• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 TINJAUAN KASUS

3.6 Evaluasi Keperawatan

10.30

Respon : Px mulai menerapkan materi yang disampaikan Memonitoring TTV Hasil:

TD :180/90 mmHg N : 95x/mnt S : 36,4 RR : 22x/mnt

O :

TTV: TD : 170/90 Suhu : 36,0 Nadi : 92 x/mnt Saturasi : 94 x/mnt A : Masalah belum teratasi P : intervensi di lanjutkan Ny.K

10 Juni 2022 13.00

Nyeri Akut berhubungan dengan Agen pencedera Fisiologis dibuktikan dengan Tekanan darah pasien meningkat

S : Px mengatakan

merasakan pusing dan sakit kepala , Saat ditanya nyeri kepalanya seperti apa katanya seperti cenut-cenut dan berputar-putar kepalanya di bagian belakang, saat ditanya tentang nyerinya 1- 10 px menjawab 3 ,dengan rasa hilang timbul.

O :

1. TTV:

TD : 190/100 Suhu : 36,5 C Nadi : 90 x/mnt Saturasi : 96 x/mnt A : Masalah belum teratasi P : intervensi di lanjutkan.

Tabel 3.13 Evaluasi Akhir Keperawatan Pada Klien 1 Dengan Klien 2

Tanggal / waktu

Diagnosa Keperawatan Evaluasi Keperawatan Paraf

Tn.B 22

Januari 2021 18.30

Nyeri Akut berhubungan dengan Agen pencedera Fisiologis dibuktikan dengan Tekanan darah pasien meningkat

S : Saat ditanya px merasakan pusingnya seperti mau jatuh, dengan terpusat di kepala bagian tengah ,saat ditanya

pusingnya kualitas pusingya 1-10 px menjawab yaitu 3 untuk kualitas pusingnya, dan saat dibuat rebahan pusingnya terasa berkurang.

O :

1. Memonitoring TTV Hasil:

TD :165/80 mmHg N :110 x/mnt S : 36,0 RR : 22x/mnt

A : Masalah belum teratasi P : intervensi di lanjutkan

Ny.K

11 Juni 2022 13.00

Nyeri Akut berhubungan dengan Agen pencedera Fisiologis dibuktikan dengan Tekanan darah pasien meningkat

S : Px mengatakan

merasakan pusing dan sakit kepala , Saat ditanya nyeri kepalanya seperti apa katanya seperti cenut-cenut dan berputar-putar

kepalanya di bagian belakang, saat ditanya tentang nyerinya 1-10 px menjawab 3 ,dengan rasa hilang timbul.

O :

1. Memonitoring TTV Hasil:

TD :180/90 mmHg N : 95x/mnt S : 36,4 RR : 22x/mnt A : Masalah belum teratasi P : intervensi di dilanjutkan

56 BAB 4 PEMBAHASAN

Dalam bab ini, saya akan menjelaskan kesenjangan antara survei literatur dan studi kasus klien. B dan K didiagnosis hipertensi di Desa Bururu Permai, Sidoarjo.

4.1 Pengkajian

Pada tahap mengumpulkan data, penulis menemui tidak menemui kesulitan karena penulis sudah melakukan pengenalan dan menjelaskan Asuhan pasien lansia yang menjadi perhatian penulis diperkenalkan dan dijelaskan sedemikian rupa sehingga pasien lansia dan keluarganya dapat saling memahami secara terbuka dan kooperatif, sehingga pendataan tidak menjadi masalah. tujuan penulis yaitu untuk melakukan asuhan keperawatan pada pasien lanjut usia, sehingga pasien lanjut usia serta keluarga paham, terbuka, dan kooperatif.

4.1.1 Identitas Klien

Lansia merupakan kelompok yang paling banyak mengalami masalah kesehatan. Kekuatan fisik dan daya tahan menurun seiring bertambahnya usia, dan kurangnya sumber makanan kalium, yang merupakan salah satu penyakit degeneratif yang biasa terlihat pada orang tua, meningkatkan tekanan darah dan meningkatkan tekanan darah. Dalam tinjauan kasus, Klien 1, usia 62, adalah pria dan Klien 2, usia 69, adalah wanita. Tidak ada kesenjangan antara studi kasus dan tinjauan literatur.

