• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat peran

BAB III METODE PENELITIAN

C. Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat peran

seperti yang dikatakan oleh ibu ludia seorang ibu yang beragama nasrani ketika wawancara :

“ saya sangat senang dengan kehadirannya, dia sangat sopan ketika bertamu ke rumah kami, saya senang karna tutur katanya yang lembut dan dia murah senyum.”11

Sebagai seorang Dai, wajib memiliki akhlak yang mulia, karna mad’u hanya memandang seseorang dari tingkah lakunya sebelum ucapannya, dalam berdakwah pun Dai harus sadar bahwa berdakwah harus kita mulai dari diri kita sendiri sebelum orang lain.

C. faktor-faktor yang mendukung dan menghambat peran akhlak Dai dalam

Dengan adanya alat transportasi Dai tidak hanya berdakwah di satu lokasi saja, namun mampu untuk menjangkau banyak lokasi.

2. kerjasama dengan tokoh agama, ormas islam dan lembaga keamanan ( kepolisian )

Kerjasama dengan tokoh agama atau ormas islam ( muhammadiyah ) ini akan lebih memudahkan seorang Dai untuk menyampaikan pesan dakwahnya, karna kebanyakan masyarakat hanya ingin menerima nasehat dari Dai yang jelas asal usulnya, seperti yang di katakan oleh ibu fatma selaku Pimpinan Cabang Aisyiah :

“ agar lebih mudah dalam berdakwah harus bekerjasama dengan para tokoh agama dan juga ormas islam ( muhammadiyah ) yang ada di Tana Toraja.”13

Selain ormas, untuk menjamin keselamatan Dai di lokasi dakwah maka Dai juga bekerjasama dengan kepolisian, apabila terjadi sesuatu yang membahayakan keselamatan Dai, maka kepolisian akan turun tangan untuk membantu.

Adapun hambatan-hambatan yang menjadi tantangan Dai dalam berdakwah adalah sebagai berikut :

12 Wawancara dengan akhi wahyu,selaku Dai AMCF, pada hari kamis, tanggal 25 oktober 2018, pukul 20.00 s/d 20.30 WITA.

13 Wawancara dengan ibu fatma, Pimpinan Cabang Aisyiah Kab. Tana Toraja Kec. Bittuang, pada hari rabu, tanggal 18 juli 2018, pukul 08.00 s/d 10.00 WITA.

akan menerima nasehat apabila itu sesuai dengan akal pikirannya dan bukan sesuai AL-Qur’an dan sunnah, apalagi adat di Tana Toraja masih sangat kental dan terkadang adat bertentangan dengan syariat islam seperti pesta adat kematian yang di mana di dalamnya masyarakat islam ikut memakan daging sembelihan yang di persembahkan untuk si mayyit, dan juga kebiasaan masyarakat islam di desa Tana Toraja yaitu mengikuti acara kristenisasi yaitu lovely desember yang di mana acara ini merupakan acara natal bagi kaum kristiani yang tidak diketahui oleh kebanyakan masyarakat islam dikarenakan nama acara tersebut adalah lovely desember namun isinya adalah natalan bagi kaum kristiani, seperti yang dikatakan oleh ustadz daniel :

“ salah satu tantangan dakwah bagi para Dai ialah kurangnya pemahaman agama masyarakat, sehingga membuat mereka tidak bisa membedakan mana yang boleh mana yang tidak, dan ini menjadi tugas kita untuk menjelaskan itu kepada mereka.”14

Untuk mengubah masyarakat agar mau untuk hijrah dari kebiasaan mereka yang menyimpang dari syariat islam maka Dai harus paham bahwa tidak ada yang instant ketika berdakwah, maksudnya adalah Dai tidak boleh mudah untuk putus asa dalam berdakwah sebab terkadang dengan kesabaran seorang Dai dalam berdakwah ALLAH memberikan hidayah kepada mad’u.

