BAB III METODE PENELITIAN
F. Analisis data
Data yang terkumpul akan dianalisa secara deskriptif kualitatif, yaitu dengan menguraikan dan menjelaskan hasil-hasil penelitian dalam bentuk kata- kata lisan maupun tertulis dari sejumlah data kualitatif. Dimana data yang
diperoleh dalam penelitian ini dinyatakan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan, tanggapan-tanggapan, serta tafsiran yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan studi kepustakaan, untuk memperjelas gambaran hasil penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
AL-Qur‟an al-karim.
Abda, Slamet Muhaemin. Prinsip-Prinsip Metodologi Dakwah, Surabaya ; Al- Ikhlas, 1994.
As, Asmaran. Pengantar Studi Akhlak, Cet. 3, Jakarta, PT RajaGrafindo Persada, 2002.
Badruttaman, Nurul. Dakwah Kolaboratif Tarmizi Tahir, Cet. 1, Jakarta Selatan, Grafindo Khazanah Ilmu, 2005.
Burhan, Bungin M. sosiologi komunikasi teori paradigma dan diskurusus teknologi komunikasi masyarakat, Cet. 5, Jakarta, kencana, 2011.
Departemen Agama RI, AL-Qur’an al-Karim dan Terjemahannya, jakarta timur, CV Darus Sunnah, 2002.
Faizah, Lalu Muchlis Effendi, Psikologi Dakwah, cet. Pertama , Jakarta; Kencana, 2006.
Fawwaz bin hulayyil bin Rabah As-suhaimi, Begini Seharusnya Berdakwah, cet.
Kelima, Jakarta ; Darul haq, 2015.
HD, Kaelany. Islam Dan Aspek-Aspek Kemasyarakatan, Cet. 1, Jakarta, PT Bumi Aksara, 2000
Hotman, Prio, Ilyas Ismail A, Filsafat Dakwah Rekayasa Membangun Agama dan Peradaban Islam, Cet. 1, Jakarta, kencana, 2011.
Muliadi, Dakwah Inklusif, cet. Pertama , Makassar; Alauddin University Press, 2013.
Mun‟im Al-Hasyimi, Abdul. Akhlak Rosul Menurut Bukhari Dan Muslim, Cet. 1, Jakarta, Gema Insani, 2009.
Nata, Abuddin. Akhlak Tasawuf, Cet. 5, Jakarta, PT RajaGrafindo Persada, 2003.
Saiful Ma‟arif, Bambang. Komunikasi Dakwah Paradigma Untuk Aksi, Cet. 1 Bandung, Simbiosa Rekatama Media, 2010.
Siradjuddin, M. Jagalah Akidah Dan Akhlakmu, (Makassar, FUI Dan LSQ Makassar, 2015.
Suparta, Munzier, Hefni, Harjani, Metode Dakwah, Cet. 2, Jakarta, Kencana, 2006.
Syukir, Asmuni. Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, Surabaya, Al-Ikhlas.
Sa‟d ibn Ali ibn Wahf Al-Qahthani, Menjadi Da’i yang sukses, cet. Pertama , Jakarta Timur, Qisthi Press, 2005.
Sinaga, Hasanuddin, AR Zahruddin, Pengantar Studi Akhlak, Cet. 1, Jakarta, PT RajaGrafindo Persada, 2004.
Tike, Arifuddin. Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Islam, Cet. 1, Makassar, Alauddin Press, 2011.
Uwaidhah, Mahmud Abdul Latif. Pengemban Dakwah Kewajiban Dan Sifat- Sifatnya, Cet. 1, Bogor, Pustaka Thariqul Izzah, 2003.
Wahyu, illihi, Munir, Muhammad. Manajemen Dakwah, cet. Pertama, jakarta ; Kencana, 2006.
A. Gambaran umum lokasi penelitian
Desa Bau di Wilayah Kecamatan Bittuang Kabupaten Tana Toraja sebagai Desa Otonom memiliki luas wilayah 2500 hektar.
Orbitrasi sebelah utara berbatasan dengan desa sandana, Kec. bittuang. Sebelah selatan berbatasan dengan desa rembo’ rembo’ kec. Bittuang dan desa ratte kec.
Masanda. Sebelah Barat Berbatasan dengan Desa Balepe’ Kec. Bittuang. Sebelah timur berbatasan dengan desa sasak kec. Bittuang
Potensi sumber daya alam dan potensi sumber daya manusia. Jumlah penduduk _+ 668 jiwa mayoritas penduduk beragama kristen suku/etnis : Toraja, Bugis. Mata pencaharian penduduk : PNS, Bidan, Pensiunan PNS, honorer, Pedagang, Petani, Tukang, dan Perkebunan.