4.1.2 Riwayat Kesehatan 4.1.2.1 Keluhan Utama

Pada dasarnya, keluhan utama dari tinjauan literatur dan studi kasus adalah kurangnya kontradiksi. Tinjauan pustaka menemukan bahwa keluhan utama pasien hipertensi adalah pusing dan lemas (fatigue) (Nurarif & Hadi, 2016), dan studi kasus menemukan bahwa klien 1 dan 2 memiliki keluhan sakit kepala, pusing, dan lemas, sehingga gap. Klien 2 mengalami nyeri pada lutut dan pergelangan kaki. Tidak ada kesenjangan antara studi literatur dan studi kasus

4.1.2.2 Riwayat Kesehatan Saat Ini

Pada tinjauan kasus klien 1 mengatakan pusing muncul saat setelah dibuat duduk terlalu lama dan langsung merasa lemas.

Sedangkan klien ke 2 mengatakan pusing dan lemas muncul saat dibuat berjalan terlalu lama. Pada tinjauan kasus klien 1 dan 2 mengeluh pusing dan lemas semua, tetapi terdapat perbedaan pada penyebabnya yaitu klien 1 muncul saat terlalu lama dibuat duduk dan klien 2 muncul setelah dibuat berjalan terlalu lama. Sedangkan Tidak ada kesenjangan antara studi kasus dan studi sastra. menurut ( Nurarif & Hadi, 2016 ) pada hipertensi ditandai dengan pusing dan lemas (kelelahan)

4.1.2.3 Riwayat Kesehatan sebelumnya 1) Riwayat penyakit sebelumnya

Pada tinjauan pustaka menurut (Smelter dan Bare, 2000) penderita hipertensi biasanya memiliki riwayat genetik ( keturunan ), gaya hidup, stress,jarang olahraga,obesitas, diit konsumsi tinggi garam atau kandungan lemak. Pada pembahasan kasus, klien 1 menyatakan tidak ada riwayat hipertensi, sedangkan klien 2 menyatakan memiliki riwayat hipertensi dari ibunya Pada pembahasan kasus, klien 1 menyatakan tidak ada riwayat hipertensi, sedangkan klien 2 menyatakan memiliki riwayat hipertensi dari ibunya

2) Riwayat Operasi

Pada pengkajian riwayat operasi tidak terjadi kesenjangan antara klien 1 dan klien 2 karena keduanya mengatakan tidak pernah menjalani operasi apapun sebelumnya.

3) Riwayat Jatuh

Pada pengkajian riwayat jatuhtidak ada kesenjangan antara klien 1 dan klien 2. Karena klien 1 mengatakan pernah jatuh ketika terkena penyakit parkinson, sedangkan klien 2 mengatakan pernah terjatuh saat menaiki sepeda.

4.1.2.4 Riwayat Keluarga

Pada tinjauan pustaka penyakit hipertensi termasuk penyakit keturunan. Pada tinjauan kasus saat pengkajian riwayat kesehatan keluarga klien 1 mengatakan tidak ada riwayat penyakit turunan

sedangkan klien 2 mengatakan ada anggota keluarga yang memiliki riwayat penyakit hipertensi. Sehingga terjadi kesenjangan.

4.1.2.5 Perilaku Yang Mempengaruhi Kesehatan

Pada tinjauan pustaka menurut (Smelter dan Bare, 2000) Hipertensi disebabkan oleh faktor gaya hidup, stress,jarang olahraga,obesitas, diit konsumsi tinggi garam atau kandungan lemak. Pada tinjauan kasus klien 1 mengatakan sering begadang dan meminum kopi, sedangkan klien 2 mengatakan sering memakan makanan yang tinggi garam/asin . Sehingga pada tinjauan pustaka dan tinjauan kasus tidak terjadi kesenjangan.

4.1.2.6 Pengetahuan Klien tentang penyakitnya

Pada tinjauan kasus terdapat kesenjangan antara klien 1 dan klien 2.

Klien 1 mengatakan belum mengetahui tentang penyakitnya karena klien merasa tidak mempunyai penyakit hipertensi. Sedangkan klien 2 mengatakan mengetahui tentang penyakitnya, dan saat ditanya tentang penyakitnya klien tampak tidak mengerti tentang penanganan penyakit hipertensi

4.1.3 Riwayat Nutrisi dan Cairan 4.1.3.1 Nafsu Makan

4.1.3.2 Penderita hipertensi biasanya membutuhkan zat gizi seperti karbohidrat, protein, mineral, air, lemak, dan serat (Kemenkes RI, 2019).

