EKSPLOITASI DAN PEMARJINALAN PEREMPUAN PADA PEMBERITAAN MEDIA ONLINE
1) Eksploitasi Perempuan pada Media Online
Media menjadikan perempuan sebagai bahan komoditas yang dapat dieksploitasi berita yang bertujuan untuk menarik para pembaca. Mengeksploitasi perempuan dalam pemberitaan dilakukan untuk mengeruk keuntungan, dengan demikian komoditas pemberitaan terletak pada nilai jual leksis perempuan. Hasil analisis data dari berbagai pemberitaan media online sehubungan dengan ekaploitasi perempuan ditemukan jenis ekaploitasi seperti: Prostitusi online, b) Perempuan dijadikan komoditas, c) Ancaman kekerasan digital, d) Perempuan dilecehkan secara seksual, e) Pelecehan perempuan mengatasnamakan budaya lokal , f) Kawin kontrak ‘nikah siri’, agar lebih jelas akan diuraikan sebagai berikut.
a) Prostitusi Online
Maraknya kasus yang menjerat artis-artis papan atas pada kasus prostitusi online, berdampak pada asumsi buruknya pada artis sebagai sentral figur tercoreng dengan digerebeknya sejumlah artis pada kasus prostitusi online. Entah itu inisiatif dari wartawan untuk memberitakan kasus tersebut. Atau pun bagian redaksi yang menginginkan kasus tersebut terus diberitakan agar pembaca datang untuk membaca tulisannya. Permasalahan lain muncul akibat maraknya pemberitaan yang dilakukan oleh media, terutama media online. dengan tarif yang beragam seperti pemberitaan media online:
Perempuan: Eksploitasi Dan Komoditas Media (geotimes, 21/2/19) Pemberitaan kasus prostitusi online yang menimpa artis perempuan yang berinisial VA. Dia disebut- sebut menjual diri dengan harga yang sangat fantastis, 80 juta rupiah. Sialnya, VA tertangkap tangan langsung saat sedang bertransaksi di hotel di kawasan kota Surabaya (D8/P2/, 6/2/20)
b) Perempuan Dijadikan Komoditas
Sudah jatuh tertimpa tangga, itulah pepatah yang tepat dan terjadi pada korban, karena kasus tertangkap protitusi online maka terkuak beberapa kasus yang jadi trending topik lainnya seperti mendistribusi foto vulgar ke beberapa orang, sehingga Ianya terjerat UU ITE, “VA kini dijadikan tersangka oleh kepolisian dengan alasan dia aktif dalam mendistribusikan foto vulgarnya ke beberapa orang. Dia terkena Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) pasal 27 ayat (1).” (D8/P2/, 6/2/20).
Demikian pula yang dialami oleh mahasiswa UI yang jadi komoditas wartawan saat dia dengan kasus skandal video porno, ‘Mahasiswi Universitas Indonesia berinisial HA juga pernah menjadi buah bibir tentang skandal video porno. Video yang dia buat dengan pasangannya tersebar di internet.’ (D8/P4/, 6/2/20)
Hal itu diungkapkan oleh Junaidi pada teks berita berikut, “Ahmad Junaidi dalam tulisan Meliput Isu-isu Perempuan dan LGBT di buku Jurnalisme Keberagaman: Sebuah Panduan Peliputan menjelaskan bahwa eksploitasi tubuh perempuan tidak hanya ditunjukan dalam gambar atau foto vulgar saja. Akan tetapi, eksploitasi perempuan bisa
34
melalui judul dan atau isi sebuah berita. Dalam artian, media hari ini menjadikan perempuan sebagai bahan komoditas berita untuk menarik pembaca.” (D8/P7/, 6/2/20)
Jadi, peran wartawan media online memberitakan HA ini dengan cepat dan luas.