2. gerakan kristenisasi

Adanya gerakan kristenisasi jelas menjadi tantangan yang sangat besar bagi para Dai yang ada di Tana Toraja, seperti yang telah terjadi di desa bau yang di mana ada beberapa orang yang murtad, begitupula di daerah paku dan belau Tana

14 Wawancara dengan ustadz daniel, pada hari selasa, tanggal 21 agustus 2018, pukul 13.30 s/d 15.00 WITA.

yang ada di Tana Toraja bahwa para Dai harus pandai dalam menjaga domba- dombanya agar tidak lari.

Kemudian diantara cara mereka dalam memurtadkan kaum muslimin yaitu dengan cara pura-pura menjadi seorang muslim untuk menikahi gadis-gadis muslimah di Tana Toraja lalu kemudian setelah pernikahan itu terjadi ia ingin kembali ke agamanya yaitu kristen dan menarik istrinya dan adapula dengan cara yang sangat keji yaitu dengan cara merusak kehormatan muslimah, seperti yang telah terjadi oleh saudari kaula yang di mana dia adalah seorang hafidzotul qur’an yang murtad karna kehormatannya yang telah di rusak oleh pemuda kristen.

Seperti yang telah diceritakan oleh ibu fatma selaku kordinator Dai di daerah Tana Toraja ketika di wawancara :

“ krsitenisasi di Tana Toraja sangatlah kuat karna mereka menghalalkan berbagai macam cara untuk memurtadkan orang seperti yang telah terjadi kepada saudari kita kaula yang di rusak kehormatannya.”15

3. bahasa

Kurangnya pendidikan di daerah-daerah terpencil seperti Desa Bau membuat beberapa masyarakat sama sekali tidak paham dengan bahasa indonesia, dengan ini jelas bahwa bahasa juga menjadi hambatan dakwah, karna Dai akan kesulitan untuk berkomunikasi kepada mad’unya ketika bersilaturrahim dan menyampaikan pesan dakwah, hal ini sama seperti yang dialami oleh ustadz risman, beliau mengatakan :

15 Wawancara dengan ibu fatma, kordinator Dai daerah Tana Toraja, pada hari rabu, tanggal 18 juli 2018, pukul 08.00 s/d 10.00 WITA.

16 Wawncara dengan ustadz risman, pada hari kamis, tanggal 25 oktober 2018, pukul 11.00 s/d 12.00 WITA.

Berdasarkan hasil penelitian, pengamatan, dan pengumpulan data dari Desa Bau Kec. Bittuang Kab. Tana Toraja prov. Sulawesi selatan, maka dapat ditarik kesimpulan yang sesuai dengan masalah penelitian ini yaitu :

1. peran akhlak Dai dalam meningkatkan keberagamaan masyarakat islam di desa bau di awali dengan cara memperbanyak silaturrahim dari rumah ke rumah masyarakat, agar Dai dan mad’u dapat saling mengenal satu sama lain, dengan cara ini pula Dai akan lebih mudah untuk menyampaikan pesan dakwah sedikit demi sedikit, kemudian seorang Dai wajib baginya memiliki akhlak yang baik, bertutur kata yang lembut dan santun, murah senyum kepada masyarakat, karna masyarakat hanya ingin mendengar nasehat dari orang yang memiliki akhlak yang baik, dan masyarakat di bau sangat senang dengan kehadiran Dai-Dai AMCF di bau seperti ustadz wahyu, ustadz rendy dan ustadz rukada yang di mana mereka selalu dikenang karna akhlak mereka, Dai yang memiliki akhlak yang baik bukan hanya disenangi oleh masyarakat muslim di desa bau tapi masyarakat yang berbeda keyakinan dengan kita juga merasa senang.