Perkembangnan pendidikan
Perkembangan pendidikan dilihat dari tingkat pendidikan masyarakat yang ada di desa bau, rata-rata tamatan SD untuk tingkatan SLTP/SMP/ sederajatnya dan SLTA/SMA/ sederajatnya masih terbilang minimum dan begitu pula dengan tamatan sarjana, adapun saranan pendidikan yang ada dalam mendukung proses pembelajaran yang terdiri dari :
1. sekolah dasar 1 buah
2. TK / pendidikan usia dini 1 buah 3. sekolah menengah pertama 1 buah
2. markus masara 3. Y karaeng 4. marsit masuang
Lembaga pemerintah : pemerintah desa, kaur, kasi, kadus dan BPD lembaga kemasyarakatan LPM, PKK, karang taruna.
Lembaga adat : kelompok keagamaan, kelompok majlis taklim, kelompok arisan, kelompok pengurus kematian.
Lembaga ekonomi : masyarakat kelompok SPP, Perkebunan dan pertukangan ( batu dan kayu )
Lembaga pendidikan : pendidikan Formal ( PAUD / TK, SD, SMP ) dan pendidikan Non formal ( pengajian AL Qur’an )
Lembaga keamanan : hansip, pos keamanan.
syariat yang dilakukan oleh masyarakat islam di desa bau seperti menjual minuman keras,menjual babi, bermain dengan riba dan bermain judi dan lain sebagainya, sehingga membuat hati mereka keras dan malas untuk beribadah, usaha awal para Da’i di desa bau untuk mengubah kebiasaan buruk mereka ialah dengan cara memperbanyak silaturrahim dari rumah ke rumah seperti yang dikatakan oleh salah seorang Dai yang bernama ustadz rendy yang bertugas di desa bau :
“ dengan cara ini Dai akan saling mengenal dan juga akan lebih memudahkan kita untuk menyampaikan pesan dakwah kepada mereka.”1
Da’i melakukan silaturrahim dari rumah ke rumah masyarakat islam secara bergantian sebanyak 3 kali dalam seminggu, agar Da’i dan masyarakat bisa lebih akrab dan tidak canggung ketika bertemu, lalu kemudian Da’i memulai silaturrahim itu dengan mengucapkan salam dan bertanya tentang kabar si tuan rumah, dan itu di sambut baik oleh si pemilik rumah tersebut, lalu kemudian Da’i memulai untuk bercerita dan perlahan-lahan memberikan pesan dakwah kepada si pemilik rumah.
Seperti yang di katakan oleh akhi rendy selaku dai ketika wawancara :
“ Diharapkan dengan cara ini masyarakat akan memahami agamanya sedikit demi sedikit dan ada keinginan untuk berubah menjadi lebih baik.”2
1 Wawancara dengan ustadz rendy, dai AMCF di bau, pada hari sabtu, tanggal 15 september 2018, pukul 08.00 s/d 09.30 WITA.
2 Wawancara dengan ustadz rendy, dai AMCF di bau, pada hari sabtu, tanggal 15 september 2018, pukul 08.00 s/d 09.00 WITA.
tidak adanya Da’i atau ustadz yang membimbing mereka dan memberikan pemahaman yang benar tentang agama islam, seperti yang dikatakan oleh pak ibnu selaku pak imam ketika wawancara :
“ Kami sangat senang dengan kehadiran Dai-Dai AMCF di desa bau tiap tahunnya, karna itu memberikan semangat kepada kami untuk bertahan di atas keyakinan kami yaitu islam, berbeda ketika tahun-tahun sebelum datangnya Dai banyak di antara saudara-saudara kami baik itu kakak atau adik bahkan orang tua yang murtad.”3
Seperti ibu asni contohnya, dia dulunya adalah seorang muslimah sebelum akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan keyakinannya ya itu islam dengan berbagai alasan, ketika wawancara dan diminta alasannya kenapa dia meninggalkan islam dia berkata bahwa :
“ dulunya saya adalah seorang muslimah, namun saya meninggalkan islam karna saya merasa irih kepada mereka yang beragama nasrani yang taat dalam ibadah mereka meskipun itu mereka lakukan 1 kali dalam seminggu, sedangkan kami yang beragama islam bingung ingin ibadah di mana, rumah ibadah sama sekali kami tidak punya dan tidak ada yang membimbing kami dan ini jelas membuat saya sedih dan akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan islam.”4
Kehadiran Da’i di tengah-tengah masyarakat bau sangat banyak memberikan perubahan terutama dalam hal ibadah, itu terlihat dari masyarakat yang dulunya sama sekali tidak pernah melakukan sholat lima waktu hingga akhirnya merekapun mulai untuk melakukan sholat meskipun itu hanya sholat magrib dan isya, yang dulunya tidak pernah sholat jum’at akhirnya mulai untuk sholat jum’at, seperti yang dikatakan oleh salah seorang ibu yang bernama ibu serpi ketika wawancara :