Pada konferensi kasus, tercatat bahwa klien 1 dan 2 menyatakan nafsu makannya normal saat sakit, sehingga tidak ada kesenjangan antara penelitian literatur dan penelitian teoritis.

4.1.3.3 Frekuensi Makan

Tinjauan literatur menemukan bahwa pasien hipertensi lansia memenuhi komponen nutrisi seperti karbohidrat, protein, mineral, air, lemak, dan serat.

Namun, diet rendah garam juga dapat membantu klien mengontrol tekanan darah (Kemenkes RI, 2019). pembahasan kasus, klien 1 mengatakan bahwa saat sakit dia makan porsi normal 3 kali sehari, dan klien 2 mengatakan bahwa dia hanya makan porsi normal 3 kali sehari saat dia sakit. dan tinjauan kasus.

4.1.3.4 Menu Makan

Tinjauan kasus di dapatkan hasil data klien 1 dan 2 mengatakan kalau dirinya ketika masih sehat dan saat sakit menu makannya sama berupa nasi, lauk pauk. Hasil penelitian Tidak ada kesenjangan antara survei literatur dan studi kasus, karena ada menu untuk makan nasi dan lauk pauk.

4.1.3.5 Pantangan Makan

Tinjauan pustaka menurut (Iqbal, 2011) penderita hipertensi mempunyai pantangan makan yang bersifat asin/garam. Pada tinjauan kasus klien 1 mengatakan tidak memiliki pantangan makanan, dan klien 2 mengatakan tidak memiliki pantangan makan. Sehingga, antara tinjauan kasus dan tinjauan pustaka tidak terdapat kesenjangan.

4.1.3.6 Jenis Konsumsi Cairan Perhari

Tinjauan pustaka menurut (Cahyani, 2020) berpendapat bahwa Orang yang menderita tekanan darah meningkat sering mengkongsumsi air putih sedikit.

Tinjauan kasus klien 1 mengatakan minum air putih sebesar 900 ml/hari juga meminum kopi dan klien 2 mengatakan meminum air putih sebanyak

1500 ml/hari. Hasil pengamat penelitian terjadi kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus di karenakan jumlah konsumsi cairan perhari mengalami perubahan antara klien 1 dan klien 2.

4.1.3.7 Jenis Minuman

Pada tinjauan kasus terjadi kesenjangan karena klien 1 mengatakan meminum air putih dan kopi dan klien 2 mengatakan hanya mengkonsumsi air putih dalam sehari-hari.

4.1.4 Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan tanda-tanda vital klien 1 didapatkan TD 170/90 mmHg, suhu 36.0°C (Lokasi pengukuran aksila), nadi 130×/menit (Lokasi perhitungan nadi radialis), Respirasi 22×/menit, Spo2: 94 . Sedangkan pada pemeriksaan tanda-tanda vital klien 2 didapatkan TD 190/100 mmHg, suhu 36.5°C (Lokasi pengukuran aksila), nadi 90×/menit (Lokasi perhitungan nadi radialis), Respirasi 23×/menit, Spo2: 96. Pada pemeriksaan fisik B2 (perdarahan) tidak ada kesenjangan antara tinjauan pustaka dan tinjauan kasus. Pada tinjauan kasus klien 1 didapatkan data irama jantung teratur , tidak terdapat cianosis, tidak terdapat clubbing finger , ictus cordis teraba kuat , bunyi jantung berada di S1 dan S2 tunggal dan tidak terdapat nafas tambahan. Pada klien 2 didapatkan data irama jantung teratur , tidak terdapat cianosis, tidak terdapat clubbing finger , ictus cordis teraba kuat , bunyi jantung berada di S1 dan S2 tunggal dan tidak terdapat nafas tambahan.

4.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa Keperawatan dalam Penelusuran Literatur SDKI 2015 menunjukkan defisit pengetahuan tentang keterbukaan informasi yang buruk.

