsikan melalui pemahaman yang mendalam dari penulis. Selain itu analisa kualitatif ini mengidentifikasi pemikiran atau inti dari suatu data yang telah dikumpulkan.

Sedangkan metode pengumpulan data pada penulisan ini adalah melalui pengumpulan data primer, yaitu survey atau kunjungan secara langsung terhadap pelaku kegiatan, dan juga melalui pengumpulan data sekunder, yaitu pengumpulan data melalui media (desk-study), kegiatan forum diskusi, dan lain sebagainya. Data tersebut kemudian dihubungkan dan diolah, serta dipertajam melalui narasumber yang ada. Selain itu, hasil pengamatan dan pengalaman tim penulis dalam melakukan berbagai kajian terkait dengan pengembangan KBLBB di Indonesia, menjadi nilai tambahan dalam melakukan kajian ini.

DATA HASIL STUDI

Pembangunan SPKLU Di Indonesia

Stasiun pengisi daya di Indonesia pertama kali dikembangkan oleh PT. PLN (Persero) dengan istilah SPLU (Stasiun Pengisian Listrik Umum). Akan tetapi, SPLU ini lebih diperuntukkan untuk pengisian daya skala kecil seperti untuk pedagang kaki lima, sepeda listrik dan motor listik. Daya yang terpasang sebesar 5.5 kVA – 22 kVA dan hanya tersedia soket tanpa charging plug. SPLU ini banyak dipasang pada fasilitas umum. Hingga saat ini, PLN telah memasang lebih dari 7.000 unit SPLU dan 1.922 di antaranya tersebar di Jakarta [5].

Seiring dengan program percepatan pengembangan KBLBB di Indonesia, penyediaan infrastruktur stasiun pengisian daya untuk KBLBB menjadi sangat penting untuk menjamin fleksibilitas KBLBB. Untuk itu perlu dikembangkan stasiun pengisian dengan daya yang lebih besar yang dikenal dengan SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum).

SPKLU memiliki kapasitas daya ≥ 22 kW dan memiliki beberapa tipe charging plug sesuai dengan standar. Daya yang besar akan mempersingkat waktu yang diperlukan untuk pengisian daya (fast/ultra-fast charging).

Pada akhir tahun 2018, BPPT telah menginisiasi pengembangan fasilitas SPKLU dengan membangun fast SPKLU pertama di Indonesia dengan kapasitas 50 kW dan 22 kW yang dipasang di kantor BPPT Thamrin dan B2TKE Serpong. CS ini memiliki 3 tipe plug yaitu CCS 2 dan CHAdeMO untuk DC (50 kW) dan Tipe 2 untuk AC (43 kW). Pada akhir tahun 2019, BPPT telah menambah 1 unit CS di PT LEN Bandung dengan spesifikasi dan tipe plug yang sama.

Pada bulan November 2019, PLN menyediakan SPKLU dengan teknologi ultra- fast charging (150 kW) yang dipasang di Induk distribusi UID Jakarta, Gambir, Jakarta pusat.

Dengan daya tersebut, diperlukan waktu sekitar 20 menit untuk mengisi daya dari kondisi baterai kosong hingga mencapai 80%. SPKLU ini merupakan yang pertama menggunakan teknologi ultra-fast charging di Indonesia [6].

Pembangunan SPKLU ini terus berlanjut dan dilakukan oleh stake holder yang lain, baik BUMN maupun swasta.

Gambar 1. Roadmap kebutuhan SPKLU Nasional versi PLN [6]

Tabel 1. Lokasi CS di Indonesia (sumber: Presentasi Dirjen Ketenagalistrikan, Kementrian ESDM, di Jakarta pada 20 Juli 2020)

No Pemilik Jumlah Lokasi Status

1 PLN 16

Aeon mall, PLN Kantor Pusat, PLN UID Jaya, Senayan city, PLN UID Jawa Barat, PLN UID Bali, Tangcity Mall, PLN UID Jawa Tengah &