3 Wawancara dengan pak ibnu, imam masjid bau, pada hari ahad, tanggal 21 oktober 2018, pukul 14.00 s/d 15.30 WITA.
4 Wawancara dengan ibu asni, masyarakat yang murtad, pada hari sabtu, tanggal 27 oktober 2018, pukul 14.00 s/d 14.30 WITA.
masyarakat islam bau yang disebabkan oleh pesan dakwah dan akhlak seorang Da’i dapat dilihat dari banyaknya kegiatan-kegiatan agama yang dirutinkan setiap minggunya seperti :
1. tahfidzul qur’an bagi anak-anak remaja
Salah satu cara dai untuk meningkatkan semangat masyarakat dalam beribadah ialah dengan cara memberikan pendidikan agama terhadap generasi- generasi muda mereka seperti baca tulis AL-Qur’an dan menghafalkannya, dan orang tua merekapun sangat senang dengan adanya program tahfidzul Qur’an ini, Bahkan orang tua mewajibkan anak-anaknya untuk menghafal AL Qur’an, dan dengan ini Dai akan lebih mudah dalam mengajar karna adanya dorongan dari orang tua santri kepada anak-anaknya untuk menghafal AL-Qur’an.
Program tahfidzul Qur’an yang diadakan oleh dai sudah berjalan selama 6 bulan, dan jumlah santri yang ikut dalam program itu sebanyak 15 orang, di antara mereka sudah ada yang menghafal 5 lembar, 1 juz dan 2 juz, di antaranya :
1. istiqamah siswi kelas 3 SMP sudah menghafal 2 juz.
2. farid siswa kelas 3 SMP sudah menghafal 1 juz.
3. ibnu siswa kelas 1 SMA sudah menghafal 1 juz.
4. faishal siswa kelas 1 SMP sudah menghafal 5 lembar dalam juz 1.
5. ayu siswi kelas 6 SD sudah menghafal beberapa surah dalam juz 30.
5 Wawancara dengan ibu serpi, masyarakat bau, pada hari senin, tanggal 22 oktober 2018 pukul 14.30 s/d 15.00 WITA.
Qur’an dan orang yang menghafalkannya, seperti nasehat yang sering disampaikan oleh akhi rukada selaku Dai AMCF kepada anak-anak santri bahwa anak yang menghafal AL-Qur’an akan dijamin orang tuanya masuk ke dalam syurga, dengan nasehat-nasehat yang seperti ini menjadikan anak santri semakin semangat dalam menghafal AL-Qur’an, seperti yang disampaikan oleh akhi rukada selaku Dai ketika wawancara :
“ untuk menambah semangat santri dalam menghafal AL-Qur’an, kita tidak boleh lepas dalam menasehati mereka.”6
2. belajar tajwid bagi ibu-ibu
Semangat ibu-ibu dalam mempelajari AL-Qur’an tidak kalah semangatnya dengan anak-anak mereka yang menghafal AL-Qur’an, meskipun mereka adalah ibu rumah tangga yang selalu sibuk dalam mengurus suami dan anak-anak mereka, mereka tetap membagi waktu untuk mempelajari AL-Qur’an meskipun itu hanya dilakukan 2 kali dalam seminggu, seperti yang dikatakan oleh salah seorang ibu yang bernama ibu dian ketika wawancara :
“ melihat anak-anak menghafal AL-Qur’an kami sangat senang dan terharu, kami pun ingin seperti mereka, namun berhubung kami semua sudah lanjut usia rasanya cukup bagi kami belajar hukum-hukum bacaan dalam AL-Qur’an saja.”7
Belajar tajwid bagi ibu-ibu di rutinkan tiap jum’at dan sabtu sore sesuai dengan permintaan mereka, karna mereka adalah ibu rumah tangga yang selalu
