• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-Faktor Penyebab Kekerasan Pada Anak

Dalam dokumen PDF Tesis - Unibos (Halaman 59-67)

BAB II. KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR

D. Faktor-Faktor Penyebab Kekerasan Pada Anak

49 b. Pidana Tambahan, terdiri atas:

Perihal pidana tambahan diatur dalam Pasal 71 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, berupa:

1) Perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana. Pengertian perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana adalah mencabut dari orang yang memegang keuntungan dari tindak pidana yang diperoleh dari kepentingan negara. Sebagai contohnya, seorang anak mencuri sebuah laptop, laptop tersebut lalu dijual dan uangnya digunakan untuk membeli handphone baru, maka barang yang dapat dirampas adalah handphone yang dibeli oleh pelaku tindak pidana.

2) Pemenuhan kewajiban adat

Yang dimaksud kewajiban adat adalah denda atau tindakan yang harus dipenuhi berdasarkan norma adat setempat yang tetap menghormati harkat dan martabat anak serta tidak membahayakan mental dan fisik anak.

50 anaknya. Dengan demikian, perilaku kekerasan diwarisi (transmitted) dari generasi ke generasi. Studi-studi menunjukkan bahwa lebih kurang 30%

anak-anak yang diperlakukan dengan kekerasan menjadi orang tua yang bertindak keras pada anak-anaknya. Sementara itu, hanya 2 sampai 3 persen dari semua individu menjadi orang tua yang tidak memperlakukan kekerasan kepada anak-anaknya. Anak-anak yang mengalami perlakuan salah dan kekerasan mungkin menerima perilaku ini sebagai model perilaku mereka sendiri sebagai orang tua. Tetapi sebagian besar anak-anak yang diperlakukan dengan kekerasan tidak menjadi orang dewasa yang memperlakukan kekerasan kepada anak-anaknya

b. Stress

Stress yang ditimbulkan oleh berbagai kondisi sosial meningkatkan risiko kekerasan terhadap anak dalam keluarga. Kondisi-kondisi ini mencakup pengangguran (unemployment), penyakit (illness), kondisi perumahan yang buruk (poor housing condition), ukuran keluarga besar dari rata-rata (a larger than average family size), kelahiran bayi baru (the presence of a new baby), orang cacat (disable person) di rumah dan kematian (the death) seorang anggota keluarga. Sebagian besar kasus dilaporkan tentang tindakan kekerasan terhadap anak berasal dari keluarga yang hidup dalam kemiskinan. Tindakan kekerasan terhadap anak juga terjadi dalam keluarga kelas menengah dan kaya. Tetapi tindakan yang dilaporkan lebih banyak di antara keluarga miskin karena beberapa alasan.

c. Isolasi sosial dan keterlibatan masyarakat bawah

51 Orang tua dan pengganti orang tua yang melakukan tindakan kekerasan terhadap anak cenderung terisolasi secara sosial. Sedikit sekali orang tua yang bertindak keras ikut serta dalam suatu organisasi masyarakat dan kebanyakan mempunyai hubungan yang sedikit dengan teman atau kerabat.

d. Struktur keluarga

Tipe-tipe keluarga tertentu memiliki risiko yang meningkat untuk melakukan tindakan kekerasan dan pengabaian kepada anak. Misalnya orang tua tunggal lebih memungkinkan melakukan tindakan kekerasan terhadap anak dibandingkan dengan orang tua utuh. Selain itu, keluarga- keluarga di mana baik suami atau istri mendominasi di dalam membuat keputusan penting, seperti di mana bertempat tinggal, pekerjaan apa yang mau diambil, bilamana punya anak, dan beberapa keputusan lainnya, mempunyai tingkat kekerasan terhadap anak yang lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga-keluarga yang suami-istri sama-sama bertanggung jawab atas keputusan-keputusan tersebut.

Faktor penyebab lain mengapa banyak terjadi penganiayaan anak dan penelantaran anak diantaranya:

a) Orang tua yang dahulu dibesarkan dengan kekerasan cenderung meneruskan pendidikan tersebut kepada anak- anaknya.

b) Kehidupan yang penuh stres seperti terlalu padat kemiskinan, sering berkaitan dengan tingkah laku agresif, dan meyebabkan terjadinya penganiayaan fisik terhadap anak.

52 c) Isolasi sosial, tidak adanya dukungan yang cukup dari lingkungan sekitar, tekanan sosial akibat situasi krisis ekonomi, tidak bekerja dan masalah perumahan akan meningkatkan kerentangan keluarga yang akhirnya akan terjadi penganiayaan dan penelataran anak.

