• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI KASUS: PERAIRAN PELABUHAN RATU SAMUDRA HINDIA, JAWA BARAT

KAJIAN POTENSI PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA

rasio elektrifikasi tersebut. Dan pada dasarnya untuk meningkatkan target elektrifikasi ini pihak PLN juga meningkatkan pembangunan pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) off grid atau komunal. Mulai 2018, pembangunan pembangkit off grid akan dikerjakan langsung PT PLN (Persero)[2]. Hal ini agar upaya mengalirkan listrik ke wilayah yang belum menikmati listrik sesuai dengan rencana pengembangan jaringan PLN. Pembangkit listrik off grid dinilai menjadi jawaban untuk melistriki wilayah pedalaman. Ini sangat cocok digunakan untuk pada permasalahan di pepaer atau jurnal ini karena pembanguanan pembantu pembangkit listrik di daerah perdalaman atau di pesisir.

Energi sendiri merupakan salah satu faktor pendukung pertahanan. Energi sebagai pendukung pertahanan ini di landasai oleh faktor (1) jumlah energi (availibility) baik sumber daya maupun cadangan energi, (2)ketersediaan infrastruktur (accessability), (3)harga energi (affordability), (4)kualitas energi (acceptability), (5) keberlanjutan (sustainability), sehingga energi dituntut untuk dikelola dengan memperhatikan daya dukung lingkungan (environment). Energi pertahanan pada jurnal ini berfokus pada kajian pembangunan pembangkit listrik di wilayah pesisir guna mendung pertahanan negara sesuai denga PP Nomor 68 Tahun 2014 tentang Penataan wilayah pertahanan nerga, disini termasuk wilayah pesisir. Dan di pelabuhan ratu sendiri sudah adanya pangkalan laut, Pangkalan laut itu sendiri akan berstandar pada type B yang nantinya akan didukung oleh dermaga dan tempat perawatan alutsita TNI AL.

Pembangunan pangkalan direncanakan akan dilakukan secara bertahap dari type C ke B. Dan kajian Pembangunan PLTGL di Pelabuhan Ratu untuk menunjang oprasional listrik untuk pos Tni Al Palabuhan Ratu Sukabumi. Perdiksi gelombang ini dilakukan pada bulan Juni, Juli, dan Agustus 2019. Dimana diperikirakan pada bulan tersebut memiliki potensi gelombang yang optimal dan dilihat dari kecepatan angina pada bulan – bulan tersebut.

METODOLOGI

Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif yang berlandaskan fenomenologis. Fenomenologis adalah fenomena-fenomena yang terjadi atau realita yang ada di lapangan penelitian. Dalam penelitian kualitatif, kehadiran peneliti di lapangan sangat diperlukan karena menjadi

pendukung peneliti sebagai tugas instrumen penelitian itu sendiri[3]. Peneliti sebagai instrumen penelitian dimaksudkan sebagai pewawancara dan pengamat. Pusposive sample yang dimaksud adalah teknik untuk menentukan santri yang bisa dijadikan informan dalam penelitian ini, tehnik ini digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Pengambilan subjek ttersebut berdasarkan ciri-ciri atau sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya.

Selain menggunakan metode deskriptif pada penelitian atau penggumulan data yang ada pada jurnal ini menggunakan metode wawancara.

Dimana metode ini digunakan bertujuan untuk memperkuat hasil pemahasan dengan cara pandang para pakar atau orang yang ahli dibidangnya. Wawancara penelitian lebih dari sekedar percakapan dan berkisar dari informal ke formal. Walaupun semua percakapan mempunyai aturan peralihan tertentu atau kendali oleh satu atau partisipan lainnya, aturan pada wawancara penelitian lebih ketat. Tidak seperti pada percakapan biasa, wawancara penelitian ditujukan untuk mendapatkan informasi dari satu sisi saja, oleh karena itu hubungan asimetris harus tampak. Peneliti cenderung mengarahkan wawancara pada penemuan perasaan, persepsi, dan pemikiran partisipan[4].

Penelitian ini juga melalkukan perbandingan studi literature dimana, studi literature ini dibuat untuk mendapatkan prediksi dari data jurnal sebelumnya intuk penggukuran gelombang laut selain dari citra stelit. Dan literature terdahulu ini berlaku pada prediksi perhitungan energi gelombang.