2. ada beberapa faktor yang mendukung dan menghambat peran akhlak Dai dalam meningkatkan keberagamaan masyarakat islam, faktor yang mendukung diantaranya ialah materi seperti alat transportasi, dengan adanya alat transportasi maka ini akan memudahkan Dai dalam berdakwah, karna ada beberapa lokasi yang benar-benar membutuhkan kendaraan untuk menjangkaunya, adapun faktor lain

B. Saran-Saran

1. Untuk Dai jangan pernah menyerah dalam berdakwah, karna tidak ada yang instant dalam dakwah, ketika kita ingin mengubah seseorang maka mari perbaiki niat kita lillahi ta’ala, dengan niat yang baik maka insyaallah segala kebaikan itu akan berpihak kepada kita, mari kita kembali ke sejarah, kita lihat bagaimana rosulullah begitu sabarnya dalam berdakwah meskipun dia sering mendapatkan cacian dan perlakuan yang tidak pantas oleh orang-orang kafir ketika berdakwah, namun kita bisa lihat kenikmatan islam itu telah sampai kepada kita ini dikarenakan kesabaran rosulullah dalam berdakwah, memang dalam berdakwah akan banyak ujian dan hambatan yang akan menghalangi kita namun jadikanlah semua hambatan itu sebagai tantangan kita dalam berdakwah, sebagai seorang Dai harus yakin dengan janji ALLAH subhanahu wata’ala bahwa ALLAH senantiasa bersama dengan orang-orang yang bersabar.

2. hendaklah Dai dan ormas islam ( muhammadiyah ) dan kepolisian selalu menjalin kerjasama demi keberhasilan dakwah di Tana Toraja dan juga demi menjaga keselamatan Dai ketika berdakwah.

C. Kata-kata Penutup

Alhamdulillah puji syukur kita panjatkan kepada allah atas limpahan rahmat hidayah dan inayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Tak lupa penulis mengucapkan banyak terimahkasih kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan semangat kepada penulis sehingga skripsi ini dapat

Ikhlas, 1994.

As, Asmaran. Pengantar Studi Akhlak, Cet. 3, Jakarta, PT RajaGrafindo Persada, 2002.

Badruttaman, Nurul. Dakwah Kolaboratif Tarmizi Tahir, Cet. 1, Jakarta Selatan, Grafindo Khazanah Ilmu, 2005.

Burhan, Bungin M. sosiologi komunikasi teori paradigma dan diskurusus teknologi komunikasi masyarakat, Cet. 5, Jakarta, kencana, 2011.

Faizah, Lalu Muchlis Effendi, Psikologi Dakwah, cet. Pertama , Jakarta; Kencana, 2006.

Fawwaz bin hulayyil bin Rabah As-suhaimi, Begini Seharusnya Berdakwah, cet.

Kelima, Jakarta ; Darul haq, 2015.

HD, Kaelany. Islam Dan Aspek-Aspek Kemasyarakatan, Cet. 1, Jakarta, PT Bumi Aksara, 2000

Hotman, Prio, Ilyas Ismail A, Filsafat Dakwah Rekayasa Membangun Agama dan Peradaban Islam, Cet. 1, Jakarta, kencana, 2011.

Muliadi, Dakwah Inklusif, cet. Pertama , Makassar; Alauddin University Press, 2013.

Mun’im Al-Hasyimi, Abdul. Akhlak Rosul Menurut Bukhari Dan Muslim, Cet. 1, Jakarta, Gema Insani, 2009.

Nata, Abuddin. Akhlak Tasawuf, Cet. 5, Jakarta, PT RajaGrafindo Persada, 2003.

Saiful Ma’arif, Bambang. Komunikasi Dakwah Paradigma Untuk Aksi, Cet. 1 Bandung, Simbiosa Rekatama Media, 2010.

Siradjuddin, M. Jagalah Akidah Dan Akhlakmu, (Makassar, FUI Dan LSQ Makassar, 2015.

Suparta, Munzier, Hefni, Harjani, Metode Dakwah, Cet. 2, Jakarta, Kencana, 2006.

Syukir, Asmuni. Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, Surabaya, Al-Ikhlas.

Tike, Arifuddin. Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Islam, Cet. 1, Makassar, Alauddin Press, 2011.

Uwaidhah, Mahmud Abdul Latif. Pengemban Dakwah Kewajiban Dan Sifat- Sifatnya, Cet. 1, Bogor, Pustaka Thariqul Izzah, 2003.

Wahyu, illihi, Munir, Muhammad, Manajemen Dakwah, cet. Pertama, jakarta ; Kencana, 2006.

Dokumen terkait