DIY, PLN ULP Embong Wungu

SPKLU

2 Pertamina 2

SPBU Pertamina Kuningan

SPKLU

3 BPPT* 3

Kantor BPPT Thamrin, Kantor BPPT serpong, dan PT LEN - Bandung

SPKLU

4 Bluebird 15 Pool

Bluebird Private 5 Mitsubishi 17

di 16 dealer, Jabodetabek

& Bali

Private

6 Angkasa

Pura II 1

Terminal 3, Bandara Soetta

SPKLU 7 Mercedez 1 Dealer

Jakarta Private

8 BMW 2 Dealer

Jakarta Private

*Untuk SPKLU yang dimiliki oleh BPPT, awalnya dapat digunakan secara umum (SPKLU), namun saat ini penggunaannya untuk KBL umum masih ditunda menunggu ditetapkannya proses manajemen operasional, mengingat BPPT adalah lembaga penelitian dan pengembangan teknologi, dan bukan badan usaha.

Dalam perencanaan roadmap kebutuhan SPKLU yang mengacu pada proyeksi pertumbuhan KBLBB nasional, PLN memproyeksikan dibutuhkan sekitar 7.146 unit

SPKLU hingga tahun 2030. Proyeksi pertumbuhan per tahunnya dapat dilihat pada Gambar 1.

Sementara itu, dalam hal realisasinya hingga Juli 2020, diperkirakan ada sekitar 57 unit perangkat pengisian daya yang telah terpasang di Indonesia baik yang sudah dapat digunakan oleh KBLBB umum (SPKLU) maupun yang digunakan secara terbatas untuk kepentingan pemilik (private). Lokasi fasilitas tersebut tersebar pada beberapa area seperti perkantoran, mall, poll armada, bandara, dll. Daftar lengkap CS yang terpasang ditunjukkan dalam Tabel 1.

Regulasi Turunan Perpres No. 55 tahun 2019 Hal mendesak yang perlu dilakukan untuk mendorong penerapan ekosistem KBL di Indonesia adalah melalui pembuatan peraturan turunan dari Perpres 55 tahun 2019. Pada saat ini, pemerintah sedang menyiapkan beberapa aturan turunan dari Perpres tersebut. Dengan ruang lingkup meliputi aspek yang terlihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Regulasi turunan Perpres 55/2019 Regulasi Turunan

Lembaga Penanggun g Jawab Penyusunan Standar Biaya Masukan

Tahun Anggaran 2020 untuk KBL BB (sebagai Kendaraan Dinas

Pemerintahan)

DJA

Penyusunan kebijakan pengalihan subsidi kepada pembeli KBL BB

Kemenkeu, DEN Kebijakan insentif kredit kepemilikan

KBL BB (peraturan Bank Indonesia, OJK, adaptasi skema KUR)

BI & OJK Kebijakan konversi mesin

konvensional menjadi KBL BB Kemenhub Kebijakan roadmap transformasi

kendaraan ICE menjadi KBL BB hingga tahun 2024 (roda 2/3 dan roda 4/lebih)

Kemenperin

Kebijakan standardisasi baterai untuk mendukung battery swap (ukuran dan voltase baterai)

BSN, Kemenperin Kebijakan roadmap SPKLU hingga

tahun 2024 (target Pemerintah dan target investasi swasta)

KESDM, BPPT, PLN dan LEN Kebijakan tata kelola baterai bekas

(trade in, Kerjasama distributor dengan industri recycle)

KLHK, Kemenperin dan Kemendag Kebijakan insentif oleh pemerintah

daerah Kemendagri

Kebijakan tanda nomor khusus untuk

KBL BB Kepolisian

Pengusulan pencantuman KBL BB

dalam e-catalog LKPP

Tentunya bukanlah hal yang mudah untuk dapat menyelesaikan setiap aspek dari turunan peraturan tersebut, sehingga sampai saat ini belum semua ruang lingkup pada Table 2 di atas tertuang dalam suatu draft peraturan. Namun demikian, sebagian aspek tersebut telah dijabarkan menjadi draft peraturan menteri sebagai turunan Perpres 55/2019, dengan rincian sebagaimana dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Regulasi turunan yang sedang diusulkan dan/atau telah menjadi Permen sebagai turunan Perpres 55 tahun 2019 (sumber: Presentasi Dirjen Ketenagalistrikan, Kementrian ESDM, di Jakarta pada 20 Juli 2020)