Bukan hanya itu, identitas asli dan segala privasi tentang kehidupan pribadi HA diberitakan. Dalam hal ini, VA dan HA adalah korban dalam sebuah kepentingan media hari ini, karena berita online dipengaruhi viewer sebagai pembacanya. Tubuh perempuan menjadi bahan eksploitasi bagi media, karena yang ditunjukkan bukan hanya foto vulgar saja, tetapi leksis perempuan dapat dieksploitasi melalui judul pemberitaan atau isi sebuah berita.
c) Ancaman Kekerasan Digital
Maraknya aplikasi kencan dari cybersex dengan menggunakan aplikasi yang berslogan "match, chat, date" yang berujung pada pelecehan seksual, menyapa dengan kata-kata yang nggak pantas, tidak sopan ke perempuan atau diteror foto alat kelamin yang dikirim salah satu pria kenalannya di Tinder. Nah, itu aja udah termasuk pengalaman buruk," ujar Bunga kepada wartawan Yulia Saputra di Bandung yang melaporkan untuk BBC News Indonesia. Diklaim sering terjadi pelecehan seksual di aplikasi kencan, tidak hanya berupa kata-kata kotor. Bahkan bisa lebih parah lagi, seperti yang dialami Ades.
Perempuan berusia 20-an tahun ini, pernah "Ketika nggak langsung hubungan seksual yang ketemu langsung, aku pernah diminta ID Line, terus dikasih. Belum ngobrol apa- apa, dia baru bilang, 'Hai Des, langsung nge-pap (post a picture) alat kelamin'," (D4/P 4, 14/6/20)
Data di atas menunjukkan fakta pada kasus kekerasan terhadap wanita kerap kali muncul setiap tahunnya, dalam kehidupan sosial budaya di lingkungan masyarakat. Baik itu yang terungkap ke media masa maupun yang tersembunyi ataupun malah sengaja tidak diungkapkan ke permukaan, karena sudah diselesaikan dengan perdamaian kedua belah pihak atau tidak diungkap karena tekanan atau karena menjaga muka kedua belah pihak kepada khlayak.
d) Perempuan dilecehkan secara seksual
Fasilitas online menyediakan berbagai kebutuhan manusia yang berfungsi dapat memenuhi semua kebutuhan manusia termasuk aplikasi kencan atau cybersex dengan aplikasi yang berslogan "match, chat, date" yang berujung pada pelecehan seksual, sudah kerap terjadi. Perkenalan di situs tersebut tentu akan berlanjut yang berdampak pada jatuhnya korban, tetap dari sisi perempuan. Hal itu diawali dengan saling menyapa pria kenalannya di Tinder.
Yang tentunya berakhir dengan pengalaman buruk, hal itu yang dialami korban, "
ujar Bunga kepada wartawan Yulia Saputra di Bandung yang melaporkan untuk BBC News Indonesia. Diklaim sering terjadi pelecehan seksual di aplikasi kencan, tidak hanya berupa kata-kata kotor. Bahkan bisa lebih parah lagi, seperti yang dialami Ades.
(D4/P 4, 14/6/20)
Pelecehan seksual secara verbal beberapa kali dialami pegawai kantoran ini."Ada orang yang menyapa dengan kata-kata yang nggak pantas, enggak sopan ke perempuan.
35
Nah, itu aja udah termasuk pengalaman buruk," ujar Bunga kepada wartawan Yulia Saputra di Bandung yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.
e) Pelecehan Perempuan Mengatasnamakan Budaya Lokal
Peristiwa serupa dialami perempuan dengan mengatasnamakan budaya yang ada di masyarakat Sumba, Kekerasan pada perempuan yang dianggap sebagai serangkaian kepercayaan yang kompleks yang mendukung agresi seksual dan kekerasan pria terhadap wanita. Budaya ini melihat kekerasan sebagai sesuatu yang seksi dan seksualitas sebagai kekerasan dengan mengatasnamakan budaya Kawin Tangkap di Sumba dengan judul berita, “Kawin Tangkap: Kisah perempuan diculik untuk dinikahi di Sumba, 'menangis sampai tenggorokan kering” Hal itu sampai mendapat perhatian dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga, menyatakan prihatin, sehingga berkunjung ke Sumba pada pekan lalu untuk membahas permasalahan praktik itu, yang ia sebut sebagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak dengan mengatasnamakan budaya. (D8/P2, 23/12/19)
subordinasi perempuan secara universal adalah dampak dan fungsi khas mereka dalam tradisi dan budaya yang melekat di masyarakat. Perempuan dianggap sebagai pengasuh dan orang yang membesarkan anak. Perempuan juga selalu diidentifikasi pada ranah rumah tangga. Pada posisi yang berbeda, hieraki gender menempatkan laki-laki sebagai gender yang perkasa, selalu menang, tak pernah menangis, dan hanya bertanggungjawab secara public-bukan secara domestik.