Bahan pada jurnal kali ini menggunakan bahan dari bahan jurnal lain yang mendukung dan beberapa data pengindraan yang diperoleh dari BMKG. Pada data BMKG ini untuk memprediksi kisaran besaran yang di hasilkan dari gelombang dan kecepatan angina secara satelit BMKG. Dari data tersebut akan di peroleh beberapa fakto olahan yang akan memprediksi gelombang.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hubungan Energi dan Pertahanan

Pada dasarnya indkator pertahanan sendiri sangat bergantung terhadap adanya pasokan energi. Dimana salah satu faktor pendukung pertahanan adalah energi. Ketahanan energi sendiri memilki lima indikator dimana terdapat 4A dan 1S, yaitu availability, accessability, affordability, acceptability, sustainability. Untuk jurnal ini sangat terlihat potensin ketahanan

energi ini sangat mendukung untuk pasokan pendukung nergi dalam bidang pertahanan. Hal ini terlihat letak pada pangkalan militer TNI AL yang terletak tidak jauh dari lokasi pemasangan pembangkit listrik tenaga gelombang.

Pemasakan energi baru terbarukan disini untuk mendung pertahanan militer sebagai pendukung pasokan listrik.

Karateristik Lokasi

Disini pada gambar 1 menunjukan bawah lokasi proyeksi PLTG terletakak pada gambar tersebut. Lokasi pemasangan tidak jauh dari sumber pembangkit energinya atau turbin PLTG.

Pada dasarnya kondisi laut pesisir pelabuhan ratu memiliki pergerakan arus sesuai dengan arah angin yang terbiasa terjadi di teluk pelabuhan ratu adanya musim angin barat yang mencapai 11,6 - 21.7 cm/ detik, arus bergerak kearah barat-barat laut (8.2 - 14.7 cm/detik). Sementara pada musim timur arus bergerak menuju teluk dari arah barat (13.0 - 16.1 cm/detik)[5]. Pengaruh dari kecapatan angina ini juga sangat mempengaruhi kecepatan gelombang di perairan tersebut. Pada pengindraan citra satelit BMKG juga menyebutkan pada bulan Juni, Juli Dan Agustus 2019 menunjukan bahawah kecepatan angina

berkisar antara 8 sampai 10 knot. Dan data dapat terlihat pada gambar 2 dibawah. Dengan krakteristik pelabuhan ratu yang berupa teluk dapat mebuat kondisi golombang juga relative tinggi.

Potensi Gelombang

Dengan adanya kondisi angina yang relative kencang yang ada di Pelabuhan Ratu sendiri tidak menutup kemngkinan untuk petensi gelombang yang ada disana. Pada dasarnya untuk mengetahui potensi suatu gelombang dapat ditentukan dengan menggunakan menggunakan data itu merupakan salah cara yang tepat untuk pentuan potensi. Akan tetapi pada jurnal ini penetuan data gelombang di pelabuhan ratu dengan menggunakan data dari citra satelit BMKG dan riview jurnal yang bersanguktan dengan pengkuran gelombang di Pelabuhan Ratu.

Pada jurnal yang berjudul permodelan gelombang di permodelan gelombang menunjukan hasil Tinggi gelombang rata-rata mencapai nilai tertinggi pada musim barat, yaitu sebesar 1,77 meter sedangkan tinggi gelombang rata-rata paling rendah terjadi pada musim timur yaitu sebesar 1,21 meter[1]. Pada jurnal berikutnya di ambil pada tahun 2016 yaitu berkisar di perairan Teluk Pelabuhan Ratu, pada musim barat, tinggi gelombang signifikan pada daerah ini berkisar antara 0,45 – 1,55 meter.

Sedangkan pada musim timur tinggi gelombang signifikan relatif sama yaitu sebesar 0,4 – 1,58 meter[6].

Pada gambar 3 menujukan hasil dari pengindaran dari BMKG untuk bulan Juni, Juli dan Agustus 2019, dimana pada bulan bulan tersebut menunjukan bahwa nilai tinggi gelombang berkisar antar 1 meter sampai 2 meter. Hal ini menujukan data pada pengindaran citra stelit BMKG memiliki nilai hampir sama dengan data permodelan gelombang pada jurnal

Gambar 23. Pencitraan Satelit BMKG Kecepatan Angin Gambar 22. Lokasi Proyeksi PLTG

diatas [6]. Pada studi literature lainnya menujukan di perairan pelabun rantu memiliki periode gelombang dating antara 5 sampai 5,6 secon, juga memilik panjang gelombang 129 sampai 161,3 meter, dan memiliki kecepatan gelombang sebesar 25,7 sampai 28,7 m/s [7]

Proyeksi Energi Gelombang

Pada dasar energi baru terbarukan merupakan energi yang berasal dari alam dan di olah menjadi suatu energi. Pada energi terbarukan ini memilik kondisi dimana suatu energi tersebut tidak akan pernah habis, berbeda dengan energi yang berasal dari fosil, yang dimana energi fosil memiliki sistem atau persedian tidak mudah diperbarui. Energi baru terbarukan ini salah satunya besaral dari gelombang laut. Gelombang laut ini bertujuan untuk mengerakan turbin dan dari turbin tersebut akan manglirakan aliran enrgi berupa listrik[8].