No Regulasi Turunan

Lembaga Penanggung Jawab

1

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2020 tentang Penghitungan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor tahun 2020

Kemendagri

2

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 44 Tahun 2020 tentang Pengujian Tipe Fisik Kendaraan Bermotor dengan Motor Penggerak Menggunakan Motor Listrik

Kemenhub

3

Peraturan Menteri Perindustrian terkait impor CBU sesuai jangka waktu dan jumlah tertentu, impor IKD (Incompletely Knock Down) maupun CKD (Completely Knock Down) untuk industri KBL BB, tata cara perhitungan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk KBLBB dan spesifikasi khusus KBLBB

Kemenperin

4

Peraturan Menteri ESDM terkait Infrastruktur pengisian listrik, wajib memenuhi ketentuan keselamatan ketenagalistrikan, Tarif Tenaga Listrik, dan Pola Kerjasama dengan PT PLN (Persero)

Kemen ESDM

5

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan terkait Penanganan Limbah dan Apresiasi terhadap kontribusi lingkungan hidup

KLHK

6

Peraturan Menteri Keuangan terkait insentif fiskal dan non fiskal KBL BB termasuk KBL BB bermerk nasional

Kemenkeu

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Data yang ditunjukkan pada Tabel 1 menginformasikan jumlah CS yang ada di Indonesia sampai dengan Mei 2020. Dari data tersebut, belum semua dapat dikategorikan sebagai SPKLU, dikarenakan untuk mendirikan SPKLU diperlukan persyaratan yang diatur

dalam Draft Permen ESDM terkait Infrastruktur pengisian listrik yang wajib memenuhi ketentuan keselamatan ketenagalistrikan, tarif tenaga listrik, dan memiliki pola kerjasama dengan PT PLN (Persero). Pada saat ini, aturan tersebut masih dalam tahap harmonisasi, dan untuk keperluan bisnis SPKLU, Peraturan Menteri tersebut yang merupakan turunan Perpres 55 tahun 2019 sangat diperlukan.

Dalam hal pembangunan CS yang dilakukan oleh BPPT (Lembaga Litbangjirap), yang mana pembangunan fasilitas ini awalnya merupakan bagian dari tupoksinya.Untuk dapat digunakan sebagai SPKLU tidaklah mudah.

SPKLU harus dikelola oleh lembaga yang merupakan Badan Usaha, namun demikian fasilitas SPKLU yang diadakan oleh BPPT berasal dari APBN, sehingga akan dicatat sebagai Barang Milik Negara (BMN). Pemanfaatanya dapat dilakukan dengan tujuan optimalisasi dengan tidak mengubah status kepemilikan melalui mekanisme sewa, atau kerja sama pemanfaatan dengan pihak operator, dan atau dengan penyertaan Modal Pemerintah. (sesuai Peraturan Pemerintah nomor 27 tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah). Mekanisme tersebut tidaklah mudah, sehingga diperlukan aturan yang mampu mengakomodir proses transformasi dari hasil Litbangjirap menuju tahap komersial yang lebih mudah. Terlebih lagi, dalam hal pengembangan CS ini, masih banyak aspek yang masih perlu ditingkatkan melalui kegiatan Litbangjirap.

Hal lain yang cukup penting adalah mendorong pertumbuhan industri nasional.

Turunan Perpres 55 tahun 2019 yang terkait dengan sektor industri hendaknya dapat mendukung pertumbuhan industri dalam negeri, yang tentunya dimulai dari kegiatan riset dan pengembangan. Kegiatan riset/pengembangan harus juga dipertimbangkan dalam penilaian TKDN, sehingga perbaikan yang didapat melalui kegiatan ini dapat diadopsi oleh industri dengan juga mendapat nilai tambah.

Data lain yang juga menarik untuk dibandingkan adalah dengan mengkorelasikan antara Gambar 1 dan Tabel 1. Informasi ini menunjukkan masih sangat terdapat gap yang jauh untuk pengembangan SPKLU di Indonesia.