f) Kawin Kontrak ‘Nikah Siri’
Perkawinan sebagai sesuatu yang sacral belakangan perkawinan sengaja dieksploitasi menjadi semacam legalitas hubungan laki-laki dan perempuan dengan berbagai alasan, yang pada kodrati mengeksploitasi perempuan dalam legalitas hubungan suami istri. Hal ini dianalisis dari judul media online: Mirisnya Eksploitasi Terhadap Perempuan (Republika, 12/6/19) Eksploitasi terhadap perempuan dalam melegalkan tersebut dianalisis dari teks berita online,
Dua puluh sembilan perempuan warga negara Indonesia dinikahkan dengan orang China namun dipaksa bekerja tanpa upah. Dikutip dari VoaIndonesia, Mereka diduga menjadi korban perdagangan orang yang melibatkan sindikat China dan Indonesia.
(Voaindonesia, D10/P1, 12/ 6/19)
Karena sistem inilah, bagaimana kaum perempuan dengan terus-menerus di ekploitasi, bahkan diperdagangkan layaknya barang. Kesetaraan gender yang di gadang-gadang ternyata tak sesuai harapan, karena pada faktanya justru menambah miris nasib perempuan. (DVoaindonesia, D10/P5, 12/ 6/19)
Perempuan harus mendapat pengawasan sejak dini, sebelum kemudian iming- iming materi menipu mereka seperti kasus di atas dan menjadikan mereka sebagai korban para pencari keuntungan dengan mengatasnamakan agama, secara implisit dieksploitasi, orang tua atau suami..
36 2) Pemarjinalan Perempuan pada Media Online
Fenomena pemarjinalan perempuan yang menganggap kaum perempuan selalu dilihat sebagai “korban, lemah, cengeng, objek” dalam berbagai perspektif yang beragam.
Praktik pemarjinalan perempuan yang kurang apresiatif dalam melihat perempuan sebagai mitra yang memiliki fungsi sama dengan kaum laki-laki . Melihat gender perempuan pada konteks hubungan antara perempuan dan laki-laki kerap direspons dengan berbagai opini negatif yang menganggap perempuan hanya dari kaca mata biologis dan seksual kaum laki-laki. Padahal, perempuan yang kerap dianggap hanya sebagai pemuas mata dan hasrat ‘biologis’ laki-laki. Pemarjinalan perempuan tersebut, tanpa disadari secara perlahan membuat eksistensi posisi perempuan masuk pada berbagai tatanan pengambil kebijakan baik itu pada tatanan ekonomi, tatanan politik, tatanan sosial, dan tatanan struktur kekuasaan pemerintah.
Di sisi yang lain, eksistensi perempuan yang hanya dianggap sebagai alat pemenuhan naluri seksual kaum laki-laki, diberi kebebasan dan dipuja, namun kebebasan dan pemujaan itu bertujuan memenuhi kebutuhan dan selera seksual kaum lelaki. Yang membentuk budaya massa poluler. Sesungguhnya tanpa disadari atau malah disengaja pemarjinalan perempuan telah dilakukan media online seperti: a) Judul Pemberitaan online yang menyudutkan perempuan, b) Pemarjinalan perempuan dengan penggunaan diksi, c) Merendahkan harkah perempuan dengan Budaya, d) Merendahkan Harkah Perempuan dengan Istilah, agar lebih jelas akan diulas berikut ini.
a) Judul Pemberitaan online yang menyudutkan perempuan
Disadari atau dengan sengaja pembuatan judul berita sengaja mendiskreditkan posisi perempuan, yang dengan sengaja terlihat seakan-akan dengan sengaja menjeret dirinya dengan kasus yang meninmpa dirinya. Padahal sebenarnya dapat dikemas lebih mengangkat harkah perempuan, sehingga judul lebih memiliki perspektif perempuan.