Selama diskusi kasus, dua diagnosis ditemukan pada masing-masing klien. Klien 1 penulis menemukan diagnosa keperawatan yang pertama Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan kelemahan dibuktikan dengan pasien sering merasakan lelah dan lemas saat dibat duduk terlalu lama. Diagnosa yang kedua yaitu Defisit Pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi karena ditemukan data klien mengatakan meminum kopi meskipun tensinya tinggi. Pada klien 2 penulis menemukan diagnosa keperawatan yang pertama yaitu Keletihan berhubungan dengan kondisi fisiologis dibuktikan px merasa lelah dan lemas saat sakit kepala . Diagnosa yang kedua yaitu Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan dengan Nyeri dibuktikan dengan klien merasakan nyeri kepala dibagian belakang kepala.

px tampak gelisah, Tekanan darah meningkat. klien juga mengatakan tidak mempunyai pantangan makan dan saat sakit hanya meminum air putih.

Pada tinjauan kasus penulis hanya berfokus pada satu diagnosa prioritas untuk masing-masing klien. Diagnosa prioritas yang diambil yaitu Nyeri akut berhubungan dengan Agen pencedera fisiologis karena pada 2 kasus yang berbeda diagnosa nyeri akut tersebut muncul pada masing-masing kasus. Dan diagnosa tersebut yang paling nampak dan paling utama untuk dilakukan tindakan keperawatan.

4.3 Intervensi Keperawatan

Biasanya ada kesenjangan besar dalam perencanaan antara studi literatur dan studi kasus, karena desain studi kasus disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan pasien. Kesenjangan dalam rencana yang ditemukan dalam tinjauan literatur adalah bahwa rencana tersebut berfokus pada beberapa diagnosis yang muncul. Meskipun tinjauan kasus berfokus pada diagnosis prioritas yang merupakan hasil penilaian langsung, yaitu diagnosis keperawatan, nyeri akut diharapkan menghasilkan rekomendasi untuk menurunkan tingkat nyeri pasien setelah dua kali kunjungan. tujuan dari Peningkatan kriteria untuk hasil perilaku dan lebih sedikit pertanyaan tentang masalah yang dihadapi. , kurang kesalah pahaman tentang masalah.

4.4 Implementasi keperawatan

Implementasi adalah perwujudan atau realisasi dari rencana yang telah disiapkan. Pencarian literatur tidak dilakukan karena hanya membahas teori keperawatan. Implementasi pada pasien diselesaikan dan direalisasikan dalam diskusi kasus. Dalam diagnosis keperawatan, nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis, dan semua rencana tindakan keperawatan seperti mengidentifikasi lokasi nyeri dan karateristik nyeri, Memfasilitasi instirahat dan tidur, merencanakan pendidikan kesehatan berdasarkan konsensus,menjelaskan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri dan menjelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi resiko yang dapat mempengaruhi nyeri.

Karena kerjasama pasien dan keluarga, pelaksanaan tindakan perawatan tidak terhambat dan rencana perawatan berjalan dengan lancar

4.5 Evaluasi Keperawatan

Karena merupakan subkasus, maka tidak dapat dievaluasi selama pencarian literatur, tetapi dapat dievaluasi selama pencarian kasus karena kondisi pasien diketahui secara langsung. di akhir evaluasi klien 1 dan 2 semua tujuan sudah tercapai karena kondisi pasien yang telah memenuhi kriteria hasil. Pada klien 1 tanggal 22 Januari 2021 telah dilaksanakan evaluasi dengan hasil data subyektif (klien mengatakan Saat ditanya tentang penyakit hipertensi, pasien tidak mengetahui tentang penyakit, penatalaksaan dan penanganannya) dan data obyektif (klien mengatakan mengurangi begadang dan meminum kopi, TD : 165/80 mmHg, nadi : 100x/menit, RR : 22X/menit, suhu : 36,0° C). Pada klien 2 tanggal 11 Juni 2022 telah dilaksanakan evaluasi dengan hasil data subyektif (klien mengatakan bahwa masih memakan makanan yang tinggi kadar garam/

asin, lalu saat ditanya lagi tentang cara mengatasi penyakit hipertensi px bertanya- tanya kepada perawat), dan data obyektif (px sudah tidak tampak kebingungan ketika di tanya, px tidak ada pertanyaan lagi dari pasien tentang penyakitnya, px menerapkan materi yang disampaikan, TD : 180/90 mmHg, nadi : 95x/menit, RR : 22X/menit, suhu : 36,4 C).

