• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ekonomi Syariah (Islam)

Dalam dokumen peran program pemberdayaan masyarakat desa (Halaman 45-50)

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori

3. Ekonomi Syariah (Islam)

10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau (b) Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).92

Menurut Euis Amalia menyebutkan bahwa kriteria- kriteria usaha menengah adalah memiliki kekayaan bersih lebih besar dari Rp. 200 juta, milik warga Negara Indonesia, berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki dan dikuasai, dan bentuk usaha orang perorangan, dan badan usaha yang tidak berbadan hukum.93

Aktifitas ekonomi yang sering dilakukan oleh berbagai pihak dalam bentuk yang beragam merupakan pengikat antara individu yang satu dengan yang lainnya akan melahirkan hak dan kewajiban, sehingga perlu diatur hubungan antar individu tersebut agar mengandung unsur prinsip syariah di dalamnya, itulah yang dikenal dengan ekonomi Islam.

Kaum muslimin berperilaku dalam kegiatan ekonominya sebagai konsumen produsen dan pemilik modal, harus senantiasa mengedepankan sistem ekonomi syariah yang menekankan kepada 4 sifat, antara lain kesatuan (unity), keseimbangan (equilibrium), kebebasan (free will), dan tanggung jawab (responsibility), serta untuk mengusai dan memanfaatkan sektor-sektor dan kegiatan ekonomi dalam skala yang lebih luas dan komprehensif, seperti perdagangan, industri, pertanian, keuangan jasa, dan sebagainya, yang ditujukan untuk kemaslahatan dan kepentingan bersama.96

Dalam melakukan kegiatan ekonomi, Islam melarang umat Islam mempergunakan cara-cara yang batil seperti melakukan kegiatan riba, melakukan penipuan, mempermainkan takaran (timbangan), berjudi, melakukan praktik suap-menyuap, dan cara-cara batil lainnya. Begitu pula dalam menjalankan program pemberdayaan masyarakat dan menjalankan bisnisnya pada usaha mikro kecil dan menengah.

Setiap kegiatan bisnis/ekonomi harus berlandaskan ajaran Islam. Dalam menjalankan program pemberdayaan masyarakat dan menjalankan bisnisnya pada usaha mikro kecil dan menengah misalnya, Islam sudah mengatur secara komprehensif bahwa Islam meliputi seluruh aspek kehidupan, baik ibadah (hubungan manusia dengan Allah) maupun muamalah (sosial). Universal bermakna bahwa ajaran Islam dapat diterapkan dalam setiap waktu dan tempat hingga tiba hari akhir nanti.97

b. Prinsip Dasar Ekonomi Syariah (Islam)

Menurut Yahya Wijaya dan Nina Mariani Noor menjelaskan bahwa prinsip-prinsip umum ekonomi syariah (Islam) adalah sebagai berikut:98

96 Didin Hafidhuddin, Islam Aplikatif, (Jakarta: Gema Insani, 2003), 29.

97 Ahmad Mundir, dkk, Perbandingan Sistem Ekonomi (Surabaya: Kopertais IV Press, 2015), 137-138.

98 Yahya Wijaya dan Nina Mariani Noor, Etika Ekonomi dan Bisnis: Perspektif Agama-Agama di Indonesia (Geneva: Globethics.net, 2014), 21-24.

Pertama, tauhid (kesatuan). Tauhid merupakan konsep yang membedakan khalik dengan makhluk, memadukan segi politik, sosial ekonomi kehidupan manusia menjadi kebulatan yang homogen yang konsisten dari dalam dan luas sekaligus terpadu dengan alam luas. Dari konsepsi ini, maka Islam menawarkan keterpaduan agama, ekonomi, dan sosial demi membentuk kesatuan. Atas dasar pandangan ini maka pengusaha muslim dalam melakukan aktivitas bisnis harus memperhatikan tiga hal: 1), tidak diskriminasi terhadap pekerja, penjual, pembeli, mitra kerja atas dasar pertimbangan ras, warna kulit, jenis kelamin atau agama, 2) Allah yang paling ditakuti dan dicintai, dan 3) tidak menimbun kekayaan atau serakah, karena hakikatnya kekayaan merupakan amanah Allah.99