Untuk itu, diperlukan suatu dorongan dapat berupa insentif atau kemudahan bagi para pelaku usaha agar mau berinvestasi dalam pembangunan SPKLU. Sebagai gambaran beberapa kebijakan

yang diberikan untuk mendukung KBL di luar negeri dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Kebijakan dalam Mendukung EV di Beberapa Negara [2]

Tabel 4 memperlihatkan bahwa di beberapa negara maju, pengembangan KBLBB didukung dengan kebijakan nasional yang langsung menyentuh pada aspek seperti, regulasi, insentif, perencanaan, kebijakan industry, termasuk di dalamnya untuk pengembangan SPKLU-nya. Fasilitas ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan industri nasional.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Perkembangan pembangunan infrastruktur KBLBB di Indonesia pada saat ini (2020) yang berjumlah 57 unit masih berada di bawah target dari yang direncanakan (sebanyak 180 unit).

Regulasi turunan Perpres 55 tahun 2019 sangat diperlukan untuk mendorong percepatan pembangunan SPKLU dan pertumbuhan KBLBB, sehingga mengurangi gap yang ada.

Regulasi yang menjembatani antara kegiatan riset dan pengembangan terkait SPKLU dan KBLBB dari Lembaga Litbangjirap dengan kegiatan komersial yang dilakukan oleh badan usaha, pada saat ini masih kurang mendukung dalam penerapannya. Hal tersebut menyebabkan lambatnya perkembangan inovasi untuk pengembangan industri dalam negeri. Untuk itu, diperlukan regulasi yang dapat menjembatani kegiatan riset dan pengembangan dengan pelaku industri agar tercipta industri nasional yang inovatif.

Pengembangan untuk peningkatan TKDN dalam industri KBLBB hanya dapat ditempuh melalui kerja sama yang dapat saling menguntungkan antara pelaku industry nasional dan lembaga litbangjirap yang didukung oleh regulasi dari pemerintah. Oleh sebab itu,

penyusunan regulasi turunan Perpres 55 tahun 2019 dapat dijadikan sebagai momentum yang tepat untuk menyusun rencana pengembangan KBLBB di Indonesia yang juga mendukung pertumbuhan industri dalam negeri.

Saran

Untuk mempercepat pertumbuhan ekosistem KBLBB di Indonesia, maka diperlukan penerapan peraturan turunan dari Perpres 55 tahun 2019. Dalam penyusunan peraturan turunan ini, diharapkan dapat melibatkan stake holder KBLBB yang ada di Indonesia. Rencana pemerintah untuk memulai penggunaan KBLBB melalui penggunaan di instansi pemerintah dapat dipertimbangkan sebagai langkas awal dalam implementasi ekosistem KBLBB.

Lebih lanjut, untuk mencapai tahap industrialisasi KBLBB, maka perlu diperkuat peran penelitian dan pengembangan teknologi.

Dan hal ini sebaiknya tercantum secara jelas dalam turunan regulasi dari Perpres 55 tahun 2019. Peran industri baik BUMN ataupun swasta harus didukung dengan memanfaatkan sebisa mungkin kemampuan dalam negeri.

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terimakasih disampaikan kepada seluruh pihak yang berkontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung, berupa materi referensi, arahan dan pendampingan dalam menghasilkan tulisan ini.

DAFTAR PUSTAKA

[1] PUSYANTEK, BPPT “Kajian Teknologi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik untuk Umum,” Laporan Akhir untuk Pertamina, 003/G20130/2019-S0, Maret 2020

[2] B2TKE-BPPT, “Hasil interview dengan penyedia kendaraan listrik roda 2”, Januari 2020

[3] IEA, “Global EV Outlook 2019,” Paris, 2019.

[4] Sigit P. Santosa,” KBL dan Proyeksi Perkembangannya di Dunia dan Indonesia serta Kebutuhan SPKLU Nasional”, Materi presentasi FGD SPKLU, BPPT-Pertamina, Januari, 2020

[5] Donny Dwisatryo P,"Apa Perbedaan SPLU dengan SPKLU buat Kendaraan Listrik?", [online].Available:https://otomotif.kompas.

com/read/2019/09/11/082200715/apa- perbedaan-splu-dengan-spklu-buat-

kendaraan-listrik-, diakses 3 Agustus 2020

[6] Z. Arifin, “Infrastructure Development for Electrifying Road Transportation in Indonesia.” 2020.

KAJIAN POTENSI PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA

Garis besar

Dokumen terkait