65 BAB 5 PENUTUP

Setelah penulis melakukan pengamatan dan melaksanakan asuhan keperawatan secara langsung pada klien dengan diagnosa medis hipertensi di Desa Bluru Permai, Sidoarjo, maka penulis dapat menarik beberapa kesimpulan sekaligus saran yang dapat bermanfaat dalam meningkatkan mutu asuhan keperawatan pada klien dengan diagnosa medis hipertensi.

5.1 Simpulan

Dari hasil uraian yang telah menguraikan tentang asuhan keperawatan pada klien dengan diagnosa medis Hipertensi, maka dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :

5.1.1 Pada pengkajian didapatkan data klien 1 dan klien 2 mengatakan pusing dan lemas. Pemeriksaan tanda-tanda vital klien 1 didapatkan TD 170/90 mmHg, suhu 36.0°C (Lokasi pengukuran aksila), nadi 130×/menit (Lokasi perhitungan nadi radialis), Respirasi 22×/menit, Spo2: 94. Sedangkan pemeriksaan tanda-tanda vital klien 2 didapatkan TD 190/100 mmHg, suhu 36.5°C (Lokasi pengukuran aksila), nadi 90×/menit (Lokasi perhitungan nadi radialis), Respirasi 23×/menit, Spo2: 96. Pada pemeriksaan fisik klien 1 dan klien 2 didapatkan data fokus pada sistem perdarahan yaitu klien mengeluh pusing dan lemas .

5.1.2 Masalah keperawatan yang muncul pada klien 1 adalah intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan dan defisit pengetahuan berhubungan dengan kurangnya terpapar informasi. Sedangkan masalah keperawatan yang muncul pada klien 2 yaitu keletihan berhubungan dengan kondosi fisiologis dan gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri Dari keduanya diambil

masalah keperawatan prioritas yaitu nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis.

5.1.3 Pada rencana tindakan keperawatan pada klien 1 dan klien 2 sama yaitu identifikasi nyeri dan karateristik nyeri, fasilitas istirahat dan tidur, jelaskan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri. Pada dasarnya intervensi sama dengan yang ada di SIKI tetapi tidak ada kolaborasi dikarenakan asuhan keperawatan dilakukan dirumah bukan di rumah sakit.

5.1.4 Beberapa tindakan mandiri perawat pada klien 1 dan klien 2 dengan diagnosa medis hipertensi yaitu identifikasi nyeri dan karateristik nyeri, fasilitas istirahat dan tidur, jelaskan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri . 5.1.5 Pada akhir evaluasi klien 1 dan 2 semua tujuan dapat tercapai karena sudah memenuhi kriteria hasil dan adanya kerjasama yang baik antara pasien dan perawat.

5.2 Saran

Bertolak dari kesimpulan diatas, penulis memberikan saran sebagai berikut : 5.2.1 Untuk pencapaian hasil keperawatan yang diharapkan, diperlukan hubungan yang baik dan keterlibatan pasien, keluarga, dan tim kesehatan.

5.2.2 Perawat sebagai petugas pelayanan kesehatan hendaknya mempunyai pengetahuan, keterampilan yang cukup dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan hipertensi.

5.2.3 Dalam meningkatkan mutu asuhan keperawatan yang profesional alangkah baiknya diadakan suatu pertemuan yang membahas tentang masalah kesehatan yang ada pada klien.

5.2.4 Pendidikan dan pengetahuan perawat secara berkelanjutan perlu ditingkatkan baik secara formal maupun informal.

5.2.5 Kembangkan dan tingkatkan pemahaman perawat terhadap konsep manusia secara komprehensif sehingga mampu menerapkan asuhan keperawatan dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & suddarth. (2002).Buku ajar keperawatan medikal bedah. Jakarta : EGC

Cahyani, Nindya. 2020. Asuhan Keperawatan Pada Klien Ny. C Dengan Diagnosa Medis Hipertensi di Ruang Tulip Rumah Sakit TK III Brawijaya Surabaya. Karya Tulis Ilmiah Akademi Keperawatan Kerta Cendekia Sidoarjo

Delaune, S.C & Ladner, P.K. (2011). Standards & Practice, Fundamentals of Nursing. USA : Delmar.

Depkes RI, (2017), Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta www.depkes.go.id,

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. 2015. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2014. Dinkes Jatim. Surabaya

.