6 Wawancara dengan akhi rukada, Dai AMCF, pada hari rabu, tanggal 21 november 2018, pukul 21.00 s/d 22.00 WITA.
7 Wawancara dengan ibu dian, masyarakat bau, pada hari jum’at, tanggal 9 november 2018, pukul 13.30 s/d 15.30 WITA.
mempelajari syariat-syariat islam, itu terlihat dari banyaknya pertanyaan-pertanyaan tentang hukum-hukum yang ada di dalam agama islam seperti apa hukum menjual babi ? dan apa hukum memakan kerbau yang dipersembahkan untuk orang mati ? dan lain sebagainya, seperti yang telah disampaikan oleh salah seorang Dai AMCF yang bernama akhi rukada ketika wawancara dia berkata :
“ saya sangat senang dengan semangat ibu-ibu dalam bertanya soal agama, karna di situ kita bisa melihat bahwa mereka ada keinginan untuk berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya dan mencoba untuk meninggalkan apa yang dilarang di dalam agama islam.”8
3. pengajian rutin tentang fiqhusholah
Sebelum datangnya Dai-Dai AMCF ke Tana Toraja terkhusus di desa bau, islam di desa ini seakan-akan mati tidak ada kegiatan-kegiatan agama bagi kaum muslimin di desa bau, sampai akhirnya masyarakat memohon kepada ibu fatma selaku kordinator Dai AMCF di wilayah kabupaten tana toraja agar mereka bisa dikirimkan Dai seperti di daerah-daerah lainnya di Tana Toraja, hingga akhirnya di bulan ramadhan salah seorang Dai yang bernama akhi wahyu diutus ke desa bau untuk berdakwah, dan alhamdulillah desa ini di tiap tahunnya ada Dai yang mengisi.
Dengan adanya Dai di desa bau ini, akhirnya islampun seakan hidup kembali, yang dulunya sholat tarwih di desa bau tidak pernah kita jumpai dan ibadah-ibadah lainnya yang tidak pernah kita dapatkan, akhirnya bisa kita lihat di tiap bulan
8 Wawancara dengan akhi rukada, Dai AMCF, pada hari sabtu, tanggal 1 desember 2018, pukul 18.30 s/d 19.30 WITA.
kecamatan untuk ibadah dan jarak yang harus kami tempuh itu selama 1 setengah jam baru bisa sampai di tempat tujuan karna jalanan di tempat kami sama sekali tidak mendukung, hingga akhirnya ustadz wahyu datang dan mengisi kegiatan- kegiatan ramadhan di tempat kami.”9
Setelah datangnya Dai di desa bau akhirnya banyak kegiatan agama yang terlaksana seperti adanya pengajian rutin yang diadakan oleh Dai di setiap jum’atnya, pengajian ini dilakukan setiap selesai sholat jum’at selama 30 menit, dan Dai lebih mengutamakan untuk membahas tentang fiqhussholah, karna banyaknya masyarakat yang belum mengerti bacaan-bacaan sholat, dan mereka terkadang hanya melaksanakan sholat tanpa membaca apapun.
Dai memulai pengajian ini dengan membahas tentang bersuci seperti wudhu,mandi junub dan lainnya, di sini banyak masyarakat yang bertanya tentang wudhu seperti, bagaimana hukumnya berwudhu dalam kamar mandi lalu apa saja yang kita baca sebelum wudhu, dan tentang mandi junub, seperti yang dikatakan oleh akhi rendy selaku Dai AMCF ketika wawancara :
“ ketika saya memulai pengajian itu banyak masyarakat yang bertanya tentang apa yang mereka belum pahami dari apa yang telah saya sampaikan seperti wudhu misalnya.”10
Kehadiran Dai di tengah-tengah masyarakat sangat banyak memberikan perubahan kepada mereka, masyarakat sangat bahagia dengan kehadiran Dai-Dai, kecintaan masyarakat kepada Dai bukan hanya dikarenakan Dai mampu mengajarkan syariat islam kepada mereka akan tetapi juga dikarenakan para Dai memiliki akhlak yang mulia, murah senyum dan bertutur kata yang lembut.
9 Wawancara dengan pak aman, kepala dusun, pada hari selasa, tanggal 12 juni 2018, pada pukul 20.00 s/d 21.00 WITA.
10 Wawancara dengan akhi rendi, Dai AMCF, pada hari rabu, tanggal 28 november 2018, pukul 10.00 s/d 11.00 WITA.
seperti yang dikatakan oleh ibu ludia seorang ibu yang beragama nasrani ketika wawancara :
“ saya sangat senang dengan kehadirannya, dia sangat sopan ketika bertamu ke rumah kami, saya senang karna tutur katanya yang lembut dan dia murah senyum.”11
Sebagai seorang Dai, wajib memiliki akhlak yang mulia, karna mad’u hanya memandang seseorang dari tingkah lakunya sebelum ucapannya, dalam berdakwah pun Dai harus sadar bahwa berdakwah harus kita mulai dari diri kita sendiri sebelum orang lain.
C. faktor-faktor yang mendukung dan menghambat peran akhlak Dai dalam