Kolom air berosilasi (Oscillating Water Column) yaitu listrik yang dibangkitkan dari naik turunnya air akibat gelombang laut dalam sebuah pipa silindris yang berlubang. Naik turunnya air ini akan mengakibatkan keluar masuknya udara di lubang bagian atas pipa dan menggerakkan turbin. Data proyeksi energi gelombang ini diperoleh dari beberapa jurnal kemudian dibandingkan dengan hasil pengindraan citra satelit BMKG di perairan Pelabuhan Ratu. Pada jurnal hasil riview menujukan dengan gelombang terendah 5 meter dan gelombang tertinggi 5,6 meter akan menghasilakan daya minimal 623.348,3 Watt dan daya maksimal 1.088.944,7 [7]. Maka proyeksi yang di hasilkan pada energi gelombang dengan gelombang terendah 1 Meter dan tertinggi 2 Meter, daya yang di peroleh sebesar 124.669,66 Watt dan tertinggi sebesar 388.908,82 Watt yang dihasilakan pada proyeksi tersebut. Makan dapat daya tersbut apabila

digunakan untuk energi penunjang pertahanan sangatlah mampu untuk menerangi atau menunjang pasokan listrik di pangkalan pos militer resebut.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Hasil penelitian diperoleh bahwa potensi prediksi gelombang laut pada perairan pelabuhan ratu untuk pengindraan selama bulan Juni, Juli, dan Agustus 2019 memiliki tinggi gelombang 1 Meter sampai 2 Meter dan juga memilik potensi energi gelombang laut yang di hasilkan memiliki energi listrik minimal 124.669,66 Watt dan maksimal 388.908,82 Watt. Sehingga dapat disimpulkan bahwa di perairan Pelabuhan Ratu memiliki potensi pembangunan pembangkit listrik tenaga gelombang laut (PLTG) yang sangat berguna sebagai pendukung energi pertahanan sekaligus menunjang kebutuhan pengembangan maritim di daerah tersebut.

Saran

Pada penyususnan penelitian ini memiliki kendala dimana tidak dilakukannya pengukuran secara raltime. Dan pengkuran ini hanya dilakukan dengan studi literature. Untuk penulisan ini penulis menyarankan untuk dilakukan pengkuran secara real time, dan beberapa pengkuran gelombang langsung di Pelabuhan ratu dengan beberapa waktu secara berkala. Dengan adanya penlitian langsung dapat menjadi acun terbaru sebagi potensi pembangkit listrik di daerah tersebut. Dan energi baru terbarukan merupak salah satu cara untuk berinvestasi dengan jangka panjang.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Taofiqurohman and Ankiq,

“PEMODELAN TINGGI GELOMBANG

Gambar 24. Pencitraan Satelit BMKG Potensi Gelombang

UNTUK PENENTUAN TINGKAT KERENTANAN PESISIR KABUPATEN SUKABUMI Ankiq Taofiqurohman,” vol.

6, no. 1, pp. 13–19, 2013.

[2] BPPT, Outlook Energi Indonesia 2019 Dampak Peningkatan Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan Terhadap Perekonomian Nasional, no. December. 2019.

[3] M. Mulyadi, “Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif Serta Pemikiran Dasar

Menggabungkannya,” J. Stud. Komun. dan Media, vol. 15, no. 1, p. 128, 2013.

[4] I. N. Rachmawati, “Pengumpulan Data Dalam Penelitian Kualitatif: Wawancara,”

J. Keperawatan Indones., vol. 11, no. 1, pp.

35–40, 2007.

[5] H. S. Sanusi, “TELUK PELABUHAN RATU PADA MUSIM BARAT DAN TIMUR ( Chemical Characteristic and Fertility of Pelabuhan Ratu Bay Waters at East and West Monsoon ),” pp. 93–100, 1994.

[6] W. Budi and A. Pamungkas, “Perbandingan Karakteristik Oseanografi Pesisir Utara Dan,” Pros. Semin. Nas. Kelaut. dan Perikan., no. September, pp. 191–202, 2017.

[7] F. Faulincia, “Studi Potensi Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut Dengan Metoda Oscilating Water Column Di Perairan Kendari Indonesia,” J. Mech. Eng.

Mechatronics, vol. 4, no. 1, p. 7, 2019.

[8] I. W. A. Wijaya, “Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut Menggunakan Teknologi Oscilating Water Column Di Perairan Bali,” Maj. Ilm. Tek. Elektro, vol.

9, no. 2, 2012.

STUDI KOMPARATIF LIFE CYCLE ASSESSMENT (LCA) PEMBANGKIT

Garis besar

Dokumen terkait