• Tidak ada hasil yang ditemukan

FRASE NOMINAL DALAM BAHASA INDONESIA

Dalam dokumen Wewen Kusumi Rahayu, S.A.P, M.Si (Halaman 52-58)

45

46

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan di atas, dirumuskan masalah yang akan dibahas dalam artikel ini. Masalah yang akan dibahas dalam artikel ini adalah

Bagaimana struktur frase nominal dalam bahasa Indonesia, hubungan fungsional antarunsur dalam, dan makna gramatikal yang dihasilkan oleh hubungan tersebut, sedangkan tujuanya adalah untuk mendeskripsikan dan menjelaskan struktur frase nominal, hubungan fungsional antarunsur dan makna gramatikal yang dihasilkan

Frase berdasarkan persamaan distribusi dengan kategori dapat dibedakan atas frase verbal, nominal, bilangan, keterangan, dan frase depan (Ramlan, 1996: 158).

Namun, menurut Kridalaksana( 2007: 125-128) kelas frase bahasa Indonesia adalah frase verbal, nominal, pronominal, adverbial koorninatif, numeralia, interogativa koordinatif, demonstrativa koordinatif, dan preposisional koordinatif.

Kajian atau analisis frase nominal merupakan salah satu kajian bidang sintaksis khususnya dan kajian lingguistik umumnya. Frase nominal adalah salah satu jenis frase yang merupakan unsur sintaksis yang terkecil dibanding unsur sintaksis lainnya yaitu klausa dan kalimat. Menurut Djajasudarma ( 2010, 55), unsur sintaksis yang terkecil adalah salah satunya frase nominal dan dapat dikaji berdasarkan kelas frase dan tipenya.

Frase nominal adalah suatu konstruksi yang dapat dibentuk oleh dua kata atau lebih, baik dalam bentuk sebuah pola dasar kalimat maupun tidak (Parera, 2009: 54).

Ramlan (1996: 159) menyatakan bahwa frase nominal dapat terdiri atas antara lain: N diikuti N, N diikuti V, N diikuti Ket, dan N diikuti FD. Selanjutnya, Khairah dan Sakura Ridwan (2014: 33- 36) menjelaskan bahwa frase nominal dapat berkontruksi antaralain: N + N, N + Adj, N + V, dan N + Num.. Frase nominal mempunyai hubunngan makna antarunsur yang membentuk konstruksi. Menurut Ramlan (1996: 163 – 168) frase nominal memiliki hubungan makna antarunsur dalam frase nominal antara lain:

penyumlahan, pemilihan, kesamaan, pembatas, dan jumlah. Selain itu, frase nominal terdiri atas unsur inti dan pewatas yang dapat terletak sebelum atau sesudah unsur inti, lalu unsur inti dan pewatas ini dalam konstruksi frase nominal memiliki hubungan fungsional yang menghasilkan makna gramatikal (Khairah dan Sakura Ridwan (2014:

Khairah dan Sakura Ridwan (2014:32-33).

2. Metode Penelitian

Untuk penetapan dalam pemecahan masalah, diperlukan langkah-langkah kerja yang terarah. Keteraturan langkah merupakan upaya yang sangat penting bagi kelangsungan dan keberhasilan sebuah penelitian. Ada tiga tahap strategis dalam pemecahan masalah dalam penelitian. Dalam penyediaan data frase nominal dalam bahasa Indonesia digunakan metode simak yaitu menyimak penggunaan bahasa yang ada

frase nominal baik dari bahasa tulis maupu lisan ( Sudaryanto, 2015).

Di samping itu, dalam pengalisisan data frase nominal, digunakan metode padan dan metode distribusional (Sudaryanto, 2015, Djajasudarma, 1993, Edi,1992). Metode padan yang digunakan adalah metode padan referensial dengan teknik bagi unsur langsung. Tahap penyajian hasil anilisis dilakukan dengan dua cara, yaitu metode formal dan metode informal. Metode formal adalah metode yang penyajiannya menggunakan tanda dan lambang, sedangkan metode informal adalah adalah perumusan hasil analisis menggunakan kata-kata biasa.

47 3. Hasil dan Pembahasan

Frase nominal merupakan frase yang unsur intinya memiliki kategori nomina atau unsur intinya termauk kelas kata nomina. Frase nominal terdiri atas kata berkategori nomina sebagai inti dan kata berkatekori nomina, adjetiva, verba, numeralia, adverbia, dan determina sebagai pewatas. Pewatas ini dapat terletak di depan dan di belakang inti.

Selain itu, dalam frase nominal terdapat hubungan funsional antarunsur dan menghasikan makna gramatikal.

a) FN: N + N/FN Cobtoh:

1. permasalahan ras inti pewatas 2. bakat mereka

inti pewatas

Frase permasakahan ras pada contoh (1), bakat dan mereka pada contoh (2) merupakan frase nominal berkonstruksi nomina sebagai unsur inti dan nomina atau frase nomina sebagai pewatasnya. Unsur inti pada contoh (1) adalah kata permasakahan, pada contoh (2) adalah kata bakat,. Adapun unsur pewatasnya terletak di belakang unsur inti.

Yang menjadi pewatas pada contoh (1) adalah kata ras, pada contoh (2) adalah kata mereka,. Selanjutnya, makna gramatikal yang dihasilkan oleh hubungan tersebut yaitu pada contoh (1) adalah makna jenis, pada (2) adalah makna milik.