Menurut Fatimah ada enam kondisi yang menjadi faktor pendorong atau penyebab terjadinya kekerasan atau pelanggaran dalam keluarga yang dilakukan terhadap anak adalah:22 Pertama, faktor ekonomi. Kemiskinan yang dihadapi sebuah keluarga sering kali membawa keluarga tersebut pada situasi kekecewaan yang pada gilirannya menimbulkan kekerasan. Hal ini biasanya terjadi keluarga dengan anggota yang sangat besar. Problematika finansial keluarga yang dapat memprihatinkan atau kondisi keterbatasan ekonomi dapat menciptakan berbagai macam masalah baik dalam hal pemenuhan kebutuhan sehari-hari, pendidikan, kesehatan, pembelian pakaian, pembayaran sewa rumah yang kesemuanya secara relatif dapat mempengaruhi jiwa dan tekanan yang sering kali akhirnya dilampiaskan pada anak. Kedua, masalah keluarga. Hal ini lebih mengacu pada situasi keluarga khususnya hubungan orang tua yang kurang harmonis. Seorang ayah akan sanggup melakukan kekerasan terhadap anak-anaknya semata- mata sebagai pelampiasan atau upaya untuk pelepasan rasa jengkel dan marahnya terhadap istri. Sikap orang tua yang tidak menyukai anak-anak, pemarah dan tidak mampu mengendalikan emosi juga dapat menyebabkan terjadinya kekerasan pada anak-anak.

22 Suryanto, Op.Cit.

53 Orang tua yang memiliki anak yang bermasalah seperti; cacat fisik atau mental (idiot) acap kali kurang dapat mengendalikan kesabarannya sewaktu menjaga atau mengasuh anak meraka, sehingga mereka juga merasa terbebani atas kehadiran anak-anak tersebut dan tidak jarang orang tua menjadi kecewa dan merasa frustasi. Ketiga, faktor perceraian. Perceraian dapat menimbulkan problematika kerumahtanggaan seperti persoalan hak pemeliharaan anak, pemberian kasih sayang, pemberian nafkah dan sebagainya. Akibat perceraian juga akan dirasakan oleh anak terutama ketika orang tua mereka menikah lagi dan anak harus oleh ibu dan ayah tiri. Tindakan kekerasan tidak jarang dilakukan oleh pihak atau ibu tiri tersebut. Keempat, kelahiran anak diluar nikah. Akibat adanya kelahiran di luar nikah menimbulkan masalah diantara kedua orang tua anak.

Belum lagi jika melibatkan pihak keluarga dari pasangan tersebut. Akibatnya, anak akan banyak menerima perlakuan yang tidak menguntungkan seperti: anak merasa disingkirkan, harus menerima perlakuan diskriminatif, tersisih atau disisihkan oleh keluarga bahkan harus menerima perilaku yang tidak adil dan bentuk kekerasan lainnya. Kelima, menyangkut permasalahan jiwa atau psikologis. Orang tua yang melakukan tindak kekerasan atau penganiayaan terhadap anak-anak adalah mereka yang memiliki problem psikologis. Mereka senantiasa berada dalam situasi kecemasan (anxiety) dan tertekan akibat mengalami depresi stres. Secara tipologi ciri-ciri psikologis yang menandai situasi antara lain: adanya perasaan rendah diri, harapan terhadap anak yang tidak realistis, harapan yang bertolak belakang dengan kondisinya dan kurangnya pengetahuan tentang bagaimana cara mengasuh anak yang baik. Keenam, faktor

54 terjadinya kekerasan atau pelanggaran terhadap hak-hak anak adalah tidak dimilikinya pendidikan atau pengetahuan religi yang memadai.

Menurut Mu‟tadin faktor-faktor penyebab timbulnya perilaku kekerasan sebagai berikut:23

a. Faktor Marah. Rasa marah seringkali menjadi pemicu timbulnya perilaku agresif, meskipun perilaku semacam itu juga dapat terjadi tanpa adanya rasa marah.

b. Faktor Biologis Gen tampaknya berpengaruh pada pembentukan sistem neural otak yang mengatur perilaku agresi.

Berbagai faktor yang melatar belakangi terjadinya kekerasan telah banyak diteliti. Tidak adanya kontrol sosial merupakan pencetus terabaikannya kekerasan pada anak. Anak yang mendapat hukuman dari orang tua, dianggap sesuatu yang biasa terjadi antara anak dengan orang tua. Tetangga atau siapapun yang tidak akan melaporkan hukuman tersebut sebagai kekerasan kecuali anak sampai meninggal atau cedera berat. Hubungan anak dengan orang dewasa berlaku seperti hirarki sosial di masyarakat. Anak tidak boleh membantah apa yang dilakukan oleh orang tua. Ayah menghukum anak, guru menghukum siswa, menjadikan anak sebagai makhluk yang lebih rendah dan bukan makhluk yang memiliki hak dan kehendak. Struktur ekonomi dan politik yang menindas, telah melahirkan subkultur kekerasan. Karena tekanan ekonomi, orang tua mengalami stres yang berkepanjangan, dia menjadi sangat sensitive dan dia mudah marah. Kelelahan fisik tidak memberinya kesempatan untuk bercanda dengan anak-anak. Terjadilah

23 Ikawati, 2007. Kekerasan Ibu terhadap Anak, Malang: Jawa Timur.

55 kekerasan emosional, kekerasan verbal, kekerasan fisik. Orang tua bisa memaksa anak melakukan pekerjaan berat, atau menjual anaknya ke agen prostitusi karena tekanan ekonomi.24

Setiap masyarakat mempunyai sistem sosial terkecil yaitu keluarga.