Kedua, keseimbangan (Keadilan). Ajaran Islam berorientasi pada terciptanya karakter manusia yang memiliki sikap dan prilaku yang seimbang dan adil dalam konteks hubungan antara manusia dengan diri sendiri, dengan orang lain (masyarakat) dan dengan lingkungan. Keseimbangan ini sangat ditekankan oleh Allah dengan menyebut umat Islam sebagai ummatan wasathan, yakni umat yang memiliki kebersamaan, kedinamisan dalam gerak, arah dan tujuannya serta memiliki aturan-aturan kolektif yang berfungsi sebagai penengah atau pembenar. Dengan demikian keseimbangan, kebersamaan, kemodernan merupakan prinsip etis mendasar yang harus diterapkan dalam aktivitas bisnis.100

Ketiga, kehendak bebas (free will). Kebebasan merupakan bagian penting dalam nilai etika bisnis Islam, tetapi kebebasan itu tidak merugikan kepentingan kolektif.

Kepentingan individu dibuka lebar. Tidak adanya batasan pendapatan bagi seseorang mendorong manusia untuk aktif berkarya dan bekerja dengan segala potensi yang dimilikinya.

Kecenderungan manusia untuk terus menerus memenuhi kebutuhan pribadinya yang tak terbatas dikendalikan dengan adanya kewajiban setiap individu terhadap masyarakatnya melalui zakat, infak dan sedekah.101

99 Wijaya dan Nina Mariani Noor, Etika Ekonomi dan Bisnis, hlm. 22-23.

100 Wijaya dan Nina Mariani Noor, Etika Ekonomi dan Bisnis, hlm. 23-24

101 Muhamad Salim, Etika Bisnis Dalam Ekonomi Islam, dalam http://serbamakalah.blogspot.com/2013/05/etika-bisnis-dalam-ekonomi-islam_2527.html, diunduh pada tanggal 10 Maret 2021, Pukul: 21.56 WITA.

Keempat, pertanggungjawaban. Pertanggungjawaban secara mendasar akan mengubah perhitungan ekonomi dan bisnis karena segala sesuatunya harus mengacu pada keadilan.

Hal ini diimplementasikan minimal pada tiga hal, yaitu: 1) dalam menghitung margin, keuntungan nilai upah harus dikaitkan dengan upah minimum yang secara sosial dapat diterima oleh masyarakat, 2) economic return bagi pemberi pinjaman modal harus dihitung berdasarkan pengertian yang tegas bahwa besarnya tidak dapat diramalkan dengan probabilitas nol dan tak dapat lebih dahulu ditetapkan (seperti sistem bunga), dan 3) Islam melarang semua transaksi alegotoris yang dicontohkan dengan istilah gharar (penipuan).

Kelima, kebenaran, kebajikan dan kejujuran. Kebenaran dalam konteks ini selain mengandung makna kebenaran lawan dari kesalahan, mengandung pula dua unsur yaitu kebajikan dan kejujuran. Dalam konteks bisnis kebenaran dimaksudkan sebagia niat, sikap dan perilaku benar yang meliputi proses akad (transaksi) proses mencari atau memperoleh komoditas pengembangan maupun dalam proses upaya meraih atau menetapkan keuntungan.102

c. Nilai Instrumental Ekonomi Syariah (Islam)

Dalam rangka usaha mendapatkan harta/materi diperkenankan dengan berbagai macam cara, asalkan mengikuti rambu-rambu yang telah ditetapkan dalam ajaran Islam. Rambu-rambu tersebut di antaranya adalah: carilah rezeki yang halal dan baik; tidak dizalimi maupun menzalimi;

menjauhkan diri dari unsur riba, maisir (perjudian/spekulatif), dan gharar (penipuan/curang); serta tidak melupakan tanggungjawab sosial berupa zakat, infak dan shadaqah.103

Ekonomi syariah diibaratkan seperti sebuah bangunan yang didasarkan pada lima nilai universal yaitu: tauhid (penghambaan total kepada Allah), al-‘adl (keadilan), nubuwwah (meneladani sunnah Nabi Muhammad), khilafah (manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi), dan ma’ad (berorientasi keakhiratan). Dengan nilai-nilai ini diharapkan para pelaku ekonomi syariah mampu menerapkannya menjadi

102 Muhamad Salim, Etika Bisnis Dalam Ekonomi Islam, dalam http://serbamakalah.blogspot.com/2013/05/etika-bisnis-dalam-ekonomi-islam_2527.html, diunduh pada tanggal 10 Maret 2020, Pukul: 21.56 WITA.