Iqbal. (2011). Sosiologi Untuk Keperawatan: Pengantar dan Teori (A. Suslia, ed.). Jakarta: Salimba Medika.

Istianah, N. I. M. (2017). HUBUNGAN POLA MAKAN DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN TEKANAN DARAH PADA REMAJA PUTRI DI PESANTRENAL-MUNAWWIRKRAPYAKYOGYAKARTA. Universitas’

Aisyiyah Yogyakarta.

Irwan. (2016). Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Yogyakarta: Deepublish Junaidi, dkk. (2013). Hipertensi : Pengenalan, Pencegahan, dan Pengobatan.

Jakarta : PT Bhuana Ilmu Populer.

Nurarif, Amin Huda dan Kusuma, Hardhi. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc Jilid 3. Jogjakarta : MediAction

Nurrahmani Ulfah dan Helmanu Kurniadi. 2015. Stop Diabetes Hipertensi Kolesterol Tinggi Jantung Koroner. Yogyakarta: Istana Media

Price, Wilson. 2006. Patofisiologi ; Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Vol 2 Jakarta : EGC

Riskesdas Jatim.(2018). Laporan Provinsi Jawa Timur RISKESDAS 2018.In Kementerian Kesehatan RI.

Smeltzer, B. C., & Bare B. G. (2008). Buku ajar keperawatan medikal bedah.Jakarta : EGC

Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, Idrus, et al.() Interna Publishing. Jakarta.

Tarwoto, Wartonah. (2015). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan Ed 3, Jakarta, Salemba Medika,

Triyanto, E. 2014. Pelayanan Keperawatan Bagi Penderita Hipertensi Secara Terpadu. Yogyakarta : Graha Ilm

Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2018, Standar Intervensi Keperawatan Indonesia ed 1, Jakarta. Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2018, Standar Luaran Keperawatan Indonesia:

Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan ed 1, Jakarta, Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.,

Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2016. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia ed 1, Jakarta, Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

Udjianti, Wajan. 2011. Keperawatan Kardiovaskular. Jakarta: Salemba Medika.

WHO. 2014. Health for the World’s Adolescents: A Second Chance in the Second Decade. Geneva, World Health Organization Departemen of Noncommunicable disease surveillance. (2014)..

LAMPIRAN 1

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) HIPERTENSI

Pokok Bahasan : Hipertensi

Penyuluh : Fikry Aditya Pratama Sasaran : Keluarga Tn.B

Hari/ tanggal : kamis, 21Januari 2021

Tempat : Rumah Tn.B

Waktu : 20 Menit A. Latar Belakang

Hipertensi merupakan keadaan ketika tekanan darah sistolik lebih dari 120 mmHg dan tekanan diastole lebih dari 80 mmHg. Hipertensi sering menyebabkan perubahan perubahan pada pembulu darah yang dapat mengakibatkan semakin tingginya tekanan darah.

B. Tujuan Instruksional Umum

Setelah diberikan penyuluhan selama 25 menit klien diharapkan dapat mengerti tentang penyakit Hipertensi.

C. Tujuan Instruksional Khusus

1. Menjelaskan pengetian Hipertensi

2. Menjelaskan tentang penyebab Hipertensi 3. Menjelaskan tentang tanda dan gejala Hipertensi 4. Menjelaskan tentang komplikasi Hipertensi 5. Menjelaskan tentang pencegahan Hipertensi 6. Menjelaskan tentang penatalaksanaan Hipertensi D. Metode

1. Ceramah dan tanya jawab 2. Leaflet

E. Materi (terlampir) 1. Pengertian Hipertensi 2. Penyebab Hipertensi

3. Tanda dan gejala Hipertensi 4. Komplikasi Hipertensi 5. Pencegahan Hipertensi 6. Penatalaksanaan Hipertensi F. Kegiatan Penyuluhan

No. Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Penyuluhan 5 menit Pembukaan:

Mengucapkan salam

Menjelaskan nama dan akademi

Menjelaskan tujuan penyuluhan

Menyebutkan materi yang diberikan

Menanyakan kesiapan peserta

Menjawab salam

Mendengarkan

Mendengarkan

Menjawab 10

menit

Pelaksanaan:

Penyampaian materi

Menjelaskan

pengetian Hipertensi

Menjelaskan

tentang penyebab Hipertensi

Menjelaskan tentang tanda dan gejala Hipertensi

Menjelaskan tentang komplikasi

Hipertensi

Menjelaskan tentang pencegahan

Mendengarkan

Hipertensi

Menjelaskan tentang penatalaksanaan Hipertensi Tanya Jawab

Memberikan kesempatan kepada peserta untuk Bertanya

Bertanya

5 menit Evaluasi :

Menanyakan kembali hal- hal yang dijelaskan mengenai Hipertensi

Menjawab Menjelaskan 5 menit Penutup :

Menutup pertemuan dengan menyimpulkan materi yang telah di bahas

Memberikan salam penutup

Mendengarkan

Menjawab salam

HIPERTENSI A. Pengertian

Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang bersifat abnormal dan diukur paling tidak pada tiga kesempatan yang berbeda. Secara umum seseorang dianggap mengalami hipertensi apa bila tekanan darahnya lebih dari 140/90 mmHg. Hipertensi merupakan keadaan ketika tekanan tekanan darah sistolik lebih dari 120 mmHg dan tekanan diastol lebih dari 80 mmHg. Hipertensi sering menyebabkan perubahan pada pembuluh darah yang dapat mengakibatkan semakin tingginya tekanan darah, (Muttaqin,2009)

B. Penyebab 1. Stress 2. Obesitas 3. Gaya hidup 4. Pola makan 5. Genetik 6. Merokok C. Tanda & Gejala

Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi : 1) Tidak ada gejala

Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan darah tidak teratur.

2) Gejala yang lazim

Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataanya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis. Beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu :

a. Mengeluh sakit kepala, pusing b. Lemas, kelelahan

c. Sesak nafas d. Gelisah e. Mual f. Muntah D. Komplikasi

Jika tidak terkontrol, Hipertensi dapat menyebabkan terjadinya komplikasi seperti:

1) Penyakit Jantung

2) Stroke

3) Penyakit Ginjal

4) Retinopati (kerusakan retina)

5) Penyakit pembuluh darah tepi

6) Gangguan saraf E. Pencegahan

Risiko untuk mengidap hipertensi dapat dikurangi dengan :

Mengurangi konsumsi garam (jangan melebihi 1 sendok teh per hari)

Melakukan aktivitas fisik teratur (seperti jalan kaki 3 km/ olahraga 30 menit per hari minimal 5x/minggu)

Tidak merokok dan menghindari asap rokok

Diet dengan Gizi Seimbang

Mempertahankan berat badan ideal

Menghindari minum alcohol

F. Penatalaksanaan 1. Non farmakologi

Terapi non farmakologi berupa modifikasi gaya hidup meliputi pola diet, aktivitas fisik, larangan merokok dan pembatasan konsumsi alkohol.

2. Farmakologi

Terapi farmakologis dapat diberikan antihipertensi tunggal maupun kombinasi. Pemilihan obat anti hipertensi dapat didasari ada tidaknya kondisi khusus (komorbid maupun komplikasi).

LAMPIRAN 2

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) HIPERTENSI

Pokok Bahasan : Hipertensi

Penyuluh : Fikry Aditya Pratama Sasaran : Keluarga Ny.K Hari/ tanggal : Jumat, 10 Juni 2022

Tempat : Rumah Ny.K

Waktu : 20 Menit G. Latar Belakang

Hipertensi merupakan keadaan ketika tekanan darah sistolik lebih dari 120 mmHg dan tekanan diastole lebih dari 80 mmHg. Hipertensi sering menyebabkan perubahan perubahan pada pembulu darah yang dapat mengakibatkan semakin tingginya tekanan darah.

H. Tujuan Instruksional Umum

Setelah diberikan penyuluhan selama 25 menit klien diharapkan dapat mengerti tentang penyakit Hipertensi.

I. Tujuan Instruksional Khusus

7. Menjelaskan pengetian Hipertensi

8. Menjelaskan tentang penyebab Hipertensi 9. Menjelaskan tentang tanda dan gejala Hipertensi 10. Menjelaskan tentang komplikasi Hipertensi 11. Menjelaskan tentang pencegahan Hipertensi 12. Menjelaskan tentang penatalaksanaan Hipertensi J. Metode

1. Ceramah dan tanya jawab 2. Leaflet

K. Materi (terlampir) 1. Pengertian Hipertensi 2. Penyebab Hipertensi

Dokumen terkait