BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN
B. Kajian Teori
1. Ekstrakurikuler Perisai Diri
a. Tinjauan Tentang Kegiatan Ekstrakurikuler
Kegitan ekstrakurikuler ada beberapa pendapat menurut para ahli diantaranya yaitu menurut Sudirjo, kegiatan ekstrakurikuler yaitu kegiatan di luar jam biasa, yang bertujuan agar siswa lebih memperdalam dan menghayati apa yang dipelajari dalam kegiatan intrakurikuler, serta menurut Oteng Sutisno kegiatan ekstrakurikuler adalah merupakan kegiatan-kegiatan sekolah yang konstruksif, dimana murid-murid berpartisipasi di luar dan sebagai tambahan kepada kegiatan kelas formal.21
Menurut Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan di luar jam pelajaran tatap muka, dilaksanakan di sekolah atau di luar sekolah agar lebih memperkaya dan memperluas wawasan pengetahuan dan kemampuan yang telah dipelajari dari berbagai mata pelajaran dalam kurikulum.
Menteri dan Pendidikan Republik Indonesia Nomor 81 A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum Pedoman Kegiatan Ekstrakurikuler menjelaskan bahwa ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam belajar kurikulum standar sebagai perluasan dari kegiatan kurikulum dan dilakukan di bawah bimbingan sekolah dengan tujuan untuk
21Sudirjo, Penelitian Kurikulum (Yogyakarta: Fak. Ilmu pendidikan IKIP, 1987), 86 .
mengembangkan kepribadian, bakat, minat dan kemampuan peserta didik yang lebih luas atau di luar minat yang dikembangkan oleh kurikulum.22
Jadi, kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan nonpokok yang dilakukan di luar kegiatan kurikuler (pokok) sebagai sarana untuk menambah pengetahuan dan memperdalam materi-materi yang telah diajarkan disekolah oleh guru kepada peserta didik untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan dan ruang lingkup kegiatan ekstrakurikuler Menurut QS A-Isra’: 84
”katakanlah (hai Muhamad), setiap orang berbuat sesuai
dengan keadaan dirinya, dan Tuhan mengetahui siapa diantara mereka yang lebih lurus jalan hidupnya”(QS Al-Isra’:84).23
Ayat di atas menjelaskan bahwa tiap diri manusia (peserta didik) memiliki potensi, dorongan dan pembawaan (bakat) sesuai dengan kecenderungan dan keinginan hati nuraninya. Potensi ini apabila jelek/tidak baik haruslah segera dihindari/dicegah sedangkan apabila baik haruslah dipupuk, dipelihara dan dikembangan.24
Kegiatan ekstrakurikuler yang merupakan seperangkat pengalaman belajar memiliki nilai-nilai manfaat bagi pembentukan
22Kompri, Manajemen Pendidikan , 224.
23Departemen Agama Republik Indonesia, Mushaf Aisyah Al-Qur’an dan Terjemah Untuk Wanita (Jakarta: Jabal Roudhotul Jannah, 2010), 290.
24Heri Jauhari Muchtar, Fikih Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2005), 144.
kepribadian siswa. Adapun tujuan dari pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah menurut Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan adalah:
1) Kegiatan ekstrakurikuler harus dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
2) Mengembangkan bakat dan minat siswa dalam upaya pembinaan pribadi menuju pembinaan manusia seutuhnya yang positif.
3) Dapat mengetahui, mengenal serta membedakan antara hubungan satu pelajaran dengan mata pelajaran lainnya.
Lebih lanjut, Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan menegaskan bahwa ruang lingkup kegiatan ekstrakurikuler harus berpangkal pada kegiatan yang dapat menunjang serta dapat mendukung program intrakurikuler dan program kokurikuler.25
Jadi, ruang lingkup kegiatan ekstrakurikuler adalah berupa kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang dan dapat mendukung program intrakurikuler yaitu mengembangkan pengetahuan dan kemampuan penalaran siswa, keterampilan melalui hobi dan minatnya serta pengembangan sikap yang ada pada program intrakurikuler dan program kokurikuler.
Kegiatan ekstrakurikuler pada satuan pendidikan memiliki beberapa fungsi, diantaranya yaitu:
25Suryosubroto,Proses Belajar Mengajar Di Sekolah (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002), 272.
1) Fungsi pengembangan, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk mendukung perkembangan personal peserta didik melalui perluasan minat, pengembangan potensi, dan pemberian kesempatan untuk pembentukan karakter dan pelatihan kepemimpinan.
2) Fungsi sosial, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik. Kompetensi sosial dikembangkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperluas pengalaman sosial, praktik keterampilan sosial, dan internalisasi nilai moral dan nilai sosial.
3) Fungsi rekreatif, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler dilakukan dalam suasana rileks, menggembirakan, dan menyenangkan sehingga menunjang proses perkembangan peserta didik.