103 Ahmad Mundir, dkk, Perbandingan Sistem Ekonomi, 139.

sistem kongkrit,104 dan prinsip sistem pokok yang tumbuh dalam kegiatan ekonomi masyarakat.

Islam memberikan rambu-rambu atau prinsip (syariat) yang harus ditaati umatnya ketika menjalankan kegiatan ekonomi oleh masyarakat. Beberapa nilai yang harus dijalankan dalam praktik ekonomi Islam, di antaranya:

Pertama, halal. Allah telah memerintahkan kepada umatnya untuk mencari rezeki yang halal. Kalau diamati selama ini, maka sangat sulit untuk melihat praktik ekonomi (bisnis) yang tanpa melibatkan pinjaman bank, yang mengandung riba. Bahkan bisa dikatakan, kebanyakan kegiatan ekonomi (bisnis) sekarang ini, khususnya yang berskala besar tidak bisa beroperasi tanpa pinjaman bank.105

Kedua, Thayyib. Selain mewajibkan praktik ekonomi (bisnis) yang halal, Islam juga mengutamankan ekonomi (bisnis)yang Thayyibah. Thayyibah atau tuuba (sebagai jamak) berarti sesuatu yang baik atau elok dan memberikan manfaat tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga mitra bisnis dan masyarakat luas.

Ketiga, kejujuran. Agar tidak merugikan mitra transaksi atau pelanggan, maka kegiatan ekonomi (bisnis) menurut Islam mengutamakan kejujuran. Bersikap jujur dalam menjalankan usaha adalah sikap yang telah di contohkan oleh Rasulullah.

Jujur merupakan sifat utama dan etika Islam yang luhur.106 Keempat, kewajaran. Praktik ekonomi (bisnis) harus dijalankan secara wajar (fair). Salah satu bentuk kewajaran dalam berbisnis adalah dalam mengambil keuntungan.

Produsen boleh mengambil keuntungan, perantara (grosir) boleh menikmati keuntungan, dan pengecer pun boleh memperoleh laba. Namun, keuntungan tersebut seharusnya dalam porsi wajar.107

Kelima, seimbang. Praktik ekonomi (bisnis) menurut ajaran Islam haruslah dilakukan untuk menjaga keseimbangan dan keselarasan dengan alam raya serta memakmurkan bumi.

Keenam, bersaing secara sehat. Pesaing dalam kegiatan ekonomi (bisnis) bukanlah sesuatu yang dilarang. Pesaing

104 Ahmad Mundir, dkk, Perbandingan Sistem Ekonomi, 141.

105 M. Azrul Tanjung, Fikri, dkk, Meraih Surga dengan Berbisnis (Jakarta: Gema Insani, 2013), 87.

106 M. Azrul Tanjung, Fikri, dkk, Meraih Surga dengan Berbisnis, 88.

107 M. Azrul Tanjung, Fikri, dkk, Meraih Surga dengan Berbisnis, 89.

dapat dijalankan asalkan untuk sarana berprestasi secara fair dan sehat (fastabiqul khairat) dan mencari berkah Allah, serta menjadikan umat yang lebih baik (khairul ummah), sehingga memicu umat agar menjadi lebih kreatif, inovatif, dan terus berinovasi dalam berbisnis.108

Ketujuh, etos kerja. Islam adalah agama amal (kerja), baik untuk kepentingan hidup di dunia maupun kehidupan setelah mati di akhirat. Dalam urusan kerja untuk duniawi, Islam memerintahkan para penganutnya untuk memiliki etos kerja yang tinggi. Tumbuhnya etos entrepreneurship yang tinggi, khususnya bagi generasi umat akan berdampak positif bagi kemajuan dan kebangkitan ekonomi.109

Kedelapan, profesional. Profesional adalah sebutan bagi orang yang ahli dalam bidang tertentu, yang dipelajari secara khusus. Profesional yang didukung oleh sikap jujur dan ikhlas merupakan dua sisi yang saling menguntungkan. Nabi Muhammad memberikan contoh bahwa seorang yang profesional mempunyai sikap selalu berusaha maksimal dalam mengerjakan sesuatu atau dalam menghadapi suatu masalah tidak mudah menyerah atau berputus asa dan bahkan juga pengecut yang menghindari dari resiko.110

Dalam dokumen peran program pemberdayaan masyarakat desa (Halaman 45-50)

Dokumen terkait