Dimanapun didunia ini pasti memiliki sebuah institusi sosial yang disebut keluarga mengatakan bahwa yang dimaksud keluarga adalah “sekelompok orang yang dihubungkan oleh pernikahan, keturunan, atau adopsi yang hidup bersama dalam sebuah rumah tangga. Keluarga menjadi benteng pertahanan yang pertama sekaligus yang terakhir dalam membentuk moral generasi bangsa. Sejatinya keluarga adalah pondasi primer bagi perkembangan, kepribadian dan tingkah laku anak. Keberhasilan keluarga (orang tua) dalam membentuk watak anak sangat tergantung pada subjek-subjek dalam keluarga tersebut. Hal-hal yang dibutuhkan anak dari orang tuanya adalah sebagai berikut:

a. Perasaan kasih sayang

Setiap anak harus merasa bahwa ia disayangi, dikasihi dan dicintai oleh orang tuanya. Kehilangan kasih sayang akan menghambat pertumbuhan jiwa anak. Tidak disayangi membuat mereka merasa terpencil, terasing, terisolasi yang kadang-kadang membuat dia nakal, keras kepala, cerewet dan bandel. Tetapi kasih sayang itu hendaknya sekedarnya saja agar tidak membuat terlalu manja dan tidak disiplin.

b. Merasa aman

24 Andini M, dkk. 2019. Identifikasi Kejadian Kekerasan pada Anak di Kota Malang. Jurnal Perempuan dan Anak (JPA), Vol. 2 No. 1. Hal. 13 – 28.

56 Anak-anak harus merasa aman dirumah tangganya, jangan terlalu mencampuri urusannya yang membuat dia merasa terganggu dan tidak senang dirumah. Berilah ia kesempatan berbuat, namun orang tua tetap mengawasi.

c. Merasa ada harga diri walaupun anak-anak masih kecil, jika bertanya sesuatu maka jawablah dengan baik.

d. Keluarga merupakan lembaga sosial yang pertama dikenal anak. Fungsi tradisional keluarga dapat diklasifikasikan menjadi tiga macamFungsi sosial ekonomi, karena sebagian hasil produksi yang dilakukan di dalam atau di luar rumah dikelola oleh keluarga.

e. Fungsi ikatan biososial yang ditunjukkan dengan adanya pembentukan kerabat, keturunan, dan hubungan sosial melalui keluarga.

f. Proses pendidikan, termasuk di dalamnya penanaman nilai dan ideologi kepada anggota keluarga.

Dari pemaparan diatas inti dari keluarga khususnya orang tua pada prinsipnya memiliki fungsi sosial, edukatif, seksual dan pengelolaan ekonomi.

Pada konteks kekinian, terjadinya kekerasan terhadap anak dalam keluarga, pangkal penyebabnya adalah rapuhnya tatanan keluarga. Tatanan keluarga yang rapuh diantaranya adalah ketidakmampuan orang tua dalam mendidik anak dengan sebaik-baiknya, yaitu tiadanya perhatian, kelembutan, dan kasih sayang dari orang tua terhadap anak.

Dalam hal jika terjadi kekerasan terhadap anak, maka pelaku dapat dijerat dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Orang yang dapat

57 melakukan kekerasan atau penganiayaan terhadap anak dapat dihukum berdasarkan: Pasal 76C Setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan atau turut serta melakukan Kekerasan terhadap Anak. Pasal 80 (1) Setiap Orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76C, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp 72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah). (2) Dalam hal Anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000, 00 (seratus juta rupiah). (3) Dalam hal Anak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mati, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 3.000.000.000, 00 (tiga miliar rupiah). (4) Pidana ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orang tuanya.

Ancaman pidana dalam pasal penganiayaan di KUHP dan dalam Undang- Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UndangUndang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak tersebut berlaku bagi mereka yang sudah dewasa. Jika pelaku tindak pidana adalah anak, maka ancaman pidana penjara yang dapat dijatuhkan kepadanya adalah paling lama setengah dari maksimum ancaman pidanapenjara bagi orang dewasa sebagaimana yang telah diatur dalam Pasal 81 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Dalam dokumen PDF Tesis - Unibos (Halaman 59-67)