FN: N + Adj/Fadj Contoh:

3. pelajaran khusus inti pewatas 4. aktor senior

inti pewatas

Hubungan fungsional antarunsur pada frase pelajaran dan khusus pada contoh (3) adalah kata pelajaran berfungsi sebagai unsur inti, sedangkan kata khusus berfungsi sebagai pewatas. Makna gramatikalnya adalah makna derajat. Hubungan fungsional antarunsur pada frase aktor senior pada contoh (4) adalah kata aktor berfungai sebagai unsur inti dan kata senior berfungsi sebagai pewatas. Makna gramatikalnya adalah makna derajat.

FN: N + V Contoh:

5. ayam bakar inti pewatas 6. gedung parkir

inti pewatas

Hubungan fungsional antarunsur dalam frase nominal pada contoh (5), (6), adalah unsur inti dan pewatas yang terletak di belakang unsur inti. Yang menjadi unsur inti pada frase tersebut adalah kata ayam dan gedung, berkategori nomina. Adapun yang menjadi

48

unsur pewatas adalah kata bakar dan parkir, yang berkategori verba. Makna gramatikal pada konstruksi contoh (5) adalah makna proses, pada contoh (6) adalah makna tempat.

b) FN: N + Numeralia Contoh:

7. anak kedua inti pewatas 8. level satu

inti pewatas

Frase pada contoh (7), (8), merupakan frase nominal yang memiliki hubungan fungsi antarunsur yaitu kata anak dan level, yang berfungsi sebagai unsur inti, sedangkan kata kedua dan satu, berfungsi sebagai pewatas. Makna gramatikal konstruksi ini adalah makna tingkat.

c) FN: N + Adverbia Contoh:

9. teh saja inti pewatas 10. gol lagi

inti pewatas

Hubungan fungsional antarunsur pada frase nominal pada contoh (9) adalah kata teh sebagai unsur inti dan kata saja berfungsi sebagai pewatas yang berkategori adverbia.

Makna gramatikalnya adalah makna pembatasan. Selanjutnya, hubungan fungsional antarunsur pada contoh (10) adalah kata gol yang berkategori nomina berfungsi sebagai unsur inti dan kata lagi yang berkategori adverbia berfungsi sebagai pewatas. Adapun makna gramatikalnya adalah perulangan.

FN: N + Determinan Contoh:

11. penguasaan itu inti pewatas 12. hal tersebut

inti pewatas

Hubungan fungsional antarunsur pada contoh di atas antara kata penguasaan dan hal, yang berkategori nomina dan berfungsi sebagai unsur inti dan itu dan tersebut, yang berkategori determinan dan berfungsi sebagai pewatas. Adapun makna gramatikal yang dihasilkan oleh hubungan tersebut adalah makna penentu.

d) FN: Num + N/FN Contoh:

13. tiga grup pemenang inti pewatas 14. dua bulan pertama

inti pewatas

Hubungan fungsional antara kata grup dan bulan, yang berkategori nomina dan berfungsi sebagai inti dan kata tiga dan dua, yang berkategori numeralia dan berfungsi

49

sebagai pewatas depan. Makna gramatikal yang dihasilkan oleh hubungan ini adalah makna jumlah.

e) FN: Adv + N/FN Contoh:

15. banyak perubahan pewatas inti 16. sejumlah kasus

pewatas inti

Hubungan fungsional antara kata perubahan dan kasus, yang berkategori nominal dan berfungsi sebagai unsur inti dan kata banyak dan sejumlah, berkategori adverbia dan berfungsi sebagai pewatas depan. Adapun makna gramatikal yang dihasilkan oleh hubungan itu adalah makna jumlah.

f) FN: N + yang + Adj/FAdj Contoh:

17. drama yang bagus inti pewatas 18. gadis yang sangat cantik

inti pewatas

Hubungan fungsional antara kata drama, dan gadis, yang berkategori nomina dan berfungsi sebagai unsur inti pada contoh dan frase yang bagus dan yang sangat cantik, berfungsi sebagai pewatas. Adapun makna gramatikal yang dihasilkannya adalah makna keadaan.

4. Simpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan beberapa hal. Frase nominal mempunyai struktur yaitu: FN: N + N/FN, FN: N + V, FN: N + Num, FN: N + Adv, FN:

N + Det, FN: Num + N/FN, FN: Adv + N/FN, FN: N + yang + Adj/FAdj. Hubungan fungsional antarunsur dalam frase nominal adalah inti pewatas atau pewatas inti. Adapun makna gramatikal yang dihasilkan antara lain: makna keadaan, jenis, waktu, tingkat, dan jumlah.

5. Ucapan Terima Kasih

Keberhasilan penulisan artikel ini merupakan kerjasama penulis dengan berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucakan terima kasih kepada: Dekan dan Wakil Dekan FIB yang telah menyetujui diadakankannya forum seminar ini, Ketua panitia, dan anggota panitia yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk menampilkan dan menulis artikel ini.

6. Daftar Pustaka

Arifin, Zainal dan Junaiyah H.M. 2008. Sintaksis. Jakarta: Grasindo.

Khairah, Miftahul dan Sakura Ridwan. 2014. Sintaksis: Memahami Satuan Kalimat Persfektif Fungsi. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Putrayasa, Ida Bagus. 2007. Analisis Kalimat. Bandung: Refika Aditama.

Ramlan. 1996. Sintaksis. Yokyakarta: Karyono..

50

Sudaryanto. 2015. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yokyakarta: Duta Wacana University Press.

51

TINJAUAN SASTRA ANAK MULTIKULTURAL BERBAHASA

Dalam dokumen Wewen Kusumi Rahayu, S.A.P, M.Si (Halaman 52-58)