4) Fungsi persiapan karir, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk mengembangkan kesiapan karir peserta didik melalui pengembangan kapasitas.26
Kegiatan ekstrakurikuler pada satuan pendidikan dikembangkan dengan prinsip sebagai beikut:
1) Bersifat individual, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler dikembangkan sesuai dengan potensi, bakat, minat peserta didik masing-masing.
26Kompri, Manajemen Pendidikan , 227.
2) Bersifat pilihan, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler dikembangkan sesuai dengan minat dan diikuti oleh peserta didik secara sukarela.
3) Keterlibatan aktif, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler menuntut keikutsertaan peserta didik secara penuh sesuai dengan minat dan pilihan masing-masing.
4) Menyenangkan, yakni dilaksanakan dalam suasana yang menggembirakan bagi peserta didik.
5) Membangun etos kerja, yakni bahwa kegitan ekstrakurikuler dikembangkan dan dilaksanakan dengan prinsip membangun semangat peserta didik untuk berusaha dan bekerja dengan baik dan giat.
6) Kemanfaatan sosial, yakni dikembangkan dan dilaksanakan dengan tidak melupakan kepentingan masyarakat.27
Jadi, Ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan yang dapat menunjang dan mendukung kegiatan intrakurikuler dan dilaksanakan di luar jam pelajaran untuk mengembangkan kepribadian, bakat, minat dan kemampuan peserta didik.
b. Tinjauan Tentang Perisai Diri
Pencak silat merupakan sistem beladiri yang diwariskan oleh nenek moyang sebagai budaya bangsa Indonesia sehingga perlu dilestarikan, dibina, dan dikembangkan.
27Ibid.,228.
Tahun 1995, pengurus IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) menjelaskan bahwa pencak silat adalah bela-serang yang teratur menurut sistem, waktu, tempat dan iklim dengan selalu menjaga kehormatan masing-masing secara kesatria, tidak melukai perasaan.
Pencak lebih menunjukkan pada segi lahiriah, sedangkan silat adalah gerak bela serang yang sangat erat hubungannya dengan rohani sehingga menghidup suburkan naluri, menggerakkan hati nurani manusia yang menyerah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pencak silat juga merupakan seni beladiri, sehingga didalamnya terdapat unsur keindahan dan tindakan.28
Jadi, dapat disimpulkan pencak silat merupakan seni beladiri asli budaya Indonesia yang didalamnya mengandung ilmu beladiri dengan tanpa meninggalkan tujuan untuk mencapai keselarasan hidup guna peningkatan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
IPSI (Ikatan Pencak silat Indonesia memiliki 10 anggota perguruan khusus, diantaranya yaitu: Persadaraan Setia Hati (PSH), Persaudaraan Setia Hati Teratai (PSHT), Periasi Diri (PD), Perisai Putih(PP), Tapak Suci (TS), Phasadja Mataram, Persatuan Pencak Indonesia (PERPI Harimurti), Persatuan Pencak Silat Seluruh Indonesia (PPSI), Putra Betawi, Nusantara.
Pencak Silat memiliki 4 aspek utama, diantaranya yaitu aspek mental spiritual, aspek seni, aspek beladiri, dan aspek olahraga.
28Erwin Setyo Kriswanto, Pencak Silat ,13.
Namun dalam penelitian ini pembahasan pencak silat akan difokuskan pada pembahasan perguruan pencak silat perisai diri dalam aspek mental spiritualnya.29
Keluarga Silat Nasional Perisai Diri atau sering dikenal dengan perisai diri adalah salah satu perguruan silat terbesar di Indonesia, dan juga merupakan salah satu anggota dari IPSI (Ikatan Pencak Silat seluruh Indonesia). Dimana Perisai Diri tersebut didirikan oleh Raden Mas Soebandiman Dirdjoatmojo pada tanggal 2 Juli 1955 di Yokyakarta.30
Perisai diri yang merupakan budaya asli pencak silat Indonesia pada hakikatnya adalah substansi dan sarana pendidikan mental spiritual dan pendidikan jasmani untuk membentuk manusia yang mampu menghayati dan mengamalkan ajaran falsafah budi pekerti luhur. Budi adalah aspek kejiwaan yang mempunyai unsur cipta, rasa, dan karsa. Pekerti artinya watak dan akhlak, sedangkan luhur artinya mulia atau terpuji. Dengan demikian, falsafah budi pekerti luhur mengajarkan manusia sebagai makhluk Tuhan, makhluk pribadi, makhluk sosial, dan makhluk alam semesta yang selalu mengamalkan pada bidang masing-masing sesuai dengan cipta, rasa dan karsa yang mulia.31 Namun tidak semua orang bisa mengamalkan dan mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari melainkan
29Ibid.,21.
30UBM IAIN Jember, Modul Masa Karantina ,11.
31Erwin Setyo Kriswanto, Pencak Silat, 14-19.
tergantung dari kesungguhan dan niat orang yang mempelajari ilmu pencak silat perisai diri tersebut.