Contoh pada judul berita online: Polri: Istri Hakim PN Medan Suruh 2 Orang untuk Bunuh Suaminya Kompas.com (07/01/2020). Padahal struktur kalimat dengan mengambil Istri jadi topik terlihat Istri memiliki karakteristik yang buruk, padahal sesuatu itu muncul karena ada hokum kausalitas antara Hakim dan Istrinya yang berdampak pada kematian Sang Hakim. Berarti ada sesuatu yang sangat berat dan tertekan yang dialami oleh Sang Istri Hakim sehingga dengan nekat menghabisi suaminya. Demikian pula pada judul berita online: ‘Perempuan: Eksploitasi Dan Komoditas Media (geotimes, 21/2/19)’, Ancaman 'kekerasan digital' di aplikasi kencan (cnn, 14/6/2020), ‘Kawin Tangkap:
Kisah perempuan diculik untuk dinikahi di Sumba, 'menangis sampai tenggorokan kering’(D2/bbcnews,/8/7/20) ‘Cabuli Mahasiswinya di Kamar Mandi Kampus, Oknum Dosen Jadi Tersangka Kompas.com (24/02/2020). 6 Fakta Suami Istri di Gresik Tawarkan Jasa Prostitusi Online, Melalui WhatsApp hingga Pinjamkan Rumah (2019/11/20), Polisi Bongkar Bisnis Prostitusi Online di Kalsel, Tangkap 4 Perempuan dan 2 Pria di Bawah Umur (Kompas.com, 24/01/2020). Sejumlah organisasi menggelar aksi demonstrasi dalam memperingati Hari Perempuan Sedunia atau International Women’s Day (IWD) (Suara.com, Jumat (8/3/2019
37
b) Pemarjinalan Perempuan dengan Penggunaan Diksi
Secara tekstual, teks-teks berita tentang kasus kekerasan terhadap wanita di atas menunjukkan bias gender. Hal ini dapat terlihat dari pilihan-pilihan kata yang dipakai jurnalis, seperti: ‘skandal’, ‘video porno’, ‘ditelanjangi’, ‘aplikasi kencan’, ‘cybersex’,
‘pelecehan seksual’, ‘diteror foto alat kelamin’, ‘ Perempuan berusia 20-an’, ‘hubungan seksual’, ‘nge-pap (post a picture) alat kelamin', ‘prostitusi online’, ‘menjual diri’, ‘ bertransaksi di hotel’, ‘Kawin Tangkap’, ‘Kisah perempuan diculik untuk dinikahi’, 'menangis sampai tenggorokan kering’,
”Nah, itu aja udah termasuk pengalaman buruk," ujar Bunga kepada wartawan Yulia Saputra di Bandung yang melaporkan untuk BBC News Indonesia. Diklaim sering terjadi pelecehan seksual di aplikasi kencan, tidak hanya berupa kata-kata kotor.
Bahkan bisa lebih parah lagi, seperti yang dialami Ades. Perempuan berusia 20-an tahun ini, pernah "Ketika nggak langsung hubungan seksual yang ketemu langsung, aku pernah diminta ID Line, terus dikasih. Belum ngobrol apa-apa, dia baru bilang, 'Hai Des, langsung nge-pap (post a picture) alat kelamin'." (D4/P5/, 14/6/2020)
Leksis yang digunakan pada pemberitaan online, disengaja untuk menarik perhatian khalayak pembaca khususnya kaum laki-laki, hal itu, disesuaikan dengan perspektif diksi yang dapat menstimulus laki-laki tentang sensitifitas tentang perempuan yang dapat dijual media kepada pembaca dengan mengikuti sudut pandang dan selera pria.
c) Merendahkan Harkah Perempuan dengan Budaya
'Kawin tangkap' baru-baru ini ramai dibicarakan warganet setelah sebuah video yang viral pada akhir Juni memperlihatkan seorang perempuan dibawa secara paksa oleh sekelompok pria di Sumba. Banyaknya kasus kawin tangkap yang mengatasnamakan budaya lokal, dimana seorang perempuan ditangkap dan disekap untuk dinikahkan dengan anak pihak laki-laki. Beberapa perempuan berhasil melepaskan diri, sementara tiga di antara mereka melanjutkan perkawinan, kata Aprissa. Dua kasus yang paling terkini terjadi pada 16 dan 23 Juni lalu, di Sumba Tengah yang akhirnya salah satu perempuan akhirnya menikah. Hal ini masih ditemukan di Kabupaten Sumba Barat Daya dan Kabupaten Sumba Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dengan judul pemberitaan online, 'Merendahkan martabat perempuan'
Menurut data yang dikumpulkan Aprissa Taranau, ketua Badan Pengurus Nasional Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi di Indonesia (PERUATI) Sumba, setidaknya ada tujuh kasus kawin tangkap sepanjang 2016 hingga Juni 2020 (D2/ P1, 08/07/20).
"Kawin tangkap ini hanya menghasilkan kekerasan dan ketidakadilan terhadap perempuan, secara fisik, seksual, psikis, belum lagi stigma kalau ia keluar dari perkawinan yang dia tidak inginkan. (D2/ P4, 08/07/20). Praktik dengan mengatasnamakan budaya lokal yang secara nyata merendahkan martabat perempuan, karena perempuan yang ditangkap hak asasinya terbelenggu dengan budaya kawin tangkap, karena pihak lelaki yang menagkapnya tidak dikenal, sehingga dipaksa menikah,
38
sehingga banyak yang melarikan diri. Disi terlihat kaum perempuan sebagai kaum yang lemah dan direndahkan harkahnya
d) Merendahkan Harkah Perempuan dengan Istilah
Perempuan dianalogikan dengan pinggan, peraduan, dan pigura, hal tersebut tentu merendahkan perempuan hanya dari perspektif laki-laki yang menganggap perempuan itu hanya sebagai pelayan, peraduan atau tempat tidur perspektif perempuan hanyauntuk berhubungan bologis semata, begitu pula dengan pigura dimakna sebagai hiasan dalam rumah tangga atau alat untuk memuaskan laki-laki. Hal itu diungkapkan dengan kalimat pada teks berikut:
“Seorang sosiolog Thamrin Amal Tomagola mengatakan bahwa perempuan digambarkan sebagai pinggan, peraduan, dan pigura. Mari saya bedah ketiga arti maksud tersebut. Pertama, kata pinggan artinya adalah suatu piring makan. Namun dalam konteks ini, apa yang dimaksudkan pinggan adalah perempuan yang sama halnya seperti pelayan yang membawa piring untuk para tamu dan melayaninya. Kedua, peraduan sendiri artinya adalah sebuah tempat beristirahat atau tempat tidur. Namun konteks yang dimaksud dari kata peraduan tidak hanya sampai sana. Peraduan yang dimaksudkan adalah perempuan sebagai objek dalam orientasi seksualitas atau sebagai alat pemuas laki-laki. Ketiga, pigura bukan hanya sebuah gambar atau lukisan dalam sebuah ruangan untuk hiasan. Perempuan sebagai pigura maksudnya adalah perempuan hanya dijadikan hiasan dalam rumah tangga. Kecantikan perempuan hanya jadi hiasan atau alat memuaskan mata laki-laki.”(D6.P4/P5/P6, 21/2/19)
Banyak istilah yang dikemukakan untuk merendahkan perempuan, hal itu walau tanpa disadari memarjinalkan fungsi istri sebagai ratu di rumah tangga, begitu pula dengan istilah “Dapur, Sumur, dan Kasur” yang sering kali didengar untuk ibu-ibu rumah tangga yang menunjukkan segi tiga sebagai poros aktifitas seorang perempuan. Tanpa disadari hal itu telah mengkerdilkan dan memarjinalkan fungsi perempuan sebagai sosok Ibu. Nah, bila seseorang sosiolog memiliki paradigm yang sempit dan kerdil tentu hanya seputar pemuas dan objek yang dijadikan pemuas kebutuhan suami. Seharusnya sorang sosiolog harus membuka cakrawala yang lebih luas sehingga memiliki sisi-sisi positif yang banyak yang dijadikan contoh konkret, bukan malah sebaliknya,